LOGINSinar keemasan yang dipancarkan matahari sore itu menyatu sempurna dengan bunga kuning pohon Tabebuya yang sedang mekar, memberikan kesan estetika yang indah di sepanjang jalan depan kampus.
Di bawah salah satu pohon berukuran sedang itu, Alea duduk mengemper di trotoar beralaskan jaket kulit milik si pria yang sudah tampak mulai kusam. Ilham sendiri duduk di jok motornya, berhadapan langsung dengan Alea yang kini sedang fokus mengobati beberapa luka di kakinya, berbekal kotak P3K yang katanya memang selalu di bawa Alea di mobil. Suasana yang tercipta itu bagai dejavu bagi Ilham, sosok gadis kecil dengan rambut panjang yang selalu di kuncir kuda itu kini sudah tampak jauh lebih dewasa, dengan penampilan yang berhasil membuatnya terkecoh. Namun perhatian dan sikapnya ternyata sama saja, gadis berhijab di hadapannya saat ini tetap saja Alea, si gadis manis yang selalu sigap mengobati lukanya sembari memberi ocehan panjang terkait dirinya yang tak pandai menjaga keselamatan. Seutas senyum tipis tak pernah luntur dari wajah Ilham, sepanjang Alea memulai ceramah tentang pentingnya berkendara dengan aman, sepanjang itu pula senyum tipis tersungging. Sampai satu titik sinar matahari jatuh mengenai kepala Alea dari ufuk barat, membuat Ilham reflek mengangkat sebelah tangannya, menghalangi Alea dari paparan itu. Komentar Alea berlanjut pada luka lama di lutut Ilham, luka yang bersebelahan dengan luka baru yang tengah ia obati. Itu adalah luka dari kejadian yang sama, jatuh dari motor, saat Ilham baru bisa mengendarai kendaraan roda dua itu. Yang sialnya justru di dapat bersama Alea, karena saat SMP dulu mereka memang selalu berangkat dan pulang sekolah bersama. Bahkan Alea pun punya bekas luka yang sama di lututnya juga. "Ada luka yang lain?" Tanya Alea begitu luka di bagian kaki Ilham selesai ia obati. Ilham segera menarik tangannya yang tadi menghalangi sinar matahari dan menunjukkan goresan tipis di punggung tangan sebelah kirinya. "Makin dewasa, harusnya kamu tuh makin bisa berkendara dengan lebih aman." Lanjut Alea mengoleskan obat merah ke luka Ilham dengan kapas yang baru. Tatapan Ilham kembali terkunci pada wajah gadis itu, jika sejak tadi ia harus menunduk untuk bisa melihatnya, kini wajah teduh itu terpampang jelas di hadapannya. "Kalau aku nggak jatuh hari ini, mungkin kita nggak akan ketemu Lea." Gerakan Alea terhenti, pandangannya beralih pada manik Ilham yang sama sekali tak ada niat berpaling. Saat seutas senyum manis kembali menghiasi wajah Ilham, entah kenapa jantung Alea justru berpacu, bergemuruh dengan cepat. Alea berdeham pelan, membuang pandangan ke arah gerbang kampus yang mulai sepi dengan perasaan yang tidak karuan. Sialnya, Ilham justru tak berpaling sedikit pun, sudut bibirnya justru tertarik semakin naik. "Kata siapa? Kita justru udah ketemu dari kemarin." Beritahu Alea. Senyum dibibir Ilham kini berganti kerutan di dahinya, "Kapan?" Wajah Alea kembali menghadap pada Ilham, "Kemarin, di masjid. Aku samperin kamu tapi nggak kamu respon sama sekali." Ilham diam sebentar, mencoba mengingat kejadian yang Alea maksud, sampai ingatannya berputar pada perempuan asing yang menurutnya sok akrab di emperan masjid kemarin sore. Mata Ilham melebar, "Itu kamu?" "Iya. Bisa-bisanya kamu cuekin aku kayak gitu." "Maaf, kemarin kondisinya agak sedikit kacau, jadi aku nggak terlalu fokus sama sekitar." Alea bisa paham, bahkan kemarin pun Ilham tampak seperti orang panik. Dan juga seperti yang tadi dia bilang, Alea sangat amat berbeda jadi wajar kalau di kondisi