Share

Bab 5

Author: Dazai
last update publish date: 2026-08-27 10:41:47

Jing Er berhenti melawan. Ia menancapkan tongkat naga ke tanah.

Gelombang energi biru menyebar tanpa suara. Para pengejar mendadak membeku, wajah mereka kosong seperti kehilangan kesadaran. Satu demi satu senjata terlepas dari tangan mereka, lalu tubuh mereka berbalik dan berjalan menjauh tanpa mengetahui ke mana mereka pergi. Hanya Yin Ze yang masih berdiri.

“Apa... yang kau lakukan?” tanyanya gemetar.

“Warisan ini,” Jing Er membuka mata lalu mencabut tongkat dari tanah. “membuat mereka melihat sesuatu yang paling mereka takuti.”

Sebelum Yin Ze sempat menjawab, sebuah panah hitam melesat dari kegelapan. Jing Er menarik tubuh Yin Ze ke samping dan panah itu menancap di batang pohon. Sosok-sosok baru keluar dari hutan. Mereka mengenakan jubah abu-abu dengan topeng kayu kosong tanpa ekspresi.

Wajah Yin Ze langsung pucat.

“Pengawas,” bisiknya. “Penjaga asli Segel.”

Salah satu dari mereka mengangkat tangannya. Suaranya terdengar seperti batu yang bergesekan.

“Kunci telah dibangunkan. Pemegang Kunci harus dimusnahkan.”

Yin Ze mendorong Jing Er dan Rong Er menjauh.

“LARI!”

“Kakak!”

“Aku akan menahan mereka!” teriak Yin Ze.

Jing Er menggenggam tangan Rong Er dan menariknya ke timur. Di belakang mereka, suara Yin Ze masih terdengar untuk terakhir kalinya.

“JANGAN BUKA SEGELNYA! ITU BUKAN UNTUK KITA!”

Kemudian semuanya sunyi.

Jing Er dan Rong Er terus berlari sampai paru-paru mereka terasa terbakar. Mereka akhirnya berhenti di tepi sebuah sungai yang mengalir deras, sementara suara pertempuran dari kejauhan perlahan menghilang. Rong Er menunduk sambil menangis, masih memikirkan sosok kakaknya yang tertinggal di belakang.

“Dia mungkin sudah mati...” ucapnya lirih.

Jing Er meletakkan tongkat naga di tanah. “Tapi dia menyelamatkan kita.”

“Kenapa?” Rong Er mengangkat wajahnya yang basah. “Setelah semua yang dia lakukan?”

“Karena pada akhirnya, dia tetap saudaramu.” Jing Er terdiam sejenak. “Atau mungkin karena dia tahu sesuatu yang belum kita ketahui.”

Mereka menyeberangi sungai sebelum melanjutkan perjalanan. Di seberang, hutan terasa jauh lebih gelap dan sunyi, tetapi tongkat naga kembali memancarkan cahaya yang menunjukkan arah timur.

Fajar mulai muncul ketika mereka menemukan sebuah gua kecil di antara tebing. Mereka masuk tanpa banyak bicara, lalu Jing Er memeriksa ukiran pada tongkat naga dengan cahaya matahari pertama yang masuk dari celah batu.

Tiga kata terlihat jelas pada permukaannya: Penjaga. Kunci. Pengorbanan.

Rong Er mendekat. “Apa yang akan kita lakukan saat sampai di sana?”

“Kita lihat dan dengarkan dulu,” jawab Jing Er. Ia menepuk kepala naga pada tongkat itu. “Suara guruku akan membimbingku.”

Rong Er menatapnya ragu. “Kau sangat mempercayainya.”

“Dia satu-satunya keluarga yang kupunya.” Suara Jing Er terdengar parau.

Untuk beberapa saat, Rong Er hanya diam sebelum perlahan meletakkan tangannya di atas tangan Jing Er. “Sekarang kau punya dua.”

Jing Er menatapnya.

Rong Er tersenyum kecil. “Bersama-sama.”

“Bersama-sama,” ulang Jing Er.

Seolah memahami perkataan mereka, tongkat naga tiba-tiba berdiri tegak. Cahaya merah menyala dari kepala naga dan memenuhi seluruh gua, sementara puluhan suara jiwa bergema dari dalamnya.

