LOGIN“Semuanya sudah saya atur di dokumen resmi,” Geza kembali bicara, memecah keheningan.
“Saya gak akan ambil sepeser pun yang jadi hak Sansa. Kamu bisa cek semuanya sekarang.”
Geza mengambil ponsel dari saku celananya, mengetik beberapa pesan singkat dengan cepat. Tak sampai satu menit, ponsel di saku celana Tala bergetar.
Sebuah notifikasi surel masuk dari firma hukum yang berbeda dengan yang dibawa pria necis tadi pagi.
Tangan Tala sedikit gemetar saat membuka file-file lampiran tersebut. Matanya membaca dengan saksama. Semua detail. Semua rincian pembagian aset.
Tala akhirnya paham isi folder somasi di laptop tadi.
Surat dari pengacara ayahnya itu sengaja diredam oleh Geza agar ia tidak panik, sementara tim hukum pria itu diam-diam menyusun draf penolakan balik yang menyatakan Sansa akan dirawat oleh mereka sebagai pasangan sah.
Geza tidak berbohong soal ancaman itu, tapi ia jelas sengaja mendramatisasi situasi. Sebuah skenario matang yang dirancang agar Tala kehabisan pilihan, terdesak, dan akhirnya menerima penawaran itu.
Selain itu ada klausul hitam di atas putih yang menyatakan bahwa Geza melepaskan seluruh hak pribadi atas aset Sansa, termasuk jika pernikahan kontrak mereka berakhir di masa depan.
“Udah paham sekarang?” tanya Geza pelan.
Tala tidak menjawab. Namun, pegangannya pada ponsel perlahan melonggar, dan tatapan matanya yang tadi penuh kilat murka kini melunak total, digantikan oleh rasa bersalah yang menyergap ulu hatinya.
Pahlawan tadi pagi memang mengenakan topeng, tapi topeng itu dipakai bukan untuk menipu Tala mentah-mentah melainkan untuk meruntuhkan ego Tala agar kembali realistis.
Geza menyugar rambutnya ke belakang, lalu mengusap wajahnya yang tampak begitu lelah.
Pria itu menatap Tala dengan sisa-sisa pertahanan yang mulai terkikis, berada di titik paling pasrah setelah berkali-kali mengajukan penawaran yang sama.
“Jadi…” napas Geza terembus pelan, berat dan pasrah. “Apa kamu mau nikah sama saya?”
Geza menarik sudut bibirnya, tersenyum tipis—sebuah senyuman paling tulus sekaligus paling lelah yang pernah Tala lihat di wajah pria itu.
“Demi Sansa. Demi semua rencana ini.”
Setelah mengucapkan kalimat itu, Geza tidak lagi mendesak.
Pria itu menegakkan tubuhnya, mundur beberapa langkah dan memotong jarak intim yang sempat mengunci mereka beberapa saat lalu. Ia mengembus napas panjang, lalu berjalan perlahan menuju meja kecil, mengambil gelas air mineral yang ada di sana untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering.
Pergerakan Geza sengaja dibuat santai, seolah memberikan waktu dan ruang yang sangat dibutuhkan Tala untuk kembali mengumpulkan pasokan oksigen ke paru-parunya.
Tala membuang muka ke arah jendela yang gelap, menolak menatap punggung Geza yang kini berada beberapa meter di depannya.
Wanita itu menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh sisa kekuatan dari balik dadanya yang sesak untuk mengucapkan kalimat yang akan mengubah seluruh hidupnya.
“Siapin berkasnya,” ujar Tala dingin—sarat akan kepasrahan. “Kita nikah.”
Di seberang ruangan, gerakan Geza yang baru saja meletakkan gelas mendadak berhenti.
Pria itu bergeming selama beberapa ketukan dalam keheningan yang merayap lambat, sebelum akhirnya membalikkan tubuh. Raut penat yang tadi sempat menggelayuti wajahnya kini telah tersapu bersih, digantikan oleh sepasang manik mata yang berpendar begitu pekat.
"Tiga tahun, Tala. Kita jalani ini selama tiga tahun sampai status Sansa aman. Setelah itu, kita berpisah."
Tala menarik sudut bibirnya tipis, mengulas sebuah senyuman getir yang terasa dingin di wajahnya.
"Bagus," sahut Tala datar, sepasang maniknya menatap Geza lurus dari seberang ruangan.
"Tiga tahun bukan waktu yang lama untuk sebuah sandiwara. Jangankan cuma tiga tahun, aku bahkan udah sanggup bertahan hadepin kamu selama enam tahun ini. Kita udah biasa enggak pernah akur, kan? Jadi, harusnya ini gampang."
