Home / Romansa / Sebelum Tiga Tahun / 124- Malam Mingguan Babak 2

Share

124- Malam Mingguan Babak 2

Author: Sora Carita
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-03 16:12:59
Geza terus melangkah tanpa banyak bicara.

Tala mengikutinya menyusuri sebuah kawasan yang malam itu dipenuhi muda-mudi. Bangunan-bangunan bata ekspos berjajar di kanan kiri, diselingi tenant kopi, toko rilisan lokal, dan ruang-ruang kreatif yang masih ramai dikunjungi. Lampu-lampu gantung memantulkan cahaya hangat di sela pepohonan.

Di beberapa sudut, orang-orang duduk santai di bangku beton, mengobrol pelan, sementara dari area terbuka terdengar alunan musik akustik yang mengisi malam.

Tala mem
Sora Carita

heleh heleh manisnya. Mau lagi gak?

| 9
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (5)
goodnovel comment avatar
evi erfika
Cieee om eja bikin meleleh nih, lanjut thor
goodnovel comment avatar
naraaa
mauuu mauuuuuuu, lagi kak yg buaaanyaaaaaaaaakk
goodnovel comment avatar
Sora Carita
wkwkwk begitulah pasangan ini, kadang bikin nyengir kadang bikin misuh misuh
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Sebelum Tiga Tahun   227- Geza dan Video

    Tala menyusul ke sekolah Sansa. Setelahnya, ia pergi berdua dengan anak itu, berkeliling mal untuk meredakan pikirannya yang kusut. Namun, bukannya merasa lebih jernih, Tala justru semakin jengah.“Aman semua untuk minggu ini, Mbak. Paling nanti minggu depan ada schedule sama pihak Bhuwana,” Sania menginformasikan jadwal Tala minggu ini lewat sambungan telepon.Sekacau saat ini, Tala tak mungkin pergi ke Janitra.Lagi pula, agendanya minggu ini memang cukup longgar. Tak ada rapat penting atau keputusan strategis yang menuntut kehadirannya. Paling-paling, ia hanya perlu memantau perkembangan perusahaan dan mendalami prospek bisnis Janitra yang akan digarap dalam waktu dekat.“Hari apa? Kalau cuma Pak Suwandi aja yang hadir, fine, kan?”Tala tahu ini bukan keputusan yang profesional. Namun, ia sungguh muak jika harus melihat Geza dan Kinan ada di sana juga. Bayangan Kinan mencium Geza saja sudah cukup membuat perutnya mual.Apa ini alasan Geza berulang kali menanyakan keyakinannya untuk

  • Sebelum Tiga Tahun   226- Penjelasan Bullshit

    Semua penjelasan dan pembelaan yang baru saja Tala dengar dari mulut suaminya itu justru membuatnya semakin muak.Tala tertawa getir, tanpa sedikit pun rasa geli.“Oke, kamu nggak bales, tapi kamu diem aja. Kenapa? Cukup menikmati? Keinget masa-masa delapan tahun itu?” todongnya tajam.Dadanya semakin sesak. Rasa sakit yang sejak semalam mati-matian ia tahan kembali menghimpit, begitu kuat hingga napasnya terasa tercekat.Tala merasa bodoh karena sempat percaya, bodoh karena membiarkan dirinya jatuh cinta, dan lebih bodoh lagi karena mengira Geza tak akan pernah tega menyakitinya seperti ini.”Ta, semuanya terjadi begitu cepat.” Geza mengusap wajahnya kasar, frustrasi. “Saya mabuk. Pandangan saya udah kabur, saya bahkan sempat salah lihat—”Ia terdiam sejenak, rahangnya mengeras.“Kinan tiba-tiba cium saya. Saya ngefreeze, Ta. Bukan karena saya menikmati, apalagi karena saya pengen mengulang masa lalu.” Tatapannya kembali tertuju pada Tala. “Saya cuma nggak langsung bisa bereaksi.”“B

  • Sebelum Tiga Tahun   225- Tahun Pembuka Pelik

    Mungkin, ungkapan Hanum waktu itu keliru. Awal tahun keempat pernikahan mereka bukanlah pembuka menuju hidup bahagia, melainkan awal dari peliknya rumah tangga yang harus mereka hadapi. Dan kini Tala bukan lagi Tala yang lajang dan bebas melarikan diri setiap kali pikirannya kusut. Ada hal-hal yang kini tak bisa ia tinggalkan begitu saja, bahkan ketika hatinya sendiri sedang berantakan. Sekarang ia punya Sansa. Maka, begitu tiba di apartemen Syifa, Tala segera menelepon Sus Lia untuk memastikan keadaan Sansa. Ia juga menitipkan pesan agar besok anak itu tetap berangkat sekolah seperti biasa, tanpa harus menunggu atau diantar olehnya. Amika sempat mampir dan bercerita panjang lebar tentang bagaimana ia melabrak Kinan. Persis seperti yang Tala duga. Geza—si brengsek itu—terus-menerus meneleponnya, yang tentu saja langsung Tala reject. Ia tak bisa mematikan ponselnya begitu saja. Bagaimanapun, ia masih harus bisa dihubungi jika ada sesuatu yang penting terkait Sansa. Dan satu lagi, B

