Share

Bab 8

Author: Almiftiafay
last update publish date: 2026-07-27 20:34:46

“Kenapa kamu yang datang?” tanya Kaisar balik, tawa lirihnya terdengar seperti sedang menangkap basah Kaira.

“A-aku diminta—”

“Jadi kamu pekerjanya Madam Rose?”

Kedua mata Kaira membulat, “Madam Rose siapa, Mas? Aku datang soalnya—”

“Duduklah dulu,” pinta Kaisar, dagunya sekilas mengarah ke sofa. Pria itu melakukan hal yang sama, sejenak berkutat dengan ponselnya sebelum meletakkan gawai miliknya ke atas meja, mendorongnya pada Kaira.

“Madam Rose bilang kalau kamu emang anak buahnya.”

Kaira menunduk, menatap layar ponsel Kaisar di mana di sana ada percakapan dengan nomor yang tidak disimpannya, yang mengkonfirmasi foto Kaira yang baru saja diambil Kaisar diam-diam.

[Benar, Tuan. Dia wanita yang akan menemani Tuan malam ini. Selamat bersenang-senang.]

Membaca itu, Kaira tahu bahwa Madam Rose adalah seorang penyedia jasa wanita malam, dan kemungkinan Zia telah memberikan identitasnya pada wanita itu. Mereka bekerja sama menjebak Kaira untuk ke kamar ini, tanpa tahu si pemesan adalah Kaisar.

“Aku nggak kenal siapa orang itu, Mas,” kata Kaira, tak dapat menyembunyikan kepanikannya karena saat ini Kaisar pasti menganggapnya sebagai perempuan panggilan.

Dadanya sesak, ia meremas jemarinya saat bergumam, “Apa Zia sengaja melakukan ini?”

Ia menoleh pada Kaisar, berusaha meyakinkannya karena jika kesalahpahaman ini mencoreng nama baiknya, Kaira akan tamat.

Kaira tahu orang seperti apa Kaisar. Pria berhati dingin yang sepanjang ia lihat di kantor tegas dan tak kenal kompromi.

“Aku ke sini karena Zia minta buat ambil baju kliennya yang mau direvisi.”

Kaisar menggeleng, pria itu menuangkan wine ke dalam gelas berkaki yang ada di atas meja.

“Nggak mungkin, Kaira,” jawabnya. “Aku pemilik kamar ini.”

“Tapi aku beneran bukan perempuan panggilan, Mas.”

Salah satu alis Kaisar terangkat naik, pria itu meneguk wine perlahan, lirikannya seperti sedang menelaah kejujuran Kaira.

Keheningan yang terjadi di antara mereka luruh saat Kaira memberanikan diri bertanya, “Kenapa … Mas Kaisar memesan perempuan?”

“Ini pertama kali aku melakukannya.”

“Tapi kenapa?”

Kaisar menghela dalam napasnya, menggoyang gelas wine di tangannya penuh pertimbangan.

“Davina nggak mau berhubungan denganku,” akunya.

Kalimat itu membuat ingatan Kaira tertarik ke belakang, pada pertengkaran yang tak sengaja didengarnya saat itu, perihal Davina yang meminta Kaisar agar mencari wanita manapun yang ia inginkan.

Jadi, seperti itu alasannya?

Padahal rumah tangga mereka terlihat baik-baik saja.

“K-kenapa Mbak Davina nggak mau, Mas?”

“Davina nggak punya ketertarikan dengan hubungan seperti itu, dia aseksual.”

Jawaban itu membuat kedua mata Kaira seketika terbeliak.

“Jadi … Mas Kaisar memutuskan buat ketemu wanita lain?”

“Mau gimana lagi?” balas Kaisar dengan tenang. “Aku butuh keturunan buat memastikan aku layak jadi pewaris Maha Group, dan minta sekretarisku buat mengatur, dia memintaku nunggu di sini, tanpa tahu kalau kamu yang bakal datang.”

“Aku ke sini karena beneran disuruh Zia setelah dia bilang mau bujuk Mama buat balikin fasilitas Ibu yang dihentikan,” lirih Kaira. “Aku nggak nyangka kalau dia menjebakku dengan cara kotor begini.”

Kaira menunduk dalam, hancur karena menyadari betapa murahnya harga dirinya di mata keluarga suaminya sendiri.

Kaisar tak begitu saja membalasnya, pria itu menarik selembar tisu dari depannya dan menyerahkannya pada Kaira.

