LOGIN"Ha, ha, ha .... Aku bercanda, Oma," ujar Maura sambil tertawa canggung. "Jangan dianggap serius."
Maura mematikan kompor karena masakannya telah matang. Dia segera mencuci tangannya dan menghampiri wanita tua itu sambil melepaskan celemek dan meninggalkan oseng daging sayuran di wajan. "Sini, Oma. Duduk sini," ajaknya sambil meraih lengan wanita tua itu dan membawanya duduk di salah satu kursi dapur. Maura diam-diam melirik ekspresi wajah Dewangga yang mulai kembali datar. Bahkan ekspresi wajah Mia juga terlihat lega. "Dasar, anak nakal. Oma sampai kaget. Oma kira kamu nggak mau kenal lagi sama oma," gerutu Oma Ambar sambil duduk. "He, he, he ...." Maura kembali tertawa. Dia lega karena sepertinya dia tak melakukan kesalahan fatal. "Kamu kelihatan cantik banget hari ini, Maura," puji oma Ambar tulus sambil menatap penampilan wanita itu. "Padahal cuma pakai lipstik doang, ya? Cuma seoles, pula." "Ah, Oma bisa aja." Maura merasa malu, tapi juga senang karena wanita tua itu terlihat perhatian padanya. "Tapi beneran, kok. Kamu lebih cantik begini. Jadi nanti nggak usah pakai makeup tebal lagi, ya," pinta Oma Ambar senang. "Alena jauh lebih cantik, Oma," kata Maura sambil melirik Dewangga. "Ya, dia memang cantik. Tapi oma lebih senang lihat kecantikan kamu," ujar oma Ambar sambil mengusap rambut Maura. "Oma datang sama siapa ke sini?" tanya Maura mengganti topik pembicaraan, sebelum hidungnya terbang. "Gimana kabar Oma?" "Oma baik. Oma datang sama Yanti, diantar sopir taksi online," jawab wanita tua itu sambil menunjuk seorang wanita muda berpenampilan sederhana yang menenteng sebuah tas milik oma Ambar yang berdiri di samping Mia. Dari seragamnya, Maura tahu orang yang bernama Yanti itu pasti perawat yang merawat oma Ambar. "Aku kira Oma datang ke sini sama Dewangga." "Enggak. Dewangga tuh, tiba-tiba aja pulang dari kantor pas tahu oma mau ke sini." Oma Ambar menunjuk Dewangga yang baru duduk dengan dagunya. "Tapi, kok, tumben kamu gak manggil Dewangga dengan sebutan mas?" "Eh?" Maura sedikit terkejut dan melirik pria itu. "Kenapa memangnya, Oma?" tanya Dewangga sambil melepaskan jas dan meletakkannya di sandaran kursi. "Cuma masalah panggilan saja dan tak ada yang salah sebenarnya." "Ya, emang nggak salah. Tapi bukannya lebih baik kalau istrimu memanggilmu dengan sebutan mas?" "He, he, he ... iya, Oma. Aku yang salah," ujar Maura mengalah. Mana dia tahu sebelumnya dia memanggil apa pada Dewangga. "Oh, iya, Mia. Ajak Yanti makan camilan di belakang, ya." "Baik, Nyonya," jawab Mia sambil mengajak Yanti pergi. "Kamu, tuh, ya. Udah datang dari Perancis kemarin kenapa nggak langsung ke rumah oma? Udah nggak mau ketemu lagi sama oma?" tanya oma Ambar sambil menepuk punggung tangan Maura perlahan. "Bukan begitu, Oma. Kemarin aku sampai di sini pagi-pagi benget dan langsung tidur karena capek," jawab Maura sambil duduk di kursi sebelah oma Ambar. "Siangnya ... aku pergi ke rumah papa." Oma Ambar dan Dewangga serempak menatapnya. "Lho? Ngapain kamu ke rumah papamu? Bukannya kalian nggak pernah akur?" tanya oma