共有

BAB 2

作者: Dhia Dharma
last update 公開日: 2026-02-22 17:42:47

Alea tersentak kaget, seiras dengan reaksi orang-orang di sekelilingnya. Sementara berjarak beberapa meter di depan sana, motor yang di kendarai pria tadi menghantam pohon tabebuya di pinggir jalan dan tergelincir di atas trotoar.

Di sisi seberangnya, ada motor lain yang di kendarai ibu-ibu dari arah berlawanan yang tadi hampir saja pria itu hantam.

Beberapa mahasiswa pria segera berlarian untuk membantu, riuh suasana kembali terdengar diisi dengan teriakan dan obrolan panik.

"Kalau mau belok lampu sennya di nyalakan dong Bu." Salah satu suara paling jelas yang bisa Alea dengar.

Yang lain menimpali dengan omelan yang hampir sama, ibu-ibu yang juga terlihat kaget itu masih sempat memberi beberapa respon pembelaan yang sama sekali tak diindahkan siapapun.

Alea mengikuti mahasiswa lain untuk mendekat, mencoba melihat dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi. Namun karena banyaknya kerumunan membuat Alea hanya bisa mengawasi dari jarak yang tidak bisa dibilang dekat.

Motor pria tadi sudah di pindahkan ke bawah pohon, sementara pemiliknya sibuk di tanyai perihal luka yang ia dapat, ibu-ibu tadi justru sudah tancap gas untuk pergi setelah memastikan pria itu baik-baik saja dan hanya lecet sedikit.

Perlahan, kerumunan disana mulai merenggang, mahasiswa yang memang kebanyakannya sudah hendak pulang mulai beranjak pergi. Hanya menyisakan beberapa pria yang masih sibuk mengecek motor dan membahas kronologi kejadian.

Tapi yang membuat Alea tak beranjak adalah sosok pria yang tadi kecelakaan itu, dia benar adalah pria yang kemarin Alea temui di masjid, pria yang sudah di carinya keliling kampus sejak siang tadi. Tapi Alea tak berani mendekat, lebih tepatnya tak enak dengan pria-pria lain yang ada disana.

Sampailah saat beberapa dari mereka beranjak pergi menyisakan Ilham dengan dua pria lain yang terlihat cukup akrab dengannya, baru Alea memberanikan diri untuk mendekat.

Tatapan ketiga pria itu sontak mengarah pada Alea, tapi Ilham tetap saja cuek, hanya melihatnya sekilas kemudian beralih menatap nanar kendaraannya.

"Ilham." Alea memberanikan diri menyapa lagi, menebalkan wajah jika memang ia terbukti salah orang.

Kening pria itu berkerut dalam, menatap Alea seolah melihat orang asing.

"Siapa?" Tanya salah satu temannya dan Ilham hanya menanggapi dengan mengangkat bahu acuh.

"Nggak tahu." Komentar Ilham beranjak mengecek motornya yang tengah coba di nyalakan oleh teman yang satunya.

Kepercayaan diri Alea merosot mendengar nada dingin itu, tapi ia tetap di sana. Sampai suara motor Ilham terdengar dan bisa berfungsi dengan baik, kedua temannya tadi akhirnya memilih untuk pamit pergi lebih dulu.

Ilham yang terlihat agak pincang saat berjalan itu juga bersiap untuk pergi, hendak memakai helm hitamnya kembali namun tertahan saat menyadari Alea masih di sana.

"Kamu beneran nggak kenal aku?" Lirih Alea dengan tatapan nanar, nyaris kecewa.

Pria itu mengurungkan niatnya, ia menyimpan helm di motornya dan mendekat sedikit pada Alea. Kali ini tatapannya memicing, seakan ada bayangan seseorang yang tidak asing.

"Sebentar, kamu_"

"Alea." Potong Alea cepat. "Alea Uyaina Akbar. Ingat?"

Tatapan Ilham tertahan cukup lama, meniti setiap sudut wajah Alea. Lalu satu alisnya naik seakan mencari kebenaran dari ucapan gadis itu.

