Home / Romansa / Sebelum Tiga Tahun / 9- Perjanjian Tiga Tahun

Share

9- Perjanjian Tiga Tahun

Author: Sora Carita
last update publish date: 2026-05-18 23:20:02

“Semuanya sudah saya atur di dokumen resmi,” Geza kembali bicara, memecah keheningan.

“Saya gak akan ambil sepeser pun yang jadi hak Sansa. Kamu bisa cek semuanya sekarang.”

Geza mengambil ponsel dari saku celananya, mengetik beberapa pesan singkat dengan cepat. Tak sampai satu menit, ponsel di saku celana Tala bergetar.

Sebuah notifikasi surel masuk dari firma hukum yang berbeda dengan yang dibawa pria necis tadi pagi.

Tangan Tala sedikit gemetar saat membuka file-file lampiran tersebut. Matanya membaca dengan saksama. Semua detail. Semua rincian pembagian aset.

Tala akhirnya paham isi folder somasi di laptop tadi.

Surat dari pengacara ayahnya itu sengaja diredam oleh Geza agar ia tidak panik, sementara tim hukum pria itu diam-diam menyusun draf penolakan balik yang menyatakan Sansa akan dirawat oleh mereka sebagai pasangan sah.

Geza tidak berbohong soal ancaman itu, tapi ia jelas sengaja mendramatisasi situasi. Sebuah skenario matang yang dirancang agar Tala kehabisan pilihan, terdesak, dan akhirnya menerima penawaran itu.

Selain itu ada klausul hitam di atas putih yang menyatakan bahwa Geza melepaskan seluruh hak pribadi atas aset Sansa, termasuk jika pernikahan kontrak mereka berakhir di masa depan.

“Udah paham sekarang?” tanya Geza pelan.

Tala tidak menjawab. Namun, pegangannya pada ponsel perlahan melonggar, dan tatapan matanya yang tadi penuh kilat murka kini melunak total, digantikan oleh rasa bersalah yang menyergap ulu hatinya.

Pahlawan tadi pagi memang mengenakan topeng, tapi topeng itu dipakai bukan untuk menipu Tala mentah-mentah melainkan untuk meruntuhkan ego Tala agar kembali realistis.

Geza menyugar rambutnya ke belakang, lalu mengusap wajahnya yang tampak begitu lelah.

Pria itu menatap Tala dengan sisa-sisa pertahanan yang mulai terkikis, berada di titik paling pasrah setelah berkali-kali mengajukan penawaran yang sama.

“Jadi…” napas Geza terembus pelan, berat dan pasrah. “Apa kamu mau nikah sama saya?”

Geza menarik sudut bibirnya, tersenyum tipis—sebuah senyuman paling tulus sekaligus paling lelah yang pernah Tala lihat di wajah pria itu.

“Demi Sansa. Demi semua rencana ini.”

Setelah mengucapkan kalimat itu, Geza tidak lagi mendesak.

Pria itu menegakkan tubuhnya, mundur beberapa langkah dan memotong jarak intim yang sempat mengunci mereka beberapa saat lalu. Ia mengembus napas panjang, lalu berjalan perlahan menuju meja kecil, mengambil gelas air mineral yang ada di sana untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering.

Pergerakan Geza sengaja dibuat santai, seolah memberikan waktu dan ruang yang sangat dibutuhkan Tala untuk kembali mengumpulkan pasokan oksigen ke paru-parunya.

Tala membuang muka ke arah jendela yang gelap, menolak menatap punggung Geza yang kini berada beberapa meter di depannya.

Wanita itu menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh sisa kekuatan dari balik dadanya yang sesak untuk mengucapkan kalimat yang akan mengubah seluruh hidupnya.

“Siapin berkasnya,” ujar Tala dingin—sarat akan kepasrahan. “Kita nikah.”

Di seberang ruangan, gerakan Geza yang baru saja meletakkan gelas mendadak berhenti.