Ambar terkejut. Tak pernah akur? Maura baru kali ini tahu kenyataan itu. Pantas, rasanya dia tak terlalu disambut di rumah itu. Tapi kenapa? "Nggak ngapa-ngapain, Oma. Aku cuma penasaran dengan kabar mereka. Jadi aku datang berkunjung sebentar," jawab Maura sambil melirik Dewangga sekilas. "Bagaimanapun juga, papa tetap papaku." "Oh, bagus itu. Nggak ketemu beberapa bulan aja ternyata kamu udah mulai berpikiran dewasa," puji oma Ambar senang. "Oh, iya. Kamu masak apa? Kok oma baru tahu kalau kamu bisa masak?" "Aku nggak bisa masak, Oma, masih belajar. Ini aku baru aja nyoba bikin oseng sayuran yang dikasih potongan daging. Resepnya aku lihat dari internet," jawab Maura sambil meraih tiga cangkir kosong yang terletak tak jauh darinya dan mengisinya dengan teh hangat. "Minum dulu, Oma." Oma Ambar mencicipi teh yang Maura sodorkan. "Oma jadi penasaran sama masakanmu. Pengen nyobain." Maura yang sedang menyodorkan satu cangkir teh lain untuk Dewangga hampir menumpahkan isinya. "Jangan, Oma. Masakanku masih belum layak dimakan." "Kok belum layak dimakan? Emangnya masakan kamu dikasih apaan selain daging, sayuran, dan bumbu?" tanya oma Ambar tersenyum. Maura menggeleng sambil menyeringai. "Itu 'kan, karena aku baru banget belajarnya, Oma. Masakannya belum tentu enak." "Pokoknya oma mau nyobain, titik," ujar wanita tua itu semakin penasaran. Maura membuang napasnya. "Tapi Oma harus janji, jangan ngejek masakanku." "Iya, iya. Oma janji." Wanita tua itu tersenyum lebar. "Sini, oma pengen nyobain sekarang." Maura beranjak mengambil sebuah mangkuk kecil dan memindahkan sebagian isi wajan ke dalamnya. Dia menyerahkan mangkuk itu ke tangan oma Ambar. "Hmm ... ini enak, Maura. Bumbunya pas," ujar oma Ambar senang saat dia mencicipi masakan Maura. "Oma pengen makan ini buat makan siang, ya." "Seenak itu, Oma?" tanya Maura tak percaya. "Iya," kata oma Ambar senang. Maura mencicipi masakannya yang memang terasa enak. Ya, tentu saja enak karena ada bantuan dari Mia. Andai saja dia memasaknya sendirian, belum tentu seenak itu. "Ternyata kamu berbakat," puji oma Ambar. "Ah, nggak juga, Oma. Ini karena tadi Mi—" Maura tak berani mengatakan yang sejujurnya bahwa Mia membantunya. Dia takut Mia akan terkena masalah karena di sana ada Dewangga yang ikut duduk walaupun pria itu tak berminat ikut dalam obrolan mereka dan hanya tertarik menikmati tehnya. "Maksudku, ini karena cuma kebetulan aja, Oma. Lain kali belum tentu rasanya kayak gini." "Ah, pokoknya kamu hebat. Kalau kamu pengen belajar masak, oma ada teman yang sekarang lagi buka kelas memasak. Ibu Dewi namanya. Kamu mau ikutan kelasnya?" "Nantinya masak apa, Oma?" tanya Maura penasaran. "Ya, macam-macam. Tapi, hampir semuanya masakan Indonesia. Kebetulan 'kan kamu sama Dewangga pecinta masakan Indonesia. Kelasnya juga cuma sebentar, sebulan doang." "Mau, Oma," jawab Maura antusias. "Kapan diadakannya?" "Mungkin ... beberapa hari lagi. Nanti oma tanyakan lagi sama bu Dewinya, ya." Maura mengangguk senang. Tapi, kemudian senyumnya pudar saat ingat bahwa tabungannya hanya tersisa