共有

Satu Syarat di Atas Ranjang
Satu Syarat di Atas Ranjang
作者: Cheezyweeze

RIB1. Surat Cerai

作者: Cheezyweeze
last update 公開日: 2026-04-16 12:33:49

Aluna menarik napas pelan untuk menenangkan hatinya. Walaupun sebenarnya ia sudah kebal. Namun, tangannya saling meremas.

Aluna tidak jauh berdiri dari dua orang itu, hanya dibatasi sebuah pilar besar. Sungguh kalimat yang membuat perut Aluna seperti diaduk-aduk. Bahkan suaminya itu tidak pernah memanggilnya dengan panggilan mesra. Jangankan memanggil sayang, menyentuhnya pun tidak.

"Sayang, aku mau ini," tunjuk wanita itu.

"Yang ini? Bagaimana jika yang ini? Barang yang kau pilih itu terlihat jelek dan murah," balas sang pria.

"Memangnya boleh? Aku boleh memilih yang lebih mahal harganya?"

"Tentu saja boleh, baby. Apapun akan ku lakukan untukmu." Menyentil ujung hidungnya.

Ya. Aluna memergoki sang suami, Bara Mahendra sedang jalan dengan seorang wanita dan kali ini wanita yang berbeda. Posisi mereka berada di sebuah toko emas. Bara terlihat sedang memilihkan sebuah kalung.

"Kenapa aku harus bertemu dengan mereka di sini?" Mood belanja Aluna mendadak hilang.

Aluna segera meletakkan kalung yang tadinya ia pegang dan hendak ia beli. Namun, Aluna mengurungkan niatnya dan ia ingin cepat-cepat keluar dari sana. Bukan karena Aluna takut bertemu dengan Bara, tapi Aluna sangat malas melihat wajah sang suami.

***

"F*CK!"

Bara mengeratkan jari jemarinya pada setir mobil yang sedang ia pegang. Emosinya sudah tidak bisa dibendung lagi.

"Bukan sekali atau dua kali ia melakukan hal seperti itu," cicitnya. "SH*T!" umpat Bara memukul kasar setir mobilnya.

Antara marah, benci, dan jijik yang Bara rasakan pada wanita itu. Itulah sebabnya Bara selalu tidak betah jika berada di rumah. Padahal itu adalah rumahnya sendiri.

"Jika bukan karena Mama yang meminta. Aku juga tidak sudi menikahi wanita itu," runtuk Bara.

Bagaimana tidak? Bara pria tampan dan berwibawa, memiliki karir yang bagus, dan tentu jangan tanyakan lagi jumlah kekayaannya.

Ia bisa mencari wanita lebih baik dari pilihan sang ibu. Walaupun sebenarnya Aluna itu sudah definisi seorang wanita baik dan santun. Wanita idaman para pria jika kedua matanya masih normal.

Saat hendak turun dari mobilnya, atensi Bara tertuju pada ponselnya yang bergetar. Emosi Bara mendadak mereda saat melihat nama yang muncul di layar ponselmya.

Akhirnya Bara mengurungkan niatnya untuk masuk ke hotel menyusul mereka berdua. Bara lebih tertarik untuk menjawab panggilan telepon itu.

"Ya. Halo ...." Bara menempelkan benda pipih itu ke telinganya sambil tersenyum dan menganggukkan kepala. "Oke, aku akan ke sana sekarang."

Mobil berhenti di sebuah Bar. Tanpa basa-basi, Bara langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam Bar.

"Woi ... Bara!" panggilnya sambil menepuk sofa yang masih ada sisa ruang.

Bara melangkah mendekat dan duduk di sebelahnya. Sangat terlihat dari wajah Bara jika pria itu sedang tidak mood bertemu dengan mereka, tapi apa boleh buat, dengan sangat terpaksa Bara duduk di sana. Untuk sepersekian detik Bara langsung menyambar seloki yang ada di tangan sahabatnya itu.

