LOGINTala tak sanggup mencerna kalimat itu. Menikah dengan adik kakak iparnya? Sebutannya memang masih keluarga, tapi mereka hanya dua orang asing yang kebetulan terhubung karena sebuah pernikahan kedua kakaknya.
“Kamu gila?” Tala mendengus, tawa hambar keluar dari bibirnya yang pucat. “Akal sehat kamu ke mana? Kita bahkan nggak pernah bisa ngobrol baik-baik.”
Di depan Jani dan Arka, hubungan mereka selalu terlihat baik-baik saja, layaknya saudara ipar pada umumnya. Namun kenyataannya, setiap kali mereka terlibat percakapan berdua, yang muncul justru benturan pendapat, tatapan sinis, dan kalimat-kalimat pendek yang dipenuhi sarkasme. Entah mengapa, menghirup udara yang sama dengan orang seperti Geza, membuat Tala cukup muak.
Mungkin karena keduanya sama-sama merasa terebut perhatian dalam pernikahan kakaknya.
Geza tidak menjawab. Ia hanya kembali menjalankan mobilnya dalam diam, seolah penolakan keras Tala barusan hanyalah angin lalu.
"Demi asuransi dan warisan, kamu sampai segininya?" tanya Tala tajam. "Kamu takut gak kebagian jatah kalau Sansa nggak di tangan kamu?"
Geza mengerem mendadak, membuat tubuh Tala terhentak ke depan. Dengan sigap, lengan kokoh Geza menahan tubuh Tala agar tidak membentur dasbor. "Ternyata kamu masih belum paham."
Tala terdiam, napasnya memburu. Ia segera menepis lengan itu.
Perdebatan itu terputus saat mobil akhirnya sampai di depan rumah Jani. Begitu melangkah masuk, suasana panas langsung menyambut.
Di ruang tamu, Tante Ratna sudah duduk menunggu.
Hanya bertemu di pernikahan dan pemakaman, untuk apa wanita itu disini sekarang?
Memori Tante Ratna di kepala Tala adalah abu-abu. Yang ia ingat, setelah pernikahan kakaknya, wanita itu tidak pernah benar-benar menganggap Tala ada.
Tante Ratna adalah ibu tiri Geza yang selalu terlihat manis. Tapi, Tala masih ingat jelas momen di resepsi pernikahan kakaknya dulu. Tante Ratna seringkali menyindirnya halus "menumpang di rumah besar". Hingga akhirnya Tala memilih angkat kaki dan mencari kos sendiri.
“Tadi Tante sudah cek Sansa, dia masih tidur,” kata Tante Ratna lembut, namun matanya menatap Tala dari atas ke bawah. “Tala mau makan dulu?”
“Makasih, Tan. Nanti aja.” jawab Tala pendek seraya menggeleng pelan.
Wanita itu membetulkan posisi duduknya di atas sofa beludru, bersiap memulai pembicaraan yang tampak sangat mendesak. “Tala, duduk dulu. Kita perlu ngobrol banyak.”
“Tan, saya di sini cuma sementara sampai kondisi Sansa stabil.” ucap Tala berusaha terdengar tenang.
“Bagus kalau begitu.” sahut Tante Ratna singkat, bibirnya membentuk senyum tipis yang sulit dibaca. “Biar kamu paham juga, Sansaya butuh orang tua pengganti yang layak buat nemenin tumbuh kembangnya. “
Geza melangkah maju dan duduk di sandaran sofa tepat di samping Tala. Jarak mereka dekat, tubuh Tala menegang refleks ingin bergeser, teringat pertengkaran mereka di mobil tadi
Tante Ratna melirik Tala sekilas, lalu ke Geza. “Kedekatan karena kebiasaan itu bisa dibentuk. Tapi kalau soal tanggung jawab, itu harus dipegang orang yang hidupnya sudah jelas. Yang sudah pernah merasakan pahit manisnya jadi orangtua.”
“Gelar orang tua nggak otomatis bikin seseorang ngerti caranya jadi orang tua.” balas Geza tak kalah sinis.
