LOGINTala terkunci di antara kedua lengan Geza yang bertumpu pada pinggiran meja mahoni. Jantungnya berdentum liar, namun rasa terpojok itu justru membakar keberaniannya. Ia mendongak, menantang sepasang manik gelap di depannya.
“Melindungi Sansa, itu yang mau kamu bilang?” Tala tertawa miris, suaranya bergetar menahan luapan emosi.
“Memang itu tujuan saya Tala.”
“Sansa, Sansa, Sansa. Itu terus yang kamu pake sebagai alasan. Kamu pikir aku bodoh, Geza? Ini semua soal posisi kamu di Perusahaan. Kamu cuma pengen pegang kendali penuh atas keluarga kamu, itu tujuan kamu.” Tala menyimpulkan.
Alis Geza langsung berkerut dalam. Tatapannya menajam.
“Perusahaan Mas Arka sebesar itu, tapi kamu malah milih kerja di tempat lain. Dan dengan hidup kamu sekarang, mustahil kamu gak bisa biayain Sansa tanpa nikahin aku, tanpa rebutan warisan. Jadi jangan bohong kalau semua rencana ini bukan soal warisan atau posisi!”
Tala menjeda, napasnya memburu saat mengingat dokumen tadi pagi yang sengaja dibiarkan sampai ke tangannya. Matanya menatap Geza dengan kilat terluka yang mendalam.
“Kamu sengaja bikin aku panik dan ketakutan lewat somasi itu!” Tala menyeka air matanya yang luruh. “Kamu manfaatin aku biar gak punya pilihan lain. Dari awal, aku cuma tameng buat ngelindungin kamu, sekaligus bidak yang bagus buat permainan kamu!”
Rahang Geza mengetat, namun ia tetap bungkam.
“Kamu bahkan udah nyusun rencana ini waktu Kak Jani masih berjuang di ICU!” Tala menyentak, mendorong dada Geza hingga pria itu mundur setapak.
“Kakak aku masih bernapas, Geza! Tapi kamu... kamu justru udah taruhan kalau dia bakal mati hari itu juga, makanya dokumen sialan ini udah siap!” Tala meraih map cokelat di atas meja, lalu melemparnya tepat ke dada Geza
“Iya,” jawab Geza singkat. Tanpa ekspresi, tanpa pembelaan atas tuduhan kejam itu.
Tala menatapnya tak percaya. “Kamu jauh lebih brengsek dari yang aku kira, Geza.”
Geza mengangguk pelan, rahangnya mengetat. “Saya memang selalu brengsek, Tala. Dan untuk Sansa, saya bahkan bisa jauh lebih brengsek dari ini.”
Muak menatap pria itu, Tala berbalik cepat menuju pintu.
Namun, Geza bergerak lebih dulu. Pria itu menyalip dan langsung pasang badan, menutup jalan keluar Tala.
Sebelum Tala sempat menghindar, Geza menumpu kedua telapak tangannya pada daun pintu di kiri dan kanan kepala Tala.
Geza mengunci posisinya rapat-rapat, mengurung Tala di antara kedua lengannya yang kokoh agar wanita itu tidak bisa melarikan diri lagi seperti yang sudah-sudah. Semua masalah dan tawaran ini harus selesai malam ini juga.
“Stop, Geza! Jangan bawa-bawa nama Sansa untuk kelakuan egois kamu!” Tala mencoba berontak, bergerak maju hendak menerobos, namun dadanya justru makin nyaris bersentuhan dengan kemeja Geza yang kokoh.
“Kalau bukan karena dia, ngapain saya repot-repot minta nikah sama orang yang saya benci?!” suara Geza mendadak meninggi, kesabarannya mulai terkikis oleh tuduhan Tala.
“Kalau tahu serepot itu, kenapa kamu masih sengotot ini?!” balas Tala tak kalah sengit.
Geza mengembus napas kasar. Ia menurunkan kedua tangannya dari daun pintu untuk memijat pangkal hidungnya yang pening, namun tubuhnya tetap bergeming menghalangi jalan keluar Tala.
“Sudah sebulan kamu ketemu keluarga saya, Tala. Kejadian Sansa kemarin, somasi. Apa masih belum bikin otak idealis kamu itu paham?”
