LOGINSaat Rong Er kembali sadar, matahari mulai tenggelam di balik pegunungan. Mereka beristirahat di sebuah tempat tersembunyi tidak jauh dari sisi gunung. Jing Er tetap berjaga sambil memperhatikan hutan, sementara Rong Er duduk bersandar pada batu dan akhirnya membuka suara.
“Aku sudah mencari murid Si Tua Pemikul Arak selama enam bulan.” Jing Er menoleh. “Aku membutuhkan bantuanmu.” Rong Er menjelaskan bahwa Paviliun Bayangan akan terus memburunya selama Phoenix Revival Ring masih berada di tangannya. Ia mengetahui bahwa satu-satunya orang yang mungkin mampu membantunya adalah murid Si Tua Pemikul Arak yang sering berburu di Tebing Naga Terbang. “Aku mendapatkan informasi itu dari pengawal pribadi Klan Rong bernama Zen,” katanya. “Maafkan aku. Aku tidak punya pilihan lain.” Rong Er kembali membungkuk. Jing Er hanya menatapnya sampai gadis itu merasa kikuk dan perlahan meluruskan tubuh. “Kau suka sekali membungkuk.” Rong Er berdeham. “Setidaknya aku tahu cara berterima kasih.” Jing Er tidak menjawab. Ia masih belum sepenuhnya mempercayai gadis di hadapannya, terlebih setelah mengetahui bahwa Rong Er sengaja menggunakan dirinya sebagai umpan untuk menemukan Jing Er. Setelah beberapa saat, Rong Er kembali berbicara. “Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan?” “Kesepakatan apa?” Mata Rong Er berbinar. “Bantu aku menemukan Segel Pembalik Takdir.” Jing Er menyipitkan mata. “Dan imbalannya?” “Aku akan memberitahumu kebenaran tentang gurumu.” Jing Er terdiam. “Kenapa ia mengasingkan diri,” lanjut Rong Er, “dan kenapa ia memilihmu sebagai satu-satunya murid.” Jing Er hendak bertanya lebih jauh ketika suara serigala terdengar dari kejauhan. Ia langsung berdiri. Suara itu terlalu teratur untuk sekadar lolongan biasa. “Mungkin sinyal mereka,” ujar Rong Er. Jing Er menatap hutan gelap di hadapan mereka. Ia tahu keputusan ini akan membuat hidupnya jauh lebih rumit, tetapi sejak menyelamatkan Rong Er, dirinya sudah terlibat terlalu dalam. “Baiklah.” Mereka kemudian bergerak lebih jauh ke dalam hutan. Namun, di sisi lain gunung, salah satu pembunuh yang sebelumnya pingsan mulai sadar. Ia mengambil medali komunikasi dari sakunya dan mengaktifkannya. Suara samar terdengar dari benda tersebut. “Bagaimana situasinya?” “Target bersama murid Si Tua Pemikul Arak.” Pembunuh itu menarik napas. “Mereka sedang mencari Segel.” Suara dari seberang langsung berubah serius. “Jangan serang mereka.” Pembunuh itu terdiam. “Ikuti dari kejauhan. Hubungi Klan Pengemis Timur.” “Untuk apa?” “Katakan bahwa murid Si Tua telah muncul bersama Putri Klan Rong.” Di tempat lain, Jing Er dan Rong Er terus berjalan tanpa mengetahui bahwa jejak mereka sudah ditemukan. Sesekali Jing Er menoleh ke belakang, tetapi hanya melihat pepohonan dan kabut yang bergerak tertiup angin. “Ada sesuatu yang mengganggumu?” tanya Rong Er. “Kita sedang diburu.” “Kau yakin?” “Mungkin.” Jing Er menatap hutan. “Tapi aku yakin seseorang sedang mencari kita.” Rong Er tidak bertanya lagi. Mereka terus berjalan hingga suara langkah kaki mereka menghilang di antara pepohonan. Namun, di tanah yang baru saja mereka lewati, tertinggal sehelai rambut hitam milik Jing Er. Di antara helaian rambut itu terdapat benang merah tipis yang hampir tidak terlihat. Pada ujung benang tergantung sebuah manik kecil dengan satu karakter kuno: Pelindung. