Home / Romansa / Sebelum Tiga Tahun / 223- Kebetulan dari Semesta

Share

223- Kebetulan dari Semesta

Author: Sora Carita
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-14 08:59:10
“Tala, kita di ruang paling ujung. Lo naik aja.”

Suara Amika di ujung telepon menuntun Tala menerobos lantai bawah yang ramai dan penuh sesak. Malam ini, ia punya janji dengan Amika, Jia, dan Syifa untuk mencari hiburan sekaligus merayakan Jia yang resmi resign dari pekerjaannya dan memutuskan menjadi IRT.

Setelah padel untuk mengobati patah hati Syifa, kini giliran minum di bar untuk merayakan keputusan Jia.

“Oke, tunggu. Penuh banget di sini.”

“Ya jelas penuh, namanya juga bar. Lo sih, uda
Sora Carita

wtf wtf Geza ngapain Geza? Ada yang mau bantu nampol??

| 6
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (14)
goodnovel comment avatar
wd_shinoda
Geza bangkeeeeeee.........!!!!!!!
goodnovel comment avatar
evi erfika
Lagi dong thor, mau juga dong pov gezaaa, bisa2nya dia terjebak dgn masa lalu
goodnovel comment avatar
evi erfika
Amika sembunyi'in tala yah biar geza gila cri istrinyaaa, mau lihat seeffort apa dia untuk dapatkan maafnya tala
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Sebelum Tiga Tahun   225- Tahun Pembuka Pelik

    Mungkin, ungkapan Hanum waktu itu keliru. Awal tahun keempat pernikahan mereka bukanlah pembuka menuju hidup bahagia, melainkan awal dari peliknya rumah tangga yang harus mereka hadapi. Dan kini Tala bukan lagi Tala yang lajang dan bebas melarikan diri setiap kali pikirannya kusut. Ada hal-hal yang kini tak bisa ia tinggalkan begitu saja, bahkan ketika hatinya sendiri sedang berantakan. Sekarang ia punya Sansa. Maka, begitu tiba di apartemen Syifa, Tala segera menelepon Sus Lia untuk memastikan keadaan Sansa. Ia juga menitipkan pesan agar besok anak itu tetap berangkat sekolah seperti biasa, tanpa harus menunggu atau diantar olehnya. Amika sempat mampir dan bercerita panjang lebar tentang bagaimana ia melabrak Kinan. Persis seperti yang Tala duga. Geza—si brengsek itu—terus-menerus meneleponnya, yang tentu saja langsung Tala reject. Ia tak bisa mematikan ponselnya begitu saja. Bagaimanapun, ia masih harus bisa dihubungi jika ada sesuatu yang penting terkait Sansa. Dan satu lagi, B

  • Sebelum Tiga Tahun   224- Sebuah Tamparan

    Tala pernah punya pengalaman diselingkuhi. Ia memergoki pacarnya keluar dari sebuah hotel bersama rekan kerjanya, tepat ketika dirinya sedang berada di lobi untuk bertemu klien. Saat itu, Tala hanya diam. Tak ada keributan, tak ada adegan menangis atau memohon penjelasan. Ia mengakhiri hubungan mereka begitu saja, tanpa banyak drama. Entah karena ia memang tak secinta itu pada pria tersebut, entah karena ia enggan menjadi pusat perhatian. Yang jelas, Tala tak merasa perlu membuat keributan. Kemudian Tala dapat kabar kalau mantannya itu dilabrak Amika. Tak berselang lama kemudian, tersiar pula kabar kalau pria itu babak belur dihajar seseorang. Entah siapa pelakunya. Tala tak pernah mencari tahu, apalagi merasa perlu peduli. Namun, kejadian kali ini berbeda. Pria yang baru saja ia pergoki berciuman dengan mantannya bukan sekadar pacar. Status mereka sudah resmi berubah. Geza adalah suaminya. Dan apa yang baru saja dilihatnya? Ciuman. Geza berciuman dengan Kinan. Tala mengerjap b

  • Sebelum Tiga Tahun   223- Kebetulan dari Semesta

    “Tala, kita di ruang paling ujung. Lo naik aja.” Suara Amika di ujung telepon menuntun Tala menerobos lantai bawah yang ramai dan penuh sesak. Malam ini, ia punya janji dengan Amika, Jia, dan Syifa untuk mencari hiburan sekaligus merayakan Jia yang resmi resign dari pekerjaannya dan memutuskan menjadi IRT. Setelah padel untuk mengobati patah hati Syifa, kini giliran minum di bar untuk merayakan keputusan Jia. “Oke, tunggu. Penuh banget di sini.” “Ya jelas penuh, namanya juga bar. Lo sih, udah lama nggak dateng ke tempat kayak gini amatir lagi kan...Buruan, ya. Kita udah nungguin lo setengah jam, nih,” celoteh Amika, yang sepertinya sudah mulai menyesap alkohol. “Iya, sabar, iya,” gerutu Tala. Sebelum berangkat, ia sudah mengirim pesan kepada Geza untuk mengabari bahwa malam ini ia jadi keluar. Tadinya Tala sempat gamang antara ikut acara itu atau tidak, tetapi akhirnya ia memutuskan untuk datang. Sayangnya, sampai sekarang belum ada balasan dari suaminya. Pesan terakhir Geza mas

