Share

Bab 7

Author: Almiftiafay
last update publish date: 2026-07-27 17:34:38

“Akh—!” Kaira menjerit kecil saat Sasmita menguraikan kakinya yang semula tertumpuk. Gerakan mendadak itu mengenai bahu Kaira sehingga ia kehilangan keseimbangan dan bersimpuh di lantai.

Kaira meremas jemarinya, meski air matanya menggantung oleh hinaan itu, ia bersikeras menunggu jawaban ibu mertuanya.

“Akan aku pikirkan,” kata Sasmita akhirnya. “Sekarang keluarlah, aku mau tidur.”

Kaira bangun, meski tak mendapat kejelasan, bukankah ia tidak bisa menuntut?

Ia menundukkan kepalanya, berterima kasih.

“Terima kasih, Ma.”

Pandangannya sejenak tertuju pada ayah mertua yang ada di sudut sana, beliau tak menoleh, seolah tidak mau tahu.

Kaira kembali ke kamar, hatinya remuk saat ia meraih tasnya dan berpamitan ke rumah sakit pada Mahesa yang tidak memberi tanggapan.

Sesampainya di sana, sang Ibu sedang terbaring di ICU dengan banyak alat penopang kehidupan.

Kaira tergugu dalam tangis di depan jendela besar itu, ‘Apa yang harus Kaira lakukan, Bu?’

Seandainya ada kesempatan yang dapat menyelamatkan nyawa ibunya, ia akan lakukan, apapun itu.

**

Setelah semalaman Kaira menunggu di rumah sakit, saat ruang administrasi dibuka pada pagi harinya, Kaira memutuskan untuk menemui petugas yang ada di sana. Memohon agar dokter tetap menjalani operasi ibunya, ia berjanji akan mengusahakan biayanya.

Tapi, jawaban petugas membuat harapan Kaira pupus.

“Kami hanya menjalankan prosedur, Bu Kaira. Kalau belum ada kejelasan biayanya, kami tidak berani mengambil langkah lebih lanjut. Apalagi biaya untuk Ibu Anda sangat mahal.”

Terseret lemah tubuh Kaira ke kursi tunggu. Ia menunduk, menatap pantulan wajah kusutnya di lantai rumah sakit yang pucat.

Terlintas di pikiran apa sebaiknya ia meminjam uang saja? Tapi biaya sebesar itu, siapa yang sudi memberi? Tabungannya pun juga tidak akan cukup.

“Mbak Kaira?” sapa suara seorang wanita yang datang dari sebelah kanannya.

Saat mengangkat wajah, Kaira mendapati Zia bersama dengan suaminya, Madhava yang sedang mendorong stroller bayi mereka.

“Zi? Apa yang kamu lakuin di sini?” tanya Kaira saat Madhava terus berjalan.

“Mau imunisasi Starla, Mbak. Mbak Kaira kenapa?” tanya Zia balik, berhenti di depannya.

“A-aku nungguin Ibu.”

Kedua alis Zia terangkat, “Ah, aku dengar dari Mbak Monic semalam. Jadi beneran ibunya Mbak Kaira di ICU sekarang?”

Kaira mengangguk sebagai jawaban. Entah sejauh mana yang Zia tahu, tapi sepertinya itu sudah jelas hingga ke pencabutan fasilitas pengobatan ibunya.

“Aku nggak bisa bantu banyak, Mbak ….” Seperti biasa, Zia akan tersenyum manis, matanya berbinar. “Tapi coba aku nanti ngomong ke Mama biar balikin fasilitas ibunya Mbak Kaira.”

Mendengarnya, dan mengingat bagaimana Zia memang menantu kesayangan Sasmita, Kaira memiliki sedikit harapan.

“Beneran, Zi?”

“Iya,” jawab Zia seraya mengusap tangan Kaira. Zia tampak mengeluarkan ponselnya sebelum mengatakan, “Aku udah bilang mau ketemu Mama sebentar lagi, aku akan bantu Mbak Kaira.”

“Terima kasih.”

“Tapi aku boleh minta tolong sesuatu nggak?”

“Apa, Zi?”

“Aku ada klien butik VIP yang mau revisi baju,” jawabnya. “Dia di hotel Grand Maha Residence. Kalau Mbak Kaira mau, tolong ambil bajunya nanti jam delapan malam.”

“Kenapa … harus aku?”

“Stafku yang biasa ambil lagi ada perlu, Mbak. Mbak Kaira mau nggak?”

Mengingat Zia baru saja menawarkan bantuan dan akan bertemu Sasmita setelah ini, Kaira mengangguk.

“Iya, akan aku ambil nanti.”