“Menangis nggak akan mengubah fakta kalau ibumu sedang butuh bantuan sekarang.”

Kaira mengusap air matanya, memalingkan sedikit wajahnya dari Kaisar.

“Saya minta maaf karena udah ganggu Mas Kaisar,” balas Kaira. “Saya permisi.”

Belum sempat Kaira beranjak, suara bariton Kaisar mencegahnya.

“Lalu setelah keluar dari sini kamu mau apa?” tanyanya. “Pulang dan berlutut di kaki Mahesa? Atau mengemis ke ibu mertuamu?”

Rahang kecil Kaira terasa nyeri, karena jujur saja … ia tidak memiliki jawabannya.

“Jadi apa yang harus saya lakukan?”

Kaisar meletakkan gelas winenya ke atas meja, menatap Kaira dengan maniknya yang segelap palung laut.

“Aku tahu ini gila, tapi mungkin ini akan menyelesaikan masalah kita.”

“Maksud … Mas Kaisar?”

“Kamu butuh uang saat ini juga, aku bisa kasih itu ke kamu. Tapi, apa kamu juga mau melakukan sesuatu untukku?”

“Apa itu, Mas?”

Rahang tegas Kaisar mengetat, “Mengandung anakku.”

Jawaban itu seketika menghantam tengkuk Kaira. Bibirnya bergerak tanpa suara, tubuhnya membeku.

‘Apa dia bilang?’

“Aku nggak memaksamu, Kaira. Tapi kalau kamu mau, aku pastikan kamu nggak akan kehilangan ibumu secara sia-sia. Malam ini juga, operasinya akan dilakukan.”

Drrt ….

Getar dan dering ponsel Kaira terdengar dari atas meja. Layarnya menyala, bertubi-tubi pesan dari suster yang merawat ibunya terpampang di sana, mengatakan Ibu harus segera dioperasi, Ibu baru saja sesaat kehilangan detak jantungnya, Ibu harus segera ditindak.

Karena Kaira tak kunjung menjawab, Kaisar bangun dari duduknya dan menjauh. Sebelum pria itu berubah pikiran, Kaira menyusulnya, meraih kemeja di pinggang Kaisar, menghentikannya.

Kaira tahu ini gila. Namun ia tidak punya pilihan lain, ibunya harus diselamatkan.

“Akan aku lakukan, Mas,” kata Kaira dengan yakin.

Kaisar menoleh, menatap Kaira yang berusaha meyakinkannya.

“Aku akan mengandung anaknya Mas Kaisar, tapi tolong Ibu dulu,” kata Kaira. Suaranya terdengar parau, begitu putus asa.

Kaisar tak menjawab, pria itu menunduk, memandang ponselnya, mengirim pesan entah pada siapa dan sesaat kemudian mengatakan, “Sudah. Ibumu akan dioperasi secepatnya.”

Ada kelegaan yang besar memenuhi dada Kaira saat mendengar itu. Sesak yang memburunya kemudian raib.

Namun, ini bukan akhir dari segalanya. Kesepakatannya dengan Kaisar baru saja dimulai.

Pria itu menghadapkan tubuhnya, mendekat dan mengikis jarak di antara mereka. Kaira menengadahkan wajah, di depan Kaisar ia hanya berdiri setinggi dadanya.

Kaisar menyentuh dagu Kaira dan di bibir bagian bawahnya sebelum berbisik, “Kamu nggak boleh mundur, kita nggak bisa berhenti sekarang.”

Kaira memejamkan matanya, mengangguk dan menatap kembali pria itu.

Usapan Kaisar terasa sangat sensual dan membuat jantung Kaira berdegup kencang. Kecupan ringan yang dijatuhkan pria itu di bibirnya berubah menjadi lumatan yang menuntut, meminta Kaira membuka mulut sehingga lidah mereka saling menemukan dan berkelindan.

Begitu ahli pria ini menciumnya, ia menggigit dan memainkan tempo yang membuat Kaira pasrah.

Tak ia sangka, pria yang dikenalnya berhati dingin ini menyentuhnya dengan hangat.

Napasnya terengah saat Kaisar menarik wajahnya, memberi jeda di kala Kaira merasa sekeliling bibirnya kesemutan.

“Ah—!” Kaira tidak siap, tubuhnya meremang saat Kaisar mengangkatnya, berpindah dari dekat sofa presidential suite ke arah ranjang besar yang ada di sana.

