Share

RIB3. Tidak Perawan

Penulis: Cheezyweeze
last update Tanggal publikasi: 2026-04-20 14:51:16

Aluna diam dan meremas kain yang ia kenakan. Sang suami menyadari. Ia duduk di tepi ranjang, senyumannya berubah menjadi tawa ringan seperti sedang meledek.

"Serius? Kau ingin aku tiduri?" Bara terasa geli waktu mengucapkan kalimat itu.

Bara menatap Aluna dari ujung rambut ke ujung kaki. Sedangkan Aluna masih diam di tempat dan tidak mau menanggapi ataupun menatap suaminya.

"Kenapa? Apa diam-diam kau mulai menyukaiku?" Bara mencerca Aluna dengan beberapa pertanyaan.

"Tidak!" jawab Aluna singkat dan tenang.

"Lalu apa?" Bara tersenyum dan senyuman itu terlihat seperti mengejek.

"Aku punya alasan sendiri. Cukup jawab kau menyetujui syarat itu atau tidak?"

Senyum yang menghias bibir Bara mendadak hilang dan berubah menjadi kekesalan karena permintaan sang istri sangat aneh. Menurut Bara syarat yang tidak patut untuk menyetujui sebuah perceraian.

Dari tangan terlipat di dada kini berpindah tempat. Bara berkacak pinggang menatap Aluna.

"Apa susahnya tinggal kau tanda tangani. Kenapa harus meminta persyaratan yang cuk—"

"Ya atau Tidak, Bara?" Cukup tenang, menekan, dan mengintimidasi.

Bara menarik napas dan mengembuskan secara kasar sampai Aluna mendengar embusan itu.

"Dengar Aluna." Suara Bara berhasil membuat Aluna menatapnya. "Jujur. Aku tidak mau menidurimu—"

"Kalau begitu kau bisa urus surat cerainya sendiri," potong Aluna membalikkan badan untuk pergi.

"Aluna, kau selingkuh!" bentak Bara meradang. "Kau pikir, aku tidak bisa mengurus cerai dengan alasan itu?"

Aluna menghentikan langkahnya tanpa membalikkan badan. Bara keceplosan karena teringat pria itu. Ya, pria itu memang tinggi tapi badannya tidak atletis. Ia memang tampan dengan senyum manis dan hidung mancung serta punya aura yang beda, tapi balik lagi ke Bara. Menurut Bara pria itu masih kalah tampan dari dirinya.

"Semoga kau berhasil dengan alasan itu." Sebelum melangkah keluar dari ruangan itu. "Apa kau yakin akan ada yang percaya jika aku selingkuh?" lanjut Aluna berdiri di ambang pintu tanpa menoleh. "Jangankan orang lain. Mamamu saja pasti lebih percaya padaku, bahkan jika aku bilang itu adalah fitnah."

Sungguh sangat licik. Bara sampai terperangah. Seratus persen Bara melihat seringai sinis di bibir Aluna. Bara baru menyadari jika wanita yang telah ia nikahi itu mempunyai seribu cara. Terlebih ia sudah mengambil hati ibunya.

Bara mulai gusar dan menyugarkan rambut ke belakang. Setahun menikah tapi Bara tidak sepenuhnya tahu atau mengenali sang istri. Perjodohan yang dirancang oleh sang mama memang Bara tidak menyetujuinya. Dengan kata lain ia terpaksa menikahi Aluna tanpa cinta. Sedikit pun Bara tidak pernah menyentuh Aluna dari pertama menikah sampai genap setahun.

Sungguh prestasi yang sangat membanggakan bagi Bara bisa bertahan sampai satu tahun pernikahan.

Pria itu berdiri termenung di tempat dan tanpa merespons. Dari lubuk hati yang paling dalam, Bara setuju dengan apa yang diucapkan oleh sang istri. Mungkin memang mamanya tidak akan percaya pada dirinya. Bodohnya Bara tidak mengambil foto, video, atau sejenisnya yang bisa dijadikan bukti bahwa Aluna selingkuh.

Sungguh permainan yang sangat rapi telah dimainkan oleh sang istri sehingga ibunya lebih percaya pada ular berbisa itu.

Surat permohonan cerai yang Bara ajukan tanpa persetujuan dari Aluna akan sulit dikabulkan tanpa adanya alasan yang kuat dan tentunya Bara tahu akan hal itu. Kini harapan yang lain adalah surat gugatan dari wanita itu, tapi dalam waktu satu tahun menikah dan dengan segala tingkah yang Bara lakukan tanpa Bara memikirkan perasaan Aluna, tetap saja Aluna tidak melayangkan surat gugatan cerai.