Geza tidak langsung menyahut
"Tentu," balas Geza rendah, suaranya terdengar begitu stabil tanpa riak emosi. "Saya akan suruh tim hukum saya melengkapi berkas administrasi malam ini juga."
***
Keesokan paginya, matahari baru saja naik ketika ketukan di pintu kamar Tala terdengar.
Begitu pintu dibuka, sosok Geza sudah berdiri di sana, tampak rapi dengan kemeja formalnya.
Di salah satu tangannya, pria itu memegang sebuah paper bag besar berlogo butik ternama, sementara tangan lainnya membawa dua map dokumen fisik berlogo firma hukum.
"Kita tanda tangan kontraknya sekarang," ujar Geza lempeng. Pria itu melangkah masuk, meletakkan map dokumen di atas meja kerja Tala, lalu mengulurkan paper bag yang dibawanya.
"Pakai ini buat nikah dua hari lagi."
Tala menerima paper bag itu dengan kening berkerut. Saat ia mengangkat isinya, matanya menangkap sepotong kebaya putih berpotongan sangat elegan.
Potongannya terlihat begitu pas, seolah dirancang khusus untuk lekuk tubuhnya.
Mengabaikan keheranannya, Tala melangkah mendekati meja kerja. Ia menarik kursi, lalu duduk di sebelah Geza untuk menuntaskan urusan hitam di atas putih ini.
Aroma kertas baru dan tinta cetak langsung menyambutnya begitu Geza menyodorkan draf dokumen tersebut.
Keduanya bergeming dalam keheningan yang kaku, membaca baris demi baris klausul bersama sebelum menorehkan tanda tangan.
Poin pemisahan harta, aman. Klausul perwalian Sansa, disepakati untuk diperjuangkan di bawah nama mereka sebagai pasangan sah.
Hingga akhirnya, pergerakan bola mata Tala terpaku pada satu subbab bertuliskan huruf tebal: Klausul Pelanggaran Kontrak.
Di sana, tertulis dalam rangkaian kalimat hukum yang kaku, bahwa pihak mana pun yang melanggar batasan privasi, melewati batas fisik, atau sengaja melibatkan emosi personal di luar kesepakatan profesional, wajib membayar penalti ganti rugi materiil dalam jumlah fantastis dan otomatis kehilangan hak asuh atas Sansa.
Tala menarik napas pendek, membatin sinis.
Klausul sekejam itu jelas lahir dari isi kepala Geza—pria yang tidak akan pernah sudi membiarkan dirinya merugi dalam aspek apa pun.
Namun, di balik sinismenya, ada sebentuk rasa lega yang diam-diam menyusup di dada Tala. Aturan ketat itu adalah jaminan mutlak baginya; sebuah perisai tak kasat mata bahwa Geza tidak akan pernah menyentuhnya ataupun melewati batas kamar mereka selama tiga tahun ke depan.
Dari posisinya yang duduk berdampingan, Geza hanya memperhatikan Tala dengan raut tenang yang tak terusik.
Pria itu sempat mengetuk-ngetukan jemarinya dengan ritme konstan di atas permukaan meja, menunggu Tala menyelesaikan bacaannya tanpa niat untuk menginterupsi.
Merasa benteng pertahanannya sudah aman, Tala bergantian dengan Geza membubuhkan tanda tangan di atas meterai fisik.
Begitu pena diangkat dan kesepakatan resmi terkunci, Tala berniat merapikan lembar draf tersebut ke dalam map.
Namun, saat jemarinya membalik halaman paling belakang yang berisi lampiran teknis, gerakannya mendadak membeku.
Matanya menyipit, membaca detail rencana yang terasa sangat janggal untuk sebuah pernikahan darurat.
Jika draf yang dikirim via surel semalam hanya berisi pasal-pasal hukum yang kaku, lembar lampiran fisik yang baru dicetak pagi ini justru menampilkan hal lain.
Di sana tertera daftar vendor papan atas, jadwal publikasi media, konsep acara, hingga ukuran kebaya miliknya yang baru saja diserahkan dalam paper bag. Semuanya terdata sangat presisi. Bahkan, cetakan otomatis di pojok bawah kertas itu mencantumkan tanggal pembuatan draf dari berbulan-bulan lalu—bukan hasil ketikan kilat semalam.
Tala menahan jemarinya di atas kertas, meremas pinggiran dokumen itu hingga sedikit kusut.
Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha meredam detak jantungnya yang mendadak berpacu liar, lalu mendongak lambat. Ia menatap lurus ke dalam sepasang manik mata Geza yang tenang dan tak terbaca di sebelahnya.
