แชร์

RIB6. Owner House of ELUNA

ผู้เขียน: Cheezyweeze
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-24 23:10:17

"Apa? Mama?" Bara cengo seperti orang bodoh saat mendengar kalimat itu. "Mama ku, Lun?" tanya Bara dengan alis yang menukik tajam.

"Hm ...." Sambil mengangguk.

"Serius?" Bara semakin heran dengan kata-kata itu.

"Memangnya mamanya siapa lagi? Tidak mungkin kan mama ku!" Aluna membalikkan badannya sebelum masuk ke dalam kamarnya.

Lagi dan lagi Bara dibuat penasaran oleh Aluna. Satu teka-teki belum terjawab dan sekarang ditambah lagi dengan kenyataan bahwa ada campur tangan dari ibunya.

"Apa yang mama ku bilang padamu, Lun?"

Namun, Aluna tidak menjawab pertanyaan dari Bara saat ia kembali dari kamarnya sendiri. Aluna melangkah dan menghampiri Bara.

"Ini suratnya." Menyodorkan surat cerai mereka. "Hadiah spesial dariku," lanjutnya tersenyum manis saat keduanya saling pandang.

Bara tertawa pelan ketika melihat Aluna masuk lagi ke dalam kamarnya, lalu mimik wajah Bara berubah seketika saat melihat Aluna keluar menarik sebuah koper yang berukuran lumayan besar.

"Kau mau pergi ke mana?" tanya Bara heran.

"Pulang!" jawab Aluna singkat tanpa koma.

"Pulang ke mana? Panti asuhan?" Kembali Bara heran bercampur penasaran.

"Ke apartemenku sendiri ...."

"Sejak kapan kau punya apartemen?" sela Bara.

"Kau bertanya atau sekedar penasaran, Bar?" Aluna menatap Bara.

Bara menggelengkan kepalanya dan meraupkan kedua tangannya. Setelah itu berkacak pinggang.

"Sudah sejauh ini perselingkuhan mu, Lun. Sampai ia berani memberimu apartemen!"

"Kenapa? Cemburu?" tanya Aluna. "Sayang sekali asumsimu salah semua, Bar." Aluna diam sesaat. "Kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan, Bar. Dan kau tidak perlu repot-repot mengungkit urusanku lagi. Kita sudah sepakat berjalan di jalan masing-masing," jelas Aluna.

"Aku tanya sejak kapan?" tanya Bara lagi antara sadar atau tidak.

Aluna menarik napas pelan. "Sejak satu tahun yang lalu. Mama memberiku apartemen sebagai hadiah pernikahan ...."

"Ooh, begitu? Jadi ada semacam kesepakatan antara kau dan mama?" Bara berdecak. "Makanya mama menjodohkanmu denganku. Kau mau menikah denganku karena harta mamaku? Jadi semua ini karena harta?"

Aluna tetap tenang bahkan ia tersenyum mendengar celotehan Bara. "Tidak seperti yang kau pikirkan. Aku tidak memintanya dan mama tidak ingin aku menolak."

"Ck, ya. Anggap saja aku percaya," ujar Bara tertawa pelan. Lalu manik hitam itu menatap Aluna. "Soal semalam. Apa ada kesepakatan lagi di antara kalian berdua?"

"Soal semalam. Kau tidak perlu tahu, itu tidak penting buatmu," jelas Aluna lirih.

Bara kembali meraupkan kedua tangannya. Pria itu terlihat frustrasi atas jawaban dari Aluna. "Ok. Terserah kalian berdua."

Bara hendak melangkah, akan tetapi ia menghentikan langkahnya saat Aluna mengatakan sesuatu yang membuat kedua alis Bara berkerut karena tidak paham.

"Aku serius dengan kata-kataku soal surat perjanjian itu," terang Aluna. "Itu adalah hadiah perpisahan dari tepat di hari perayaan."

Bara menatap surat yang ia genggam. Tidak ada yang istimewa selain surat itu sudah ditandatangani oleh Aluna. Saat Bara mengangkat kepalanya, Aluna sudah hilang ditelan pintu.

