Beranda / Romansa / Satu Syarat di Atas Ranjang / RIB7. Butuh Wanita Penghibur

Share

RIB7. Butuh Wanita Penghibur

Penulis: Cheezyweeze
last update Tanggal publikasi: 2026-05-13 13:45:52

Setelah kejadian malam itu, Bara dan Aluna benar-benar berpisah. Mereka tidak pernah bertemu lagi bahkan Bara tidak pernah menyambangi rumahnya lagi. Bara lebih betah tinggal di apartemennya dengan alasan jika ia pulang ke rumah, ia akan teringat dengan Aluna dan lagipula jarak kantor Bara dengan apartemennya juga tidak terlalu jauh. Pun Bara bisa menghemat bahan bakar juga.

Seperti pagi itu Tama, asisten pribadi Bara sudah lebih dulu sampai di kantor. Pemuda itu meletakkan berkas yang harus ditanda tangani oleh Bara. Tama menarik napas panjang saat melirik benda yang melingkar dipergelangan tangannya.

"Jam segini Pak Bara belum juga sampai ke kantor," dengus Tama. Pemuda itu lupa jika Bara yang punya perusahaan itu.

"Kau barusan bilang apa, Tam?" Tiba-tiba Bara muncul.

Mendadak Tama membalikkan badannya dan menggigit bibir bawahnya. Ia sadar seratus persen jika ia lupa menutup pintu saat ia masuk ke dalam ruangan Bara.

"Kau lupa sesuatu, Tam?" tanya Bara yang melangkah melewati Tama dan menaruh tas kerjanya di meja. Bara menatap Tama yang masih tegang  dengan bibir yang dilipat ke dalam. Bara duduk di sofa. "Kantor ini milikku, jadi aku mau datang kapan saja ... jam berapa pun itu terserah aku," lanjut Bara.

"Iya, Pak. Maaf ... sa-"

"Hari ini jadwalku apa saja?" potong Bara sambil meraih berkas yang ada di depannya dan memeriksanya sebelum ditanda tangani.

Dengan cekatan Tama membuka tab yang ia bawa dan membacakan jadwal pada sang bos. Setelah membacakan jadwal, Tama berniat hendak segera keluar dari ruangan Bara, akan tetapi langkah kakinya terhenti.

"Tam, menurutmu ... aku harus bicara jujur pada ibuku atau tidak?"

Tama kembali membalikkan badannya. Tama paham apa yang dimaksud oleh Bara. Itu adalah tentang perceraiannya dengan Bu Aluna. Tama terdiam sesaat, lalu menatap Bara.

"Maaf, Pak. Menurutku lebih baik Pak Bara jangan dulu membicarakan ini pada Bu Anggun. Mengingat beliau begitu sangat menginginkan cucu."

Bara menatap Tama setelah selesai menanda tangani berkas. Bara merapikan berkas-bekas itu dan memberikan berkas itu pada Tama. "Kau  boleh keluar."

Tama cengo mendengar kalimat itu, tapi ia tidak mau pusing. Protes pun nanti takut disemprot Bara. Alih-alih Bara juga suka mengancam akan memecat Tama. Walaupun begitu, Tama paham jika Bara hanya bercanda dan menakut-nakutinya.

Setelah Tama menghilang di balik pintu kayu mahoni itu, kesunyian segera menyergap ruangan luas tersebut. Bara menyandarkan punggungnya pada sofa, menatap langit-langit plafon yang dihiasi lampu kristal minimalis. Saran Tama barusan memang masuk akal, namun di sisi lain, beban rahasia ini mulai terasa mencekik lehernya. Setiap kali sang ibu, Bu Anggun, menelepon untuk sekadar menanyakan kabar atau mengirimkan vitamin untuk Aluna, Bara selalu merasa seperti penjahat yang tengah menyusun skenario kebohongan demi kebohongan.

Ia memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Pikirannya kembali melayang pada malam badai itu. Malam di mana Aluna memutuskan untuk melangkah keluar dari hidupnya tanpa menoleh sedikit pun. Pikiran Bara melayang pada Rumah yang ia tempati stelah menikah dengan Aluna. Rumah itu memang mewah, namun terasa hampa dan terlalu steril. Tidak ada lagi aroma masakan rumahan yang menyambutnya, tidak ada lagi suara lembut yang bertanya apakah harinya melelahkan. Yang tersisa hanyalah keheningan yang memekakkan telinga.