Sial, semuanya masih belum selesai. Pria ini masih punya rencana dan rahasia besar lainnya.
"Geza," panggil Tala, suaranya bergetar tipis, menuntut penjelasan dari pria di hadapannya. "Cuma buat nikah kontrak... kenapa harus serinci ini persiapannya?"
Geza baru saja menutup panggilan video dengan Tala ketika Kinan menghampirinya di balkon restoran hotel tempat tim mereka menginap selama perjalanan dinas kali ini.“Geza,” panggilnya lembut.Kinan mengeluarkan sebatang rokok dari tas kecilnya, lalu menyalakan pemantik. Bara merah menyala sesaat sebelum ia mengembuskan asap perlahan.“Wanna?”“No. I’m going back to my room.”Geza hendak berbalik, tetapi suara Kinan kembali menahannya.“Tala marah kalau kita ngobrol berdua begini?” tanyanya. “Biarpun yang kita obrolkan bukan masa lalu?”Langkah Geza terhenti.Ia menoleh. “Apa yang mau kamu bilang?” tembaknya langsung ke inti.Kinan hanya tersenyum tipis, lalu kembali mengisap rokoknya.Tarikannya kali ini lebih dalam. Ia menahannya beberapa detik sebelum mengembuskan asap perlahan, membiarkan kepulan putih itu mengaburkan wajahnya sesaat.Kinan yang seperti ini adalah Kinan yang sedang terpuruk.Angin malam Surabaya berembus pelan. Namun hawa yang hangat dan lembap membuatnya nyaris tak
“Hei, mulutnya tolong dijaga,” protes Tala. Ia mengambil kedua benda yang diangsurkan Geza.Sang suami duduk di kloset, sementara Tala berdiri di antara kedua pahanya yang terbuka.Krim cukur dioleskan merata di pipi dan rahang Geza. Mesin menyala dengan dengung halus.Tala menahan dagunya, memiringkan wajah Geza sedikit, lalu menggerakkan mesin dengan sapuan pendek di sepanjang rahang. Saat berpindah ke pipi, ibu jarinya menahan kulit agar tetap tegang.Tatapan mereka sempat bertaut dan dari jarak sedekat itu, Tala baru menyadarinya. Ada kusut di balik tatapan Geza. Bukan sekadar sisa kantuk.“Mas...”“Hm?”Tala mematikan mesin cukur di tangannya.“Kamu lagi banyak pikiran?”Geza mengerjap. “Nggak banyak juga.”“Mikirin apa? Mau cerita?”Geza diam sesaat. Tatapannya turun pada mesin cukur di tangan Tala, lalu mengambil benda itu perlahan, meletakkannya di sisi wastafel, kemudian menarik Tala untuk duduk di pangkuannya.“Papa saya dan Raga belakangan ini terlalu tenang,” ia membuka.Ta
Tala sendiri tak tahu kenapa naluri biologisnya terasa bereaksi kuat malam ini. Mungkin efek Pilates sore tadi. Atau mungkin karena tahu pria di hadapannya ini akan pergi jauh besok hari. “Bantuan yang bikin kacau,” gumam Geza. Baru kemudian Tala menyadari tangan Geza sudah singgah pada buah dadanya. Kimono tidur yang dikenakannya ternyata telah tersibak sejak tadi, menyisakan lingerie hitam yang nyaris tak lagi tersembunyi. Pantas saja reaksi pria itu begitu cepat. Mari bermain gila saja sekalian. Tala membuka kimono itu lalu melemparkannya ke sembarang arah. Kini yang tersisa hanya lingerie berbahan brokat hitam yang lembut sekaligus menerawang. “Shit,” Geza mengumpat pelan. Dengan kedua kaki Tala yang masih melingkari dan tampilan sensual yang seperti itu, jelas saja konsentrasi pria itu langsung buyar total. Geza mengembuskan napas panjang. Tatapannya berpindah dari Tala ke laptop yang masih terbuka, lalu kembali lagi kepada perempuan di pangkuannya. Dilema yang jelas terli