"Hadiah perpisahan? Tepat di hari perayaan?" Bara menundukkan kepalanya menatap benda itu. "Bahkan aku tidak ingat kapan tanggal pernikahanku."

***

"Selamat datang di House of ELUNA ...." Aluna menyapa saat ada bunyi lonceng.

Seorang wanita cantik yang berumur sekitar 49 tahun masuk ke dalam butik. Aluna tersenyum menyapa pelanggannya itu.

"Selamat datang, Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?" ujar Aluna ramah.

Wanita itu melepaskan kacamata hitamnya dan tersenyum pada Aluna. Wanita itu melangkah ke sisi kiri dan berdiri di beberapa baju yang tergantung rapi. Aluna mendekati dan berdiri di belakangnya.

Masih memperhatikan koleksi butik milik ELUNA yang memang selalu ada model baru. Namun, ia tidak menemukan gaun yang cocok di sana.

"Ada model paling terbaru?" tanya wanita itu sambil tersenyum memperlihatkan gigi ginsulnya yang menambah pesona kecantikan wanita yang hampir berumur setengah abad itu.

Aluna dengan cekatan mengambilkan sebuah baju keluaran terbaru dan limited edition dari dalam sebuah ruangan, karena gaun itu baru rencana akan dipajang esok hari.

"Ini gaun terbaru dari butik kita, nyonya dan hanya ada satu ini saja. Modelnya juga sangat cocok dipakai nyonya. Terlihat elegan," jelas Aluna.

"Benarkah?" tanyanya.

"Tentu saja, nyonya. Anda adalah pelamggan setia di butik kami. Apakah anda berkenan ingin mencobanya?"

Anggun diam menatap Aluna, lalu tersenyum. Ia paham betul aturan atau kebijakan di masing-masing butik, lalu ia menatap gaun yang sedang dipegangnya.

"Tidak perlu dicoba. Saya percaya dengan butik ini. Saya akan langsung membayarnya," tegasnya.

Anggun sudah percaya penuh dengan butik langganannya itu. Ukuran gaun selalu pas di badannya.

"Baik, nyonya. Saya akan membawa gaun ini ke kasir." Aluna melangkah ke kasir diikuti oleh Anggun dan meletakkan gaun itu meja kasir. Setelahnya Aluna berlalu dari sana karena ada staff yang memanggilnya.

"Nyonya, saya pamit dulu."

"Hm ...." Anggun menyodorkan sebuah kartu. "Maaf, boleh saya bertemu dengan pemilik butik ini?" lanjutnya.

"Nyonya sudah bertemu dengan beliau tadi," jawab sang kasir. Anggun mengerutkan kedua alisnya seperti sedang berpikir. "Wanita yang tadi melayani melayani nyonya itu adalah owner dari House of ELUNA. Dan gaun ini adalah rancangan dari beliau sendiri dan sengaja dibuat satu-satunya."

Anggun menerima uluran sebuah papper-bag dan black card dari sang kasir. "Boleh saya bertemu dengan beliau?"

Dua orang pegawai yang ada di meja kasir saling pandang. Lalu salah satu dari mereka hendak beranjak, akan tetapi tidak jadi.

"Maaf, nyonya. Mungkin nyonya bisa datang lagi lain waktu. Untuk hari ini Nyonya Anggun tidak bisa bertemu dengan Bu Kirana, karena beliau sudah pergi." Menunjuk sebuah mobil berwarna merah yang baru saja meninggalkan butik.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB92. Posesifnya Seorang Bara

    Aluna terpaku di undakan lobi gedung apartemen. Langkah kakinya yang semula mantap mendadak terkunci rapat ketika manik matanya menangkap siluet akrab di balik kemudi sedan hitam di seberang jalan. Kaca mobil itu turun sepenuhnya, memperlihatkan gurat wajah Elrumi yang tampak letih, seolah pria itu melewatkan jam tidurnya semalaman hanya untuk menjaga tempat ini dari kejauhan.​Dengan gerakan refleks yang canggung, Aluna membatalkan pesanan taksi daring melalui ponselnya. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menata debar jantungnya yang berantakan sebelum melangkah menyeberangi jalan yang masih sepi oleh hiruk-pikuk pagi.​Pintu kemudi penumpang terbuka sebelum Aluna sempat mengetuknya. Begitu Aluna duduk di dalam kabin mobil, aroma kopi hitam dan sisa hawa dingin malam langsung menyambut inderanya, mengusir sejenak sisa-sisa keintiman Bara yang sejak tadi menghantui pikirannya. Suasana di dalam mobil terasa begitu hening tanpa ada alunan suara musik sedikit pun.