"Kamu Ilham kan?" Geram Alea karena pria itu kembali hanya diam.

Tak berapa lama, seutas garis tipis terbit di bibir pria itu. Tatapannya melembut dengan sirat yang tak bisa di jelaskan, tapi yang pasti itu bukan tatapan asing lagi seperti beberapa detik lalu.

"Alea?" Lirih pria itu pelan, nadanya seakan terdengar ragu. Ia melangkah pelan untuk mundur sedikit, mengamati penampilan Alea dari atas hingga bawah.

"Iya, aku Alea, anaknya Bunda Amira. Masa kamu lupa sih?"

Ilham maju kembali selangkah, kali ini matanya justru berkaca, kemudian dia berucap lirih, "Ini beneran kamu?"

"Iya. Ini aku Alea." Seru Alea entah untuk yang keberapa kali. Namun kini, wajahnya memancarkan ekspresi senyum cerah. Bahagia yang tidak bisa ia tutupi saat menyadari orang di depannya mulai mengingat siapa dia.

"Ah, sory, aku sama sekali nggak bisa ngenalin kamu." Aku Ilham masih dengan ekspresi tak percaya.

Alea memperhatikan penampilannya sendiri, "Apa aku se beda itu? Perasaan sama aja."

Senyum Ilham mengembang sedikit, tangannya terulur menunjuk hijab yang Alea kenakan. Atas dasar apa Alea mengatakan penampilannya tak banyak berubah?

"Cewek tomboy yang hobi nguncir rambut sekarang malah berubah feminim dan pakai hijab, itu yang kamu sebut nggak berubah?"

Dalam ingatan Ilham, sosok teman kecilnya itu sangat amat berbeda dari perempuan yang ada di hadapannya saat ini. Ilham akui, dari segi wajah, Alea tetap sama, hanya sedikit lebih dewasa.

Tapi jika hanya melihatnya sekilas atau tidak benar-benar memperhatikannya, jelas bukan hal yang aneh kalau ia tidak bisa mengenalinya.

Alea baginya justru berubah seratus delapan puluh derajat, dia seperti bukan Alea yang Ilham kenal.

"Hidupkan berjalan Ham, wajar dong kalau penampilan aku sedikit berbeda. Bahkan kamu juga, tapi tetap bisa ku kenali." Sindir Alea telak, status keakraban mereka di masa dulu sepertinya patut di pertanyakan.

"Tapi perubahan kamu besar banget Lea." Tanggap Ilham, "Jujur ajah, aku nggak pernah ngebayangin penampilan kamu sekarang ternyata kayak gini."

"Aneh ya?"

Ilham menggeleng cepat, "Nggak, bukan kayak gitu. Aku cuman nggak nyangka ajah."

Bahkan dari segi warna kulit saja, Alea jelas sangat jauh berbeda dibandingkan dulu. Tak ada lagi gadis berkulit hitam manis itu, yang ada sekarang gadis dengan kulit putih cerah yang tampak anggun dengan perpaduan pakaian warna pastel yang lembut, menambah kesan lembut di wajah Alea.

"Bilang ajah itu alasan pengalihan karena kamu nggak bisa ngenalin aku." Dengus Alea berpura-pura kesal.

Suara tawa Ilham terdengar, "Tapi ada satu hal dari kamu yang nggak berubah."

"Apa?"

"Tinggi badan." Kata Ilham reflek mengulurkan tangan hendak menepuk puncak kepala Alea namun gadis itu segera menghindar.

"Bukan mahram." Cicit Alea kikuk.

Tangan Ilham tertahan sebentar, ia mengangguk dengan senyum tipis, sorot matanya menghangat, menyiratkan tatapan bangga.

"Aku senang hidup kamu berjalan ke arah yang lebih baik." Kalimat itu terdengar tulus, bahkan sangat tulus.

Alea dengan bangga memamerkan senyumnya, membenarkan tanggapan Ilham. Dan ini adalah hal yang ingin ia tunjukkan pada pria itu, sejak dulu.

