Home / Romansa / Sebelum Tiga Tahun / 8- Rencana Paling Rapi

Share

8- Rencana Paling Rapi

Author: Sora Carita
last update publish date: 2026-05-18 18:18:04

Tala terkunci di antara kedua lengan Geza yang bertumpu pada pinggiran meja mahoni. Jantungnya berdentum liar, namun rasa terpojok itu justru membakar keberaniannya. Ia mendongak, menantang sepasang manik gelap di depannya.

“Melindungi Sansa, itu yang mau kamu bilang?” Tala tertawa miris, suaranya bergetar menahan luapan emosi.

“Memang itu tujuan saya Tala.”

“Sansa, Sansa, Sansa. Itu terus yang kamu pake sebagai alasan. Kamu pikir aku bodoh, Geza? Ini semua soal posisi kamu di Perusahaan. Kamu cuma pengen pegang kendali penuh atas keluarga kamu, itu tujuan kamu.” Tala menyimpulkan.

Alis Geza langsung berkerut dalam. Tatapannya menajam.

“Perusahaan Mas Arka sebesar itu, tapi kamu malah milih kerja di tempat lain. Dan dengan hidup kamu sekarang, mustahil kamu gak bisa biayain Sansa tanpa nikahin aku, tanpa rebutan warisan. Jadi jangan bohong kalau semua rencana ini bukan soal warisan atau posisi!”

Tala menjeda, napasnya memburu saat mengingat dokumen tadi pagi yang sengaja dibiarkan sampai ke tangannya. Matanya menatap Geza dengan kilat terluka yang mendalam.

“Kamu sengaja bikin aku panik dan ketakutan lewat somasi itu!” Tala menyeka air matanya yang luruh. “Kamu manfaatin aku biar gak punya pilihan lain. Dari awal, aku cuma tameng buat ngelindungin kamu, sekaligus bidak yang bagus buat permainan kamu!”

Rahang Geza mengetat, namun ia tetap bungkam.

“Kamu bahkan udah nyusun rencana ini waktu Kak Jani masih berjuang di ICU!” Tala menyentak, mendorong dada Geza hingga pria itu mundur setapak.

“Kakak aku masih bernapas, Geza! Tapi kamu... kamu justru udah taruhan kalau dia bakal mati hari itu juga, makanya dokumen sialan ini udah siap!” Tala meraih map cokelat di atas meja, lalu melemparnya tepat ke dada Geza

“Iya,” jawab Geza singkat. Tanpa ekspresi, tanpa pembelaan atas tuduhan kejam itu.

Tala menatapnya tak percaya. “Kamu jauh lebih brengsek dari yang aku kira, Geza.”

Geza mengangguk pelan, rahangnya mengetat. “Saya memang selalu brengsek, Tala. Dan untuk Sansa, saya bahkan bisa jauh lebih brengsek dari ini.”

Muak menatap pria itu, Tala berbalik cepat menuju pintu.

Namun, Geza bergerak lebih dulu. Pria itu menyalip dan langsung pasang badan, menutup jalan keluar Tala.

Sebelum Tala sempat menghindar, Geza menumpu kedua telapak tangannya pada daun pintu di kiri dan kanan kepala Tala.

Geza mengunci posisinya rapat-rapat, mengurung Tala di antara kedua lengannya yang kokoh agar wanita itu tidak bisa melarikan diri lagi seperti yang sudah-sudah. Semua masalah dan tawaran ini harus selesai malam ini juga.

“Stop, Geza! Jangan bawa-bawa nama Sansa untuk kelakuan egois kamu!” Tala mencoba berontak, bergerak maju hendak menerobos, namun dadanya justru makin nyaris bersentuhan dengan kemeja Geza yang kokoh.

“Kalau bukan karena dia, ngapain saya repot-repot minta nikah sama orang yang saya benci?!” suara Geza mendadak meninggi, kesabarannya mulai terkikis oleh tuduhan Tala.

“Kalau tahu serepot itu, kenapa kamu masih sengotot ini?!” balas Tala tak kalah sengit.

Geza mengembus napas kasar. Ia menurunkan kedua tangannya dari daun pintu untuk memijat pangkal hidungnya yang pening, namun tubuhnya tetap bergeming menghalangi jalan keluar Tala.

“Sudah sebulan kamu ketemu keluarga saya, Tala. Kejadian Sansa kemarin, somasi. Apa masih belum bikin otak idealis kamu itu paham?”