​Bara beranjak menuju jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota. Alasan jarak kantor dan hemat bahan bakar sebenarnya hanyalah tameng ego. Sejujurnya, ia hanyalah seorang pengecut yang takut menghadapi kenyataan di rumah lama mereka. Di sana, setiap sudut ruangan memiliki suara. Kursi di sudut ruang tamu seolah masih menampilkan sosok Aluna yang sedang membaca buku, dan meja makan panjang itu seakan masih menyimpan gema tawa sang istri. Di apartemen ini, ia bisa berpura-pura bahwa Aluna hanyalah bagian dari mimpi buruk yang sudah ia lupakan.

Telepon di atas meja kerjanya bergetar, memecah lamunan Bara. Sebuah pesan singkat masuk dari ibunya.

​"Bara, akhir pekan ini bawa Aluna ke rumah ya? Mama sudah buatkan rendang kesukaannya. Mama juga mau bicara soal program kehamilan yang Mama janjikan kemarin."

Bara memejamkan mata rapat-rapat. Jemarinya bergetar saat hendak membalas pesan tersebut. Inilah yang ia takutkan. Ibunya tidak hanya mengharapkan kehadiran Aluna, tapi juga mengharapkan benih kehidupan yang secara teknis sudah mustahil terwujud di antara mereka. Bagaimana mungkin ia tega menghancurkan binar bahagia di wajah ibunya dengan kabar perceraian ini? Terlebih, Bu Anggun memiliki riwayat penyakit jantung yang membuatnya harus menghindari stres berlebih.

"Sial," umpatnya lirih.

​Ia menyambar kunci mobil di atas meja, melupakan tumpukan pekerjaan yang baru saja ia terima dari Tama. Rasa sesak di dadanya butuh dialihkan. Bara berjalan keluar ruangan dengan langkah lebar, membuat para karyawan yang berpapasan dengannya tertunduk segan. Ia butuh udara segar, atau mungkin ia hanya butuh pelarian sementara dari kenyataan bahwa hidupnya yang tampak sempurna dari luar sebenarnya sudah runtuh berkeping-keping. Tama yang melihatnya juga tidak mungkin bisa mencegahnya.

"Pak Bara, mau pergi ke mana dengan langkah kaki yang terlihat sangat terburu-buru," bisik Tama yang baru saja keluar dari pantri dengan sebuah gelas kopi di tangannya. Tama terus melihat Bara hingga hilang ditelan pintu lift.

​Langkah kaki Bara membawanya ke parkiran bawah tanah. Di dalam mobil, ia terdiam cukup lama sebelum menghidupkan mesin. Ia teringat kata-kata terakhir Aluna sebelum pergi.

 "Kebohongan yang kau simpan demi kebaikan, pada akhirnya akan menjadi luka yang paling dalam bagi orang yang kau cintai." 

​Kini Bara berada di persimpangan. Terus bersandiwara dan membiarkan ibunya terbuai dalam harapan palsu, atau berterus terang dan menanggung risiko kehilangan segalanya. Namun satu hal yang pasti, pelarian ke apartemen ini tidak akan pernah bisa menghapus bayang-bayang Aluna yang kini telah benar-benar menjauh dari jangkauannya.

"Aku butuh hiburan. Yeah ... yang jelas aku butuh wanita penghibur!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB90. Di Sini, Aku Punya Istri

    ​"Aku setujui permintaanmu itu, tapi dengan syarat. Selama satu bulan kau tidak boleh melakukan hal itu dengan wanita-wanita koleksimu. Begitu kau gagal, maka aku akan langsung mengajukan gugatannya."​Bara tertawa pelan, suara baritonnya bergetar rendah di keheningan kamar. "Itu saja syaratnya?"​"Itu saja katamu?" Aluna mengulanginya dengan sangsi. "Aku saja tidak yakin kau sanggup melalui satu bulan tanpa koleksi wanitamu itu," lanjut Aluna sembari mengulas senyum masam.​"Itu mudah sekali, Aluna," kata Bara menertawakan keraguan istrinya. Pria itu perlahan merangkak di atas ranjang, mengikis jarak untuk mendekati wanita yang ada di hadapannya. "Di sini, aku punya istri." Bara menatap Aluna dengan senyum smirk penuh kemenangan.​Aluna membelalakkan matanya saat Bara mendorong bahunya, membaringkan tubuhnya kembali ke atas kasur dengan gerakan yang justru terasa sangat lembut.​"Bar..." Aluna mulai panik saat menyadari tubuh kekar pria itu sudah mengungkungnya dari atas.​"Penuhi ha