demikian, Ilham tidak bisa langsung mengenalinya. Gadis itu melanjutkan kegiatannya, sebelum kembali bertanya, "Memang kemarin kenapa? Ada masalah?" "Sedikit." Tanggap Ilham tenang. Alea sebenarnya ingin bertanya lebih banyak, tapi menyadari tanggapan singkat Ilham, Alea merasa mungkin pria itu tak ingin berbagi cerita lebih jauh jadi coba ia hiraukan. Saat senja mulai tampak menghias langit, menggantikan sinar keemasan tadi dengan cahaya jingga yang memanjakan mata, keduanya lantas beralih ke masjid untuk menunaikan sholat maghrib berjamaah dengan mengendarai mobil Alea. Sebenarnya jarak dari kampus ke masjid cukup dekat, bahkan biasanya Alea sendiri lebih memilih jalan kaki ketimbang harus repot cari tempat parkir. Tetapi mengingat kondisi kaki Ilham yang tidak terlalu baik, jadi ia mengusulkan mereka untuk naik mobil dan membiarkan pria itu duduk tenang di kursi samping kemudi. Setelah melaksanakan sholat dan mengganti mukena dengan hijab pashminanya kembali, Alea bergegas keluar dari sana. Ilham sendiri sudah ada di depan, duduk di emperan menunggunya. Melihat pria itu di sana, rasanya seperti mimpi, Alea bahkan pernah berpikir mungkin mereka tidak akan bertemu lagi setelah kehilangan kontak. Tapi hari ini, pria itu duduk di depan sana, menunggunya seperti dulu. Alea menghembuskan napas pelan, mengatur debaran jantungnya yang entah kenapa selalu kelewat batas sejak tadi, setelah itu barulah ia beranjak mendekati Ilham, duduk di sampingnya untuk ikut mengenakan sepatu. "Makan dulu yuk." Ajak Alea. Ilham melirik jam tangannya sebentar, hampir pukul tujuh malam, "Mau makan apa?" Tanyanya kemudian. "Kamu punya rekomendasi nggak? Resto atau cafe tempat biasa kamu makan?" "Ada. Tapi agak jauh dari sini." "Nggak apa-apa, ayo kesana." Tanggap Alea cepat setelah kedua sepatunya terpasang sempurna. Dengan semangat ia beranjak lebih dulu ke arah mobilnya terparkir, tapi saat hendak membuka pintu kursi kemudi, Ilham dengan sigap menahannya. "Biar aku yang nyetir." "Tapi kaki kamu_" "Cuma luka kecil Lea, nggak masalah." "Yakin?" Ilham mengangguk mantap. Alea lantas mengacungkan tangan pertanda setuju dan segera memutari badan mobil untuk masuk ke kursi samping kemudi sementara Ilham mengambil alih posisinya. Mobil mulai bergerak kearah berlawanan dari kampus, keluar ke jalan raya dan menyatu dengan kendaraan lain di bawah temaram lampu jalan yang kini mengambil alih tugas sebagai penerang bersama cahaya bulan. Sekitar lima belas menit berkendara, mobil tersebut berbelok ke bundaran dan berhenti di depan sebuah bangunan dua lantai dengan banner besar bertuliskan 'Autentik Cafe'. "Pernah kesini nggak?" Tanya Ilham memecah pengamatan Alea pada bagunan tersebut. Alea menggeleng, "Aku sering lewat sini, cuman nggak pernah mampir." Ia lalu mengikuti Ilham keluar dari mobil, "Kamu sering makan disini?" Tanya Alea mengikuti Ilham masuk. "Bisa dibilang hampir tiap malam aku makan disini." Begitu masuk, suara seorang pria yang duduk dibalik meja kasir langsung menyambut. Menyapa Ilham dengan sapaan akrab yang terdengar jelas. "Eh, bawa siapa lo?" Seru kasir itu tanpa meninggalkan tempat, "Tumben banget bawa cewek." "Teman." Kata Ilham tak menanggapi lebih jauh dan segera meminta nomor meja padanya. "Yang di lantai atas." "Teman atau pacar Mas?" Goda temannya melirik Alea. "Kalau pacar, ya harus di rayakan dong. Masa lepas jomblo diam-diam ajah, nggak asyik lo." "Kalau memang pengen ngerayain, izinin gue libur hari ini."Dari arah utara kantin sekolah, seorang gadis berseragam SMP dengan rambut agak pendek yang dikuncir kuda berlari menuju kelasnya di bagian selatan paling ujung dengan langkah cepat.Senyumnya mengembang sempurna begitu kakinya mencapai ambang pintu kelas, ruangan itu tampak sunyi –bertolak belakang dengan keadaan diluar yang tampak riuh dan kacau oleh suara teriakan para siswa.Tatapan Alea menyisir penjuru ruangan, hingga netranya menangkap sosok siswa pria yang sedang terlelap di bangku ketiga barisan paling dekat dengan pintu masuk.