เข้าสู่ระบบBara keluar dari kamar dan menyusul Aluna. Tangan Bara mencekal Aluna.
"Sebenarnya apa mau mu?" Aluna menatap mata Bara. "Kau tahu apa yang aku mau ..." Bara mencebik tidak percaya. Pria itu tidak habis pikir dengan isi kepala sang istri. "Buat apa kau meminta itu padaku?" Hening sesaat. Suhu ruangan mendadak sedikit panas. Keduanya masih bertatap muka satu dengan lainnya. "Aku hanya minta hak ku. Hanya satu kali," ucap Aluna. "Apakah terlihat susah syarat itu untukmu, Bar? Kau bisa meniduri wanita lain di luar sana. Meniduri istrimu sendiri, apakah begitu sulit?" Terdengar geli dan lucu ketika Aluna menyebut dirinya sebagai istri. Hal itu membuat Bara tertawa pelan. Bara menatap Aluna. "Masalahnya kau selingkuh dariku, Aluna. Aku jijik jika harus meniduri wanita bekas pria seperti selingkuhanmu itu." Bara tersenyum sinis. "Jijik katamu?" Aluna tidak percaya dengan ucapan pria yang berdiri di depannya. "Bahkan mungkin kau tidak lebih hebat dari dia dan aku yakin akan hal itu," lanjut Aluna tenang. Bara terperanjat kaget mendengar kalimat balasan dari Aluna. Dan Aluna tentu juga paham bahwa kalimat yang baru saja ia lontarkan itu akan membuat Bara naik pitam. "Kau menantang ku, Aluna?" "Jika iya kenapa, Bar? Apa kau takut?" balas Aluna. "Oke." Bara sibuk melepaskan sepatu yang masih menempel di kedua kakinya. "Hanya sekali ini saja dan kita pisah," lanjut Bara. Mendengar dan melihat Bara, justru Aluna mendadak cemas. Kepercayaan pada diri Aluna runtuh seketika, akan tetapi Aluna tetap menyetujuinya. Bara menarik tangan Aluna dan membawanya masuk ke dalam kamarnya. Menariknya dengan sedikit kasar dan melemparkannya ke atas ranjang. Aluna mulai ketar-ketir dengan apa yang akan diperbuat oleh suaminya. Ragu dan cemas. Entah apa yang ada dalam pikiran Aluna saat Bara mulai menyusulnya menaiki ranjang dan memulainya. Raut wajah pria itu terlihat sangat kesal dan Aluna terkejut saat Bara menarik celana pendeknya dengan kasar. Terlepas dalam satu tarikkan dan melemparkannya ke sembarang tempat. "Seperti ini kan mau mu, hah?" sindir Bara. "Dan aku tidak akan bertanggung jawab jika hatimu sakit atau tersinggung karena aku kelepasan menyebut nama wanita lain," kata Bara dengan sinis. Bara sibuk melepaskan pakaiannya. Wajahnya semakin kesal saat melihat Aluna yang juga menatapnya dan berkata .... "Aku juga ingin melakukan hal yang sama persis denganmu," ucap Aluna serasa memancing. "Tapi ... aku rasa itu akan sulit jika kau tidak sehebat dia," lanjut Aluna. Aluna merasakan sesuatu di bawah sana yang membelai miliknya dengan lembut dan hangat. Aluna mulai ikut alur permainan Bara, ia membusungkan dadanya. "Kau ini tidak tahu apa-apa, Aluna," geram Bara menghentakkan miliknya untuk masuk ke dalam Aluna dengan kasar. Bara terkejut dengan apa yang ia dapatkan karena suara kesiap Aluna cukup keras. Ternyata wanita itu masih perawan. Mahkota Aluna masih terjaga dalam satu tahun pernikahan mereka padahal Bara tidak pernah menyentuhnya. Kembali otak Bara berputar. Tak habis pikir dengan wanita yang kala itu tengah berada di dalam kungkungannya. "A-apa? Masih perawan?" ujar Bara lirih bingung bercampur kaget. Bara mengalihkan matanya ke wajah sang istri. Dengan mata terpenjam erat dan buliran bening perlahan mengalir dari sudut mata. Tangannya membungkam mulutnya sendiri. Dan pria itu kembali menekan dengan kuat, semakin kuat dan terlihat Aluna berusaha semakin keras menahan rasa sskitnya. Sebenarnya apa yang diinginkan oleh Aluna? Bara semakin tidak memahaminya. Bisa saja Aluna pergi meninggalkan Bara dalam keadaan suci. Keperawanan yang masih terjaga. Kenapa justru malah dengan sengaja memberikan keperawanannya padanya? Meminta hak yang mungkin sebagian wanita tidak harus dengan susah payah jika memang tidak ada cinta di antara mereka. Sungguh apakah itu alasan Aluna? Apa yang ia lakukan dengan pria itu di hotel jika ia masih perawan? Menjaga dirinya tetap utuh selama satu tahun tanpa sedetik pun Bara melihat dan menganggap ia sebagai istri. Apa sebodoh dan se-lugu