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB89. Satu Bulan Untuk Satu Tahun

    Aluna kembali membuka mata. Tetap saja ragu, walaupun mustahil jika ia salah dengar. Perlahan ia menoleh untuk kembali menatap Bara. Lama Aluna menatap Bara hingga tiba-tiba saja wajah serius Bara berubah geli lalu tertawa pelan. "Kau tidak mungkin berharap jika aku serius, kan?" kata Bara bangkit dari rebahannya untuk duduk. Aluna kembali menatap langit-langit kamar tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Aluna kembali menoleh saat merasakan tempat tidurnya bergerak dan menemukan Bara hendak turun dari ranjang. "Sepertinya memang aku tidak bisa jika harus tidur seranjang denganmu," Bara bangkit. "Aku akan tidur di sofa saja," lanjutnya lalu beranjak dari teempatnya. "Aku pun tidak berharap kau akan serius dengan perkataanmu yang tadi," kata Aluna. "Tapi aku tahu, kau tidak pernah seserius itu bilang padaku sebelumnya." Kata-kata Aluna membuat langkah Bara terhenti. Dadanya terasa tidak nyaman. Bukan ketahuan telah berbohong yang menjadi penyebabnya, tapi kecemasan akan tan

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB88. Hubungan Tidak Sehat

    Bara terbangun karena tekanan yang sangat luar biasa sakit yang menyerang pada bagian kepalanya. Hal itu dikarenakan sisa mabuk yang dialaminya semalam. Bara melirik jam dinding yang bertengger cantik pada dinding kamar dan menunjukkan pukul empat pagi. Ia turun dari ranjang dan keluar dari kamar untuk minum.Selesai minum Bara memperhatikan sekeliling unit apartemen milik Aluna yang Bara tahu itu adalah hadiah pernikahan dari ibunya. Di mana Aluna ? Apa pria itu semalam datang dan melihatnya? Apa mereka mencari tempat lain dan Aluna meninggalkannya sndirian di apartemen ini? Ya, itu semua pertanyaan yang bercokol di dalam pikiran Bara.Bara sampai di ruang tamu dan menemukan Aluna berbaring di salah satu sofanya. Bara menghampiri dan duduk di meja tepat di depan Aluna terbaring. Baru sadar ternyata wanita itu terlelap dan Bara berpikir mungkin wanita itu ketiduran saat menunggu kekasihnya yang tak kunjung datang."Bangun!" Bara mengguncang tubuh itu sesaat. Dan hal itu cukup membuat

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB87. Kita Belum Resmi Cerai

    Aluna kesal dengan satu kalimat yang dilontarkan Bara untuknya. Merasa tidak terima dengan apa yang dituduhkan Bara pada dirinya. "Apa maksudmu, Bar?""Kau lihat sendiri!" kata Bara setengah tertawa. "Kenapa harus priamu itu yang lebih berhak ada di sini daripada aku, suamimu sendiri, hah?" jelas Bara. "Istri macam apa yang melempar suaminya ke wanita lain? Atau kau melakukan itu supaya kau bisa mengurus laki-laki lain?"Aluna diam saja. Ia tidak ingin berdebat dan juga tidak bisa mendebatkannya."Aku masih terima jika kau hanya mengibuliku," kata Bara menunjuk dirinya sendiri. "Tapi aku jadi muak tiap kali ingat bagaimana sayangnya mamaku padamu. Dia membangga-banggakanmu di depan teman-temannya, sedangkan kau aslinya hanya penipu licik yang gila harta.""Jaga bicaramu, Bara!" kata Aluna pelan.Bara tertawa pelan menyadari jika ia sudah membuat istrinya itu marah walau masih terlihat sangat tenang. Walau suaranya tenang tanpa geraman, ta

