LOGINSatu minggu sudah berlalu sejak perdebatan malam itu. Tala membangun dinding pembatas setinggi mungkin.
Setiap informasi mengenai Sansa disampaikan layaknya laporan kerja—dingin, kaku, dan efisien. Tala tak mau terlihat rapuh, apalagi menunjukkan bahwa kalimat Geza berhasil melukainya.
Pagi ini, keheningan di meja makan terasa sedikit berbeda. Sansa masih tertidur lelap di kamarnya setelah semalaman mengalami tantrum kecil, menyisakan Tala dan Geza yang duduk berhadapan dalam ritual sarapan yang canggung.
Tala baru saja menandaskan sarapannya ketika Geza menghentikan gerakan memotong roti. Pria itu mendongak, menatap Tala lurus-lurus tanpa riak dominasi yang biasanya mengintimidasi.
"Tala." panggil Geza, suaranya terdengar lebih rendah dan berat dari biasanya. "Soal argumen saya tempo hari... sekali lagi saya minta maaf."
Tala tertegun. Biasanya, sindiran tajam Geza hanya dianggap angin lalu karena ia pasti membalasnya dengan tak kalah sengit.
Namun malam itu ia sudah berada di titik nadir—terlalu lelah, pening, dan dukanya masih terlalu basah untuk diajak bertarung.
"Saya terlalu panik sampai lepas kontrol dan nyerang kamu dengan kalimat-kalimat yang buruk." lanjut Geza dengan intonasi yang jarang ia perlihatkan. "Saya tahu kamu sangat menyayangi Sansa."
Sebelumnya Geza memang sudah meminta maaf, tapi Tala tak pernah menangkap ketulusan di sana.
Baru kali ini, saat melihat lingkaran hitam yang kontras di bawah mata Geza serta sorot matanya yang meredup tanpa kepalsuan, dinding pertahanan Tala runtuh. Ia paham dan memaklumi, toh malam itu ia pun sama meledaknya.
"Nggak apa-apa. Kita berdua emang lagi sama-sama capek." bisik Tala pelan, akhirnya mau menatap mata pria itu.
Tepat saat kecanggungan di antara mereka mulai mencair, bel rumah berbunyi, memecah ketenangan pagi.
Tala bangkit untuk membuka pintu, mengira itu adalah Bi Yuni yang datang lebih pagi. Namun, yang berdiri di sana adalah seorang pria berjas necis dengan senyum ramah yang terlampau formal.
“Selamat pagi, Mbak Tala. Saya dari kantor hukum Hartono & Rekan.”
Sebuah map cokelat tebal berpindah tangan. Terlalu resmi dan asing di jemari Tala.
“Pihak keluarga besar meminta Mbak membaca ini secepatnya. Permisi.”
Pintu tertutup kembali.
Tala kembali ke meja makan dengan langkah gamang. Dengan tangan sedingin es, ia membuka pengait map tersebut di depan Geza. Lembar pertama langsung membuat pasokan udara di paru-parunya tersendat.
Itu bukan surat panggilan resmi dari pengadilan. Di kop suratnya tertera nama firma hukum mentereng yang disewa khusus untuk mengantarkan seonggok kertas gertakan ini.
Tala tidak membaca dokumen itu seperti seorang pengacara. Matanya yang sensitif melompat-lompat liar, menangkap frasa demi frasa hitam di atas putih yang terasa seperti rangkaian vonis mati untuk dunianya.
...Permohonan Pengajuan Perwalian Anak...
...Pemohon Utama: Darma Suwadji(Ayah Kandung Almarhum Arka)...
Napas Tala memendek. Lembar-lembar berikutnya tidak lagi berupa kalimat hukum di matanya, melainkan rentetan penghinaan yang sengaja disusun untuk menelanjangi ketidakmampuannya.
Dan di lembar ketiga, sebuah kalimat mengunci pandangannya hingga air matanya mengambang : ...Pengasuh alternatif (Tala) hanya diberikan hak kunjung terbatas jika perwalian jatuh ke tangan keluarga kandung.
Kalimat itu memukul telak ulu hati Tala. Dengan kondisi Sansa, bagaimana mungkin pertemuannya dengan anak itu dibatasi?