sedikit. "Oma, mungkin nanti aja aku ikut kelasnya. Soalnya aku sama sekali nggak bisa masak. Aku latihan aja dulu dari resep di internet dan dari video biar nggak terlalu malu-maluin," ujar Maura yang tak ingin berterus terang mengenai keuangannya sekarang. "Lho? Ya gak apa-apa. Namanya juga belajar. Sebenarnya memasak itu bisa dipelajari dari resep di internet atau video, tapi kalau banyak teman, 'kan, jadi lebih seru memasaknya. Biar kamu semangat belajar, biar banyak teman juga," ujar oma Ambar sambil mengusap lengan Maura. Maura mengangguk ragu. "Pokoknya kamu nggak usah khawatir gak bisa. Nanti minta Dewangga yang bayarin kursus kamu, ya," kata oma Ambar sambil menggenggam tangan Maura hangat. Maura tersenyum canggung. Dia tak yakin Dewangga mau membayarkan biaya kursusnya, tapi mendapatkan perlakuan penuh kasih dari oma Ambar membuat hatinya menghangat. "Ya, Oma. Terima kasih atas segala-galanya." "Ah, apa sih, kok kamu bilangnya gitu? Oma, kan, udah sering bilang sama kamu. Apapun yang mau kamu lakuin, oma pasti bakal dukung kamu. Sekarang kamu lagi pengen belajar masak, tentu oma juga dukung, yang penting kamu bahagia." Maura memeluk oma Ambar dengan penuh kasih sayang. Matanya hampir basah karena terharu. Inilah yang dia perlukan dua hari ini. Dia sama sekali tak menyangka ternyata masih ada seseorang yang begitu peduli dan mendukungnya. "Terima kasih banyak, Oma. Oma memang yang terbaik." *** Beberapa hari berlalu. Maura berdiri di depan kitchen set yang dibuat khusus memanjang di tengah ruangan. Kitchen set itu terdiri dari empat baris yang masing-masing baris memiliki tiga set lengkap untuk digunakan oleh masing-masing peserta. Total pesertanya ada dua belas orang termasuk dirinya yang mendapatkan tempat di baris paling tengah sebelah kanan. Sedangkan chef pembimbing yang ada di sana berjumlah empat orang. "Lengkuasnya kira-kira cukup pakai tiga sentimeter aja, ya, dimemarkan, gak perlu diulek bareng bumbu halus," ujar seorang chef wanita berumur tiga puluh tahunan yang mengaku sebagai asisten utama Bu Dewi sambil berjalan memperhatikan para peserta yang sibuk membuat bumbu. Maura menunduk melihat mejanya. Ada beberapa jenis rimpang-rimpangan di sana yang membuatnya kebingungan. Di matanya, semua rimpang itu terlihat sama. Yang mana lengkuas? Maura bingung. Walaupun dia melihat ke sebelah kirinya, dia masih tak yakin. "Kenapa? Ada yang masih bingung?" tanya seorang chef pria paling muda sambil mendekati Maura. Maura menyeringai lebar dan mengangguk. "Yang mana lengkuas, Chef?" tanyanya polos. Pria itu mengerutkan alisnya, namun bibirnya tetap tersenyum. "Kamu belum ngerti nama-nama bumbu dasar?" Maura menggeleng sebagai jawabannya. "Saya belum bisa membedakan rimpang-rimpangan kayak gini. Semuanya kayak sama." "Yang ini lengkuas," ujar pria itu sambil meraih dan meletakkan sebongkah besar lengkuas di atas talenan. "Kulit luarnya halus cenderung licin dan beruas. Ketika dipotong, luar maupun dalamnya lebih keras dari rimpang lainnya dan aromanya khas dengan bagian dalam berwarna putih, juga