LOGINTiba-tiba suara tangisan dari dalam gua berubah menjadi tawa rendah. Api unggun bergetar tertiup angin yang entah datang dari mana, sementara bisikan asing menggema dari lorong gelap.
“Roh penasaran?” tanya Rong Er. “Mungkin sesuatu yang lebih buruk,” jawab Jing Er. Mereka berdiri dan mengikuti sumber suara. Di dinding lorong terlihat simbol spiral ganda yang bersinar redup. Rong Er berhenti ketika melihatnya. “Simbol Segel.” Bisikan kembali terdengar. “Penerus…” Rong Er menatap lorong di depan mereka. “Akhirnya datang…” Suara itu semakin jelas. “Darahnya cocok…” Rong Er berjalan seperti tersihir. Jing Er segera mengejarnya. Lorong tersebut berakhir di sebuah ruangan bundar. Di tengahnya terdapat kolam air hitam yang sama sekali tidak memantulkan cahaya, sementara tujuh kerangka duduk bersila mengelilinginya. Cahaya biru menyala di rongga mata mereka. Salah satu kerangka perlahan mengangkat kepala. “Putri…” Suara tulangnya berderak. “Darah Phoenix…” Rong Er melangkah maju. “Kalian tahu ibuku? Di mana dia?” Kerangka itu terdiam sesaat. “Kami mengenalnya. Dia datang dua puluh musim lalu.” Rong Er menahan napas. “Dia berada di dalam Segel?” Tidak ada jawaban. Suara Rong Er bergetar. “Dia menjadi Segel?” Jing Er maju selangkah. “Apa maksudnya?” Kerangka itu menatapnya dengan cahaya biru di rongga matanya. “Segel adalah kuburan. Untuk membalik takdir, dibutuhkan pengorbanan jiwa.” Rong Er terhuyung. “Ibuku… mengorbankan dirinya?” Ia menggigit bibir. “Atau dikorbankan?” Tiba-tiba ketujuh kerangka mengangkat kepala secara bersamaan. Suara mereka menyatu menjadi raungan yang mengguncang seluruh ruangan. “SEGEL BANGUN! BUTUH DARAH PENERUS DAN DARAH PENJAGA!”Kolam hitam mulai beriak dan dinding gua bergetar hebat. Ketujuh kerangka bangkit bersamaan.
“Ayo pergi!” teriak Jing Er. Ia menarik tangan Rong Er dan berlari menuju pintu keluar.Namun, sebelum mereka mencapai lorong, sebuah batu besar jatuh dan menutup jalan. Jing Er menghantam batu tersebut dengan telapak tangannya. Ledakan energi hanya membuat batu bergeser sedikit, sedangkan tujuh kerangka mulai mendekat.
“Mereka tidak bisa dilukai dengan cara biasa!” seru Jing Er. “Lalu dengan apa?” Rong Er panik. Ia mengangkat tangannya dan mencoba menggunakan hipnosis. Namun, tidak satu pun kerangka berhenti. “Tidak bisa!” Jing Er menatap kerangka yang semakin dekat. “Kau tidak bisa menghipnosis orang mati.” Salah satu kerangka tiba-tiba menerjang dan mencengkeram leher Jing Er. Tubuhnya terangkat dari tanah dan pandangannya mulai menggelap. “Guru…” Cincin di jarinya tiba-tiba memancarkan cahaya keemasan. Ketujuh kerangka menjerit. Tubuh mereka retak dari kepala hingga kaki sebelum berubah menjadi debu. Namun, bersamaan dengan itu, seluruh gua mulai berguncang. “Guanya mulai runtuh!” teriak Rong Er. Dari kolam hitam muncul tangan-tangan bayangan yang merayap ke tepi. Jing Er melihat simbol spiral di dinding dan langsung menekannya. Klik! Sebuah lorong rahasia terbuka. “Lewat sini!” Mereka berlari tanpa menoleh. Beberapa detik kemudian, ruangan di belakang mereka runtuh dan menutup lorong tersebut. Ketika akhirnya keluar di sisi lain gunung, matahari mulai muncul di balik pegunungan. Rong Er berdiri memandangi reruntuhan gua dengan mata yang masih basah. “Mereka bilang ibuku menjadi Segel.” Jing Er menatapnya. “Kau tetap ingin melanjutkan?” Rong Er mengusap air matanya. “Ya. Jika ibuku masih terperangkap di dalam sana, aku akan membebaskannya.” Gadis itu mengepalkan tangannya. “Bahkan jika aku harus menggantikannya.” Jing Er terdiam beberapa saat. Ia lalu teringat perkataan ketujuh kerangka tentang darah Penerus dan Penjaga. “Mereka menyebut Penerus dan Penjaga. Apa maksudnya?” Rong Er menatapnya serius. “Untuk mengaktifkan Segel, ada dua hal yang dibutuhkan: Darah Phoenix dari Penerima dan darah Naga dari Penjaga.”Ia menunjuk dirinya sendiri. “Aku keturunan Klan Naga (Penjaga).”
