Share

Segel Pembalik Takdir
Segel Pembalik Takdir
Author: Dazai

Bab 1

Author: Dazai
last update publish date: 2026-08-27 10:29:39

Di Tebing Naga Terbang, kabut biru pekat menyelimuti hutan purba. Di tengah bayang-bayang pepohonan, tatapan Jing Er tertuju pada seekor Misty Stag yang telah ia kuntit selama tiga hari. Tanduk rusa kabut mistis itu dipercaya mampu menyembuhkan seribu racun. Darahnya juga dapat memperkuat qi seseorang, setara dengan hasil latihan selama sepuluh tahun hanya dalam semalam.

Jing Er berdiri di atas cabang pohon Ironwood, tiga puluh meter dari tanah. Jubah hitamnya menyatu dengan bayangan. Rambut panjangnya diikat rendah menggunakan pita hitam khas Klan Pengemis Timur. Matanya yang berwarna tembaga tua terus mengikuti pergerakan rusa itu dengan fokus.

“Tinggal dua puluh langkah lagi menuju jebakan,” batin Jing Er. Tangannya yang bersarung kulit hitam menggenggam tiga jarum perak tipis.

Tiba-tiba, arah angin berubah. Rusa itu mengangkat kepala. Hidungnya bergerak-gerak, mencium sesuatu yang mencurigakan.

Jing Er memperlambat detak jantungnya dengan teknik hasil latihan dari gurunya. Satu tusukan tepat di leher saja sudah lebih dari cukup untuk membuat rusa itu pingsan tanpa rasa sakit. Setelah itu, ia hanya akan mengambil sedikit darah dan sepotong kecil tanduk sebelum melepaskannya kembali. Jika berhasil mendapatkan tanduk rusa itu, ia berencana akan menukarnya dengan ramuan untuk gurunya yang selalu batuk darah.

Namun, alam ternyata memiliki rencana lain. Dari arah barat terdengar suara tertahan yang disusul oleh suara gesekan kain dan napas seseorang yang tergesa-gesa. Beberapa detik kemudian, terdengar teriakan seorang perempuan muda.

“Jangan mendekat!”

Rusa kabut itu langsung melesat dan menghilang ke dalam kabut.

Tiga hari menguntit… Hilang dalam tiga detik.

Jing Er menghela napas panjang. Disaat yang bersamaan, hidungnya menangkap bau besi dan belerang: Bahan peledak ilegal.

“Hanya organisasi bawah tanah tertentu yang biasa menggunakan bahan seperti itu,” pikir Jing Er.

Dengan gerakan hampir tak terlihat, Jing Er melompat dari satu pohon ke pohon lainnya, mendekati sumber suara. Bukan karena ia ingin ikut campur. Ia hanya penasaran.

Dari balik dedaunan, Jing Er melihat seorang gadis berdiri dengan punggung menghadap jurang sedalam tiga ratus meter. Gaun hijaunya robek di beberapa bagian. Rambut hitamnya terlihat berantakan dan terurai sebagian. Di tangannya terdapat pedang pendek yang memancarkan cahaya kehijauan.

Lima lelaki berseragam hitam mengepung gadis itu. Di dada mereka terdapat simbol burung phoenix yang terbakar. Jing Er mengenali simbol itu sebagai milik Paviliun Bayangan, organisasi pembunuh bayaran terbesar di dunia kultivasi.

“Nona Rong er,” kata lelaki yang berdiri paling depan. “Kami hanya menginginkan cincin itu.”

Gadis yang ternyata bernama Rong Er itu tersenyum, walau senyumnya tidak sampai ke mata.

“Cincin apa? Aku hanya gadis biasa.” jawabnya.

“Kami tahu kau adalah putri Klan Rong. Kau membawa Phoenix Revival Ring, warisan dari ibumu.” jelas salah satu lelaki di ujung.

Klan Rong adalah salah satu dari Tiga Klan Besar. Jing Er seharusnya pergi. Mencoba menolong dan bertarung melawan Paviliun Bayangan hanya akan menarik perhatian yang tidak diinginkan. Namun, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan membuatnya tetap berada di sana.