Pria itu bergeming selama beberapa ketukan dalam keheningan yang merayap lambat, sebelum akhirnya membalikkan tubuh. Raut penat yang tadi sempat menggelayuti wajahnya kini telah tersapu bersih, digantikan oleh sepasang manik mata yang berpendar begitu pekat.

"Tiga tahun, Tala. Kita jalani ini selama tiga tahun sampai status Sansa aman. Setelah itu, kita berpisah."

Tala menarik sudut bibirnya tipis, mengulas sebuah senyuman getir yang terasa dingin di wajahnya.

"Bagus," sahut Tala datar, sepasang maniknya menatap Geza lurus dari seberang ruangan.

"Tiga tahun bukan waktu yang lama untuk sebuah sandiwara. Jangankan cuma tiga tahun, aku bahkan udah sanggup bertahan hadepin kamu selama enam tahun ini. Kita udah biasa enggak pernah akur, kan? Jadi, harusnya ini gampang."

Geza tidak langsung menyahut

"Tentu," balas Geza rendah, suaranya terdengar begitu stabil tanpa riak emosi. "Saya akan suruh tim hukum saya melengkapi berkas administrasi malam ini juga."

***

Keesokan paginya, matahari baru saja naik ketika ketukan di pintu kamar Tala terdengar.

Begitu pintu dibuka, sosok Geza sudah berdiri di sana, tampak rapi dengan kemeja formalnya.

Di salah satu tangannya, pria itu memegang sebuah paper bag besar berlogo butik ternama, sementara tangan lainnya membawa dua map dokumen fisik berlogo firma hukum.

"Kita tanda tangan kontraknya sekarang," ujar Geza lempeng. Pria itu melangkah masuk, meletakkan map dokumen di atas meja kerja Tala, lalu mengulurkan paper bag yang dibawanya.

"Pakai ini buat nikah dua hari lagi."

Tala menerima paper bag itu dengan kening berkerut. Saat ia mengangkat isinya, matanya menangkap sepotong kebaya putih berpotongan sangat elegan.

Potongannya terlihat begitu pas, seolah dirancang khusus untuk lekuk tubuhnya.

Mengabaikan keheranannya, Tala melangkah mendekati meja kerja. Ia menarik kursi, lalu duduk di sebelah Geza untuk menuntaskan urusan hitam di atas putih ini.

Aroma kertas baru dan tinta cetak langsung menyambutnya begitu Geza menyodorkan draf dokumen tersebut.

Keduanya bergeming dalam keheningan yang kaku, membaca baris demi baris klausul bersama sebelum menorehkan tanda tangan.

Poin pemisahan harta, aman. Klausul perwalian Sansa, disepakati untuk diperjuangkan di bawah nama mereka sebagai pasangan sah.

Hingga akhirnya, pergerakan bola mata Tala terpaku pada satu subbab bertuliskan huruf tebal: Klausul Pelanggaran Kontrak.

Di sana, tertulis dalam rangkaian kalimat hukum yang kaku, bahwa pihak mana pun yang melanggar batasan privasi, melewati batas fisik, atau sengaja melibatkan emosi personal di luar kesepakatan profesional, wajib membayar penalti ganti rugi materiil dalam jumlah fantastis dan otomatis kehilangan hak asuh atas Sansa.

Tala menarik napas pendek, membatin sinis.

Klausul sekejam itu jelas lahir dari isi kepala Geza—pria yang tidak akan pernah sudi membiarkan dirinya merugi dalam aspek apa pun.

Namun, di balik sinismenya, ada sebentuk rasa lega yang diam-diam menyusup di dada Tala. Aturan ketat itu adalah jaminan mutlak baginya; sebuah perisai tak kasat mata bahwa Geza tidak akan pernah menyentuhnya ataupun melewati batas kamar mereka selama tiga tahun ke depan.

