LOGIN
Di Tebing Naga Terbang, kabut biru pekat menyelimuti hutan purba. Di tengah bayang-bayang pepohonan, tatapan Jing Er tertuju pada seekor Misty Stag yang telah ia kuntit selama tiga hari. Tanduk rusa kabut mistis itu dipercaya mampu menyembuhkan seribu racun. Darahnya juga dapat memperkuat qi seseorang, setara dengan hasil latihan selama sepuluh tahun hanya dalam semalam.
Jing Er berdiri di atas cabang pohon Ironwood, tiga puluh meter dari tanah. Jubah hitamnya menyatu dengan bayangan. Rambut panjangnya diikat rendah menggunakan pita hitam khas Klan Pengemis Timur. Matanya yang berwarna tembaga tua terus mengikuti pergerakan rusa itu dengan fokus. “Tinggal dua puluh langkah lagi menuju jebakan,” batin Jing Er. Tangannya yang bersarung kulit hitam menggenggam tiga jarum perak tipis. Tiba-tiba, arah angin berubah. Rusa itu mengangkat kepala. Hidungnya bergerak-gerak, mencium sesuatu yang mencurigakan. Jing Er memperlambat detak jantungnya dengan teknik hasil latihan dari gurunya. Satu tusukan tepat di leher saja sudah lebih dari cukup untuk membuat rusa itu pingsan tanpa rasa sakit. Setelah itu, ia hanya akan mengambil sedikit darah dan sepotong kecil tanduk sebelum melepaskannya kembali. Jika berhasil mendapatkan tanduk rusa itu, ia berencana akan menukarnya dengan ramuan untuk gurunya yang selalu batuk darah. Namun, alam ternyata memiliki rencana lain. Dari arah barat terdengar suara tertahan yang disusul oleh suara gesekan kain dan napas seseorang yang tergesa-gesa. Beberapa detik kemudian, terdengar teriakan seorang perempuan muda. “Jangan mendekat!” Rusa kabut itu langsung melesat dan menghilang ke dalam kabut. Tiga hari menguntit… Hilang dalam tiga detik. Jing Er menghela napas panjang. Disaat yang bersamaan, hidungnya menangkap bau besi dan belerang: Bahan peledak ilegal. “Hanya organisasi bawah tanah tertentu yang biasa menggunakan bahan seperti itu,” pikir Jing Er. Dengan gerakan hampir tak terlihat, Jing Er melompat dari satu pohon ke pohon lainnya, mendekati sumber suara. Bukan karena ia ingin ikut campur. Ia hanya penasaran. Dari balik dedaunan, Jing Er melihat seorang gadis berdiri dengan punggung menghadap jurang sedalam tiga ratus meter. Gaun hijaunya robek di beberapa bagian. Rambut hitamnya terlihat berantakan dan terurai sebagian. Di tangannya terdapat pedang pendek yang memancarkan cahaya kehijauan. Lima lelaki berseragam hitam mengepung gadis itu. Di dada mereka terdapat simbol burung phoenix yang terbakar. Jing Er mengenali simbol itu sebagai milik Paviliun Bayangan, organisasi pembunuh bayaran terbesar di dunia kultivasi. “Nona Rong er,” kata lelaki yang berdiri paling depan. “Kami hanya menginginkan cincin itu.” Gadis yang ternyata bernama Rong Er itu tersenyum, walau senyumnya tidak sampai ke mata. “Cincin apa? Aku hanya gadis biasa.” jawabnya. “Kami tahu kau adalah putri Klan Rong. Kau membawa Phoenix Revival Ring, warisan dari ibumu.” jelas salah satu lelaki di ujung. Klan Rong adalah salah satu dari Tiga Klan Besar. Jing Er seharusnya pergi. Mencoba menolong dan bertarung melawan Paviliun Bayangan hanya akan menarik perhatian yang tidak diinginkan. Namun, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan membuatnya tetap berada di sana. Pria yang sepertinya pemimpin di kelompok itu memberikan peringatan terakhir dengan tangan bersinar merah, “Cepat serahkan cincin itu, nona Rong.” Rong Er melirik ke belakang, melihat jurang. Kemudian, pandangannya kembali menyapu hutan dan berhenti tepat di tempat