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB91. Aku Ingin Kau Pulang ke Rumah

    Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden yang sengaja tidak ditutup rapat, menumpahkan cahaya keperakan di atas ranjang yang tampak acak-acakan. Aluna terbangun lebih dulu. Kelopak matanya terbuka lambat, disambut oleh rasa lelah yang luar biasa yang menjalar di sekujur sendi dan otot tubuhnya. Untuk beberapa detik, ia terpaku menatap langit-langit kamar, mencoba mengumpulkan kembali kesadarannya yang sempat tercerai berai oleh intensitas pergumulan subuh tadi. ​Perlahan, Aluna menoleh ke samping. Di sana, Bara masih terlelap dengan posisi menelungkup, mengecup sebagian bantal dengan napas yang teratur. Selimut beludru tebal hanya menutupi sebatas pinggangnya, mengekspos punggung tegap dengan gurat otot kokoh yang semalam menjadi tempat Aluna melampiaskan rasa pasrahnya melalui tancapan kuku. ​Melihat pemandangan itu, seulas senyum masam terukir di bibir Aluna. Ada rasa sesak yang mendadak menghimpit dadanya, bukan karena benci pada Bara, melainkan amarah pada diriny

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB90. Di Sini, Aku Punya Istri

    ​"Aku setujui permintaanmu itu, tapi dengan syarat. Selama satu bulan kau tidak boleh melakukan hal itu dengan wanita-wanita koleksimu. Begitu kau gagal, maka aku akan langsung mengajukan gugatannya."​Bara tertawa pelan, suara baritonnya bergetar rendah di keheningan kamar. "Itu saja syaratnya?"​"Itu saja katamu?" Aluna mengulanginya dengan sangsi. "Aku saja tidak yakin kau sanggup melalui satu bulan tanpa koleksi wanitamu itu," lanjut Aluna sembari mengulas senyum masam.​"Itu mudah sekali, Aluna," kata Bara menertawakan keraguan istrinya. Pria itu perlahan merangkak di atas ranjang, mengikis jarak untuk mendekati wanita yang ada di hadapannya. "Di sini, aku punya istri." Bara menatap Aluna dengan senyum smirk penuh kemenangan.​Aluna membelalakkan matanya saat Bara mendorong bahunya, membaringkan tubuhnya kembali ke atas kasur dengan gerakan yang justru terasa sangat lembut.​"Bar..." Aluna mulai panik saat menyadari tubuh kekar pria itu sudah mengungkungnya dari atas.​"Penuhi ha

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB89. Satu Bulan Untuk Satu Tahun

    Aluna kembali membuka mata. Tetap saja ragu, walaupun mustahil jika ia salah dengar. Perlahan ia menoleh untuk kembali menatap Bara. Lama Aluna menatap Bara hingga tiba-tiba saja wajah serius Bara berubah geli lalu tertawa pelan. "Kau tidak mungkin berharap jika aku serius, kan?" kata Bara bangkit dari rebahannya untuk duduk. Aluna kembali menatap langit-langit kamar tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Aluna kembali menoleh saat merasakan tempat tidurnya bergerak dan menemukan Bara hendak turun dari ranjang. "Sepertinya memang aku tidak bisa jika harus tidur seranjang denganmu," Bara bangkit. "Aku akan tidur di sofa saja," lanjutnya lalu beranjak dari teempatnya. "Aku pun tidak berharap kau akan serius dengan perkataanmu yang tadi," kata Aluna. "Tapi aku tahu, kau tidak pernah seserius itu bilang padaku sebelumnya." Kata-kata Aluna membuat langkah Bara terhenti. Dadanya terasa tidak nyaman. Bukan ketahuan telah berbohong yang menjadi penyebabnya, tapi kecemasan akan tan

