LOGINJing Er berhenti melawan. Ia menancapkan tongkat naga ke tanah.
Gelombang energi biru menyebar tanpa suara. Para pengejar mendadak membeku, wajah mereka kosong seperti kehilangan kesadaran. Satu demi satu senjata terlepas dari tangan mereka, lalu tubuh mereka berbalik dan berjalan menjauh tanpa mengetahui ke mana mereka pergi. Hanya Yin Ze yang masih berdiri. “Apa... yang kau lakukan?” tanyanya gemetar.“Warisan ini,” Jing Er membuka mata lalu mencabut tongkat dari tanah. “membuat mereka melihat sesuatu yang paling mereka takuti.”
Sebelum Yin Ze sempat menjawab, sebuah panah hitam melesat dari kegelapan. Jing Er menarik tubuh Yin Ze ke samping dan panah itu menancap di batang pohon. Sosok-sosok baru keluar dari hutan. Mereka mengenakan jubah abu-abu dengan topeng kayu kosong tanpa ekspresi.
Wajah Yin Ze langsung pucat. “Pengawas,” bisiknya. “Penjaga asli Segel.” Salah satu dari mereka mengangkat tangannya. Suaranya terdengar seperti batu yang bergesekan. “Kunci telah dibangunkan. Pemegang Kunci harus dimusnahkan.” Yin Ze mendorong Jing Er dan Rong Er menjauh. “LARI!” “Kakak!” “Aku akan menahan mereka!” teriak Yin Ze. Jing Er menggenggam tangan Rong Er dan menariknya ke timur. Di belakang mereka, suara Yin Ze masih terdengar untuk terakhir kalinya. “JANGAN BUKA SEGELNYA! ITU BUKAN UNTUK KITA!” Kemudian semuanya sunyi. Jing Er dan Rong Er terus berlari sampai paru-paru mereka terasa terbakar. Mereka akhirnya berhenti di tepi sebuah sungai yang mengalir deras, sementara suara pertempuran dari kejauhan perlahan menghilang. Rong Er menunduk sambil menangis, masih memikirkan sosok kakaknya yang tertinggal di belakang. “Dia mungkin sudah mati...” ucapnya lirih. Jing Er meletakkan tongkat naga di tanah. “Tapi dia menyelamatkan kita.” “Kenapa?” Rong Er mengangkat wajahnya yang basah. “Setelah semua yang dia lakukan?” “Karena pada akhirnya, dia tetap saudaramu.” Jing Er terdiam sejenak. “Atau mungkin karena dia tahu sesuatu yang belum kita ketahui.” Mereka menyeberangi sungai sebelum melanjutkan perjalanan. Di seberang, hutan terasa jauh lebih gelap dan sunyi, tetapi tongkat naga kembali memancarkan cahaya yang menunjukkan arah timur. Fajar mulai muncul ketika mereka menemukan sebuah gua kecil di antara tebing. Mereka masuk tanpa banyak bicara, lalu Jing Er memeriksa ukiran pada tongkat naga dengan cahaya matahari pertama yang masuk dari celah batu. Tiga kata terlihat jelas pada permukaannya: Penjaga. Kunci. Pengorbanan. Rong Er mendekat. “Apa yang akan kita lakukan saat sampai di sana?” “Kita lihat dan dengarkan dulu,” jawab Jing Er. Ia menepuk kepala naga pada tongkat itu. “Suara guruku akan membimbingku.”Rong Er menatapnya ragu. “Kau sangat mempercayainya.”
“Dia satu-satunya keluarga yang kupunya.” Suara Jing Er terdengar parau.Untuk beberapa saat, Rong Er hanya diam sebelum perlahan meletakkan tangannya di atas tangan Jing Er. “Sekarang kau punya dua.”