Dibanding dengan obrolan Tala merasa ini seperti ladang perang, ia ingin segera pamit undur diri dan pergi ke kamar Sansaya untuk memeluk anak itu.
Di keluarga ini sama sekali tak ada ruang untuk berduka.
“Tala masih punya banyak urusan hidup. Dia belum menikah, masih mengejar masa depannya. Belum pernah mengurus anak pula. Apa pantas dia direpotkan dengan balita dalam kondisi seperti ini?” Kalimat itu terdengar seperti nasihat, namun cara Tante Ratna menatapnya terasa seperti pisau yang perlahan menguliti pertahanan Tala.
“Belum lagi sejumlah bisnis yang kakak kamu kelola. Kamu yakin mau membebankan semua ini ke Tala?” timpalnya lagi.
Kepalan tangan Tala menguat di atas pangkuan, meremas kain roknya yang kusut.
Omongan Tante Ratna benar-benar seperti ingin menguliti harga dirinya secara perlahan di depan Geza. Pria di sampingnya itu mendadak menoleh. Tidak ada lagi mimik menantang di wajahnya, tatapannya melunak secara tak terduga.
“Saya mau ngurus Sansaya dan soal aset, saya nggak akan ikut campur sama sekali. Silakan itu jadi urusan kalian,” ucap Tala memberikan penekanan tajam pada kata ‘kalian’, seolah menegaskan garis pembatas meski di ruangan itu hanya ada mereka bertiga.
Tante Ratna menyahut cepat sambil menyilangkan tangan di depan dada. “Kalau kamu mau ngurus Sansaya, itu artinya kamu mau jadi walinya. Dan wali berarti ikut akumulasi asetnya juga. “
“Kamu tante dari pihak ibu. Belum mapan secara finansial. Belum punya rumah tetap.” lanjutnya tanpa nada menyerang, lebih seperti memaparkan fakta. “Sedangkan Sansaya masih punya kakek kandung, punya nenek. Secara hukum, kami jauh lebih layak.”
“Kalau ini dibawa ke hukum, posisi kamu paling lemah Ta.” lanjutnya lagi.
Geza langsung menyahut, suaranya dingin. “Secara hukum itu masih bisa diperdebatkan. Yang dicari pengadilan bukan cuma siapa yang paling layak di atas kertas, tapi siapa yang paling aman buat anak itu. Dan sekarang cuma Tala yang Sansaya mau. Psikolog juga bakal bilang hal yang sama.”
“Kamu tumben banyak bicara Geza. Semua omongan mama kamu bantah.”
Geza menoleh tajam. “Tante gak pernah sedekat itu sama saya buat bisa dibilang mama.” Geza lalu melirik Tala sekilas, sebelum kembali membalas tante Ratna dengan rahang mengeras. “Kalau ini harus diputuskan di meja hukum.” katanya datar. “Kita ketemu di sana.”
Perdebatan itu terjeda oleh lengkingan tangis dari arah kamar. “Tata, tata mana tata?”
Semua kepala refleks menoleh.
“Denger? Siapa yang anak itu cari sekarang?”
