Share

BAB 5

Author: Dhia Dharma
last update publish date: 2026-02-23 16:55:36

Senyum Alea luntur seketika, wajahnya berubah pucat pasi. Apa kata Ilham? Tante Intan sudah meninggal?

"Mamah meninggal lima tahun lalu, tepat saat dia melahirkan Galih." Jelas Ilham dengan suara serak.

Tak ada air mata yang jatuh di pipi pria itu, namun dari suaranya, Alea bisa tahu bahwa itu sesuatu yang lebih dari kata menyakitkan. Kehilangan orang tua tentu adalah luka yang tak akan pernah ada obatnya.

Alea tahu, Alea paham dan ia sangat amat mengerti bagaimana rasanya. Karena jauh sebelum Ilham, ia pernah ada di posisi itu, kehilangan sosok Ayah yang begitu ia cintai.

Dan kalau di tanya apakah ia sudah berdamai dengan rasa sakit itu, Alea dengan lantang akan berkata tidak, tidak akan.

Rindu bisa datang kapan pun tanpa permisi dan yang paling menyakitkannya, tak ada hal yang bisa mengobati rindu itu, tak ada rasa yang bisa mendamaikannya.

Yang bisa dilakukan hanya menunggu dan berteman dengan rasa tersebut, setiap kali perasaan itu datang menyapa.

Alea bungkam, tak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun. Dulu saat ia berduka, ada Ilham yang setia mendekap dan menemaninya menangis sepanjang malam. Tapi saat pria itu ada di posisi yang sama, Alea bahkan tak tahu sama sekali.

"Jangan nangis, Mamah udah tenang di sana Lea." Lirih Ilham saat wajah Alea sudah banjir air mata.

Ilham mengalihkan pandangan ke luar jendela cafe, menatap langit malam yang di penuhi bintang berkelip indah. Mencoba menghalau sesak yang menghantam hatinya setiap kali mengenang sang ibu.

Tapi tangis Alea justru semakin jadi, terdengar pilu dan menyayat hati. Tak sanggup menerima kabar duka bahwa perempuan yang sudah dianggap sebagai ibu sendiri itu ternyata telah berpulang ke yang maha kuasa. Bahkan sudah bertahun-tahun lalu.

Selama ini, Alea selalu membayangkan hidup Ilham bisa sejalan dengan dirinya. Berharap saat mereka bertemu kembali, kedua keluarga itu bisa berkumpul seperti dulu, termasuk Mamah Ilham dan Bunda Alea yang memang sangat dekat.

Tapi semua itu ternyata hanya sekedar angan, bahkan Alea sudah tidak dapat lagi melihat senyum indah Mamah Ilham, dan tak akan ada lagi obrolan panjang lupa waktu antara Bundanya dan Mamah Ilham. Semua tak akan pernah terealisasi lagi.

Cukup lama mereka hanyut dalam suasana sedih itu, sampai Ilham berhasil menguasai diri dan membuka kembali obrolan mereka.

"Mamah nggak pergi gitu aja Lea, dia ninggalin pengganti buat kita. Adik kecil kita itu mirip banget sama Mamah, bahkan Galih juga punya lesung pipi yang sama dengan Mamah."

Tapi Alea sama sekali tak terbujuk, ia masih dengan sesaknya, gadis itu menunduk dalam, tak sanggup berbalas pandangan dengan Ilham. "Maafin aku... Aku nggak ada di saat terpuruk kalian."

Waktu tujuh tahun ini, Alea merasa hidupnya hanya berjalan seadanya saja, tak pernah ada hal besar yang terjadi. Alea hanya menjalani hidup sesuai alur tanpa pernah ada luka mendalam atau kebahagiaan yang besar. Terasa datar saja.

Tapi siapa sangka, hidup Ilham justru berjalan sebaliknya. Penuh gonjang ganjing badai kehidupan.

"Semua yang hidup pasti akan mati, semua yang datang akan pergi. Tapi hidup harus terus berjalan."

Ilham melanjutkan, "Kalau di bilang berat, jujur berat banget Lea. Kita kayak hilang arah, keluarga seolah kehilangan jantung hidupnya. Dan sebagai anak pertama, aku harus bertindak sebagai tumpuan meski nyatanya aku sendiri butuh tempat bersandar."

"Tapi kamu tahu apa yang bikin aku kuat?" Kali ini Alea mengangkat pandangan, menatap Ilham dengan air mata yang masih mengenang.