Dari posisinya yang duduk berdampingan, Geza hanya memperhatikan Tala dengan raut tenang yang tak terusik.

Pria itu sempat mengetuk-ngetukan jemarinya dengan ritme konstan di atas permukaan meja, menunggu Tala menyelesaikan bacaannya tanpa niat untuk menginterupsi.

Merasa benteng pertahanannya sudah aman, Tala bergantian dengan Geza membubuhkan tanda tangan di atas meterai fisik.

Begitu pena diangkat dan kesepakatan resmi terkunci, Tala berniat merapikan lembar draf tersebut ke dalam map.

Namun, saat jemarinya membalik halaman paling belakang yang berisi lampiran teknis, gerakannya mendadak membeku.

Matanya menyipit, membaca detail rencana yang terasa sangat janggal untuk sebuah pernikahan darurat.

Jika draf yang dikirim via surel semalam hanya berisi pasal-pasal hukum yang kaku, lembar lampiran fisik yang baru dicetak pagi ini justru menampilkan hal lain.

Di sana tertera daftar vendor papan atas, jadwal publikasi media, konsep acara, hingga ukuran kebaya miliknya yang baru saja diserahkan dalam paper bag. Semuanya terdata sangat presisi. Bahkan, cetakan otomatis di pojok bawah kertas itu mencantumkan tanggal pembuatan draf dari berbulan-bulan lalu—bukan hasil ketikan kilat semalam.

Tala menahan jemarinya di atas kertas, meremas pinggiran dokumen itu hingga sedikit kusut.

Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha meredam detak jantungnya yang mendadak berpacu liar, lalu mendongak lambat. Ia menatap lurus ke dalam sepasang manik mata Geza yang tenang dan tak terbaca di sebelahnya.

Sial, semuanya masih belum selesai. Pria ini masih punya rencana dan rahasia besar lainnya.

"Geza," panggil Tala, suaranya bergetar tipis, menuntut penjelasan dari pria di hadapannya. "Cuma buat nikah kontrak... kenapa harus serinci ini persiapannya?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sebelum Tiga Tahun   132- Cerai Itu Apa?

    Berbeda dengan keluarga besar dari pihak Dharma yang mayoritas menetap di Jabodetabek, keluarga mendiang ibu Geza tersebar di berbagai daerah, mulai dari Yogyakarta hingga beberapa kota lain, bahkan ada yang menetap di luar negeri. Karena itu, perayaan ulang tahun Sansa menjadi salah satu momen langka yang mempertemukan mereka kembali di Jakarta.Salah satunya Bude Sinta, yang siang itu baru tiba dari Jepang. Tala sengaja menjemputnya langsung ke bandara sesuai permintaan Geza. Sudah hampir setahun mereka tidak bertemu. Selama itu pula, mereka hanya sesekali bertukar kabar atau melakukan panggilan video setiap kali Bude Sinta ingin melihat Sansa."Talaa..." Bude Shinta langsung merengkuhnya dalam pelukan hangat. "Aduh, Bude kangen banget."Tala tertawa pelan, balas memeluk wanita paruh baya itu."Gimana setahun ini?" Bude Sinta mengamatinya dari ujung kepala hingga kaki. "Geza nggak nakal kan? Nggak bikin kamu sedih kan? Kok Bude belum pernah denger kamu ngadu ke Bude?"Tala hanya ters

  • Sebelum Tiga Tahun   131- Jangan Mesum !

