เข้าสู่ระบบ"Gampang itu mah, kenalin dulu ini siapa?" Cecar pria di kasir itu. "Nggak gue kasih tempat duduk nih kalau nggak jelas."
Ilham berdecak, merebut nomor meja dari pria itu dengan mudah. "Teman gue Reno, namanya Alea." "Oohh." Senyum sumringah pria yang di panggil Reno itu tercetak jelas, menatap Alea seakan mahluk baru yang tak pernah ada di muka bumi. Alea sendiri hanya membalas dengan senyum canggung, mereka berkenalan singkat sampai Alea tahu bahwa pria itu ternyata sang pemilik cafe tersebut. "Jadi gue libur malam ini ya?" Reno mengacungkan jempol, "Aman. Anggap ajah hadiah karena lo punya teman cewek." "Btw, mau pesan apa?" Tanya Reno lagi. "Gue datang sebagai pelanggan tapi gue akan ngelayanin diri sendiri." Timpal Ilham membuat Reno berdecak. "Terserah lo lah Ham." Ilham lalu membawa Alea ke lantai atas cafe itu, tempat yang cukup berbeda dengan lantai bawah. Disini tampak lebih lenggang dan santai, bahkan jarak meja satu dengan yang lainnya cukup jauh. Menciptakan suasana yang terkesan lebih privat sedikit meski tanpa sekat. Mereka duduk di meja nomor tiga, sesuai dengan nomor meja yang di berikan tadi. "Kamu tunggu disini dulu, aku ambilin makanan." Kata Ilham lantas menjauh, ia bahkan tak repot menanyai makanan apa yang Alea inginkan. Beberapa saat kemudian, pria itu kembali dengan beberapa hidangan berbahan dasar ayam. Setidaknya ada tiga menu berbeda yang di bawa oleh Ilham, lengkap dengan seporsi nasi putih dan jus jeruk. "Masih suka ayam kan?" Tanya Ilham setelah ia duduk di kursi seberang Alea. Alea tergelak pelan, bisa-bisanya pria itu baru bertanya setelah memenuhi meja mereka dengan makanan serba ayam. "Kalau nggak yakin kenapa pede banget pesan makan tanpa nanya dulu?" "Buat pembuktian kalau aku nggak pernah lupa tentang kamu." Cukup sekali melakukan kesalahan dengan tidak mengenali penampilan baru Alea, Ilham ingin membuktikan bahwa ia tidak pernah lupa pada gadis di depannya itu. Bahkan jika diminta menyebutkan rentetan ke sukaan Alea sekali pun, ia masih sanggup. "Kecuali, kalau kesukaan kamu juga ikut berubah seiring perubahan penampilan kamu." Tambah Ilham. "Enggak lah." Seru Alea canggung. Pernyataan Ilham jelas berdampak pada hatinya, Alea tak berharap sampai sejauh itu. Dan kalau pun Ilham lupa, itu sesuatu yang wajar. Mereka memulai makan malam itu dengan khidmat, sambil di selingi obrolan ringan. Lebih tepatnya Alea yang menghujani Ilham dengan banyak pertanyaan, karena niatan mengajak Ilham makan saat ini memang karena Alea ingin mengulik banyak kehidupan Ilham selama mereka berpisah. Alea memulai dengan pertanyaan sederhana, "Kamu kerja di sini?" "Iya, kebetulan Reno itu senior di kampus." Ilham cerita bahwa ia dan Reno kenal sejak awal masuk kuliah dan kemudian Reno pun menawarinya untuk kerja part time disana, sebagai bartender. Dan setelah penjelasan singkat itu, Ilham mengalihkan topik kearah lain, seakan tak ingin membahas persoalan itu lebih jauh. "Btw, Bunda kamu gimana kabarnya?" "Alhamdulillah baik, cuman gitu masih terlalu sibuk sama kerjaan. Aku kadang suka ditinggal sendiri." Curhat Alea. "Dia kerja buat kamu juga kan." Ilham cukup tahu bagaimana sikap Bunda Alea, perempuan itu memang terkenal pekerja keras dan pantang menyerah. Apalagi setelah di tinggal sang suami, kehidupannya seratus persen hanya fokus pada Alea dan juga karirnya sebagai seorang dokter ahli kandungan. Dan karena hal itu jugalah yang membuat Alea dulunya sering menghabiskan waktu di rumah Ilham, gadis itu dulu selalu mengekor padanya kemana pun dan keluhan akan rasa kesepian itu sudah bukan hal baru bagi Ilham. "Iya, tapi sekarang tuh Bunda makin sibuk, apalagi setelah buka klinik, hampir nggak punya waktu di rumah. Aku kadang sampai protes, maksa Bunda buat libur. Heran juga kenapa di usia segini dia masih harus kerja keras banget." Keluhan Alea tak berarti negatif, ia hanya ingin Bundanya hidup lebih santai sekarang, ia tahu semua itu untuk memenuhi kebutuhannya juga hanya saja Alea juga khawatir dengan kesehatannya. Apalagi setelah membuka klinik, Bundanya harus membagi waktu bekerja di dua tempat karena meski Alea memintanya berhenti dari rumah sakit dan fokus praktek sendiri saja, Bundanya