登入“Akh—!” Kaira menjerit kecil saat Sasmita menguraikan kakinya yang semula tertumpuk. Gerakan mendadak itu mengenai bahu Kaira sehingga ia kehilangan keseimbangan dan bersimpuh di lantai.
Kaira meremas jemarinya, meski air matanya menggantung oleh hinaan itu, ia bersikeras menunggu jawaban ibu mertuanya. “Akan aku pikirkan,” kata Sasmita akhirnya. “Sekarang keluarlah, aku mau tidur.” Kaira bangun, meski tak mendapat kejelasan, bukankah ia tidak bisa menuntut? Ia menundukkan kepalanya, berterima kasih. “Terima kasih, Ma.” Pandangannya sejenak tertuju pada ayah mertua yang ada di sudut sana, beliau tak menoleh, seolah tidak mau tahu. Kaira kembali ke kamar, hatinya remuk saat ia meraih tasnya dan berpamitan ke rumah sakit pada Mahesa yang tidak memberi tanggapan. Sesampainya di sana, sang Ibu sedang terbaring di ICU dengan banyak alat penopang kehidupan. Kaira tergugu dalam tangis di depan jendela besar itu, ‘Apa yang harus Kaira lakukan, Bu?’ Seandainya ada kesempatan yang dapat menyelamatkan nyawa ibunya, ia akan lakukan, apapun itu. ** Setelah semalaman Kaira menunggu di rumah sakit, saat ruang administrasi dibuka pada pagi harinya, Kaira memutuskan untuk menemui petugas yang ada di sana. Memohon agar dokter tetap menjalani operasi ibunya, ia berjanji akan mengusahakan biayanya. Tapi, jawaban petugas membuat harapan Kaira pupus. “Kami hanya menjalankan prosedur, Bu Kaira. Kalau belum ada kejelasan biayanya, kami tidak berani mengambil langkah lebih lanjut. Apalagi biaya untuk Ibu Anda sangat mahal.” Terseret lemah tubuh Kaira ke kursi tunggu. Ia menunduk, menatap pantulan wajah kusutnya di lantai rumah sakit yang pucat. Terlintas di pikiran apa sebaiknya ia meminjam uang saja? Tapi biaya sebesar itu, siapa yang sudi memberi? Tabungannya pun juga tidak akan cukup. “Mbak Kaira?” sapa suara seorang wanita yang datang dari sebelah kanannya. Saat mengangkat wajah, Kaira mendapati Zia bersama dengan suaminya, Madhava yang sedang mendorong stroller bayi mereka. “Zi? Apa yang kamu lakuin di sini?” tanya Kaira saat Madhava terus berjalan. “Mau imunisasi Starla, Mbak. Mbak Kaira kenapa?” tanya Zia balik, berhenti di depannya. “A-aku nungguin Ibu.” Kedua alis Zia terangkat, “Ah, aku dengar dari Mbak Monic semalam. Jadi beneran ibunya Mbak Kaira di ICU sekarang?” Kaira mengangguk sebagai jawaban. Entah sejauh mana yang Zia tahu, tapi sepertinya itu sudah jelas hingga ke pencabutan fasilitas pengobatan ibunya. “Aku nggak bisa bantu banyak, Mbak ….” Seperti biasa, Zia akan tersenyum manis, matanya berbinar. “Tapi coba aku nanti ngomong ke Mama biar balikin fasilitas ibunya Mbak Kaira.” Mendengarnya, dan mengingat bagaimana Zia memang menantu kesayangan Sasmita, Kaira memiliki sedikit harapan. “Beneran, Zi?” “Iya,” jawab Zia seraya mengusap tangan Kaira. Zia tampak mengeluarkan ponselnya sebelum mengatakan, “Aku udah bilang mau ketemu Mama sebentar lagi, aku akan bantu Mbak Kaira.” “Terima kasih.” “Tapi aku boleh minta tolong sesuatu nggak?” “Apa, Zi?” “Aku ada klien butik VIP yang mau revisi baju,” jawabnya. “Dia di hotel Grand Maha Residence. Kalau Mbak Kaira mau, tolong ambil bajunya nanti jam delapan malam.” “Kenapa … harus aku?” “Stafku yang biasa ambil lagi ada perlu, Mbak. Mbak Kaira mau nggak?” Mengingat Zia baru saja menawarkan bantuan dan akan bertemu Sasmita setelah ini, Kaira mengangguk. “Iya, akan aku ambil nanti.” “Oke, aku duluan ya.” Zia berlari kecil menjauh, melambaikan tangannya pada Kaira yang berharap Zia benar bisa membujuk ibu