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang menyadari arti sebenarnya dari benda tersebut. Namun, kabar tentang kemunculan murid Si Tua Pemikul Arak sudah mulai bergerak dari satu organisasi ke organisasi lainnya. Paviliun Bayangan mengetahuinya, Klan Pengemis Timur akan segera mengetahuinya, dan tidak lama lagi seluruh dunia kultivasi akan membicarakan satu nama. Jing Er. Selama bertahun-tahun, identitasnya sebagai murid biasa berhasil disembunyikan di Tebing Naga Terbang. Tetapi malam itu, semuanya mulai berubah. Sebab Jing Er bukan sekadar murid Si Tua Pemikul Arak, ia adalah pewaris sebuah warisan yang bahkan belum dipahami oleh dirinya sendiri. Pertemuannya dengan Rong Er membuka pintu menuju rahasia itu.Hutan malam tidak pernah benar-benar sunyi bagi seseorang yang terbiasa mendengarkan suara-suara kecil. Jing Er melesat di antara pepohonan tanpa meninggalkan jejak, sementara Rong Er tertinggal beberapa langkah di belakang. Ketika suara ranting patah terdengar, Jing Er langsung berhenti dan menoleh.
“Pelan-pelan,” bisiknya. “Kau ingin mengundang seluruh Paviliun Bayangan?” Rong Er menahan napas dan melihat ke bawah. “Maaf. Aku tidak terbiasa di hutan.” Jing Er menatap gaun hijau gadis itu yang sudah kotor terkena tanah. “Terbiasa di mana? Istana berkarpet sutra?” Rong Er menunduk malu. “Iya.” Jing Er menghela napas lalu kembali berjalan. Sejak meninggalkan Tebing Naga Terbang, ia terus merasa ada sesuatu yang membuntuti mereka. Ia belum tahu apakah itu pembunuh Paviliun Bayangan atau orang lain, tetapi nalurinya mengatakan mereka tidak boleh terlalu lama berada di tempat terbuka. “Kita butuh tempat bermalam,” ujar Jing Er. “Kau juga perlu istirahat.” Rong Er bersandar sebentar pada batang pohon. Wajahnya masih pucat setelah menggunakan teknik hipnosis, dan napasnya belum sepenuhnya teratur. Ia mengusap dahinya sebelum mengikuti Jing Er kembali berjalan. “Bagaimana kau tahu aku kelelahan?” tanyanya. “Napasmu tidak rata. Pupilmu melebar.” Rong Er tersenyum tipis. “Pengamatanmu tajam.” “Keharusan bertahan hidup,” jawab Jing Er singkat. Tidak lama kemudian, mereka tiba di sebuah gua tua yang dikenal sebagai Gua Menangis. Tempat itu memiliki reputasi buruk karena sering terdengar suara tangisan dari dalam lorong, tetapi bagi Jing Er, gua tersebut tetap lebih aman daripada tidur di tengah hutan. Ia memeriksa sekitar sebelum menyalakan api kecil. Saat api unggun menyala, Rong Er mengulurkan kedua tangannya untuk menghangatkan tubuh. “Kau selalu membawa batu api?” “Tali, pisau, jarum, tiga jenis racun, dua penawar, dan perban.” Jing Er mengeluarkan peralatannya satu per satu lalu merapikannya. Rong Er memperhatikan dengan heran. “Kau seperti tentara.” Jing Er menatapnya tajam. “Di dunia ini, keduanya tidak jauh berbeda.” Keheningan kembali menyelimuti gua. Setelah beberapa saat, Jing Er akhirnya mengangkat kepala dan menatap gadis di seberang api. “Tentang tadi,” katanya. “Kau memanipulasiku.” Rong Er tidak membantah. “Ya.” “Kenapa?” “Aku