Share

Bab 2

Author: Dazai
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-27 10:36:28

Saat Rong Er kembali sadar, matahari mulai tenggelam di balik pegunungan. Mereka beristirahat di sebuah tempat tersembunyi tidak jauh dari sisi gunung. Jing Er tetap berjaga sambil memperhatikan hutan, sementara Rong Er duduk bersandar pada batu dan akhirnya membuka suara.

“Aku sudah mencari murid Si Tua Pemikul Arak selama enam bulan.”

Jing Er menoleh.

“Aku membutuhkan bantuanmu.”

Rong Er menjelaskan bahwa Paviliun Bayangan akan terus memburunya selama Phoenix Revival Ring masih berada di tangannya. Ia mengetahui bahwa satu-satunya orang yang mungkin mampu membantunya adalah murid Si Tua Pemikul Arak yang sering berburu di Tebing Naga Terbang.

“Aku mendapatkan informasi itu dari pengawal pribadi Klan Rong bernama Zen,” katanya. “Maafkan aku. Aku tidak punya pilihan lain.”

Rong Er kembali membungkuk.

Jing Er hanya menatapnya sampai gadis itu merasa kikuk dan perlahan meluruskan tubuh.

“Kau suka sekali membungkuk.”

Rong Er berdeham. “Setidaknya aku tahu cara berterima kasih.”

Jing Er tidak menjawab. Ia masih belum sepenuhnya mempercayai gadis di hadapannya, terlebih setelah mengetahui bahwa Rong Er sengaja menggunakan dirinya sebagai umpan untuk menemukan Jing Er.

Setelah beberapa saat, Rong Er kembali berbicara.

“Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan?”

“Kesepakatan apa?”

Mata Rong Er berbinar. “Bantu aku menemukan Segel Pembalik Takdir.”

Jing Er menyipitkan mata. “Dan imbalannya?”

“Aku akan memberitahumu kebenaran tentang gurumu.”

Jing Er terdiam.

“Kenapa ia mengasingkan diri,” lanjut Rong Er, “dan kenapa ia memilihmu sebagai satu-satunya murid.”

Jing Er hendak bertanya lebih jauh ketika suara serigala terdengar dari kejauhan. Ia langsung berdiri. Suara itu terlalu teratur untuk sekadar lolongan biasa.

“Mungkin sinyal mereka,” ujar Rong Er.

Jing Er menatap hutan gelap di hadapan mereka. Ia tahu keputusan ini akan membuat hidupnya jauh lebih rumit, tetapi sejak menyelamatkan Rong Er, dirinya sudah terlibat terlalu dalam.

“Baiklah.”

Mereka kemudian bergerak lebih jauh ke dalam hutan.

Namun, di sisi lain gunung, salah satu pembunuh yang sebelumnya pingsan mulai sadar. Ia mengambil medali komunikasi dari sakunya dan mengaktifkannya. Suara samar terdengar dari benda tersebut.

“Bagaimana situasinya?”

“Target bersama murid Si Tua Pemikul Arak.” Pembunuh itu menarik napas. “Mereka sedang mencari Segel.”

Suara dari seberang langsung berubah serius. “Jangan serang mereka.”

Pembunuh itu terdiam.

“Ikuti dari kejauhan. Hubungi Klan Pengemis Timur.”

“Untuk apa?”

“Katakan bahwa murid Si Tua telah muncul bersama Putri Klan Rong.”

Di tempat lain, Jing Er dan Rong Er terus berjalan tanpa mengetahui bahwa jejak mereka sudah ditemukan. Sesekali Jing Er menoleh ke belakang, tetapi hanya melihat pepohonan dan kabut yang bergerak tertiup angin.

“Ada sesuatu yang mengganggumu?” tanya Rong Er.

“Kita sedang diburu.”

“Kau yakin?”

“Mungkin.” Jing Er menatap hutan. “Tapi aku yakin seseorang sedang mencari kita.”

Rong Er tidak bertanya lagi.

Mereka terus berjalan hingga suara langkah kaki mereka menghilang di antara pepohonan. Namun, di tanah yang baru saja mereka lewati, tertinggal sehelai rambut hitam milik Jing Er. Di antara helaian rambut itu terdapat benang merah tipis yang hampir tidak terlihat. Pada ujung benang tergantung sebuah manik kecil dengan satu karakter kuno: Pelindung.

