Share

Bab 3

Author: Dazai
last update publish date: 2026-08-27 10:38:33

Tiba-tiba suara tangisan dari dalam gua berubah menjadi tawa rendah. Api unggun bergetar tertiup angin yang entah datang dari mana, sementara bisikan asing menggema dari lorong gelap.

“Roh penasaran?” tanya Rong Er.

“Mungkin sesuatu yang lebih buruk,” jawab Jing Er.

Mereka berdiri dan mengikuti sumber suara. Di dinding lorong terlihat simbol spiral ganda yang bersinar redup. Rong Er berhenti ketika melihatnya.

“Simbol Segel.”

Bisikan kembali terdengar.

“Penerus…”

Rong Er menatap lorong di depan mereka.

“Akhirnya datang…” Suara itu semakin jelas. “Darahnya cocok…”

Rong Er berjalan seperti tersihir. Jing Er segera mengejarnya.

Lorong tersebut berakhir di sebuah ruangan bundar. Di tengahnya terdapat kolam air hitam yang sama sekali tidak memantulkan cahaya, sementara tujuh kerangka duduk bersila mengelilinginya. Cahaya biru menyala di rongga mata mereka. Salah satu kerangka perlahan mengangkat kepala.

“Putri…” Suara tulangnya berderak. “Darah Phoenix…”

Rong Er melangkah maju. “Kalian tahu ibuku? Di mana dia?”

Kerangka itu terdiam sesaat.

“Kami mengenalnya. Dia datang dua puluh musim lalu.”

Rong Er menahan napas. “Dia berada di dalam Segel?”

Tidak ada jawaban.

Suara Rong Er bergetar. “Dia menjadi Segel?”

Jing Er maju selangkah. “Apa maksudnya?”

Kerangka itu menatapnya dengan cahaya biru di rongga matanya. “Segel adalah kuburan. Untuk membalik takdir, dibutuhkan pengorbanan jiwa.”

Rong Er terhuyung. “Ibuku… mengorbankan dirinya?”

Ia menggigit bibir. “Atau dikorbankan?”

Tiba-tiba ketujuh kerangka mengangkat kepala secara bersamaan. Suara mereka menyatu menjadi raungan yang mengguncang seluruh ruangan.

“SEGEL BANGUN! BUTUH DARAH PENERUS DAN DARAH PENJAGA!”

Kolam hitam mulai beriak dan dinding gua bergetar hebat. Ketujuh kerangka bangkit bersamaan.

“Ayo pergi!” teriak Jing Er. Ia menarik tangan Rong Er dan berlari menuju pintu keluar.

Namun, sebelum mereka mencapai lorong, sebuah batu besar jatuh dan menutup jalan. Jing Er menghantam batu tersebut dengan telapak tangannya. Ledakan energi hanya membuat batu bergeser sedikit, sedangkan tujuh kerangka mulai mendekat.

“Mereka tidak bisa dilukai dengan cara biasa!” seru Jing Er.

“Lalu dengan apa?” Rong Er panik. Ia mengangkat tangannya dan mencoba menggunakan hipnosis. Namun, tidak satu pun kerangka berhenti.

“Tidak bisa!”

Jing Er menatap kerangka yang semakin dekat. “Kau tidak bisa menghipnosis orang mati.”

Salah satu kerangka tiba-tiba menerjang dan mencengkeram leher Jing Er. Tubuhnya terangkat dari tanah dan pandangannya mulai menggelap.

“Guru…”

Cincin di jarinya tiba-tiba memancarkan cahaya keemasan. Ketujuh kerangka menjerit. Tubuh mereka retak dari kepala hingga kaki sebelum berubah menjadi debu. Namun, bersamaan dengan itu, seluruh gua mulai berguncang.

“Guanya mulai runtuh!” teriak Rong Er.

Dari kolam hitam muncul tangan-tangan bayangan yang merayap ke tepi. Jing Er melihat simbol spiral di dinding dan langsung menekannya.

Klik!

Sebuah lorong rahasia terbuka.

“Lewat sini!”

Mereka berlari tanpa menoleh. Beberapa detik kemudian, ruangan di belakang mereka runtuh dan menutup lorong tersebut.

Ketika akhirnya keluar di sisi lain gunung, matahari mulai muncul di balik pegunungan. Rong Er berdiri memandangi reruntuhan gua dengan mata yang masih basah.

“Mereka bilang ibuku menjadi Segel.”

Jing Er menatapnya. “Kau tetap ingin melanjutkan?”

Rong Er mengusap air matanya. “Ya. Jika ibuku masih terperangkap di dalam sana, aku akan membebaskannya.”

