Home / Romansa / Sebelum Tiga Tahun / 2- Warisan Rumit

Share

2- Warisan Rumit

Author: Sora Carita
last update publish date: 2026-05-12 11:53:02

Tala tak sanggup mencerna kalimat itu. Menikah dengan adik kakak iparnya? Sebutannya memang masih keluarga, tapi mereka hanya dua orang asing yang kebetulan terhubung karena sebuah pernikahan kedua kakaknya.

“Kamu gila?” Tala mendengus, tawa hambar keluar dari bibirnya yang pucat. “Akal sehat kamu ke mana? Kita bahkan nggak pernah bisa ngobrol baik-baik.”

Di depan Jani dan Arka, hubungan mereka selalu terlihat baik-baik saja, layaknya saudara ipar pada umumnya. Namun kenyataannya, setiap kali mereka terlibat percakapan berdua, yang muncul justru benturan pendapat, tatapan sinis, dan kalimat-kalimat pendek yang dipenuhi sarkasme. Entah mengapa, menghirup udara yang sama dengan orang seperti Geza, membuat Tala cukup muak.

Mungkin karena keduanya sama-sama merasa terebut perhatian dalam pernikahan kakaknya.

Geza tidak menjawab. Ia hanya kembali menjalankan mobilnya dalam diam, seolah penolakan keras Tala barusan hanyalah angin lalu.

"Demi asuransi dan warisan, kamu sampai segininya?" tanya Tala tajam. "Kamu takut gak kebagian jatah kalau Sansa nggak di tangan kamu?"

Geza mengerem mendadak, membuat tubuh Tala terhentak ke depan. Dengan sigap, lengan kokoh Geza menahan tubuh Tala agar tidak membentur dasbor.  "Ternyata kamu masih belum paham." 

Tala terdiam, napasnya memburu. Ia segera menepis lengan itu.

Perdebatan itu terputus saat mobil akhirnya sampai di depan rumah Jani. Begitu melangkah masuk, suasana panas langsung menyambut. 

Di ruang tamu, Tante Ratna sudah duduk menunggu.

Hanya bertemu di pernikahan dan pemakaman, untuk apa wanita itu disini sekarang? 

Memori Tante Ratna di kepala Tala adalah abu-abu. Yang ia ingat, setelah pernikahan kakaknya, wanita itu tidak pernah benar-benar menganggap Tala ada. 

Tante Ratna adalah ibu tiri Geza yang selalu terlihat manis. Tapi, Tala masih ingat jelas momen di resepsi pernikahan kakaknya dulu. Tante Ratna seringkali menyindirnya halus "menumpang di rumah besar". Hingga akhirnya Tala memilih angkat kaki dan mencari kos sendiri.

“Tadi Tante sudah cek Sansa, dia masih tidur,” kata Tante Ratna lembut, namun matanya menatap Tala dari atas ke bawah. “Tala mau makan dulu?”

“Makasih, Tan. Nanti aja.” jawab Tala pendek seraya menggeleng pelan.

Wanita itu membetulkan posisi duduknya di atas sofa beludru, bersiap memulai pembicaraan yang tampak sangat mendesak. “Tala, duduk dulu. Kita perlu ngobrol banyak.”

“Tan, saya di sini cuma sementara sampai kondisi Sansa stabil.” ucap Tala berusaha terdengar tenang.

“Bagus kalau begitu.” sahut Tante Ratna singkat, bibirnya membentuk senyum tipis yang sulit dibaca. “Biar kamu paham juga, Sansaya butuh orang tua pengganti yang layak buat nemenin tumbuh kembangnya. “

Geza melangkah maju dan duduk di sandaran sofa tepat di samping Tala. Jarak mereka dekat, tubuh Tala menegang refleks ingin bergeser, teringat pertengkaran mereka di mobil tadi

Tante Ratna melirik Tala sekilas, lalu ke Geza. “Kedekatan karena kebiasaan itu bisa dibentuk. Tapi kalau soal tanggung jawab, itu harus dipegang orang yang hidupnya sudah jelas. Yang sudah pernah merasakan pahit manisnya jadi orangtua.”

“Gelar orang tua nggak otomatis bikin seseorang ngerti caranya jadi orang tua.” balas Geza tak kalah sinis.