Tubuh Kaira dijatuhkannya dengan perlahan, dikunci di antara kedua lutut Kaisar. Pria itu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Kaira, menguraikan kancing blouse miliknya dan menariknya turun. Bahu mulus Kaira terlihat, begitu pun dengan keindahan di bawah tulang selangkanya. Senyum Kaisar penuh godaan saat pria itu terus terpaku di sana sehingga Kaira harus memanggilnya.

“M-Mas Kaisar?”

Kaisar menatap matanya sejenak sebelum kembali menunduk, mendekatkan wajahnya dan menjulurkan lidah, menyentuh puncak merah muda di dada Kaira.

“Kita mulai dari sini, Kaira ….”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (10)
goodnovel comment avatar
Eva
Akan jadi malam yang panjang dan panas Kaisar dan Kaira
goodnovel comment avatar
Leah von herhardt
tapi syukur ketemunya Kaisar, dan bab iny diakhiri dgnn sangat² hotttt wkwkwkw
goodnovel comment avatar
Leah von herhardt
oooo gituuu tooo jd ini jebakan si zia uler betina?
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 95

    “Kaira sama cowok lain?” ulang Monica dengan sinis.“I-iya, Mbak Monica,” jawab Zia gugup, beralih melirik Sasmita. “Waktu itu aku baru ketemu klienku, terus nggak sengaja lihat Mbak Kaira sama laki-laki itu dan … mereka kelihatan deket banget.”Sasmita mendengus kasar, tatapannya menghujam Kaira dengan begitu tajam. “Benar begitu, Kaira? Hari Minggu kemarin kamu emang pergi seharian, ‘kan? Jadi ini alasan kamu kelayapan?”Semua orang di ruangan itu mulai bergejolak. Monica bersedekap dada sambil melemparkan senyum mengejek, sementara Algara hanya memperhatikan dengan pandangan menilai yang penuh cemoohan.Mereka semua mempercayai ucapan Zia tanpa ragu sedikit pun.Kaira membeku. Ia tidak bisa berkutik dan terdesak begitu hebat di posisinya saat ini.Mau membantah pun suaranya seolah lenyap di pangkal tenggorokan. Pikirannya carut-marut menyusun kata yang tepat karena apa yang diucapkan Zia memang benar terjadi.Ia dan Kaisar memang pernah pergi ke sana.Melihat diamnya Kaira, Mahesa

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 94

    Kaira beberapa langkah menjauhi meja Kaisar saat pria itu menghela dalam napasnya dan dengan ketenangan yang terkendali seperti biasanya bertanya, “Apa yang kamu lakukan di sini, Dav?”“Kamu nggak pulang—”“Bukannya aku udah bilang kalau kamu mau datang ke sini harus bikin janji dulu denganku?” sela Kaisar.“Gimana caranya bikin janji sama kamu kalau kamu nggak mau jawab teleponku, Mas?!” balas Davina dengan nada meninggi.Kaira mencoba mencari celah untuk bicara, “Pak Kaisar maaf—”“Tunggu di sini sebentar, Kaira,” kata Kaisar. Pria itu seperti sedang mengisyaratkan bahwa urusan dengan Davina tak akan lama.Dan itu membuat Davina menoleh pada Kaira, menatapnya selama beberapa detik sebelum bersedekap.“Terpaksa aku lakuin, Mas. Coba aja kamu nggak bersikap begini! Jangan egois dong!”Kaisar tampak memperdengarkan tawa lirihnya saat mengulangi, “Egois?”“Emang begitu, ‘kan?”Pria itu mengangguk pelan, “Terserah. Jadi kamu mau apa?”“Nanti di Gala Tahunan aku mau Naya kamu masukin ke d

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 93

    Kaira keluar dari kamar belakang setelah bersiap pagi ini, dan menuju ke dapur. Mengambil minuman dingin dari dalam kulkas lalu menerima sekotak buah potong yang telah dikemas oleh Sari.Baru saja mengatakan terima kasih pada wanita paruh baya itu, Zia datang untuk meletakkan botol susu Zia ke wastafel.“Udah mau berangkat, Mbak?” tanya Zia, menahan langkah Kaira yang sudah hendak pergi.“Iya,” jawab Kaira singkat, tak ingin memperpanjangnya.“Mbak nggak bareng Mas Hesa, ‘kan? Soalnya aku yang mau bareng sama dia.”Kaira menoleh, memasang senyumnya sebagai balasan wajah lugu Zia.“Aku bareng Mas Hesa, Zi,” katanya.“Loh? Bukannya Mbak Kaira biasanya naik taksi?”Nada bicara Zia sedikit meninggi meski wajahnya masih sama polosnya.Beberapa pelayan yang ada di sekitar mereka perlahan menjauh, atau yang sebagian bertahan di sana berpura-pura untuk tidak mendengar percakapan keduanya.“Kamu ‘kan ada sopir? Lagian kalau bareng Mas Hesa bukannya kamu nggak searah ya?”“Dimintain tolong gitu

