登入Aluna diam dan meremas kain yang ia kenakan. Sang suami menyadari. Ia duduk di tepi ranjang, senyumannya berubah menjadi tawa ringan seperti sedang meledek.
"Serius? Kau ingin aku tiduri?" Bara terasa geli waktu mengucapkan kalimat itu. Bara menatap Aluna dari ujung rambut ke ujung kaki. Sedangkan Aluna masih diam di tempat dan tidak mau menanggapi ataupun menatap suaminya. "Kenapa? Apa diam-diam kau mulai menyukaiku?" Bara mencerca Aluna dengan beberapa pertanyaan. "Tidak!" jawab Aluna singkat dan tenang. "Lalu apa?" Bara tersenyum dan senyuman itu terlihat seperti mengejek. "Aku punya alasan sendiri. Cukup jawab kau menyetujui syarat itu atau tidak?" Senyum yang menghias bibir Bara mendadak hilang dan berubah menjadi kekesalan karena permintaan sang istri sangat aneh. Menurut Bara syarat yang tidak patut untuk menyetujui sebuah perceraian. Dari tangan terlipat di dada kini berpindah tempat. Bara berkacak pinggang menatap Aluna. "Apa susahnya tinggal kau tanda tangani. Kenapa harus meminta persyaratan yang cuk—" "Ya atau Tidak, Bara?" Cukup tenang, menekan, dan mengintimidasi. Bara menarik napas dan mengembuskan secara kasar sampai Aluna mendengar embusan itu. "Dengar Aluna." Suara Bara berhasil membuat Aluna menatapnya. "Jujur. Aku tidak mau menidurimu—" "Kalau begitu kau bisa urus surat cerainya sendiri," potong Aluna membalikkan badan untuk pergi. "Aluna, kau selingkuh!" bentak Bara meradang. "Kau pikir, aku tidak bisa mengurus cerai dengan alasan itu?" Aluna menghentikan langkahnya tanpa membalikkan badan. Bara keceplosan karena teringat pria itu. Ya, pria itu memang tinggi tapi badannya tidak atletis. Ia memang tampan dengan senyum manis dan hidung mancung serta punya aura yang beda, tapi balik lagi ke Bara. Menurut Bara pria itu masih kalah tampan dari dirinya. "Semoga kau berhasil dengan alasan itu." Sebelum melangkah keluar dari ruangan itu. "Apa kau yakin akan ada yang percaya jika aku selingkuh?" lanjut Aluna berdiri di ambang pintu tanpa menoleh. "Jangankan orang lain. Mamamu saja pasti lebih percaya padaku, bahkan jika aku bilang itu adalah fitnah." Sungguh sangat licik. Bara sampai terperangah. Seratus persen Bara melihat seringai sinis di bibir Aluna. Bara baru menyadari jika wanita yang telah ia nikahi itu mempunyai seribu cara. Terlebih ia sudah mengambil hati ibunya. Bara mulai gusar dan menyugarkan rambut ke belakang. Setahun menikah tapi Bara tidak sepenuhnya tahu atau mengenali sang istri. Perjodohan yang dirancang oleh sang mama memang Bara tidak menyetujuinya. Dengan kata lain ia terpaksa menikahi Aluna tanpa cinta. Sedikit pun Bara tidak pernah menyentuh Aluna dari pertama menikah sampai genap setahun. Sungguh prestasi yang sangat membanggakan bagi Bara bisa bertahan sampai satu tahun pernikahan. Pria itu berdiri termenung di tempat dan tanpa merespons. Dari lubuk hati yang paling dalam, Bara setuju dengan apa yang diucapkan oleh sang istri. Mungkin memang mamanya tidak akan percaya pada dirinya. Bodohnya Bara tidak mengambil foto, video, atau sejenisnya yang bisa dijadikan bukti bahwa Aluna selingkuh. Sungguh permainan yang sangat rapi telah dimainkan oleh sang istri sehingga ibunya lebih percaya pada ular berbisa itu. Surat permohonan cerai yang Bara ajukan tanpa persetujuan dari Aluna akan sulit dikabulkan tanpa adanya alasan yang kuat dan tentunya Bara tahu akan hal itu. Kini harapan yang lain adalah surat gugatan dari wanita itu, tapi dalam waktu satu tahun menikah dan dengan segala tingkah yang Bara lakukan tanpa Bara memikirkan perasaan Aluna, tetap saja Aluna tidak melayangkan surat gugatan cerai. Bara merasa malu dan terhina dengan perselingkuhan Aluna. Bagaimana tidak, Aluna berselingkuh dengan pria yang tidak lebih baik dari dirinya. Dengan perselingkuhan Aluna, Bara tidak bisa melanjutkan pernikahannya lebih lama. Apa yang sebenarnya sedang Aluna kejar dari dirinya? Apakah harta? Pria itu sampai terkejut dengan dugaannya sendiri. "Apa lagi memangnya yang sedang ia cari? Semua sudah jelas, kan?" ujar Bara sengit. Sorot