“Variasiin gayanya, deh, Ta. Jangan gitu-gitu melulu,” ujar Jia enteng. “Ganjel pake bantal.” imbuhnya. Tala melirik tajam. “Jangan lupa kakinya naik ke pundak...Uh, mantap.” lanjut Jia tanpa dosa. Matanya mengerling pada Tala. Astaga. Tala sungguh malu mendengarnya, meskipun sebenarnya kalimat-kalimat seperti itu sudah begitu akrab di telinganya. Bahkan beberapa di antaranya sudah pernah ia praktikkan. Masalahnya, mereka sedang berada di ruang ganti studio Pilates—kelas yang sudah Tala ikuti selama sebulan terakhir. Semua demi satu tujuan yang belakangan ini disebut sebagai promil natural. Gaya hidup sehat. Padahal dulu, olahraga semacam ini hampir selalu menjadi hal terakhir yang ingin dilakukan Tala. Paling banter ia hanya mau lari. Untuk urusan begini, Jia memang juaranya. Selain lebih berpengalaman, perempuan itu juga terkenal paling ceplas-ceplos. Dan, sayangnya, paling provokatif. Untung Amika tidak hadir di kelas sore ini. Kalau perempuan itu ikut, satu sesi ruang ga
Lingkungan kantor Bhuwana yang dulu terasa asing sekaligus menyebalkan kini justru begitu familiar. Tala sudah cukup sering mampir ke sana, entah untuk mengantarkan makan siang bagi Geza atau mengurus urusan konsorsium. Namun kali ini ia datang bukan untuk keduanya. Ia hendak menjemput pria itu untuk pulang bersama. Pagi tadi Geza berangkat menggunakan mobil kantor, sementara pekerjaan Tala kebetulan selesai lebih awal.Dengan visitor access card yang sudah disiapkan Geza, Tala melangkah melewati lobi. Baru beberapa langkah, ia berpapasan dengan beberapa karyawan perempuan yang dulu pernah dilihatnya saat retreat malam itu.Pandangan mereka kembali jatuh padanya. Sedikit banyak, Tala terusik.Masihkah mereka memandangnya sebagai target?Ah, iya.Kinan sudah kembali.Jelas saja kehadirannya di sini mungkin kembali terasa mengganggu bagi sebagian orang.Bersamaan dengan pintu lift yang terbuka, Tala mendapati Arvin berjalan cepat ke arahnya dengan paper bag kopi di tangan.“Thank you, Mb
Momen yang selalu menjadi momok bagi Tala, kini datang.Kinan resmi menggantikan orang yang sebelumnya menangani kerja sama dengan Janitra. Maka, hari ini menjadi pertemuan pertama mereka dalam urusan proyek—Kinan sebagai perwakilan Bhuwana, sementara Tala hadir mewakili kepentingan Janitra dan Sansa khususnya.Pertemuan itu berlangsung di salah satu tower Bhuwana, ditemani Suwandi dan juga tim Janitra.Setelah sempat melalui tarik-ulur khas negosiasi korporasi, hari ini mereka akhirnya mencapai kata sepakat.Geza sebenarnya sudah beberapa kali menawarkan Tala untuk mundur dari proyek ini. Ia cukup memantau dari jauh dan tidak perlu terlalu proaktif terlibat dalam setiap prosesnya.Namun, setelah hubungan mereka resmi jadi pernikahan sungguhan Tala memilih bertahan. Ia tak mau bersikap kekanak-kanakan hanya karena mantan kekasih suaminya kini duduk di seberang meja.Dengan semua yang sudah mereka lalui, rasanya tak mungkin Geza berpaling begitu saja.Lagipula, Geza tahu bagaimana rasan
Tidak ada yang benar-benar tidur nyenyak selama satu bulan terakhir. Duka perlahan mengubah ritme hidup mereka tanpa permisi. Tala terbiasa bangun karena tangisan tengah malam, sementara Geza mulai hafal cara menenangkan Sansaya sebelum anak itu benar-benar histeris. Ada kalanya mereka bergantian me
“Kamu gila kalau kamu setuju sama ide konyol itu.”Geza menoleh. “Mungkin.”Sebelum membawa Sansaya ke dokter anak, mereka sempat bicara soal hak wali ke pengacara kenalan Geza. Pengacaranya menyarankan satu hal paling konyol untuk menang dan melindungi semuanya.Menikah. Nikah kontrak, lebih tepat
Mobil Geza melaju membelah kemacetan Jakarta yang terasa jauh lebih menyesakkan dari biasanya. Di kursi penumpang, Tala mencoba menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin, mencari sedikit sisa tenaga yang dia punya.“Temen kamu udah pulang langsung kerja?” tanya Geza tanpa sedikit pun men
Menjaga Sansaya setiap hari ternyata sanggup menguras seluruh kewarasan Tala. Begitu dia terbangun, wajah kuyu dengan lingkaran hitam yang menghias bawah mata langsung menyambutnya.Tala melangkah gontai menuju ruang makan, mengambil segelas air putih, lalu duduk tepat di hadapan Geza. Pria itu suda