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB86. Tuduhan Licik Bara Pada Aluna

    Bara menolak untuk dibawa ke unit rumah Monika, akan tetapi Aluna tetap bersikeras ingin mengantarkan Bara ke sana. "Bar, aku sedang menunggu orang dan aku tidak ingin ia melihatmu ada di sini. Apalagi dengan kondisimu yang mabuk seperti ini," kata Aluna tenang. Bara menoleh menatap Aluna, "Menunggu siapa, hah?" Bara mendekatkan wajahnya dan menatap Aluna dengan mata merahnya yang tidak fokus. "Menunggu selingkuhanmu itu?" Aluna mendorong tubuh Bara pelan. Jujur Aluna sungguh muak dengan bau alkohol itu. "Kau pasti sedang menunggu si El itu?" lanjut Bara. "Iya. Jadi ada baiknya aku mengantarkanmu ke rumah Monika sebelum ia sampai ke sini," jawab Aluna. Bara tertawa keras. "Jadi, selingkuhanmu itu yang lebih berhak ada di sini daripada suamimu sendiri?" tanya Bara tidak habis pikir. Aluna tampak diam ragu, ia tidak ingin menanggapi dan tidak ingin menyanggah juga karena Bara juga ada benarnya juga. "Jika begitu, biar aku di sini," Bara menghempaskan diri di sofa ruang tamu dan

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB85. Kau Masih Istri Sahku

    Gelas kristal kedua di hadapan Bara kini sudah menyisakan separuh. Di bawah temaramnya lampu bar yang bergerak lambat mengikuti ketukan musik jazz, kesadaran pria itu perlahan mulai terombang-ambing oleh pengaruh alkohol yang kian pekat. Namun, alih-alih mendapatkan ketenangan yang ia cari sejak sore tadi, cairan amber yang membakar kerongkongannya itu justru memantik reaksi sebaliknya. Alkohol sialan itu malah memperkuat ilusi kepemilikan yang mendarah daging di dalam benaknya. Seolah-olah Aluna masihlah wanita yang bisa ia kendalikan sepenuhnya, bukan sosok dingin yang mengusirnya tadi siang. Pikiran itu terus berputar, membakar habis sisa akal sehat di kepalanya. ​Dalam kondisi setengah mabuk dengan tatapan mata yang mulai menyayu, fokus Bara mendadak terusik. Seorang wanita asing dengan gaun malam berpotongan rendah melangkah mendekat, lalu tanpa permisi menduduki kursi kosong tepat di sebelah kanannya. Aroma parfum berbau manis menyengat seketika menyerbu indera penciuman Bara,

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB71. Apakah Bara Cemburu Pada Tama

    ​Dentang halus sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen terdengar selaras dengan alunan musik jazz instrumen yang mengalir tenang di dalam restoran mewah bergaya klasik modern itu. Seminggu setelah badai hukum bergulir cepat dan menyeret Yudi ke balik jeruji besi, atmosfer mencekam yan

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB70. Bukan Aluna-ku

    ​Di dalam bangsal kelas tiga yang pengap, udara terasa sesak oleh aroma disinfektan dan keputusasaan. Yudi terbaring dengan wajah yang masih memar, ungu kebiruan dengan gips yang menahan rahangnya agar tetap pada tempatnya. Di sisi ranjang, sang ibu duduk gelisah, jemarinya terus memilin ujung kain

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB69. Dunia Ini Kejam, May

    Setelah pintu kaca depan tertutup rapat, Aluna membalikkan badannya dengan tenang. Ia menyapu pandangan ke arah para karyawan yang masih berdiri mematung di antara deretan manekin dan gantungan pakaian, dengan wajah tegang sembari berbisik-bisik cemas di sudut-sudut butik. Riuh spekulasi yang sem

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB68. Kasus Naik ke Meja Hijau

    Di balik meja kerjanya yang dingin, penyidik utama segera meraih ponsel begitu Aluna melangkah keluar dari ruangan. Dengan gerakan cepat, ia mengetikkan pesan singkat yang ditujukan langsung pada nomor pribadi Asisten Eksekutif BMA Corp. ​[Pak Tama, wanita bernama Aluna baru saja datang ke polsek.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status