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 92

    “A-aku cuma mau ambil mainannya Starla aja kok,” jawab Zia dengan cepat. Nada bicaranya terdengar panik. “Oh ….” Kaira mengangguk. “Kenapa mainannya Starla ada di sini?” “Mas Hesa kemarin ngajak Starla ke sini, dan mainannya lupa nggak aku ambil, Mbak!” “Aku ‘kan cuma tanya, Zi ….” tanggap Kaira. “Kenapa kamu marah?” Zia membenarkan raut wajahnya, memaksa agar senyum itu terkembang di sudut bibir. Pintu kamar di dekat Kaira terbuka, Mahesa muncul dan menatap mereka bergantian. “Kamu mau ambil bajumu sekarang, Ra?” tanya Mahesa. “Iya, Mas.” “Tadi ribut kenapa?” “Nggak kok,” jawab Kaira. “Tadi penasaran aja kenapa Zia ke sini, katanya mau ambil mainannya Starla.” Saat Kaira menoleh pada Zia, wajah adik iparnya itu terlihat gusar dan menatap Mahesa cukup lama sebelum ia pergi tanpa mengatakan apapun. “Masuklah,” kata Mahesa seraya membuka lebar pintu. Begitu Kaira melangkah ke dalam kamar, Mahesa yang tadinya tampak bingung lalu turut pergi setelah mengatakan, “Aku

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 91

    “Lakuin aja,” balas Kaira seraya menoleh. “Aku juga mau tahu apa yang akan dilakuin Mas Kaisar buat menyelesaikan ini.” Stiletto yang dikenakan Kaira nyaris kembali menggema di ruangan luas itu sebelum Kaisar meraih pergelangan tangannya. Suaranya begitu memohon kala pria itu memanggil, “Kaira?” “Aku harus pulang sekarang, Mas. Maaf ….” Kaira menimpakan tangannya ke punggung tangan Kaisar, memaksa pria itu agar melepasnya. Kedua bahu Kaisar merosot saat Kaira berbalik dan menghilang di balik pintu lift. Melihat raut frustrasinya, sepertinya jarak yang dibuat oleh Kaira ini berhasil. ‘Aku ingin tahu perasaan Mas Kaisar,’ batinnya, menatap pantulan dirinya yang ada di pintu lift. Kaira ingin memastikan, setelah yang mereka lakukan selama ini … apakah semuanya akan berakhir hanya sebagai pelampiasan nafsu saja, atau karena Kaisar memang … mencintainya? …. Dengan menaiki taksi yang melaju di bawah muramnya langit sore ini, Kaira akhirnya sampai di rumah. Menjejakkan k

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 90

    “Mas?” sapa Mahesa seraya selangkah maju dan berdiri di samping Kaisar. “Ada apa?” Kaisar tak menjawab. Sepasang iris gelap pria itu terarah pada leher Kaira, sebelum berpindah turun ke arah jari manisnya yang kosong padahal seharusnya cincin dari Kaisar melingkar di sana seperti semalam. Kaisar mendengus lirih, sepasang telinganya memerah saat ia menatap Mahesa dan mengembalikan tanya, “Apa yang kalian lakukan?” Mahesa mengangkat sekilas kedua bahunya, “Bukan apa-apa kok. Cuma mau kasih sesuatu aja ke Kaira.” “Lain kali jangan di kantor!” tegurnya dingin. “Iya ….” Mahesa hampir enggan menjawabnya. “Baru kali ini juga, Mas. Masa langsung dimarahin sih?” “Sekali dua kali, lama-kelamaan ada yang lihat dan ditiru sama yang lain.” “Iya maaf.” Mahesa lalu mengisyaratkan pada Kaira agar terus berjalan. Kaira mengangguk lirih, maniknya bertemu dengan iris gelap Kaisar sebelum mengikuti Mahesa yang melangkah memasuki ruang meeting setelah menundukkan kepalanya dengan sopan. Sembari b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status