Melihat perubahan drastis pada wajah Tala yang mendadak pias, Geza langsung meletakkan pisau rotinya. Tanpa meminta izin, ia meraih map tebal itu dari tangan Tala yang gemetar.
Geza membaca lembar demi lembar dengan ritme setenang biasanya.
“Mereka bergerak lebih cepat dari perkiraan,” ucap Geza datar. Ia menutup map itu tanpa riak, meletakkannya kembali ke meja dengan ketukan yang konstan.
“Mereka mau membatasi aku buat ketemu Sansa.”
“Ini cuma somasi pra-gugatan, Tala. Kertas ini gak punya kekuatan hukum tetap sebelum masuk pengadilan,” potong Geza. “Ayah saya sengaja menyewa Hartono untuk menulis tuntutan ekstrem begitu. Secara hukum pengadilan pasti melihat psikologis Sansa dan dia tahu membatasi kamu gak akan semudah itu....
.... Makanya dia kirim kertas ini sekarang, tujuannya cuma satu: merusak mental kamu supaya kamu menyerah sebelum sidang dimulai. Jangan biarkan dia menang karena kamu panik.”
Tala tertawa sumbang, menggelengkan kepalanya dengan tatapan nanar. “Kamu bisa ngomong gitu karena kamu berdiri di posisi yang aman, Geza. Kamu punya segalanya bahkan semalam kamu dengan mudahnya bisa bikin Sansa tenang. Sementara aku?”
Tala menunjuk draf di atas meja dengan jari yang bergetar hebat.
Geza ikut berdiri. Postur tubuhnya menjulang di depan Tala, mengikis jarak di antara mereka di sisi meja makan.
“Uang dan kuasa saya gak ada artinya di pengadilan kalau saya lajang, Tala,” potong Geza pendek, suaranya berat dan penuh penekanan mutlak. “Hakim gak akan kasih hak asuh anak ke pria lajang yang sibuk kerja kayak saya. Saya butuh kamu untuk urus Sansa, dan kamu butuh saya untuk tetap bisa jadi ibunya.”
Geza menatap Tala lurus-lurus.
“Semua celah di kertas itu langsung gugur kalau kamu berdiri di samping saya sebagai istri. Kita cuma perlu isi celah masing-masing.”
Tala memejamkan mata rapat-rapat. Kondisi ini membuatnya merasa begitu kecil.
Ia tak ingin terlibat dalam perebutan ini tapi ia juga tak bisa melepas Sansa. Kalau ini hanyalah permulaan dari taktik licik keluarga Geza. Maka ke depannya, hidupnya tidak akan pernah tenang lagi.
Sialnya, di tengah keputusasaan saat ini, tawaran transaksi dari Geza yang tadinya ia benci, perlahan mulai terdengar seperti satu-satunya tali penyelamat yang nyata.
“Buang ego kamu Tala atau kamu akan kehilangan keponakan kamu.”
***
Malam harinya, rumah kembali dilingkupi kesunyian. Sansa sudah tertidur pulas sejak pukul delapan, menyisakan Tala yang berdiri gelisah di depan ruang kerja Geza.
Meski hatinya masih menolak transaksi itu, ia tahu dirinya tak punya pilihan lain.
Geza sendiri baru saja pamit untuk mengambil barang ke apartemennya. Sebelum pergi, pria itu sempat berpesan agar Tala mengambil draf perjanjian pranikah di meja kerjanya untuk dipelajari agar bisa ditandatangani dan disepakati bersama besok.
Tala mendorong pintu kayu ruangan yang sebelumnya milik Arka itu. Tiap sudut dipenuhi oleh dekorasi yang mencerminkan sosoknya yang hangat.
Di dinding dan rak buku, berjejer figura foto yang membuat dada Tala berdenyut nyeri; foto keluarga kecil Arka, foto Arka dengan Geza, hingga foto Arka, Jani, Sansa saat bayi, bersama dirinya. Semua memori itu seolah hidup, mengawasinya dalam diam.
Tala melangkah mendekati meja kerja mahoni yang luas. Di sana, laptop milik Geza dibiarkan menyala, menampilkan layar surel kerja yang belum sempat ditutup.
