Share

6. Kopi Special

Pagi itu, dari celah gorden, cahaya menelusuk masuk ke kamar Irene. Dia merasakan panasnya cahaya matahari dan mulai membuka kelopak matanya. Irene menguap. Hari ini dia sudah harus masuk ke kantor. Dia bangun dari atas kasur dan masuk ke kamar mandi. 

Irene sudah mengenakan pakaian dengan rapi. Tubuhnya dibaluti dengan blouse putih beaksen pita putih di dada dan rok hitam pendek selutut. Dia pergi ke kantor menaiki bus.

Sesampainya di kantor, Irene mulai bekerja dengan menghidupkan laptopnya. 40 menit sudah terlewati, namun entah mengapa Irene merasakan kepalanya sedikit pusing. Ia lantas berhenti mengetik dan mematikan laptopnya. Ia menuju ke dapur untuk membuat kopi. Biasanya rasa pusingnya akan hilang setelah meminum kopi. Dia menunggu hingga setengah jam, tapi denyutan dikepalanya belum menghilang. Akhirnya ia memutuskan keluar dari gedung kantor untuk mencari angin segar.

Irene berjalan-jalan di sekitaran kantornya. Dia duduk di kursi taman dekat dengan kantornya. Dia memijati keningnya agar sakitnya sedikit hilang. Dilain sisi, Rey sedang berjalan melewati taman perusahaan Rafles. Ia akan mengantarkan kopi pesanan karyawan perusahaan itu. Lantas Ia melihat seorang wanita yang terlihat familiar sedang duduk di kursi taman perusahaan itu. Ia berhenti sebentar dan melihat wajah wanita itu dengan seksama. Wanita itu sepertinya...

"Kak Irene"

Irene mendongakkan kepala dengan wajah meringis menahan sakit. Setelah tahu siapa yang memanggilnya, ia tersenyum tipis. 

"Kenapa kak?"

"Gak papa, cuma pusing dikit. Udah minum kopi cuma masih sakit"

Rey terdiam sebentar. Ia menyuruh Irene menunggunya sebentar. Rey pergi dengan terburu-buru ke dalam gedung. Setelah kopi telah sampai pada karyawan yang memesan tadi, Rey bergegas kembali ke tempat Irene tadi. Ia meminta Irene untuk ikut ke cafe tempatnya bekerja.

"Aku akan buatin kopi yang bisa nyembuhin pusingnya kakak" Mata Irene melebar. Karena ia sudah tak tahan dengan sakitnya, akhirnya ia menerima ajakan Rey. Kalaupun Rey akan menjebaknya, ia sudah siap-siap dengan semprotan cabe. 

Di dapur cafe, Rey meracik kopi spesial untuk diberikan pada Irene. Irene ragu-ragu memandangi cangkir kopi tersebut. Ia menatap Rey. Rey tersenyum tulus dan mempersilahkan Irene untuk meminumnya. Irene pun menyeruput kopi yang diberikan Rey. Seruput demi seruput hingga habis tak tersisa. Kepala Irene yang tadinya berdenyut-denyut, lambat laun sirna. Ia merasakan kelegaan pada tubuhnya. Ia merasa lebih segar. 

"Gimana kak? Udah mendingan?"

Irene mengangguk dan tersenyum tipis. Rey yang mendengarnya mengucapkan syukur. Irene pun berterima kasih pada Rey.

Dengan beberapa pertimbangan matang, Irene meminta nomor handphone Rey untuk jaga-jaga kalau ia ingin pesan-antar kopi. Rey langsung mengiyakan dan menyebutkan nomor handphonenya. Sebelum kembali ke kantornya, Irene membayar kopi yang sudah Rey buatkan. Walaupun sebenarnya Rey tidak menghendaki itu, tetapi akhirnya ia menerimanya.

Pekerjaan Irene lebih cepat selesai daripada biasanya. Mungkin karena efek racikan kopi spesial buatan Rey tadi siang. Ketika sedang mencetak lembar pekerjaannya, ia teringat kejadian di cafe tadi. Bibirnya lalu tersungging hingga matanya membentuk eye smile.

Shift kerja Rey di cafe hari ini adalah dari pagi hingga siang. Pukul 3 sore, ia mempunyai jadwal kuliah. Ia masuk ke kelas dan mendapati Ana sudah menyiapkan tempat duduk untuknya. Ana melambaikan tangan agar Rey segera ke tempatnya. Rey mengucapkan terima kasih dengan lirih. Dosen sudah masuk ke kelas. Ana dan Rey mulai fokus mendengarkan materi yang disampaikan oleh Dosen. 

Rey sedang mencatat materi penting dari Dosen ketika secarik kertas hinggap didepan bukunya. Rupanya kertas itu dari Ana. Ia membaca isi surat itu dan matanya melebar. Isi surat tersebut berbunyi,

"Kamu free gak hari sabtu ini?"

Rey tidak menjawab di kertas itu namun langsung mengatakan dengan lirih, "free"

Ana mengambil secarik kertas itu lagi dan menulis lagi. Kali ini dada Rey sedikit berdegup. Kertas itu kembali lagi ke arah Rey,

"Bisa ikut ke museum?"

Membaca isi surat balasan dari Ana, nafas Rey berhenti berhembus sepersekian detik. Rey lalu menjawab dengan anggukan. 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status