Mag-log inGimana gimana? percaya gak sama om Eja? masih mau dengerin lagi penjelasannya gak? apa kita timpukin aja bareng-bareng?
Mungkin, ungkapan Hanum waktu itu keliru. Awal tahun keempat pernikahan mereka bukanlah pembuka menuju hidup bahagia, melainkan awal dari peliknya rumah tangga yang harus mereka hadapi. Dan kini Tala bukan lagi Tala yang lajang dan bebas melarikan diri setiap kali pikirannya kusut. Ada hal-hal yang kini tak bisa ia tinggalkan begitu saja, bahkan ketika hatinya sendiri sedang berantakan. Sekarang ia punya Sansa. Maka, begitu tiba di apartemen Syifa, Tala segera menelepon Sus Lia untuk memastikan keadaan Sansa. Ia juga menitipkan pesan agar besok anak itu tetap berangkat sekolah seperti biasa, tanpa harus menunggu atau diantar olehnya. Amika sempat mampir dan bercerita panjang lebar tentang bagaimana ia melabrak Kinan. Persis seperti yang Tala duga. Geza—si brengsek itu—terus-menerus meneleponnya, yang tentu saja langsung Tala reject. Ia tak bisa mematikan ponselnya begitu saja. Bagaimanapun, ia masih harus bisa dihubungi jika ada sesuatu yang penting terkait Sansa. Dan satu lagi, B
Tala pernah punya pengalaman diselingkuhi. Ia memergoki pacarnya keluar dari sebuah hotel bersama rekan kerjanya, tepat ketika dirinya sedang berada di lobi untuk bertemu klien. Saat itu, Tala hanya diam. Tak ada keributan, tak ada adegan menangis atau memohon penjelasan. Ia mengakhiri hubungan mereka begitu saja, tanpa banyak drama. Entah karena ia memang tak secinta itu pada pria tersebut, entah karena ia enggan menjadi pusat perhatian. Yang jelas, Tala tak merasa perlu membuat keributan. Kemudian Tala dapat kabar kalau mantannya itu dilabrak Amika. Tak berselang lama kemudian, tersiar pula kabar kalau pria itu babak belur dihajar seseorang. Entah siapa pelakunya. Tala tak pernah mencari tahu, apalagi merasa perlu peduli. Namun, kejadian kali ini berbeda. Pria yang baru saja ia pergoki berciuman dengan mantannya bukan sekadar pacar. Status mereka sudah resmi berubah. Geza adalah suaminya. Dan apa yang baru saja dilihatnya? Ciuman. Geza berciuman dengan Kinan. Tala mengerjap b
“Tala, kita di ruang paling ujung. Lo naik aja.” Suara Amika di ujung telepon menuntun Tala menerobos lantai bawah yang ramai dan penuh sesak. Malam ini, ia punya janji dengan Amika, Jia, dan Syifa untuk mencari hiburan sekaligus merayakan Jia yang resmi resign dari pekerjaannya dan memutuskan menjadi IRT. Setelah padel untuk mengobati patah hati Syifa, kini giliran minum di bar untuk merayakan keputusan Jia. “Oke, tunggu. Penuh banget di sini.” “Ya jelas penuh, namanya juga bar. Lo sih, udah lama nggak dateng ke tempat kayak gini amatir lagi kan...Buruan, ya. Kita udah nungguin lo setengah jam, nih,” celoteh Amika, yang sepertinya sudah mulai menyesap alkohol. “Iya, sabar, iya,” gerutu Tala. Sebelum berangkat, ia sudah mengirim pesan kepada Geza untuk mengabari bahwa malam ini ia jadi keluar. Tadinya Tala sempat gamang antara ikut acara itu atau tidak, tetapi akhirnya ia memutuskan untuk datang. Sayangnya, sampai sekarang belum ada balasan dari suaminya. Pesan terakhir Geza mas
Tala punya lingkar pertemanan kecil sejak kuliah—meski, kalau dipikir-pikir, menyebutnya circle juga kurang tepat karena mereka jarang berkumpul rutin. Terakhir kali mereka berada di acara yang sama adalah setahun lalu, saat Tala mengundang mereka ke ulang tahun Sansa. Kendati begitu, hubungan mereka tetap akrab dan hangat, seolah jarangnya pertemuan tak pernah benar-benar mengubah kedekatan yang sudah terjalin sejak dulu.Dan kali ini, mereka kembali bertemu karena Jia mengajak bermain padel.Bukan pertemuan yang direncanakan jauh-jauh hari. Kebetulan saja, sebagian besar dari mereka sedang punya waktu luang ketika Jia melontarkan ajakannya. Ia bahkan menyebut pertandingan hari ini sebagai turnamen kecil-kecilan untuk mengobati patah hati Syifa yang baru saja diselingkuhi.Maka, di sebuah lapangan padel di kawasan Kemang, Tala kini berada. Duduk di pinggir menunggu giliran main.Sementara itu, di salah satu lapangan, Geza tengah bertanding melawan Adrian. Bastian dan Fredy menjadi pas
