Segel Pembalik Takdir

Segel Pembalik Takdir

last update最終更新日 : 2026-08-27
作家:  Dazai連載中
言語: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
評価が足りません
5チャプター
10ビュー
読む
本棚に追加

共有:  

報告
あらすじ
カタログ
コードをスキャンしてアプリで読む

概要

Action

Petualangan

Manipulatif

Kultivasi

Jing Er hanya seorang pemuda yang ingin hidup sebagai pengelana, jauh dari klan dan trauma pengkhianatan masa lalu. Hingga satu malam di kota perbatasan, ia tanpa sengaja menyelamatkan Rong Er, putri licik dari salah satu Tiga Klan Besar yang menyimpan kutukan di keningnya sendiri. Ternyata tindakan itu malah membongkar identitas terlarang yang selama ini ia sembunyikan, mengundang pembunuh bayaran dari segala arah. Situasi tersebut memaksa keduanya bersekutu memburu Segel Pembalik Takdir pusaka legendaris yang dipercaya mampu mengubah nasib. Namun semakin dekat mereka pada kebenaran, semakin jelas bahwa segel itu tidak pernah membalikkan takdir, ia hanya menunda harga yang harus dibayar. Jika satu pertemuan tak disengaja saja sudah cukup mengundang pembunuh dari segala arah, apalagi yang akan terbongkar saat mereka mulai menggali kebenaran di balik Segel itu sendiri?

もっと見る

第1話

Bab 1

Di Tebing Naga Terbang, kabut biru pekat menyelimuti hutan purba. Di tengah bayang-bayang pepohonan, tatapan Jing Er tertuju pada seekor Misty Stag yang telah ia kuntit selama tiga hari. Tanduk rusa kabut mistis itu dipercaya mampu menyembuhkan seribu racun. Darahnya juga dapat memperkuat qi seseorang, setara dengan hasil latihan selama sepuluh tahun hanya dalam semalam.

Jing Er berdiri di atas cabang pohon Ironwood, tiga puluh meter dari tanah. Jubah hitamnya menyatu dengan bayangan. Rambut panjangnya diikat rendah menggunakan pita hitam khas Klan Pengemis Timur. Matanya yang berwarna tembaga tua terus mengikuti pergerakan rusa itu dengan fokus.

“Tinggal dua puluh langkah lagi menuju jebakan,” batin Jing Er. Tangannya yang bersarung kulit hitam menggenggam tiga jarum perak tipis.

Tiba-tiba, arah angin berubah. Rusa itu mengangkat kepala. Hidungnya bergerak-gerak, mencium sesuatu yang mencurigakan.

Jing Er memperlambat detak jantungnya dengan teknik hasil latihan dari gurunya. Satu tusukan tepat di leher saja sudah lebih dari cukup untuk membuat rusa itu pingsan tanpa rasa sakit. Setelah itu, ia hanya akan mengambil sedikit darah dan sepotong kecil tanduk sebelum melepaskannya kembali. Jika berhasil mendapatkan tanduk rusa itu, ia berencana akan menukarnya dengan ramuan untuk gurunya yang selalu batuk darah.

Namun, alam ternyata memiliki rencana lain. Dari arah barat terdengar suara tertahan yang disusul oleh suara gesekan kain dan napas seseorang yang tergesa-gesa. Beberapa detik kemudian, terdengar teriakan seorang perempuan muda.

“Jangan mendekat!”

Rusa kabut itu langsung melesat dan menghilang ke dalam kabut.

Tiga hari menguntit… Hilang dalam tiga detik.

Jing Er menghela napas panjang. Disaat yang bersamaan, hidungnya menangkap bau besi dan belerang: Bahan peledak ilegal.

“Hanya organisasi bawah tanah tertentu yang biasa menggunakan bahan seperti itu,” pikir Jing Er.

Dengan gerakan hampir tak terlihat, Jing Er melompat dari satu pohon ke pohon lainnya, mendekati sumber suara. Bukan karena ia ingin ikut campur. Ia hanya penasaran.

Dari balik dedaunan, Jing Er melihat seorang gadis berdiri dengan punggung menghadap jurang sedalam tiga ratus meter. Gaun hijaunya robek di beberapa bagian. Rambut hitamnya terlihat berantakan dan terurai sebagian. Di tangannya terdapat pedang pendek yang memancarkan cahaya kehijauan.

Lima lelaki berseragam hitam mengepung gadis itu. Di dada mereka terdapat simbol burung phoenix yang terbakar. Jing Er mengenali simbol itu sebagai milik Paviliun Bayangan, organisasi pembunuh bayaran terbesar di dunia kultivasi.

“Nona Rong er,” kata lelaki yang berdiri paling depan. “Kami hanya menginginkan cincin itu.”

Gadis yang ternyata bernama Rong Er itu tersenyum, walau senyumnya tidak sampai ke mata.

“Cincin apa? Aku hanya gadis biasa.” jawabnya.

“Kami tahu kau adalah putri Klan Rong. Kau membawa Phoenix Revival Ring, warisan dari ibumu.” jelas salah satu lelaki di ujung.

Klan Rong adalah salah satu dari Tiga Klan Besar. Jing Er seharusnya pergi. Mencoba menolong dan bertarung melawan Paviliun Bayangan hanya akan menarik perhatian yang tidak diinginkan. Namun, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan membuatnya tetap berada di sana.

Pria yang sepertinya pemimpin di kelompok itu memberikan peringatan terakhir dengan tangan bersinar merah, “Cepat serahkan cincin itu, nona Rong.”

Rong Er melirik ke belakang, melihat jurang. Kemudian, pandangannya kembali menyapu hutan dan berhenti tepat di tempat Jing Er bersembunyi. Untuk sesaat, mata mereka bertemu.