“Kalau keluarga kamu se-toxic itu, kamu bisa pilih jalan lain. Lepasin semua warisan itu! Biar Sansa aku yang jaga! Sesulit apa pun hidup aku nanti, aku gak bakal bikin masa depan anak itu jadi bahan rebutan orang dewasa!”
“Dengan cara hidup kamu yang sok idealis itu?” Geza mendecih, melangkah maju satu langkah dengan sorot mata meremehkan yang dingin. “Lalu setelahnya masa depan Sansa gak punya kejelasan.”
Tala tertegun, matanya memerah. “Seenggaknya sama aku, Sansa gak akan hidup penuh tekanan. Gak akan tumbuh jadi anak yang diperebutkan cuma karena ego dan harta!”
“Membiarkan apa yang menjadi hak dia dimiliki oleh orang yang gak seharusnya?” balas Geza cepat, memotong kalimat Tala dengan telak.
“Perlu kamu tahu, Tala... aset itu, warisan itu… semuanya peninggalan almarhumah mama saya. Ibu kandung saya dan Mas Arka. Saya gak akan pernah biarin kerja kerasnya jatuh ke tangan Ayah dan istri barunya. Apalagi ke tangan Raga yang gak ada hubungan sama sekali sama mama saya. Gak akan pernah!”
“Meskipun cara kamu ini bikin mental keponakan kamu rusak?” tanya Tala lirih, suaranya mulai melemah.
Geza diam.
“Jawab, Geza!” bentak Tala lagi, mencoba memanggil kembali kemarahannya yang mulai terkuras habis. “Kenapa diam? Kamu emang egois, gila kendali, gak punya hati!”
Rahang Geza mengeras mendengarnya. Namun anehnya, ia tidak membalas dengan kemarahan yang sama. Pria itu hanya menatap Tala yang mulai kehabisan napas akibat tangisnya sendiri.
“Udah?” tanya Geza datar.
Tala terdiam, bibirnya bergetar.
Geza mengembus napas pendek. Ia mengangkat kedua tangannya, mundur setapak.
Pria itu menjatuhkan bahunya yang tegang, membiarkan kedua tangannya tergantung lemas di sisi tubuh sebelum kembali bicara. Gerakannya lambat, seolah sedang menurunkan seluruh senjatanya di depan Tala.
“Saya gak butuh hartanya, Tala. Gak butuh asetnya,” suara Geza merendah, terdengar begitu penat sekaligus dalam.
“Kalau kamu pikir saya se-serakah itu, ambil. Pegang semua kendali uangnya, saya akan urus berkasnya malam ini juga. Saya cuma mau aset itu tetap utuh, gak disentuh oleh Ayah, sampai waktunya Sansa cukup umur buat nerima semuanya sendiri.”
Pria itu berhenti sesaat, memperhatikan wajah Tala yang mulai goyah.
Geza mendekat lagi, sangat dekat hingga Tala bisa mencium aroma bergamot bercampur penat yang menguar dari tubuh pria itu.
“Saya cuma akan nikah sama kamu, Tala.”
Tala menoleh pelan, menatap mata Geza yang meredup.
“Di antara semua orang di keluarga saya, cuma kamu yang gak pernah ngeliat Sansa pakai nominal angka.” Tatapan Geza terkunci lurus pada manik mata Tala, seolah sedang menguliti seluruh keraguan wanita itu. “Dan... cuma kamu satu-satunya orang yang saya percaya untuk jaga Sansa.”
Dada Tala berdenyut nyeri.
“Nggak akan ada orang lain selain kamu, Tala. Saya gak butuh perempuan lain di rumah ini.”
Ruangan mendadak terasa terlalu sunyi, menyisakan suara detak jarum jam dinding yang monoton.
Tala ingin membantah, ingin menyebut pria ini sedang bersandiwara lagi, tapi tenggorokannya terasa tercekat. Terlalu banyak pertengkaran dan kebencian yang mereka bangun selama ini, hingga saat ketulusan mentah seperti ini disodorkan ke wajahnya, Tala mendadak buta arah.