memiliki serat yang kasar ketika digeprek." "Oh ...." Maura mengangguk mengerti sambil memotong lengkuas sepanjang tiga sentimeter. "Terima kasih, Chef." "Sebelumnya kamu gak pernah masak?" tanya pria itu memastikan. Maura mengangguk. "Saya masih belajar." "Baiklah. Lanjutin bikin bumbunya. Kalau ada yang masih bingung, jangan ragu buat tanya dan minta bantuan," ujar pria itu yang tak ingin mengganggu Maura lagi, namun dia terus menerus memantau dan paling banyak membantu Maura selama kelas memasak berlangsung. Kelas memasak berakhir sekitar pukul setengah enam sore saat gerimis mulai turun. Maura dan peserta lainnya sibuk beres-beres dan bersiap untuk pulang. "Terima kasih banyak atas bantuannya, Chef ...?" Maura berujar ragu. Dia lupa nama pria itu saat perkenalan di awal kelas. Pria itu tersenyum lebar memamerkan satu lesung pipinya di sebelah kiri. "Andreas. Panggil aja saya Andreas. Saya kurang nyaman dipanggil chef karena saya merasa belum benar-benar ahli." "Saya Maura, Chef, eh, Mas Andreas," ujar Maura sambil mengulurkan tangannya. Andreas menyambut tangan Maura hangat. "Senang berkenalan denganmu, Maura." Maura tersenyum. "Ya, saya juga." "Kamu mau belajar mengenai rimpang-rimpangan sebentar sebelum pulang?" tanya pria itu. Maura melihat arloji di tangannya. Sebagian orang di ruangan itu telah pergi dan hanya tinggal empat orang di sana termasuk dirinya dan Andreas. "Apa saya nggak bakal menyita waktunya mas Andreas?" tanya Maura tak yakin. "Oh, enggak, dong. Saya kebetulan lagi santai." "Oke, kalau begitu saya mau." Maura mengangguk. Dengan cepat Andreas menjelaskan perbedaan antara lengkuas, jahe, kunyit, dan kencur yang bagi Maura terlihat mirip. "Aromanya beda-beda, 'kan?" tanya Andreas. Maura mengangguk sambil tersenyum senang. Dia mulai nyaman berbicara dengan Andreas. "Iya. Kalau udah dijelasin kayak gini aku jadi lebih ngerti dan bisa bedain," jawab Maura sambil mencium aroma beberapa rimpang itu bergantian. Andreas mengeluarkan kartu namanya. "Ini nomor saya. Kalau ada yang ingin ditanyakan, kamu bisa telepon atau chat saya." Mata Maura berbinar senang. Dia segera menerima kartu nama itu. "Aku nggak punya kartu nama, Chef. Eh, Mas," kata Maura sambil meraih pulpen dari dalam tasnya dan selembar kertas struk belanja. "Aku tulis nomorku di sini aja, ya." Andreas mengangguk sambil tertawa ringan. "Oke, nggak apa-apa." Setelah selesai menuliskan nomornya, Maura menyerahkan kertas itu pada Andreas. "Semoga Mas nggak nyesel ngasih nomornya ke aku. Nanti mungkin aku bakal tanya-tanya resep ke Mas," kata Maura sambil memasukkan kartu nama Andreas dengan hati-hati ke dalam tasnya. "Oh, gak masalah. Tanya aja kapanpun kamu butuh. Pasti aku jawab sesegera mungkin." "Oke." Maura mengangguk senang. "Udah hampir mau malam, di luar juga hujan deras. Kamu pulangnya dijemput?" tanya Andreas sambil melihat ke luar melalui jendela yang sedikit terbuka. Maura menggeleng. Lagipula, siapa juga yang akan menjemputnya? "Palingan aku pulang sendiri," jawab Maura. "Kalau gitu apa mau aku anta—" "Maura." Panggilan