    Jam tidur Sansa selalu tepat pukul sembilan malam. Sebelum tidur, ada satu ritual yang tak pernah boleh terlewat: membaca buku.Siapa pun boleh membacakannya, tetapi favoritnya tetap Om Eja. Padahal, menurut Tala, cara Geza membaca cerita cenderung kaku dan datar. Tala bahkan sempat mengikuti kelas read aloud, tetapi belum juga berhasil merebut posisi favorit itu.Beberapa hari terakhir Geza lebih sering pulang larut karena pekerjaan. Alhasil, ritual itu hampir selalu diambil alih Tala atau Sus Lia. Malam ini pun Sansa sempat menunggu karena Geza sudah berjanji akan membacakan buku, tetapi menjelang jam tidur pria itu mengabari bahwa ia akan pulang terlambat.Setelah cukup lama berceloteh tentang pesta ulang tahunnya yang tinggal empat hari lagi, Sansa akhirnya terlelap.Berselang kemudian, Geza membuka pintu kamar Sansa dengan langkah tergesa. Begitu melihat Tala mengangkat telunjuk ke bibir, pria itu langsung paham."Sorry. Tadi ada trouble di kantor."Ia menjatuhkan diri duduk di sa

  • Sebelum Tiga Tahun   130- Tala Kalaluna

    Hari itu Adrian datang ke Janitra untuk final review laporan forensik proyek revitalisasi yang hampir setahun terakhir mereka kerjakan. Rapat berlangsung tak terlalu lama. Begitu seluruh catatan akhir disepakati dan berkas resmi ditandatangani, Tala mengajak Adrian ke ruangannya. Ia membuka laci meja, lalu mengeluarkan dua amplop berwarna krem dengan emboss logo Janitra."Oh iya, Kak Adrian." Tala menyodorkannya sambil tersenyum. "Sabtu nanti Sansa ulang tahun. Dateng, ya. Yang satu lagi buat Kak Jia."Adrian menerima kedua amplop itu. Sudut bibirnya terangkat."Wah... akhirnya empat tahun juga."Tala mengangguk kecil."Iya. Cepet banget rasanya.""Nanti aku dateng," jawab Adrian sambil menyelipkan kedua undangan itu ke dalam map yang dibawanya.Tala tersenyum. "Kakak langsung balik ke kantor?"Adrian menggeleng pelan. "Belum tentu. Kenapa? Masih ada yang mau dibahas?""Bukan.""Aku mau ngajak makan siang. Sekalian ngobrol."Adrian mengangguk tanpa banyak berpikir. "Boleh. Di mana?""

  • Sebelum Tiga Tahun   129- Makin Menjadi

    Menjelang siang, Bi Yuni sudah menyiapkan makan siang untuk mereka. Setelah perut kenyang dan kartun yang ditonton Sansa berakhir, bocah itu mulai gelisah mencari kegiatan baru."Tata... bikin kukis, yuk.""Yaya bobo siang dulu."Sansa menggeleng sampai poninya bergoyang."Nggak mau. Yaya mau bikin kukis. Kayak di sekolah."Tala yang memang tak punya agenda lain akhirnya mengangguk.Tak lama kemudian, berbagai bahan sudah terhampar rapi di atas kitchen island. Soal memasak, Tala sadar kemampuannya biasa saja—bahkan masih kalah jauh dibanding Jani. Dulu, sebelum kakaknya itu menikah, hampir semua urusan dapur memang diambil alih Jani.Tapi kalau urusan baking, ceritanya berbeda.Waktu kuliah, Tala pernah bekerja paruh waktu di toko kue milik tetangganya. Awalnya hanya membantu melayani pelanggan, tetapi lama-kelamaan ia ikut belajar membuat kukis dan aneka dessert."Tante, aku rebahan aja ya di sini." Hanum sudah kembali mengambil posisi favoritnya di sofa abu. "Nggak bisa bantu. Gravi