mata Bara menatap ambang pintu kamarnya. "Alunaa!" teriaknya kencang seakan rumahnya hampir roboh. Beberapa saat setelah itu, Aluna muncul dan berdiri di ambang pintu. "Kenapa?" "Cepat sebutkan berapa duit yang harus aku bayar agar kau mau tanda tangan?" seru Bara. Aluna tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Tentunya hal itu terasa sangat melegakan bagi Bara. Ternyata tebakan Bara benar, ia jadi tahu apa yang sebenarnya Aluna inginkan. Senyuman Aluna mendadak sirna. "Urus sendiri saja sesuatu rencanamu itu, Bar. Tidak perlu susah payah atau repot-repot untuk menyuap ku. Wanita-wanita yang kau tiduri itu pasti lebih membutuhkan uangmu dari pada aku," jelas Aluna dengan lembut. Sebelum akhirnya ia kembali berlalu dari sana. "F*CKIN' SH*T!" umpat Bara mengejar Aluna. "Sebenarnya apa mau mu, huh!" Mencekal tangan Aluna. "Buat apa aku menidurimu jika kau sudah tidak perawan!""Aku setujui permintaanmu itu, tapi dengan syarat. Selama satu bulan kau tidak boleh melakukan hal itu dengan wanita-wanita koleksimu. Begitu kau gagal, maka aku akan langsung mengajukan gugatannya."Bara tertawa pelan, suara baritonnya bergetar rendah di keheningan kamar. "Itu saja syaratnya?""Itu saja katamu?" Aluna mengulanginya dengan sangsi. "Aku saja tidak yakin kau sanggup melalui satu bulan tanpa koleksi wanitamu itu," lanjut Aluna sembari mengulas senyum masam."Itu mudah sekali, Aluna," kata Bara menertawakan keraguan istrinya. Pria itu perlahan merangkak di atas ranjang, mengikis jarak untuk mendekati wanita yang ada di hadapannya. "Di sini, aku punya istri." Bara menatap Aluna dengan senyum smirk penuh kemenangan.Aluna membelalakkan matanya saat Bara mendorong bahunya, membaringkan tubuhnya kembali ke atas kasur dengan gerakan yang justru terasa sangat lembut."Bar..." Aluna mulai panik saat menyadari tubuh kekar pria itu sudah mengungkungnya dari atas."Penuhi ha
Aluna kembali membuka mata. Tetap saja ragu, walaupun mustahil jika ia salah dengar. Perlahan ia menoleh untuk kembali menatap Bara. Lama Aluna menatap Bara hingga tiba-tiba saja wajah serius Bara berubah geli lalu tertawa pelan. "Kau tidak mungkin berharap jika aku serius, kan?" kata Bara bangkit dari rebahannya untuk duduk. Aluna kembali menatap langit-langit kamar tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Aluna kembali menoleh saat merasakan tempat tidurnya bergerak dan menemukan Bara hendak turun dari ranjang. "Sepertinya memang aku tidak bisa jika harus tidur seranjang denganmu," Bara bangkit. "Aku akan tidur di sofa saja," lanjutnya lalu beranjak dari teempatnya. "Aku pun tidak berharap kau akan serius dengan perkataanmu yang tadi," kata Aluna. "Tapi aku tahu, kau tidak pernah seserius itu bilang padaku sebelumnya." Kata-kata Aluna membuat langkah Bara terhenti. Dadanya terasa tidak nyaman. Bukan ketahuan telah berbohong yang menjadi penyebabnya, tapi kecemasan akan tan
Bara terbangun karena tekanan yang sangat luar biasa sakit yang menyerang pada bagian kepalanya. Hal itu dikarenakan sisa mabuk yang dialaminya semalam. Bara melirik jam dinding yang bertengger cantik pada dinding kamar dan menunjukkan pukul empat pagi. Ia turun dari ranjang dan keluar dari kamar untuk minum.Selesai minum Bara memperhatikan sekeliling unit apartemen milik Aluna yang Bara tahu itu adalah hadiah pernikahan dari ibunya. Di mana Aluna ? Apa pria itu semalam datang dan melihatnya? Apa mereka mencari tempat lain dan Aluna meninggalkannya sndirian di apartemen ini? Ya, itu semua pertanyaan yang bercokol di dalam pikiran Bara.Bara sampai di ruang tamu dan menemukan Aluna berbaring di salah satu sofanya. Bara menghampiri dan duduk di meja tepat di depan Aluna terbaring. Baru sadar ternyata wanita itu terlelap dan Bara berpikir mungkin wanita itu ketiduran saat menunggu kekasihnya yang tak kunjung datang."Bangun!" Bara mengguncang tubuh itu sesaat. Dan hal itu cukup membuat