Ia tak berniat lancang, matanya bergerak mencari tumpukan berkas fisik yang dijanjikan Geza. Namun, perhatiannya mendadak teralih pada satu baris surel yang sengaja disematkan di pojok atas layar.
Pengirimnya Rena—sekretaris pribadi Geza. Dan subjeknya memang tentang draf perjanjian mereka: Draf Surat Perjanjian Pranikah & Hak Asuh Sansa.
Tala tidak akan terkejut melihat dokumen itu jika saja matanya tidak sengaja menangkap deretan angka tanggal yang tertera tepat di samping subjek surel tersebut.
Dikirim pagi hari, beberapa jam setelah kecelakaan Arka dan Jani.
Jantung Tala mendadak mencelos.
Tanpa memedulikan rasa sopan santun lagi, Tala melangkah mendekat dan mengklik pesan itu untuk memastikan penglihatannya tidak salah.
Matanya bergerak liar, mengunci tanggal dan jam pengiriman dokumen.
Tidak berhenti di sana, Tala dengan nekat membuka beberapa email lain yang berhubungan, membaca baris demi baris rencana taktis yang tersusun rapi beserta lampiran filenya; dokumen analisis, draf kontrak, memo internal, rencana pernikahan yang amat rinci dan…foto dirinya.
Tala berhenti. Napasnya tertahan.
Otaknya mulai menyusun semua kemungkinan, menghubungkannya dengan hal-hal yang pernah Geza lakukan dulu. Pria itu memang akan sangat mungkin melakukannya. Hanya saja... Tala tetap tidak menduga kalau Geza akan setega ini memanfaatkan momentum duka dan menjebaknya.
Dengan jemari bergetar, Tala membuka surel berikutnya. Jantungnya mencelos seketika. Surat somasi, hingga teror pagi ini... semuanya tercatat di sana.
Sialan.
Tawa getir tertahan di dada Tala, topeng pahlawan yang pria itu kenakan tadi pagi seketika luruh. Seluruh makian paling kasar di kepalanya berdesakan ingin ia muntahkan tepat di depan muka Geza.
Beberapa menit kemudian Geza masuk dengan tergesa. Langkah pria itu langsung terkunci saat melihat Tala berdiri mematung di balik meja dengan tatapan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Tatapan penuh luka, jijik, dan ketidakpercayaan yang mutlak.
Tala langsung menghampiri Geza dengan tatapan murka.
“Sejak kapan kamu rencanain pernikahan ini? Apa tujuan kamu yang sebenarnya?” tuntut Tala, suaranya bergetar hebat.
“Apa semua kekacauan ini udah masuk dalam hitungan kamu sejak awal? atau ini emang skenario yang kamu susun?!”
Geza bergeming tanpa riak panik sedikit pun.
“Jawab Geza!”
Alih-alih menjawab, sebelah tangannya bergerak ke belakang, menutup pintu lalu menguncinya dengan pelan.
Klik.
Suara itu seketika menyergap seluruh pasokan udara di dalam ruangan. Tatapan Geza menggelap, seolah Tala baru saja melewati batas aman yang ia buat.
Tanpa sepatah kata pun Geza mulai melangkah maju, pelan namun cukup membuat nyali Tala goyah dan spontan mengambil langkah mundur.
Geza tak berhenti, ia terus maju mengikis jarak. Tala kembali terpaksa melangkah mundur dengan jantung berdentum liar, hingga akhirnya punggungnya membentur pinggiran meja mahoni. Ia terkunci.
“Kamu mau tahu jawabannya sekarang, Tala?” tanya Geza rendah.
Suaranya terdengar sangat tenang, dan ketenangan itu justru terasa jauh lebih berbahaya daripada bentakan.