“Kalau keluarga kamu se-toxic itu, kamu bisa pilih jalan lain. Lepasin semua warisan itu! Biar Sansa aku yang jaga! Sesulit apa pun hidup aku nanti, aku gak bakal bikin masa depan anak itu jadi bahan rebutan orang dewasa!”

“Dengan cara hidup kamu yang sok idealis itu?” Geza mendecih, melangkah maju satu langkah dengan sorot mata meremehkan yang dingin. “Lalu setelahnya masa depan Sansa gak punya kejelasan.”

Tala tertegun, matanya memerah. “Seenggaknya sama aku, Sansa gak akan hidup penuh tekanan. Gak akan tumbuh jadi anak yang diperebutkan cuma karena ego dan harta!”

“Membiarkan apa yang menjadi hak dia dimiliki oleh orang yang gak seharusnya?” balas Geza cepat, memotong kalimat Tala dengan telak.

“Perlu kamu tahu, Tala... aset itu, warisan itu… semuanya peninggalan almarhumah mama saya. Ibu kandung saya dan Mas Arka. Saya gak akan pernah biarin kerja kerasnya jatuh ke tangan Ayah dan istri barunya. Apalagi ke tangan Raga yang gak ada hubungan sama sekali sama mama saya. Gak akan pernah!”

“Meskipun cara kamu ini bikin mental keponakan kamu rusak?” tanya Tala lirih, suaranya mulai melemah.

Geza diam.

“Jawab, Geza!” bentak Tala lagi, mencoba memanggil kembali kemarahannya yang mulai terkuras habis. “Kenapa diam? Kamu emang egois, gila kendali, gak punya hati!”

Rahang Geza mengeras mendengarnya. Namun anehnya, ia tidak membalas dengan kemarahan yang sama. Pria itu hanya menatap Tala yang mulai kehabisan napas akibat tangisnya sendiri.

“Udah?” tanya Geza datar.

Tala terdiam, bibirnya bergetar.

Geza mengembus napas pendek. Ia mengangkat kedua tangannya, mundur setapak.

Pria itu menjatuhkan bahunya yang tegang, membiarkan kedua tangannya tergantung lemas di sisi tubuh sebelum kembali bicara. Gerakannya lambat, seolah sedang menurunkan seluruh senjatanya di depan Tala.

“Saya gak butuh hartanya, Tala. Gak butuh asetnya,” suara Geza merendah, terdengar begitu penat sekaligus dalam.

“Kalau kamu pikir saya se-serakah itu, ambil. Pegang semua kendali uangnya, saya akan urus berkasnya malam ini juga. Saya cuma mau aset itu tetap utuh, gak disentuh oleh Ayah, sampai waktunya Sansa cukup umur buat nerima semuanya sendiri.”

Pria itu berhenti sesaat, memperhatikan wajah Tala yang mulai goyah.

Geza mendekat lagi, sangat dekat hingga Tala bisa mencium aroma bergamot bercampur penat yang menguar dari tubuh pria itu.

“Saya cuma akan nikah sama kamu, Tala.”

Tala menoleh pelan, menatap mata Geza yang meredup.

“Di antara semua orang di keluarga saya, cuma kamu yang gak pernah ngeliat Sansa pakai nominal angka.” Tatapan Geza terkunci lurus pada manik mata Tala, seolah sedang menguliti seluruh keraguan wanita itu. “Dan... cuma kamu satu-satunya orang yang saya percaya untuk jaga Sansa.”

Dada Tala berdenyut nyeri.

“Nggak akan ada orang lain selain kamu, Tala. Saya gak butuh perempuan lain di rumah ini.”

Ruangan mendadak terasa terlalu sunyi, menyisakan suara detak jarum jam dinding yang monoton.

Tala ingin membantah, ingin menyebut pria ini sedang bersandiwara lagi, tapi tenggorokannya terasa tercekat. Terlalu banyak pertengkaran dan kebencian yang mereka bangun selama ini, hingga saat ketulusan mentah seperti ini disodorkan ke wajahnya, Tala mendadak buta arah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sebelum Tiga Tahun   132- Cerai Itu Apa?