“Ilham!” Alea menghampiri pria itu dengan semangat penuh.Ilham yang sedang menelungkupkan wajah pada lipatan tangannya diatas meja, bergerak sedikit untuk menatap gadis itu. “Udah kenyang?” gumamnya hendak kembali melanjutkan tidurnya.Tapi Alea segera menarik sebelah lengan Ilham, “Udah,” katanya bergerak duduk di bangku samping Ilham –tempat duduknya sendiri.“Lihat deh, aku beli apa.” Alea memamerkan dua buah buku dengan sampul agak tebal bertulisk
‘Aku di bawah,’ pesan tiba-tiba dari Ilham muncul di bilah notifikasi, menyentak perasaan Alea.Ia sudah mewanti Ilham untuk menghubunginya saat akan kembali, agar Alea bisa datang menjemputnya di bandara. Tetapi saat jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, pria itu malah memberinya kabar mengejutkan.Alea menarik sweater rajut berwarna hijau muda dari kursi belajarnya serta tak lupa mengenakan hijab instan sebelum bergegas turun, hendak memastikan apakah sosok yang sudah ia nanti kepulangannya itu benar-benar sudah ada disana.Kondisi rumah saat ini sudah sangat sepi, Bunda sepertinya sudah terlelap karena kelelahan. Apalagi cuaca malam ini jauh lebih sejuk dari biasanya.Begitu Alea membuka pintu utama angin langsung berhembus untuk menyambut, membuat Alea reflek menarik kedua sisi sweater untuk dirapatkan pada tubuhnya sebelum ia melanjutkan langkah menuju gerbang.Ilham yang duduk bersandar di atas jok motornya langsung mengangkat wajah dari layar ponsel begitu mendengar suara
Meski Ilham tak punya barang mewah tapi ia cukup tahu berapa harga barang yang Alea kasih hanya dari nama brandnya.Ia memasukkan kotak itu lagi dan mengembalikannya pada Alea, "Kasih aku hadiah yang nilainya sama saja dengan buket itu, jangan barang mahal."Bukan berarti Ilham tidak menghargai pemberian Alea tapi ia hanya merasa tidak layak, karena bahkan barang yang diberinya jauh dari kata sebanding dengan barang itu."Kalau kamu menganggap hadiah dari aku itu mahal karena harganya, maka buat aku buket ini jauh lebih mahal karena usaha kamu untuk bisa membuatnya.""Itu nggak sebanding.""Memangnya kamu pernah buat buket untuk perempuan lain?" Todong Alea."Ya enggak lah, tapi tetap ajah_""Kalau gitu, aku hargai buket ini dengan jaminan khusus." Alea menatap Ilham tepat di maniknya, "Jadikan aku satu-satunya perempuan yang kamu buatkan buket, jangan ada orang lain lagi."Ilham mengalihkan pandangan ke depan, "Tanpa kamu minta pun aku akan ngelakuin itu," timpalnya membuka kembali k
Karena kosan milik Ilham cukup kecil untuk menampung Papah dan adik-adiknya jadi saat mereka datang, Ilham menyewakan penginapan untuk mereka. Tetapi mengetahui hal itu, Bunda mengajak mereka untuk menginap di rumahnya malam ini. Memanfaatkan momen langka itu, Gina dan Indah menghabiskan malam di sana dengan banyak mengobrol bersama Alea di kamarnya. Tak hanya itu, Alea bahkan meminta mereka untuk memilih barang-barang miliknya yang kedua gadis itu suka. Mulai dari pakaian, tas, aksesoris bahkan sampai buku-buku koleksinya. Semua di bebaskan pada keduanya jika memang ada yang mereka ingin ambil. Alea sebenarnya ingin sekali mengajak mereka berbelanja tetapi waktu tidak memungkinkan karena rencananya besok mereka sudah akan pulang. Hal itu karena Gina sudah kelas tiga SMP dan Indah kelas enam SD, jadi mereka tidak boleh izin terlalu lama. Di tengah kegiatan itu, Alea yang begitu bahagia menyaksikan mereka sibuk mencoba barang-barangnya teralihkan sedikit kala ponselnya berdentin