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB88. Hubungan Tidak Sehat

    Bara terbangun karena tekanan yang sangat luar biasa sakit yang menyerang pada bagian kepalanya. Hal itu dikarenakan sisa mabuk yang dialaminya semalam. Bara melirik jam dinding yang bertengger cantik pada dinding kamar dan menunjukkan pukul empat pagi. Ia turun dari ranjang dan keluar dari kamar untuk minum.Selesai minum Bara memperhatikan sekeliling unit apartemen milik Aluna yang Bara tahu itu adalah hadiah pernikahan dari ibunya. Di mana Aluna ? Apa pria itu semalam datang dan melihatnya? Apa mereka mencari tempat lain dan Aluna meninggalkannya sndirian di apartemen ini? Ya, itu semua pertanyaan yang bercokol di dalam pikiran Bara.Bara sampai di ruang tamu dan menemukan Aluna berbaring di salah satu sofanya. Bara menghampiri dan duduk di meja tepat di depan Aluna terbaring. Baru sadar ternyata wanita itu terlelap dan Bara berpikir mungkin wanita itu ketiduran saat menunggu kekasihnya yang tak kunjung datang."Bangun!" Bara mengguncang tubuh itu sesaat. Dan hal itu cukup membuat

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB87. Kita Belum Resmi Cerai

    Aluna kesal dengan satu kalimat yang dilontarkan Bara untuknya. Merasa tidak terima dengan apa yang dituduhkan Bara pada dirinya. "Apa maksudmu, Bar?""Kau lihat sendiri!" kata Bara setengah tertawa. "Kenapa harus priamu itu yang lebih berhak ada di sini daripada aku, suamimu sendiri, hah?" jelas Bara. "Istri macam apa yang melempar suaminya ke wanita lain? Atau kau melakukan itu supaya kau bisa mengurus laki-laki lain?"Aluna diam saja. Ia tidak ingin berdebat dan juga tidak bisa mendebatkannya."Aku masih terima jika kau hanya mengibuliku," kata Bara menunjuk dirinya sendiri. "Tapi aku jadi muak tiap kali ingat bagaimana sayangnya mamaku padamu. Dia membangga-banggakanmu di depan teman-temannya, sedangkan kau aslinya hanya penipu licik yang gila harta.""Jaga bicaramu, Bara!" kata Aluna pelan.Bara tertawa pelan menyadari jika ia sudah membuat istrinya itu marah walau masih terlihat sangat tenang. Walau suaranya tenang tanpa geraman, ta

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB81. Kedatangan Bara ke Butik

    Bara memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Sempat ia melirik butik yang sudah sepi dan gelap. Pikiran Bara saat itu sedikit kacau. "Bagus sekali. Tutup lebih awal," gerutu Bara. Meremas kuat stir mobilnya.Merasa tidak ada hal berguna yang bisa ia temukan di sana, pria itu akhirnya memutuskan unt

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB80. 🔥Jerat di Sepertiga Malam

    ​Deru napas Bara Mahendra yang memburu perlahan mulai teratur, menyisakan keheningan yang sarat akan sisa gairah di dalam kamar apartemen Monika. Pria itu menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang, membiarkan tubuh tegapnya terekspos di bawah temaram lampu tidur yang temaram. Sudut matanya melir

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB79. Teka-Teki dan Titik Alih

    ​Sadar posisinya mulai berada di tengah-tengah urusan pribadi sang atasan, Maya pelan-pelan melangkah mundur. Jemarinya kembali menyambar nampan kosong dengan gerakan sehalus mungkin, tidak ingin memotong kehangatan suasana yang baru saja tercipta. Walaupun lubuk hatinya didera rasa penasaran yang

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB78. Ada Yang Lebih Pintar Dariku

    ​Aroma manis dari teh melati yang baru diseduh menguar di lantai satu Butik Aluna, namun atmosfer di sana mendadak berubah riuh oleh kasak-kusuk para karyawan. Pelukan hangat Aluna dan panggilan sayang yang meluncur begitu saja di depan pintu butik beberapa menit lalu sukses menyulut api gosip di a

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status