Ilham mengambil dua lembar tisu, mengusap air mata di pipi gadis itu dengan hati-hati agar tangannya tak menyentuh wajah Alea, kemudian melanjutkan ucapannya dengan nada rendah. "Ada yang pernah bilang sama aku, kalau dia nggak suka cowok cengeng."

Ilham tersenyum sumbang, ia menarik tangannya dari wajah Alea dan melipat tisu bekas air mata Alea di meja, menatap lipatan itu dengan tatapan kosong.

Itu kalimat yang selalu berhasil membuat Ilham bangkit setiap pagi, setelah menghabiskan malam panjang dengan tangisan pilu tanpa seorang pun yang tahu. Kalimat yang pernah gadis di depannya itu ucapkan saat Ilham menangis melepas waktu Alea pindah.

Setiap kali hari berganti, Ilham selalu membayangkan di saat pertemuan mereka kembali, Alea bisa melihatnya sebagai sosok pria yang tegar dan selalu bisa bisa diandalkan. Dan karena itu juga, ia sejak awal berusaha menahan diri untuk tidak menangis. Tapi nyatanya Ilham tetap saja gagal.

Alea menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri, apa yang Ilham ucapkan justru semakin menghancurkan hatinya. Tapi ia sadar, dengan terus menangis di hadapan pria itu sama saja dengan menggali luka Ilham lebih dalam.

"Kayaknya, cowok kalau nangis karena kehilangan seseorang yang dia sayangi, nggak bisa di hakimi cengeng. Itu justru bentuk pembuktian rasa yang paling tulus." Lirih Alea kembali membawa tatapan Ilham padanya.

"Kamu boleh nangis, bahkan kamu berhak untuk nangis Ham." Lanjut Alea.

Suara tawa pelan terdengar dari Ilham bersamaan dengan satu titik air matanya yang kembali jatuh, "Aku nggak sekuat itu Lea." Pertahanan Ilham runtuh.

Kini balik Alea yang mengulurkan tissu pada Ilham, seraya berucap, "Aku pernah dengar, seorang perempuan yang meninggal karena melahirkan itu, Insyaa Allah syahid. Suatu kemuliaan yang sulit untuk di dapatkan, jadi Mamah kalian Insyaa Allah masuk golongan orang-orang yang beruntung."

"Do'ain Mamah ya, semoga beliau dapat tempat yang terbaik di sisi Allah." Alea mengaminkan permintaan Ilham. "Dan juga aku mewakili Mamah minta maaf sama kamu kalau semisal semasa hidupnya dulu, beliau pernah ada salah atau khilaf."

"Tante Intan orang yang baik Ham." Ucap Alea dengan senyum tulus.

Keduanya perlahan memulihkan diri, mencoba menghalau sesak itu beberapa saat. Tak ada lagi yang menyentuh makanan di meja padahal belum setengahnya mereka habiskan.

Ilham lalu merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel, "Mau lihat Galih nggak?"

"Iya." Tanggap Alea menegakkan tubuh dengan senyum yang berusaha ia ciptakan.

Ilham mengulas senyum yang sama, kemudian menyerahkan ponselnya pada Alea. Menunjukkan foto seorang bocah laki-laki berusia lima tahun yang sedang memeluk leher pria paruh baya dari belakang.

Dan Ilham benar, Galih seperti visualisasi Mamahnya dalam versi pria. Terkhusus dari cetakan lesung pipinya yang begitu mirip saat ia tersenyum lebar seperti di foto itu.

Perhatian Alea beralih pada pria paruh baya yang di peluk erat oleh Galih. Sosok yang selalu berhasil mengingatkannya dengan sang Ayah. "Om Gantar sendiri gimana keadaannya?"

"Alhamdulillah, Papah baik. Cuma kamu tahu sendiri lah, gimana keadaan Papah setelah kecelakaan itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sayangnya, Pak Pengacara Mau Menikahiku   BAB 19