Gadis itu mengepalkan tangannya. “Bahkan jika aku harus menggantikannya.”

Jing Er terdiam beberapa saat. Ia lalu teringat perkataan ketujuh kerangka tentang darah Penerus dan Penjaga.

“Mereka menyebut Penerus dan Penjaga. Apa maksudnya?”

Rong Er menatapnya serius. “Untuk mengaktifkan Segel, ada dua hal yang dibutuhkan: Darah Phoenix dari Penerima dan darah Naga dari Penjaga.”

Ia menunjuk dirinya sendiri. “Aku keturunan Klan Naga (Penjaga).”

Kemudian matanya beralih kepada Jing Er. “Kau adalah pewaris penerima, dan gurumu adalah Penerima terakhir.”

Rong Er menggenggam tangan Jing Er. “Sekarang kita memiliki musuh yang lebih besar. Bukan hanya Paviliun Bayangan, tetapi Segel itu sendiri.”

Ia menatap mata Jing Er. “Kau mau membantuku?”

Jing Er memandang cincin di jarinya cukup lama sebelum akhirnya mengangguk. “Kita sudah sejauh ini.”

Mereka belum sempat melanjutkan perbincangan lebih jauh ketika suara langkah kaki terdengar dari bawah tebing. Gemerincing senjata menyusul, kemudian satu per satu bayangan muncul di antara pepohonan. Rong Er langsung berhenti dan bersembunyi di balik pohon.

“Ada berapa orang?”

Jing Er mengamati sekeliling. “Sekitar tiga puluh.”

Di satu sisi berdiri para pembunuh Paviliun Bayangan sementara di sisi lain terdapat pasukan Klan Rong. Mereka telah dikepung dari dua arah, dan di depan kedua kelompok tersebut berdiri seorang pria tampan yang memegang tongkat dengan kepala naga.

“Jing Er!” Suara pria itu menggema di antara pepohonan.

“Sepupuku!”

Tubuh Jing Er langsung menegang. “Liang…”

Ia mengenali wajah itu. “Orang yang seharusnya menjadi murid pertama guru.”

Liang tersenyum seolah mereka sedang bertemu dalam keadaan biasa. “Lama tidak bertemu. Serahkan cincin dan gadis itu.”

Rong Er tetap tenang meskipun puluhan senjata diarahkan kepada mereka. Ia mendekat ke Jing Er dan berbisik, “Kita terjebak. Menyerahlah kepada Liang.”

Jing Er meliriknya. “Menyerah?”

“Saat sudah dekat, aku punya rencana.”

“Kalau ini jebakan?”

Rong Er tersenyum tipis. “Kau bebas membunuhku.”

Jing Er menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya berbalik menghadap Liang.

“Liang!” Ia mengangkat kedua tangannya. “Aku menyerah!”

Liang tertawa kecil. “Turunlah.”

Jing Er dan Rong Er mulai menuruni tebing. Setiap langkah membawa mereka semakin dekat kepada puluhan pengepung, sementara Liang berdiri menunggu dengan tongkat naga di tangannya.

Ketika jarak mereka tinggal beberapa langkah, Rong Er berbisik sangat pelan. “Sekarang!”

Jing Er bergerak. Tangannya langsung menyambar tongkat naga sebelum Liang sempat bereaksi. Dalam waktu yang sama, Rong Er melemparkan serbuk putih ke arah pasukan di sekeliling mereka.

“Serang!”

Para pengepung batuk dan kehilangan pandangan. Liang mundur dengan wajah murka.

“Jing Errrrr!”

Namun sebelum ia sempat mengambil kembali tongkatnya, cincin di jari Jing Er tiba-tiba terlepas. Cincin itu melayang di udara dan bergerak menuju kepala naga di ujung tongkat.

Klik!

Batu merah pada cincin menyatu dengan mata naga. Cahaya emas langsung meledak. Liang membelalak.

“Tidak mungkin…”

Ia kemudian berteriak kepada seluruh pasukan, “BUNUH MEREKA!”

Puluhan orang menyerbu Jing Er dan Rong Er. Jing Er menggenggam tongkat naga dengan kedua tangan dan menghantamkannya ke tanah. Gelombang energi emas meledak dari titik benturan dan menyapu seluruh area.

BOOM!

Para pengepung terpental ke segala arah. Tanah di bawah kaki mereka retak dan cahaya aneh muncul dari dalamnya. Sebuah peta bercahaya perlahan terbentuk di antara retakan tanah. Garis-garis emas bergerak membentuk jalur yang menunjuk ke arah timur.