  • Sebelum Tiga Tahun   222- Pengobatan Patah Hati

    Tala punya lingkar pertemanan kecil sejak kuliah—meski, kalau dipikir-pikir, menyebutnya circle juga kurang tepat karena mereka jarang berkumpul rutin. Terakhir kali mereka berada di acara yang sama adalah setahun lalu, saat Tala mengundang mereka ke ulang tahun Sansa. Kendati begitu, hubungan mereka tetap akrab dan hangat, seolah jarangnya pertemuan tak pernah benar-benar mengubah kedekatan yang sudah terjalin sejak dulu.Dan kali ini, mereka kembali bertemu karena Jia mengajak bermain padel.Bukan pertemuan yang direncanakan jauh-jauh hari. Kebetulan saja, sebagian besar dari mereka sedang punya waktu luang ketika Jia melontarkan ajakannya. Ia bahkan menyebut pertandingan hari ini sebagai turnamen kecil-kecilan untuk mengobati patah hati Syifa yang baru saja diselingkuhi.Maka, di sebuah lapangan padel di kawasan Kemang, Tala kini berada. Duduk di pinggir menunggu giliran main.Sementara itu, di salah satu lapangan, Geza tengah bertanding melawan Adrian. Bastian dan Fredy menjadi pas

  • Sebelum Tiga Tahun   221- Kejutan Pagi

    Masih pukul tiga atau empat pagi, kalau Tala tak salah membaca angka pada jam di dinding, ketika tangan besar Geza mengusap-usap rambutnya. Sesekali, pria itu bahkan mengecup puncak kepalanya. “Tidur!” Hanya satu kata itu yang meluncur dari mulut Tala untuk merespon. Demi apa pun, Tala malas menanggapi lebih banyak. Seingatnya, ia baru bisa terlelap sekitar pukul satu atau dua dini hari. Mungkin. “Hmm,” gumam pria itu pendek. Aroma sabun yang bersih menyusup samar dari lengan Geza yang menjadi bantalan bagi lehernya. Usapan itu tak kunjung berhenti. Biasanya, Tala akan semakin terbuai, merasa seperti sedang dininabobokan. Tapi kali ini tidak, ia justru ingin berbalik agar bisa menatap Geza. Pria itu sedikit terkejut oleh gerakan spontan istrinya. “Rambut kamu wangi, Ta.” Wajah Geza tampak segar. Rupanya benar, ia baru selesai mandi. Kini Geza melipat satu lengannya, menjadikannya bantalan bagi sisi kepala yang menghadap Tala. Tangan lainnya mendarat di pipi sang istri, mengusa

  • Sebelum Tiga Tahun   220- Touring Aja

    Tala menatap kembali pria yang kini tertidur pulas di lehernya dengan ekspresi tak percaya. “Mas Geza?” Tak ada jawaban. Ia menggeser wajah sedikit, mencoba melihat ekspresi suaminya. Geza benar-benar sudah terlelap. Napasnya teratur, satu lengannya masih melingkari pinggang Tala. Tala mendecih pelan. “Yang mulai siapa, yang ditinggal siapa.” gerutunya. Ia mencoba melepaskan diri, tetapi lengan Geza justru mengerat secara refleks. Wajah pria itu kembali merapat ke lehernya. “Ta...” gumamnya nyaris tak terdengar. Tala terdiam. “Jangan pergi.” Dua kata itu keluar begitu pelan hingga Tala hampir mengira dirinya salah dengar. Kekesalan yang tadi memenuhi kepalanya perlahan surut. Ia menatap wajah Geza yang terlelap, lalu menghela napas panjang. Ia usap rambut Geza perlahan, lalu mengecup pelipisnya. “Iya, aku di sini.” Setelah memastikan pria itu kembali terlelap, Tala berusaha mengatur posisi Geza agar lebih nyaman. Barulah ia menyelinap turun dari kasur dan masuk ke kamar ma

  • Sebelum Tiga Tahun   10- Rahasia Besar Lain

    Geza tidak terkejut saat Tala menuntut penjelasan dengan tatapan menghunus. Pria itu memutar tubuh untuk menghadap Tala sepenuhnya."Kita enggak sedang membohongi anak kecil, Tala." jawab Geza rendah, terlampau tenang. "Keluarga saya, kolega bisnis saya dan Arka, sampai pengadilan—ada terlalu banyak

  • Sebelum Tiga Tahun   9- Perjanjian Tiga Tahun

    Malam itu jadi malam paling panjang untuk semua sesi perdebatan yang pernah mereka lewati selama enam tahun terakhir. Geza harus mendapatkan kesepakatannya malam ini juga.“Semuanya sudah saya atur di dokumen resmi,” Geza kembali bicara, memecah keheningan. “Saya gak akan ambil sepeser pun yang jadi

  • Sebelum Tiga Tahun   8- Rencana Paling Rapi

    Tala terkunci di antara kedua lengan Geza yang bertumpu pada pinggiran meja mahoni. Jantungnya berdentum liar, namun rasa terpojok itu justru membakar keberaniannya. Ia mendongak, menantang sepasang manik gelap di depannya.“Melindungi Sansa, itu yang mau kamu bilang?” Tala tertawa miris, suaranya b

  • Sebelum Tiga Tahun    7- Serangan Taktik Pertama

    Satu minggu sudah berlalu sejak perdebatan malam itu. Tala membangun dinding pembatas setinggi mungkin. Setiap informasi mengenai Sansa disampaikan layaknya laporan kerja—dingin, kaku, dan efisien. Tala tak mau terlihat rapuh, apalagi menunjukkan bahwa kalimat Geza berhasil melukainya.Pagi ini, keh

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status