tetap tak mengindahkan. Berpegang teguh pada prinsip bahwa ia masih sanggup dan senang bisa membantu lebih banyak nyawa lahir ke dunia. Alea terus bercerita di sela makannya dan Ilham sama sekali tak terlihat terganggu, bahkan ia cukup menikmati momen itu. Karena sejujurnya, ia pun juga ingin tahu lebih banyak tentang Alea, tentang bagaimana gadis itu menghabiskan waktu selama ini tanpa adanya kebersamaan di antara mereka. "Mamah, Papah dan adik-adik kamu sendiri gimana? Sehat?" Tanya balik Alea. "Jujur, aku kangen banget sama Gina dan Indah, mereka sekarang udah gede pasti ya?" Saat Alea memutuskan untuk pindah dulu, dua adik perempuan Ilham itu masih kecil dan imut-imut lucu. Gina saat itu baru kelas satu SD dan Indah masih berusia sekitar lima tahunan. Mendengar pertanyaan itu, Ilham menghentikan makannya. Ia meletakkan sendok dan garpu di piring dengan sorot mata sendu. "Indah udah kelas tiga SMP sekarang, Gina sendiri kelas enam SD." "Dan selain mereka, aku punya satu adik lagi." Lanjutnya menatap Alea dengan senyum tipis. "Namanya Galih, dia umur lima tahun." "Beneran?" Kabar itu membuat mata Alea semakin mengerling semangat, untuk seorang anak tunggal sepertinya, adik-adik Ilham sejak dulu sudah di dapuk sebagai adiknya sendiri. Jadi mendengar pria itu punya adik kecil lagi yang belum pernah ia lihat membuat Alea begitu bersemangat. "Rasanya aku nggak sabar banget pengen ketemu Mamah kamu, dia pasti masih awet muda kan? Sayangnya aku nggak bisa lihat Galih lahir, padahal dulu aku loh yang sering gencar minta adik cowok sama Tante Intan." Itu bukan sekedar gurauan, setelah Ayahnya meninggal, sikap Alea sempat berubah dingin dan sering kali menyendiri. Di tambah sang Bunda dengan kesibukannya sebagai dokter membuat Alea harus menghabiskan banyak waktu di rumah Ilham. Semua supaya Alea tidak kesepian. Dan karena adik-adik Ilham masih kecil saat itu, satu-satunya teman bermain yang Alea punya hanya Ilham. Mereka kerap menjaga Indah yang saat itu masih belum bisa berjalan, juga menemani Gina bermain yang masih berusia empat tahun. Karena dua bocah itu sama-sama perempuan, jadilah Alea sering berceloteh ingin adik bayi laki-laki. Tapi siapa sangka, celetukannya benar-benar terwujud meski ia tidak ada di saat itu. Namun kontras dengan senyum bahagia Alea, mendengar ucapannya, sorot mata Ilham justru berubah sendu. Ada kesedihan yang jelas tersirat lewat tatapan itu. "Mamah udah nggak ada Lea."Meski Ilham tak punya barang mewah tapi ia cukup tahu berapa harga barang yang Alea kasih hanya dari nama brandnya.Ia memasukkan kotak itu lagi dan mengembalikannya pada Alea, "Kasih aku hadiah yang nilainya sama saja dengan buket itu, jangan barang mahal."Bukan berarti Ilham tidak menghargai pemberian Alea tapi ia hanya merasa tidak layak, karena bahkan barang yang diberinya jauh dari kata sebanding dengan barang itu."Kalau kamu menganggap hadiah dari aku itu mahal karena harganya, maka buat aku buket ini jauh lebih mahal karena usaha kamu untuk bisa membuatnya.""Itu nggak sebanding.""Memangnya kamu pernah buat buket untuk perempuan lain?" Todong Alea."Ya enggak lah, tapi tetap ajah_""Kalau gitu, aku hargai buket ini dengan jaminan khusus." Alea menatap Ilham tepat di maniknya, "Jadikan aku satu-satunya perempuan yang kamu buatkan buket, jangan ada orang lain lagi."Ilham mengalihkan pandangan ke depan, "Tanpa kamu minta pun aku akan ngelakuin itu," timpalnya membuka kembali k
Karena kosan milik Ilham cukup kecil untuk menampung Papah dan adik-adiknya jadi saat mereka datang, Ilham menyewakan penginapan untuk mereka. Tetapi mengetahui hal itu, Bunda mengajak mereka untuk menginap di rumahnya malam ini. Memanfaatkan momen langka itu, Gina dan Indah menghabiskan malam di sana dengan banyak mengobrol bersama Alea di kamarnya. Tak hanya itu, Alea bahkan meminta mereka untuk memilih barang-barang miliknya yang kedua gadis itu suka. Mulai dari pakaian, tas, aksesoris bahkan sampai buku-buku koleksinya. Semua di bebaskan pada keduanya jika memang ada yang mereka ingin ambil. Alea sebenarnya ingin sekali mengajak mereka berbelanja tetapi waktu tidak memungkinkan karena rencananya besok mereka sudah akan pulang. Hal itu karena Gina sudah kelas tiga SMP dan Indah kelas enam SD, jadi mereka tidak boleh izin terlalu lama. Di tengah kegiatan itu, Alea yang begitu bahagia menyaksikan mereka sibuk mencoba barang-barangnya teralihkan sedikit kala ponselnya berdentin