Geza mengembus napas berat sekali saat akan melanjutkan. “Awalnya, semuanya berjalan normal. Wardoyo menjalankan perannya sebagai mentor yang baik. Meskipun pada dasarnya dia adalah kolega Papa, dia justru lebih banyak berdiri di pihak saya. Dia tahu seberapa besar kebencian saya terhadap Papa. Terlebih lagi, dia tahu saya dan Kinan menjalin hubungan.” Geza berdeham sesaat. Ada sedikit kecanggungan ketika ia menyebut hubungan masa lalunya dengan Kinan. “Tapi, seiring waktu, saya paham kalau tujuan Wardoyo mengajari saya tak lain agar dia punya tangan kanan yang bisa dimanfaatkan untuk membantunya berkuasa di Bhuwana, perusahaan yang notabene milik kakak sepupunya sendiri. Dia butuh saya untuk membereskan semua kekurangan anak sulungnya yang nggak kompeten.” Tala terdiam mendengarkan penjelasan itu. Setelah beberapa saat, barulah ia menyela. “Terus, kenapa kamu nggak langsung keluar?” tanyanya. “Karena saya nggak mau keluar begitu aja setelah dimanfaatkan seperti itu. Saya menggun
“Jadi, aku harap kamu bisa jujur soal semuanya ke aku. Kalau Kinan aja bisa begitu paham isi kepala kamu, mestinya aku juga bisa. Aku ini istri kamu,” ujar Tala. Nada suaranya terdengar biasa saja, tapi kecemburuan di balik kalimat itu begitu kentara. Geza menoleh, sedikit geli. “Kamu masih cemburu sama dia? Padahal kemarin kamu baru aja tahu kalau saya udah cinta kamu sejak lama.” “Oh, jelas. Katanya dia paham banget cara kamu berpikir,” balas Tala tanpa ragu. Geza mendengkus. “Sesuai dugaan. Dia bilang apa aja ke kamu?” Tala langsung mendelik. “Kamu bisa sepaham itu juga sama cara pikir Kinan?” Geza merangkul bahu Tala, mendekatkannya sedikit. “Bukan gitu. Cuma kayaknya nggak mungkin kamu tiba-tiba cari tahu ke vendor soal rencana pernikahan kalau Kinan nggak cerita macam-macam.” “Dia cerita semua hal tentang kalian di masa lalu dan ... dia juga bilang kalau dia udah merasa kalah sejak dulu,” ucap Tala. Geza menoleh kepadanya. “Setelah dengar semua cerita dia dan tahu soal ren
Seminggu sudah berlalu sejak obrolan malam itu di taman belakang. Tala memang kembali bersikap wajar kepada Geza, tetapi tetap ada batas yang ia pertahankan. Saat berada di kamar bersama, Tala masih terlihat canggung, sementara Geza berusaha bersikap normal. Hanya saja, pria itu kini jauh lebih menjaga diri. Ia tidak lagi asal memeluk atau menyentuh Tala seperti biasanya. Selama seminggu terakhir, selain sempat berbincang dengan Bastian dan Amika tempo hari, Tala juga beberapa kali mencurahkan isi pikirannya kepada Jia saat sesi pilates. Tentu saja, ia tidak menceritakan masalahnya secara gamblang. Namun, Jia sempat memberikan pandangan bahwa apa pun dalam rumah tangga seharusnya masih bisa dibicarakan dan diperbaiki, selama bukan KDRT atau perselingkuhan. Tala setuju dengan prinsip itu. Mungkin memang sudah waktunya ia bicara baik-baik dengan Geza. Membahas semua hal yang masih mengganjal dan meminta pria itu membuka semua sisi dirinya, termasuk hal-hal yang selama ini disembunyik
Berbicara dengan Bastian soal masalahnya dengan Geza justru membuat kepala Tala semakin penuh. Bagaimanapun, Bastian selalu berada di pihak Geza. Dan setelah mendengar berbagai penjelasannya sejak tadi, Tala mulai merasa sedikit terpengaruh. “Tuh, kan, Mas. Ke sini buat jadi promotor Geza lagi,” sindir Tala. “Eh, nggak. Ini murni POV saya sebagai sahabat, pengacara pribadi, sekaligus rekan bisnis yang selalu direpotin sama dia.” Bastian mengangkat kedua tangan. “Lagipula, saya ke sini mau pacaran. Kebetulan aja ada kamu di sini.” Tala hanya mengibaskan tangan, tak terlalu percaya dengan alasannya. “Tapi kamu tuh memang dukung Geza banget, tahu, Yang. Mihak banget. Kayaknya apa pun yang Geza omongin, kamu tuh setuju aja,” komentar Amika sambil menoleh kepada kekasihnya itu. “Eh, nggak juga. Waktu Geza pertama kali bilang punya ide nikah kontrak, aku justru nolak, Mik. Udah aku ingetin juga. Serius.” Bastian menggeleng. “Aku malahan nyuruh dia buat pedekate yang bener. Sayangnya tu
