Beranda / Fantasi / Sebelum Kau Diraih Dia / Baim Kembali Berulah

Share

Baim Kembali Berulah

Penulis: Erdin Xes
last update Tanggal publikasi: 2026-10-23 07:46:34

"Fikri."

Satu kata itu doang bikin kelas 3 RSUD langsung sepi.

Baim berdiri di pintu. Jaket hitam, cargo, boots. Mukanya capek banget, matanya merah. Di belakangnya ada dua panitia bawa HT.

Ayu langsung berdiri. "Kak Baim, ini di rumah sakit..."

Baim nggak ngeliat Ayu. Nggak ngeliat Dinda juga. Matanya cuma ke Fikri yang lagi duduk di pinggir ranjang bapaknya.

"Gue tunggu di kampus jam 7. Lo janji dateng. Sekarang jam setengah 7, lo masih di sini."

Fikri narik napas. Gelas air putih di tanganny
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sebelum Kau Diraih Dia    Fikri Meyakinkan Ayu

    "Aku tidak akan pernah pergi, Yu. Kamu itu satu-satunya cinta aku," Fikri berusaha meyakinkan Ayu di sela-sela keramaian lapangan.Ini masih minggu MOS. Seragam putih abu-abu mereka masih baru, masih kaku, dan masih bau toko. Semua siswa baru disuruh duduk bersila di lapangan yang panas, sementara senior OSIS mondar-mandir bawa peluit.Ayu masih belum yakin dengan yang Fikri ucapkan. Dari hari pertama MOS, Dinda sama sekali tidak memberikan Ayu kesempatan untuk tenang. Dinda itu satu kelompok MOS dengan Fikri. Kalau disuruh baris, Dinda selalu cari cara biar di sebelah Fikri. Kalau disuruh yel-yel kelompok, Dinda sengaja suaranya dimanja-manjain di dekat Fikri. Bagi Ayu, Dinda benar-benar jadi batu sandungan, padahal status Ayu dan Fikri baru jadian dua minggu sebelum MOS dimulai.Padahal Ayu merasa jauh lebih baik dari Dinda. Ayu yang dari SMP sudah kenal Fikri, yang selalu bawain bekal waktu Fikri lupa sarapan. Bukan Dinda yang baru kenal kemarin sore karena sekelompok MOS."Aku tid

  • Sebelum Kau Diraih Dia    Baim Kembali Berulah

    "Fikri."Satu kata itu doang bikin kelas 3 RSUD langsung sepi.Baim berdiri di pintu. Jaket hitam, cargo, boots. Mukanya capek banget, matanya merah. Di belakangnya ada dua panitia bawa HT.Ayu langsung berdiri. "Kak Baim, ini di rumah sakit..."Baim nggak ngeliat Ayu. Nggak ngeliat Dinda juga. Matanya cuma ke Fikri yang lagi duduk di pinggir ranjang bapaknya."Gue tunggu di kampus jam 7. Lo janji dateng. Sekarang jam setengah 7, lo masih di sini."Fikri narik napas. Gelas air putih di tangannya geter."Kak, bapak saya masih...""Gue tau bapak lo sakit," potong Baim pelan. "Makanya gue jemput ke sini. Bukan gue bentak-bentak di sini. Gue hargain bapak lo."Semua kaget. Fikri juga.Baim jalan ke ranjang bapak, agak nunduk."Om, saya Baim, seniornya Fikri. Maaf ya Om, saya harus bawa Fikri ke kampus pagi ini. Ada sidang. Tapi abis sidang saya anter lagi ke sini. Janji."Bapak megang tangan Fikri. "Nak, sidang apa? Kamu salah apa?"Baim nggak jawab. Dia cuma ngeliat Fikri."Fik, lo punya

  • Sebelum Kau Diraih Dia    Menjenguk

    "Permisi, Fikri ada?" Suara itu lembut. Jam 6 pagi. RSUD baru buka. Fikri yang lagi melipat sarung bawaannya Mama langsung noleh. Di pintu ruang perawatan kelas 3, berdiri Dinda. Rambutnya diikat dua, masih pakai seragam MOS putih abu-abu, tapi sudah mandi wangi. Di tangannya ada kantong buah. Apel Fuji, jeruk sunkist, anggur hijau. Buah mahal. Bukan buah pasar. "Dinda? Kok pagi-pagi?" Dinda senyum. Senyum yang di kehidupan pertama bikin Fikri langsung salah tingkah. "Aku dengar dari Kak Baim, ayah kamu kecelakaan. Aku mampir sebelum ke kampus, Fik. Tadi aku ke Hero Supermarket jam 5 pagi, beliin buah buat ayah kamu. Semoga ayah cepat sembuh ya." Satu ruangan langsung noleh. Bapak-bapak sebelah yang kakinya diperban langsung bisik-bisik, "Wah, pacarnya cantik banget." Mama yang lagi beresin termos langsung berdiri. "Ya ampun, Neng... repot-repot..." Fikri masih bengong. Di kehidupan pertama, Dinda gak pernah sepeduli ini. Dinda cuma tau minta dijemput. "Eh, sini, Din. Taruh