membutuhkan bantuanmu.” Rong Er menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Kau satu-satunya orang yang bisa membantuku.” Jing Er mengerutkan kening. “Kau putri Klan Rong. Kau memiliki pasukan, harta, dan pengaruh. Kenapa harus aku?” Rong Er menarik napas panjang sebelum menjawab. “Karena masalah ini tidak bisa diselesaikan dengan tentara. Ini tentang Segel Pembalik Takdir.” Tatapan Jing Er berubah. “Segel itu bukan artefak,” katanya pelan. “melainkan makhluk yang telah tertidur selama seratus tahun.” Rong Er terkejut. “Kau tahu dari mana?” “Guruku mengajariku banyak hal.” Jing Er menatapnya tajam. “Sekarang jawab: Kenapa aku?” Rong Er menggenggam kedua tangannya. “Aku mendengarnya dalam mimpi. Ada suara yang terus memanggilku dan mengatakan bahwa gurumu adalah Penjaga terakhir.” Jing Er langsung diam. “Kau murid satu-satunya,” lanjut Rong Er. “Dan cincin itu adalah kuncinya.” Refleks, Jing Er menutupi cincin di jarinya. “Kau tahu terlalu banyak.” “Ibuku mencari Segel itu dua puluh tahun lalu.” Suara Rong Er mulai bergetar. “Cincin ini peninggalannya. Setelah itu, dia menghilang.” Air mata mengalir di pipinya. Jing Er tidak langsung menjawab karena perkataan itu mengingatkannya pada gurunya sendiri. “Guruku batuk darah setiap bulan purnama,” katanya akhirnya. “Dalam mimpinya, dia selalu berteriak menyebut nama yang sama. Aku juga ingin tahu kebenarannya.”Jing Er berhenti melawan. Ia menancapkan tongkat naga ke tanah. Gelombang energi biru menyebar tanpa suara. Para pengejar mendadak membeku, wajah mereka kosong seperti kehilangan kesadaran. Satu demi satu senjata terlepas dari tangan mereka, lalu tubuh mereka berbalik dan berjalan menjauh tanpa mengetahui ke mana mereka pergi. Hanya Yin Ze yang masih berdiri. “Apa... yang kau lakukan?” tanyanya gemetar.“Warisan ini,” Jing Er membuka mata lalu mencabut tongkat dari tanah. “membuat mereka melihat sesuatu yang paling mereka takuti.”Sebelum Yin Ze sempat menjawab, sebuah panah hitam melesat dari kegelapan. Jing Er menarik tubuh Yin Ze ke samping dan panah itu menancap di batang pohon. Sosok-sosok baru keluar dari hutan. Mereka mengenakan jubah abu-abu dengan topeng kayu kosong tanpa ekspresi. Wajah Yin Ze langsung pucat. “Pengawas,” bisiknya. “Penjaga asli Segel.” Salah satu dari mereka mengangkat tangannya. Suaranya terdengar seperti batu yang bergesekan. “Kunci telah dibangunkan
Mata rubi itu perlahan meredup. Namun sebelum benar-benar padam, suara lain yang jauh lebih berat dan jauh lebih tua muncul dari dalam kegelapan. Suara itu membuat seluruh hutan seakan kehilangan suara.“Dan aku…” Jing Er membeku. “…sangat lapar.” Cahaya pada tongkat naga akhirnya menghilang. Hutan kembali sunyi, tetapi kali ini Jing Er tidak merasa tenang. Dari kejauhan terdengar suara pasukan yang masih mengejar mereka. Rong Er menatap Jing Er tanpa berkata-kata, sementara pria muda itu hanya menggenggam tongkat naga dengan erat. “Apa yang sebenarnya telah kita bangunkan?” tanya Rong Er. Jing Er tidak menjawab. Ia menatap hutan di arah timur, tempat peta tadi menunjuk. Untuk pertama kalinya, ancaman Paviliun Bayangan dan Klan Rong terasa jauh lebih kecil dibandingkan sesuatu yang kini menunggu di balik Segel. Di antara pepohonan, suara langkah para pengejar semakin dekat. Jing Er akhirnya berbalik. “Kita harus pergi dari sini.” Mereka kembali berlari menuju timur, tanpa meng