    Dari arah utara kantin sekolah, seorang gadis berseragam SMP dengan rambut agak pendek yang dikuncir kuda berlari menuju kelasnya di bagian selatan paling ujung dengan langkah cepat.Senyumnya mengembang sempurna begitu kakinya mencapai ambang pintu kelas, ruangan itu tampak sunyi –bertolak belakang dengan keadaan diluar yang tampak riuh dan kacau oleh suara teriakan para siswa.Tatapan Alea menyisir penjuru ruangan, hingga netranya menangkap sosok siswa pria yang sedang terlelap di bangku ketiga barisan paling dekat dengan pintu masuk.“Ilham!” Alea menghampiri pria itu dengan semangat penuh.Ilham yang sedang menelungkupkan wajah pada lipatan tangannya diatas meja, bergerak sedikit untuk menatap gadis itu. “Udah kenyang?” gumamnya hendak kembali melanjutkan tidurnya.Tapi Alea segera menarik sebelah lengan Ilham, “Udah,” katanya bergerak duduk di bangku samping Ilham –tempat duduknya sendiri.“Lihat deh, aku beli apa.” Alea memamerkan dua buah buku dengan sampul agak tebal bertulisk

  • Sayangnya, Pak Pengacara Mau Menikahiku   BAB 18

    ‘Aku di bawah,’ pesan tiba-tiba dari Ilham muncul di bilah notifikasi, menyentak perasaan Alea.Ia sudah mewanti Ilham untuk menghubunginya saat akan kembali, agar Alea bisa datang menjemputnya di bandara. Tetapi saat jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, pria itu malah memberinya kabar mengejutkan.Alea menarik sweater rajut berwarna hijau muda dari kursi belajarnya serta tak lupa mengenakan hijab instan sebelum bergegas turun, hendak memastikan apakah sosok yang sudah ia nanti kepulangannya itu benar-benar sudah ada disana.Kondisi rumah saat ini sudah sangat sepi, Bunda sepertinya sudah terlelap karena kelelahan. Apalagi cuaca malam ini jauh lebih sejuk dari biasanya.Begitu Alea membuka pintu utama angin langsung berhembus untuk menyambut, membuat Alea reflek menarik kedua sisi sweater untuk dirapatkan pada tubuhnya sebelum ia melanjutkan langkah menuju gerbang.Ilham yang duduk bersandar di atas jok motornya langsung mengangkat wajah dari layar ponsel begitu mendengar suara

  • Sayangnya, Pak Pengacara Mau Menikahiku   BAB 17

    Meski Ilham tak punya barang mewah tapi ia cukup tahu berapa harga barang yang Alea kasih hanya dari nama brandnya.Ia memasukkan kotak itu lagi dan mengembalikannya pada Alea, "Kasih aku hadiah yang nilainya sama saja dengan buket itu, jangan barang mahal."Bukan berarti Ilham tidak menghargai pemberian Alea tapi ia hanya merasa tidak layak, karena bahkan barang yang diberinya jauh dari kata sebanding dengan barang itu."Kalau kamu menganggap hadiah dari aku itu mahal karena harganya, maka buat aku buket ini jauh lebih mahal karena usaha kamu untuk bisa membuatnya.""Itu nggak sebanding.""Memangnya kamu pernah buat buket untuk perempuan lain?" Todong Alea."Ya enggak lah, tapi tetap ajah_""Kalau gitu, aku hargai buket ini dengan jaminan khusus." Alea menatap Ilham tepat di maniknya, "Jadikan aku satu-satunya perempuan yang kamu buatkan buket, jangan ada orang lain lagi."Ilham mengalihkan pandangan ke depan, "Tanpa kamu minta pun aku akan ngelakuin itu," timpalnya membuka kembali k

  • Sayangnya, Pak Pengacara Mau Menikahiku   BAB 16

    Karena kosan milik Ilham cukup kecil untuk menampung Papah dan adik-adiknya jadi saat mereka datang, Ilham menyewakan penginapan untuk mereka. Tetapi mengetahui hal itu, Bunda mengajak mereka untuk menginap di rumahnya malam ini. Memanfaatkan momen langka itu, Gina dan Indah menghabiskan malam di sana dengan banyak mengobrol bersama Alea di kamarnya. Tak hanya itu, Alea bahkan meminta mereka untuk memilih barang-barang miliknya yang kedua gadis itu suka. Mulai dari pakaian, tas, aksesoris bahkan sampai buku-buku koleksinya. Semua di bebaskan pada keduanya jika memang ada yang mereka ingin ambil. Alea sebenarnya ingin sekali mengajak mereka berbelanja tetapi waktu tidak memungkinkan karena rencananya besok mereka sudah akan pulang. Hal itu karena Gina sudah kelas tiga SMP dan Indah kelas enam SD, jadi mereka tidak boleh izin terlalu lama. Di tengah kegiatan itu, Alea yang begitu bahagia menyaksikan mereka sibuk mencoba barang-barangnya teralihkan sedikit kala ponselnya berdentin