  • Sebelum Kau Diraih Dia    Di Rumah Sakit

    "Fik, Bapak haus..."Suara Bapak pelan banget, hampir ketutup suara kipas angin berisik di ruang perawatan kelas 3.Fikri yang tadinya nunduk mainin tutup botol oli samping pemberian Ayu, langsung berdiri."Iya, Pak. Sebentar ya, Pak. Fikri ambilin air."Jam 9 malam. RSUD bau karbol campur bau perban. Satu ruangan isi 6 ranjang. Di sebelah Bapak, ada bapak-bapak yang kakinya diperban karena kecelakaan motor juga. Di depannya, ada ibu-ibu yang batuk terus.Fikri ambil gelas plastik, tuang air putih dari termos yang dibawa Mama. Nyuapin pelan-pelan pakai sendok, kayak nyuapin bayi."Pelan-pelan, Pak. Jangan langsung banyak."Bapak minum, lalu ngelirik kaos Fikri."Kaos kamu... kok tulisan Karang Taruna 2008, Fik? Kaos MOS kamu kemana?"Fikri kaget. Kaos MOS putihnya tadi siang sudah kotor oli dan darah, dia ganti pakai kaos oblong pinjaman Mama yang kebesaran."Oh, ini... kaos MOS Fikri kotor, Pak. Tadi jatuh di aspal pas push-up. Mama pinjemin ini dulu."Bapak mengangguk lemah. Matanya

  • Sebelum Kau Diraih Dia    Musibah

    "Fik... Bapak... Bapak di rumah sakit..."Suara Mama pecah di telepon.Dunia Fikri langsung berhenti.Di kehidupan pertamanya, jam 12.17 hari kedua MOS ini adalah penyesalan terbesarnya. Telepon yang sama. Bapak jatuh di proyek. Helm proyek tipis yang Bapak pakai pecah. Fikri telat datang karena nunggu angkot.Bapak meninggal.Dan di kehidupan pertama itu juga, dia kehilangan Ayu. Bukan karena dia miskin. Keluarganya sederhana, cukup. Bapak punya RX-King kebanggaannya, Mama masih bisa nabung. Dia kehilangan Ayu karena dia cuek. Kurang usaha. Ngerasa Ayu bakal selalu ada di sampingnya. Sampai Ayu capek nunggu dan pergi.Tapi kali ini yang hidup di tubuh maba 18 tahun itu adalah Fikri umur 38 tahun. CEO logistik.Dia minta kembali. Bukan untuk jadi lebih kaya. Kekayaannya di masa depan sudah cukup. Dia minta kembali untuk memperbaiki effortnya. Untuk Ayu. Dan untuk hari ini.Makanya 3 hari lalu, hal pertama yang dia lakukan setelah kembali adalah belikan Bapak helm baru dan servis total

  • Sebelum Kau Diraih Dia    Pembuktian Fikri

    *BAB 4: 50 KALI PUSH-UP*"FIKRI! ADMINISTRASI PUBLIK! 50 KALI! SEKARANG JUGA!"Suara Kak Baim menggelegar dari pengeras suara megaphone butut di tengah lapangan upacara. Matahari jam 10 pagi tahun 2010 itu tidak ampun. Aspal lapangan sampai bergetar karena panas.Semua maba 600 orang langsung menoleh.Ayu yang ada di barisan cewek langsung menutup mulutnya. "Fikri!"Fikri menarik napas panjang. Ini jebakan. Jelas jebakan. Di kehidupannya yang pertama, Fikri adalah maba penakut yang kalau disuruh push-up 10 kali saja sudah gemetar, muntah, dan jadi bahan tertawaan seangkatan. Baim tahu itu. Baim ingin mengulanginya.Tapi Fikri yang sekarang bukan Fikri 18 tahun.Fikri adalah Fikri yang sudah 35 tahun, yang setiap pagi sebelum berangkat ke proyek, push-up 40 kali di klaster mewah demi menjaga jantungnya tidak kolaps.Tanpa banyak omong, Fikri maju ke tengah lapangan. Melepas jam tangan karetnya, memberikan pada panitia cewek di samping."Boleh pinjam matras, Kak? Aspalnya panas," kata

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status