Bastian lah yang berdiri di ambang pintu itu, dengan kemeja kerjanya yang sudah tergulung hingga siku. Cepat sekali ia pulang, padahal jam baru menunjukkan pukul empat sore. Anak konglo memang punya kuasa berbeda. Tala sendiri datang ke apartemen Amika karena tahu sahabatnya itu sedang cuti. Kebetulan, Sansa sedang les balet tak jauh dari sana, jadi Tala sekalian mampir untuk menghabiskan waktu sambil menunggu keponakannya selesai les. Bastian meletakkan kotak pizza yang dibawanya di meja, lengkap dengan sebotol kopi susu ukuran satu liter. “Silakan, Tata.” Pria itu mempersilakan sambil bertingkah seolah-olah dirinya tuan rumah. Ia kemudian duduk di sofa seberang Tala, berdampingan dengan Amika. “Ini tandanya habis makan gue pulang, gitu, Mik?” tanya Tala kepada sahabatnya. Amika tertawa. “Nggaklah. Nanti Bastian yang gue usir. Orang lain pada kerja, dia malah kabur duluan.” “Kok gitu sih, Yang?” Bastian memasang wajah merajuk. “Perasaan kemarin protes gara-gara diganggu terus p
“Jadi, bukannya nemuin bukti perselingkuhan, lo malah nemuin bukti kalau jebakan nikah kontrak itu udah disiapin jauh-jauh hari, bahkan sebelum insiden itu terjadi?” Amika memastikan, masih tampak tak percaya. Tala mengangguk. “Dan lucunya, lo malah nemuin fakta kalau suami yang selama ini lo kira selingkuh itu ternyata udah secinta itu sama lo sejak bertahun-tahun lalu?” lanjut Amika. Wajahnya menunjukkan campuran bingung, takjub, sekaligus terkejut. Tala tertegun. Ia menyesap kopi yang disuguhkan Amika. Cahaya matahari sore menembus gorden apartemen perempuan itu, jatuh di antara mereka. “What a great plot twist, Ta. Drama banget hidup lo,” komentar Amika. “Kebanyakan nonton drama sih lo. Kejadian begini kan di dunia nyata. Law of attraction itu.” sambungnya, terkikik sendiri. Tala hanya mendengkus. ”Ngaco!” “Loh, iya lah!” Amika kembali menyahut. “Mulai dari diajak nikah kontrak sama adik ipar kakak lo. Terus suami lo ternyata CEO yang nyamar, dan tahu-tahu udah naksir lo se
Tidak ada yang benar-benar tidur nyenyak selama satu bulan terakhir. Duka perlahan mengubah ritme hidup mereka tanpa permisi. Tala terbiasa bangun karena tangisan tengah malam, sementara Geza mulai hafal cara menenangkan Sansaya sebelum anak itu benar-benar histeris. Ada kalanya mereka bergantian me
“Kamu gila kalau kamu setuju sama ide konyol itu.”Geza menoleh. “Mungkin.”Sebelum membawa Sansaya ke dokter anak, mereka sempat bicara soal hak wali ke pengacara kenalan Geza. Pengacaranya menyarankan satu hal paling konyol untuk menang dan melindungi semuanya.Menikah. Nikah kontrak, lebih tepat
Mobil Geza melaju membelah kemacetan Jakarta yang terasa jauh lebih menyesakkan dari biasanya. Di kursi penumpang, Tala mencoba menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin, mencari sedikit sisa tenaga yang dia punya.“Temen kamu udah pulang langsung kerja?” tanya Geza tanpa sedikit pun men
Menjaga Sansaya setiap hari ternyata sanggup menguras seluruh kewarasan Tala. Begitu dia terbangun, wajah kuyu dengan lingkaran hitam yang menghias bawah mata langsung menyambutnya.Tala melangkah gontai menuju ruang makan, mengambil segelas air putih, lalu duduk tepat di hadapan Geza. Pria itu suda







