Share

Bab 4

Author: Dazai
last update publish date: 2026-08-27 10:40:17

Mata rubi itu perlahan meredup. Namun sebelum benar-benar padam, suara lain yang jauh lebih berat dan jauh lebih tua muncul dari dalam kegelapan. Suara itu membuat seluruh hutan seakan kehilangan suara.

“Dan aku…”

Jing Er membeku.

“…sangat lapar.”

Cahaya pada tongkat naga akhirnya menghilang. Hutan kembali sunyi, tetapi kali ini Jing Er tidak merasa tenang. Dari kejauhan terdengar suara pasukan yang masih mengejar mereka. Rong Er menatap Jing Er tanpa berkata-kata, sementara pria muda itu hanya menggenggam tongkat naga dengan erat.

“Apa yang sebenarnya telah kita bangunkan?” tanya Rong Er.

Jing Er tidak menjawab. Ia menatap hutan di arah timur, tempat peta tadi menunjuk. Untuk pertama kalinya, ancaman Paviliun Bayangan dan Klan Rong terasa jauh lebih kecil dibandingkan sesuatu yang kini menunggu di balik Segel.

Di antara pepohonan, suara langkah para pengejar semakin dekat. Jing Er akhirnya berbalik.

“Kita harus pergi dari sini.”

Mereka kembali berlari menuju timur, tanpa mengetahui bahwa sejak malam itu, rahasia tentang darah Penerus, darah Penjaga, dan Segel Pembalik Takdir perlahan mulai terbuka. Di suatu tempat yang jauh di bawah bumi, sesuatu yang telah tertidur selama seratus tahun baru saja membuka matanya.

Malam turun begitu cepat di Tebing Naga Terbang. Hutan yang sejak sore dipenuhi suara serangga kini berubah menjadi lautan hitam, hanya diterangi cahaya bulan yang sesekali menembus sela pepohonan. Jing Er dan Rong Er terus berlari ke timur, mengikuti getaran halus dari tongkat naga yang berada di tangan Jing Er.

Kepala naga di ujung tongkat sesekali memancarkan cahaya merah redup. Setiap kali cahaya itu muncul, Jing Er dapat merasakan arah yang harus mereka tuju. Namun di belakang mereka, suara pertempuran masih terdengar samar, mengingatkan bahwa pengejaran belum berakhir.

“Tongkat itu... berbicara padamu?” tanya Rong Er terengah-engah.

“Bukan berbicara,” jawab Jing Er tanpa menghentikan langkah. “Lebih seperti berteriak dalam diam.”

Sudah hampir dua jam mereka melarikan diri. Jing Er tahu para pengejar pasti masih memburu mereka. Karena itu, ketika melihat sebuah ceruk di balik batu besar, ia segera mengajak Rong Er berhenti.

“Kita istirahat sebentar. Kau hampir tidak bisa berdiri.”

Rong Er tidak membantah. Ia duduk bersandar pada batu, sementara Jing Er berdiri beberapa langkah di depan untuk mengawasi hutan. Namun baru beberapa saat kemudian, tongkat di tangannya mulai bergetar.

Dari dalam kepala naga terdengar suara perempuan yang asing. Suaranya begitu sedih, seolah berasal dari tempat yang sangat jauh.

“Jangan biarkan mereka mendapatkan Segel itu... atau semuanya akan hancur...”

Jing Er menoleh kepada Rong Er. “Kau mendengarnya?”

Rong Er menggeleng. “Aku hanya mendengar suara angin.”

“Bukan angin.” Jing Er menggenggam tongkat lebih erat. “Ada banyak suara di dalam tongkat ini. Seperti jiwa-jiwa yang terperangkap.”

Rong Er terdiam cukup lama sebelum akhirnya menyentuh lengan Jing Er. Wajahnya terlihat ragu, tetapi rasa ingin tahunya lebih kuat daripada ketakutan. Ia kemudian menatap tongkat naga itu.

“Gurumu bilang kau adalah Kunci?”

Jing Er mengangguk. “Ya. Segel itu bukan sekadar benda, melainkan penjara untuk sesuatu yang jauh lebih tua.”

Rong Er mengerutkan kening. “Kalau begitu, apakah kita masih harus menuju ke sana?”