Tidak ada seorang pun di antara mereka yang menyadari arti sebenarnya dari benda tersebut. Namun, kabar tentang kemunculan murid Si Tua Pemikul Arak sudah mulai bergerak dari satu organisasi ke organisasi lainnya. Paviliun Bayangan mengetahuinya, Klan Pengemis Timur akan segera mengetahuinya, dan tidak lama lagi seluruh dunia kultivasi akan membicarakan satu nama.

Jing Er.

Selama bertahun-tahun, identitasnya sebagai murid biasa berhasil disembunyikan di Tebing Naga Terbang. Tetapi malam itu, semuanya mulai berubah. Sebab Jing Er bukan sekadar murid Si Tua Pemikul Arak, ia adalah pewaris sebuah warisan yang bahkan belum dipahami oleh dirinya sendiri. Pertemuannya dengan Rong Er membuka pintu menuju rahasia itu.

Hutan malam tidak pernah benar-benar sunyi bagi seseorang yang terbiasa mendengarkan suara-suara kecil. Jing Er melesat di antara pepohonan tanpa meninggalkan jejak, sementara Rong Er tertinggal beberapa langkah di belakang. Ketika suara ranting patah terdengar, Jing Er langsung berhenti dan menoleh.

“Pelan-pelan,” bisiknya. “Kau ingin mengundang seluruh Paviliun Bayangan?”

Rong Er menahan napas dan melihat ke bawah. “Maaf. Aku tidak terbiasa di hutan.”

Jing Er menatap gaun hijau gadis itu yang sudah kotor terkena tanah. “Terbiasa di mana? Istana berkarpet sutra?”

Rong Er menunduk malu. “Iya.”

Jing Er menghela napas lalu kembali berjalan. Sejak meninggalkan Tebing Naga Terbang, ia terus merasa ada sesuatu yang membuntuti mereka. Ia belum tahu apakah itu pembunuh Paviliun Bayangan atau orang lain, tetapi nalurinya mengatakan mereka tidak boleh terlalu lama berada di tempat terbuka.

“Kita butuh tempat bermalam,” ujar Jing Er. “Kau juga perlu istirahat.”

Rong Er bersandar sebentar pada batang pohon. Wajahnya masih pucat setelah menggunakan teknik hipnosis, dan napasnya belum sepenuhnya teratur. Ia mengusap dahinya sebelum mengikuti Jing Er kembali berjalan.

“Bagaimana kau tahu aku kelelahan?” tanyanya.

“Napasmu tidak rata. Pupilmu melebar.”

Rong Er tersenyum tipis. “Pengamatanmu tajam.”

“Keharusan bertahan hidup,” jawab Jing Er singkat.

Tidak lama kemudian, mereka tiba di sebuah gua tua yang dikenal sebagai Gua Menangis. Tempat itu memiliki reputasi buruk karena sering terdengar suara tangisan dari dalam lorong, tetapi bagi Jing Er, gua tersebut tetap lebih aman daripada tidur di tengah hutan. Ia memeriksa sekitar sebelum menyalakan api kecil.

Saat api unggun menyala, Rong Er mengulurkan kedua tangannya untuk menghangatkan tubuh. “Kau selalu membawa batu api?”

“Tali, pisau, jarum, tiga jenis racun, dua penawar, dan perban.”

Jing Er mengeluarkan peralatannya satu per satu lalu merapikannya. Rong Er memperhatikan dengan heran.

“Kau seperti tentara.”

Jing Er menatapnya tajam. “Di dunia ini, keduanya tidak jauh berbeda.”

Keheningan kembali menyelimuti gua. Setelah beberapa saat, Jing Er akhirnya mengangkat kepala dan menatap gadis di seberang api.

“Tentang tadi,” katanya. “Kau memanipulasiku.”

Rong Er tidak membantah. “Ya.”

“Kenapa?”

“Aku membutuhkan bantuanmu.”

Rong Er menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Kau satu-satunya orang yang bisa membantuku.”

Jing Er mengerutkan kening. “Kau putri Klan Rong. Kau memiliki pasukan, harta, dan pengaruh. Kenapa harus aku?”

Rong Er menarik napas panjang sebelum menjawab. “Karena masalah ini tidak bisa diselesaikan dengan tentara. Ini tentang Segel Pembalik Takdir.”

Tatapan Jing Er berubah.

“Segel itu bukan artefak,” katanya pelan. “melainkan makhluk yang telah tertidur selama seratus tahun.”