Setelah perjuangan panjang untuk bisa menyelesaikan skripsi dan sidang, hari ini sepertinya para mahasiswa semester akhir sedang bersuka ria menyambut hari kelulusan mereka.Dengan mengenakan toga hitam, para wisudawan dan wisudawati berkumpul di aula kampus di saksikan secara langsung oleh wali mereka sebagai perayaan kelulusan sarjana strata 1.Moment yang paling di nanti-nantikan Alea dan yang lain tentu saja, meski kelulusan ini bukan akhir dari perjuangan mereka tetapi justru baru menjadi awal dari langkah panjang untuk terjun ke dunia yang sebenarnya.Dunia dimana seseorang sudah harus mulai belajar untuk mengambil peran penting dan juga tanggung jawab akan dirinya sendiri.Namun di tengah suasana bahagia dan haru itu, ada secuil perasaan lain yang mencuat secara tiba-tiba dalam hatinya.Di ruangan besar ini, ada moment dimana Alea merasa sebagian dalam hatinya terasa kosong.Merasa bahwa perayaan yang dinanti-nantinya ini terasa tidak lengkap, sama seperti saat merayakan kelulu
Sekitar jam setengah sepuluh pagi, Alea sampai di toko bunga. Ia turun dari mobil dengan senyum cerah kala melihat motor milik Ilham sudah terparkir rapih di depan tokonya.Pria itu tidak bisa di ragukan lagi sikap pekerja kerasnya, Alea sudah memberitahunya untuk datang di jam sepuluh tapi ia malah sampai di sana lebih dulu."Assalamu'alaikum," ucap Alea kala memasuki toko."Wa'alaikumussalam," salamnya langsung di sambut oleh kedua karyawannya yang sedang sibuk menata bunga baru, juga oleh Ilham yang tampak sedang melakukan hal yang sama.Melihat kesibukan pria itu, Alea beranjak mendekatinya. "Ngapain kamu?""Aku bantuin mereka," kata Ilham mengulas senyum tipis.Salah satu karyawan disana segera menjelaskan, "Tadi kami sudah larang Mbak, tapi Mas Ilhamnya tetap mau bantu.""Aku bosan cuma duduk dari tadi Lea," kata Ilham lagi."Dia ini tangannya memang gatal kalau lihat orang kerja tapi dia nggak ngelakuin apapun," canda Alea pada kedua karyawannya.Ilham lalu melanjutkan kegiatan
Obrolan mereka berlangsung hangat, perlahan kecanggungan yang sempat menimpa Alea menyusut membuatnya ikut larut dalam kehebohan ketiga teman Ilham.Beberapa saat kemudian, Ilham memberikan selembar uang merah pada Yusuf, memintanya membeli minuman untuk mereka.Hal itu mencuri
"Dan sampai sekarang, kondisi Papah nggak pernah benar-benar pulih. Beliau masih harus rutin konsumsi obat." Kecelakaan yang di maksud Ilham, adalah kecelakaan yang sama dengan kecelakaan yang menghilangkan nyawa Ayah Alea. Syukurnya saat itu, Papah Ilham berhasil di selamatkan meski dalam keadaan
Senyum Alea luntur seketika, wajahnya berubah pucat pasi. Apa kata Ilham? Tante Intan sudah meninggal?"Mamah meninggal lima tahun lalu, tepat saat dia melahirkan Galih." Jelas Ilham dengan suara serak.Tak ada air mata yang jatuh di pipi pria itu, namun dari suaranya, Alea bisa tahu bahwa itu sesu
"Gampang itu mah, kenalin dulu ini siapa?" Cecar pria di kasir itu. "Nggak gue kasih tempat duduk nih kalau nggak jelas." Ilham berdecak, merebut nomor meja dari pria itu dengan mudah. "Teman gue Reno, namanya Alea." "Oohh." Senyum sumringah pria yang di panggil Reno itu tercetak jelas, menatap A







