Home / Romansa / Sebelum Tiga Tahun / 123- Malam Mingguan Babak 1

Share

123- Malam Mingguan Babak 1

Author: Sora Carita
last update publish date: 2026-08-03 09:45:57
Final venue checking selesai menjelang pukul lima sore. Bahkan di area parkir hotel, Geza dan Tala masih berdebat soal rencana malam minggu mereka.

"Tapi aku belum ganti baju, Geza."

"Memangnya kenapa sama baju itu?"

Tala menunduk sekilas. Ia mengenakan kemeja linen berwarna oatmeal yang lengan panjangnya digulung hingga siku, dipadukan dengan celana palazzo putih gading dan sneakers putih. Nyaman untuk berkeliling lokasi sejak siang, tetapi kini kain linennya mulai kusut, beberapa helai rambut
Sora Carita

Hai ada yang nungguin Geza Tala? Maaf yaw kemarin absen dua hari, lagi hectic banget soalnya huhu. Lagi ngedate mereka. Enjoy guys !

| 9
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (6)
goodnovel comment avatar
Sora Carita
aseeek,, kak adrian maju kak adrian Tala otw menjanda nih
goodnovel comment avatar
Elnathan
uhhhhh so sweet nya......pengen...🫰🏻
goodnovel comment avatar
El Craft
up lagi Thor please..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Sebelum Tiga Tahun   236- Jadi Janda Gak Enak

    Hari kedua, Geza tampaknya masih belum berniat pulang.Sore kemarin, Tala sudah memintanya kembali ke Jakarta. Rumah itu tidak terlalu besar dan hanya memiliki tiga kamar tidur. Tala sendiri menempati kamar Dion yang hanya diisi kasur single bed—sementara anak itu tidur bersama kakeknya.Jelas tak ada tempat lagi untuk Geza. Alhasil, semalam Geza tidur beralaskan tikar di ruang keluarga. Tala bahkan sudah menyarankannya menginap di hotel di pusat kota, tetapi pria itu tetap bersikeras menolak.Pagi ini, suaminya malah sudah duduk santai di teras sambil minum teh dan berbincang dengan Pakde Hanto. Tak hanya itu, Geza juga ikut membantu memotong ayam kampung yang kemarin dibicarakan Mira.Di luar dugaan, ternyata pria itu bisa mengurus hal-hal semacam itu.Terlepas dari masalah rumah tangga mereka, Mira dan Pakde Hanto menilai Geza secara objektif. Keduanya menerima kehadiran pria itu dengan tangan terbuka. Terlebih, Pakde Hanto hanya menduga Tala dan Geza sedang bertengkar, masalah kla

  • Sebelum Tiga Tahun   235- Cewek Tukang Manjat

    Hening menyelimuti teras setelah Ainun beranjak masuk.Geza duduk lesehan dengan kaki terjulur ke undakan teras, kedua tangannya bertumpu di belakang tubuh untuk menyangga berat badannya. Di sebelahnya, Tala duduk bersila dengan tangan terlipat di atas lutut. Keduanya sama-sama memandangi hamparan pegunungan hijau di hadapan mereka.Sejak kedatangan Geza tadi, mereka belum benar-benar mengobrol. Mira lebih banyak mengambil alih percakapan, berusaha mencairkan kecanggungan di antara keduanya.Sampai akhirnya, Tala memutuskan untuk membuka suara.“Kamu tahu dari mana aku di sini?”Geza menoleh sekilas sebelum menjawab, “Dari akses panggilan kemarin. Saya minta orang melacak posisinya, sekalian mencari tahu pemiliknya.”Tala sontak menoleh.Dia menyewa hacker?“Harus segitunya?” tanya Tala, sedikit ketus.“Harus. Saya belum minta maaf soal omongan saya malam itu. Saya salah, Ta. Sangat salah. Maafkan saya.""Hmmm." hanya itu respon yang bisa Tala beri."Dan saya juga pengen ketemu kalian

  • Sebelum Tiga Tahun   234- Kalau Tantenya Mau

    Melihat wajah pria itu yang begitu lelah akibat perjalanan, Mira menawarkan kamar yang selama ini ditempati Tala dan Sansa agar Geza bisa beristirahat. Kini, pria itu tertidur bersama Sansa di kamar tersebut.Sementara itu, Mira sedang mengantar pesanan kue bersama putranya, Dion, ke pusat kota. Hanto—ayah Mira sendiri sudah kembali ke kebun. Siang tadi ia hanya mengantarkan Geza ke rumah. Itu pun tak sengaja katanya bertemu dengan Geza di warung saat pria itu sedang menanyakan alamat.Tala duduk lesehan di teras, menemani Ainun mengerjakan PR.“Tante Tala, kenapa Tante jadi arsitek?” tanya Ainun.“Karena Tante suka gambar,” jawab Tala sambil tersenyum tipis.“Aku nggak suka gambar, tapi pengin jadi arsitek. Bisa nggak, Tante?”Tala terdiam sejenak, menatap anak itu.Dulu, ia justru tak pernah ingin mengambil jurusan arsitektur. Jani-lah yang meyakinkannya bahwa jurusan itu menjanjikan dan bisa menjadi tempat bagi bakat Tala untuk berkembang. Kakaknya itu bahkan bertaruh mati-matian ag