Pria yang sepertinya pemimpin di kelompok itu memberikan peringatan terakhir dengan tangan bersinar merah, “Cepat serahkan cincin itu, nona Rong.”

Rong Er melirik ke belakang, melihat jurang. Kemudian, pandangannya kembali menyapu hutan dan berhenti tepat di tempat Jing Er bersembunyi. Untuk sesaat, mata mereka bertemu.

Jing Er merasa ada sesuatu yang aneh dengan ekspresi dan sikap putri Klan Rong itu. Yang ia lihat bukan ketakutan, melainkan perhitungan: Gadis itu sedang berpura-pura terpojok.

Namun, sepertinya perhitungan Rong Er salah. Pemimpin kelompok itu langsung melancarkan serangan. Telapak tangan merah menyala melesat ke arah dada gadis itu.

"Akh!” Rong Er mencoba menghindar, tetapi kakinya tersandung batu. Tubuhnya terlempar ke belakang.

Melihat itu, seketika insting Jing Er mengambil alih: Ia melompat. Angin mendesis di telinganya ketika tubuhnya jatuh bebas.

Jing Er menendang dinding tebing untuk mengubah arah lalu menembakkan salah satu jarumnya ke celah batu untuk menciptakan pijakan. Kemudian, ia melemparkan ikat pinggangnya. Tali kulit dengan kabel baja tipis itu melesat dan melilit pergelangan tangan Rong Er tepat sebelum tubuh gadis itu menghantam tebing.

Rong Er terayun dan terbentur dinding batu, namun masih hidup. Dengan sigap Jing Er mendarat di sebuah tonjolan batu yang sempit dan segera menarik gadis itu ke sisinya. Wajah Rong Er pucat dan napasnya terengah-engah.

Sementara itu, lima bayangan hitam berdiri di tepi jurang, bersiap untuk turun. Jing Er melihat ke bawah. Sekitar seratus meter di bawah mereka terdapat sebuah gua. Dengan pilihan yang sangat terbatas, ia menarik Rong Er mendekat.

“Peluk aku,” katanya.

Rong Er langsung melingkarkan tangannya di leher Jing Er.

Mereka jatuh bebas untuk beberapa saat sebelum Jing Er menembakkan jarum ke dinding tebing beberapa kali untuk memperlambat momentum. Setelah melihat mulut gua, ia menendang dinding tebing dan mengubah arah tubuh mereka. Mereka berhasil mendarat dengan keras di tanah berpasir.

“Mereka ada di dalam gua! Turun!” Terdengar teriakan dari atas.

Jing Er dan Rong Er segera masuk ke lorong sempit yang berkelok menuju bagian dalam gunung.

“Terima kasih,” ucap Rong Er sembari membungkuk ke arah Jing Er.

“Hm.” Jing Er melirik gadis itu. Di dalam lorong sempit ini pencahayaan minim, namun ia masih bisa melihat beberapa luka di wajah dan tangan Rong Er.

“Para pembunuh itu mengincar cincinku. Tapi ini adalah satu-satunya kenangan ibuku. Mana mungkin kuserahkan begitu saja?” ujar gadis itu sambil mengepalkan tangannya.

Jing Er tidak sepenuhnya yakin dengan cerita Rong Er, namun ia tetap mengikuti gadis itu.

Semakin jauh mereka masuk, semakin terasa energi kuno yang memenuhi lorong. Akhirnya, mereka tiba di sebuah ruangan kecil dengan kolam air biru misterius yang bercahaya. Pada dindingnya terdapat mural kuno yang menggambarkan seorang kultivator sedang menyegel sesuatu yang gelap. Di bawah gambar itu terdapat tulisan:

“Segel Pembalik Takdir membutuhkan dua jiwa. Satu yang murni dan satu yang ternoda.”

Belum selesai mengamati ruangan tersebut, dari depan lorong suara langkah kaki terdengar semakin dekat. Rong Er segera melepas cincin perak dengan batu semerah darah yang ia kenakan lalu menyerahkannya kepada Jing Er.

“Tolong ambil dan sembunyikan ini. Jika mereka berhasil menangkapku, setidaknya mereka tidak akan mendapatkan cincin ini.”