Diteguknya sampai habis. Tidak ada yang protes atau berkomentar selama mereka sudah paham karakter si Bara Mahendra.

"Kenapa, Bar?" Mengambil seloki yang ada di atas meja. "Berantem lagi dengan istrimu?"

Bara tidak menjawab, karena ia sedang fokus pada seseorang. Kedua manik mata hitam itu terlihat sedang menelanjangi seseorang.

"Tidak perlu bertanya tentang wanita sialan itu!" sungut Bara.

"Wow ... wow ... Apakah kau sedang cemburu, Bar?" ledek lainnya.

"Apa? Cemburu? Dalam kamus seorang Bara Mahendra tidak ada kata cemburu. Yang ada hanya rasa jijik!"

"Wait! Jijik? Kau tidak salah bicara, Bar?" Menatap Bara, bergidik ngeri. "Ngaca dulu deh, Bar." Tertawa mengejek sambil meletakkan seloki. "Jangan samakan Aluna dengan dirimu, Bar. Aku hapal betul kau ini manusia seperti ap—"

BRAKK!!

Gebrakan tangan Bara memotong kalimat itu. Semua yang ada di sana terkejut dan menatap Bara. Bara melirik sinis. Bara paham apa yang dimaksud oleh sahabatnya itu, meskipun itu hanya bercanda. Alih-alih ingin mencairkan suasana hati Bara yang terasa nano-nano campur aduk seperti es teller, tapi justru mood Bara semakin dibuat anjlok.

"Aku datang ke sini untuk mencari hiburan, bukan untuk mendengarkan ocehan kalian yang terlihat sangat membela Aluna dan memojokkanku. Teman macam apa kalian ini," dengus Bara.

"Hiburan atau kehangatan, baby?" Seorang wanita memberanikan diri mendekati Bara dan dengan cekatan duduk di sisi Bara. Reflek tangannya langsung menyentuh dada Bara. Ia berusaha menenangkan Bara. Tangannya bermain dengan lincah dari atas ke bawah.

Saat tangan itu hampir menyentuh torpedo Bara yang masih dibalut oleh kain tebal. Tangan Bara menahannya.

"Mau tidur denganku?" Menarik tangan wanita itu, menggeser, dan meletakkan tepat di sasaran, lalu meremasnya.

Kalimat itu terdengar bukan seperti ajakan, melainkan seperti perintah yang tidak bisa ditolak.

"Tentu saja. Aku ingin tidur denganmu dan ...." Mata itu tertuju pada benda yang sedang dipegangnya.

Bara melirik wanita yang ada di sampingnya. Tatapan wanita itu masih fokus pada tangan Bara yang sedang menuntun tangannya menekan dan meremas pelan.

"Kau mau ini, baby?" bisik Bara di telinganya. Wanita itu mengangguk. "Kalau begitu puaskan aku!"

Tanpa pikir panjang Bara berdiri dan menarik wanita itu saat sang wanita memberi respons positif bahwa ia menginginkan lebih dari itu.

"Ia memang tidak pernah bisa berubah. Kasian Aluna. Kenapa wanita sebaik Aluna harus bertemu dan menikah dengan pria maniak seperti Bara?"

"Sudahlah. Kita tidak perlu ikut campur urusan mereka."

***

"Satu langkah lagi selesai."

Pria itu mendapatkan Aluna sedang menikmati teh hangat di sebuah ruangan yang menghadap ke taman belakang.

"Kau sudah pulang, Bar?" Aluna bangkit dari duduknya saat melihat sang suami. "Aku buatkan teh hangat, ya."

"Tidak perlu!" ucap Bara ketus. "Aku juga tidak akan berlama-lama di sini."

"Bukankah ini rumahmu, Bar," celetuk Aluna.

"Memang ini rumahku, tapi aku sendiri tidak betah berada di rumah ini terlalu lama," tandas Bara.

"Jadi?" sambung Aluna dengan tenang.

Bara menarik napas kasar menahan emosi yang mulai menggerogotinya. Ia tidak ingin terpancing emosi dengan sikap tenang Aluna.