itu seorang Aluna Kirana? Bara masih memperhatikan wajah Aluna dengan seksama dan perlahan mendekatkan wajahnya. Menyingkirkan tangan yang menutupi bibir Aluna. Bara mencium bibir itu dengan penuh kehangatan dan lembut. Memancing nafsu Aluna agar mengikutinya. Ketika nafsu Aluna mulai naik dan terbawa arus, barulah Bara menekan miliknya hingga berhasil masuk seluruhnya. Bara mulai bergerak pelan, ia tidak melepaskan tautan dari bibir Aluna. Ia mulai sibuk melepas baju yang masih menempel di tubuh Aluna. Setelah baju terlempas, bibir Bara bergerak turun ke rahang dan leher. Aluna menggeliat pelan dan Bara menaikkan tempo gerakan. Bara menyetubuhi Aluna dengan lembut. Meskipun setelah itu mereka tidak akan lagi bersama. Bara ingin memberi hadiah pada Aluna karena ia adalah pria pertama yang merobek selaput dara Aluna. Sebelum berpisah Bara ingin Aluna bisa menyimpan kenangan ini. Kenangan atas kesetiaan bodoh Aluna."Aku setujui permintaanmu itu, tapi dengan syarat. Selama satu bulan kau tidak boleh melakukan hal itu dengan wanita-wanita koleksimu. Begitu kau gagal, maka aku akan langsung mengajukan gugatannya."Bara tertawa pelan, suara baritonnya bergetar rendah di keheningan kamar. "Itu saja syaratnya?""Itu saja katamu?" Aluna mengulanginya dengan sangsi. "Aku saja tidak yakin kau sanggup melalui satu bulan tanpa koleksi wanitamu itu," lanjut Aluna sembari mengulas senyum masam."Itu mudah sekali, Aluna," kata Bara menertawakan keraguan istrinya. Pria itu perlahan merangkak di atas ranjang, mengikis jarak untuk mendekati wanita yang ada di hadapannya. "Di sini, aku punya istri." Bara menatap Aluna dengan senyum smirk penuh kemenangan.Aluna membelalakkan matanya saat Bara mendorong bahunya, membaringkan tubuhnya kembali ke atas kasur dengan gerakan yang justru terasa sangat lembut."Bar..." Aluna mulai panik saat menyadari tubuh kekar pria itu sudah mengungkungnya dari atas."Penuhi ha
Aluna kembali membuka mata. Tetap saja ragu, walaupun mustahil jika ia salah dengar. Perlahan ia menoleh untuk kembali menatap Bara. Lama Aluna menatap Bara hingga tiba-tiba saja wajah serius Bara berubah geli lalu tertawa pelan. "Kau tidak mungkin berharap jika aku serius, kan?" kata Bara bangkit dari rebahannya untuk duduk. Aluna kembali menatap langit-langit kamar tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Aluna kembali menoleh saat merasakan tempat tidurnya bergerak dan menemukan Bara hendak turun dari ranjang. "Sepertinya memang aku tidak bisa jika harus tidur seranjang denganmu," Bara bangkit. "Aku akan tidur di sofa saja," lanjutnya lalu beranjak dari teempatnya. "Aku pun tidak berharap kau akan serius dengan perkataanmu yang tadi," kata Aluna. "Tapi aku tahu, kau tidak pernah seserius itu bilang padaku sebelumnya." Kata-kata Aluna membuat langkah Bara terhenti. Dadanya terasa tidak nyaman. Bukan ketahuan telah berbohong yang menjadi penyebabnya, tapi kecemasan akan tan
Bara terbangun karena tekanan yang sangat luar biasa sakit yang menyerang pada bagian kepalanya. Hal itu dikarenakan sisa mabuk yang dialaminya semalam. Bara melirik jam dinding yang bertengger cantik pada dinding kamar dan menunjukkan pukul empat pagi. Ia turun dari ranjang dan keluar dari kamar untuk minum.Selesai minum Bara memperhatikan sekeliling unit apartemen milik Aluna yang Bara tahu itu adalah hadiah pernikahan dari ibunya. Di mana Aluna ? Apa pria itu semalam datang dan melihatnya? Apa mereka mencari tempat lain dan Aluna meninggalkannya sndirian di apartemen ini? Ya, itu semua pertanyaan yang bercokol di dalam pikiran Bara.Bara sampai di ruang tamu dan menemukan Aluna berbaring di salah satu sofanya. Bara menghampiri dan duduk di meja tepat di depan Aluna terbaring. Baru sadar ternyata wanita itu terlelap dan Bara berpikir mungkin wanita itu ketiduran saat menunggu kekasihnya yang tak kunjung datang."Bangun!" Bara mengguncang tubuh itu sesaat. Dan hal itu cukup membuat
