Share

Dihadang Baim

Author: Erdin Xes
last update publish date: 2026-06-23 12:23:43

Dengan telaten, Fikri memasang helm di kepala Ayu. Tangannya hati-hati. Dagu Ayu diangkat pelan biar talinya pas.

"Sakit gak?" tanya Fikri pelan.

Ayu menggeleng. Dia senyum. Lebar.

Senyum yang udah lama banget gak muncul di wajahnya. Senyum yang selama lima tahun pernikahan sama Ibrahim terkubur di balik marah, dingin, dan pintu yang dibanting.

"Udah siap?" tanya Fikri lagi.

"Siap," jawab Ayu. Matanya berbinar. "Makasih ya, Fik."

Fikri cuma senyum. Dia naik ke motor. Ayu langsung naik di belakang. Tangannya melingkar di pinggang Fikri.

Untuk pertama kali dalam waktu lama, Ayu ngerasa aman.

Fikri nyalain mesin. Vroom.

Tapi belum juga jalan 3 meter.

BRAAAK.

Suara mesin meraung dari belakang.

Sebuah mobil sport hitam melesat. Kencang. Sengaja.

Ibrahim.

Kaca jendelanya turun setengah. Wajahnya dingin. Matanya ngeledek.

Ban mobilnya langsung menghantam genangan air di samping motor Fikri.

SPLASH.

Air kotor setinggi lutut nyiprat semua. Basah kuyup. Ke muka Ayu, ke baju Fikri, ke motor mereka.

Ayu teriak kaget. "AH!"

Dengan refleks tinggi, Fikri langsung menutupi badan Ayu dengan tubuhnya.

Mobil itu berhenti didepan Ayu dan Fikri. Keluar sosok pria tinggi, wangi dan berpakaian rapi. Ibrahim 15 tahun lalu sudah terlihat begitu angkuh. Ditambah dengan cerutu rokok yang dihisap. Semakin memperlihat wajah songong begitu nyata.

"Papa kamu bilang kemarin. Jangan pulang naik motor. Nanti kulit bersih kamu jadi hitam. Kena cipratan air comberan. Mending pulang bareng aku, naik mobil." Ibrahim kembali menghisap rokoknya. "Mobil sport ratusan juta." Wajah meledek.

Ayu melepas helmnya. Menghampiri Baim yang bersender di cap mobilnya.

"Sampai kapanpun, aku tidak mau pulang dan berangkat dengan kamu. Walaupun naik mobil mahal kamu!" Ayu marah dengan tatapan tajam.

Tanpa aba-aba, Baim berusaha merangkul Ayu dengan tatapan menjijikan. Fikri yang masih di atas motor. Langsung marah melihat sang pacar coba dilecehkan oleh Baim.

"Selain aku dan ayahnya. Tidak ada pria lain yang boleh menyentuh Ayu," Fikri segera melepaskan helm.

Dengan gagah berani, Fikri menghampiri Baim. Segera menarik tangan Ayu. Menjauhkannya.

"Jangan berani-berani kamu mendekati Ayu!" tegas Fikri.

Baim melempar cerutu rokok seharga sepatu Fikri begitu saja. Kemudian menyemburkan asap terakhir tepat di depan wajah Fikri.

"Anak SMA sudah berani kurang ajar sama anak kuliahan. Belajar yang benar. Apalagi anak seperti kamu ini. Modal nongkrong, tapi otak kosong. Ngaca!" balas Baim menatap tajam Fikri.

Tidak gentar dengan tatapan Baim. Fikri membalasnya dengan santai.

"Bukannya kamu kuliah disana berkat uang orangtua kamu?" Fikri tersenyum.

"Rumornya sih, kamu itu aslinya bodoh!" Fikri tertawa.

Kesabaran Baim habis. Dia mengepalkan tangannya. Napasnya memburu. Satu pukulan hampir saja dilayangkan tepat diwajah Fikri.

Namun, saat dua teman Fikri datang. Apa yang sudah di ubun-ubun, hilang begitu saja. Tidak mungkin Baim akan melawan tiga orang sekaligus.

"Sebelum kamu pakai tangan itu untuk menonjok Fikri. Lakukan terlebih dahulu padaku," tantang Gio dengan wajah sengau.

"Gak usah kamu. Sini, lawan saya saja pasti ketakutan," timpal Raka sambil tertawa.

Baim tidak mungkin melawan ketiganya. Ia mundur perlahan, lalu kembali masuk kedalam mobilnya. Melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.

Fikri kembali mengingat momen ini. Dia sama sekali tidak berdaya saat Baim datang dengan mobil mewahnya. Membiarkan Ayu pulang dengan Baim saat itu. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana Ayu harus pulang dengan Baim. Wajah cabul Baim, sudah pasti membuat Ayu ketakutan.

