登入Setelah kejadian malam itu, Bara dan Aluna benar-benar berpisah. Mereka tidak pernah bertemu lagi bahkan Bara tidak pernah menyambangi rumahnya lagi. Bara lebih betah tinggal di apartemennya dengan alasan jika ia pulang ke rumah, ia akan teringat dengan Aluna dan lagipula jarak kantor Bara dengan apartemennya juga tidak terlalu jauh. Pun Bara bisa menghemat bahan bakar juga.
Seperti pagi itu Tama, asisten pribadi Bara sudah lebih dulu sampai di kantor. Pemuda itu meletakkan berkas yang harus ditanda tangani oleh Bara. Tama menarik napas panjang saat melirik benda yang melingkar dipergelangan tangannya. "Jam segini Pak Bara belum juga sampai ke kantor," dengus Tama. Pemuda itu lupa jika Bara yang punya perusahaan itu. "Kau barusan bilang apa, Tam?" Tiba-tiba Bara muncul. Mendadak Tama membalikkan badannya dan menggigit bibir bawahnya. Ia sadar seratus persen jika ia lupa menutup pintu saat ia masuk ke dalam ruangan Bara. "Kau lupa sesuatu, Tam?" tanya Bara yang melangkah melewati Tama dan menaruh tas kerjanya di meja. Bara menatap Tama yang masih tegang dengan bibir yang dilipat ke dalam. Bara duduk di sofa. "Kantor ini milikku, jadi aku mau datang kapan saja ... jam berapa pun itu terserah aku," lanjut Bara. "Iya, Pak. Maaf ... sa-" "Hari ini jadwalku apa saja?" potong Bara sambil meraih berkas yang ada di depannya dan memeriksanya sebelum ditanda tangani. Dengan cekatan Tama membuka tab yang ia bawa dan membacakan jadwal pada sang bos. Setelah membacakan jadwal, Tama berniat hendak segera keluar dari ruangan Bara, akan tetapi langkah kakinya terhenti. "Tam, menurutmu ... aku harus bicara jujur pada ibuku atau tidak?" Tama kembali membalikkan badannya. Tama paham apa yang dimaksud oleh Bara. Itu adalah tentang perceraiannya dengan Bu Aluna. Tama terdiam sesaat, lalu menatap Bara. "Maaf, Pak. Menurutku lebih baik Pak Bara jangan dulu membicarakan ini pada Bu Anggun. Mengingat beliau begitu sangat menginginkan cucu." Bara menatap Tama setelah selesai menanda tangani berkas. Bara merapikan berkas-bekas itu dan memberikan berkas itu pada Tama. "Kau boleh keluar." Tama cengo mendengar kalimat itu, tapi ia tidak mau pusing. Protes pun nanti takut disemprot Bara. Alih-alih Bara juga suka mengancam akan memecat Tama. Walaupun begitu, Tama paham jika Bara hanya bercanda dan menakut-nakutinya. Setelah Tama menghilang di balik pintu kayu mahoni itu, kesunyian segera menyergap ruangan luas tersebut. Bara menyandarkan punggungnya pada sofa, menatap langit-langit plafon yang dihiasi lampu kristal minimalis. Saran Tama barusan memang masuk akal, namun di sisi lain, beban rahasia ini mulai terasa mencekik lehernya. Setiap kali sang ibu, Bu Anggun, menelepon untuk sekadar menanyakan kabar atau mengirimkan vitamin untuk Aluna, Bara selalu merasa seperti penjahat yang tengah menyusun skenario kebohongan demi kebohongan. Ia memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Pikirannya kembali melayang pada malam badai itu. Malam di mana Aluna memutuskan untuk melangkah keluar dari hidupnya tanpa menoleh sedikit pun. Pikiran Bara melayang pada Rumah yang ia tempati stelah menikah dengan Aluna. Rumah itu memang mewah, namun terasa hampa dan terlalu steril. Tidak ada lagi aroma masakan rumahan yang menyambutnya, tidak ada lagi suara lembut yang bertanya apakah harinya melelahkan. Yang tersisa hanyalah keheningan yang memekakkan telinga. Bara beranjak menuju jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota. Alasan jarak kantor dan hemat bahan bakar sebenarnya hanyalah tameng ego. Sejujurnya, ia hanyalah seorang pengecut yang takut menghadapi kenyataan di rumah lama mereka. Di sana, setiap sudut ruangan memiliki suara. Kursi di sudut ruang tamu seolah masih menampilkan sosok Aluna yang sedang membaca buku, dan meja makan panjang itu seakan masih menyimpan gema tawa sang istri. Di apartemen ini, ia bisa berpura-pura bahwa Aluna hanyalah bagian dari mimpi buruk yang sudah ia lupakan. Telepon di atas meja kerjanya bergetar, memecah lamunan Bara. Sebuah pesan