“Kita tidak punya pilihan lain.” Jing Er menatap ke arah timur. “Kau ingin menemukan ibumu. Aku ingin menyelamatkan guruku. Selama kita belum mencapai sumber semuanya, mereka akan terus mengejar kita.”

Rong Er menundukkan kepala. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, tatapannya tidak lagi penuh kecurigaan. “Kau mungkin satu-satunya orang yang tidak pernah memakai topeng di hadapanku.”

Jing Er hendak menjawab, tetapi tongkat di tangannya tiba-tiba bergetar keras. Ia langsung mengangkat kepala dan mendengarkan suara langkah yang mulai terdengar dari kejauhan.

“Ada yang mendekat,” bisiknya. “Jumlahnya banyak.”

Mereka segera bersiap. Jing Er memejamkan mata dan merasakan jumlah lawan melalui getaran tanah. Beberapa saat kemudian ia membuka mata.

“Dua kelompok. Sepuluh orang dari utara, lima belas dari selatan. Paviliun Bayangan dan Klan Rong.”

Rong Er menarik napas dalam-dalam. “Aku masih punya sedikit tenaga untuk menggunakan hipnosis.”

“Simpan kekuatanmu,” jawab Jing Er. Ia menatap tongkat di tangannya. “Aku akan mencoba sesuatu.”

Jing Er memusatkan pikirannya pada satu permintaan: perlindungan. Cahaya merah di kepala naga perlahan berubah menjadi biru, lalu kabut dingin mulai menyelimuti ceruk tempat mereka bersembunyi. Di dalam kabut itu, Jing Er melihat kilatan gambaran yang tidak ia kenal, seorang wanita bermata obsidian berjalan menuju cahaya emas, Si Tua Pemikul Arak menangis sambil memegang tongkat yang sama, dan tujuh kultivator berdiri mengelilingi sesuatu yang gelap. Sebuah suara menggema di antara pepohonan.

“Jangan biarkan Segel terbuka. Keseimbangan akan hancur.”

Kabut semakin tebal. Langkah para pengejar berhenti tepat di luar jangkauan pandangan.

“Kabut apa ini?” terdengar suara seseorang.

“Ada sihir di sini.”

Suara lain menyela, dingin dan berwibawa. “Ini bukan ilusi, tapi perlindungan dari warisan itu.”

Rong Er langsung menegang. Ia mengenali suara tersebut.

“Kakakku...” bisiknya. “Dia tidak pernah berada di pihakku.”

Dari balik kabut, suara Yin Ze terdengar jelas. “Rong Er! Aku tahu kau di sini. Keluarlah, aku bisa melindungimu!”

Rong Er bangkit dan berjalan mendekati batas kabut. “Kalau begitu, kenapa kau bekerja sama dengan Paviliun Bayangan?”

Yin Ze menjawab tanpa ragu. “Mereka menawarkan kebebasan dari kutukan kita. Mereka juga tahu cara menyembuhkan bekas luka di dahimu.”

“Harganya?”

“Segel itu.” Suara Yin Ze terdengar berat. “Atau lebih tepatnya, sesuatu yang ada di dalam Segel itu.”

Sosoknya akhirnya muncul dari kabut. Yin Ze masih tampak elegan seperti biasanya, tetapi sorot matanya dingin seperti es. Ia menatap Rong Er cukup lama sebelum berkata, “Kemarilah. Ayah sudah memaafkanmu.”

“Dan Jing Er?”

Tatapan Yin Ze langsung berubah tajam. “Murid Pemikul Arak harus mati. Itu bagian dari perjanjian.”

“Perjanjian dengan siapa?” tanya Rong Er.

“Dengan mereka yang menginginkan Segel tetap tertutup. Klan Pengemis Timur, Paviliun Bayangan, dan beberapa tetua Klan Rong.” Yin Ze menarik napas. “Kuncinya harus dihancurkan.”

Jing Er menatapnya dengan rahang mengeras. “Guruku sakit karena kalian?”

Yin Ze tersenyum tipis. “Kami meracuninya perlahan, tanpa meninggalkan jejak. Kami tidak bisa membiarkannya mengajarimu cara menggunakan warisan itu sepenuhnya.”

Jing Er mengepalkan tangan.