Dibanding dengan obrolan Tala merasa ini seperti ladang perang, ia ingin segera pamit undur diri dan pergi ke kamar Sansaya untuk memeluk anak itu. 

Di keluarga ini sama sekali tak ada ruang untuk berduka.

“Tala masih punya banyak urusan hidup. Dia belum menikah, masih mengejar masa depannya. Belum pernah mengurus anak pula. Apa pantas dia direpotkan dengan balita dalam kondisi seperti ini?” Kalimat itu terdengar seperti nasihat, namun cara Tante Ratna menatapnya terasa seperti pisau yang perlahan menguliti pertahanan Tala.

“Belum lagi sejumlah bisnis yang kakak kamu kelola. Kamu yakin mau membebankan semua ini ke Tala?” timpalnya lagi.

Kepalan tangan Tala menguat di atas pangkuan, meremas kain roknya yang kusut. 

Omongan Tante Ratna benar-benar seperti ingin menguliti harga dirinya secara perlahan di depan Geza. Pria di sampingnya itu mendadak menoleh. Tidak ada lagi mimik menantang di wajahnya, tatapannya melunak secara tak terduga. 

“Saya mau ngurus Sansaya dan soal aset, saya nggak akan ikut campur sama sekali. Silakan itu jadi urusan kalian,” ucap Tala memberikan penekanan tajam pada kata ‘kalian’, seolah menegaskan garis pembatas meski di ruangan itu hanya ada mereka bertiga.

Tante Ratna menyahut cepat sambil menyilangkan tangan di depan dada. “Kalau kamu mau ngurus Sansaya, itu artinya kamu mau jadi walinya. Dan wali berarti ikut akumulasi asetnya juga. “

“Kamu tante dari pihak ibu. Belum mapan secara finansial. Belum punya rumah tetap.” lanjutnya tanpa nada menyerang, lebih seperti memaparkan fakta. “Sedangkan Sansaya masih punya kakek kandung, punya nenek. Secara hukum, kami jauh lebih layak.”

“Kalau ini dibawa ke hukum, posisi kamu paling lemah Ta.” lanjutnya lagi.

Geza langsung menyahut, suaranya dingin. “Secara hukum itu masih bisa diperdebatkan. Yang dicari pengadilan bukan cuma siapa yang paling layak di atas kertas, tapi siapa yang paling aman buat anak itu. Dan sekarang cuma Tala yang Sansaya mau. Psikolog juga bakal bilang hal yang sama.”

“Kamu tumben banyak bicara Geza. Semua omongan mama kamu bantah.”

Geza menoleh tajam. “Tante gak pernah sedekat itu sama saya buat bisa dibilang mama.” Geza lalu melirik Tala sekilas, sebelum kembali membalas tante Ratna dengan rahang mengeras. “Kalau ini harus diputuskan di meja hukum.” katanya datar. “Kita ketemu di sana.”

Perdebatan itu terjeda oleh lengkingan tangis dari arah kamar. “Tata, tata mana tata?” 

Semua kepala refleks menoleh.

“Denger? Siapa yang anak itu cari sekarang?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sebelum Tiga Tahun   142- Satu Galon Bellini

    “Boleh nggak kalau aku suka kamu? Kalau aku cinta sama kamu?”Tala menatap Adrian dengan mata yang mulai berat, seolah pertanyaan itu sudah terlalu lama ia simpan.“Tapi kamu cuma lihat Kak Sara.” suaranya perlahan melemah. “Jadi aku mesti gimana?”“Ta...”“Aku udah move on, serius.” Tala buru-buru menyela. Ia mengangkat satu jari, lalu satu lagi. “Aku udah pacaran sama satu... dua...tiga.”Ia tertawa puas melihat jarinya sendiri.“Aku juga udah lupain kamu pake Bellini, tahu nggak sih, Kak? Malam itu aku lihat kamu cium Kak Sara. Pulangnya aku minum satu galon Bellini.”Tala menggeleng-geleng, lalu terkikik.“Atau satu jerigen? Atau satu tangki? Pokoknya banyaaaak. Biar aku lupa pernah suka kamu banget. Banget banget.”Sudut bibir Adrian terangkat melihat tingkah dan kalimat Tala yang seperti itu. Lucu.“Tala, nanti lagi kalau kamu mau bicara.”Ia hendak menarik lengan Tala, tetapi perempuan itu buru-buru menepis.“Jangan pegang tangan aku. Aku udah nikah.”Tala mengatakannya dengan

