Home / Romansa / Sebelum Tiga Tahun / 1- Kehilangan yang Tak Terduga

Share

Sebelum Tiga Tahun
Sebelum Tiga Tahun
Author: Sora Carita

1- Kehilangan yang Tak Terduga

Author: Sora Carita
last update publish date: 2026-05-12 11:46:08

Tala berdiri memandangi gundukan tanah merah yang masih basah. Rasa sakitnya sama. 

Sama seperti saat ia kehilangan ibu, lalu nenek, dan terakhir ayahnya. Kehilangan sudah terlalu akrab dalam hidup Tala. Namun kali ini, ia berusaha berdiri lebih tegak—meski sekujur tubuhnya masih gemetar dan kepalanya berat karena tangis semalam.

Kini, nama Jani–kakak perempuan satu-satunya yang ia punya terukir di batu nisan itu. Tepat di sebelahnya, nama Arka, kakak iparnya menyusul. Dua orang yang selama ini menjadi tempat Tala pulang, kini justru meninggalkannya lebih dulu. 

Kecelakaan di tol dua hari lalu itu merenggut keduanya sekaligus, menyisakan lubang besar di hidup Tala. Kini yang tersisa hanya dirinya dan Sansaya.

Sansa, Keponakan kesayangan Tala yang belum mengerti kenapa ayah dan bundanya tak kunjung pulang, dan kenapa orang-orang berpakaian hitam hari ini memenuhi rumahnya dengan wajah sedih. 

Di seberang sana, Geza—adik kandung Arka—berdiri tegak dengan rahang mengeras. Ia masih setenang hari sebelumnya saat mengurus jenazah kakak dan kakak iparnya di rumah sakit. Di sampingnya, ayah dan ibu tirinya berdiri dikelilingi beberapa kerabat. Mereka tidak menangis keras, tidak juga bicara banyak, tetapi sorot mata mereka penuh sesuatu yang sulit Tala artikan.

Sementara di pihak Jani, hanya ada Tala seorang diri.

Pemakaman selesai. Satu per satu pelayat mulai membubarkan diri. Beberapa kerabat yang Tala kenal sempat menghampirinya, menguatkan dengan kalimat-kalimat yang sudah terlalu sering ia dengar. 

Tala tidak langsung pulang. Ia terdiam depan pusara. Sesak di dadanya menjalar sampai ke tenggorokan, membuat napasnya berat. Ingatan tentang Jani berputar-putar di kepalanya—tawa, suara, dan hal-hal kecil yang kini terasa terlalu mahal untuk diingat. Semakin jauh ia meninggalkan makam itu, rasa kehilangannya semakin nyata. 

Ia tak sanggup meninggalkan pusara itu. Namun, Sansaya di rumah membuatnya ingin segera pulang.

Di dekat pintu keluar area parkir, Geza berdiri sendiri. Sebatang rokok terselip di sela jarinya. Saat Tala mendekat, Geza segera menjentikkan rokok itu ke tanah lalu menginjaknya.

“Tala. Ada yang harus saya bicarakan.” 

Mendengar itu, Tala tersentak kecil. Jika ini soal Sansaya, mereka bisa membicarakannya di rumah Jani. Ia tak ingin mengobrol—tidak untuk sekarang. “Nanti.”

“Ini penting.” sahut Geza, nadanya sedikit mengeras. ”Bicara di dalam.” imbuhnya mendongak ke arah mobil hitam yang terparkir.

Tala masuk ke dalam mobil dengan langkah lesu. Pintu tertutup, mesin sudah menyala tapi mobil tak kunjung melaju. 

Geza hanya duduk diam di balik kemudi saat masuk, menatap lurus ke depan. Tala ikut terdiam, menyandarkan kepala ke sandaran kursi. Lima belas menit berlalu hanya diisi keheningan.

“Nggak jalan? Kamu masih mau di sini?” kata Tala, menatap ke depan tanpa berani menoleh. Intonasinya jauh lebih sinis dari yang ia perkirakan.

Geza melirik sekilas, rahangnya mengeras. Tanpa menjawab, ia langsung melajukan mobil keluar area pemakaman.

“Apa yang mau kamu bahas?” tanya Tala karena Geza tak kunjung membuka topik.

Pria itu masih menatap jalan lurus. “Pindah ke rumah Kak Jani dan Mas Arka. Lalu ajukan hak wali.” jawab Geza datar.

Tala menoleh cepat. Nada itu terdengar lebih seperti perintah daripada permintaan—sama sekali tak melihat situasi. Inilah salah satu alasan Tala enggan semobil dengan pria itu.

“Aku masih bisa bolak-balik dari kosan.” balas Tala dingin. “Atau Sansa bisa bareng aku dulu buat sementara.”