Kemudian matanya beralih kepada Jing Er. “Kau adalah pewaris penerima, dan gurumu adalah Penerima terakhir.” Rong Er menggenggam tangan Jing Er. “Sekarang kita memiliki musuh yang lebih besar. Bukan hanya Paviliun Bayangan, tetapi Segel itu sendiri.” Ia menatap mata Jing Er. “Kau mau membantuku?” Jing Er memandang cincin di jarinya cukup lama sebelum akhirnya mengangguk. “Kita sudah sejauh ini.” Mereka belum sempat melanjutkan perbincangan lebih jauh ketika suara langkah kaki terdengar dari bawah tebing. Gemerincing senjata menyusul, kemudian satu per satu bayangan muncul di antara pepohonan. Rong Er langsung berhenti dan bersembunyi di balik pohon. “Ada berapa orang?” Jing Er mengamati sekeliling. “Sekitar tiga puluh.” Di satu sisi berdiri para pembunuh Paviliun Bayangan sementara di sisi lain terdapat pasukan Klan Rong. Mereka telah dikepung dari dua arah, dan di depan kedua kelompok tersebut berdiri seorang pria tampan yang memegang tongkat dengan kepala naga. “Jing Er!” Suara pria itu menggema di antara pepohonan. “Sepupuku!” Tubuh Jing Er langsung menegang. “Liang…” Ia mengenali wajah itu. “Orang yang seharusnya menjadi murid pertama guru.” Liang tersenyum seolah mereka sedang bertemu dalam keadaan biasa. “Lama tidak bertemu. Serahkan cincin dan gadis itu.” Rong Er tetap tenang meskipun puluhan senjata diarahkan kepada mereka. Ia mendekat ke Jing Er dan berbisik, “Kita terjebak. Menyerahlah kepada Liang.” Jing Er meliriknya. “Menyerah?” “Saat sudah dekat, aku punya rencana.” “Kalau ini jebakan?” Rong Er tersenyum tipis. “Kau bebas membunuhku.” Jing Er menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya berbalik menghadap Liang. “Liang!” Ia mengangkat kedua tangannya. “Aku menyerah!” Liang tertawa kecil. “Turunlah.” Jing Er dan Rong Er mulai menuruni tebing. Setiap langkah membawa mereka semakin dekat kepada puluhan pengepung, sementara Liang berdiri menunggu dengan tongkat naga di tangannya. Ketika jarak mereka tinggal beberapa langkah, Rong Er berbisik sangat pelan. “Sekarang!” Jing Er bergerak. Tangannya langsung menyambar tongkat naga sebelum Liang sempat bereaksi. Dalam waktu yang sama, Rong Er melemparkan serbuk putih ke arah pasukan di sekeliling mereka. “Serang!” Para pengepung batuk dan kehilangan pandangan. Liang mundur dengan wajah murka. “Jing Errrrr!” Namun sebelum ia sempat mengambil kembali tongkatnya, cincin di jari Jing Er tiba-tiba terlepas. Cincin itu melayang di udara dan bergerak menuju kepala naga di ujung tongkat. Klik! Batu merah pada cincin menyatu dengan mata naga. Cahaya emas langsung meledak. Liang membelalak. “Tidak mungkin…” Ia kemudian berteriak kepada seluruh pasukan, “BUNUH MEREKA!” Puluhan orang menyerbu Jing Er dan Rong Er. Jing Er menggenggam tongkat naga dengan kedua tangan dan menghantamkannya ke tanah. Gelombang energi emas meledak dari titik benturan dan menyapu seluruh area. BOOM! Para pengepung terpental ke segala arah. Tanah di bawah kaki mereka retak dan cahaya aneh muncul dari dalamnya. Sebuah peta bercahaya perlahan terbentuk di antara retakan tanah. Garis-garis emas bergerak membentuk jalur yang menunjuk ke arah timur.Rong Er menatapnya dengan terkejut. “Itu…”