Bahkan di saat mereka berpisah hari itu, Alea berjanji dalam hidupnya bahwa ketika mereka kembali bertemu, ia pasti akan menunjukkan senyum cerah seperti hari ini.

Membuktikan bahwa ia gadis yang kuat, tak akan ada lagi air mata, tak akan ada lagi tatapan kosong yang dulu selalu ia tunjukkan. Alea, sudah berdamai dengan semua luka dimasa lalu itu.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Sayangnya, Pak Pengacara Mau Menikahiku   BAB 13

    "Om benar-benar menantikan kamu untuk bergabung bersama di firma hukum kami," lanjut Dimas dengan senyumnya yang masih bertahan. "Terima kasih banyak atas tawarannya, Om." Kata Ilham sopan. Ia melirik Alea sebentar sebelum melanjutkan, "Hanya saja, saya mungkin tidak akan lanjut jadi pengacara, Om." Senyum Dimas seketika luntur, "Loh, kenapa Ham?" "Dulu Papah mu itu pernah cerita kalau dia mempersiapkan kamu untuk bisa jadi penerusnya." "Saya lebih tertarik lanjut notaris, Om." Terang Ilham tenang. "Apa Papah mu setuju?" Ilham mengangguk pelan,"Insyaa Allah Papah mendukung apapun keputusan saya, Om." Tapi Dimas tak berhenti begitu saja, ia menjelaskan perbandingan tahap dan proses diantara kedua profesi itu. Dimana profesi notaris masih butuh waktu yang lebih lama dan juga biaya yang di perlukan tentu saja akan jauh lebih banyak lagi ketimbang memilih jalur profesi advokat. "Dan yang paling pentingnya, ada Om yang bisa bantu kamu sepenuhnya jika kamu memang bersedi

  • Sayangnya, Pak Pengacara Mau Menikahiku   BAB 12

    Suasana masjid sore itu tampak ramai oleh beberapa orang yang sedang berteduh sembari menunggu hujan reda. Meski tak terlalu deras, tetapi hujan yang turun cukup untuk bisa membuat siapapun yang berani menerobosnya basah kuyup. Karena itulah, beberapa jamaah yang telah melaksanakan sholat memilih untuk menunggu sejenak, termasuk Alea. Gadis itu berdiri di bibir teras sebari menadah air hujan dengan tangannya, sesekali ia mendongak ke atas memperhatikan butiran air yang turun dari langit. "Katanya, salah satu waktu yang mustajab untuk berdoa adalah saat turun hujan," ucap Ilham yang tanpa ia sadari sudah berdiri di sampingnya, ikut menatap langit yang kerkabut awan gelap. Alea meliriknya sekilas lalu kembali melakukan hal yang sama, tapi kali ini ia menarik tangannya dari rintihan hujan. "Hujan dan ba'da ashar, perpaduan yang sempurna." Kata Alea menimpali. "Apalagi ini hari jum'at, momentum double berkah." Keduanya diam sejenak, memanjatkan doa dalam hati. Doa yang tentun

  • Sayangnya, Pak Pengacara Mau Menikahiku   BAB 11

    Obrolan mereka berlangsung hangat, perlahan kecanggungan yang sempat menimpa Alea menyusut membuatnya ikut larut dalam kehebohan ketiga teman Ilham.Beberapa saat kemudian, Ilham memberikan selembar uang merah pada Yusuf, memintanya membeli minuman untuk mereka.Hal itu mencuri perhatian Alea tapi tidak ia cegah, apalagi teman-temannya langsung menyambut dengan semangat dan Yusuf segera beranjak pergi menyeret Dika."Kalian lagi ngerjain skripsi?" Tanya Alea melihat ke arah tiga laptop yang menyala di sana, lengkap dengan beberapa buku paket berserakan."Iya." Jawab Edo melirik jengah pada laptopnya, "Udah beberapa kali revisi tapi masih mentok di bab dua."Tampak jelas sekali dari raut wajahnya jika pria itu sungguh tertekan dengan tugas akhirnya, sama seperti Alea dan Sarah."Yang skripsi nya lancar mah cuma Ilham, tapi laptopnya malah hilang di cu__." Cerocosan Edo terhenti kala Ilham melemparkan tatapan peringatan."