Rong Er terkejut. “Kau tahu dari mana?”

“Guruku mengajariku banyak hal.” Jing Er menatapnya tajam. “Sekarang jawab: Kenapa aku?”

Rong Er menggenggam kedua tangannya. “Aku mendengarnya dalam mimpi. Ada suara yang terus memanggilku dan mengatakan bahwa gurumu adalah Penjaga terakhir.”

Jing Er langsung diam.

“Kau murid satu-satunya,” lanjut Rong Er. “Dan cincin itu adalah kuncinya.”

Refleks, Jing Er menutupi cincin di jarinya. “Kau tahu terlalu banyak.”

“Ibuku mencari Segel itu dua puluh tahun lalu.” Suara Rong Er mulai bergetar. “Cincin ini peninggalannya. Setelah itu, dia menghilang.”

Air mata mengalir di pipinya. Jing Er tidak langsung menjawab karena perkataan itu mengingatkannya pada gurunya sendiri.

“Guruku batuk darah setiap bulan purnama,” katanya akhirnya. “Dalam mimpinya, dia selalu berteriak menyebut nama yang sama. Aku juga ingin tahu kebenarannya.”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Segel Pembalik Takdir    Bab 14

    Kapten Long mengantar mereka hingga bibir pantai. Dia tidak ikut memasuki lembah, sebab racun di udara dapat membunuh orang yang tidak memiliki perlindungan khusus. Dengan berat hati, dia menyerahkan beberapa perlengkapan perjalanan sebelum berpamitan.“Ke mana tujuanmu setelah ini, Kapten?” tanya Jing Er sambil menangkupkan tangan sebagai tanda terima kasih.Kapten Long menatap laut di belakang mereka. “Pulang. Kalau masih ada kesempatan, aku akan membangun The Storm Dancer yang baru. Kapal tua itu pantas mendapatkan penerus.”“Terima kasih atas semua bantuanmu,” ujar Jing Er. Rong Er dan Zen ikut membungkuk hormat.Kapten Long membalas dengan senyum tipis sebelum menaiki perahunya. Tak lama kemudian, sosoknya menghilang di balik kabut laut, meninggalkan ketiganya di hadapan lembah yang sunyi.Rong Er memandang pepohonan ungu yang bergoyang tanpa disentuh angin. Dari balik kabut, terdengar suara samar menyerupai bisikan yang memanggil namanya.Jing Er mengangkat tongkat naga, merasak

  • Segel Pembalik Takdir    Bab 13

    The Storm Dancer membelah lautan yang mulai diselimuti kegelapan. Angin malam bertiup kencang, membawa aroma garam dan hawa dingin yang menusuk kulit. Di dalam kabin kapten, Jing Er, Rong Er, dan Zen mengelilingi meja kayu yang dipenuhi tiga naskah kuno, sementara cahaya lilin bergetar setiap kali ombak menghantam lambung kapal.Jing Er meletakkan jimat milik Yin Ze di antara naskah-naskah tersebut. Simbol phoenix dengan satu mata tertutup terukir jelas di permukaannya, sama persis dengan lambang pada surat yang pernah diterima Rong Er. Tongkat naga di pinggangnya bergetar pelan, seolah memperingatkan bahwa sesuatu sedang mendekat.“Energinya semakin kuat,” ujar Jing Er. “Bahkan lautan ini tidak bisa menyembunyikan keberadaannya.”Rong Er menyentuh simbol spiral di dahinya. “Keseimbangan juga merasakannya. Dia gelisah sejak kita meninggalkan perpustakaan, seolah mengetahui sesuatu yang belum kita pahami.”Zen menarik kursi dan duduk di hadapan mereka. “Kalau begitu, berhenti menebak-n

  • Segel Pembalik Takdir    Bab 12

    Di dermaga kayu yang lapuk, seorang lelaki tua berjanggut panjang duduk memancing. Ia bahkan tidak menoleh ketika kapal merapat, seolah kedatangan mereka sudah diketahui sejak lama.“Sudah dua puluh tahun sejak wanita bermata seperti langit malam datang ke sini,” katanya santai. “Sekarang putrinya muncul, ditemani seorang pemuda yang membawa energi yang seharusnya tidak lagi ada di dunia.”Rong Er segera mendekat. “Anda mengenal ibu saya?”“Li Na datang mencari kebenaran, tetapi pulang membawa lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.” Lelaki tua itu akhirnya mengangkat wajah. Matanya kelabu seperti kabut di sekitar pulau. “Namaku Lao Wen, penjaga Perpustakaan Kuno. Jika kalian ingin masuk, buktikan dahulu bahwa niat kalian tidak bertentangan dengan pengetahuan yang hendak dicari.”Ia mengangkat tangan. Tiga batu muncul dari tanah, masing-masing memancarkan cahaya samar.Jing Er dan Rong Er meletakkan telapak tangan di atas dua batu, sementara Kapten Long memilih tetap menunggu di kap