“Sayangnya dia masih sempat memberimu sebuah cincin,” lanjut Yin Ze. “Itu adalah kesalahan terbesarnya.”

“Kenapa?” suara Jing Er terdengar bergetar menahan amarah.

“Karena dunia masih seimbang selama Segel tertutup.” Yin Ze menatap tongkat naga. “Jika sesuatu di dalamnya bebas, perang seratus tahun lalu akan terulang.”

Puluhan sosok kemudian muncul dari balik pepohonan. Mereka mengepung Jing Er dan Rong Er dari berbagai arah, membuat jalan untuk melarikan diri semakin sempit. Rong Er menatap kakaknya. Ada satu pertanyaan yang sejak tadi berusaha ia tahan.

“Ibu ada di dalam Segel, kan?”

Yin Ze diam.

“Jawab!”

Beberapa detik berlalu sebelum Yin Ze akhirnya mengangguk. “...Ya.”

Air mata mulai mengalir di pipi Rong Er. “Kau rela meninggalkannya di sana?”

“Demi kebaikan bersama, ya.”

Rong Er menggeleng perlahan. “Aku tidak percaya pada kebaikan yang mengorbankan keluarga.”

Yin Ze mengangkat tangan. Panah-panah api langsung melesat dari berbagai arah. Jing Er memutar tongkat naga, dan energi biru membentuk perisai yang menghantam semua panah hingga pecah menjadi percikan api.

Yin Ze menerjang maju dengan pedang terhunus. “Kau tidak terlatih menggunakan tongkat itu. Warisan itu membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dikuasai.”

Pedangnya menghantam tongkat Jing Er. Tubuh Jing Er terdorong beberapa langkah dan tangannya mati rasa.

“Kau hanya punya waktu beberapa jam,” lanjut Yin Ze. “Kau tidak akan pernah menang.”

Jing Er menutup mata. Di tengah suara benturan senjata, ia kembali mendengar suara gurunya.

"Jangan melawan arus... ikuti saja."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Segel Pembalik Takdir    Bab 5

    Jing Er berhenti melawan. Ia menancapkan tongkat naga ke tanah. Gelombang energi biru menyebar tanpa suara. Para pengejar mendadak membeku, wajah mereka kosong seperti kehilangan kesadaran. Satu demi satu senjata terlepas dari tangan mereka, lalu tubuh mereka berbalik dan berjalan menjauh tanpa mengetahui ke mana mereka pergi. Hanya Yin Ze yang masih berdiri. “Apa... yang kau lakukan?” tanyanya gemetar.“Warisan ini,” Jing Er membuka mata lalu mencabut tongkat dari tanah. “membuat mereka melihat sesuatu yang paling mereka takuti.”Sebelum Yin Ze sempat menjawab, sebuah panah hitam melesat dari kegelapan. Jing Er menarik tubuh Yin Ze ke samping dan panah itu menancap di batang pohon. Sosok-sosok baru keluar dari hutan. Mereka mengenakan jubah abu-abu dengan topeng kayu kosong tanpa ekspresi. Wajah Yin Ze langsung pucat. “Pengawas,” bisiknya. “Penjaga asli Segel.” Salah satu dari mereka mengangkat tangannya. Suaranya terdengar seperti batu yang bergesekan. “Kunci telah dibangunkan

  • Segel Pembalik Takdir    Bab 4

    Mata rubi itu perlahan meredup. Namun sebelum benar-benar padam, suara lain yang jauh lebih berat dan jauh lebih tua muncul dari dalam kegelapan. Suara itu membuat seluruh hutan seakan kehilangan suara.“Dan aku…” Jing Er membeku. “…sangat lapar.” Cahaya pada tongkat naga akhirnya menghilang. Hutan kembali sunyi, tetapi kali ini Jing Er tidak merasa tenang. Dari kejauhan terdengar suara pasukan yang masih mengejar mereka. Rong Er menatap Jing Er tanpa berkata-kata, sementara pria muda itu hanya menggenggam tongkat naga dengan erat. “Apa yang sebenarnya telah kita bangunkan?” tanya Rong Er. Jing Er tidak menjawab. Ia menatap hutan di arah timur, tempat peta tadi menunjuk. Untuk pertama kalinya, ancaman Paviliun Bayangan dan Klan Rong terasa jauh lebih kecil dibandingkan sesuatu yang kini menunggu di balik Segel. Di antara pepohonan, suara langkah para pengejar semakin dekat. Jing Er akhirnya berbalik. “Kita harus pergi dari sini.” Mereka kembali berlari menuju timur, tanpa meng