"Bodoh banget. Kenapa dulu aku membiarkan semua itu terjadi. Ayu berjuang untuk hubungan ini. Tapi, aku justru pasrah dengan semuanya. Kamu memang pecundang," Fikri bergelut dengan pikirannya sendiri.

Melihat Fikri terdiam dengan tatapan kosong. Raka dan Gio langsung mengejutkannya. Fikri yang kaget, langsung mengeluarkan kata-kata jorok.

"Bangke kadal,"

Ayu mendengarnya. Namun Fikri segera memberikan klarifikasi. "Maafkan aku Sayang. Tadi cuman spontan. Asli aku sangat lembut dalam bersikap dan bertutur kata."

Ayu hanya tersenyum, lalu mengatakan jika dirinya percaya. "Aku percaya kamu Sayang. Tenang saj."

Melihat momen romantis itu, Raka dan Gio menjadi iri. Apalagi keduanya belum memiliki pasangan.

"Kalau begini terus. Boleh bilang iri gak?" tanya Gio.

"Sama Gi, aku juga iri lihat mereka berdua," timpa Raka.

Fikri sengaja membuat Raka dan Gio semakin iri. Dia memeluk Ayu, lalu mencium rambutnyanya dengan lembut. Tidak lupa kata 'Sayang' yang semakin membuat kedua sahabatnya iri.

Akan tetapi, ditengah rasa bahagia itu. Fikri masih belum bisa memaafkan dirinya di masa depan. Wanita sebaik dan setulus Ayu, tidak pernah diperjuangkan olehnya. Hanya penyesalan yang kini ada didalam hati.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sebelum Kau Diraih Dia    Cemburu Pertama

    "Eh, Kak Fikri! Kak Fikri yang tadi pinter jawab kakak panitia itu, kan?"Suara cewek itu melengking, manis, dan sengaja dibuat manja.Ayu yang tadinya masih menyandarkan kepala di bahu Fikri di bawah pohon ketapang, langsung tegak. Jepit kupu-kupunya kembali miring.Fikri menoleh. Di depannya berdiri seorang cewek. Rambutnya dicat cokelat agak pirang, gaya yang mahal dan berani di tahun 2010. Poninya tipis ala-ala SNSD yang baru debut. Kaos MOS-nya yang harusnya kebesaran dan jelek, ia modifikasi. Lengannya digulung sampai siku, bawahnya diikat ke samping, jadi nge-press di pinggang. Tasnya bukan tas kain karung goni kayak maba lain, tapi tas tote bag bermerek dari 3Second yang lagi hits. Rok abu-abunya agak lebih pendek dari standar.Cantik. Terlalu cantik untuk ukuran MOS yang bau keringat dan debu lapangan."Oh, iya. Fikri," jawab Fikri sopan, mengangguk sedikit."Kenalin, Kak. Aku Dinda. Dinda Kirana, dari Jurusan Ilmu Komunikasi juga. Satu jurusan sama pacarnya Kakak ya?" kata

  • Sebelum Kau Diraih Dia    Survei 2

    "Pegangan yang erat, Yu. Jalanan di depan agak berlubang," ujar Fikri setengah berteriak. Suaranya harus melawan deru knalpot Vespa merahnya yang bobrok dan angin jalanan Soekarno-Hatta yang kencang menusuk kulit.Ayu tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menjawab dengan tindakan.Lingkaran lengannya di pinggang Fikri mengerat. Dagu lancipnya ia sandarkan di bahu tegap cowok itu, helm retro kremnya sedikit miring menabrak helm butut Fikri. Aroma yang ia hirup bukan parfum mahal. Hanya wangi sabun Lifebuoy dan detergen Rinso dari kaos putih polos katun combed 30s milik Fikri. Wangi yang sangat sederhana, tapi entah kenapa, pagi ini menenangkan sekali.Di sepanjang jalan, Ayu tersenyum sendiri di balik helm. Ada yang aneh dengan Fikri hari ini.Cowok yang semalam ngamuk-ngamuk di telepon karena disuruh mengalah soal jadwal main warnet Point Blank, pagi ini berubah jadi sosok yang jauh lebih dewasa. Cara dia membawa motor lebih stabil, cara dia mengerem tidak menghentak, cara dia sesekali