Hanya satu hari Geza mengambil cuti dan hari itu dihabiskannya untuk mengurus Tala sambil tetap memasang muka garang—tentu saja. Jelas ia masih menyimpan kesal soal kejadian nomor darurat itu.Tapi mau bagaimana lagi?Semuanya sudah terlanjur terjadi dan sungguh Tala melakukannya bukan dengan maksud lain.Geza sudah mengabari bahwa malam ini ia tidak akan pulang. Ada urusan pekerjaan yang ingin diselesaikan di apartemen katanya. Mungkin, ia juga butuh sedikit ruang untuk menenangkan kepala yang masih dipenuhi kekesalan.Hari keempat pascapenjambretan, Tala sendiri masih belum melakukan aktivitas berarti. Semua urusan proyek Serpong sudah aman ditangani Suwandi. Seharian ini ia hanya mengantar Sansa sekolah, lalu menghabiskan waktu di rumah dengan menemani Sansa bermain, menonton, dan melakukan aktivitas ringan lainnya.Sungguh, ia mulai bosan.Jadi sore ini, Tala memutuskan mengantarkan makan malam untuk suaminya yang sedang marah itu.Membujuk, mungkin?Kini ia sudah berdiri di lobi
Begitu Geza pergi, kamar kembali terasa lebih tenang. Beberapa menit kemudian, Bi Yuni masuk membawa semangkuk sup ayam hangat untuk Tala.“Mbak Tala, udah mendingan? Bibi kaget banget pas denger kabarnya. Daerah situ emang kadang rawan, Mbak. Rame sih rame, cuma kanan-kirinya pan banyak lahan kosong. Sering dijadiin kesempatan buat yang mau jambret begitu.”“Iya, Bi. Ini udah nggak apa-apa, kok. Makasih, ya.”Tala menerima mangkuk yang disodorkan Bi Yuni, lalu meniup pelan uap yang mengepul dari permukaan sup.“Mau mandi gak Mbak? Nanti bibi bantu. Tadi Pak Geza bilang Mbak jangan dibiarin mandi sendiri dulu. Begitu katanye.”“Oh, nggak usah, Bi. Saya bisa sendiri.”Bi Yuni malah terkekeh.“Lho, mau sama Pak Geza aja ya mandinya?” godanya. “Mau kangen-kangenan, ya, Mbak?”Wajah Tala langsung memerah.“Bi Yuni, apaan, sih?”Kangen-kangenan apanya, Bi? Debat yang ada.Bi Yuni semakin terkekeh melihat wajah Tala.“Becanda, Mbak Tala cepet baek lagi, ya. Bibi tinggal, kalau butuh apa-apa
Begitu kembali ke rumah, Tala mendapati Sansa sudah tidur. Hanya Sus Lia yang masih terjaga dan langsung menyambut mereka dengan raut khawatir begitu melihat kondisi Tala. “Gimana, Mbak kondisinya? Mau saya bantu siapin apa?” “Cuma lecet Sus, udah gapapa. Sansa Aman kan?” Tala bersandar di sofa. Merasakan sekujur tubuhnya mulai pegal dan nyeri. ”Aman Mbak, cuma nanyain aja kayak biasa kapan Tata pulang.” ”Sus bantu aku ke kamar.” pinta Tala. Saat tiba tadi, Geza menurunkan Tala di sofa lalu ia sendiri ke halaman depan untuk menerima telepon dan sepuluh menit sudah berlalu masih belum terlihat tanda percakapan itu akan usai. ”Mari Mbak.” Sus Lia sudah melingkarkan lengan Tala di bahunya, namun pria itu masuk dan segera mengambil alih. “Udah saya bilang, tunggu dulu di sini.” intonasi suaranya tegas. Lantas Geza menoleh kepada Sus Lia. “Sama saya aja, Sus.” Tanpa menunggu jawaban, ia langsung menyelipkan satu tangan di bawah lutut Tala dan tangan lainnya menyangga punggung pere
Geza langsung beringsut mendekat, lalu menarik Tala ke dalam pelukannya. Erat sekali.Jauh lebih erat dari biasanya.Tala sempat membeku beberapa detik. Baru setelah menyadari tubuh pria itu benar-benar menempel padanya, ia perlahan mengangkat tangan dan membalas peluknya. Bisa Tala rasakan detak jantung pria itu berpacu dengan hebat.“Mas... aku beneran nggak apa-apa.”Pelukan itu tidak mengendur.Justru semakin erat, seakan Geza masih perlu memastikan sendiri bahwa perempuan yang ada di dalam pelukannya benar-benar baik-baik saja.”Serius aku gapapa.””Mas...”Saat itulah Geza melepas peluk. Matanya menyapu tubuh Tala dari kepala sampai kaki. “Kamu nggak apa-apa?”“Aku gapapa.” ulang Tala sekali lagi.“Mana yang sakit?”Tala menggeleng. “Cuma lecet sama luka kecil. Dokter juga udah periksa.”“Pusing?”“Sedikit.”“Mual?”“Nggak.”Geza masih menatapnya, belum puas dengan jawaban itu. Tangannya terangkat, menyentuh pelipis Tala yang tertutup plester bening. Jemarinya berhenti di sana, b