  • Sebelum Tiga Tahun   128- Foto di Grup

    Mereka baru tiba di rumah sekitar pukul tiga dini hari.Begitu mobil berhenti, Tala nyaris berlari masuk tanpa menunggu Geza. Ciuman-ciuman di dalam mobil tadi sudah lebih dari cukup membuat logikanya limbung. Ia memilih mengurung diri di kamar sebelum pria itu kembali mengacak-acak keputusannya.Sungguh.Sedikit tatapan yang terlalu dalam, beberapa kalimat manis, lalu ciuman yang membuat kepalanya kosong.Laki-laki memang berbahaya. Apalagi kalau laki-laki itu bernama Geza.Pikiran itulah yang menjadi hal terakhir sebelum kantuk akhirnya mengalahkan Tala.Saat kembali membuka mata, Tala langsung mengerjap beberapa kali. Langit di balik tirai sudah terang. Jam di atas nakas menunjukkan pukul sembilan pagi. Setelah membersihkan diri sekadarnya, Tala turun ke lantai bawah.Namun Geza tidak ada.Yang terdengar hanya suara televisi dari ruang keluarga. Sansa sedang menonton kartun, sementara Hanum rebahan santai di sofa abu favoritnya."Morning, Tan. Pules banget nih tidurnya.""Morning."

  • Sebelum Tiga Tahun   127- Gimana Mau Cerai?

    Pertanyaan sederhana itu terasa seperti pengulangan dari percakapan yang pernah Amika lontarkan padanya.Kalau Geza menyatakan cinta, apa Tala masih akan pergi?Saat itu jawabannya mudah. Iya.Karena Tala sudah merasa tahu akhirnya. Ia tahu Geza rumit. Ia tahu ada Kinan dan kenangan delapan tahunnya. Ia tahu pria itu punya sisi yang bisa membuatnya terluka.Tapi sekarang...Geza melemparkan pertanyaan yang sama dalam bentuk berbeda. Bukan tentang cinta, apalagi perasaan. Tapi tentang kemungkinan. Jadi apa yang harus Tala jawab saat sepasang mata itu menyorotnya begitu dalam?Tala mengembuskan napas pelan, berusaha menarik kembali kendali atas logikanya. Tatapan dan sentuhan Geza memang selalu punya cara mengacaukan pikirannya. Seolah pria itu tahu persis tombol mana yang harus ditekan agar semua argumen di kepalanya mendadak kehilangan suara."Geza..."Pria itu menunggu."Semua perlakuan kamu malam ini..." Tala menatapnya. "Semua ucapan manis kamu... cuma buat bikin aku sampai ke perta

  • Sebelum Tiga Tahun   11- Celah di Sofa Abu

    Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari saat Tala akhirnya memutuskan turun ke lantai bawah. Dia benar-benar tidak bisa tidur. Bukan karena ini adalah malam pertamanya dengan status sebagai istri Geza.Bukan.Tidak akan ada yang berbeda karena mereka bukan pasangan nyata. Alarm tubuhnya saja yang

  • Sebelum Tiga Tahun   10- Rahasia Besar Lain

    Geza tidak terkejut saat Tala menuntut penjelasan dengan tatapan menghunus. Pria itu memutar tubuh untuk menghadap Tala sepenuhnya."Kita enggak sedang membohongi anak kecil, Tala." jawab Geza rendah, terlampau tenang. "Keluarga saya, kolega bisnis saya dan Arka, sampai pengadilan—ada terlalu banyak

  • Sebelum Tiga Tahun   8- Rencana Paling Rapi

    Tala terkunci di antara kedua lengan Geza yang bertumpu pada pinggiran meja mahoni. Jantungnya berdentum liar, namun rasa terpojok itu justru membakar keberaniannya. Ia mendongak, menantang sepasang manik gelap di depannya.“Melindungi Sansa, itu yang mau kamu bilang?” Tala tertawa miris, suaranya b

  • Sebelum Tiga Tahun    7- Serangan Taktik Pertama

    Satu minggu sudah berlalu sejak perdebatan malam itu. Tala membangun dinding pembatas setinggi mungkin. Setiap informasi mengenai Sansa disampaikan layaknya laporan kerja—dingin, kaku, dan efisien. Tala tak mau terlihat rapuh, apalagi menunjukkan bahwa kalimat Geza berhasil melukainya.Pagi ini, keh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status