Jing Er bersembunyi. Untuk sesaat, mata mereka bertemu. Jing Er merasa ada sesuatu yang aneh dengan ekspresi dan sikap putri Klan Rong itu. Yang ia lihat bukan ketakutan, melainkan perhitungan: Gadis itu sedang berpura-pura terpojok. Namun, sepertinya perhitungan Rong Er salah. Pemimpin kelompok itu langsung melancarkan serangan. Telapak tangan merah menyala melesat ke arah dada gadis itu. "Akh!” Rong Er mencoba menghindar, tetapi kakinya tersandung batu. Tubuhnya terlempar ke belakang. Melihat itu, seketika insting Jing Er mengambil alih: Ia melompat. Angin mendesis di telinganya ketika tubuhnya jatuh bebas. Jing Er menendang dinding tebing untuk mengubah arah lalu menembakkan salah satu jarumnya ke celah batu untuk menciptakan pijakan. Kemudian, ia melemparkan ikat pinggangnya. Tali kulit dengan kabel baja tipis itu melesat dan melilit pergelangan tangan Rong Er tepat sebelum tubuh gadis itu menghantam tebing. Rong Er terayun dan terbentur dinding batu, namun masih hidup. Dengan sigap Jing Er mendarat di sebuah tonjolan batu yang sempit dan segera menarik gadis itu ke sisinya. Wajah Rong Er pucat dan napasnya terengah-engah. Sementara itu, lima bayangan hitam berdiri di tepi jurang, bersiap untuk turun. Jing Er melihat ke bawah. Sekitar seratus meter di bawah mereka terdapat sebuah gua. Dengan pilihan yang sangat terbatas, ia menarik Rong Er mendekat. “Peluk aku,” katanya. Rong Er langsung melingkarkan tangannya di leher Jing Er. Mereka jatuh bebas untuk beberapa saat sebelum Jing Er menembakkan jarum ke dinding tebing beberapa kali untuk memperlambat momentum. Setelah melihat mulut gua, ia menendang dinding tebing dan mengubah arah tubuh mereka. Mereka berhasil mendarat dengan keras di tanah berpasir. “Mereka ada di dalam gua! Turun!” Terdengar teriakan dari atas. Jing Er dan Rong Er segera masuk ke lorong sempit yang berkelok menuju bagian dalam gunung. “Terima kasih,” ucap Rong Er sembari membungkuk ke arah Jing Er. “Hm.” Jing Er melirik gadis itu. Di dalam lorong sempit ini pencahayaan minim, namun ia masih bisa melihat beberapa luka di wajah dan tangan Rong Er. “Para pembunuh itu mengincar cincinku. Tapi ini adalah satu-satunya kenangan ibuku. Mana mungkin kuserahkan begitu saja?” ujar gadis itu sambil mengepalkan tangannya. Jing Er tidak sepenuhnya yakin dengan cerita Rong Er, namun ia tetap mengikuti gadis itu. Semakin jauh mereka masuk, semakin terasa energi kuno yang memenuhi lorong. Akhirnya, mereka tiba di sebuah ruangan kecil dengan kolam air biru misterius yang bercahaya. Pada dindingnya terdapat mural kuno yang menggambarkan seorang kultivator sedang menyegel sesuatu yang gelap. Di bawah gambar itu terdapat tulisan: “Segel Pembalik Takdir membutuhkan dua jiwa. Satu yang murni dan satu yang ternoda.” Belum selesai mengamati ruangan tersebut, dari depan lorong suara langkah kaki terdengar semakin dekat. Rong Er segera melepas cincin perak dengan batu semerah darah yang ia kenakan lalu menyerahkannya kepada Jing Er. “Tolong ambil dan sembunyikan ini. Jika mereka berhasil menangkapku, setidaknya mereka tidak akan mendapatkan cincin ini.” Jing Er memberi isyarat agar Rong Er diam. Kemudian, ia melangkah keluar dan melemparkan sekantong bubuk tidur ke lorong. Serbuk putih menyebar. Begitu melewati taburan serbuk itu, dua pembunuh langsung jatuh pingsan. Namun, pembunuh ketiga melompati kabut serbuk dengan pedang terhunus. Jing Er menghindar lalu menendang lutut pria itu hingga patah. Dua pembunuh lainnya segera