  • Segel Pembalik Takdir    Bab 3

    Tiba-tiba suara tangisan dari dalam gua berubah menjadi tawa rendah. Api unggun bergetar tertiup angin yang entah datang dari mana, sementara bisikan asing menggema dari lorong gelap. “Roh penasaran?” tanya Rong Er. “Mungkin sesuatu yang lebih buruk,” jawab Jing Er. Mereka berdiri dan mengikuti sumber suara. Di dinding lorong terlihat simbol spiral ganda yang bersinar redup. Rong Er berhenti ketika melihatnya. “Simbol Segel.” Bisikan kembali terdengar. “Penerus…” Rong Er menatap lorong di depan mereka. “Akhirnya datang…” Suara itu semakin jelas. “Darahnya cocok…” Rong Er berjalan seperti tersihir. Jing Er segera mengejarnya. Lorong tersebut berakhir di sebuah ruangan bundar. Di tengahnya terdapat kolam air hitam yang sama sekali tidak memantulkan cahaya, sementara tujuh kerangka duduk bersila mengelilinginya. Cahaya biru menyala di rongga mata mereka. Salah satu kerangka perlahan mengangkat kepala. “Putri…” Suara tulangnya berderak. “Darah Phoenix…” Rong Er mel

  • Segel Pembalik Takdir    Bab 2

    Saat Rong Er kembali sadar, matahari mulai tenggelam di balik pegunungan. Mereka beristirahat di sebuah tempat tersembunyi tidak jauh dari sisi gunung. Jing Er tetap berjaga sambil memperhatikan hutan, sementara Rong Er duduk bersandar pada batu dan akhirnya membuka suara. “Aku sudah mencari murid Si Tua Pemikul Arak selama enam bulan.” Jing Er menoleh. “Aku membutuhkan bantuanmu.” Rong Er menjelaskan bahwa Paviliun Bayangan akan terus memburunya selama Phoenix Revival Ring masih berada di tangannya. Ia mengetahui bahwa satu-satunya orang yang mungkin mampu membantunya adalah murid Si Tua Pemikul Arak yang sering berburu di Tebing Naga Terbang. “Aku mendapatkan informasi itu dari pengawal pribadi Klan Rong bernama Zen,” katanya. “Maafkan aku. Aku tidak punya pilihan lain.” Rong Er kembali membungkuk. Jing Er hanya menatapnya sampai gadis itu merasa kikuk dan perlahan meluruskan tubuh. “Kau suka sekali membungkuk.” Rong Er berdeham. “Setidaknya aku tahu cara berterima

  • Segel Pembalik Takdir    Bab 1

    Di Tebing Naga Terbang, kabut biru pekat menyelimuti hutan purba. Di tengah bayang-bayang pepohonan, tatapan Jing Er tertuju pada seekor Misty Stag yang telah ia kuntit selama tiga hari. Tanduk rusa kabut mistis itu dipercaya mampu menyembuhkan seribu racun. Darahnya juga dapat memperkuat qi seseorang, setara dengan hasil latihan selama sepuluh tahun hanya dalam semalam. Jing Er berdiri di atas cabang pohon Ironwood, tiga puluh meter dari tanah. Jubah hitamnya menyatu dengan bayangan. Rambut panjangnya diikat rendah menggunakan pita hitam khas Klan Pengemis Timur. Matanya yang berwarna tembaga tua terus mengikuti pergerakan rusa itu dengan fokus. “Tinggal dua puluh langkah lagi menuju jebakan,” batin Jing Er. Tangannya yang bersarung kulit hitam menggenggam tiga jarum perak tipis. Tiba-tiba, arah angin berubah. Rusa itu mengangkat kepala. Hidungnya bergerak-gerak, mencium sesuatu yang mencurigakan. Jing Er memperlambat detak jantungnya dengan teknik hasil latihan dari gurunya. Sat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status