LOGIN"Aku sudah melakukannya. Berhasil atau tidak itu urusan belakangan. Yang pasti aku sudah melakukan yang terbaik."
Aluna berdiri di depan cermin kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Ia menatap pantulan bayangan dirinya sendiri. Setelahnya ia keluar dan meraih sesuatu di atas nakas. Tangannya menari di atasnya dengan lembut. Meletakkan kembali ke tempat semula dan menatapnya. Menarik napas berat, lalu menoleh ke belakang. Di sana banyak tumpukan baju miliknya. "Aku harus segera membereskannya," bisik Aluna pelan. Berdiri berlahan menghampiri tumpukan pakaiannya yang tertata rapi di atas ranjang. Beberapa menit kemudian, setelah semua beres, Aluna melangkah keluar dan masuk ke salah satu ruangan. "Kau bisa telat ke kantor jika kau tidak bangun sekarang juga." Wanita itu menutup pintu dan melangkah mendekati lemari. Bara belum juga beranjak dari ranjang. Matanya menyipit dan mengikuti langkah Aluna. Lalu Bara bangun, sedikit meregangkan tangannya. Aluna melangkah dan mendekati ranjang tempat Bara duduk di tengah-tengah ranjang dengan kedua mata yang terus memperhatikan wanita itu. Tangan Aluna terulur mengulurkan handuk untuk Bara. Aluna menatap dengan tatapan lembut dan senyuman yang sangat manis. Pria itu menerima uluran tangan tanpa mengatakan sepatah kata apapun. Kurang lebih 10 menit berlalu, Bara selesai mandi. Ia melihat sang istri sedang menyiapkan pakaian kerjanya di atas ranjang. Bara juga melihat jika tempat tidur sudah rapi. "Pakai pakaianmu dan aku tunggu di ruang makan." Aluna beranjak dan pergi dari sana. "Aluna, surat cerainya sudah kau tandatangani?" Aluna menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu. "Sudah. Tenang saja. Aku pasti akan memberikan surat itu padamu." Saat sibuk berpakaian, pria itu memikirkan kejadian semalam. Syarat aneh yang masih mengusik pikirannya. Terlebih lagi Bara sempat berpikir jika Aluna punya niat lainnya. Otak Bara masih berputar. Aluna dengan mudahnya menandatanganinya? Padahal sebelumnya sangat dipersulit. Lalu yang semalam itu untuk apa? Apakah dengan menidurinya, otaknya mendadak konslet? Atau mungkin ia berharap aku akan berubah pikiran? "Ah, dasar wanita aneh!" gerutu Bara. "Kenapa aku jadi pusing memikirkannya. Yang penting surat sudah ia tandatangani," lanjut Bara. Dalam kesendirian di kamar itu, Bara tidak tahan untuk tertawa. Ia menahannya jangan sampai Aluna mendengarnya. Ya, tidak ada yang istimewa dari percintaan yang ia lakukan semalam, kecuali satu hal. Fakta jika Aluna masih perawan. Bagi Bara, Aluna bukanlah perawan pertama yang pernah ia terjang. Sudah banyak wanita perawan yang Bara terjang. "Ck ... tidak ada yang istimewa dan tidak ada yang membuatku terkesan ...." Bara keluar dari kamar setelah dirinya sudah terlihat rapi dan sempurna. Bara melangkah menuju ruang makan dan di sana Aluna sudah menunggu sambil bermain benda pipih yang ada di tangannya. Aluna segera meletakkan ponselnya saat Bara sudah duduk di kursinya. Keduanya mulai makan tanpa ada percakapan. Bara tidak tahu apa yang ada di dalam kepala Aluna, tapi Bara masih memikirkan kejadian percintaan semalam. Setelah selesai sarapan, Aluna membereskan meja makan dengan keadaan yang sama tanpa ada sapaan. Bara terus memperhatikan Aluna sampai sebuah kalimat terlontar karena rasa penasaran Bara. "Aluna, sungguh kau sudah menandatangani surat itu?" "Sudah," jawab Aluna singkat. "Akan kuambilkan setelah aku selesai mencuci piring ini." Membalikkan badan dan tersenyum. Bara terus memperhatikan Aluna yang tengah sibuk di depan wastafel. Ada satu pertanyaan yang masih mengganjal dipikiran Bara. "Aluna ...." Berusaha mengambil atensinya. "Tentang syaratmu itu ...." Terjeda untuk beberapa saat. Belum sempat Bara menyelesaikan kalimatnya. Bara sudah bisa melihat tangan Aluna berhenti untuk beberapa saat, lalu kembali lagi beraktivitas tanpa menghiraukan perkataan Bara atau memang sengaja tidak ingin menjawab. "Kau bisa saja pergi dalam keadaanmu yang masih suci tanpa ternodai dan itu akan lebih mudah untukmu dalam menjalani hubunganmu selanjutnya." Bara menyandarkan tubuhnya di headboard