  • Sebelum Tiga Tahun   141- After Party

    Acara akhirnya selesai sekitar pukul sepuluh malam.Bude Sinta sudah lebih dulu naik ke kamar menemani Sansa. Geza memang sengaja memesan beberapa kamar di hotel yang sama untuk keluarga dan orang-orang yang mendampingi Sansa. Kamar dirinya dan Tala berada satu lantai dengan kamar Bude Sinta dan Sansa, serta Bi Yuni dan Sus Lia. Sementara itu Hanum ikut-ikutan ingin menginap jadi Geza menyewa satu suite tambahan.Taman yang beberapa jam lalu dipenuhi suara percakapan kini mulai lengang. Tinggal beberapa pelayan yang membereskan meja, sementara lampu-lampu taman masih menyala. Lingkaran teman kuliah Tala sudah bubar hanya tersisa Adrian, Amika, Fredy dan Seno.“Masih kuat, nggak kalian? After party yuk di rooftop.”Beberapa pasang mata langsung berbinar. Tak ada yang kaget mendengar ajakan Amika. Semua tahu, perempuan itu memang ratu untuk urusan begini. Terlebih, rombongan mereka memang sudah bertambah. Ada Bastian, Arvin, Rena, Sania, dan tentu saja Hanum. Jelas ia makin semangat.“Le

  • Sebelum Tiga Tahun   140- Lemparan Bola Panas

    Tala membelalak kaget.Hei, sejak kapan topik punya anak empat ini ikut menyebar sampai ke lingkungan pertemanannya?”Pelestarian gak tuh. Siamang kali ah.” celetuk Seno.Satu meja langsung terbahak.”Nggak gitu juga sih kak, buat sekarang serius aku nggak siap.” kilah Tala.Bicara soal kesiapan, Tala sendiri sebenarnya tak pernah merasa siap menikah, apalagi menjadi orang tua. Ia hanya mengambil peran itu karena keadaan memaksanya setelah Sansa kehilangan orang tua.Sampai sekarang pun, ia masih gagap menjalani peran sebagai istri maupun ibu. Namun semuanya tetap berjalan. Mungkin bukan karena Tala sudah siap tapi karena Geza sudah lebih dulu siap menanggung bagian yang belum mampu ia tanggung sendiri.Tiba-tiba saja, suami kontraknya itu terasa seperti suami ideal."Duh, kapan, ya, ketemu jodoh yang tiba-tiba datang terus ternyata nggak patriarkis?" Syifa menghela napas dramatis. "Sayangnya gue nggak punya kakak. Nggak bisa dapat jodoh lewat jalur adik ipar kayak Tala.""Ya udah, bli

  • Sebelum Tiga Tahun   139- Melestarikan Manusia

    Tala memilih mengabaikan alasan mengapa Geza bisa bertahan selama itu di Bhuwana. Lagi pula, tak akan ada habisnya kalau ia terus mengulik dan menebak-nebak pria serumit Geza. Lebih baik ia berhenti berpikir. Toh, pada akhirnya mereka akan bercerai.Karena itu, Tala memilih melipir ke meja teman-temannya."Bu Tala, akhirnya ketemu juga. Susah sekali sekarang bisa dapat waktu dari Ibu. Maklum, kesibukan Ibu di Janitra pasti sudah luar biasa."Seno, teman kuliah sekaligus rekan sesama arsitek, menyambutnya penuh candaan."Tolong deh, Sen. Ngolahnya jangan selebay itu." Tala mencebik protes.”Tahu nih Ta, ngolah mulu dia. Mau nyaingin Choky Sitohang lo?” Amika ikut menyambar."Justru karena itu. In this situation, cari kerja tuh susahnya hampir kayak cari jodoh. Kalau punya teman yang sekarang jadi komisaris, ya harus pinter-pinter di-approach, lah." Seno nyengir. "Bener nggak, Bang?"Adrian, yang malam itu tampil begitu sempurna, hanya tertawa kecil.Berada di meja sebelumnya ternyata cu