Bara merasa malu dan terhina dengan perselingkuhan Aluna. Bagaimana tidak, Aluna berselingkuh dengan pria yang tidak lebih baik dari dirinya. Dengan perselingkuhan Aluna, Bara tidak bisa melanjutkan pernikahannya lebih lama.

Apa yang sebenarnya sedang Aluna kejar dari dirinya? Apakah harta? Pria itu sampai terkejut dengan dugaannya sendiri.

"Apa lagi memangnya yang sedang ia cari? Semua sudah jelas, kan?" ujar Bara sengit. Sorot mata Bara menatap ambang pintu kamarnya. "Alunaa!" teriaknya kencang seakan rumahnya hampir roboh.

Beberapa saat setelah itu, Aluna muncul dan berdiri di ambang pintu.

"Kenapa?"

"Cepat sebutkan berapa duit yang harus aku bayar agar kau mau tanda tangan?" seru Bara.

Aluna tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Tentunya hal itu terasa sangat melegakan bagi Bara. Ternyata tebakan Bara benar, ia jadi tahu apa yang sebenarnya Aluna inginkan.

Senyuman Aluna mendadak sirna. "Urus sendiri saja sesuatu rencanamu itu, Bar. Tidak perlu susah payah atau repot-repot untuk menyuap ku. Wanita-wanita yang kau tiduri itu pasti lebih membutuhkan uangmu dari pada aku," jelas Aluna dengan lembut. Sebelum akhirnya ia kembali berlalu dari sana.

"F*CKIN' SH*T!" umpat Bara mengejar Aluna. "Sebenarnya apa mau mu, huh!" Mencekal tangan Aluna. "Buat apa aku menidurimu jika kau sudah tidak perawan!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB7. Butuh Wanita Penghibur

    Setelah kejadian malam itu, Bara dan Aluna benar-benar berpisah. Mereka tidak pernah bertemu lagi bahkan Bara tidak pernah menyambangi rumahnya lagi. Bara lebih betah tinggal di apartemennya dengan alasan jika ia pulang ke rumah, ia akan teringat dengan Aluna dan lagipula jarak kantor Bara dengan apartemennya juga tidak terlalu jauh. Pun Bara bisa menghemat bahan bakar juga.Seperti pagi itu Tama, asisten pribadi Bara sudah lebih dulu sampai di kantor. Pemuda itu meletakkan berkas yang harus ditanda tangani oleh Bara. Tama menarik napas panjang saat melirik benda yang melingkar dipergelangan tangannya."Jam segini Pak Bara belum juga sampai ke kantor," dengus Tama. Pemuda itu lupa jika Bara yang punya perusahaan itu."Kau barusan bilang apa, Tam?" Tiba-tiba Bara muncul.Mendadak Tama membalikkan badannya dan menggigit bibir bawahnya. Ia sadar seratus persen jika ia lupa menutup pintu saat ia masuk ke dalam ruangan Bara."Kau lupa sesuatu, Tam?" tanya Bara yang melangkah melewati Tama

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB6. Owner House of ELUNA

    "Apa? Mama?" Bara cengo seperti orang bodoh saat mendengar kalimat itu. "Mama ku, Lun?" tanya Bara dengan alis yang menukik tajam. "Hm ...." Sambil mengangguk."Serius?" Bara semakin heran dengan kata-kata itu."Memangnya mamanya siapa lagi? Tidak mungkin kan mama ku!" Aluna membalikkan badannya sebelum masuk ke dalam kamarnya.Lagi dan lagi Bara dibuat penasaran oleh Aluna. Satu teka-teki belum terjawab dan sekarang ditambah lagi dengan kenyataan bahwa ada campur tangan dari ibunya."Apa yang mama ku bilang padamu, Lun?" Namun, Aluna tidak menjawab pertanyaan dari Bara saat ia kembali dari kamarnya sendiri. Aluna melangkah dan menghampiri Bara."Ini suratnya." Menyodorkan surat cerai mereka. "Hadiah spesial dariku," lanjutnya tersenyum manis saat keduanya saling pandang.Bara tertawa pelan ketika melihat Aluna masuk lagi ke dalam kamarnya, lalu mimik wajah Bara berubah seketika saat melihat Aluna keluar menarik sebuah koper yang berukuran lumayan besar."Kau mau pergi ke mana?" tan