Jing Er menatapnya. Rong Er tersenyum kecil. “Bersama-sama.” “Bersama-sama,” ulang Jing Er. Seolah memahami perkataan mereka, tongkat naga tiba-tiba berdiri tegak. Cahaya merah menyala dari kepala naga dan memenuhi seluruh gua, sementara puluhan suara jiwa bergema dari dalamnya. “MEREKA DATANG!” “SIAPKAN DIRIMU!” Tanah di luar gua mendadak berguncang hebat. Suara longsoran batu terdengar dari arah timur, disusul perubahan warna langit menjadi ungu tua dengan kilatan hijau yang bergerak seperti ular raksasa. Jing Er langsung berdiri. “Kita harus bergerak. Sekarang!” Mereka berlari keluar dari gua. Belum jauh, tanah kembali bergetar dan retakan besar muncul di hadapan mereka. Dari balik kabut, sebuah sosok raksasa bangkit perlahan. Tubuhnya tersusun dari batu hitam dan cahaya kehijauan. Tujuh mata hijau terbuka satu demi satu di kepalanya, menatap Jing Er dan Rong Er tanpa berkedip. “Penjaga Segel...” bisik Rong Er. Namun sebelum Jing Er sempat menjawab, sosok lain muncul di belakang makhluk raksasa itu. Seorang wanita berdiri di tengah kabut. Rambutnya putih panjang, kulitnya pucat, dan matanya berwarna obsidian. Di dahinya terdapat bekas luka yang sama persis dengan milik Rong Er. Wanita itu tersenyum. “Putriku... aku sudah menunggumu.” Tubuh Rong Er membeku. “Ibu...?” bisiknya. Wanita itu membuka kedua tangannya. “Kemari, sayang.” Rong Er hampir melangkah maju, tetapi tongkat naga di tangan Jing Er mendadak bergetar liar. “BUKAN!” Jing Er menahan lengan Rong Er. “Jangan mendekat.” Wanita itu berhenti tersenyum. Kemudian ia tertawa. Suara lembut seorang ibu berubah menjadi suara rendah yang bergema dari segala penjuru hutan. Kabut di sekelilingnya berputar, dan tujuh mata hijau Penjaga Segel menyala semakin terang. “Ya, sayang,” katanya. “Ibu sudah pulang.” Wajah Rong Er berubah pucat. Wanita itu kemudian menatap Jing Er. Tatapannya tidak lagi memiliki kehangatan sedikit pun. “Sekarang...” ujarnya perlahan, “berikan aku Kuncinya.” Tangannya terangkat dan menunjuk tongkat naga di tangan Jing Er. Jing Er mundur satu langkah. Saat itu, ia akhirnya memahami sesuatu yang selama ini belum pernah mereka pikirkan: Apa pun yang terkunci di dalam Segel tidak hanya memiliki kekuatan untuk membebaskan dirinya, tapi juga mampu membaca keinginan manusia. Ia tahu wajah siapa yang paling ingin dilihat Rong Er. Ia tahu suara siapa yang paling ingin didengar. Dan sekarang, makhluk itu telah memilih wajah seorang ibu untuk menipu putrinya sendiri. Rong Er menatap wanita itu dengan air mata menggenang di matanya. “Kalau kau bukan ibuku... siapa kau?” Senyuman wanita itu melebar. “Aku?” Kabut hitam mulai keluar dari tubuhnya. “Aku adalah sesuatu yang sudah menunggumu jauh sebelum kau dilahirkan.” Tongkat naga kembali bergetar keras. “JANGAN PERCAYA!” Penjaga Segel mengangkat kedua tangannya. Seluruh hutan bergetar, sementara retakan di tanah semakin melebar. Jing Er menggenggam tongkat itu erat-erat. Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi merasa sedang menuju Segel Pembalik Takdir. Ia merasa sedang berjalan menuju mulut seekor makhluk yang kelaparan. Dan makhluk itu telah membuka mulutnya untuk mereka. “Rong Er,” katanya pelan. Rong Er menoleh. “Jangan lihat matanya.” Namun semuanya sudah terlambat. Mata obsidian wanita itu berubah menjadi hitam pekat, lalu sebuah suara menggema dari dalam kepala mereka. “Pulanglah, Putriku.” Rong Er terdiam. Jing Er mencoba menariknya mundur, tetapi tubuh Rong Er tidak bergerak. Di kejauhan, tujuh mata Penjaga Segel menyala bersamaan. Dari dalam tongkat naga terdengar jeritan puluhan jiwa. “SEGEL TELAH MENEMUKAN KUNCINYA!” "LARI!” Jing Er menarik Rong Er yang masih membeku. Tangan wanita yang mengaku sebagai