“Oke, aku duluan ya.” Zia berlari kecil menjauh, melambaikan tangannya pada Kaira yang berharap Zia benar bisa membujuk ibu mertuanya.

….

Grand Maha Residence adalah salah satu hotel milik Maha Group yang malam ini didatangi oleh Kaira. Setelah melihat nomor kamar yang dikirimkan oleh Zia, Kaira menuju ke sana.

Ia memencet bel, menunggu dengan sabar sampai pintu kamar itu terbuka.

“Masuk,” ucap sebuah suara pria dari dalam yang terdengar tidak asing bagi Kaira.

Ia mengembuskan napasnya dan mengayunkan kakinya ke dalam. Wangi parfum yang dihidu oleh inderanya terasa familier, seolah Kaira pernah di dekatnya sebelumnya.

Ruangannya luas dan terang, Kaira menunduk dan berhenti di dekat sofa. Ekor matanya mendapati si pemilik ruangan berdiri tak jauh darinya.

“Selamat malam, saya datang untuk—”

Kaira mengangkat wajahnya, senyum yang sedari tadi ia paksakan mendadak menghilang saat ia melihat siapa pria tinggi menjulang yang sedang berdiri di hadapannya itu.

“M-Mas … Kaisar?”

Kaisar, pria yang ada di dalam kamar hotel ini adalah Kaisar.

“A-apa yang … Mas Kaisar lakukan di sini?”

Almiftiafay

Terima kasih sudah membaca yaa akak semuanya 🌻 Thor kasih 1 bab lagi kalau pada Komen 💋💋

| 27
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (10)
goodnovel comment avatar
White Lily
part yg bikin jawdropping
goodnovel comment avatar
violetta
wo wow wowwww ..................
goodnovel comment avatar
Eva
Jebakan batman kah ini? Si Zia itu cuma sok baik, sok polos, padahal sebenarnya munafik
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 286

    Zia tertegun di tempatnya. Wanita itu mengerjap tak percaya mendapati penolakan mentah-mentah dari Mahesa. “Kenapa, Mas? Apa aku ada buat kesalahan?” tanyanya.Mahesa mendengus berat, memalingkan wajahnya sebelum menjawab, “Nggak. Aku lagi capek, lagi nggak ingin. Sana kamu balik ke kamarmu!”Zia melipat kedua tangannya di dada, maniknya menatap tajam, penuh tuntutan. “Mas Hesa tuh udah beberapa kali kayak gini loh belakangan ini. Mas kesal gara-gara Kaira sekarang jadi istrinya Kaisar? Mas nggak bisa terima kenyataan itu makanya kamu lampiaskan semuanya ke aku, hah?”“Nggak ada hubungannya sama—”“Mas cuma mau enaknya aja sama aku!” potong Zia sengit dengan mata berkaca-kaca penuh amarah. “Giliran lagi kesal dan marah-marah begini, Mas malah nyuekin aku! Mas udah nggak sayang sama aku lagi, ‘kan?!”Zia melengos pergi dengan hentakan kaki penuh emosi.“Zia—” panggil Mahesa mencoba menahan kepergiannya.Tapi biar saja ….Merajuknya Zia hanya sebentar. Lagi pula ia tidak berniat mengeja

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 285

    Para tamu undangan dan para tetua dewan komisaris Maha Group beranjak pergi satu persatu. Mereka menundukkan kepala setelah menyampaikan ucapan selamat kepada Altair.Di ruang tamu utama kediaman yang mulai sepi itu, Altair menyilangkan kakinya di atas sofa.Pria itu lalu menoleh, menatap Sasmita yang duduk di sebelah kirinya dengan senyum kepuasan yang mengembang lebar di wajah wanita itu.Altair terkekeh kecil. “Nah, apa kamu masih mau marah-marah dan mogok makan lagi, Sasmita?”Sasmita mendengus, menyentuh selendang sutra di bahunya, tak menjawab.“Minta aja apa pun yang kamu mau, Sasmita. Sekarang semua ada di tangan kita. Aku bisa beliin apa aja yang kamu inginkan.”Sasmita bangkit dari duduknya sembari merapikan sanggulnya dengan anggun.“Nanti akan aku pikirkan daftar belanjanya.”Setelah Sasmita berlalu, pandangan Altair kembali menunduk pada map biru tebal berisi lembar surat wasiat mendiang sang ayah di atas meja.Dalam hitungan beberapa hari ke depan, seluruh berkas pengali