muncul. Namun, sebelum Jing Er sempat bergerak, mereka tiba-tiba berhenti dengan tatapan kosong. Secara bersamaan, mereka mengarahkan pedang ke leher sendiri seperti kerasukan. “BERHENTI!” Rong Er muncul di pintu ruangan dengan tangan terangkat. Matanya bersinar hijau pucat. Salah satu pembunuh berhasil melepaskan diri dari pengaruhnya dan menatap gadis itu ketakutan. Rong Er hanya menggerakkan jarinya. Pria itu langsung terlempar ke dinding dan jatuh pingsan. “Hipnosis...” kata Rong Er dengan napas berat. “Teknik terlarang.” Cahaya hijau di matanya perlahan memudar. Tubuhnya terhuyung. Jing Er segera menangkap dan membopong gadis itu. Tak lama kemudian, ia menemukan sebuah bagian dinding kosong yang bergeser dan membuka lorong baru saat didorong. Udara segar berembus dari dalam. Mereka berjalan mengikuti lorong tersebut dan akhirnya keluar di sisi lain gunung. Di sana, Jing Er menemukan sebuah medali milik para pembunuh. Tertulis sebuah pesan: “Target: Rong Er. Dapatkan cincinnya. Jika gagal, bunuh.”Kapten Long mengantar mereka hingga bibir pantai. Dia tidak ikut memasuki lembah, sebab racun di udara dapat membunuh orang yang tidak memiliki perlindungan khusus. Dengan berat hati, dia menyerahkan beberapa perlengkapan perjalanan sebelum berpamitan.“Ke mana tujuanmu setelah ini, Kapten?” tanya Jing Er sambil menangkupkan tangan sebagai tanda terima kasih.Kapten Long menatap laut di belakang mereka. “Pulang. Kalau masih ada kesempatan, aku akan membangun The Storm Dancer yang baru. Kapal tua itu pantas mendapatkan penerus.”“Terima kasih atas semua bantuanmu,” ujar Jing Er. Rong Er dan Zen ikut membungkuk hormat.Kapten Long membalas dengan senyum tipis sebelum menaiki perahunya. Tak lama kemudian, sosoknya menghilang di balik kabut laut, meninggalkan ketiganya di hadapan lembah yang sunyi.Rong Er memandang pepohonan ungu yang bergoyang tanpa disentuh angin. Dari balik kabut, terdengar suara samar menyerupai bisikan yang memanggil namanya.Jing Er mengangkat tongkat naga, merasak
The Storm Dancer membelah lautan yang mulai diselimuti kegelapan. Angin malam bertiup kencang, membawa aroma garam dan hawa dingin yang menusuk kulit. Di dalam kabin kapten, Jing Er, Rong Er, dan Zen mengelilingi meja kayu yang dipenuhi tiga naskah kuno, sementara cahaya lilin bergetar setiap kali ombak menghantam lambung kapal.Jing Er meletakkan jimat milik Yin Ze di antara naskah-naskah tersebut. Simbol phoenix dengan satu mata tertutup terukir jelas di permukaannya, sama persis dengan lambang pada surat yang pernah diterima Rong Er. Tongkat naga di pinggangnya bergetar pelan, seolah memperingatkan bahwa sesuatu sedang mendekat.“Energinya semakin kuat,” ujar Jing Er. “Bahkan lautan ini tidak bisa menyembunyikan keberadaannya.”Rong Er menyentuh simbol spiral di dahinya. “Keseimbangan juga merasakannya. Dia gelisah sejak kita meninggalkan perpustakaan, seolah mengetahui sesuatu yang belum kita pahami.”Zen menarik kursi dan duduk di hadapan mereka. “Kalau begitu, berhenti menebak-n