  • Sebelum Kau Diraih Dia    Survei Kampus

    "Kamu ngapain di sini?" Suara itu ketus, tajam, langsung menusuk gendang telinga. Pagar besi hijau rumah Ayu berderit saat didorong dari dalam. Dan di baliknya, dia berdiri. Ayu. Fikri menahan napasnya sejenak. Bukan karena kaget dimarahi, tapi karena pemandangan di depannya. Gadis itu tampil dengan gaya kasual paling ikonik tahun 2010 yang ia ingat betul. Kaos grafis ketat warna abu-abu dengan sablon besar logo band The Beatles, celana skinny jeans warna biru dongker yang begitu ketat membungkus kaki jenjangnya, dan sepatu kanvas kotak-kotak hitam-putih. Rambutnya yang lurus sebahu dijepit ke samping dengan jepit rambut kupu-kupu warna pink. Cantik. Sangat cantik. Terlalu cantik untuk disia-siakan karena game online di warnet. Wajah cantik itu sekarang cemberut. Bibirnya mengerucut, matanya menyipit, sisa amarah dari pertengkaran mereka semalam di telepon masih menggantung jelas di sana. "Semalam katanya siapa yang bilang 'malas ah, mau push rank di warnet sama anak-anak'?" lanj

  • Sebelum Kau Diraih Dia    Hari Kelulusan

    Senyum penuh kemenangan tidak bisa disembunyikan dari wajah Fikri. Tangannya mengepal pelan di samping panggung. Detak jantungnya masih kencang. Saat pembawa acara memanggil namanya lebih dulu, lalu disusul nama Ayu, rasanya semua kerja kerasnya terbayar lunas."Fikri Pratama, sebagai peraih nilai tertinggi pertama!"Suara tepuk tangan menggema. Fikri melangkah naik. Dari ujung panggung, ia melihat Ayu sudah berdiri dengan kebaya wisudanya. Mata mereka bertemu."Selanjutnya, Ayu Lestari, peraih nilai tertinggi kedua!"Ayu naik dengan senyum gugup. Mereka berdiri bersebelahan di tengah panggung. Kepala sekolah menyalami mereka satu per satu."Selamat ya, Fik. Kita berhasil," bisik Ayu pelan, hanya cukup didengar Fikri.Fikri menoleh dan membalas dengan suara yang sama pelannya, "Kita berhasil, Yu. Sesuai harapan kita kan? Akhirnya satu kampus.""Gila, aku masih gak nyangka. Kamu beneran ngejar aku sampai sini," kata Ayu sambil tertawa kecil."Ya harus lah. Janjinya kan dari kelas sebel

  • Sebelum Kau Diraih Dia    Lolos

    "Kita lolos!!!"Suara Ayu pecah di tengah kerumunan papan pengumuman. Air matanya langsung mengalir deras tanpa bisa ditahan. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, bahunya bergetar hebat. Bagi Ayu, ini bukan sekadar pengumuman kelulusan. Ini adalah mukjizat.Ayu menoleh ke samping, mencari Fikri yang berdiri hanya selangkah darinya."Fik, lihat! Nilai kamu... nilai kamu di atas 9! Ya Allah, Fik, kamu bisa! Kita bisa masuk kampus impian bareng-bareng!" ucap Ayu sambil menangis dan tertawa bersamaan.Berbeda dengan Ayu yang heboh, Fikri justru diam. Wajahnya datar. Ia menatap layar pengumuman itu dengan tatapan kosong, tidak ada senyum lebar, tidak ada teriakan bahagia. Di dalam kepalanya, ada hal lain yang jauh lebih penting dari sekadar angka 9 itu.Ia membayangkan wajah ayah Ayu. Lelaki yang selama ini selalu memandangnya sebelah mata, yang selalu menganggapnya tidak akan punya masa depan. Ia penasaran, seperti apa ekspresi lelaki itu nanti ketika tahu bahwa dirinya, Fikri, berhas

  • Sebelum Kau Diraih Dia    Komitmen Fikri

    "Papa aku minta kita putus!"Kalimat itu masih terngiang jelas di kepala Fikri.Gara-garanya cuma satu, nilainya pas KKM. Padahal syarat dari Papa Ayu jelas, kalau mau satu kampus bareng Ayu di kampus impian mereka, nilainya minimal harus 9.Waktu itu Fikri benar-benar putus asa. Dia masih berharap Ayu bisa membela dia di depan papanya."Yu, tolong bujuk Papa kamu ya? Bilang aku udah usaha. Aku kira soalnya gampang kemarin," kata Fikri waktu itu, setengah memaksa.Ayu cuma diam. Matanya sembab, kayak habis nangis."Aku udah coba bujuk, Fik," jawab Ayu pelan, pasrah. "Tapi kata Papa... kita harus setara. Kalau pendidikan kita nggak setara, hubungan ini nggak akan jalan."Pahit. Semua kenangan manis sejak SMA, yang dulu mereka sebut kayak perangko, selalu nempel ke mana-mana. Hilang begitu aja.Sekarang setiap Fikri lihat Ayu, selalu ada Baim di sampingnya. Nempel terus kayak pengawal pribadi.Fikri menatap kertas ulangan susulan di tangannya. Tangannya sedikit gemetar.Ini kesempatanku

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status