ibunya telah berubah menjadi tentakel hitam yang menyambar dari belakang, hampir meraih tubuh Rong Er sebelum Jing Er menyeretnya menjauh. Mereka berlari sekuat tenaga, sementara tawa wanita itu menggema di antara pepohonan. “Jangan percaya matamu!” teriak Jing Er. Wanita itu tertawa semakin keras. Suaranya pecah menjadi ribuan suara yang datang dari segala arah, membuat hutan seolah dipenuhi manusia tak kasatmata. Tubuhnya kemudian meleleh menjadi asap ungu dengan tujuh mata yang terbuka di dalamnya, sementara Penjaga Segel bergerak maju dan setiap langkahnya membuat tanah berguncang. “Aku ada di dalam pikiran kalian!” raung suara itu. “Aku adalah Segel!” Asap ungu mengejar mereka dengan cepat. Pepohonan yang tersentuh asap langsung menghitam dan hancur, seolah dimakan oleh sesuatu yang tidak terlihat. Rong Er terus berlari meski napasnya mulai tersengal dan kakinya hampir kehilangan tenaga. “Kita tidak bisa mengalahkannya!” teriak Rong Er. “Kita tidak perlu mengalahkannya!” Jing Er menoleh sekilas. “Kita hanya perlu pergi!” Tiba-tiba tongkat naga di tangan Jing Er memancarkan cahaya emas. Sebuah perisai energi muncul di belakang mereka dan menahan gelombang asap ungu yang hampir menyentuh tubuh mereka. Namun kekuatan itu langsung menguras tenaga Jing Er. “Jangan berhenti!” seru Jing Er sambil menahan rasa sakit. “Ada kota bawah tanah dekat sini!” Rong Er menatapnya bingung. “Kota bawah tanah?” “Pasar Bayangan.”Kapten Long mengantar mereka hingga bibir pantai. Dia tidak ikut memasuki lembah, sebab racun di udara dapat membunuh orang yang tidak memiliki perlindungan khusus. Dengan berat hati, dia menyerahkan beberapa perlengkapan perjalanan sebelum berpamitan.“Ke mana tujuanmu setelah ini, Kapten?” tanya Jing Er sambil menangkupkan tangan sebagai tanda terima kasih.Kapten Long menatap laut di belakang mereka. “Pulang. Kalau masih ada kesempatan, aku akan membangun The Storm Dancer yang baru. Kapal tua itu pantas mendapatkan penerus.”“Terima kasih atas semua bantuanmu,” ujar Jing Er. Rong Er dan Zen ikut membungkuk hormat.Kapten Long membalas dengan senyum tipis sebelum menaiki perahunya. Tak lama kemudian, sosoknya menghilang di balik kabut laut, meninggalkan ketiganya di hadapan lembah yang sunyi.Rong Er memandang pepohonan ungu yang bergoyang tanpa disentuh angin. Dari balik kabut, terdengar suara samar menyerupai bisikan yang memanggil namanya.Jing Er mengangkat tongkat naga, merasak
The Storm Dancer membelah lautan yang mulai diselimuti kegelapan. Angin malam bertiup kencang, membawa aroma garam dan hawa dingin yang menusuk kulit. Di dalam kabin kapten, Jing Er, Rong Er, dan Zen mengelilingi meja kayu yang dipenuhi tiga naskah kuno, sementara cahaya lilin bergetar setiap kali ombak menghantam lambung kapal.Jing Er meletakkan jimat milik Yin Ze di antara naskah-naskah tersebut. Simbol phoenix dengan satu mata tertutup terukir jelas di permukaannya, sama persis dengan lambang pada surat yang pernah diterima Rong Er. Tongkat naga di pinggangnya bergetar pelan, seolah memperingatkan bahwa sesuatu sedang mendekat.“Energinya semakin kuat,” ujar Jing Er. “Bahkan lautan ini tidak bisa menyembunyikan keberadaannya.”Rong Er menyentuh simbol spiral di dahinya. “Keseimbangan juga merasakannya. Dia gelisah sejak kita meninggalkan perpustakaan, seolah mengetahui sesuatu yang belum kita pahami.”Zen menarik kursi dan duduk di hadapan mereka. “Kalau begitu, berhenti menebak-n