    Berbeda dengan keluarga besar dari pihak Dharma yang mayoritas menetap di Jabodetabek, keluarga mendiang ibu Geza tersebar di berbagai daerah, mulai dari Yogyakarta hingga beberapa kota lain, bahkan ada yang menetap di luar negeri. Karena itu, perayaan ulang tahun Sansa menjadi salah satu momen langka yang mempertemukan mereka kembali di Jakarta.Salah satunya Bude Sinta, yang siang itu baru tiba dari Jepang. Tala sengaja menjemputnya langsung ke bandara sesuai permintaan Geza. Sudah hampir setahun mereka tidak bertemu. Selama itu pula, mereka hanya sesekali bertukar kabar atau melakukan panggilan video setiap kali Bude Sinta ingin melihat Sansa."Talaa..." Bude Shinta langsung merengkuhnya dalam pelukan hangat. "Aduh, Bude kangen banget."Tala tertawa pelan, balas memeluk wanita paruh baya itu."Gimana setahun ini?" Bude Sinta mengamatinya dari ujung kepala hingga kaki. "Geza nggak nakal kan? Nggak bikin kamu sedih kan? Kok Bude belum pernah denger kamu ngadu ke Bude?"Tala hanya ters

  • Sebelum Tiga Tahun   131- Jangan Mesum !

    Jam tidur Sansa selalu tepat pukul sembilan malam. Sebelum tidur, ada satu ritual yang tak pernah boleh terlewat: membaca buku.Siapa pun boleh membacakannya, tetapi favoritnya tetap Om Eja. Padahal, menurut Tala, cara Geza membaca cerita cenderung kaku dan datar. Tala bahkan sempat mengikuti kelas read aloud, tetapi belum juga berhasil merebut posisi favorit itu.Beberapa hari terakhir Geza lebih sering pulang larut karena pekerjaan. Alhasil, ritual itu hampir selalu diambil alih Tala atau Sus Lia. Malam ini pun Sansa sempat menunggu karena Geza sudah berjanji akan membacakan buku, tetapi menjelang jam tidur pria itu mengabari bahwa ia akan pulang terlambat.Setelah cukup lama berceloteh tentang pesta ulang tahunnya yang tinggal empat hari lagi, Sansa akhirnya terlelap.Berselang kemudian, Geza membuka pintu kamar Sansa dengan langkah tergesa. Begitu melihat Tala mengangkat telunjuk ke bibir, pria itu langsung paham."Sorry. Tadi ada trouble di kantor."Ia menjatuhkan diri duduk di sa

  • Sebelum Tiga Tahun   130- Tala Kalaluna

    Hari itu Adrian datang ke Janitra untuk final review laporan forensik proyek revitalisasi yang hampir setahun terakhir mereka kerjakan. Rapat berlangsung tak terlalu lama. Begitu seluruh catatan akhir disepakati dan berkas resmi ditandatangani, Tala mengajak Adrian ke ruangannya. Ia membuka laci meja, lalu mengeluarkan dua amplop berwarna krem dengan emboss logo Janitra."Oh iya, Kak Adrian." Tala menyodorkannya sambil tersenyum. "Sabtu nanti Sansa ulang tahun. Dateng, ya. Yang satu lagi buat Kak Jia."Adrian menerima kedua amplop itu. Sudut bibirnya terangkat."Wah... akhirnya empat tahun juga."Tala mengangguk kecil."Iya. Cepet banget rasanya.""Nanti aku dateng," jawab Adrian sambil menyelipkan kedua undangan itu ke dalam map yang dibawanya.Tala tersenyum. "Kakak langsung balik ke kantor?"Adrian menggeleng pelan. "Belum tentu. Kenapa? Masih ada yang mau dibahas?""Bukan.""Aku mau ngajak makan siang. Sekalian ngobrol."Adrian mengangguk tanpa banyak berpikir. "Boleh. Di mana?""

  • Sebelum Tiga Tahun   129- Makin Menjadi

    Menjelang siang, Bi Yuni sudah menyiapkan makan siang untuk mereka. Setelah perut kenyang dan kartun yang ditonton Sansa berakhir, bocah itu mulai gelisah mencari kegiatan baru."Tata... bikin kukis, yuk.""Yaya bobo siang dulu."Sansa menggeleng sampai poninya bergoyang."Nggak mau. Yaya mau bikin kukis. Kayak di sekolah."Tala yang memang tak punya agenda lain akhirnya mengangguk.Tak lama kemudian, berbagai bahan sudah terhampar rapi di atas kitchen island. Soal memasak, Tala sadar kemampuannya biasa saja—bahkan masih kalah jauh dibanding Jani. Dulu, sebelum kakaknya itu menikah, hampir semua urusan dapur memang diambil alih Jani.Tapi kalau urusan baking, ceritanya berbeda.Waktu kuliah, Tala pernah bekerja paruh waktu di toko kue milik tetangganya. Awalnya hanya membantu melayani pelanggan, tetapi lama-kelamaan ia ikut belajar membuat kukis dan aneka dessert."Tante, aku rebahan aja ya di sini." Hanum sudah kembali mengambil posisi favoritnya di sofa abu. "Nggak bisa bantu. Gravi

