Masuk"Si Ganteng tanpa isi, sekarang sudah berubah. Aku rasa dia kerasukan pas di kamar mandi. Apa kita harus ke kamar mandi juga?"
Suara samar yang terdengar didalam kantin, memancing rasa penasaran Ayu. Si Ganteng tanpa isi, adalah julukan dari semua teman sekelas Fikri. Gambaran Fikri yang tampan, namun kurang cerdas. Ayu tidak ragu menghampiri perempuan yang berkata demikian pada Fikri. Menggali informasi, guna membunuh rasa penasarannya. "Maaf, kalau boleh tahu. Siapa yang kamu maksud?" tanya Ayu penasaran. Pipit, teman sekelas Fikri. Seketika gemetar saat berhadapan dengan Ayu. Sebagai siswi paling terkenal di sekolah. Berhadapan dengan Ayu adalah resiko tinggi. Urung mendapat jawaban dari Pipit. Ayu semakin mendesak. "Aku tidak marah. Katakan saja." Dewi yang berada disamping Pipit, mendorong pelan tubuh Pipit. Memintanya untuk segera menjawab pertanyaan Ayu. Tidak berani menatap Ayu secara langsung. Suaranya pun gugup. Pipit memberanikan diri menjawab. "I-ya. Fikri pacar kamu." "Apa yang dia lakukan?" tanya Ayu semakin tegas. "Tadi dia menjawab soal tersulit di kelas. Dan itu cukup membuat semuanya terkejut," tegas Dewi. Tanpa aba-aba, Ayu segera pergi ke kelas untuk menemui Fikri. Senang rasanya mendengar cerita teman sekelasnya memuji Fikri. Terlebih selama ini, cerita Fikri selalu berputar di hal negatif. Ada berita baik, rasanya cukup membuat Ayu gembira. Ramainya ruang kelas, tidak meruntuhkan semangat Ayu untuk merayakan keberhasilan Fikri. Ia segera memeluk sang pujaan hati. "Aku senang banget Sayang," ucap Ayu. Fikri menatap Ayu dengan wajah bingung. Sama sekali berbeda dengan 15 tahun lalu. Pelukan hangat penuh kebanggaan tidak pernah didapatkan dari Ayu. Rasanya begitu menakjubkan. "Tadi kamu berbasil jawab soal sulit. Aku bangga denganmu," Ayu duduk dihadapan Fikri. Neona yang dikenal sebagai murid tercerdas di kelas. Mulai merasa Fikri sebagai ancaman. Meruntuhkan mental Fikri, Neona berujar jika soal itu sebenarnya mudah. "Baru jawab satu soal, sudah heboh satu sekolah. Aku rasa kalian berlebihan," Neona dengan wajah sinis. Ayu tidak terima dengan ucapan Neona. Ia dengan berani menarik buku yang menutupi wajah Neona. Brak! Ayu melempar buku itu keatas meja. "Kalau kamu takut bersaing, setidaknya jangan suka menghina usaha orang lain. Minimal hargai usaha orang. Bukan main hakimi begitu saja," Ayu hampir saja menampar wajah Neona. Senang rasanya bagi Fikri bisa mendapat pembelaan dari Ayu. Tidak terbayangkan, betapa cintanya Ayu pada Fikri. Bahkan Ayu berani melawan Neona yang dikenal anak paling cerdas, serta pejabat tinggi. "Ternyata cinta kamu setinggi itu Yu. Aku terlambat menyadarinya. Jika aku sadar sedari dulu. Mungkin aku akan memperjuang cinta kamu yang besar itu," Fikri menatap Ayu dengan penuh kebahagian. Melihat Fikri menatapnya dengan tatapan penuh cinta. Ayu seketika salah tingkah. Apalagi melihat senyuman manis Fikri, rasanya semua beban di hidup Ayu hilang begitu saja. Ingin lebib tenang belajar, Fikri mengajak Ayu ke perpustakaan. Tempat dimana mereka bisa menghabis waktu bersama untuk belajar. Baru merapikan buku, teman sekelas Fikri yang bernama Gadis mulai genit. Dengan alasan mengajak belajar bersama di rumah. Ia tidak ragu menawarkan Fikri untuk datang ke rumahnya. "Fik, pulang sekolah mau ikut belajar di rumahku?" tawaran Gadis. Merasa tidak dihargai sebagai pasangan Fikri. Ayu