Masuk"Ah ... yah!" Wanita itu bergerak liar di atas tubuh pasangannya.
"Lebih cepat, sayang!" Perintahnya sambil menikmati pemandangan di atasnya. Baru saja saat sang pria meminta untuk bertukar posisi. Ponselnya bergetar hebat. Sempat ingin mengacuhkan panggilan itu, akan tetapi terlintas dalam pikirannya jika itu adalah panggilan penting dari klien atau sejenis lainnya. Namun, mendadak ia berubah menjadi muak saat membaca nama yang tertera di layar ponselnya. Ingin menolaknya, tapi ia teringat pada sesuatu hal yang lebih penting. Berubah pikiran? Tentu saja jawabannya iya. Bara memberi isyarat pada wanita yang berada di atasnya untuk memperlambat tempo gerakan. Apakah Bara takut pada Aluna, sang istri? Bukan. Bara tidak takut pada sang istri. Hanya saja Bara tidak rela jika Aluna mendengar desahannya yang begitu sangat berharga. Bara memang sok jual mahal pada Aluna, istrinya sendiri. Mengingat satu hal yang pernah dilakukan oleh Aluna dan itu membuat Bara benci dan jijik, tapi bukan berarti Aluna punya tabiat atau kebiasaan buruk. Bara sendiri tidak menyadarinya. Bara tidak sadar jika kebiasaan yang sering ia lakukan telah membuat Aluna mati rasa. "Apa?" jawab Bara dengan ketus setelah menjawab panggilan telepon itu. "Aku sudah memutuskannya," balas Aluna, "akan ku tanda tangani surat itu." "Bagus. Keputusan yang sangat tepat." Bara tersenyum puas mendengarkannya. "Tapi dengan satu syarat," tambah Aluna. "Yang benar saja!" Tertawa pelan mendengar pernyataan dari sang istri. "Oke. Beritahuku apa syaratnya!" "Akan kuberi tahu jika kau pulang ke rumah," balas Aluna. Bara diam sesaat. Ia menatap wanita yang masih duduk di atas tubuhnya sambil menggerakkan jari telunjuknya menyusuri dada bidang Bara dan bermain-main di area chocochip-nya. Dalam benak Bara tentunya ia tidak ingin melewatkan permainan panas pada saat itu. Ia masih betah bermain dengan salah satu wanita koleksinya. "Oke. Aku pulang besok pa-" "Sekarang," potong Aluna dengan nada tenang, namun sedikit memaksa. Bara mulai kesal mendengarnya. Pria itu benci diperintah apalagi jika yang memerintahnya seorang wanita, terkecuali ibunya. Namun, malam itu Bara memang dibuat kesal dan muak oleh Aluna Kirana. Pasalnya ia sedang bercinta dan nanggung sekali jika tidak dituntaskan pada saat itu juga. Haruskah ia sudahi karena wanita yang satu itu? Ah, kepalang tanggung juga. Dasar pengganggu! Tidak bisa. Aku tidak bisa menyudahinya. Sudah di tengah-tengah. Enak sekali ia menyuruhku untuk pulang. Jika aku menurutinya, ia akan besar kepala dan menginjak-injak harga diriku. "Aluna, aku sibuk. Aku akan pulang besok pagi." "Pulang sekarang atau akan kubuat ini menjadi semakin sulit," ucap Aluna sebelum memutus sambungan telepon. Mendengar kata-kata penekanan itu, Bara semakin kesal. Yang Bara tahu, selama itu Aluna selalu diam dan nurut padanya. Ia sama sekali tidak pernah berulah. Dan sekarang wanita itu seperti sedang memegang kendali atas dirinya. Tiba-tiba Aluna berlagak punya kuasa untuk mengatur dan memerintah. Mood Bara langsung terjun bebas. Ia bangkit dan mengejutkan wanita yang ada di atasnya. "Maaf, sayang. Aku harus pergi." Memberi pengertian pada wanita itu. Padahal di dalam hati kecilnya Bara tidak rela untuk meninggalkannya. "Mau ke mana, sayang?" tanya wanita itu yang merasa seperti sampah. Mendadak dibuang begitu saja. "Setelah urusan selesai. Aku akan