singkat masuk dari ibunya. "Bara, akhir pekan ini bawa Aluna ke rumah ya? Mama sudah buatkan rendang kesukaannya. Mama juga mau bicara soal program kehamilan yang Mama janjikan kemarin." Bara memejamkan mata rapat-rapat. Jemarinya bergetar saat hendak membalas pesan tersebut. Inilah yang ia takutkan. Ibunya tidak hanya mengharapkan kehadiran Aluna, tapi juga mengharapkan benih kehidupan yang secara teknis sudah mustahil terwujud di antara mereka. Bagaimana mungkin ia tega menghancurkan binar bahagia di wajah ibunya dengan kabar perceraian ini? Terlebih, Bu Anggun memiliki riwayat penyakit jantung yang membuatnya harus menghindari stres berlebih. "Sial," umpatnya lirih. Ia menyambar kunci mobil di atas meja, melupakan tumpukan pekerjaan yang baru saja ia terima dari Tama. Rasa sesak di dadanya butuh dialihkan. Bara berjalan keluar ruangan dengan langkah lebar, membuat para karyawan yang berpapasan dengannya tertunduk segan. Ia butuh udara segar, atau mungkin ia hanya butuh pelarian sementara dari kenyataan bahwa hidupnya yang tampak sempurna dari luar sebenarnya sudah runtuh berkeping-keping. Tama yang melihatnya juga tidak mungkin bisa mencegahnya. "Pak Bara, mau pergi ke mana dengan langkah kaki yang terlihat sangat terburu-buru," bisik Tama yang baru saja keluar dari pantri dengan sebuah gelas kopi di tangannya. Tama terus melihat Bara hingga hilang ditelan pintu lift. Langkah kaki Bara membawanya ke parkiran bawah tanah. Di dalam mobil, ia terdiam cukup lama sebelum menghidupkan mesin. Ia teringat kata-kata terakhir Aluna sebelum pergi. "Kebohongan yang kau simpan demi kebaikan, pada akhirnya akan menjadi luka yang paling dalam bagi orang yang kau cintai." Kini Bara berada di persimpangan. Terus bersandiwara dan membiarkan ibunya terbuai dalam harapan palsu, atau berterus terang dan menanggung risiko kehilangan segalanya. Namun satu hal yang pasti, pelarian ke apartemen ini tidak akan pernah bisa menghapus bayang-bayang Aluna yang kini telah benar-benar menjauh dari jangkauannya. "Aku butuh hiburan. Yeah ... yang jelas aku butuh wanita penghibur!"Setelah kejadian malam itu, Bara dan Aluna benar-benar berpisah. Mereka tidak pernah bertemu lagi bahkan Bara tidak pernah menyambangi rumahnya lagi. Bara lebih betah tinggal di apartemennya dengan alasan jika ia pulang ke rumah, ia akan teringat dengan Aluna dan lagipula jarak kantor Bara dengan apartemennya juga tidak terlalu jauh. Pun Bara bisa menghemat bahan bakar juga.Seperti pagi itu Tama, asisten pribadi Bara sudah lebih dulu sampai di kantor. Pemuda itu meletakkan berkas yang harus ditanda tangani oleh Bara. Tama menarik napas panjang saat melirik benda yang melingkar dipergelangan tangannya."Jam segini Pak Bara belum juga sampai ke kantor," dengus Tama. Pemuda itu lupa jika Bara yang punya perusahaan itu."Kau barusan bilang apa, Tam?" Tiba-tiba Bara muncul.Mendadak Tama membalikkan badannya dan menggigit bibir bawahnya. Ia sadar seratus persen jika ia lupa menutup pintu saat ia masuk ke dalam ruangan Bara."Kau lupa sesuatu, Tam?" tanya Bara yang melangkah melewati Tama
"Apa? Mama?" Bara cengo seperti orang bodoh saat mendengar kalimat itu. "Mama ku, Lun?" tanya Bara dengan alis yang menukik tajam. "Hm ...." Sambil mengangguk."Serius?" Bara semakin heran dengan kata-kata itu."Memangnya mamanya siapa lagi? Tidak mungkin kan mama ku!" Aluna membalikkan badannya sebelum masuk ke dalam kamarnya.Lagi dan lagi Bara dibuat penasaran oleh Aluna. Satu teka-teki belum terjawab dan sekarang ditambah lagi dengan kenyataan bahwa ada campur tangan dari ibunya."Apa yang mama ku bilang padamu, Lun?" Namun, Aluna tidak menjawab pertanyaan dari Bara saat ia kembali dari kamarnya sendiri. Aluna melangkah dan menghampiri Bara."Ini suratnya." Menyodorkan surat cerai mereka. "Hadiah spesial dariku," lanjutnya tersenyum manis saat keduanya saling pandang.Bara tertawa pelan ketika melihat Aluna masuk lagi ke dalam kamarnya, lalu mimik wajah Bara berubah seketika saat melihat Aluna keluar menarik sebuah koper yang berukuran lumayan besar."Kau mau pergi ke mana?" tan