  • Segel Pembalik Takdir    Bab 11

    Ujian PengorbananDi tempat lain, Rong Er berdiri di aula Klan Rong. Istana yang dulu megah kini dipenuhi cahaya hangat dan suara tawa. Li Na duduk di singgasana sebagai pemimpin, Yin Ze berdiri di sisinya, sementara Zen melayani mereka dengan senyum tenang.Namun tidak seorang pun mengenali Rong Er.“Itulah dunia tanpa dirimu,” bisik Kekacauan. “Ibumu tidak pernah mencari Segel. Kakakmu tidak pernah tersesat. Orang-orang yang kau cintai hidup bahagia.”Rong Er melihat Luo berjalan bersama wanita lain. Ia tampak bahagia. Dadanya terasa sesak.“Jadi... semua orang akan lebih baik jika aku tidak pernah lahir?”“Pilihan ada di tanganmu.”Rong Er menyeka air matanya. “Tidak. Kalau keberadaanku membawa penderitaan, aku akan menanggungnya. Aku tidak akan menghapus diriku hanya demi mendapatkan dunia yang terlihat sempurna.”Istana itu runtuh menjadi serpihan cahaya.Ujian BersamaJing Er dan Rong Er kembali berdiri berdampingan, kali ini di tepi jurang yang begitu dalam hingga dasarnya tida

  • Segel Pembalik Takdir    Bab 10

    Permukaannya tidak memantulkan wajah mereka. Sebaliknya, mereka melihat masa lalu.Mereka melihat Kekacauan sebagai entitas energi murni yang menjaga keseimbangan dunia. Para kultivator pertama takut pada kekuatannya dan memilih mengurungnya dalam Segel. Ketika sebagian energinya bocor, keseimbangan dunia mulai rusak sehingga ritual darah Phoenix dan kekuatan Naga dibuat untuk menahannya.Namun setiap ritual membuat Segel semakin rapuh.Rong Er melihat ibunya.Li Na berdiri di dalam cahaya ungu, menahan aliran energi Kekacauan dengan tubuhnya sendiri.“Selama aku di sini,” kata Li Na dalam penglihatan itu, “ia tidak akan bangkit sepenuhnya.”Kemudian tiga gambaran masa depan muncul.Pada masa depan pertama, ritual kesepuluh dilakukan. Segel menguat untuk sementara, tetapi lima puluh tahun kemudian ia pecah dan menghancurkan separuh dunia.Pada masa depan kedua, Kekacauan dibebaskan secara paksa. Ia mengamuk karena ribuan tahun penderitaan dan akhirnya berhasil ditenangkan, tetapi juta

  • Segel Pembalik Takdir    Bab 9

    Pintu Kuil Langit yang Hilang menutup dengan suara gemuruh. Cahaya dari luar lenyap, menyisakan koridor gelap yang hanya diterangi cahaya biru dari ukiran kuno di dinding. Jing Er dan Rong Er baru beberapa langkah masuk ketika suara retakan terdengar dari belakang mereka.Patung-patung batu yang selama berabad-abad berdiri diam mulai bergerak. Debu berjatuhan dari tubuh mereka, lalu mata hijau menyala satu demi satu. Dalam sekejap, para penjaga kuil mengangkat senjata dan menyerbu.“Jing Er!”Rong Er menunduk ketika sebuah pedang batu menyapu kepalanya. Jing Er menariknya ke samping, tetapi tiga patung lain sudah mengepung mereka. Koridor terlalu sempit untuk bergerak bebas, sementara setiap serangan membuat dinding kuil bergetar.“Kita tidak bisa terus mundur!” seru Rong Er.“Aku tahu!”Jing Er memutar tongkat naga dan menahan hantaman pertama. Lengannya langsung mati rasa. Patung-patung itu tidak memiliki qi seperti manusia, tetapi tubuh mereka diperkuat energi Segel sehingga setiap

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status