Rong Er menatapnya dengan terkejut. “Itu…”

“Petunjuk menuju Segel,” jawab Jing Er.

Dari belakang terdengar suara Liang.

“Jangan biarkan mereka kabur!”

Jing Er menarik tangan Rong Er. “Ayo pergi!”

Mereka berlari memasuki hutan sebelum pasukan sempat mengejar. Namun, semakin jauh mereka berlari, semakin aneh tongkat naga di tangan Jing Er terasa. Di tengah pelarian, mata rubi pada kepala naga tiba-tiba terbuka. Jing Er berhenti.

“Guru?”

Suara yang sangat dikenalnya terdengar dari dalam tongkat.

“Jing Er…”

Rong Er ikut berhenti.

“Kau telah menyatukan warisan.”

Jing Er menggenggam tongkat itu semakin erat.

“Segel itu bukan alat untuk membalik takdir,” Suara gurunya terdengar lemah dan terputus-putus. “tapi penjara.”

Jing Er menahan napas.

“Penjara untuk sesuatu yang jauh lebih tua.”

“Apa maksudmu?”

Tidak ada jawaban selama beberapa detik. Kemudian suara gurunya kembali terdengar, kali ini lebih pelan. “Jing Er…”

“Kau bukan Penerima.”

Jantung Jing Er berdegup keras.

“Kau adalah Kunci.”

Cahaya emas di tongkat bergetar.

“Kunci untuk membebaskannya.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Segel Pembalik Takdir    Bab 14

    Kapten Long mengantar mereka hingga bibir pantai. Dia tidak ikut memasuki lembah, sebab racun di udara dapat membunuh orang yang tidak memiliki perlindungan khusus. Dengan berat hati, dia menyerahkan beberapa perlengkapan perjalanan sebelum berpamitan.“Ke mana tujuanmu setelah ini, Kapten?” tanya Jing Er sambil menangkupkan tangan sebagai tanda terima kasih.Kapten Long menatap laut di belakang mereka. “Pulang. Kalau masih ada kesempatan, aku akan membangun The Storm Dancer yang baru. Kapal tua itu pantas mendapatkan penerus.”“Terima kasih atas semua bantuanmu,” ujar Jing Er. Rong Er dan Zen ikut membungkuk hormat.Kapten Long membalas dengan senyum tipis sebelum menaiki perahunya. Tak lama kemudian, sosoknya menghilang di balik kabut laut, meninggalkan ketiganya di hadapan lembah yang sunyi.Rong Er memandang pepohonan ungu yang bergoyang tanpa disentuh angin. Dari balik kabut, terdengar suara samar menyerupai bisikan yang memanggil namanya.Jing Er mengangkat tongkat naga, merasak

  • Segel Pembalik Takdir    Bab 13

    The Storm Dancer membelah lautan yang mulai diselimuti kegelapan. Angin malam bertiup kencang, membawa aroma garam dan hawa dingin yang menusuk kulit. Di dalam kabin kapten, Jing Er, Rong Er, dan Zen mengelilingi meja kayu yang dipenuhi tiga naskah kuno, sementara cahaya lilin bergetar setiap kali ombak menghantam lambung kapal.Jing Er meletakkan jimat milik Yin Ze di antara naskah-naskah tersebut. Simbol phoenix dengan satu mata tertutup terukir jelas di permukaannya, sama persis dengan lambang pada surat yang pernah diterima Rong Er. Tongkat naga di pinggangnya bergetar pelan, seolah memperingatkan bahwa sesuatu sedang mendekat.“Energinya semakin kuat,” ujar Jing Er. “Bahkan lautan ini tidak bisa menyembunyikan keberadaannya.”Rong Er menyentuh simbol spiral di dahinya. “Keseimbangan juga merasakannya. Dia gelisah sejak kita meninggalkan perpustakaan, seolah mengetahui sesuatu yang belum kita pahami.”Zen menarik kursi dan duduk di hadapan mereka. “Kalau begitu, berhenti menebak-n