Di dermaga kayu yang lapuk, seorang lelaki tua berjanggut panjang duduk memancing. Ia bahkan tidak menoleh ketika kapal merapat, seolah kedatangan mereka sudah diketahui sejak lama.“Sudah dua puluh tahun sejak wanita bermata seperti langit malam datang ke sini,” katanya santai. “Sekarang putrinya muncul, ditemani seorang pemuda yang membawa energi yang seharusnya tidak lagi ada di dunia.”Rong Er segera mendekat. “Anda mengenal ibu saya?”“Li Na datang mencari kebenaran, tetapi pulang membawa lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.” Lelaki tua itu akhirnya mengangkat wajah. Matanya kelabu seperti kabut di sekitar pulau. “Namaku Lao Wen, penjaga Perpustakaan Kuno. Jika kalian ingin masuk, buktikan dahulu bahwa niat kalian tidak bertentangan dengan pengetahuan yang hendak dicari.”Ia mengangkat tangan. Tiga batu muncul dari tanah, masing-masing memancarkan cahaya samar.Jing Er dan Rong Er meletakkan telapak tangan di atas dua batu, sementara Kapten Long memilih tetap menunggu di kap
Ujian PengorbananDi tempat lain, Rong Er berdiri di aula Klan Rong. Istana yang dulu megah kini dipenuhi cahaya hangat dan suara tawa. Li Na duduk di singgasana sebagai pemimpin, Yin Ze berdiri di sisinya, sementara Zen melayani mereka dengan senyum tenang.Namun tidak seorang pun mengenali Rong Er.“Itulah dunia tanpa dirimu,” bisik Kekacauan. “Ibumu tidak pernah mencari Segel. Kakakmu tidak pernah tersesat. Orang-orang yang kau cintai hidup bahagia.”Rong Er melihat Luo berjalan bersama wanita lain. Ia tampak bahagia. Dadanya terasa sesak.“Jadi... semua orang akan lebih baik jika aku tidak pernah lahir?”“Pilihan ada di tanganmu.”Rong Er menyeka air matanya. “Tidak. Kalau keberadaanku membawa penderitaan, aku akan menanggungnya. Aku tidak akan menghapus diriku hanya demi mendapatkan dunia yang terlihat sempurna.”Istana itu runtuh menjadi serpihan cahaya.Ujian BersamaJing Er dan Rong Er kembali berdiri berdampingan, kali ini di tepi jurang yang begitu dalam hingga dasarnya tida
Permukaannya tidak memantulkan wajah mereka. Sebaliknya, mereka melihat masa lalu.Mereka melihat Kekacauan sebagai entitas energi murni yang menjaga keseimbangan dunia. Para kultivator pertama takut pada kekuatannya dan memilih mengurungnya dalam Segel. Ketika sebagian energinya bocor, keseimbangan dunia mulai rusak sehingga ritual darah Phoenix dan kekuatan Naga dibuat untuk menahannya.Namun setiap ritual membuat Segel semakin rapuh.Rong Er melihat ibunya.Li Na berdiri di dalam cahaya ungu, menahan aliran energi Kekacauan dengan tubuhnya sendiri.“Selama aku di sini,” kata Li Na dalam penglihatan itu, “ia tidak akan bangkit sepenuhnya.”Kemudian tiga gambaran masa depan muncul.Pada masa depan pertama, ritual kesepuluh dilakukan. Segel menguat untuk sementara, tetapi lima puluh tahun kemudian ia pecah dan menghancurkan separuh dunia.Pada masa depan kedua, Kekacauan dibebaskan secara paksa. Ia mengamuk karena ribuan tahun penderitaan dan akhirnya berhasil ditenangkan, tetapi juta
Pintu Kuil Langit yang Hilang menutup dengan suara gemuruh. Cahaya dari luar lenyap, menyisakan koridor gelap yang hanya diterangi cahaya biru dari ukiran kuno di dinding. Jing Er dan Rong Er baru beberapa langkah masuk ketika suara retakan terdengar dari belakang mereka.Patung-patung batu yang selama berabad-abad berdiri diam mulai bergerak. Debu berjatuhan dari tubuh mereka, lalu mata hijau menyala satu demi satu. Dalam sekejap, para penjaga kuil mengangkat senjata dan menyerbu.“Jing Er!”Rong Er menunduk ketika sebuah pedang batu menyapu kepalanya. Jing Er menariknya ke samping, tetapi tiga patung lain sudah mengepung mereka. Koridor terlalu sempit untuk bergerak bebas, sementara setiap serangan membuat dinding kuil bergetar.“Kita tidak bisa terus mundur!” seru Rong Er.“Aku tahu!”Jing Er memutar tongkat naga dan menahan hantaman pertama. Lengannya langsung mati rasa. Patung-patung itu tidak memiliki qi seperti manusia, tetapi tubuh mereka diperkuat energi Segel sehingga setiap