Tiba-tiba suara tangisan dari dalam gua berubah menjadi tawa rendah. Api unggun bergetar tertiup angin yang entah datang dari mana, sementara bisikan asing menggema dari lorong gelap. “Roh penasaran?” tanya Rong Er. “Mungkin sesuatu yang lebih buruk,” jawab Jing Er. Mereka berdiri dan mengikuti sumber suara. Di dinding lorong terlihat simbol spiral ganda yang bersinar redup. Rong Er berhenti ketika melihatnya. “Simbol Segel.” Bisikan kembali terdengar. “Penerus…” Rong Er menatap lorong di depan mereka. “Akhirnya datang…” Suara itu semakin jelas. “Darahnya cocok…” Rong Er berjalan seperti tersihir. Jing Er segera mengejarnya. Lorong tersebut berakhir di sebuah ruangan bundar. Di tengahnya terdapat kolam air hitam yang sama sekali tidak memantulkan cahaya, sementara tujuh kerangka duduk bersila mengelilinginya. Cahaya biru menyala di rongga mata mereka. Salah satu kerangka perlahan mengangkat kepala. “Putri…” Suara tulangnya berderak. “Darah Phoenix…” Rong Er mel
Saat Rong Er kembali sadar, matahari mulai tenggelam di balik pegunungan. Mereka beristirahat di sebuah tempat tersembunyi tidak jauh dari sisi gunung. Jing Er tetap berjaga sambil memperhatikan hutan, sementara Rong Er duduk bersandar pada batu dan akhirnya membuka suara. “Aku sudah mencari murid Si Tua Pemikul Arak selama enam bulan.” Jing Er menoleh. “Aku membutuhkan bantuanmu.” Rong Er menjelaskan bahwa Paviliun Bayangan akan terus memburunya selama Phoenix Revival Ring masih berada di tangannya. Ia mengetahui bahwa satu-satunya orang yang mungkin mampu membantunya adalah murid Si Tua Pemikul Arak yang sering berburu di Tebing Naga Terbang. “Aku mendapatkan informasi itu dari pengawal pribadi Klan Rong bernama Zen,” katanya. “Maafkan aku. Aku tidak punya pilihan lain.” Rong Er kembali membungkuk. Jing Er hanya menatapnya sampai gadis itu merasa kikuk dan perlahan meluruskan tubuh. “Kau suka sekali membungkuk.” Rong Er berdeham. “Setidaknya aku tahu cara berterima
Di Tebing Naga Terbang, kabut biru pekat menyelimuti hutan purba. Di tengah bayang-bayang pepohonan, tatapan Jing Er tertuju pada seekor Misty Stag yang telah ia kuntit selama tiga hari. Tanduk rusa kabut mistis itu dipercaya mampu menyembuhkan seribu racun. Darahnya juga dapat memperkuat qi seseorang, setara dengan hasil latihan selama sepuluh tahun hanya dalam semalam. Jing Er berdiri di atas cabang pohon Ironwood, tiga puluh meter dari tanah. Jubah hitamnya menyatu dengan bayangan. Rambut panjangnya diikat rendah menggunakan pita hitam khas Klan Pengemis Timur. Matanya yang berwarna tembaga tua terus mengikuti pergerakan rusa itu dengan fokus. “Tinggal dua puluh langkah lagi menuju jebakan,” batin Jing Er. Tangannya yang bersarung kulit hitam menggenggam tiga jarum perak tipis. Tiba-tiba, arah angin berubah. Rusa itu mengangkat kepala. Hidungnya bergerak-gerak, mencium sesuatu yang mencurigakan. Jing Er memperlambat detak jantungnya dengan teknik hasil latihan dari gurunya. Sat