“Ada keluarga yang bisa dihubungi, Mbak?” tanya suster yang baru saja selesai memasang perban di siku Tala.“Ada nomor telepon yang bisa dihubungi, Mbak?” ulangnya ketika Tala hanya diam.Tala tergagap. Fokusnya masih belum sepenuhnya terkumpul. Plester bening menempel di pelipisnya, sementara kepalanya masih terasa berat dan berdenyut.Ia mengerjap beberapa kali. Pikirannya bergerak lambat, berusaha menangkap sesuatu yang seharusnya begitu sederhana.Tangannya refleks bergerak ke sisi tubuh, hendak meraih ponsel seperti yang biasa ia lakukan setiap kali membutuhkan nomor seseorang. Namun yang disentuhnya hanya ruang kosong.Baru saat itulah ingatannya seperti tersentak. Tas yang berisi ponsel dan semua barangnya hilang.“HP saya...” gumamnya pelan.“Kenapa, Mbak?”“Kayaknya... ikut hilang.”Suster itu terdiam sejenak, lalu kembali bertanya dengan suara lebih lembut.“Ada nomor yang Mbak hafal?”Tala memejamkan mata.Ia mencoba mengingat satu per satu nomor yang mungkin masih tersimpan
Tala masih berkutat dengan beberapa dokumen untuk final review proyek Serpong sore ini ketika sebuah pesan dari nomor asing masuk.Sekilas ia melirik notifikasinya, lalu memilih untuk mengabaikannya karena yakin tak akan jauh dari pesan spam. Ia malas meladeni di tengah kondisi sesibuk ini. Masih banyak yang harus diselesaikan. Bahkan makan siangnya saja sudah tertunda karena ingin memastikan semua dokumen untuk final review nanti selesai cepat.Proyek revitalisasi yang dulu sempat membuat Janitra heboh itu akhirnya mendekati garis akhir.Tala mengerjakannya dengan jauh lebih hati-hati daripada proyek biasa. Bukan hanya karena proyek tersebut sempat menimbulkan perdebatan di kalangan petinggi Janitra, tapi juga karena Raga pernah mencoba menyusupkan berbagai sabotasenya selama proses pengerjaan. Beruntung sejauh ini, semuanya masih bisa diatasi dan tetap terkendali.Sore nanti, ia akan turun langsung ke lokasi untuk melakukan final review sebelum proyek memasuki tahap soft launch bebe
Tidak ada yang benar-benar tidur nyenyak selama satu bulan terakhir. Duka perlahan mengubah ritme hidup mereka tanpa permisi. Tala terbiasa bangun karena tangisan tengah malam, sementara Geza mulai hafal cara menenangkan Sansaya sebelum anak itu benar-benar histeris. Ada kalanya mereka bergantian me
“Kamu gila kalau kamu setuju sama ide konyol itu.”Geza menoleh. “Mungkin.”Sebelum membawa Sansaya ke dokter anak, mereka sempat bicara soal hak wali ke pengacara kenalan Geza. Pengacaranya menyarankan satu hal paling konyol untuk menang dan melindungi semuanya.Menikah. Nikah kontrak, lebih tepat
Mobil Geza melaju membelah kemacetan Jakarta yang terasa jauh lebih menyesakkan dari biasanya. Di kursi penumpang, Tala mencoba menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin, mencari sedikit sisa tenaga yang dia punya.“Temen kamu udah pulang langsung kerja?” tanya Geza tanpa sedikit pun men
Menjaga Sansaya setiap hari ternyata sanggup menguras seluruh kewarasan Tala. Begitu dia terbangun, wajah kuyu dengan lingkaran hitam yang menghias bawah mata langsung menyambutnya.Tala melangkah gontai menuju ruang makan, mengambil segelas air putih, lalu duduk tepat di hadapan Geza. Pria itu suda