Jing Er memberi isyarat agar Rong Er diam. Kemudian, ia melangkah keluar dan melemparkan sekantong bubuk tidur ke lorong. Serbuk putih menyebar.

Begitu melewati taburan serbuk itu, dua pembunuh langsung jatuh pingsan. Namun, pembunuh ketiga melompati kabut serbuk dengan pedang terhunus. Jing Er menghindar lalu menendang lutut pria itu hingga patah.

Dua pembunuh lainnya segera muncul. Namun, sebelum Jing Er sempat bergerak, mereka tiba-tiba berhenti dengan tatapan kosong. Secara bersamaan, mereka mengarahkan pedang ke leher sendiri seperti kerasukan.

“BERHENTI!”

Rong Er muncul di pintu ruangan dengan tangan terangkat. Matanya bersinar hijau pucat. Salah satu pembunuh berhasil melepaskan diri dari pengaruhnya dan menatap gadis itu ketakutan. Rong Er hanya menggerakkan jarinya. Pria itu langsung terlempar ke dinding dan jatuh pingsan.

“Hipnosis...” kata Rong Er dengan napas berat.

“Teknik terlarang.” Cahaya hijau di matanya perlahan memudar. Tubuhnya terhuyung.

Jing Er segera menangkap dan membopong gadis itu. Tak lama kemudian, ia menemukan sebuah bagian dinding kosong yang bergeser dan membuka lorong baru saat didorong. Udara segar berembus dari dalam.

Mereka berjalan mengikuti lorong tersebut dan akhirnya keluar di sisi lain gunung. Di sana, Jing Er menemukan sebuah medali milik para pembunuh. Tertulis sebuah pesan:

“Target: Rong Er. Dapatkan cincinnya. Jika gagal, bunuh.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Segel Pembalik Takdir    Bab 5

    Jing Er berhenti melawan. Ia menancapkan tongkat naga ke tanah. Gelombang energi biru menyebar tanpa suara. Para pengejar mendadak membeku, wajah mereka kosong seperti kehilangan kesadaran. Satu demi satu senjata terlepas dari tangan mereka, lalu tubuh mereka berbalik dan berjalan menjauh tanpa mengetahui ke mana mereka pergi. Hanya Yin Ze yang masih berdiri. “Apa... yang kau lakukan?” tanyanya gemetar.“Warisan ini,” Jing Er membuka mata lalu mencabut tongkat dari tanah. “membuat mereka melihat sesuatu yang paling mereka takuti.”Sebelum Yin Ze sempat menjawab, sebuah panah hitam melesat dari kegelapan. Jing Er menarik tubuh Yin Ze ke samping dan panah itu menancap di batang pohon. Sosok-sosok baru keluar dari hutan. Mereka mengenakan jubah abu-abu dengan topeng kayu kosong tanpa ekspresi. Wajah Yin Ze langsung pucat. “Pengawas,” bisiknya. “Penjaga asli Segel.” Salah satu dari mereka mengangkat tangannya. Suaranya terdengar seperti batu yang bergesekan. “Kunci telah dibangunkan

  • Segel Pembalik Takdir    Bab 4

    Mata rubi itu perlahan meredup. Namun sebelum benar-benar padam, suara lain yang jauh lebih berat dan jauh lebih tua muncul dari dalam kegelapan. Suara itu membuat seluruh hutan seakan kehilangan suara.“Dan aku…” Jing Er membeku. “…sangat lapar.” Cahaya pada tongkat naga akhirnya menghilang. Hutan kembali sunyi, tetapi kali ini Jing Er tidak merasa tenang. Dari kejauhan terdengar suara pasukan yang masih mengejar mereka. Rong Er menatap Jing Er tanpa berkata-kata, sementara pria muda itu hanya menggenggam tongkat naga dengan erat. “Apa yang sebenarnya telah kita bangunkan?” tanya Rong Er. Jing Er tidak menjawab. Ia menatap hutan di arah timur, tempat peta tadi menunjuk. Untuk pertama kalinya, ancaman Paviliun Bayangan dan Klan Rong terasa jauh lebih kecil dibandingkan sesuatu yang kini menunggu di balik Segel. Di antara pepohonan, suara langkah para pengejar semakin dekat. Jing Er akhirnya berbalik. “Kita harus pergi dari sini.” Mereka kembali berlari menuju timur, tanpa meng