  • Sayangnya, Pak Pengacara Mau Menikahiku   BAB 10

    "Nggak usah Tante, aku masih punya simpanan kok." Tolak Ilham mendorong kembali ponsel Amira dengan gerakan sopan.Alea segera menatap Ilham dengan tatapan protes, tapi Ilham tidak menghiraukannya. "Aku akan minta bantuan Tante kalau memang aku butuh."Amira bertukar pandang dengan Alea kemudian mengangguk, "Ya sudah, tapi kamu janji ya, jangan sungkan sama Tante. Kapan-kapan kalau ada waktu luang, mampir juga ke rumah.""Insya Allah Tante."Bertemu kembali dengan Alea seakan merubah banyak hal dari hidup Ilham, bahkan teman-temannya pun bisa melihat perubahan itu. Sikapnya jadi lebih hangat, lebih sering tersenyum dan terkesan punya semangat hidup.Di bandingkan dulu, Ilham seolah menjalani hidup tanpa tujuan, hanya sekedar menjalani hari dengan rutinitas yang sama. Abu-abu tanpa warna terang atau cerah.Tapi bukan hanya dia, Alea pun nyatanya sama. wajahnya tampak berseri setiap hari. Mereka seakan menemukan alasan yang bisa me

  • Sayangnya, Pak Pengacara Mau Menikahiku   BAB 9

    Langkah Alea tertahan, tatapannya terkunci pada Ilham yang juga tampak terkejut dengan keberadaannya di sana.Ilham yang ada di hadapan Alea saat ini jauh berbeda dengan Ilham yang ditemuinya kemarin. Pria itu tampak lusuh dengan wearpack yang penuh oli dan tangan hingga wajah berlumur kotoran mesin.Bahkan rambut hitam legam dengan potongan mullet yang sebelumnya tertata dengan rapih, kini terlihat agak berantakan dan lepek oleh keringat.Keterdiaman keduanya lalu disela oleh salah satu montir lain, ia menyapa Sarah dan memberitahu bahwa mobilnya sudah selesai."Aku kesana dulu," ucap Sarah sebelum mengikuti montir yang menangani mobilnya dan meninggalkan mereka berdua.Alea mengangguk dan tatapannya kembali pada Ilham begitu Sarah pergi, pria itu sendiri sudah beranjak mendekat sambil melepas kaos tangan putih di tangannya."Kamu kerja di sini juga?""Iya." Jawab Ilham menyeka keringat dengan lengan kirinya, membuat sa

  • Sayangnya, Pak Pengacara Mau Menikahiku   BAB 8

    Ilham menggeleng lesu, "Nggak ada petunjuk, mungkin memang harus beli yang baru.""Pake punya gue aja, gue juga nggak terlalu ngejar wisuda tahun ini. Santai." Seru Dodit tanpa beban.Mereka tahu betul bagaimana posisi Ilham sebagai mahasiswa dengan status penerima beasiswa penuh, ia tentu harus bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu.Tapi dengan hilangnya laptop pria itu menjadi hambatan yang lumayan besar, apalagi skripsi Ilham sudah memasuki bab akhir.Untungnya Ilham masih punya salinan kasarnya jadi ia tidak terlalu pusing, setidaknya untuk mengetik ulang puluhan lembar penelitian itu jauh lebih baik ketimbang harus melakukan penelitian ulang.Ilham tak lagi tinggal lebih lama untuk mengobrol dengan mereka, ia pamit naik ke kamarnya lebih dulu, ingin segera mengistirahatkan tubuh.Namun bukannya langsung menuju kamar mandi untuk bersih-bersih, Ilham justru beralih mengecek ponsel lebih dulu.Ada satu notifikasi pesan baru yang masuk beberapa menit lalu dari Alea, gadis itu menanya

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status