“Petunjuk menuju Segel,” jawab Jing Er. Dari belakang terdengar suara Liang. “Jangan biarkan mereka kabur!” Jing Er menarik tangan Rong Er. “Ayo pergi!” Mereka berlari memasuki hutan sebelum pasukan sempat mengejar. Namun, semakin jauh mereka berlari, semakin aneh tongkat naga di tangan Jing Er terasa. Di tengah pelarian, mata rubi pada kepala naga tiba-tiba terbuka. Jing Er berhenti. “Guru?” Suara yang sangat dikenalnya terdengar dari dalam tongkat. “Jing Er…” Rong Er ikut berhenti. “Kau telah menyatukan warisan.” Jing Er menggenggam tongkat itu semakin erat. “Segel itu bukan alat untuk membalik takdir,” Suara gurunya terdengar lemah dan terputus-putus. “tapi penjara.” Jing Er menahan napas. “Penjara untuk sesuatu yang jauh lebih tua.” “Apa maksudmu?” Tidak ada jawaban selama beberapa detik. Kemudian suara gurunya kembali terdengar, kali ini lebih pelan. “Jing Er…” “Kau bukan Penerima.” Jantung Jing Er berdegup keras. “Kau adalah Kunci.” Cahaya emas di tongkat bergetar. “Kunci untuk membebaskannya.”Jing Er berhenti melawan. Ia menancapkan tongkat naga ke tanah. Gelombang energi biru menyebar tanpa suara. Para pengejar mendadak membeku, wajah mereka kosong seperti kehilangan kesadaran. Satu demi satu senjata terlepas dari tangan mereka, lalu tubuh mereka berbalik dan berjalan menjauh tanpa mengetahui ke mana mereka pergi. Hanya Yin Ze yang masih berdiri. “Apa... yang kau lakukan?” tanyanya gemetar.“Warisan ini,” Jing Er membuka mata lalu mencabut tongkat dari tanah. “membuat mereka melihat sesuatu yang paling mereka takuti.”Sebelum Yin Ze sempat menjawab, sebuah panah hitam melesat dari kegelapan. Jing Er menarik tubuh Yin Ze ke samping dan panah itu menancap di batang pohon. Sosok-sosok baru keluar dari hutan. Mereka mengenakan jubah abu-abu dengan topeng kayu kosong tanpa ekspresi. Wajah Yin Ze langsung pucat. “Pengawas,” bisiknya. “Penjaga asli Segel.” Salah satu dari mereka mengangkat tangannya. Suaranya terdengar seperti batu yang bergesekan. “Kunci telah dibangunkan
Mata rubi itu perlahan meredup. Namun sebelum benar-benar padam, suara lain yang jauh lebih berat dan jauh lebih tua muncul dari dalam kegelapan. Suara itu membuat seluruh hutan seakan kehilangan suara.“Dan aku…” Jing Er membeku. “…sangat lapar.” Cahaya pada tongkat naga akhirnya menghilang. Hutan kembali sunyi, tetapi kali ini Jing Er tidak merasa tenang. Dari kejauhan terdengar suara pasukan yang masih mengejar mereka. Rong Er menatap Jing Er tanpa berkata-kata, sementara pria muda itu hanya menggenggam tongkat naga dengan erat. “Apa yang sebenarnya telah kita bangunkan?” tanya Rong Er. Jing Er tidak menjawab. Ia menatap hutan di arah timur, tempat peta tadi menunjuk. Untuk pertama kalinya, ancaman Paviliun Bayangan dan Klan Rong terasa jauh lebih kecil dibandingkan sesuatu yang kini menunggu di balik Segel. Di antara pepohonan, suara langkah para pengejar semakin dekat. Jing Er akhirnya berbalik. “Kita harus pergi dari sini.” Mereka kembali berlari menuju timur, tanpa meng