  • Segel Pembalik Takdir    Bab 3

    Tiba-tiba suara tangisan dari dalam gua berubah menjadi tawa rendah. Api unggun bergetar tertiup angin yang entah datang dari mana, sementara bisikan asing menggema dari lorong gelap. “Roh penasaran?” tanya Rong Er. “Mungkin sesuatu yang lebih buruk,” jawab Jing Er. Mereka berdiri dan mengikuti sumber suara. Di dinding lorong terlihat simbol spiral ganda yang bersinar redup. Rong Er berhenti ketika melihatnya. “Simbol Segel.” Bisikan kembali terdengar. “Penerus…” Rong Er menatap lorong di depan mereka. “Akhirnya datang…” Suara itu semakin jelas. “Darahnya cocok…” Rong Er berjalan seperti tersihir. Jing Er segera mengejarnya. Lorong tersebut berakhir di sebuah ruangan bundar. Di tengahnya terdapat kolam air hitam yang sama sekali tidak memantulkan cahaya, sementara tujuh kerangka duduk bersila mengelilinginya. Cahaya biru menyala di rongga mata mereka. Salah satu kerangka perlahan mengangkat kepala. “Putri…” Suara tulangnya berderak. “Darah Phoenix…” Rong Er mel

  • Segel Pembalik Takdir    Bab 2

    Saat Rong Er kembali sadar, matahari mulai tenggelam di balik pegunungan. Mereka beristirahat di sebuah tempat tersembunyi tidak jauh dari sisi gunung. Jing Er tetap berjaga sambil memperhatikan hutan, sementara Rong Er duduk bersandar pada batu dan akhirnya membuka suara. “Aku sudah mencari murid Si Tua Pemikul Arak selama enam bulan.” Jing Er menoleh. “Aku membutuhkan bantuanmu.” Rong Er menjelaskan bahwa Paviliun Bayangan akan terus memburunya selama Phoenix Revival Ring masih berada di tangannya. Ia mengetahui bahwa satu-satunya orang yang mungkin mampu membantunya adalah murid Si Tua Pemikul Arak yang sering berburu di Tebing Naga Terbang. “Aku mendapatkan informasi itu dari pengawal pribadi Klan Rong bernama Zen,” katanya. “Maafkan aku. Aku tidak punya pilihan lain.” Rong Er kembali membungkuk. Jing Er hanya menatapnya sampai gadis itu merasa kikuk dan perlahan meluruskan tubuh. “Kau suka sekali membungkuk.” Rong Er berdeham. “Setidaknya aku tahu cara berterima

  • Segel Pembalik Takdir    Bab 1

    Di Tebing Naga Terbang, kabut biru pekat menyelimuti hutan purba. Di tengah bayang-bayang pepohonan, tatapan Jing Er tertuju pada seekor Misty Stag yang telah ia kuntit selama tiga hari. Tanduk rusa kabut mistis itu dipercaya mampu menyembuhkan seribu racun. Darahnya juga dapat memperkuat qi seseorang, setara dengan hasil latihan selama sepuluh tahun hanya dalam semalam. Jing Er berdiri di atas cabang pohon Ironwood, tiga puluh meter dari tanah. Jubah hitamnya menyatu dengan bayangan. Rambut panjangnya diikat rendah menggunakan pita hitam khas Klan Pengemis Timur. Matanya yang berwarna tembaga tua terus mengikuti pergerakan rusa itu dengan fokus. “Tinggal dua puluh langkah lagi menuju jebakan,” batin Jing Er. Tangannya yang bersarung kulit hitam menggenggam tiga jarum perak tipis. Tiba-tiba, arah angin berubah. Rusa itu mengangkat kepala. Hidungnya bergerak-gerak, mencium sesuatu yang mencurigakan. Jing Er memperlambat detak jantungnya dengan teknik hasil latihan dari gurunya. Sat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status