  • Sebelum Tiga Tahun   224- Sebuah Tamparan

    Tala pernah punya pengalaman diselingkuhi. Ia memergoki pacarnya keluar dari sebuah hotel bersama rekan kerjanya, tepat ketika dirinya sedang berada di lobi untuk bertemu klien. Saat itu, Tala hanya diam. Tak ada keributan, tak ada adegan menangis atau memohon penjelasan. Ia mengakhiri hubungan mereka begitu saja, tanpa banyak drama. Entah karena ia memang tak secinta itu pada pria tersebut, entah karena ia enggan menjadi pusat perhatian. Yang jelas, Tala tak merasa perlu membuat keributan. Kemudian Tala dapat kabar kalau mantannya itu dilabrak Amika. Tak berselang lama kemudian, tersiar pula kabar kalau pria itu babak belur dihajar seseorang. Entah siapa pelakunya. Tala tak pernah mencari tahu, apalagi merasa perlu peduli. Namun, kejadian kali ini berbeda. Pria yang baru saja ia pergoki berciuman dengan mantannya bukan sekadar pacar. Status mereka sudah resmi berubah. Geza adalah suaminya. Dan apa yang baru saja dilihatnya? Ciuman. Geza berciuman dengan Kinan. Tala mengerjap b

  • Sebelum Tiga Tahun   223- Kebetulan dari Semesta

    “Tala, kita di ruang paling ujung. Lo naik aja.” Suara Amika di ujung telepon menuntun Tala menerobos lantai bawah yang ramai dan penuh sesak. Malam ini, ia punya janji dengan Amika, Jia, dan Syifa untuk mencari hiburan sekaligus merayakan Jia yang resmi resign dari pekerjaannya dan memutuskan menjadi IRT. Setelah padel untuk mengobati patah hati Syifa, kini giliran minum di bar untuk merayakan keputusan Jia. “Oke, tunggu. Penuh banget di sini.” “Ya jelas penuh, namanya juga bar. Lo sih, udah lama nggak dateng ke tempat kayak gini amatir lagi kan...Buruan, ya. Kita udah nungguin lo setengah jam, nih,” celoteh Amika, yang sepertinya sudah mulai menyesap alkohol. “Iya, sabar, iya,” gerutu Tala. Sebelum berangkat, ia sudah mengirim pesan kepada Geza untuk mengabari bahwa malam ini ia jadi keluar. Tadinya Tala sempat gamang antara ikut acara itu atau tidak, tetapi akhirnya ia memutuskan untuk datang. Sayangnya, sampai sekarang belum ada balasan dari suaminya. Pesan terakhir Geza mas

  • Sebelum Tiga Tahun   222- Pengobatan Patah Hati

    Tala punya lingkar pertemanan kecil sejak kuliah—meski, kalau dipikir-pikir, menyebutnya circle juga kurang tepat karena mereka jarang berkumpul rutin. Terakhir kali mereka berada di acara yang sama adalah setahun lalu, saat Tala mengundang mereka ke ulang tahun Sansa. Kendati begitu, hubungan mereka tetap akrab dan hangat, seolah jarangnya pertemuan tak pernah benar-benar mengubah kedekatan yang sudah terjalin sejak dulu.Dan kali ini, mereka kembali bertemu karena Jia mengajak bermain padel.Bukan pertemuan yang direncanakan jauh-jauh hari. Kebetulan saja, sebagian besar dari mereka sedang punya waktu luang ketika Jia melontarkan ajakannya. Ia bahkan menyebut pertandingan hari ini sebagai turnamen kecil-kecilan untuk mengobati patah hati Syifa yang baru saja diselingkuhi.Maka, di sebuah lapangan padel di kawasan Kemang, Tala kini berada. Duduk di pinggir menunggu giliran main.Sementara itu, di salah satu lapangan, Geza tengah bertanding melawan Adrian. Bastian dan Fredy menjadi pas

  • Sebelum Tiga Tahun   9- Perjanjian Tiga Tahun

    Malam itu jadi malam paling panjang untuk semua sesi perdebatan yang pernah mereka lewati selama enam tahun terakhir. Geza harus mendapatkan kesepakatannya malam ini juga.“Semuanya sudah saya atur di dokumen resmi,” Geza kembali bicara, memecah keheningan. “Saya gak akan ambil sepeser pun yang jadi

  • Sebelum Tiga Tahun   11- Celah di Sofa Abu

    Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari saat Tala akhirnya memutuskan turun ke lantai bawah. Dia benar-benar tidak bisa tidur. Bukan karena ini adalah malam pertamanya dengan status sebagai istri Geza.Bukan.Tidak akan ada yang berbeda karena mereka bukan pasangan nyata. Alarm tubuhnya saja yang

  • Sebelum Tiga Tahun   10- Rahasia Besar Lain

    Geza tidak terkejut saat Tala menuntut penjelasan dengan tatapan menghunus. Pria itu memutar tubuh untuk menghadap Tala sepenuhnya."Kita enggak sedang membohongi anak kecil, Tala." jawab Geza rendah, terlampau tenang. "Keluarga saya, kolega bisnis saya dan Arka, sampai pengadilan—ada terlalu banyak

  • Sebelum Tiga Tahun   1- Kehilangan yang Tak Terduga

    Tala berdiri memandangi gundukan tanah merah yang masih basah. Rasa sakitnya sama. Sama seperti saat ia kehilangan ibu, lalu nenek, dan terakhir ayahnya. Kehilangan sudah terlalu akrab dalam hidup Tala. Namun kali ini, ia berusaha berdiri lebih tegak—meski sekujur tubuhnya masih gemetar dan kepalan

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status