Geza baru saja menutup panggilan video dengan Tala ketika Kinan menghampirinya di balkon restoran hotel tempat tim mereka menginap selama perjalanan dinas kali ini.“Geza,” panggilnya lembut.Kinan mengeluarkan sebatang rokok dari tas kecilnya, lalu menyalakan pemantik. Bara merah menyala sesaat sebelum ia mengembuskan asap perlahan.“Wanna?”“No. I’m going back to my room.”Geza hendak berbalik, tetapi suara Kinan kembali menahannya.“Tala marah kalau kita ngobrol berdua begini?” tanyanya. “Biarpun yang kita obrolkan bukan masa lalu?”Langkah Geza terhenti.Ia menoleh. “Apa yang mau kamu bilang?” tembaknya langsung ke inti.Kinan hanya tersenyum tipis, lalu kembali mengisap rokoknya.Tarikannya kali ini lebih dalam. Ia menahannya beberapa detik sebelum mengembuskan asap perlahan, membiarkan kepulan putih itu mengaburkan wajahnya sesaat.Kinan yang seperti ini adalah Kinan yang sedang terpuruk.Angin malam Surabaya berembus pelan. Namun hawa yang hangat dan lembap membuatnya nyaris tak
“Hei, mulutnya tolong dijaga,” protes Tala. Ia mengambil kedua benda yang diangsurkan Geza.Sang suami duduk di kloset, sementara Tala berdiri di antara kedua pahanya yang terbuka.Krim cukur dioleskan merata di pipi dan rahang Geza. Mesin menyala dengan dengung halus.Tala menahan dagunya, memiringkan wajah Geza sedikit, lalu menggerakkan mesin dengan sapuan pendek di sepanjang rahang. Saat berpindah ke pipi, ibu jarinya menahan kulit agar tetap tegang.Tatapan mereka sempat bertaut dan dari jarak sedekat itu, Tala baru menyadarinya. Ada kusut di balik tatapan Geza. Bukan sekadar sisa kantuk.“Mas...”“Hm?”Tala mematikan mesin cukur di tangannya.“Kamu lagi banyak pikiran?”Geza mengerjap. “Nggak banyak juga.”“Mikirin apa? Mau cerita?”Geza diam sesaat. Tatapannya turun pada mesin cukur di tangan Tala, lalu mengambil benda itu perlahan, meletakkannya di sisi wastafel, kemudian menarik Tala untuk duduk di pangkuannya.“Papa saya dan Raga belakangan ini terlalu tenang,” ia membuka.Ta
Tala sendiri tak tahu kenapa naluri biologisnya terasa bereaksi kuat malam ini. Mungkin efek Pilates sore tadi. Atau mungkin karena tahu pria di hadapannya ini akan pergi jauh besok hari. “Bantuan yang bikin kacau,” gumam Geza. Baru kemudian Tala menyadari tangan Geza sudah singgah pada buah dadanya. Kimono tidur yang dikenakannya ternyata telah tersibak sejak tadi, menyisakan lingerie hitam yang nyaris tak lagi tersembunyi. Pantas saja reaksi pria itu begitu cepat. Mari bermain gila saja sekalian. Tala membuka kimono itu lalu melemparkannya ke sembarang arah. Kini yang tersisa hanya lingerie berbahan brokat hitam yang lembut sekaligus menerawang. “Shit,” Geza mengumpat pelan. Dengan kedua kaki Tala yang masih melingkari dan tampilan sensual yang seperti itu, jelas saja konsentrasi pria itu langsung buyar total. Geza mengembuskan napas panjang. Tatapannya berpindah dari Tala ke laptop yang masih terbuka, lalu kembali lagi kepada perempuan di pangkuannya. Dilema yang jelas terli
“Variasiin gayanya, deh, Ta. Jangan gitu-gitu melulu,” ujar Jia enteng. “Ganjel pake bantal.” imbuhnya. Tala melirik tajam. “Jangan lupa kakinya naik ke pundak...Uh, mantap.” lanjut Jia tanpa dosa. Matanya mengerling pada Tala. Astaga. Tala sungguh malu mendengarnya, meskipun sebenarnya kalimat-kalimat seperti itu sudah begitu akrab di telinganya. Bahkan beberapa di antaranya sudah pernah ia praktikkan. Masalahnya, mereka sedang berada di ruang ganti studio Pilates—kelas yang sudah Tala ikuti selama sebulan terakhir. Semua demi satu tujuan yang belakangan ini disebut sebagai promil natural. Gaya hidup sehat. Padahal dulu, olahraga semacam ini hampir selalu menjadi hal terakhir yang ingin dilakukan Tala. Paling banter ia hanya mau lari. Untuk urusan begini, Jia memang juaranya. Selain lebih berpengalaman, perempuan itu juga terkenal paling ceplas-ceplos. Dan, sayangnya, paling provokatif. Untung Amika tidak hadir di kelas sore ini. Kalau perempuan itu ikut, satu sesi ruang ga