Masih pukul tiga atau empat pagi, kalau Tala tak salah membaca angka pada jam di dinding, ketika tangan besar Geza mengusap-usap rambutnya. Sesekali, pria itu bahkan mengecup puncak kepalanya. “Tidur!” Hanya satu kata itu yang meluncur dari mulut Tala untuk merespon. Demi apa pun, Tala malas menanggapi lebih banyak. Seingatnya, ia baru bisa terlelap sekitar pukul satu atau dua dini hari. Mungkin. “Hmm,” gumam pria itu pendek. Aroma sabun yang bersih menyusup samar dari lengan Geza yang menjadi bantalan bagi lehernya. Usapan itu tak kunjung berhenti. Biasanya, Tala akan semakin terbuai, merasa seperti sedang dininabobokan. Tapi kali ini tidak, ia justru ingin berbalik agar bisa menatap Geza. Pria itu sedikit terkejut oleh gerakan spontan istrinya. “Rambut kamu wangi, Ta.” Wajah Geza tampak segar. Rupanya benar, ia baru selesai mandi. Kini Geza melipat satu lengannya, menjadikannya bantalan bagi sisi kepala yang menghadap Tala. Tangan lainnya mendarat di pipi sang istri, mengusa
Tala menatap kembali pria yang kini tertidur pulas di lehernya dengan ekspresi tak percaya. “Mas Geza?” Tak ada jawaban. Ia menggeser wajah sedikit, mencoba melihat ekspresi suaminya. Geza benar-benar sudah terlelap. Napasnya teratur, satu lengannya masih melingkari pinggang Tala. Tala mendecih pelan. “Yang mulai siapa, yang ditinggal siapa.” gerutunya. Ia mencoba melepaskan diri, tetapi lengan Geza justru mengerat secara refleks. Wajah pria itu kembali merapat ke lehernya. “Ta...” gumamnya nyaris tak terdengar. Tala terdiam. “Jangan pergi.” Dua kata itu keluar begitu pelan hingga Tala hampir mengira dirinya salah dengar. Kekesalan yang tadi memenuhi kepalanya perlahan surut. Ia menatap wajah Geza yang terlelap, lalu menghela napas panjang. Ia usap rambut Geza perlahan, lalu mengecup pelipisnya. “Iya, aku di sini.” Setelah memastikan pria itu kembali terlelap, Tala berusaha mengatur posisi Geza agar lebih nyaman. Barulah ia menyelinap turun dari kasur dan masuk ke kamar ma
Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari saat Tala akhirnya memutuskan turun ke lantai bawah. Dia benar-benar tidak bisa tidur. Bukan karena ini adalah malam pertamanya dengan status sebagai istri Geza.Bukan.Tidak akan ada yang berbeda karena mereka bukan pasangan nyata. Alarm tubuhnya saja yang
Menjaga Sansaya setiap hari ternyata sanggup menguras seluruh kewarasan Tala. Begitu dia terbangun, wajah kuyu dengan lingkaran hitam yang menghias bawah mata langsung menyambutnya.Tala melangkah gontai menuju ruang makan, mengambil segelas air putih, lalu duduk tepat di hadapan Geza. Pria itu suda
Tala tak sanggup mencerna kalimat itu. Menikah dengan adik kakak iparnya? Sebutannya memang masih keluarga, tapi mereka hanya dua orang asing yang kebetulan terhubung karena sebuah pernikahan kedua kakaknya.“Kamu gila?” Tala mendengus, tawa hambar keluar dari bibirnya yang pucat. “Akal sehat kamu k
Tala berdiri memandangi gundukan tanah merah yang masih basah. Rasa sakitnya sama. Sama seperti saat ia kehilangan ibu, lalu nenek, dan terakhir ayahnya. Kehilangan sudah terlalu akrab dalam hidup Tala. Namun kali ini, ia berusaha berdiri lebih tegak—meski sekujur tubuhnya masih gemetar dan kepalan