Geza menghela napas pendek, sudut bibirnya terangkat tipis. “Kamu mau Sansa tinggal di kosan?” tanyanya dengan intonasi meremehkan.

Mendengar itu Tala makin kesal. “Jadi intinya kamu mau apa Geza?” katanya tajam.

Saat Jani dan Arka masih hidup, mereka memang sering bertemu. Tapi jarang benar-benar mengobrol. 

Geza menggenggam setir lebih kuat. “Ayah dan kakak saya mengajukan hak wali atas Sansaya.” jelasnya. “Saya nggak mau mereka dapetin itu. Kamu yang harus jadi wali.”

Tala terdiam sejenak. Ia baru bertemu dua kali dengan keluarga kakak iparnya–saat pernikahan Jani dan tadi di pemakaman. 

“Kamu mau aku rebutan hak wali? Demi warisan?” Tala tertawa pendek tanpa humor. “Aku nggak mau. Aku tetap ngurus Sansa meskipun hak walinya bukan di aku.”

“Dengar, Tala.” ujar Geza. “Kamu harus ambil alih.”

Mendengar itu Tala muak sekali, pria di sebelahnya ini selalu memutuskan semuanya sendiri seakan semua orang harus ikut perintah dan kemauannya.

“Geza.” katanya keras. “Kalau kamu mau rebutan hak asuh, kamu ajuin sendiri. Jangan bawa-bawa aku.”

Mobil mendadak melambat. Geza menepikannya ke sisi jalan yang sepi.

“Tala, dengar.” ucapnya serius. “Mereka mau ambil hak asuh Sansa supaya bisa mengambil aset peninggalan kakakmu dan kakak saya. Kamu belum paham juga?” imbuhnya.

Tala mendecih, menatap Geza tajam. “Kamu mau bahas warisan di saat kuburan mereka masih basah? kamu gak punya rasa kehilangan, ya?"

Ya, Geza yang ia kenal memang selalu tak berperasaan.

Geza menghela napas panjang. Dadanya naik turun berat, seperti menahan sesuatu yang sejak tadi ingin pecah. “Kamu pikir saya nggak ngerasa apa-apa?” suaranya datar, sedikit serak. Ia menatap lurus ke depan. 

“Saya sama berdukanya kayak kamu.” Rahangnya mengeras sebelum menjawab. “Tapi mereka bakal lakuin apapun buat ngambil dia.”

“Mereka yang kamu maksud siapa?” balas Tala keras. “Keluarga kamu?”

Geza menghela napas kasar. “Saya tahu kamu mikirin Sansa.” katanya tegas. “Tapi kamu nggak tahu segimana liciknya keluarga saya.”

“Cara kamu ngomong barusan seakan-akan semuanya cuma soal aset." balas Tala keras.

“Karena itu yang mereka kejar Tala.” Geza menatapnya tajam.

Hening menggantung di antara mereka. 

Geza mengusap wajahnya kasar. Untuk pertama kalinya matanya terlihat berair dan merah.

“Saya nggak punya waktu buat sedih Tala. Duka saya bisa tunggu. Tapi masa depan Sansa nggak. Dia satu-satunya yang mau saya jaga sekarang.”

Tala menelan ludah. Amarahnya mulai goyah, tapi duka di dadanya masih menganga. Ia memejamkan mata. Bayangan Sansaya yang memanggil ibunya di rumah sakit menekan dadanya. 

“Za, aku gak punya apa-apa untuk mengambil alih.” Katanya, kini lebih tenang.

“Kamu punya Sansa.” balas Geza. “Dan itu cukup.” 

Lalu ia menoleh menatap Tala. “Saya tahu kita gak pernah bicara, tapi buat sekarang saya harap kamu ada di pihak saya.”

Bagi Tala, ini pertama kalinya Geza meminta tanpa nada perintah

“Demi Sansaya.” lanjut Geza dengan tatapan yang makin lekat. “Kamu pasti menang Tala. saya yang bakal bukain jalannya.” ujar Geza rendah, matanya tak lepas dari wajah Tala.

Tala memutus tatapan itu, mengalihkan pandangannya ke depan. Rahangnya mengeras. “Dengan cara apa?”