mertuanya. …. Grand Maha Residence adalah salah satu hotel milik Maha Group yang malam ini didatangi oleh Kaira. Setelah melihat nomor kamar yang dikirimkan oleh Zia, Kaira menuju ke sana. Ia memencet bel, menunggu dengan sabar sampai pintu kamar itu terbuka. “Masuk,” ucap sebuah suara pria dari dalam yang terdengar tidak asing bagi Kaira. Ia mengembuskan napasnya dan mengayunkan kakinya ke dalam. Wangi parfum yang dihidu oleh inderanya terasa familier, seolah Kaira pernah di dekatnya sebelumnya. Ruangannya luas dan terang, Kaira menunduk dan berhenti di dekat sofa. Ekor matanya mendapati si pemilik ruangan berdiri tak jauh darinya. “Selamat malam, saya datang untuk—” Kaira mengangkat wajahnya, senyum yang sedari tadi ia paksakan mendadak menghilang saat ia melihat siapa pria tinggi menjulang yang sedang berdiri di hadapannya itu. “M-Mas … Kaisar?” Kaisar, pria yang ada di dalam kamar hotel ini adalah Kaisar. “A-apa yang … Mas Kaisar lakukan di sini?”Terima kasih sudah membaca yaa akak semuanya 🌻 Thor kasih 1 bab lagi kalau pada Komen 💋💋
“Kenapa kamu yang datang?” tanya Kaisar balik, tawa lirihnya terdengar seperti sedang menangkap basah Kaira.“A-aku diminta—”“Jadi kamu pekerjanya Madam Rose?”Kedua mata Kaira membulat, “Madam Rose siapa, Mas? Aku datang soalnya—”“Duduklah dulu,” pinta Kaisar, dagunya sekilas mengarah ke sofa. Pria itu melakukan hal yang sama, sejenak berkutat dengan ponselnya sebelum meletakkan gawai miliknya ke atas meja, mendorongnya pada Kaira.“Madam Rose bilang kalau kamu emang anak buahnya.”Kaira menunduk, menatap layar ponsel Kaisar di mana di sana ada percakapan dengan nomor yang tidak disimpannya, yang mengkonfirmasi foto Kaira yang baru saja diambil Kaisar diam-diam.[Benar, Tuan. Dia wanita yang akan menemani Tuan malam ini. Selamat bersenang-senang.]Membaca itu, Kaira tahu bahwa Madam Rose adalah seorang penyedia jasa wanita malam, dan kemungkinan Zia telah memberikan identitasnya pada wanita itu. Mereka bekerja sama menjebak Kaira untuk ke kamar ini, tanpa tahu si pemesan adalah Kai
“Akh—!” Kaira menjerit kecil saat Sasmita menguraikan kakinya yang semula tertumpuk. Gerakan mendadak itu mengenai bahu Kaira sehingga ia kehilangan keseimbangan dan bersimpuh di lantai. Kaira meremas jemarinya, meski air matanya menggantung oleh hinaan itu, ia bersikeras menunggu jawaban ibu mertuanya. “Akan aku pikirkan,” kata Sasmita akhirnya. “Sekarang keluarlah, aku mau tidur.” Kaira bangun, meski tak mendapat kejelasan, bukankah ia tidak bisa menuntut? Ia menundukkan kepalanya, berterima kasih. “Terima kasih, Ma.” Pandangannya sejenak tertuju pada ayah mertua yang ada di sudut sana, beliau tak menoleh, seolah tidak mau tahu. Kaira kembali ke kamar, hatinya remuk saat ia meraih tasnya dan berpamitan ke rumah sakit pada Mahesa yang tidak memberi tanggapan. Sesampainya di sana, sang Ibu sedang terbaring di ICU dengan banyak alat penopang kehidupan. Kaira tergugu dalam tangis di depan jendela besar itu, ‘Apa yang harus Kaira lakukan, Bu?’ Seandainya ada kesempatan yang dapa