  • Sebelum Tiga Tahun   138- Dilimpahi Keberuntungan

    Setelah percakapan penuh sindiran itu, Tala belum juga berhasil melepaskan diri dari meja tersebut. Padahal, dari tadi matanya beberapa kali melirik ke arah meja lain, tempat Amika dan teman-teman kampusnya berkumpul. Ia ingin menyapa mereka, sekadar bernapas di tengah suasana yang tidak ada habisnya menguras energi.Kesempatan itu baru muncul ketika seorang pria paruh baya datang menghampiri meja bersama Suwandi.Pria tersebut diperkenalkan sebagai Wibowo, teman kuliah ibu Geza yang sejak dulu dekat dengan keluarga mereka. Berasal dari keluarga pengusaha lama, ia kini mengelola perusahaan keluarga yang jauh lebih besar dan sudah melantai di bursa. Dulu, Wibowo beberapa kali menjadi penyuntik modal ketika Janitra sempat goyah, sehingga hubungan bisnisnya dengan keluarga ibu Geza sudah terjalin sejak puluhan tahun lalu.Begitu percakapan bergeser ke urusan bisnis, beberapa wanita perlahan menyingkir, memberi ruang bagi para pria untuk berdiskusi. Tala ikut menggeser kursinya.Mungkin i

  • Sebelum Tiga Tahun   137- Belajar Jadi Kinan

    Sekitar delapan orang duduk mengelilingi meja bundar itu. Dharma, anak kedua dari enam bersaudara, duduk bersama adik-adiknya serta pasangan masing-masing, termasuk Hilman, adik keempatnya. Sementara kakak tertua dan adik paling bungsu bersama anggota keluarga lainnya memilih meja terpisah.Tala mengenali beberapa wajah dari urusan Janitra. Mereka adalah orang-orang yang selama ini ikut menikmati keuntungan dari perusahaan, tetapi justru paling mudah menyudutkannya ketika arah Janitra mulai berubah.Tak heran, baru duduk beberapa menit saja Tala sudah merasa seperti sedang menghadapi meja sidang—bedanya, para “hakim” kali ini datang lengkap bersama pasangan masing-masing.Seorang tante sudah lebih dulu melempar senyum penuh arti."Sudah hampir dua tahun, ya? Kok belum ada kabar baik?"Tala tersenyum kaku. "Iya, Tante. Belum waktunya mungkin.""Sudah periksa, Ta?" tanya yang lain. "Kalau memang mau promil, lebih baik dipersiapkan dari sekarang. Jangan sampai seperti almarhum orang tua S

  • Sebelum Tiga Tahun   10- Rahasia Besar Lain

    Geza tidak terkejut saat Tala menuntut penjelasan dengan tatapan menghunus. Pria itu memutar tubuh untuk menghadap Tala sepenuhnya."Kita enggak sedang membohongi anak kecil, Tala." jawab Geza rendah, terlampau tenang. "Keluarga saya, kolega bisnis saya dan Arka, sampai pengadilan—ada terlalu banyak

  • Sebelum Tiga Tahun   9- Perjanjian Tiga Tahun

    Malam itu jadi malam paling panjang untuk semua sesi perdebatan yang pernah mereka lewati selama enam tahun terakhir. Geza harus mendapatkan kesepakatannya malam ini juga.“Semuanya sudah saya atur di dokumen resmi,” Geza kembali bicara, memecah keheningan. “Saya gak akan ambil sepeser pun yang jadi

  • Sebelum Tiga Tahun   8- Rencana Paling Rapi

    Tala terkunci di antara kedua lengan Geza yang bertumpu pada pinggiran meja mahoni. Jantungnya berdentum liar, namun rasa terpojok itu justru membakar keberaniannya. Ia mendongak, menantang sepasang manik gelap di depannya.“Melindungi Sansa, itu yang mau kamu bilang?” Tala tertawa miris, suaranya b

  • Sebelum Tiga Tahun    7- Serangan Taktik Pertama

    Satu minggu sudah berlalu sejak perdebatan malam itu. Tala membangun dinding pembatas setinggi mungkin. Setiap informasi mengenai Sansa disampaikan layaknya laporan kerja—dingin, kaku, dan efisien. Tala tak mau terlihat rapuh, apalagi menunjukkan bahwa kalimat Geza berhasil melukainya.Pagi ini, keh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status