  • Segel Pembalik Takdir    Bab 12

    Di dermaga kayu yang lapuk, seorang lelaki tua berjanggut panjang duduk memancing. Ia bahkan tidak menoleh ketika kapal merapat, seolah kedatangan mereka sudah diketahui sejak lama.“Sudah dua puluh tahun sejak wanita bermata seperti langit malam datang ke sini,” katanya santai. “Sekarang putrinya muncul, ditemani seorang pemuda yang membawa energi yang seharusnya tidak lagi ada di dunia.”Rong Er segera mendekat. “Anda mengenal ibu saya?”“Li Na datang mencari kebenaran, tetapi pulang membawa lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.” Lelaki tua itu akhirnya mengangkat wajah. Matanya kelabu seperti kabut di sekitar pulau. “Namaku Lao Wen, penjaga Perpustakaan Kuno. Jika kalian ingin masuk, buktikan dahulu bahwa niat kalian tidak bertentangan dengan pengetahuan yang hendak dicari.”Ia mengangkat tangan. Tiga batu muncul dari tanah, masing-masing memancarkan cahaya samar.Jing Er dan Rong Er meletakkan telapak tangan di atas dua batu, sementara Kapten Long memilih tetap menunggu di kap

  • Segel Pembalik Takdir    Bab 11

    Ujian PengorbananDi tempat lain, Rong Er berdiri di aula Klan Rong. Istana yang dulu megah kini dipenuhi cahaya hangat dan suara tawa. Li Na duduk di singgasana sebagai pemimpin, Yin Ze berdiri di sisinya, sementara Zen melayani mereka dengan senyum tenang.Namun tidak seorang pun mengenali Rong Er.“Itulah dunia tanpa dirimu,” bisik Kekacauan. “Ibumu tidak pernah mencari Segel. Kakakmu tidak pernah tersesat. Orang-orang yang kau cintai hidup bahagia.”Rong Er melihat Luo berjalan bersama wanita lain. Ia tampak bahagia. Dadanya terasa sesak.“Jadi... semua orang akan lebih baik jika aku tidak pernah lahir?”“Pilihan ada di tanganmu.”Rong Er menyeka air matanya. “Tidak. Kalau keberadaanku membawa penderitaan, aku akan menanggungnya. Aku tidak akan menghapus diriku hanya demi mendapatkan dunia yang terlihat sempurna.”Istana itu runtuh menjadi serpihan cahaya.Ujian BersamaJing Er dan Rong Er kembali berdiri berdampingan, kali ini di tepi jurang yang begitu dalam hingga dasarnya tida

  • Segel Pembalik Takdir    Bab 10

    Permukaannya tidak memantulkan wajah mereka. Sebaliknya, mereka melihat masa lalu.Mereka melihat Kekacauan sebagai entitas energi murni yang menjaga keseimbangan dunia. Para kultivator pertama takut pada kekuatannya dan memilih mengurungnya dalam Segel. Ketika sebagian energinya bocor, keseimbangan dunia mulai rusak sehingga ritual darah Phoenix dan kekuatan Naga dibuat untuk menahannya.Namun setiap ritual membuat Segel semakin rapuh.Rong Er melihat ibunya.Li Na berdiri di dalam cahaya ungu, menahan aliran energi Kekacauan dengan tubuhnya sendiri.“Selama aku di sini,” kata Li Na dalam penglihatan itu, “ia tidak akan bangkit sepenuhnya.”Kemudian tiga gambaran masa depan muncul.Pada masa depan pertama, ritual kesepuluh dilakukan. Segel menguat untuk sementara, tetapi lima puluh tahun kemudian ia pecah dan menghancurkan separuh dunia.Pada masa depan kedua, Kekacauan dibebaskan secara paksa. Ia mengamuk karena ribuan tahun penderitaan dan akhirnya berhasil ditenangkan, tetapi juta

  • Segel Pembalik Takdir    Bab 9

    Pintu Kuil Langit yang Hilang menutup dengan suara gemuruh. Cahaya dari luar lenyap, menyisakan koridor gelap yang hanya diterangi cahaya biru dari ukiran kuno di dinding. Jing Er dan Rong Er baru beberapa langkah masuk ketika suara retakan terdengar dari belakang mereka.Patung-patung batu yang selama berabad-abad berdiri diam mulai bergerak. Debu berjatuhan dari tubuh mereka, lalu mata hijau menyala satu demi satu. Dalam sekejap, para penjaga kuil mengangkat senjata dan menyerbu.“Jing Er!”Rong Er menunduk ketika sebuah pedang batu menyapu kepalanya. Jing Er menariknya ke samping, tetapi tiga patung lain sudah mengepung mereka. Koridor terlalu sempit untuk bergerak bebas, sementara setiap serangan membuat dinding kuil bergetar.“Kita tidak bisa terus mundur!” seru Rong Er.“Aku tahu!”Jing Er memutar tongkat naga dan menahan hantaman pertama. Lengannya langsung mati rasa. Patung-patung itu tidak memiliki qi seperti manusia, tetapi tubuh mereka diperkuat energi Segel sehingga setiap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status