segera kembali ke sini." Mengusap pipi wanita itu dengan lembut dan itu cukup untuk meluluhkan hati si wanita. Ah, dasar Bara. Playboy stadium akhir. Ada saja cara untuk mengambil hati para wanita incarannya. "Oke. Aku akan menunggumu," balasnya dengan senyum merona tatkala Bara mengecup bibirnya dan membelai buah cerry si wanita. Bara membenahi pakaiannya dan tersenyum saat melihat ia terus menatapnya. Bara mengangguk sebelum akhirnya ia keluar dari sana. Begitu romantisnya Bara pada wanita lain, tapi ia tidak pernah melakukan itu pada Aluna, sang istri. Dan sekarang yang ada dalam pikirannya adalah segera menyelesaikan urusan itu agar ia bebas menemui wanita-wanitanya. Dalam perjalanan pulang, bayang-bayang Aluna yang berjalan berdua dengan pria itu terlihat sangat mesra dan romantis. Pria yang tidak setampan seperti Bara. Dengan tubuh kurus dan tidak se-atletis seperti milik Bara. "Argh! Dasar murahan!" Bara tidak menyadari ketika mengeluarkan kata-kata itu. Apa bedanya dengan dirimu, Bar? Apa kau tidak menyadarinya, Bar? Ah, dasar manusia paling bodoh sedunia. Selama mobil itu melaju menuju rumah pribadinya dan selama itu juga Bara tidak berhenti untuk mengoceh dan mengumpat. Bara berdecak saat menunggu lampu lalu lintas yang sebenarnya ia bisa terobos begitu saja karena pada saat itu jalanan sepi karena sudah larut malam. Tapi karena Bara teladan, ia tetap mematuhi rambu-rambu lalu lintas dari warna merah berganti ke warna hijau. "Jika bukan karena masalah perceraian. Aku juga tidak sudi pulang ke rumah itu," cicitnya. Masih untung Bara tidak lupa jalan pukang ke rumahnya itu. Belum tentu ia seminggu sekali pulang ke rumahnya sendiri. Ya, Bara memang tidak pernah betah tinggal di rumah sejak menikah dengan Aluna. Akhirnya Bara sampai juga di rumahya. Bara tidak ingin berlama-lama di sana. Makanya ia tidak memarkirkan mobilnya di garasi. "Hais, benar-benar memuakkan. Maunya apa sih?" geram Bara sambil melipat tangannya di dada saat mendapatkan pintu terkunci. Beberapa detik berlalu dan pintu pun belum dibuka. Bara kembali melirik tombol bel dan hendak menekannya kembali saat pintu akhirnya terbuka dan muncullah Aluna dari balik pintu. "Dasar keong!" sembur Bara, masuk melewati Aluna begitu saja. Aluna hanya menarik napas. Ia sudah tidak lagi merasa sakit hati karena sudah terbiasa dengan perlakuan Bara yang terlihat sangat membencinya. "Kenapa harus dikunci segala pintunya," kata Bara dengan emosi. "Aku tidak menyangka kau akan pulang secepat ini," balas Aluna. "Biasanya kau selalu mengabaikan semua ucapanku. Ya, lewat begitu saja. Masuk dari telinga kanan dan keluar lewat telinga kiri," lanjut Aluna. "Apa katamu? Kau mempermainkanku?" Nada bicara Bara lebih pelan tapi terdengar geram. Mungkin Bara meradang karena merasa dipermainkan oleh sang istri. Kedua mata mereka berdua beradu dengan ciri khas masing-masing. Yang satu memiliki tatapan mata yang teduh dan tenang, sedangkan yang satunya menatap dengan amarah. Tatapan teduh itu sama sekali tidak menggoyahkan amarah Bara. "Langsung saja. Aku tidak suka bertele-tele. Mana suratnya?" "Ada di kamarmu," jawab Aluna. Bara melangkah dengan langkah lebar masuk ke dalam kamarnya, diikuti Aluna di belakang. Netral Bara langsung menangkap sesuatu di atas ranjang dan ia murka menatap Aluna. "Kenapa belum kau tanda tangani surat ini?" Ada rasa kecewa bercampur kesal. "Kau