Aluna kesal dengan satu kalimat yang dilontarkan Bara untuknya. Merasa tidak terima dengan apa yang dituduhkan Bara pada dirinya. "Apa maksudmu, Bar?""Kau lihat sendiri!" kata Bara setengah tertawa. "Kenapa harus priamu itu yang lebih berhak ada di sini daripada aku, suamimu sendiri, hah?" jelas Bara. "Istri macam apa yang melempar suaminya ke wanita lain? Atau kau melakukan itu supaya kau bisa mengurus laki-laki lain?"Aluna diam saja. Ia tidak ingin berdebat dan juga tidak bisa mendebatkannya."Aku masih terima jika kau hanya mengibuliku," kata Bara menunjuk dirinya sendiri. "Tapi aku jadi muak tiap kali ingat bagaimana sayangnya mamaku padamu. Dia membangga-banggakanmu di depan teman-temannya, sedangkan kau aslinya hanya penipu licik yang gila harta.""Jaga bicaramu, Bara!" kata Aluna pelan.Bara tertawa pelan menyadari jika ia sudah membuat istrinya itu marah walau masih terlihat sangat tenang. Walau suaranya tenang tanpa geraman, ta
Bara menolak untuk dibawa ke unit rumah Monika, akan tetapi Aluna tetap bersikeras ingin mengantarkan Bara ke sana. "Bar, aku sedang menunggu orang dan aku tidak ingin ia melihatmu ada di sini. Apalagi dengan kondisimu yang mabuk seperti ini," kata Aluna tenang. Bara menoleh menatap Aluna, "Menunggu siapa, hah?" Bara mendekatkan wajahnya dan menatap Aluna dengan mata merahnya yang tidak fokus. "Menunggu selingkuhanmu itu?" Aluna mendorong tubuh Bara pelan. Jujur Aluna sungguh muak dengan bau alkohol itu. "Kau pasti sedang menunggu si El itu?" lanjut Bara. "Iya. Jadi ada baiknya aku mengantarkanmu ke rumah Monika sebelum ia sampai ke sini," jawab Aluna. Bara tertawa keras. "Jadi, selingkuhanmu itu yang lebih berhak ada di sini daripada suamimu sendiri?" tanya Bara tidak habis pikir. Aluna tampak diam ragu, ia tidak ingin menanggapi dan tidak ingin menyanggah juga karena Bara juga ada benarnya juga. "Jika begitu, biar aku di sini," Bara menghempaskan diri di sofa ruang tamu dan
Gelas kristal kedua di hadapan Bara kini sudah menyisakan separuh. Di bawah temaramnya lampu bar yang bergerak lambat mengikuti ketukan musik jazz, kesadaran pria itu perlahan mulai terombang-ambing oleh pengaruh alkohol yang kian pekat. Namun, alih-alih mendapatkan ketenangan yang ia cari sejak sore tadi, cairan amber yang membakar kerongkongannya itu justru memantik reaksi sebaliknya. Alkohol sialan itu malah memperkuat ilusi kepemilikan yang mendarah daging di dalam benaknya. Seolah-olah Aluna masihlah wanita yang bisa ia kendalikan sepenuhnya, bukan sosok dingin yang mengusirnya tadi siang. Pikiran itu terus berputar, membakar habis sisa akal sehat di kepalanya. Dalam kondisi setengah mabuk dengan tatapan mata yang mulai menyayu, fokus Bara mendadak terusik. Seorang wanita asing dengan gaun malam berpotongan rendah melangkah mendekat, lalu tanpa permisi menduduki kursi kosong tepat di sebelah kanannya. Aroma parfum berbau manis menyengat seketika menyerbu indera penciuman Bara,
Radit memejamkan mata rapat-rapat. Jauh di lubuk hatinya, ada rahasia yang terkunci rapat yang tidak mungkin ia bagi dengan Amara. Kenyataan bahwa Aluna dan Bara sudah menikah pun, hal itu masih saja menghidupkan ambisi gila ibunya, tetapi juga menyentil ego dan sudut terjauh di hati Radit yang sel
"Amara... Amara!!" teriak Bu Citra dengan lantang saat memasuki mansion dengan tiga lantai itu. Teriakan itu terdengar begitu sangat memekatkan telinga.Amara yang sedang berada di kamar dengan suaminya saling pandang saat mendengar sang mama berteriak kencang."Itu mama kenapa, Mar? Manggil-manggi
Bu Citra melangkah masuk ke ruang VIP dengan senyum yang sulit diartikan. Tipe senyum basa-basi khas sosialita yang biasanya menyembunyikan rasa ingin tahu yang teramat besar. Begitu pintu kaca tertutup rapat, wanita paruh baya itu langsung mendudukkan diri di sofa beludru tanpa menunggu dipersilaka
Aroma lilin aromaterapi lavender yang biasanya menenangkan di dalam ruangan kerja Aluna, siang ini sama sekali tidak mempan mengusir kekalutan di kepalanya. Di atas meja kerja kayu mahoni setebal lima sentimeter itu, sketsa gaun pengantin terbaru pesanan klien setianya terhampar begitu saja, belum t