‘Di mana aku?’ tanya Kaira saat membuka mata dan menjumpai langit-langit yang asing mengapung di atasnya, kepalanya sedikit pusing saat ia memaksa dirinya untuk bangun. Ini adalah sebuah kamar hotel yang mewah. Menelaah sejenak ke belakang, Kaira ingat ia tadi pingsan dan menimpa Kaisar. Pria itu ada di sana, duduk di sofa yang ada di seberang ranjang, menatap Kaira dengan sepasang iris gelapnya. “M-maaf, Mas,” katanya seraya menelan rasa malu. “Terima kasih udah nolongin.” “Istirahatlah dulu, dan pulang denganku setelah ini.” Kaira menggeleng, “Aku harus balik ke kantor, ada kerjaan yang harus aku selesaikan.” Ia turun dari ranjang, mengenakan kembali sepatunya. “Aku udah minta staf lain buat handle kerjaanmu hari ini.” Kalimat itu membuat tangan Kaira yang sedang menggapai tas dari atas meja mendadak kebas. “Kerjaan apa yang kamu bicarakan, Kaira? Punya Mahesa?” Kaira menoleh pada Kaisar yang bersandar dengan tenang di tempatnya duduk. “Mas Kaisar tolong nggak usah ikut
Sekalipun tidak ada yang bicara, Kaira bisa merasakan seluruh pasang mata yang ada di sana menatapnya dengan penuh kebencian. Ia beranjak dengan kaku, melepas celemek dan menyimpannya di pangkuan. Suara kursi di samping Kaira berderak, Mahesa menyelesaikan makannya dan pergi dari sana tanpa menoleh. “Mulai hari ini jangan ribut lagi di depan makanan,” kata Kaisar tanpa ada yang menjawabnya. Sasmita tampak bergegas bangun dari duduknya padahal makanan di piringnya masih utuh. Disusul yang lain dan menyisakan Kaira serta Kaisar saja. Kaira bergerak tidak nyaman, merasa sungkan karena semua orang tak jadi makan sebab ada dirinya. Ia urung menyuap, diliriknya Kaisar yang tak terbebani dengan segala hal yang terjadi di sekitarnya. “Makanlah,” ucap pria itu, sepertinya sadar Kaira sedang mencuri pandang padanya. “I-iya.” “Kamu bukan pembantu, Kaira. Udah ada orang yang dibayar buat melakukan semua tugas itu. Jadi kamu nggak perlu sekeras itu ke dirimu sendiri.” Kaisar meraih gelas
Meski pertemuan semalam membuat Kaira merasa malu sebab Kaisar tahu bagaimana ia diperlakukan di rumah itu, tapi mereka bersikap profesional saat ada di kantor. Di dalam ruang kerja Kaisar, Kaira kembali mewakili Mahesa menghadapnya. Kali ini untuk menyerahkan laporan analisis hambatan penjualan produk. Setelah mendengar semua yang disampaikannya, Kaisar tertawa lirih. “Laporannya nggak bertele-tele kayak yang terakhir dibuat Mahesa di depanku. Ini kamu yang bikin, Kaira?” tanya Kaisar, membalik beberapa lembar laporan yang seketika membuat suara Kaira tercekat. “B-bukan, Pak.” “Kamu pikir aku nggak bisa nilai atau bedain setiap orang yang kerja denganku?” “Saya cuma bantu Pak Mahesa mengumpulkan datanya.” “Berusaha melindunginya karena dia suamimu?” Kaira menggigit bibirnya, memilih diam daripada salah berucap. Ia lalu menerima satu map lain dari Kaisar yang kembali berujar, “Ibumu kelihatan lebih baik, sakitnya udah sembuh?” Kaira mendengus, tak dapat membendung rasa kesal
Dengan tangan yang kebas, Kaira menerima kertas itu. Ia menegakkan tubuhnya dan terbata mengucap, “T-terima kasih.” Kaisar berlalu seolah tak melihat apapun, diikuti oleh seorang pemuda yang merupakan sekretarisnya. Kaira menghela dalam napasnya, bergegas ke meja kerjanya untuk mengambil beberapa berkas dan pergi ke ruang pertemuan. Ia menggantikan Mahesa untuk melakukan presentasi dan menyerahkan laporan. Semua berjalan lancar hingga orang-orang membubarkan diri, menyisakan dirinya yang merapikan file dan Kaisar di kursi kepala. “Prosedur steril tadi … punyamu?” Suara Kaisar memecah kebisuan yang terjadi di antara mereka. Kaira tidak langsung menjawab, sudut matanya mengarah pada Kaisar yang duduk menumpuk kaki, menunggunya. “I-iya, Pak,” jawabnya. “Mahesa yang nyuruh?” Diam yang diberikan Kaira sepertinya adalah jawaban yang cukup bagi Kaisar. “Keputusan bersama?” tanya pria itu lagi. Kaira mengangkat wajah, menatap Kaisar yang biasanya tidak peduli pada urusan bawahan, a







