Se connecterHai ada yang nungguin Geza Tala? Maaf yaw kemarin absen dua hari, lagi hectic banget soalnya huhu. Lagi ngedate mereka. Enjoy guys !
Rumah singgah itu berlokasi tak jauh dari rumah mereka. Tepatnya di sebuah rumah tua milik kenalan Tala, dengan halaman yang luas dan satu pohon beringin yang tumbuh rimbun di tengahnya. Anak-anak jalanan datang ke sana tiga kali seminggu, kadang sampai empat kali jika ada yang mengisi kegiatan. Dulu, ketika Tala masih menganggur, ia cukup sering menghabiskan waktunya di tempat itu. Semua goodie bag yang Tala siapkan bersama “antek-antek Geza” sudah diangkut lebih awal oleh driver. Dibungkus dengan plastic wrap hijau sage dan ditata begitu cantik, semuanya khas Tala yang selalu menyukai estetika. Acara berjalan lancar. Dibuka dengan sesi mendongeng, menyanyi dan tiup lilin lalu ditutup dengan penampilan badut. Jauh lebih sederhana dibandingkan tahun lalu. Di tengah acara, Bude Sinta juga sempat melakukan panggilan video. Ia tidak bisa pulang ke Indonesia karena anaknya kembali masuk rumah sakit. Selebihnya, semua berjalan lancar dan aman. Sampai kedatangan Dharma dan Ratna mengac
Semua omongan Bastian kemarin masih bercokol di kepala Geza. Haruskah ia berhenti dari permainan ini? Tidak. Sejak kecil, Geza diajarkan satu prinsip sederhana : kalau sudah memilih untuk bermain, permainan itu harus diselesaikan sampai akhir. Menang atau kalah. Sebab berhenti di tengah permainan bukan berarti masalahnya selesai. Ia tidak akan pernah benar-benar bebas sebelum menang di papan catur yang ia susun itu. Kalau begitu, untuk apa mundur? Tapi dengan Tala yang ditempatkan jadi kelemahannya jelas ia banyak berpikir ulang. Dalam catur ada pilihan lain sebetulnya. Remis. Permainan berakhir, tak ada yang menang ataupun kalah. Namun masalahnya bisakah lawannya menerima akhir yang seperti itu? “Mas Ejaaa...” Tala mengibaskan tangan di depan wajah Geza. Keningnya berkerut, jelas bingung melihat suaminya yang sejak tadi tampak melamun. “Kenapa sih kamu? Ada masalah?” tanyanya. “Nggak, kok. Saya cuma lagi mikir kalau misal bingkisannya ditambah gimana,” kilah Geza asal. “Dit
Geza masuk ke ruangannya dengan pintu yang berdebum, membuat Bastian yang sedang duduk di sofa langsung terlonjak. “Sabar, woi. Kenapa lo?” tanya Bastian, keningnya berkerut heran. Geza tidak langsung menjawab. Ia menarik simpul dasinya dengan kasar hingga longgar, lalu mengusap wajahnya sekali sebelum menjatuhkan tubuh ke sofa di seberang Bastian. “Gue ditunjuk buat handle konsorsium area barat...” Rahangnya mengeras. Ia menunduk sebentar, kedua tangannya bertumpu di lutut. “Bangsat!” Bastian langsung menyeringai. “Apa gue bilang. Lo tuh gak bakalan dibiarin hidup tenang.” Geza hanya mengembuskan napas panjang, wajahnya tetap kusut. “So, lo nggak bisa hadepin itu? Satu proyek sama bini sendiri, sekalian sama mantan. Buset, Geza. What a lucky man.” Seringai Bastian makin lebar. “Berisik lo, Bas,” Sebenarnya Geza sudah pernah memperhitungkan kemungkinan dirinya dilempar ke konsorsium area barat. Seharusnya ia tidak terlalu kaget. Yang membuatnya kesal adalah ia semakin sulit me
Acara soft launch yang sudah dipersiapkan selama beberapa waktu akhirnya berjalan lancar hari ini. Lahan kurang lebih empat hektare itu kini sudah tertata dengan progres pembangunan mencapai sekitar tujuh puluh lima persen. Hanya sekitar delapan puluh unit rumah yang ditempatkan di dalam kawasan tersebut, masing-masing membawa konsep modern tropical dengan sentuhan warm minimalism. Selebihnya, ruang hijau. Pepohonan yang dipertahankan, taman-taman kecil di antara cluster, jalur pedestrian, serta ruang terbuka yang membuat kawasan itu terasa jauh lebih lapang dibandingkan jumlah unitnya. Konsep itulah yang dulu paling sering dipersoalkan. Beberapa orang lama di Janitra menganggap Tala terlalu banyak membuang lahan untuk sesuatu yang tidak menghasilkan uang. Namun, melihat quick numbers yang masuk, hasilnya cukup menjanjikan. Tala cukup optimis proyek ini akan laris. Ia juga yakin proyek tersebut bukan sekadar hunian, melainkan bisa menjadi tempat pulang yang sesungguhnya bagi oran