dari seorang pria terdengar. Maura segera menoleh terkejut, begitu juga dengan Andreas. Dilihatnya Dewangga berdiri di ambang pintu yang terbuka lebar sambil menggenggam payung hitam basah yang terlipat. Celana kerja dan sepatutnya pun sama basahnya.Ponsel Maura yang tergeletak di ruang tengah berdering beberapa kali saat wanita itu tengah memasak di dapur untuk makan siang.Mia yang mendengarnya segera mengambil ponsel itu dan mengantarkannya pada Maura.“Nyonya, HP-nya bunyi terus dari tadi,” ujarnya sambil menyodorkan ponsel Maura.“Oh, siapa yang menelepon?” tanya Maura sambil meletakkan pisau yang tengah digunakannya mengiris bawang merah.“Nggak ada namanya, Nyonya,” jawab Mia.“Oke, makasih.” Maura menerima ponselnya sambil menggeser tombol hijau di layarnya, sementara Mia berpamitan pergi. “Halo?”“Halo, Maura,” sapa seorang wanita di seberang sana, membuat Maura mengerutkan alisnya. “Ini Marina. Kamu masih ingat aku, ‘kan?”“Oh, iya. Ada apa?” tanya Maura yang sedikit bingung karena Marina tahu nomor ponselnya padahal dia sudah mengganti nomornya dengan yang baru sesaat sebelum berangkat ke London hari itu.“Siang ini ada waktu, ‘kan?” tanya Marina di ujung sana.“Siang ini?”“Iya, siang ini. Waktu itu kamu nggak datang
Hari telah pagi sekitar pukul enam.Dewangga masih memejamkan matanya saat Maura terbangun. Wanita itu menatap Dewangga dalam diam, dengan berbagai pikiran di benaknya.Maura pikir, pria itu sama sekali tak peduli saat anaknya meninggal karena wajahnya selalu terlihat datar tanpa kesedihan, namun ternyata Dewangga memendam segalanya sendiri.“Kamu kelihatan capek banget,” kata Maura perlahan seolah dia tengah berbicara pada dirinya sendiri.Wanita itu turun perlahan dan segera membersihkan diri. Selesai membersihkan diri dan memakai pakaiannya yang telah kering, Dewangga masih tertidur pulas.Maura turun ke lantai bawah. Tampak Mia dan mbok Narti masih menyapu sisa-sisa pecahan kaca yang berserakan, bahkan beberapa guci dan benda lainnya ikut rusak.“Selamat pagi, Nyonya.” Zefan menampakkan dirinya sambil tersenyum, dengan secangkir kopi di tangannya.“Zefan? Kamu udah di sini?” Maura m
Dewangga dengan cepat melihat ke luar ke arah bawah. Tampak seorang wanita mendongak sambil memakinya dengan kasar dan terus melemparkan batu. Ada yang mengenai dinding, ada juga yang mengenai bingkai jendela.“Berengsek! Balikin rumah saya! Balikin perusahaan saya!!” teriak wanita itu dari arah luar.“Jangan turun! Banyak pecahan kacanya, nanti kena kaki,” peringat Dewangga saat Maura menyibak selimutnya dengan hati-hati dan mulai menurunkan kakinya.Maura menarik kakinya kembali ke atas ranjang sambil menggenggam erat botol hangat di tangannya, kemudian Dewangga segera mendekat dan menyingkirkan selimutnya jauh-jauh.“Buat sementara, tidur dulu di kamar sebelah, Maura,” ujar Dewangga sambil menggendong Maura dan membawanya dengan enteng.“Itu … itu kayaknya suara tante Silvia, ya?” tanya Maura dengan wajah yang masih syok sambil melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu, meninggalkan botol hangatnya.