"Aku sudah melakukannya. Berhasil atau tidak itu urusan belakangan. Yang pasti aku sudah melakukan yang terbaik."Aluna berdiri di depan cermin kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Ia menatap pantulan bayangan dirinya sendiri. Setelahnya ia keluar dan meraih sesuatu di atas nakas. Tangannya menari di atasnya dengan lembut. Meletakkan kembali ke tempat semula dan menatapnya. Menarik napas berat, lalu menoleh ke belakang. Di sana banyak tumpukan baju miliknya."Aku harus segera membereskannya," bisik Aluna pelan. Berdiri berlahan menghampiri tumpukan pakaiannya yang tertata rapi di atas ranjang.Beberapa menit kemudian, setelah semua beres, Aluna melangkah keluar dan masuk ke salah satu ruangan."Kau bisa telat ke kantor jika kau tidak bangun sekarang juga." Wanita itu menutup pintu dan melangkah mendekati lemari.Bara belum juga beranjak dari ranjang. Matanya menyipit dan mengikuti langkah Aluna. Lalu Bara bangun, sedikit meregangkan tangannya.Aluna melangkah dan mendekati ranjan
Bara keluar dari kamar dan menyusul Aluna. Tangan Bara mencekal Aluna. "Sebenarnya apa mau mu?" Aluna menatap mata Bara. "Kau tahu apa yang aku mau ..." Bara mencebik tidak percaya. Pria itu tidak habis pikir dengan isi kepala sang istri. "Buat apa kau meminta itu padaku?" Hening sesaat. Suhu ruangan mendadak sedikit panas. Keduanya masih bertatap muka satu dengan lainnya. "Aku hanya minta hak ku. Hanya satu kali," ucap Aluna. "Apakah terlihat susah syarat itu untukmu, Bar? Kau bisa meniduri wanita lain di luar sana. Meniduri istrimu sendiri, apakah begitu sulit?" Terdengar geli dan lucu ketika Aluna menyebut dirinya sebagai istri. Hal itu membuat Bara tertawa pelan. Bara menatap Aluna. "Masalahnya kau selingkuh dariku, Aluna. Aku jijik jika harus meniduri wanita bekas pria seperti selingkuhanmu itu." Bara tersenyum sinis. "Jijik katamu?" Aluna tidak percaya dengan ucapan pria yang berdiri di depannya. "Bahkan mungkin kau tidak lebih hebat dari dia dan aku yakin akan hal itu,
Aluna diam dan meremas kain yang ia kenakan. Sang suami menyadari. Ia duduk di tepi ranjang, senyumannya berubah menjadi tawa ringan seperti sedang meledek."Serius? Kau ingin aku tiduri?" Bara terasa geli waktu mengucapkan kalimat itu.Bara menatap Aluna dari ujung rambut ke ujung kaki. Sedangkan Aluna masih diam di tempat dan tidak mau menanggapi ataupun menatap suaminya."Kenapa? Apa diam-diam kau mulai menyukaiku?" Bara mencerca Aluna dengan beberapa pertanyaan."Tidak!" jawab Aluna singkat dan tenang."Lalu apa?" Bara tersenyum dan senyuman itu terlihat seperti mengejek."Aku punya alasan sendiri. Cukup jawab kau menyetujui syarat itu atau tidak?" Senyum yang menghias bibir Bara mendadak hilang dan berubah menjadi kekesalan karena permintaan sang istri sangat aneh. Menurut Bara syarat yang tidak patut untuk menyetujui sebuah perceraian.Dari tangan terlipat di dada kini berpindah tempat. Bara berkacak pinggang menatap Aluna."Apa susahnya tinggal kau tanda tangani. Kenapa harus
"Ah ... yah!" Wanita itu bergerak liar di atas tubuh pasangannya. "Lebih cepat, sayang!" Perintahnya sambil menikmati pemandangan di atasnya. Baru saja saat sang pria meminta untuk bertukar posisi. Ponselnya bergetar hebat. Sempat ingin mengacuhkan panggilan itu, akan tetapi terlintas dalam pikirannya jika itu adalah panggilan penting dari klien atau sejenis lainnya. Namun, mendadak ia berubah menjadi muak saat membaca nama yang tertera di layar ponselnya. Ingin menolaknya, tapi ia teringat pada sesuatu hal yang lebih penting. Berubah pikiran? Tentu saja jawabannya iya. Bara memberi isyarat pada wanita yang berada di atasnya untuk memperlambat tempo gerakan. Apakah Bara takut pada Aluna, sang istri? Bukan. Bara tidak takut pada sang istri. Hanya saja Bara tidak rela jika Aluna mendengar desahannya yang begitu sangat berharga. Bara memang sok jual mahal pada Aluna, istrinya sendiri. Mengingat satu hal yang pernah dilakukan oleh Aluna dan itu membuat Bara benci dan jijik, ta