Setelah perjuangan panjang untuk bisa menyelesaikan skripsi dan sidang, hari ini sepertinya para mahasiswa semester akhir sedang bersuka ria menyambut hari kelulusan mereka.Dengan mengenakan toga hitam, para wisudawan dan wisudawati berkumpul di aula kampus di saksikan secara langsung oleh wali mereka sebagai perayaan kelulusan sarjana strata 1.Moment yang paling di nanti-nantikan Alea dan yang lain tentu saja, meski kelulusan ini bukan akhir dari perjuangan mereka tetapi justru baru menjadi awal dari langkah panjang untuk terjun ke dunia yang sebenarnya.Dunia dimana seseorang sudah harus mulai belajar untuk mengambil peran penting dan juga tanggung jawab akan dirinya sendiri.Namun di tengah suasana bahagia dan haru itu, ada secuil perasaan lain yang mencuat secara tiba-tiba dalam hatinya.Di ruangan besar ini, ada moment dimana Alea merasa sebagian dalam hatinya terasa kosong.Merasa bahwa perayaan yang dinanti-nantinya ini terasa tidak lengkap, sama seperti saat merayakan kelulu
Sekitar jam setengah sepuluh pagi, Alea sampai di toko bunga. Ia turun dari mobil dengan senyum cerah kala melihat motor milik Ilham sudah terparkir rapih di depan tokonya.Pria itu tidak bisa di ragukan lagi sikap pekerja kerasnya, Alea sudah memberitahunya untuk datang di jam sepuluh tapi ia malah sampai di sana lebih dulu."Assalamu'alaikum," ucap Alea kala memasuki toko."Wa'alaikumussalam," salamnya langsung di sambut oleh kedua karyawannya yang sedang sibuk menata bunga baru, juga oleh Ilham yang tampak sedang melakukan hal yang sama.Melihat kesibukan pria itu, Alea beranjak mendekatinya. "Ngapain kamu?""Aku bantuin mereka," kata Ilham mengulas senyum tipis.Salah satu karyawan disana segera menjelaskan, "Tadi kami sudah larang Mbak, tapi Mas Ilhamnya tetap mau bantu.""Aku bosan cuma duduk dari tadi Lea," kata Ilham lagi."Dia ini tangannya memang gatal kalau lihat orang kerja tapi dia nggak ngelakuin apapun," canda Alea pada kedua karyawannya.Ilham lalu melanjutkan kegiatan
"Om benar-benar menantikan kamu untuk bergabung bersama di firma hukum kami," lanjut Dimas dengan senyumnya yang masih bertahan. "Terima kasih banyak atas tawarannya, Om." Kata Ilham sopan. Ia melirik Alea sebentar sebelum melanjutkan, "Hanya saja, saya mungkin tidak akan lanjut jadi pengacara, Om." Senyum Dimas seketika luntur, "Loh, kenapa Ham?" "Dulu Papah mu itu pernah cerita kalau dia mempersiapkan kamu untuk bisa jadi penerusnya." "Saya lebih tertarik lanjut notaris, Om." Terang Ilham tenang. "Apa Papah mu setuju?" Ilham mengangguk pelan,"Insyaa Allah Papah mendukung apapun keputusan saya, Om." Tapi Dimas tak berhenti begitu saja, ia menjelaskan perbandingan tahap dan proses diantara kedua profesi itu. Dimana profesi notaris masih butuh waktu yang lebih lama dan juga biaya yang di perlukan tentu saja akan jauh lebih banyak lagi ketimbang memilih jalur profesi advokat. "Dan yang paling pentingnya, ada Om yang bisa bantu kamu sepenuhnya jika kamu memang bersedi
Suasana masjid sore itu tampak ramai oleh beberapa orang yang sedang berteduh sembari menunggu hujan reda. Meski tak terlalu deras, tetapi hujan yang turun cukup untuk bisa membuat siapapun yang berani menerobosnya basah kuyup. Karena itulah, beberapa jamaah yang telah melaksanakan sholat memilih untuk menunggu sejenak, termasuk Alea. Gadis itu berdiri di bibir teras sebari menadah air hujan dengan tangannya, sesekali ia mendongak ke atas memperhatikan butiran air yang turun dari langit. "Katanya, salah satu waktu yang mustajab untuk berdoa adalah saat turun hujan," ucap Ilham yang tanpa ia sadari sudah berdiri di sampingnya, ikut menatap langit yang kerkabut awan gelap. Alea meliriknya sekilas lalu kembali melakukan hal yang sama, tapi kali ini ia menarik tangannya dari rintihan hujan. "Hujan dan ba'da ashar, perpaduan yang sempurna." Kata Alea menimpali. "Apalagi ini hari jum'at, momentum double berkah." Keduanya diam sejenak, memanjatkan doa dalam hati. Doa yang tentun