  • Sayangnya, Pak Pengacara Mau Menikahiku   Bab 15

    Setelah perjuangan panjang untuk bisa menyelesaikan skripsi dan sidang, hari ini sepertinya para mahasiswa semester akhir sedang bersuka ria menyambut hari kelulusan mereka.Dengan mengenakan toga hitam, para wisudawan dan wisudawati berkumpul di aula kampus di saksikan secara langsung oleh wali mereka sebagai perayaan kelulusan sarjana strata 1.Moment yang paling di nanti-nantikan Alea dan yang lain tentu saja, meski kelulusan ini bukan akhir dari perjuangan mereka tetapi justru baru menjadi awal dari langkah panjang untuk terjun ke dunia yang sebenarnya.Dunia dimana seseorang sudah harus mulai belajar untuk mengambil peran penting dan juga tanggung jawab akan dirinya sendiri.Namun di tengah suasana bahagia dan haru itu, ada secuil perasaan lain yang mencuat secara tiba-tiba dalam hatinya.Di ruangan besar ini, ada moment dimana Alea merasa sebagian dalam hatinya terasa kosong.Merasa bahwa perayaan yang dinanti-nantinya ini terasa tidak lengkap, sama seperti saat merayakan kelulu

  • Sayangnya, Pak Pengacara Mau Menikahiku   BAB 14

    Sekitar jam setengah sepuluh pagi, Alea sampai di toko bunga. Ia turun dari mobil dengan senyum cerah kala melihat motor milik Ilham sudah terparkir rapih di depan tokonya.Pria itu tidak bisa di ragukan lagi sikap pekerja kerasnya, Alea sudah memberitahunya untuk datang di jam sepuluh tapi ia malah sampai di sana lebih dulu."Assalamu'alaikum," ucap Alea kala memasuki toko."Wa'alaikumussalam," salamnya langsung di sambut oleh kedua karyawannya yang sedang sibuk menata bunga baru, juga oleh Ilham yang tampak sedang melakukan hal yang sama.Melihat kesibukan pria itu, Alea beranjak mendekatinya. "Ngapain kamu?""Aku bantuin mereka," kata Ilham mengulas senyum tipis.Salah satu karyawan disana segera menjelaskan, "Tadi kami sudah larang Mbak, tapi Mas Ilhamnya tetap mau bantu.""Aku bosan cuma duduk dari tadi Lea," kata Ilham lagi."Dia ini tangannya memang gatal kalau lihat orang kerja tapi dia nggak ngelakuin apapun," canda Alea pada kedua karyawannya.Ilham lalu melanjutkan kegiatan

  • Sayangnya, Pak Pengacara Mau Menikahiku   BAB 4

    "Gampang itu mah, kenalin dulu ini siapa?" Cecar pria di kasir itu. "Nggak gue kasih tempat duduk nih kalau nggak jelas." Ilham berdecak, merebut nomor meja dari pria itu dengan mudah. "Teman gue Reno, namanya Alea." "Oohh." Senyum sumringah pria yang di panggil Reno itu tercetak jelas, menatap A

  • Sayangnya, Pak Pengacara Mau Menikahiku   BAB 3

    Sinar keemasan yang dipancarkan matahari sore itu menyatu sempurna dengan bunga kuning pohon Tabebuya yang sedang mekar, memberikan kesan estetika yang indah di sepanjang jalan depan kampus. Di bawah salah satu pohon berukuran sedang itu, Alea duduk mengemper di trotoar beralaskan jaket kulit mil

  • Sayangnya, Pak Pengacara Mau Menikahiku   BAB 2

    Alea tersentak kaget, seiras dengan reaksi orang-orang di sekelilingnya. Sementara berjarak beberapa meter di depan sana, motor yang di kendarai pria tadi menghantam pohon tabebuya di pinggir jalan dan tergelincir di atas trotoar. Di sisi seberangnya, ada motor lain yang di kendarai ibu-ibu da

  • Sayangnya, Pak Pengacara Mau Menikahiku   BAB 1

    Bacaan salam dari imam masjid terdengar, menggema di dalam bangunan yang tampak megah ini dan mengalun indah hingga beberapa jauh ke luar, menandakan selesainya dilaksanakan sholat ashar. Beberapa jemaah mulai beranjak, membelah diri dari rapatnya shaf sholat setelah sang imam selesai menutup sem

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status