Aluna kesal dengan satu kalimat yang dilontarkan Bara untuknya. Merasa tidak terima dengan apa yang dituduhkan Bara pada dirinya. "Apa maksudmu, Bar?""Kau lihat sendiri!" kata Bara setengah tertawa. "Kenapa harus priamu itu yang lebih berhak ada di sini daripada aku, suamimu sendiri, hah?" jelas Bara. "Istri macam apa yang melempar suaminya ke wanita lain? Atau kau melakukan itu supaya kau bisa mengurus laki-laki lain?"Aluna diam saja. Ia tidak ingin berdebat dan juga tidak bisa mendebatkannya."Aku masih terima jika kau hanya mengibuliku," kata Bara menunjuk dirinya sendiri. "Tapi aku jadi muak tiap kali ingat bagaimana sayangnya mamaku padamu. Dia membangga-banggakanmu di depan teman-temannya, sedangkan kau aslinya hanya penipu licik yang gila harta.""Jaga bicaramu, Bara!" kata Aluna pelan.Bara tertawa pelan menyadari jika ia sudah membuat istrinya itu marah walau masih terlihat sangat tenang. Walau suaranya tenang tanpa geraman, ta
Bara menolak untuk dibawa ke unit rumah Monika, akan tetapi Aluna tetap bersikeras ingin mengantarkan Bara ke sana. "Bar, aku sedang menunggu orang dan aku tidak ingin ia melihatmu ada di sini. Apalagi dengan kondisimu yang mabuk seperti ini," kata Aluna tenang. Bara menoleh menatap Aluna, "Menunggu siapa, hah?" Bara mendekatkan wajahnya dan menatap Aluna dengan mata merahnya yang tidak fokus. "Menunggu selingkuhanmu itu?" Aluna mendorong tubuh Bara pelan. Jujur Aluna sungguh muak dengan bau alkohol itu. "Kau pasti sedang menunggu si El itu?" lanjut Bara. "Iya. Jadi ada baiknya aku mengantarkanmu ke rumah Monika sebelum ia sampai ke sini," jawab Aluna. Bara tertawa keras. "Jadi, selingkuhanmu itu yang lebih berhak ada di sini daripada suamimu sendiri?" tanya Bara tidak habis pikir. Aluna tampak diam ragu, ia tidak ingin menanggapi dan tidak ingin menyanggah juga karena Bara juga ada benarnya juga. "Jika begitu, biar aku di sini," Bara menghempaskan diri di sofa ruang tamu dan
Gelas kristal kedua di hadapan Bara kini sudah menyisakan separuh. Di bawah temaramnya lampu bar yang bergerak lambat mengikuti ketukan musik jazz, kesadaran pria itu perlahan mulai terombang-ambing oleh pengaruh alkohol yang kian pekat. Namun, alih-alih mendapatkan ketenangan yang ia cari sejak sore tadi, cairan amber yang membakar kerongkongannya itu justru memantik reaksi sebaliknya. Alkohol sialan itu malah memperkuat ilusi kepemilikan yang mendarah daging di dalam benaknya. Seolah-olah Aluna masihlah wanita yang bisa ia kendalikan sepenuhnya, bukan sosok dingin yang mengusirnya tadi siang. Pikiran itu terus berputar, membakar habis sisa akal sehat di kepalanya. Dalam kondisi setengah mabuk dengan tatapan mata yang mulai menyayu, fokus Bara mendadak terusik. Seorang wanita asing dengan gaun malam berpotongan rendah melangkah mendekat, lalu tanpa permisi menduduki kursi kosong tepat di sebelah kanannya. Aroma parfum berbau manis menyengat seketika menyerbu indera penciuman Bara,
Bara memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Sempat ia melirik butik yang sudah sepi dan gelap. Pikiran Bara saat itu sedikit kacau. "Bagus sekali. Tutup lebih awal," gerutu Bara. Meremas kuat stir mobilnya.Merasa tidak ada hal berguna yang bisa ia temukan di sana, pria itu akhirnya memutuskan unt
Deru napas Bara Mahendra yang memburu perlahan mulai teratur, menyisakan keheningan yang sarat akan sisa gairah di dalam kamar apartemen Monika. Pria itu menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang, membiarkan tubuh tegapnya terekspos di bawah temaram lampu tidur yang temaram. Sudut matanya melir
"Ah ... yah!" Wanita itu bergerak liar di atas tubuh pasangannya. "Lebih cepat, sayang!" Perintahnya sambil menikmati pemandangan di atasnya. Baru saja saat sang pria meminta untuk bertukar posisi. Ponselnya bergetar hebat. Sempat ingin mengacuhkan panggilan itu, akan tetapi terlintas dalam piki
Aluna menarik napas pelan untuk menenangkan hatinya. Walaupun sebenarnya ia sudah kebal. Namun, tangannya saling meremas. Aluna tidak jauh berdiri dari dua orang itu, hanya dibatasi sebuah pilar besar. Sungguh kalimat yang membuat perut Aluna seperti diaduk-aduk. Bahkan suaminya itu tidak pernah m