“MEREKA DATANG!”

“SIAPKAN DIRIMU!”

Tanah di luar gua mendadak berguncang hebat. Suara longsoran batu terdengar dari arah timur, disusul perubahan warna langit menjadi ungu tua dengan kilatan hijau yang bergerak seperti ular raksasa.

Jing Er langsung berdiri. “Kita harus bergerak. Sekarang!”

Mereka berlari keluar dari gua. Belum jauh, tanah kembali bergetar dan retakan besar muncul di hadapan mereka. Dari balik kabut, sebuah sosok raksasa bangkit perlahan. Tubuhnya tersusun dari batu hitam dan cahaya kehijauan. Tujuh mata hijau terbuka satu demi satu di kepalanya, menatap Jing Er dan Rong Er tanpa berkedip.

“Penjaga Segel...” bisik Rong Er.

Namun sebelum Jing Er sempat menjawab, sosok lain muncul di belakang makhluk raksasa itu. Seorang wanita berdiri di tengah kabut. Rambutnya putih panjang, kulitnya pucat, dan matanya berwarna obsidian. Di dahinya terdapat bekas luka yang sama persis dengan milik Rong Er. Wanita itu tersenyum.

“Putriku... aku sudah menunggumu.”

Tubuh Rong Er membeku. “Ibu...?” bisiknya.

Wanita itu membuka kedua tangannya. “Kemari, sayang.”

Rong Er hampir melangkah maju, tetapi tongkat naga di tangan Jing Er mendadak bergetar liar.

“BUKAN!”

Jing Er menahan lengan Rong Er. “Jangan mendekat.”

Wanita itu berhenti tersenyum. Kemudian ia tertawa. Suara lembut seorang ibu berubah menjadi suara rendah yang bergema dari segala penjuru hutan. Kabut di sekelilingnya berputar, dan tujuh mata hijau Penjaga Segel menyala semakin terang.

“Ya, sayang,” katanya. “Ibu sudah pulang.”

Wajah Rong Er berubah pucat.

Wanita itu kemudian menatap Jing Er. Tatapannya tidak lagi memiliki kehangatan sedikit pun.

“Sekarang...” ujarnya perlahan, “berikan aku Kuncinya.”

Tangannya terangkat dan menunjuk tongkat naga di tangan Jing Er.

Jing Er mundur satu langkah. Saat itu, ia akhirnya memahami sesuatu yang selama ini belum pernah mereka pikirkan: Apa pun yang terkunci di dalam Segel tidak hanya memiliki kekuatan untuk membebaskan dirinya, tapi juga mampu membaca keinginan manusia.

Ia tahu wajah siapa yang paling ingin dilihat Rong Er. Ia tahu suara siapa yang paling ingin didengar. Dan sekarang, makhluk itu telah memilih wajah seorang ibu untuk menipu putrinya sendiri.

Rong Er menatap wanita itu dengan air mata menggenang di matanya. “Kalau kau bukan ibuku... siapa kau?”

Senyuman wanita itu melebar. “Aku?”

Kabut hitam mulai keluar dari tubuhnya. “Aku adalah sesuatu yang sudah menunggumu jauh sebelum kau dilahirkan.”

Tongkat naga kembali bergetar keras.

“JANGAN PERCAYA!”

Penjaga Segel mengangkat kedua tangannya. Seluruh hutan bergetar, sementara retakan di tanah semakin melebar. Jing Er menggenggam tongkat itu erat-erat. Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi merasa sedang menuju Segel Pembalik Takdir. Ia merasa sedang berjalan menuju mulut seekor makhluk yang kelaparan. Dan makhluk itu telah membuka mulutnya untuk mereka.

“Rong Er,” katanya pelan.

Rong Er menoleh.

“Jangan lihat matanya.”

Namun semuanya sudah terlambat. Mata obsidian wanita itu berubah menjadi hitam pekat, lalu sebuah suara menggema dari dalam kepala mereka.

“Pulanglah, Putriku.”

Rong Er terdiam. Jing Er mencoba menariknya mundur, tetapi tubuh Rong Er tidak bergerak. Di kejauhan, tujuh mata Penjaga Segel menyala bersamaan. Dari dalam tongkat naga terdengar jeritan puluhan jiwa.