BRAAKK!!

Aluna terkejut ketika tiba-tiba sebuah map dilempar tepat di meja di hadapannya dengan kasar.

"Apa ini?" tanya Aluna.

"Surat cerai!" tegas Bara.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB7. Butuh Wanita Penghibur

    Setelah kejadian malam itu, Bara dan Aluna benar-benar berpisah. Mereka tidak pernah bertemu lagi bahkan Bara tidak pernah menyambangi rumahnya lagi. Bara lebih betah tinggal di apartemennya dengan alasan jika ia pulang ke rumah, ia akan teringat dengan Aluna dan lagipula jarak kantor Bara dengan apartemennya juga tidak terlalu jauh. Pun Bara bisa menghemat bahan bakar juga.Seperti pagi itu Tama, asisten pribadi Bara sudah lebih dulu sampai di kantor. Pemuda itu meletakkan berkas yang harus ditanda tangani oleh Bara. Tama menarik napas panjang saat melirik benda yang melingkar dipergelangan tangannya."Jam segini Pak Bara belum juga sampai ke kantor," dengus Tama. Pemuda itu lupa jika Bara yang punya perusahaan itu."Kau barusan bilang apa, Tam?" Tiba-tiba Bara muncul.Mendadak Tama membalikkan badannya dan menggigit bibir bawahnya. Ia sadar seratus persen jika ia lupa menutup pintu saat ia masuk ke dalam ruangan Bara."Kau lupa sesuatu, Tam?" tanya Bara yang melangkah melewati Tama

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB6. Owner House of ELUNA

    "Apa? Mama?" Bara cengo seperti orang bodoh saat mendengar kalimat itu. "Mama ku, Lun?" tanya Bara dengan alis yang menukik tajam. "Hm ...." Sambil mengangguk."Serius?" Bara semakin heran dengan kata-kata itu."Memangnya mamanya siapa lagi? Tidak mungkin kan mama ku!" Aluna membalikkan badannya sebelum masuk ke dalam kamarnya.Lagi dan lagi Bara dibuat penasaran oleh Aluna. Satu teka-teki belum terjawab dan sekarang ditambah lagi dengan kenyataan bahwa ada campur tangan dari ibunya."Apa yang mama ku bilang padamu, Lun?" Namun, Aluna tidak menjawab pertanyaan dari Bara saat ia kembali dari kamarnya sendiri. Aluna melangkah dan menghampiri Bara."Ini suratnya." Menyodorkan surat cerai mereka. "Hadiah spesial dariku," lanjutnya tersenyum manis saat keduanya saling pandang.Bara tertawa pelan ketika melihat Aluna masuk lagi ke dalam kamarnya, lalu mimik wajah Bara berubah seketika saat melihat Aluna keluar menarik sebuah koper yang berukuran lumayan besar."Kau mau pergi ke mana?" tan

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB5. Itu Karena Mama

    "Aku sudah melakukannya. Berhasil atau tidak itu urusan belakangan. Yang pasti aku sudah melakukan yang terbaik."Aluna berdiri di depan cermin kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Ia menatap pantulan bayangan dirinya sendiri. Setelahnya ia keluar dan meraih sesuatu di atas nakas. Tangannya menari di atasnya dengan lembut. Meletakkan kembali ke tempat semula dan menatapnya. Menarik napas berat, lalu menoleh ke belakang. Di sana banyak tumpukan baju miliknya."Aku harus segera membereskannya," bisik Aluna pelan. Berdiri berlahan menghampiri tumpukan pakaiannya yang tertata rapi di atas ranjang.Beberapa menit kemudian, setelah semua beres, Aluna melangkah keluar dan masuk ke salah satu ruangan."Kau bisa telat ke kantor jika kau tidak bangun sekarang juga." Wanita itu menutup pintu dan melangkah mendekati lemari.Bara belum juga beranjak dari ranjang. Matanya menyipit dan mengikuti langkah Aluna. Lalu Bara bangun, sedikit meregangkan tangannya.Aluna melangkah dan mendekati ranjan