  • Sebelum Tiga Tahun   128- Foto di Grup

    Mereka baru tiba di rumah sekitar pukul tiga dini hari.Begitu mobil berhenti, Tala nyaris berlari masuk tanpa menunggu Geza. Ciuman-ciuman di dalam mobil tadi sudah lebih dari cukup membuat logikanya limbung. Ia memilih mengurung diri di kamar sebelum pria itu kembali mengacak-acak keputusannya.Sungguh.Sedikit tatapan yang terlalu dalam, beberapa kalimat manis, lalu ciuman yang membuat kepalanya kosong.Laki-laki memang berbahaya. Apalagi kalau laki-laki itu bernama Geza.Pikiran itulah yang menjadi hal terakhir sebelum kantuk akhirnya mengalahkan Tala.Saat kembali membuka mata, Tala langsung mengerjap beberapa kali. Langit di balik tirai sudah terang. Jam di atas nakas menunjukkan pukul sembilan pagi. Setelah membersihkan diri sekadarnya, Tala turun ke lantai bawah.Namun Geza tidak ada.Yang terdengar hanya suara televisi dari ruang keluarga. Sansa sedang menonton kartun, sementara Hanum rebahan santai di sofa abu favoritnya."Morning, Tan. Pules banget nih tidurnya.""Morning."

  • Sebelum Tiga Tahun   127- Gimana Mau Cerai?

    Pertanyaan sederhana itu terasa seperti pengulangan dari percakapan yang pernah Amika lontarkan padanya.Kalau Geza menyatakan cinta, apa Tala masih akan pergi?Saat itu jawabannya mudah. Iya.Karena Tala sudah merasa tahu akhirnya. Ia tahu Geza rumit. Ia tahu ada Kinan dan kenangan delapan tahunnya. Ia tahu pria itu punya sisi yang bisa membuatnya terluka.Tapi sekarang...Geza melemparkan pertanyaan yang sama dalam bentuk berbeda. Bukan tentang cinta, apalagi perasaan. Tapi tentang kemungkinan. Jadi apa yang harus Tala jawab saat sepasang mata itu menyorotnya begitu dalam?Tala mengembuskan napas pelan, berusaha menarik kembali kendali atas logikanya. Tatapan dan sentuhan Geza memang selalu punya cara mengacaukan pikirannya. Seolah pria itu tahu persis tombol mana yang harus ditekan agar semua argumen di kepalanya mendadak kehilangan suara."Geza..."Pria itu menunggu."Semua perlakuan kamu malam ini..." Tala menatapnya. "Semua ucapan manis kamu... cuma buat bikin aku sampai ke perta

  • Sebelum Tiga Tahun    7- Serangan Taktik Pertama

    Satu minggu sudah berlalu sejak perdebatan malam itu. Tala membangun dinding pembatas setinggi mungkin. Setiap informasi mengenai Sansa disampaikan layaknya laporan kerja—dingin, kaku, dan efisien. Tala tak mau terlihat rapuh, apalagi menunjukkan bahwa kalimat Geza berhasil melukainya.Pagi ini, keh

  • Sebelum Tiga Tahun    6- Ritme Hidup Baru di Tengah Kekacauan

    Tidak ada yang benar-benar tidur nyenyak selama satu bulan terakhir. Duka perlahan mengubah ritme hidup mereka tanpa permisi. Tala terbiasa bangun karena tangisan tengah malam, sementara Geza mulai hafal cara menenangkan Sansaya sebelum anak itu benar-benar histeris. Ada kalanya mereka bergantian me

  • Sebelum Tiga Tahun   5- Tawaran Perlindungan

    “Kamu gila kalau kamu setuju sama ide konyol itu.”Geza menoleh. “Mungkin.”Sebelum membawa Sansaya ke dokter anak, mereka sempat bicara soal hak wali ke pengacara kenalan Geza. Pengacaranya menyarankan satu hal paling konyol untuk menang dan melindungi semuanya.Menikah. Nikah kontrak, lebih tepat

  • Sebelum Tiga Tahun   4- Proposal Tak Terduga

    Mobil Geza melaju membelah kemacetan Jakarta yang terasa jauh lebih menyesakkan dari biasanya. Di kursi penumpang, Tala mencoba menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin, mencari sedikit sisa tenaga yang dia punya.“Temen kamu udah pulang langsung kerja?” tanya Geza tanpa sedikit pun men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status