kursi dan tangannya terlipat di dada. "Kau bisa bilang jika suami mu ini br*ngs*k dan semuanya selesai. Jadi kenapa?" Pertanyaan yang simple, tapi terkesan membuat Bara terlalu kepo dan ingin tahu alasan yang jelas dibalik syarat aneh yang diajukan oleh sang istri. Dan sampai detik itu juga Bara masih berusaha memecahkannya. Aluna tidak bergeming sedikit pun. Ia tetap melakukan pekerjaannya di depan wastafel sampai selesai. Tangan Aluna terulur pada sebuah kain yang tergantung di sisi kanan wastafel dekat lemari es. Dengan pelan Aluna mengusap lembut air yang masih tertinggal di kedua tangannya hingga kering. Sebelum akhrinya Aluna membalikkan badan dan menatap Bara. "Atau mungkin kau hanya ingin membuktikan padaku jika kau ini tidak selingkuh," tebaknya sambil tertawa ringan memiringkan bibirnya. "Sejujurnya, ya Lun. Itu tidak akan mengubah cara pandangku terhadapmu. Apapun alasannya, dengar Aluna. Ada banyak orang yang selingkuh tanpa melakukannya atau mungkin belum kau lakukan saj—" "Itu karena mama," sela Aluna melangkah melewati Bara dan berjalan menuju kamarnya."Aku setujui permintaanmu itu, tapi dengan syarat. Selama satu bulan kau tidak boleh melakukan hal itu dengan wanita-wanita koleksimu. Begitu kau gagal, maka aku akan langsung mengajukan gugatannya."Bara tertawa pelan, suara baritonnya bergetar rendah di keheningan kamar. "Itu saja syaratnya?""Itu saja katamu?" Aluna mengulanginya dengan sangsi. "Aku saja tidak yakin kau sanggup melalui satu bulan tanpa koleksi wanitamu itu," lanjut Aluna sembari mengulas senyum masam."Itu mudah sekali, Aluna," kata Bara menertawakan keraguan istrinya. Pria itu perlahan merangkak di atas ranjang, mengikis jarak untuk mendekati wanita yang ada di hadapannya. "Di sini, aku punya istri." Bara menatap Aluna dengan senyum smirk penuh kemenangan.Aluna membelalakkan matanya saat Bara mendorong bahunya, membaringkan tubuhnya kembali ke atas kasur dengan gerakan yang justru terasa sangat lembut."Bar..." Aluna mulai panik saat menyadari tubuh kekar pria itu sudah mengungkungnya dari atas."Penuhi ha
Aluna kembali membuka mata. Tetap saja ragu, walaupun mustahil jika ia salah dengar. Perlahan ia menoleh untuk kembali menatap Bara. Lama Aluna menatap Bara hingga tiba-tiba saja wajah serius Bara berubah geli lalu tertawa pelan. "Kau tidak mungkin berharap jika aku serius, kan?" kata Bara bangkit dari rebahannya untuk duduk. Aluna kembali menatap langit-langit kamar tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Aluna kembali menoleh saat merasakan tempat tidurnya bergerak dan menemukan Bara hendak turun dari ranjang. "Sepertinya memang aku tidak bisa jika harus tidur seranjang denganmu," Bara bangkit. "Aku akan tidur di sofa saja," lanjutnya lalu beranjak dari teempatnya. "Aku pun tidak berharap kau akan serius dengan perkataanmu yang tadi," kata Aluna. "Tapi aku tahu, kau tidak pernah seserius itu bilang padaku sebelumnya." Kata-kata Aluna membuat langkah Bara terhenti. Dadanya terasa tidak nyaman. Bukan ketahuan telah berbohong yang menjadi penyebabnya, tapi kecemasan akan tan
Bara terbangun karena tekanan yang sangat luar biasa sakit yang menyerang pada bagian kepalanya. Hal itu dikarenakan sisa mabuk yang dialaminya semalam. Bara melirik jam dinding yang bertengger cantik pada dinding kamar dan menunjukkan pukul empat pagi. Ia turun dari ranjang dan keluar dari kamar untuk minum.Selesai minum Bara memperhatikan sekeliling unit apartemen milik Aluna yang Bara tahu itu adalah hadiah pernikahan dari ibunya. Di mana Aluna ? Apa pria itu semalam datang dan melihatnya? Apa mereka mencari tempat lain dan Aluna meninggalkannya sndirian di apartemen ini? Ya, itu semua pertanyaan yang bercokol di dalam pikiran Bara.Bara sampai di ruang tamu dan menemukan Aluna berbaring di salah satu sofanya. Bara menghampiri dan duduk di meja tepat di depan Aluna terbaring. Baru sadar ternyata wanita itu terlelap dan Bara berpikir mungkin wanita itu ketiduran saat menunggu kekasihnya yang tak kunjung datang."Bangun!" Bara mengguncang tubuh itu sesaat. Dan hal itu cukup membuat