Tiba-tiba suara tangisan dari dalam gua berubah menjadi tawa rendah. Api unggun bergetar tertiup angin yang entah datang dari mana, sementara bisikan asing menggema dari lorong gelap. “Roh penasaran?” tanya Rong Er. “Mungkin sesuatu yang lebih buruk,” jawab Jing Er. Mereka berdiri dan mengikuti sumber suara. Di dinding lorong terlihat simbol spiral ganda yang bersinar redup. Rong Er berhenti ketika melihatnya. “Simbol Segel.” Bisikan kembali terdengar. “Penerus…” Rong Er menatap lorong di depan mereka. “Akhirnya datang…” Suara itu semakin jelas. “Darahnya cocok…” Rong Er berjalan seperti tersihir. Jing Er segera mengejarnya. Lorong tersebut berakhir di sebuah ruangan bundar. Di tengahnya terdapat kolam air hitam yang sama sekali tidak memantulkan cahaya, sementara tujuh kerangka duduk bersila mengelilinginya. Cahaya biru menyala di rongga mata mereka. Salah satu kerangka perlahan mengangkat kepala. “Putri…” Suara tulangnya berderak. “Darah Phoenix…” Rong Er mel
Saat Rong Er kembali sadar, matahari mulai tenggelam di balik pegunungan. Mereka beristirahat di sebuah tempat tersembunyi tidak jauh dari sisi gunung. Jing Er tetap berjaga sambil memperhatikan hutan, sementara Rong Er duduk bersandar pada batu dan akhirnya membuka suara. “Aku sudah mencari murid Si Tua Pemikul Arak selama enam bulan.” Jing Er menoleh. “Aku membutuhkan bantuanmu.” Rong Er menjelaskan bahwa Paviliun Bayangan akan terus memburunya selama Phoenix Revival Ring masih berada di tangannya. Ia mengetahui bahwa satu-satunya orang yang mungkin mampu membantunya adalah murid Si Tua Pemikul Arak yang sering berburu di Tebing Naga Terbang. “Aku mendapatkan informasi itu dari pengawal pribadi Klan Rong bernama Zen,” katanya. “Maafkan aku. Aku tidak punya pilihan lain.” Rong Er kembali membungkuk. Jing Er hanya menatapnya sampai gadis itu merasa kikuk dan perlahan meluruskan tubuh. “Kau suka sekali membungkuk.” Rong Er berdeham. “Setidaknya aku tahu cara berterima
Di Tebing Naga Terbang, kabut biru pekat menyelimuti hutan purba. Di tengah bayang-bayang pepohonan, tatapan Jing Er tertuju pada seekor Misty Stag yang telah ia kuntit selama tiga hari. Tanduk rusa kabut mistis itu dipercaya mampu menyembuhkan seribu racun. Darahnya juga dapat memperkuat qi seseorang, setara dengan hasil latihan selama sepuluh tahun hanya dalam semalam. Jing Er berdiri di atas cabang pohon Ironwood, tiga puluh meter dari tanah. Jubah hitamnya menyatu dengan bayangan. Rambut panjangnya diikat rendah menggunakan pita hitam khas Klan Pengemis Timur. Matanya yang berwarna tembaga tua terus mengikuti pergerakan rusa itu dengan fokus. “Tinggal dua puluh langkah lagi menuju jebakan,” batin Jing Er. Tangannya yang bersarung kulit hitam menggenggam tiga jarum perak tipis. Tiba-tiba, arah angin berubah. Rusa itu mengangkat kepala. Hidungnya bergerak-gerak, mencium sesuatu yang mencurigakan. Jing Er memperlambat detak jantungnya dengan teknik hasil latihan dari gurunya. Sat