Jing Er merasa ada sesuatu yang aneh dengan ekspresi dan sikap putri Klan Rong itu. Yang ia lihat bukan ketakutan, melainkan perhitungan: Gadis itu sedang berpura-pura terpojok.

Namun, sepertinya perhitungan Rong Er salah. Pemimpin kelompok itu langsung melancarkan serangan. Telapak tangan merah menyala melesat ke arah dada gadis itu.

"Akh!” Rong Er mencoba menghindar, tetapi kakinya tersandung batu. Tubuhnya terlempar ke belakang.

Melihat itu, seketika insting Jing Er mengambil alih: Ia melompat. Angin mendesis di telinganya ketika tubuhnya jatuh bebas.

Jing Er menendang dinding tebing untuk mengubah arah lalu menembakkan salah satu jarumnya ke celah batu untuk menciptakan pijakan. Kemudian, ia melemparkan ikat pinggangnya. Tali kulit dengan kabel baja tipis itu melesat dan melilit pergelangan tangan Rong Er tepat sebelum tubuh gadis itu menghantam tebing.

Rong Er terayun dan terbentur dinding batu, namun masih hidup. Dengan sigap Jing Er mendarat di sebuah tonjolan batu yang sempit dan segera menarik gadis itu ke sisinya. Wajah Rong Er pucat dan napasnya terengah-engah.

Sementara itu, lima bayangan hitam berdiri di tepi jurang, bersiap untuk turun. Jing Er melihat ke bawah. Sekitar seratus meter di bawah mereka terdapat sebuah gua. Dengan pilihan yang sangat terbatas, ia menarik Rong Er mendekat.

“Peluk aku,” katanya.

Rong Er langsung melingkarkan tangannya di leher Jing Er.

Mereka jatuh bebas untuk beberapa saat sebelum Jing Er menembakkan jarum ke dinding tebing beberapa kali untuk memperlambat momentum. Setelah melihat mulut gua, ia menendang dinding tebing dan mengubah arah tubuh mereka. Mereka berhasil mendarat dengan keras di tanah berpasir.

“Mereka ada di dalam gua! Turun!” Terdengar teriakan dari atas.

Jing Er dan Rong Er segera masuk ke lorong sempit yang berkelok menuju bagian dalam gunung.

“Terima kasih,” ucap Rong Er sembari membungkuk ke arah Jing Er.

“Hm.” Jing Er melirik gadis itu. Di dalam lorong sempit ini pencahayaan minim, namun ia masih bisa melihat beberapa luka di wajah dan tangan Rong Er.

“Para pembunuh itu mengincar cincinku. Tapi ini adalah satu-satunya kenangan ibuku. Mana mungkin kuserahkan begitu saja?” ujar gadis itu sambil mengepalkan tangannya.

Jing Er tidak sepenuhnya yakin dengan cerita Rong Er, namun ia tetap mengikuti gadis itu.

Semakin jauh mereka masuk, semakin terasa energi kuno yang memenuhi lorong. Akhirnya, mereka tiba di sebuah ruangan kecil dengan kolam air biru misterius yang bercahaya. Pada dindingnya terdapat mural kuno yang menggambarkan seorang kultivator sedang menyegel sesuatu yang gelap. Di bawah gambar itu terdapat tulisan:

“Segel Pembalik Takdir membutuhkan dua jiwa. Satu yang murni dan satu yang ternoda.”

Belum selesai mengamati ruangan tersebut, dari depan lorong suara langkah kaki terdengar semakin dekat. Rong Er segera melepas cincin perak dengan batu semerah darah yang ia kenakan lalu menyerahkannya kepada Jing Er.

“Tolong ambil dan sembunyikan ini. Jika mereka berhasil menangkapku, setidaknya mereka tidak akan mendapatkan cincin ini.”

Jing Er memberi isyarat agar Rong Er diam. Kemudian, ia melangkah keluar dan melemparkan sekantong bubuk tidur ke lorong. Serbuk putih menyebar.

Begitu melewati taburan serbuk itu, dua pembunuh langsung jatuh pingsan. Namun, pembunuh ketiga melompati kabut serbuk dengan pedang terhunus. Jing Er menghindar lalu menendang lutut pria itu hingga patah.

Dua pembunuh lainnya segera muncul. Namun, sebelum Jing Er sempat bergerak, mereka tiba-tiba berhenti dengan tatapan kosong. Secara bersamaan, mereka mengarahkan pedang ke leher sendiri seperti kerasukan.

“BERHENTI!”

Rong Er muncul di pintu ruangan dengan tangan terangkat. Matanya bersinar hijau pucat. Salah satu pembunuh berhasil melepaskan diri dari pengaruhnya dan menatap gadis itu ketakutan. Rong Er hanya menggerakkan jarinya. Pria itu langsung terlempar ke dinding dan jatuh pingsan.

“Hipnosis...” kata Rong Er dengan napas berat.

“Teknik terlarang.” Cahaya hijau di matanya perlahan memudar. Tubuhnya terhuyung.

Jing Er segera menangkap dan membopong gadis itu. Tak lama kemudian, ia menemukan sebuah bagian dinding kosong yang bergeser dan membuka lorong baru saat didorong. Udara segar berembus dari dalam.

Mereka berjalan mengikuti lorong tersebut dan akhirnya keluar di sisi lain gunung. Di sana, Jing Er menemukan sebuah medali milik para pembunuh. Tertulis sebuah pesan:

“Target: Rong Er. Dapatkan cincinnya. Jika gagal, bunuh.”

もっと見る
次へ
ダウンロード

最新チャプター

続きを読む

読者の皆様へ

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

コメントはありません
5 チャプター
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status