“SEGEL TELAH MENEMUKAN KUNCINYA!”

"LARI!”

Jing Er menarik Rong Er yang masih membeku. Tangan wanita yang mengaku sebagai ibunya telah berubah menjadi tentakel hitam yang menyambar dari belakang, hampir meraih tubuh Rong Er sebelum Jing Er menyeretnya menjauh. Mereka berlari sekuat tenaga, sementara tawa wanita itu menggema di antara pepohonan.

“Jangan percaya matamu!” teriak Jing Er.

Wanita itu tertawa semakin keras. Suaranya pecah menjadi ribuan suara yang datang dari segala arah, membuat hutan seolah dipenuhi manusia tak kasatmata. Tubuhnya kemudian meleleh menjadi asap ungu dengan tujuh mata yang terbuka di dalamnya, sementara Penjaga Segel bergerak maju dan setiap langkahnya membuat tanah berguncang.

“Aku ada di dalam pikiran kalian!” raung suara itu. “Aku adalah Segel!”

Asap ungu mengejar mereka dengan cepat. Pepohonan yang tersentuh asap langsung menghitam dan hancur, seolah dimakan oleh sesuatu yang tidak terlihat. Rong Er terus berlari meski napasnya mulai tersengal dan kakinya hampir kehilangan tenaga.

“Kita tidak bisa mengalahkannya!” teriak Rong Er.

“Kita tidak perlu mengalahkannya!” Jing Er menoleh sekilas. “Kita hanya perlu pergi!”

Tiba-tiba tongkat naga di tangan Jing Er memancarkan cahaya emas. Sebuah perisai energi muncul di belakang mereka dan menahan gelombang asap ungu yang hampir menyentuh tubuh mereka. Namun kekuatan itu langsung menguras tenaga Jing Er.

“Jangan berhenti!” seru Jing Er sambil menahan rasa sakit. “Ada kota bawah tanah dekat sini!”

Rong Er menatapnya bingung. “Kota bawah tanah?”

“Pasar Bayangan.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Segel Pembalik Takdir    Bab 5

    Jing Er berhenti melawan. Ia menancapkan tongkat naga ke tanah. Gelombang energi biru menyebar tanpa suara. Para pengejar mendadak membeku, wajah mereka kosong seperti kehilangan kesadaran. Satu demi satu senjata terlepas dari tangan mereka, lalu tubuh mereka berbalik dan berjalan menjauh tanpa mengetahui ke mana mereka pergi. Hanya Yin Ze yang masih berdiri. “Apa... yang kau lakukan?” tanyanya gemetar.“Warisan ini,” Jing Er membuka mata lalu mencabut tongkat dari tanah. “membuat mereka melihat sesuatu yang paling mereka takuti.”Sebelum Yin Ze sempat menjawab, sebuah panah hitam melesat dari kegelapan. Jing Er menarik tubuh Yin Ze ke samping dan panah itu menancap di batang pohon. Sosok-sosok baru keluar dari hutan. Mereka mengenakan jubah abu-abu dengan topeng kayu kosong tanpa ekspresi. Wajah Yin Ze langsung pucat. “Pengawas,” bisiknya. “Penjaga asli Segel.” Salah satu dari mereka mengangkat tangannya. Suaranya terdengar seperti batu yang bergesekan. “Kunci telah dibangunkan

  • Segel Pembalik Takdir    Bab 4

    Mata rubi itu perlahan meredup. Namun sebelum benar-benar padam, suara lain yang jauh lebih berat dan jauh lebih tua muncul dari dalam kegelapan. Suara itu membuat seluruh hutan seakan kehilangan suara.“Dan aku…” Jing Er membeku. “…sangat lapar.” Cahaya pada tongkat naga akhirnya menghilang. Hutan kembali sunyi, tetapi kali ini Jing Er tidak merasa tenang. Dari kejauhan terdengar suara pasukan yang masih mengejar mereka. Rong Er menatap Jing Er tanpa berkata-kata, sementara pria muda itu hanya menggenggam tongkat naga dengan erat. “Apa yang sebenarnya telah kita bangunkan?” tanya Rong Er. Jing Er tidak menjawab. Ia menatap hutan di arah timur, tempat peta tadi menunjuk. Untuk pertama kalinya, ancaman Paviliun Bayangan dan Klan Rong terasa jauh lebih kecil dibandingkan sesuatu yang kini menunggu di balik Segel. Di antara pepohonan, suara langkah para pengejar semakin dekat. Jing Er akhirnya berbalik. “Kita harus pergi dari sini.” Mereka kembali berlari menuju timur, tanpa meng