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 284

    Kaira menggeleng cepat, air matanya kembali menitik. “Aku tanya begitu bukan karena nggak mau bareng Mas Kaisar. Tapi … karena aku tahu Mas Kaisar udah terbiasa hidup serba berkecukupan, berbeda denganku yang dari awal emang terbiasa kekurangan. Kehilangan sesuatu yang sebelumnya Mas tahu udah seharusnya menjadi milikmu, pasti rasanya menyakitkan.”Kaisar tersenyum, menatap Kaira, sorotnya teduh dan menenangkan.“Apa pun yang jadi milik kita nggak akan pernah tertukar kapasitas takdirnya, Kaira. Jadi, kalau emang Altair mau mengambilnya, silakan aja. Kita lihat seberapa lama semua itu bisa bertahan di tangannya.”Mendengar jawaban itu, Kaira tertegun. Rasanya seluruh beban berat di dadanya seolah terangkat saat Kaisar melanjutkan kalimatnya dengan lembut.“Bukankah aku sudah bilang sebelumnya? Kehilangan warisan itu sama sekali bukan masalah besar buatku. Aku bisa memulainya di tempat yang lain. Yang paling penting bagiku adalah kamu dan anak-anak kita, kan sama mereka harus baik-baik

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 283

    Kaira tidak kuasa menahan air matanya. Begitu mendengar suara serak itu memanggil namanya, ia menerjang maju dan mendekap tubuh Kaisar erat-erat. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Kaisar, membiarkan isak tangisnya pecah, sejadi-jadinya.Kaisar mengangkat tangannya, membalas pelukan Kaira. Jemarinya mengusap punggung gadisnya itu dengan lembut.“Sayang … kenapa nangis begini, hm?” bisik Kaisar, masih lirih seperti sebelumnya.Kaira mendongak, menatap manik sayu pria itu dengan hidung yang memerah. “Mas nggak bangun-bangun … aku kangen.”“Maaf ya bikin kamu takut … gimana keadaan kamu sekarang? Kamu sama si kecil baik-baik aja, kan?”Mendengar pertanyaan itu, air mata Kaira justru semakin deras. Bagaimana bisa … pria yang baru saja siuman, yang bahkan masih terbaring lemah dengan berbagai selang menempel di tubuhnya, justru mengkhawatirkan keadaan Kaira dan bayi mereka? Seolah-olah, bahkan dalam ketidaksadarannya pun, satu-satunya hal yang memenuhi pikiran Kaisar adalah keselamatan

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 282

    Jeritan melengking Sasmita menggema. Wanita paruh baya itu sudah kehilangan kendali, mengamuk sejadi-jadinya seraya menyambar bantal dari atas ranjang dan melemparkannya ke arah Altair. “Keluar kamu dari sini, Altair! Keluar!” teriak Sasmita histeris, melangkah maju dengan tangan terkepal berniat melayangkan pukulan ke dada suaminya. Altair dengan sigap menangkap pergelangan tangan istrinya, lalu mendengus dingin. “Ya, aku keluar!” katanya seraya memutar bola mata malas. Pria itu memilih berbalik meninggalkan kamar, urung membaringkan tubuhnya dan membiarkan Sasmita berdiri seraya menghentakkan kakinya ke lantai marmer. Begitu melangkah keluar, Altair turun ke lantai bawah. Di area dapur, ia berpapasan dengan Mahesa yang baru saja keluar membawa sebotol air dingin. Putra tengahnya itu menunduk saat melihat sang ayah mendekat. “Udah pada selesai makannya, Hesa?” tanya Altair. “Udah, Pa,” jawab Mahesa kaku. Altair berhenti tepat di hadapan putranya. “Kirim padaku spesifik

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 281

    Kaira menundukkan kepalanya saat mengatakan, “Aku mohon bantuannya.” Alina spontan mengerutkan kening. Tangan gadis itu mengarah ke depan, merenggut dagu Kaira dan memintanya agar menegakkan kepala. “Kenapa mesti mohon sih, Ra? Kita ‘kan emang keluarga. Jangan gitu ih.” Kaira tersenyum mendengar itu. Rasa harunya menembus ke ulu hati. Saat Kaisar dikhianati oleh keluarganya sendiri, justru orang asing mengatakan bahwa mereka adalah ‘keluarga.’ Kaira mengangguk sembari mengucapkan terima kasih. “Terima kasih. Aku … titip biar Pak Jevan buat terus perhatikan perkembangan di Maha Group. Alina, tolong bantu Pak Jevan buat soal kecelakaan itu sekalian siapin pengacara lain buat backup. Aku akan jaga Mas Kaisar di sini dan bantu kalian sebisaku dari rumah sakit.” Jevan dan Alina menjawab dengan kompak, “Baik.” Jevan menambahkan, “Nanti Alina bisa kerja sama dengan tim pengacara Pak Kaisar. Tadi saya udah sempat sampaikan ke mereka.” “Iya, beres,” sahut Alina mantap. Alina

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status