  • Sebelum Tiga Tahun   233- Masa Tenang

    Tepat tiga minggu kemudian, akhirnya ponsel Tala kembali aktif. Bahkan, kali ini Tala yang lebih dulu menghubunginya. Percakapan itu dimulai dengan Sansa yang langsung bercerita panjang lebar tentang segala hal yang ia lakukan selama bersama Tatanya, tak lupa mengungkapkan betapa rindunya ia kepada Om Eja. Tala tak mau bicara sama sekali dengannya. Geza mendengarkan dengan saksama, sesekali menyahut pertanyaan-pertanyaan polos keponakannya itu. Hingga, saat Sansa meminta panggilan video, terdengar suara gemerisik dari seberang, disusul larangan Tala yang samar-samar tertangkap telinganya. Geza langsung menangkap celah itu. “Jadi, Om Eja boleh bicara sama Tata?” bujuknya lagi, setelah permintaan serupa tadi ditolak mentah-mentah oleh Sansa. “Kata Tata, no-no.” Geza mengembuskan napas pelan. Rupanya, Tala benar-benar berusaha menghindarinya, panggilan ini ada hanya karena Sansa. “Om Eja kangen Tata. Ayo, Yaya bilangin, ya.” Tak lama kemudian, suara mungil itu kembali terdengar di

  • Sebelum Tiga Tahun   232- Hidup Berantakan

    “Pak, Bu Kinan minta waktu untuk membahas proyek A Plus.” Rena melongokkan wajah dari balik pintu, ragu-ragu sebelum melanjutkan. “Katanya cukup urgent.” Sudah empat hari terakhir emosi atasannya itu buruk. Sangat buruk, malah. Rena sampai harus berpikir dua kali setiap kali hendak masuk ke ruangannya. “Bilang lewat email aja,” jawab Geza ketus tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop. “Tapi, Pak...” Rena menjeda, tampak serba salah. “Katanya urgent. Sepuluh menit lagi Pak Agus juga akan menyusul.” Nama terakhir itu membuat Geza terpaksa mengurungkan niatnya untuk menolak. “Ya sudah. Suruh masuk.” “Baik, Pak.” Rena segera berlalu, sementara Geza menyandarkan punggung ke kursi dan mengembuskan napas panjang. Sungguh, kepalanya sudah cukup penuh. Ia tak punya tenaga untuk menghadapi persoalan lain, apalagi yang melibatkan Kinan. Sayangnya, urusan pekerjaan tak bisa ia abaikan hanya karena kehidupan pribadinya sedang berantakan. Kinan masuk beberapa saat kemudian, lalu duduk

  • Sebelum Tiga Tahun   231- Kemana Tala?

    Geza punya jadwal bertemu klien saat jam makan siang. Kebetulan, lokasi pertemuan itu tak jauh dari kantor Amika. Ia pun memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menemui sahabat istrinya, meski kemungkinan besar ia akan kembali menerima tamparan. Sudah tiga hari Tala pergi, dan ia masih belum tahu harus mencari ke mana lagi. Geza menunggu dengan gelisah di lobi firma tempat Amika bekerja. Setelah pesannya tak kunjung dapat balasan, ia terpaksa menghubungi atasan perempuan itu, yang kebetulan merupakan koleganya sendiri, untuk meminta bantuan mempertemukan mereka. Dan ya, akhirnya Amika muncul dengan wajah masam. Begitu melihat Geza, ia langsung menghampiri pria itu sambil bersungut kesal. “Harus banget gunain kekuasaan lo buat bikin gue mau nemuin lo, Mas? Dasar licik!” Geza tak membalas sindiran itu. Ia sudah menduga Amika akan marah, tetapi saat ini ia tak punya banyak pilihan. “Mik, kalau kamu masih mau luapin kemarahan kamu sama saya, silakan.” Geza menatapnya serius. “Tapi jan

  • Sebelum Tiga Tahun    7- Serangan Taktik Pertama

    Satu minggu sudah berlalu sejak perdebatan malam itu. Tala membangun dinding pembatas setinggi mungkin. Setiap informasi mengenai Sansa disampaikan layaknya laporan kerja—dingin, kaku, dan efisien. Tala tak mau terlihat rapuh, apalagi menunjukkan bahwa kalimat Geza berhasil melukainya.Pagi ini, keh

  • Sebelum Tiga Tahun    6- Ritme Hidup Baru di Tengah Kekacauan

    Tidak ada yang benar-benar tidur nyenyak selama satu bulan terakhir. Duka perlahan mengubah ritme hidup mereka tanpa permisi. Tala terbiasa bangun karena tangisan tengah malam, sementara Geza mulai hafal cara menenangkan Sansaya sebelum anak itu benar-benar histeris. Ada kalanya mereka bergantian me

  • Sebelum Tiga Tahun   5- Tawaran Perlindungan

    “Kamu gila kalau kamu setuju sama ide konyol itu.”Geza menoleh. “Mungkin.”Sebelum membawa Sansaya ke dokter anak, mereka sempat bicara soal hak wali ke pengacara kenalan Geza. Pengacaranya menyarankan satu hal paling konyol untuk menang dan melindungi semuanya.Menikah. Nikah kontrak, lebih tepat

  • Sebelum Tiga Tahun   4- Proposal Tak Terduga

    Mobil Geza melaju membelah kemacetan Jakarta yang terasa jauh lebih menyesakkan dari biasanya. Di kursi penumpang, Tala mencoba menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin, mencari sedikit sisa tenaga yang dia punya.“Temen kamu udah pulang langsung kerja?” tanya Geza tanpa sedikit pun men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status