Geza mendekat, ia duduk di stool meja dapur minimalis itu.“Aku bikin sarapan, seadanya yang ada di kulkas kamu,” ujar Tala.“Hmmm, ya.”Jujur saja, Geza tak benar-benar bisa fokus pada ucapan Tala. Perhatiannya sudah terlanjur tersita oleh perempuan di hadapannya—dari ujung kepala hingga kaki.Kemeja yang dikenakan Tala tampak berbahaya saat melekat di tubuh rampingnya. Kebesaran namun juga sekaligus terlihat menantang.Kemeja itu ikut bergerak setiap kali Tala dengan cekatan berpindah antara meja dapur dan kabinet di atasnya untuk mengambil sesuatu. Sesekali ujungnya terangkat sedikit, memperlihatkan short pants hitam yang dikenakannya. Mencetak bokong Tala yang sintal dan padat—hasil dari olahraga rutin yang belakangan rajin dilakukannya.Jujur saja, Geza dan otak lelakinya menyukai perubahan itu.Sebelumnya pun tubuh Tala sudah bagus. Tapi sekarang jauh lebih bagus. Lebih terbentuk, lebih padat, dan jelas lebih menggoda di mata Geza.Ia menghela napas panjang.Pemandangan pagi ini
“Damn. I’ve missed this.” Umpatan dan racauan apa pun yang keluar dari mulut Geza, dalam keadaan mereka yang sama-sama telanjang, terdengar begitu seksi dan maskulin di telinga Tala. Jika Geza ingin memangsanya, Tala sudah ada di titik menyerahkan diri dengan suka hati. Ada gila-gilanya memang. Berawal dari kaki Tala yang direnggangkan perlahan dan hati-hati, Geza mengusap baretan di bawah lutut Tala yang kini sudah mengering. Jemarinya berhenti sesaat sebelum ia menunduk dan mengecupnya. Gerakannya berlanjut ke lutut, tepat di bagian luka yang lebih dalam. Ia meniupnya pelan sebelum kembali mengecup kulit di sekitarnya. “Sorry for this.” Tala terdiam. “I couldn’t protect you, Tala.” Geza mengusap luka itu sekali lagi dengan ibu jarinya, sangat hati-hati. “I’m okay. And it wasn’t your fault.” Geza menggeleng, Ia cium Tala lagi lembut dan dalam sekali sembari mengusap siku yang di perban itu. Setelahnya kepala Geza turun menuju bilah di antara paha Tala, ia labuhkan kecupan l
Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari saat Tala akhirnya memutuskan turun ke lantai bawah. Dia benar-benar tidak bisa tidur. Bukan karena ini adalah malam pertamanya dengan status sebagai istri Geza.Bukan.Tidak akan ada yang berbeda karena mereka bukan pasangan nyata. Alarm tubuhnya saja yang
Menjaga Sansaya setiap hari ternyata sanggup menguras seluruh kewarasan Tala. Begitu dia terbangun, wajah kuyu dengan lingkaran hitam yang menghias bawah mata langsung menyambutnya.Tala melangkah gontai menuju ruang makan, mengambil segelas air putih, lalu duduk tepat di hadapan Geza. Pria itu suda
Tala tak sanggup mencerna kalimat itu. Menikah dengan adik kakak iparnya? Sebutannya memang masih keluarga, tapi mereka hanya dua orang asing yang kebetulan terhubung karena sebuah pernikahan kedua kakaknya.“Kamu gila?” Tala mendengus, tawa hambar keluar dari bibirnya yang pucat. “Akal sehat kamu k
Tala berdiri memandangi gundukan tanah merah yang masih basah. Rasa sakitnya sama. Sama seperti saat ia kehilangan ibu, lalu nenek, dan terakhir ayahnya. Kehilangan sudah terlalu akrab dalam hidup Tala. Namun kali ini, ia berusaha berdiri lebih tegak—meski sekujur tubuhnya masih gemetar dan kepalan