Lingkungan kantor Bhuwana yang dulu terasa asing sekaligus menyebalkan kini justru begitu familiar. Tala sudah cukup sering mampir ke sana, entah untuk mengantarkan makan siang bagi Geza atau mengurus urusan konsorsium. Namun kali ini ia datang bukan untuk keduanya. Ia hendak menjemput pria itu untuk pulang bersama. Pagi tadi Geza berangkat menggunakan mobil kantor, sementara pekerjaan Tala kebetulan selesai lebih awal.Dengan visitor access card yang sudah disiapkan Geza, Tala melangkah melewati lobi. Baru beberapa langkah, ia berpapasan dengan beberapa karyawan perempuan yang dulu pernah dilihatnya saat retreat malam itu.Pandangan mereka kembali jatuh padanya. Sedikit banyak, Tala terusik.Masihkah mereka memandangnya sebagai target?Ah, iya.Kinan sudah kembali.Jelas saja kehadirannya di sini mungkin kembali terasa mengganggu bagi sebagian orang.Bersamaan dengan pintu lift yang terbuka, Tala mendapati Arvin berjalan cepat ke arahnya dengan paper bag kopi di tangan.“Thank you, Mb
Momen yang selalu menjadi momok bagi Tala, kini datang.Kinan resmi menggantikan orang yang sebelumnya menangani kerja sama dengan Janitra. Maka, hari ini menjadi pertemuan pertama mereka dalam urusan proyek—Kinan sebagai perwakilan Bhuwana, sementara Tala hadir mewakili kepentingan Janitra dan Sansa khususnya.Pertemuan itu berlangsung di salah satu tower Bhuwana, ditemani Suwandi dan juga tim Janitra.Setelah sempat melalui tarik-ulur khas negosiasi korporasi, hari ini mereka akhirnya mencapai kata sepakat.Geza sebenarnya sudah beberapa kali menawarkan Tala untuk mundur dari proyek ini. Ia cukup memantau dari jauh dan tidak perlu terlalu proaktif terlibat dalam setiap prosesnya.Namun, setelah hubungan mereka resmi jadi pernikahan sungguhan Tala memilih bertahan. Ia tak mau bersikap kekanak-kanakan hanya karena mantan kekasih suaminya kini duduk di seberang meja.Dengan semua yang sudah mereka lalui, rasanya tak mungkin Geza berpaling begitu saja.Lagipula, Geza tahu bagaimana rasan
Tala berdiri memandangi gundukan tanah merah yang masih basah. Rasa sakitnya sama. Sama seperti saat ia kehilangan ibu, lalu nenek, dan terakhir ayahnya. Kehilangan sudah terlalu akrab dalam hidup Tala. Namun kali ini, ia berusaha berdiri lebih tegak—meski sekujur tubuhnya masih gemetar dan kepalan
Malam itu jadi malam paling panjang untuk semua sesi perdebatan yang pernah mereka lewati selama enam tahun terakhir. Geza harus mendapatkan kesepakatannya malam ini juga.“Semuanya sudah saya atur di dokumen resmi,” Geza kembali bicara, memecah keheningan. “Saya gak akan ambil sepeser pun yang jadi
Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari saat Tala akhirnya memutuskan turun ke lantai bawah. Dia benar-benar tidak bisa tidur. Bukan karena ini adalah malam pertamanya dengan status sebagai istri Geza.Bukan.Tidak akan ada yang berbeda karena mereka bukan pasangan nyata. Alarm tubuhnya saja yang
Geza tidak terkejut saat Tala menuntut penjelasan dengan tatapan menghunus. Pria itu memutar tubuh untuk menghadap Tala sepenuhnya."Kita enggak sedang membohongi anak kecil, Tala." jawab Geza rendah, terlampau tenang. "Keluarga saya, kolega bisnis saya dan Arka, sampai pengadilan—ada terlalu banyak