Di dermaga kayu yang lapuk, seorang lelaki tua berjanggut panjang duduk memancing. Ia bahkan tidak menoleh ketika kapal merapat, seolah kedatangan mereka sudah diketahui sejak lama.“Sudah dua puluh tahun sejak wanita bermata seperti langit malam datang ke sini,” katanya santai. “Sekarang putrinya muncul, ditemani seorang pemuda yang membawa energi yang seharusnya tidak lagi ada di dunia.”Rong Er segera mendekat. “Anda mengenal ibu saya?”“Li Na datang mencari kebenaran, tetapi pulang membawa lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.” Lelaki tua itu akhirnya mengangkat wajah. Matanya kelabu seperti kabut di sekitar pulau. “Namaku Lao Wen, penjaga Perpustakaan Kuno. Jika kalian ingin masuk, buktikan dahulu bahwa niat kalian tidak bertentangan dengan pengetahuan yang hendak dicari.”Ia mengangkat tangan. Tiga batu muncul dari tanah, masing-masing memancarkan cahaya samar.Jing Er dan Rong Er meletakkan telapak tangan di atas dua batu, sementara Kapten Long memilih tetap menunggu di kap
Ujian PengorbananDi tempat lain, Rong Er berdiri di aula Klan Rong. Istana yang dulu megah kini dipenuhi cahaya hangat dan suara tawa. Li Na duduk di singgasana sebagai pemimpin, Yin Ze berdiri di sisinya, sementara Zen melayani mereka dengan senyum tenang.Namun tidak seorang pun mengenali Rong Er.“Itulah dunia tanpa dirimu,” bisik Kekacauan. “Ibumu tidak pernah mencari Segel. Kakakmu tidak pernah tersesat. Orang-orang yang kau cintai hidup bahagia.”Rong Er melihat Luo berjalan bersama wanita lain. Ia tampak bahagia. Dadanya terasa sesak.“Jadi... semua orang akan lebih baik jika aku tidak pernah lahir?”“Pilihan ada di tanganmu.”Rong Er menyeka air matanya. “Tidak. Kalau keberadaanku membawa penderitaan, aku akan menanggungnya. Aku tidak akan menghapus diriku hanya demi mendapatkan dunia yang terlihat sempurna.”Istana itu runtuh menjadi serpihan cahaya.Ujian BersamaJing Er dan Rong Er kembali berdiri berdampingan, kali ini di tepi jurang yang begitu dalam hingga dasarnya tida
Permukaannya tidak memantulkan wajah mereka. Sebaliknya, mereka melihat masa lalu.Mereka melihat Kekacauan sebagai entitas energi murni yang menjaga keseimbangan dunia. Para kultivator pertama takut pada kekuatannya dan memilih mengurungnya dalam Segel. Ketika sebagian energinya bocor, keseimbangan dunia mulai rusak sehingga ritual darah Phoenix dan kekuatan Naga dibuat untuk menahannya.Namun setiap ritual membuat Segel semakin rapuh.Rong Er melihat ibunya.Li Na berdiri di dalam cahaya ungu, menahan aliran energi Kekacauan dengan tubuhnya sendiri.“Selama aku di sini,” kata Li Na dalam penglihatan itu, “ia tidak akan bangkit sepenuhnya.”Kemudian tiga gambaran masa depan muncul.Pada masa depan pertama, ritual kesepuluh dilakukan. Segel menguat untuk sementara, tetapi lima puluh tahun kemudian ia pecah dan menghancurkan separuh dunia.Pada masa depan kedua, Kekacauan dibebaskan secara paksa. Ia mengamuk karena ribuan tahun penderitaan dan akhirnya berhasil ditenangkan, tetapi juta
Pintu Kuil Langit yang Hilang menutup dengan suara gemuruh. Cahaya dari luar lenyap, menyisakan koridor gelap yang hanya diterangi cahaya biru dari ukiran kuno di dinding. Jing Er dan Rong Er baru beberapa langkah masuk ketika suara retakan terdengar dari belakang mereka.Patung-patung batu yang selama berabad-abad berdiri diam mulai bergerak. Debu berjatuhan dari tubuh mereka, lalu mata hijau menyala satu demi satu. Dalam sekejap, para penjaga kuil mengangkat senjata dan menyerbu.“Jing Er!”Rong Er menunduk ketika sebuah pedang batu menyapu kepalanya. Jing Er menariknya ke samping, tetapi tiga patung lain sudah mengepung mereka. Koridor terlalu sempit untuk bergerak bebas, sementara setiap serangan membuat dinding kuil bergetar.“Kita tidak bisa terus mundur!” seru Rong Er.“Aku tahu!”Jing Er memutar tongkat naga dan menahan hantaman pertama. Lengannya langsung mati rasa. Patung-patung itu tidak memiliki qi seperti manusia, tetapi tubuh mereka diperkuat energi Segel sehingga setiap