lupa apa yang aku katakan di telepon tadi?" "Apa susahnya tinggal katakan saja, apa syaratnya! Aku tidak suka basa-basi," bentak Bara. "Aku mau hakku dipenuhi sebelum kita cerai," kata Aluna lirih sambil tangannya meremas ujung tengtopnya. Remasan itu menyiratkan keraguan. Entah sang suami akan mengabulkan atau tidak. Bara memalingkan wajahnya dan menatap Aluna. "Hak? Hak apa? Tiap bulan aku selalu transfer uang ke rekeningmu dan jumlahnya juga tidak sedik—" "Bukan itu," sela Aluna lirih. Suaranya hampir tidak terdengar. Bara diam untuk sesaat. Untuk sepersekian detik otaknya berputar dan selanjutnya ia terkejut saat Bara berhasil menangkap maksud sang istri. "Tidak ...." Menatap Aluna dengan tatapan tidak percaya. "Jangan bilang padaku jika kau ingin aku tiduri," tebak Bara.Setelah kejadian malam itu, Bara dan Aluna benar-benar berpisah. Mereka tidak pernah bertemu lagi bahkan Bara tidak pernah menyambangi rumahnya lagi. Bara lebih betah tinggal di apartemennya dengan alasan jika ia pulang ke rumah, ia akan teringat dengan Aluna dan lagipula jarak kantor Bara dengan apartemennya juga tidak terlalu jauh. Pun Bara bisa menghemat bahan bakar juga.Seperti pagi itu Tama, asisten pribadi Bara sudah lebih dulu sampai di kantor. Pemuda itu meletakkan berkas yang harus ditanda tangani oleh Bara. Tama menarik napas panjang saat melirik benda yang melingkar dipergelangan tangannya."Jam segini Pak Bara belum juga sampai ke kantor," dengus Tama. Pemuda itu lupa jika Bara yang punya perusahaan itu."Kau barusan bilang apa, Tam?" Tiba-tiba Bara muncul.Mendadak Tama membalikkan badannya dan menggigit bibir bawahnya. Ia sadar seratus persen jika ia lupa menutup pintu saat ia masuk ke dalam ruangan Bara."Kau lupa sesuatu, Tam?" tanya Bara yang melangkah melewati Tama
"Apa? Mama?" Bara cengo seperti orang bodoh saat mendengar kalimat itu. "Mama ku, Lun?" tanya Bara dengan alis yang menukik tajam. "Hm ...." Sambil mengangguk."Serius?" Bara semakin heran dengan kata-kata itu."Memangnya mamanya siapa lagi? Tidak mungkin kan mama ku!" Aluna membalikkan badannya sebelum masuk ke dalam kamarnya.Lagi dan lagi Bara dibuat penasaran oleh Aluna. Satu teka-teki belum terjawab dan sekarang ditambah lagi dengan kenyataan bahwa ada campur tangan dari ibunya."Apa yang mama ku bilang padamu, Lun?" Namun, Aluna tidak menjawab pertanyaan dari Bara saat ia kembali dari kamarnya sendiri. Aluna melangkah dan menghampiri Bara."Ini suratnya." Menyodorkan surat cerai mereka. "Hadiah spesial dariku," lanjutnya tersenyum manis saat keduanya saling pandang.Bara tertawa pelan ketika melihat Aluna masuk lagi ke dalam kamarnya, lalu mimik wajah Bara berubah seketika saat melihat Aluna keluar menarik sebuah koper yang berukuran lumayan besar."Kau mau pergi ke mana?" tan
"Aku sudah melakukannya. Berhasil atau tidak itu urusan belakangan. Yang pasti aku sudah melakukan yang terbaik."Aluna berdiri di depan cermin kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Ia menatap pantulan bayangan dirinya sendiri. Setelahnya ia keluar dan meraih sesuatu di atas nakas. Tangannya menari di atasnya dengan lembut. Meletakkan kembali ke tempat semula dan menatapnya. Menarik napas berat, lalu menoleh ke belakang. Di sana banyak tumpukan baju miliknya."Aku harus segera membereskannya," bisik Aluna pelan. Berdiri berlahan menghampiri tumpukan pakaiannya yang tertata rapi di atas ranjang.Beberapa menit kemudian, setelah semua beres, Aluna melangkah keluar dan masuk ke salah satu ruangan."Kau bisa telat ke kantor jika kau tidak bangun sekarang juga." Wanita itu menutup pintu dan melangkah mendekati lemari.Bara belum juga beranjak dari ranjang. Matanya menyipit dan mengikuti langkah Aluna. Lalu Bara bangun, sedikit meregangkan tangannya.Aluna melangkah dan mendekati ranjan