“Menikah dengan saya.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Cindi Maelani
yess cuman di sini kita bisa menyaksikan mereka bersatu......
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Sebelum Tiga Tahun   141- After Party

    Acara akhirnya selesai sekitar pukul sepuluh malam.Bude Sinta sudah lebih dulu naik ke kamar menemani Sansa. Geza memang sengaja memesan beberapa kamar di hotel yang sama untuk keluarga dan orang-orang yang mendampingi Sansa. Kamar dirinya dan Tala berada satu lantai dengan kamar Bude Sinta dan Sansa, serta Bi Yuni dan Sus Lia. Sementara itu Hanum ikut-ikutan ingin menginap jadi Geza menyewa satu suite tambahan.Taman yang beberapa jam lalu dipenuhi suara percakapan kini mulai lengang. Tinggal beberapa pelayan yang membereskan meja, sementara lampu-lampu taman masih menyala. Lingkaran teman kuliah Tala sudah bubar hanya tersisa Adrian, Amika, Fredy dan Seno.“Masih kuat, nggak kalian? After party yuk di rooftop.”Beberapa pasang mata langsung berbinar. Tak ada yang kaget mendengar ajakan Amika. Semua tahu, perempuan itu memang ratu untuk urusan begini. Terlebih, rombongan mereka memang sudah bertambah. Ada Bastian, Arvin, Rena, Sania, dan tentu saja Hanum. Jelas ia makin semangat.“Le

  • Sebelum Tiga Tahun   140- Lemparan Bola Panas

    Tala membelalak kaget.Hei, sejak kapan topik punya anak empat ini ikut menyebar sampai ke lingkungan pertemanannya?”Pelestarian gak tuh. Siamang kali ah.” celetuk Seno.Satu meja langsung terbahak.”Nggak gitu juga sih kak, buat sekarang serius aku nggak siap.” kilah Tala.Bicara soal kesiapan, Tala sendiri sebenarnya tak pernah merasa siap menikah, apalagi menjadi orang tua. Ia hanya mengambil peran itu karena keadaan memaksanya setelah Sansa kehilangan orang tua.Sampai sekarang pun, ia masih gagap menjalani peran sebagai istri maupun ibu. Namun semuanya tetap berjalan. Mungkin bukan karena Tala sudah siap tapi karena Geza sudah lebih dulu siap menanggung bagian yang belum mampu ia tanggung sendiri.Tiba-tiba saja, suami kontraknya itu terasa seperti suami ideal."Duh, kapan, ya, ketemu jodoh yang tiba-tiba datang terus ternyata nggak patriarkis?" Syifa menghela napas dramatis. "Sayangnya gue nggak punya kakak. Nggak bisa dapat jodoh lewat jalur adik ipar kayak Tala.""Ya udah, bli

  • Sebelum Tiga Tahun   139- Melestarikan Manusia

    Tala memilih mengabaikan alasan mengapa Geza bisa bertahan selama itu di Bhuwana. Lagi pula, tak akan ada habisnya kalau ia terus mengulik dan menebak-nebak pria serumit Geza. Lebih baik ia berhenti berpikir. Toh, pada akhirnya mereka akan bercerai.Karena itu, Tala memilih melipir ke meja teman-temannya."Bu Tala, akhirnya ketemu juga. Susah sekali sekarang bisa dapat waktu dari Ibu. Maklum, kesibukan Ibu di Janitra pasti sudah luar biasa."Seno, teman kuliah sekaligus rekan sesama arsitek, menyambutnya penuh candaan."Tolong deh, Sen. Ngolahnya jangan selebay itu." Tala mencebik protes.”Tahu nih Ta, ngolah mulu dia. Mau nyaingin Choky Sitohang lo?” Amika ikut menyambar."Justru karena itu. In this situation, cari kerja tuh susahnya hampir kayak cari jodoh. Kalau punya teman yang sekarang jadi komisaris, ya harus pinter-pinter di-approach, lah." Seno nyengir. "Bener nggak, Bang?"Adrian, yang malam itu tampil begitu sempurna, hanya tertawa kecil.Berada di meja sebelumnya ternyata cu

  • Sebelum Tiga Tahun   138- Dilimpahi Keberuntungan

    Setelah percakapan penuh sindiran itu, Tala belum juga berhasil melepaskan diri dari meja tersebut. Padahal, dari tadi matanya beberapa kali melirik ke arah meja lain, tempat Amika dan teman-teman kampusnya berkumpul. Ia ingin menyapa mereka, sekadar bernapas di tengah suasana yang tidak ada habisnya menguras energi.Kesempatan itu baru muncul ketika seorang pria paruh baya datang menghampiri meja bersama Suwandi.Pria tersebut diperkenalkan sebagai Wibowo, teman kuliah ibu Geza yang sejak dulu dekat dengan keluarga mereka. Berasal dari keluarga pengusaha lama, ia kini mengelola perusahaan keluarga yang jauh lebih besar dan sudah melantai di bursa. Dulu, Wibowo beberapa kali menjadi penyuntik modal ketika Janitra sempat goyah, sehingga hubungan bisnisnya dengan keluarga ibu Geza sudah terjalin sejak puluhan tahun lalu.Begitu percakapan bergeser ke urusan bisnis, beberapa wanita perlahan menyingkir, memberi ruang bagi para pria untuk berdiskusi. Tala ikut menggeser kursinya.Mungkin i