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB4. Kesetiaan Bodoh Aluna 🔥

    Bara keluar dari kamar dan menyusul Aluna. Tangan Bara mencekal Aluna. "Sebenarnya apa mau mu?" Aluna menatap mata Bara. "Kau tahu apa yang aku mau ..." Bara mencebik tidak percaya. Pria itu tidak habis pikir dengan isi kepala sang istri. "Buat apa kau meminta itu padaku?" Hening sesaat. Suhu ruangan mendadak sedikit panas. Keduanya masih bertatap muka satu dengan lainnya. "Aku hanya minta hak ku. Hanya satu kali," ucap Aluna. "Apakah terlihat susah syarat itu untukmu, Bar? Kau bisa meniduri wanita lain di luar sana. Meniduri istrimu sendiri, apakah begitu sulit?" Terdengar geli dan lucu ketika Aluna menyebut dirinya sebagai istri. Hal itu membuat Bara tertawa pelan. Bara menatap Aluna. "Masalahnya kau selingkuh dariku, Aluna. Aku jijik jika harus meniduri wanita bekas pria seperti selingkuhanmu itu." Bara tersenyum sinis. "Jijik katamu?" Aluna tidak percaya dengan ucapan pria yang berdiri di depannya. "Bahkan mungkin kau tidak lebih hebat dari dia dan aku yakin akan hal itu,

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB3. Tidak Perawan

    Aluna diam dan meremas kain yang ia kenakan. Sang suami menyadari. Ia duduk di tepi ranjang, senyumannya berubah menjadi tawa ringan seperti sedang meledek."Serius? Kau ingin aku tiduri?" Bara terasa geli waktu mengucapkan kalimat itu.Bara menatap Aluna dari ujung rambut ke ujung kaki. Sedangkan Aluna masih diam di tempat dan tidak mau menanggapi ataupun menatap suaminya."Kenapa? Apa diam-diam kau mulai menyukaiku?" Bara mencerca Aluna dengan beberapa pertanyaan."Tidak!" jawab Aluna singkat dan tenang."Lalu apa?" Bara tersenyum dan senyuman itu terlihat seperti mengejek."Aku punya alasan sendiri. Cukup jawab kau menyetujui syarat itu atau tidak?" Senyum yang menghias bibir Bara mendadak hilang dan berubah menjadi kekesalan karena permintaan sang istri sangat aneh. Menurut Bara syarat yang tidak patut untuk menyetujui sebuah perceraian.Dari tangan terlipat di dada kini berpindah tempat. Bara berkacak pinggang menatap Aluna."Apa susahnya tinggal kau tanda tangani. Kenapa harus

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB2. Ingin Ditiduri 🔥

    "Ah ... yah!" Wanita itu bergerak liar di atas tubuh pasangannya. "Lebih cepat, sayang!" Perintahnya sambil menikmati pemandangan di atasnya. Baru saja saat sang pria meminta untuk bertukar posisi. Ponselnya bergetar hebat. Sempat ingin mengacuhkan panggilan itu, akan tetapi terlintas dalam pikirannya jika itu adalah panggilan penting dari klien atau sejenis lainnya. Namun, mendadak ia berubah menjadi muak saat membaca nama yang tertera di layar ponselnya. Ingin menolaknya, tapi ia teringat pada sesuatu hal yang lebih penting. Berubah pikiran? Tentu saja jawabannya iya. Bara memberi isyarat pada wanita yang berada di atasnya untuk memperlambat tempo gerakan. Apakah Bara takut pada Aluna, sang istri? Bukan. Bara tidak takut pada sang istri. Hanya saja Bara tidak rela jika Aluna mendengar desahannya yang begitu sangat berharga. Bara memang sok jual mahal pada Aluna, istrinya sendiri. Mengingat satu hal yang pernah dilakukan oleh Aluna dan itu membuat Bara benci dan jijik, ta

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status