dengan percaya diri berhadapan dengan Gadis. "Minimal izin dulu sama pacarnya. Jangan main ajak-ajak saja," ucap Ayu dengan tatapan sinis. "Baru juga jadi pacar. Sudah mengatur saja." balas Gadis sembari membuang muka. Ayu semakin beringas. Dia menarik tangan Gadis. Menatap wajahnya dengan tajam. "Makanya cari cowok. Biar tidak genit sama cowok orang!" Gadis menyerah, tanpa berkata lagi. Ia pergi dari hadapan Fikri dan Ayu. Kegagalan yang sempurna bagi Gadis. Tapi bagi Ayu, itu adalah bentuk cinta untuk Fikri. Melihat begitu sayang padanya. Fikri semakin merasa bersalah. Lagi, ia kembali teringat wajah Ayu di masa depan. Wajah Ayu yang penuh lebam dianiaya oleh mantan suaminya. Kesalahan terbesar dalam hidup Fikri membiarkan cinta pertamanya direbut oleh iblis berwujud manusia.Pagi itu pagar rumah dibuka oleh Ibu Fikri. Tangannya masih basah sehabis mencuci piring. Di depan pagar berdiri seorang laki-laki berkemeja rapi membawa map biru, mengendarai motor Vario hitam."Ibu, betul ini rumah Saudara Fikri Ananda? Ada titipan surat dari kantor hukum Mahardika & Partners. Mohon tanda tangan di sini, Bu."Ibu Fikri pucat. Di telinga ibu-ibu kampung, istilah kantor hukum sama artinya dengan penjara.Fikri baru pulang dari salat Subuh di masjid, masih memakai sarung. Ia melihat amplop putih tebal dengan stempel kantor pengacara berisi dua lembar surat.Di bagian atas tertulis, SURAT SOMASI PERTAMA.Fikri membukanya di teras. Ayah dan ibunya mengintip dari belakang.Inti surat itu, Fikri dituduh mencemarkan nama baik H. Mahfud Ibrahim, anggota DPRD Kabupaten Bogor, melalui pemberitaan di Radar Bogor. Ia diminta memberikan klarifikasi dan permintaan maaf secara terbuka di koran yang sama dalam waktu 3x24 jam, serta membayar ganti rugi immateriil sebesar seratus juta
"Yu, kamu tahu nggak bapaknya Baim itu jabatannya apa sekarang?"Fikri nanya itu di warung kopi depan kampus, sore habis kemah. Kakinya masih agak pincang, tapi sudah bisa jalan tanpa tongkat. Ayu lagi nyeruput es teh, mukanya masih kesel kalau denger nama Baim."Setahu aku anggota DPRD Kabupaten, yang sering pasang spanduk di pinggir jalan itu loh. Yang mukanya diedit putih banget. Kenapa emang?"Fikri diem. Di kehidupan sebelumnya tahun 2025, Fikri memiliki teman yang kerja jadi staf admin di sebuah kantor pengacara kecil di Jakarta. Kerjaannya tiap hari fotokopi berkas korupsi pejabat daerah. Dia hafal polanya. Proyek jalan, dana aspirasi, pembangunan masjid, semua polanya sama. Dan nama Bapaknya Baim, H. Mahfud Ibrahim, pernah lewat di meja kantor pengacara itu tahun 2024, kasus dana perbaikan jalan Cibinong Hambalang yang mangkrak 3 tahun padahal anggarannya cair penuh.Waktu itu teman Fikri cuma tukang fotokopi, tidak bisa ngapa-ngapain. Tapi sekarang dia balik ke tahun 2010, s
"Yu, nanti kalau di hutan jangan jauh-jauh dari aku ya. Aku nggak tenang kalau kamu sama anak-anak yang lain."Ayu lagi ngerapihin sleeping bag di ruang kelas, sore sebelum berangkat kemah Pramuka kampus. Kemah tiga hari di hutan Pinus Hambalang, acara wajib semester 3.Fikri jongkok di sebelahnya, bantuin gulung matras."Aku di tenda cowok, kamu di tenda cewek, jaraknya 20 meter, Yu. Gimana mau deket terus?""Ya pokoknya jangan jauh-jauh. Aku denger Baim ikut juga jadi panitia."Fikri diem. Baim memang ikut jadi panitia perlengkapan. Sejak kecelakaan balap liar itu, Baim memang agak diem, tapi Fikri tahu orang kayak Baim nggak akan diem lama.Malam pertama di Hambalang dingin banget. Kabut tebal, lampu cuma dari senter dan api unggun. Tenda Fikri sama 3 cowok lain agak di ujung, dekat jurang kecil yang ditutup pembatas tali pramuka.Jam 11 malam, pas semua lagi api unggun, Baim nyamperin Fikri."Fik, tolongin gue dong. Gue disuruh kakak pembina ambil kayu cadangan di pos belakang, se