  • Sebelum Tiga Tahun   137- Belajar Jadi Kinan

    Sekitar delapan orang duduk mengelilingi meja bundar itu. Dharma, anak kedua dari enam bersaudara, duduk bersama adik-adiknya serta pasangan masing-masing, termasuk Hilman, adik keempatnya. Sementara kakak tertua dan adik paling bungsu bersama anggota keluarga lainnya memilih meja terpisah.Tala mengenali beberapa wajah dari urusan Janitra. Mereka adalah orang-orang yang selama ini ikut menikmati keuntungan dari perusahaan, tetapi justru paling mudah menyudutkannya ketika arah Janitra mulai berubah.Tak heran, baru duduk beberapa menit saja Tala sudah merasa seperti sedang menghadapi meja sidang—bedanya, para “hakim” kali ini datang lengkap bersama pasangan masing-masing.Seorang tante sudah lebih dulu melempar senyum penuh arti."Sudah hampir dua tahun, ya? Kok belum ada kabar baik?"Tala tersenyum kaku. "Iya, Tante. Belum waktunya mungkin.""Sudah periksa, Ta?" tanya yang lain. "Kalau memang mau promil, lebih baik dipersiapkan dari sekarang. Jangan sampai seperti almarhum orang tua S

  • Sebelum Tiga Tahun   136- Mantu Kita

    ”...yang di meja itu Tante Dewi. Yang baru datang itu Tante Suri,” Sandra menunjuk dua perempuan berusia sekitar awal empat puluhan yang merupakan mantan istri Dharma.Dharma sendiri sudah hampir enam puluh, tetapi masih tampak gagah dan berwibawa. Tak heran jika setelah ibu Geza meninggal, ia sempat menikah beberapa kali dengan perempuan yang jauh lebih muda. Hebatnya, ia masih bisa tetap akur dengan para mantan istrinya.Ratna pun hampir seusia dengan kedua perempuan yang ditunjuk Sandra.”Mereka masih bisa akur, ya,” kata Tala.Kini hanya Tala dan Sandra yang tersisa di meja. Sandra tak lagi leluasa bergerak dengan perutnya yang besar, sementara Geza mengajak Sansa berkeliling menyapa para undangan.”Karena nikahnya Om Dharma tuh punya tujuan, Ta. Jadi nggak semata-mata nikah doang. Sama Tante Dewi buat bangun kerja sama perusahaan kontraktornya, sama Tante Suri buat suntikan modal. Tapi emang nggak ada yang bertahan lama sih. Cuma sama Tante Ratna aja yang kehitung lama dan bertah

  • Sebelum Tiga Tahun   9- Perjanjian Tiga Tahun

    Malam itu jadi malam paling panjang untuk semua sesi perdebatan yang pernah mereka lewati selama enam tahun terakhir. Geza harus mendapatkan kesepakatannya malam ini juga.“Semuanya sudah saya atur di dokumen resmi,” Geza kembali bicara, memecah keheningan. “Saya gak akan ambil sepeser pun yang jadi

  • Sebelum Tiga Tahun   8- Rencana Paling Rapi

    Tala terkunci di antara kedua lengan Geza yang bertumpu pada pinggiran meja mahoni. Jantungnya berdentum liar, namun rasa terpojok itu justru membakar keberaniannya. Ia mendongak, menantang sepasang manik gelap di depannya.“Melindungi Sansa, itu yang mau kamu bilang?” Tala tertawa miris, suaranya b

  • Sebelum Tiga Tahun    7- Serangan Taktik Pertama

    Satu minggu sudah berlalu sejak perdebatan malam itu. Tala membangun dinding pembatas setinggi mungkin. Setiap informasi mengenai Sansa disampaikan layaknya laporan kerja—dingin, kaku, dan efisien. Tala tak mau terlihat rapuh, apalagi menunjukkan bahwa kalimat Geza berhasil melukainya.Pagi ini, keh

  • Sebelum Tiga Tahun    6- Ritme Hidup Baru di Tengah Kekacauan

    Tidak ada yang benar-benar tidur nyenyak selama satu bulan terakhir. Duka perlahan mengubah ritme hidup mereka tanpa permisi. Tala terbiasa bangun karena tangisan tengah malam, sementara Geza mulai hafal cara menenangkan Sansaya sebelum anak itu benar-benar histeris. Ada kalanya mereka bergantian me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status