  • Segel Pembalik Takdir    Bab 3

    Tiba-tiba suara tangisan dari dalam gua berubah menjadi tawa rendah. Api unggun bergetar tertiup angin yang entah datang dari mana, sementara bisikan asing menggema dari lorong gelap. “Roh penasaran?” tanya Rong Er. “Mungkin sesuatu yang lebih buruk,” jawab Jing Er. Mereka berdiri dan mengikuti sumber suara. Di dinding lorong terlihat simbol spiral ganda yang bersinar redup. Rong Er berhenti ketika melihatnya. “Simbol Segel.” Bisikan kembali terdengar. “Penerus…” Rong Er menatap lorong di depan mereka. “Akhirnya datang…” Suara itu semakin jelas. “Darahnya cocok…” Rong Er berjalan seperti tersihir. Jing Er segera mengejarnya. Lorong tersebut berakhir di sebuah ruangan bundar. Di tengahnya terdapat kolam air hitam yang sama sekali tidak memantulkan cahaya, sementara tujuh kerangka duduk bersila mengelilinginya. Cahaya biru menyala di rongga mata mereka. Salah satu kerangka perlahan mengangkat kepala. “Putri…” Suara tulangnya berderak. “Darah Phoenix…” Rong Er mel

  • Segel Pembalik Takdir    Bab 2

    Saat Rong Er kembali sadar, matahari mulai tenggelam di balik pegunungan. Mereka beristirahat di sebuah tempat tersembunyi tidak jauh dari sisi gunung. Jing Er tetap berjaga sambil memperhatikan hutan, sementara Rong Er duduk bersandar pada batu dan akhirnya membuka suara. “Aku sudah mencari murid Si Tua Pemikul Arak selama enam bulan.” Jing Er menoleh. “Aku membutuhkan bantuanmu.” Rong Er menjelaskan bahwa Paviliun Bayangan akan terus memburunya selama Phoenix Revival Ring masih berada di tangannya. Ia mengetahui bahwa satu-satunya orang yang mungkin mampu membantunya adalah murid Si Tua Pemikul Arak yang sering berburu di Tebing Naga Terbang. “Aku mendapatkan informasi itu dari pengawal pribadi Klan Rong bernama Zen,” katanya. “Maafkan aku. Aku tidak punya pilihan lain.” Rong Er kembali membungkuk. Jing Er hanya menatapnya sampai gadis itu merasa kikuk dan perlahan meluruskan tubuh. “Kau suka sekali membungkuk.” Rong Er berdeham. “Setidaknya aku tahu cara berterima

  • Segel Pembalik Takdir    Bab 1

    Di Tebing Naga Terbang, kabut biru pekat menyelimuti hutan purba. Di tengah bayang-bayang pepohonan, tatapan Jing Er tertuju pada seekor Misty Stag yang telah ia kuntit selama tiga hari. Tanduk rusa kabut mistis itu dipercaya mampu menyembuhkan seribu racun. Darahnya juga dapat memperkuat qi seseorang, setara dengan hasil latihan selama sepuluh tahun hanya dalam semalam. Jing Er berdiri di atas cabang pohon Ironwood, tiga puluh meter dari tanah. Jubah hitamnya menyatu dengan bayangan. Rambut panjangnya diikat rendah menggunakan pita hitam khas Klan Pengemis Timur. Matanya yang berwarna tembaga tua terus mengikuti pergerakan rusa itu dengan fokus. “Tinggal dua puluh langkah lagi menuju jebakan,” batin Jing Er. Tangannya yang bersarung kulit hitam menggenggam tiga jarum perak tipis. Tiba-tiba, arah angin berubah. Rusa itu mengangkat kepala. Hidungnya bergerak-gerak, mencium sesuatu yang mencurigakan. Jing Er memperlambat detak jantungnya dengan teknik hasil latihan dari gurunya. Sat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status