Aluna kesal dengan satu kalimat yang dilontarkan Bara untuknya. Merasa tidak terima dengan apa yang dituduhkan Bara pada dirinya. "Apa maksudmu, Bar?""Kau lihat sendiri!" kata Bara setengah tertawa. "Kenapa harus priamu itu yang lebih berhak ada di sini daripada aku, suamimu sendiri, hah?" jelas Bara. "Istri macam apa yang melempar suaminya ke wanita lain? Atau kau melakukan itu supaya kau bisa mengurus laki-laki lain?"Aluna diam saja. Ia tidak ingin berdebat dan juga tidak bisa mendebatkannya."Aku masih terima jika kau hanya mengibuliku," kata Bara menunjuk dirinya sendiri. "Tapi aku jadi muak tiap kali ingat bagaimana sayangnya mamaku padamu. Dia membangga-banggakanmu di depan teman-temannya, sedangkan kau aslinya hanya penipu licik yang gila harta.""Jaga bicaramu, Bara!" kata Aluna pelan.Bara tertawa pelan menyadari jika ia sudah membuat istrinya itu marah walau masih terlihat sangat tenang. Walau suaranya tenang tanpa geraman, ta
Bara menolak untuk dibawa ke unit rumah Monika, akan tetapi Aluna tetap bersikeras ingin mengantarkan Bara ke sana. "Bar, aku sedang menunggu orang dan aku tidak ingin ia melihatmu ada di sini. Apalagi dengan kondisimu yang mabuk seperti ini," kata Aluna tenang. Bara menoleh menatap Aluna, "Menunggu siapa, hah?" Bara mendekatkan wajahnya dan menatap Aluna dengan mata merahnya yang tidak fokus. "Menunggu selingkuhanmu itu?" Aluna mendorong tubuh Bara pelan. Jujur Aluna sungguh muak dengan bau alkohol itu. "Kau pasti sedang menunggu si El itu?" lanjut Bara. "Iya. Jadi ada baiknya aku mengantarkanmu ke rumah Monika sebelum ia sampai ke sini," jawab Aluna. Bara tertawa keras. "Jadi, selingkuhanmu itu yang lebih berhak ada di sini daripada suamimu sendiri?" tanya Bara tidak habis pikir. Aluna tampak diam ragu, ia tidak ingin menanggapi dan tidak ingin menyanggah juga karena Bara juga ada benarnya juga. "Jika begitu, biar aku di sini," Bara menghempaskan diri di sofa ruang tamu dan
Gelas kristal kedua di hadapan Bara kini sudah menyisakan separuh. Di bawah temaramnya lampu bar yang bergerak lambat mengikuti ketukan musik jazz, kesadaran pria itu perlahan mulai terombang-ambing oleh pengaruh alkohol yang kian pekat. Namun, alih-alih mendapatkan ketenangan yang ia cari sejak sore tadi, cairan amber yang membakar kerongkongannya itu justru memantik reaksi sebaliknya. Alkohol sialan itu malah memperkuat ilusi kepemilikan yang mendarah daging di dalam benaknya. Seolah-olah Aluna masihlah wanita yang bisa ia kendalikan sepenuhnya, bukan sosok dingin yang mengusirnya tadi siang. Pikiran itu terus berputar, membakar habis sisa akal sehat di kepalanya. Dalam kondisi setengah mabuk dengan tatapan mata yang mulai menyayu, fokus Bara mendadak terusik. Seorang wanita asing dengan gaun malam berpotongan rendah melangkah mendekat, lalu tanpa permisi menduduki kursi kosong tepat di sebelah kanannya. Aroma parfum berbau manis menyengat seketika menyerbu indera penciuman Bara,
Di dalam ruang makan privat yang masih diselimuti keheningan mencekam, Tama memajukan tubuhnya. Ia menatap Bara dengan ragu sebelum melontarkan pertanyaan krusial yang sejak tadi mengganjal di benaknya. "Pak Bara... lalu bagaimana dengan rencana awal kita?" tanya Tama dengan suara rendah, berhat
Berita meninggalnya istri Radit sampai juga ke telinga Bara dan Anggun. Bara mendengar berita itu di jam istirahat siang. Aroma steik yang menggugah selera baru saja tersaji di atas meja marmer ruang makan privat BMA Corp. Ini adalah jam makan siang, momen yang biasanya digunakan Bara untuk melep
Keesokan harinya, kecemasan yang membakar dada Citra akhirnya memuncak. Setelah semalaman diabaikan oleh Radit dan Chika, wanita paruh baya itu nekat mendatangi Anggun Mahesa. Ia butuh pelampiasan, atau lebih tepatnya, tempat untuk melemparkan kesalahan atas kehancuran yang kini di ambang pintu.
Tangan itu menyulutkan korek api gas dan membakar ujung gulungan kertas berisi tembakau dan perintilannya hingga berwarna merah serta mengeluarkan asap. Ia duduk membelakangi seseorang. Lalu ia memutarkan kursinya hingga menghadap ke orang tersebut. Orang itu sempat kaget saat melihatnya. Bukan ata