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB5. Itu Karena Mama

    "Aku sudah melakukannya. Berhasil atau tidak itu urusan belakangan. Yang pasti aku sudah melakukan yang terbaik."Aluna berdiri di depan cermin kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Ia menatap pantulan bayangan dirinya sendiri. Setelahnya ia keluar dan meraih sesuatu di atas nakas. Tangannya menari di atasnya dengan lembut. Meletakkan kembali ke tempat semula dan menatapnya. Menarik napas berat, lalu menoleh ke belakang. Di sana banyak tumpukan baju miliknya."Aku harus segera membereskannya," bisik Aluna pelan. Berdiri berlahan menghampiri tumpukan pakaiannya yang tertata rapi di atas ranjang.Beberapa menit kemudian, setelah semua beres, Aluna melangkah keluar dan masuk ke salah satu ruangan."Kau bisa telat ke kantor jika kau tidak bangun sekarang juga." Wanita itu menutup pintu dan melangkah mendekati lemari.Bara belum juga beranjak dari ranjang. Matanya menyipit dan mengikuti langkah Aluna. Lalu Bara bangun, sedikit meregangkan tangannya.Aluna melangkah dan mendekati ranjan

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB4. Kesetiaan Bodoh Aluna 🔥

    Bara keluar dari kamar dan menyusul Aluna. Tangan Bara mencekal Aluna. "Sebenarnya apa mau mu?" Aluna menatap mata Bara. "Kau tahu apa yang aku mau ..." Bara mencebik tidak percaya. Pria itu tidak habis pikir dengan isi kepala sang istri. "Buat apa kau meminta itu padaku?" Hening sesaat. Suhu ruangan mendadak sedikit panas. Keduanya masih bertatap muka satu dengan lainnya. "Aku hanya minta hak ku. Hanya satu kali," ucap Aluna. "Apakah terlihat susah syarat itu untukmu, Bar? Kau bisa meniduri wanita lain di luar sana. Meniduri istrimu sendiri, apakah begitu sulit?" Terdengar geli dan lucu ketika Aluna menyebut dirinya sebagai istri. Hal itu membuat Bara tertawa pelan. Bara menatap Aluna. "Masalahnya kau selingkuh dariku, Aluna. Aku jijik jika harus meniduri wanita bekas pria seperti selingkuhanmu itu." Bara tersenyum sinis. "Jijik katamu?" Aluna tidak percaya dengan ucapan pria yang berdiri di depannya. "Bahkan mungkin kau tidak lebih hebat dari dia dan aku yakin akan hal itu,

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB3. Tidak Perawan

    Aluna diam dan meremas kain yang ia kenakan. Sang suami menyadari. Ia duduk di tepi ranjang, senyumannya berubah menjadi tawa ringan seperti sedang meledek."Serius? Kau ingin aku tiduri?" Bara terasa geli waktu mengucapkan kalimat itu.Bara menatap Aluna dari ujung rambut ke ujung kaki. Sedangkan Aluna masih diam di tempat dan tidak mau menanggapi ataupun menatap suaminya."Kenapa? Apa diam-diam kau mulai menyukaiku?" Bara mencerca Aluna dengan beberapa pertanyaan."Tidak!" jawab Aluna singkat dan tenang."Lalu apa?" Bara tersenyum dan senyuman itu terlihat seperti mengejek."Aku punya alasan sendiri. Cukup jawab kau menyetujui syarat itu atau tidak?" Senyum yang menghias bibir Bara mendadak hilang dan berubah menjadi kekesalan karena permintaan sang istri sangat aneh. Menurut Bara syarat yang tidak patut untuk menyetujui sebuah perceraian.Dari tangan terlipat di dada kini berpindah tempat. Bara berkacak pinggang menatap Aluna."Apa susahnya tinggal kau tanda tangani. Kenapa harus

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB2. Ingin Ditiduri 🔥

    "Ah ... yah!" Wanita itu bergerak liar di atas tubuh pasangannya. "Lebih cepat, sayang!" Perintahnya sambil menikmati pemandangan di atasnya. Baru saja saat sang pria meminta untuk bertukar posisi. Ponselnya bergetar hebat. Sempat ingin mengacuhkan panggilan itu, akan tetapi terlintas dalam pikirannya jika itu adalah panggilan penting dari klien atau sejenis lainnya. Namun, mendadak ia berubah menjadi muak saat membaca nama yang tertera di layar ponselnya. Ingin menolaknya, tapi ia teringat pada sesuatu hal yang lebih penting. Berubah pikiran? Tentu saja jawabannya iya. Bara memberi isyarat pada wanita yang berada di atasnya untuk memperlambat tempo gerakan. Apakah Bara takut pada Aluna, sang istri? Bukan. Bara tidak takut pada sang istri. Hanya saja Bara tidak rela jika Aluna mendengar desahannya yang begitu sangat berharga. Bara memang sok jual mahal pada Aluna, istrinya sendiri. Mengingat satu hal yang pernah dilakukan oleh Aluna dan itu membuat Bara benci dan jijik, ta

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status