Bara keluar dari kamar dan menyusul Aluna. Tangan Bara mencekal Aluna. "Sebenarnya apa mau mu?" Aluna menatap mata Bara. "Kau tahu apa yang aku mau ..." Bara mencebik tidak percaya. Pria itu tidak habis pikir dengan isi kepala sang istri. "Buat apa kau meminta itu padaku?" Hening sesaat. Suhu ruangan mendadak sedikit panas. Keduanya masih bertatap muka satu dengan lainnya. "Aku hanya minta hak ku. Hanya satu kali," ucap Aluna. "Apakah terlihat susah syarat itu untukmu, Bar? Kau bisa meniduri wanita lain di luar sana. Meniduri istrimu sendiri, apakah begitu sulit?" Terdengar geli dan lucu ketika Aluna menyebut dirinya sebagai istri. Hal itu membuat Bara tertawa pelan. Bara menatap Aluna. "Masalahnya kau selingkuh dariku, Aluna. Aku jijik jika harus meniduri wanita bekas pria seperti selingkuhanmu itu." Bara tersenyum sinis. "Jijik katamu?" Aluna tidak percaya dengan ucapan pria yang berdiri di depannya. "Bahkan mungkin kau tidak lebih hebat dari dia dan aku yakin akan hal itu,
Aluna diam dan meremas kain yang ia kenakan. Sang suami menyadari. Ia duduk di tepi ranjang, senyumannya berubah menjadi tawa ringan seperti sedang meledek."Serius? Kau ingin aku tiduri?" Bara terasa geli waktu mengucapkan kalimat itu.Bara menatap Aluna dari ujung rambut ke ujung kaki. Sedangkan Aluna masih diam di tempat dan tidak mau menanggapi ataupun menatap suaminya."Kenapa? Apa diam-diam kau mulai menyukaiku?" Bara mencerca Aluna dengan beberapa pertanyaan."Tidak!" jawab Aluna singkat dan tenang."Lalu apa?" Bara tersenyum dan senyuman itu terlihat seperti mengejek."Aku punya alasan sendiri. Cukup jawab kau menyetujui syarat itu atau tidak?" Senyum yang menghias bibir Bara mendadak hilang dan berubah menjadi kekesalan karena permintaan sang istri sangat aneh. Menurut Bara syarat yang tidak patut untuk menyetujui sebuah perceraian.Dari tangan terlipat di dada kini berpindah tempat. Bara berkacak pinggang menatap Aluna."Apa susahnya tinggal kau tanda tangani. Kenapa harus
"Ah ... yah!" Wanita itu bergerak liar di atas tubuh pasangannya. "Lebih cepat, sayang!" Perintahnya sambil menikmati pemandangan di atasnya. Baru saja saat sang pria meminta untuk bertukar posisi. Ponselnya bergetar hebat. Sempat ingin mengacuhkan panggilan itu, akan tetapi terlintas dalam pikirannya jika itu adalah panggilan penting dari klien atau sejenis lainnya. Namun, mendadak ia berubah menjadi muak saat membaca nama yang tertera di layar ponselnya. Ingin menolaknya, tapi ia teringat pada sesuatu hal yang lebih penting. Berubah pikiran? Tentu saja jawabannya iya. Bara memberi isyarat pada wanita yang berada di atasnya untuk memperlambat tempo gerakan. Apakah Bara takut pada Aluna, sang istri? Bukan. Bara tidak takut pada sang istri. Hanya saja Bara tidak rela jika Aluna mendengar desahannya yang begitu sangat berharga. Bara memang sok jual mahal pada Aluna, istrinya sendiri. Mengingat satu hal yang pernah dilakukan oleh Aluna dan itu membuat Bara benci dan jijik, ta