Hari sudah cukup larut saat Dewangga pulang ke rumahnya dengan menenteng sebuah tas dan jas kerjanya di tangan.Seluruh lampu utama di semua ruangan telah padam dan ruangan hanya diterangi cahaya lampu dinding yang temaram.Pria itu duduk bersandar setengah berbaring di sofa ruang tengah, melepas lelah setelah seharian ini kegiatannya sangat padat dan menguras tenaga. Banyak hal yang harus diurus termasuk perusahaan Ruslan yang sudah diambil alih olehnya. Belum lagi harus mengurus perusahaan ayahnya sehingga dia belum sempat menemui oma Ambar secara pribadi.Dewangga mengecek arlojinya. Jam sudah menunjukkan waktu pukul sebelas lebih.“Seharusnya Maura masih dalam perjalanan ke London,” ujarnya perlahan sambil memejamkan matanya sejenak.Rasa kantuk yang mulai datang memaksanya untuk membuka mata dan naik ke lantai atas. Namun ketika dia tiba di depan kamarnya, dia melihat pintu kamar sebelah sediki
“Tapi ada baiknya kamu menginap di sini,” ujar Dewangga lagi.“Aku nggak bawa baju ganti.”“Nyonya, ini pakaian ganti Anda. Piyama buat tidur malam ini dan satu set pakaian buat besok,” kata Mia yang tiba-tiba datang membawa dua buah paper bag dan meletakkannya di kursi, kemudian berpamitan lagi.Maura terkejut sambil menatap Dewangga yang tengah minum setengah gelas air mineral. Wanita itu melihat isi kedua paper bag itu.Piyama yang disiapkan untuknya model piyama lengan panjang pada umumnya, namun bahannya terbuat dari silk lembut dengan motif bunga mawar.Satu pakaian lagi terbuat dari linen berkualitas, dengan label bertuliskan ‘Belgian Linen’.“Kamu sampai menyiapkan pakaian ini buatku?”“Cuma pakaian. Apa susahnya?” jawab Dewangga enteng. “Menginaplah di sini, Maura. Seenggaknya ada Mia dan mbok Narti kalau besok pagi aku berangkat bekerja.”Maura ragu sejenak, tapi
Maura menatap kosong ke arah kaca pintu mobil yang tengah melaju dengan Zefan sebagai sopirnya.Laju mobilnya stabil, tidak terlalu cepat maupun lambat.Saat wanita itu dan bosnya masih berada di area pemakaman, Zefan dengan sigap meminta seseorang mengantarkan mobil Dewangga ke sana, supaya saat kembali nanti Maura dan Dewangga merasa lebih nyaman dalam perjalanan pulang.Hari telah sore. Meski Dewangga tak mengatakan harus pergi ke mana, Zefan memutuskan membawa mereka pulang ke rumah Dewangga dan memberi tahu Mia lewat pesan teks agar gadis muda itu bisa bersiap-siap menyambut mereka.Hening, tak ada musik, tak ada obrolan apapun seolah setiap orang tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Zefan sendiri tak berani bersuara meski sesekali dia melirik ke arah belakang melalui kaca spion tengah.Di sisi Maura, di kursi belakang, Dewangga tengah membersihkan jari-jari tangan wanita itu dari sisa tanah merah menggunakan tisu basah.“Lapar?” tanya Dewangga memecah sepi meski dengan suar
“Nyonya, siapa yang datang?” tanya Mia begitu Maura kembali masuk setelah membuang kotak kardus itu. “Nggak ada siapa-siapa. Mungkin ada yang iseng pencet bel. Biasanya sih, anak-anak,” jawab Maura sambil tersenyum dan duduk kembali. “Ah, aku ngantuk.” “Nyonya mau tidur lagi?” tanya Mia. “Ya,
Siang itu, Dewangga makan bersama Zefan di sebuah restoran di area pusat perbelanjaan.Selesai makan, keduanya berpisah karena Zefan harus membeli sesuatu sebelum jam istirahat habis, sementara Dewangga berjalan pulang melintasi deretan pertokoan.Ketika melewati sebua
Pagi menjelang. Di luar, udara dingin berhembus perlahan menyapu ranting-ranting basah bekas hujan semalam. Sinar matahari baru nampak setelah tertutup awan tipis sejenak. Zefan menjemput Dewangga tepat setelah pria itu selesai sarapan. “Kamu mengin
“Tuan, ini paket yang Nyonya terima tadi,” kata Mia dengan suara perlahan sambil melirik pintu kamar Maura yang sudah tertutup rapat. “Nggak ada nama pengirimnya.” Dewangga yang tengah berbaring di sofa dengan selimut yang menutupi setengah tubuhnya segera duduk. “Berikan pada