"Fik, lo jangan banyak gaya jadi pahlawan. Gue tantang lo malam ini di Sentul, berani nggak?"Suara Baim keras, setengah teriak, di depan bengkel Pak Haji jam 9 malam. Lampu bengkel sudah mau dimatikan, Fikri lagi cuci tangan pakai bensin biar oli hilang.Fikri noleh pelan, lap tangan pakai majun hitam."Apaan sih, Im? Gue habis kerja, capek.""Alah, capek alasan. Kalau lo beneran jago, buktiin di jalan, bukan di depan orang tua Ayu. Gue denger King lo kenceng abis diservis bapak lo. Gue pakai Scoopy bore up 155 cc gue. Kita balap, yang kalah jangan deketin Ayu lagi."Pak Haji yang lagi beresin kunci-kunci langsung keluar, "Eh, Baim, jangan bikin ribut di sini. Mau balap jangan di sini."Tapi Baim sudah emosi seminggu. Semenjak uang 5 jutanya ditolak, semenjak Ayu meluk Fikri di samping rumah, gengsinya sebagai anak orang kaya yang selalu menang, hancur. Di tongkrongan, teman-temannya malah ledekin, kalah sama anak kuli bengkel.Fikri diam. Sebenarnya dia tidak mau balapan liar. Di ke
Tiga hari setelah operasi paman Ayu, rumah Ayu masih rame. Saudara dari Cibinong pada nginep, gelar tikar di ruang tengah. Paman yang kakinya dipen belum boleh pulang, tapi sudah lewat masa kritis.Fikri datang sore itu bukan naik King. King-nya masih di bengkel Pak Haji, lagi ganti kampas kopling karena habis dipaksa lari Depok - Cibinong jam 5 pagi kemarin. Fikri datang jalan kaki, bawa kantong plastik isi bubur ayam dua porsi."Yu, aku cuma bisa bawa ini. Tadi uangnya udah habis buat bensin sama bayar pen," kata Fikri pelan di teras, malu.Ayu lagi duduk sama ibunya yang lagi ngiris bawang. Ayu lihat Fikri, rambutnya masih berantakan karena habis tidur siang di bengkel."Kamu ngapain bawa bubur? Kan kamu yang harusnya dibawain makanan, kamu nggak tidur dua hari," Ayu ngomel, tapi ngomelnya manja.Ibu Ayu yang lihat Fikri langsung berdiri, ambil buburnya."Fik, masuk dulu. Ibu bikinin teh. Kamu itu dari kemarin belum pulang bener, ya? Bapak cerita kamu di RS jagain sampai paman sada
"Fik, paman aku kecelakaan di Cibinong. Sekarang di RSUD, harus operasi malam ini juga."Suara Ayu di telepon pecah, nahan nangis. Jam setengah sepuluh malam, Fikri baru pulang dari bengkel, baju masih bau oli, tangan masih hitam belum sempat dicuci.Fikri langsung duduk di pinggir kasur, motor King masih nyala di luar rumah."Kecelakaan gimana? Paman yang mana?""Paman aku yang di Cibinong, yang biasanya bawain aku duren kalau panen. Motornya ditabrak truk, kakinya patah dua-duanya, harus pasang pen. Dokter bilang biayanya 12 juta, kalau pakai BPJS masih nombok 7 juta buat pen sama obat. Ibu aku udah nangis dari tadi, bapak lagi ke Cibinong sekarang."Ayu sesenggukan. Di timeline asli tahun 2010, malam ini adalah malam di mana Baim jadi pahlawan. Baim ditelepon Ayah Ayu, datang ke RSUD Cibinong bawa uang cash 10 juta dari bapaknya. Semua beres dalam satu malam. Ayu dan keluarganya langsung anggap Baim sebagai penyelamat. Fikri yang waktu itu cuma bisa datang bawa buah tangan pisang,







