Share

Bab 6

Penulis: Dazai
last update Tanggal publikasi: 2026-09-16 15:29:47

Jing Er teringat peta dari Gua Menangis. Jalur kuno itu terhubung dengan sebuah kota perdagangan gelap di bawah Pegunungan Naga, tempat para pedagang, pemburu bayaran, kultivator, dan makhluk dari berbagai ras bertemu tanpa memedulikan asal-usul mereka.

Mereka menemukan sebuah gua sempit di balik tebing. Di ujung lorong terdapat lubang yang tertutup batu besar, dan Jing Er segera menyadari bahwa itu adalah pintu menuju jalur bawah tanah. Mereka mendorong batu tersebut hingga terbuka, lalu turun
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Segel Pembalik Takdir    Bab 7

    Malam itu, Rong Er duduk di luar kedai sambil memegang liontin ibunya. Cahaya lentera memantul di permukaan perak, membuat wajah wanita di dalamnya tampak seolah masih hidup.“Jing Er.”Jing Er yang sedang memeriksa tongkat naga menoleh.“Apa kita juga akan menemukan tujuan kita di sana?”Jing Er terdiam beberapa saat. “Kita sudah punya tujuan.”Rong Er menatapnya.“Menyelamatkan dunia.”Jawaban itu terdengar tegas, tetapi Jing Er sendiri tidak yakin apa yang akan terjadi setelah semuanya berakhir.Tiba-tiba tongkat naga bergetar.Suara Si Tua Pemikul Arak terdengar samar dari dalamnya.“Kuil itu berbahaya... di sana kau akan menemukan kebenaran tentang ibumu... dia adalah Penerima dalam ritual sebelumnya...”Jing Er langsung berdiri. “Guru!”Namun suara itu telah lenyap.Fajar tiba beberapa jam kemudian.Mereka menaiki The Storm Dancer, kapal tiga tiang milik Kapten Long yang setiap tiangnya dihiasi ukiran naga. Begitu kapal meninggalkan pelabuhan bawah tanah dan memasuki Laut Kabut,

  • Segel Pembalik Takdir    Bab 6

    Jing Er teringat peta dari Gua Menangis. Jalur kuno itu terhubung dengan sebuah kota perdagangan gelap di bawah Pegunungan Naga, tempat para pedagang, pemburu bayaran, kultivator, dan makhluk dari berbagai ras bertemu tanpa memedulikan asal-usul mereka.Mereka menemukan sebuah gua sempit di balik tebing. Di ujung lorong terdapat lubang yang tertutup batu besar, dan Jing Er segera menyadari bahwa itu adalah pintu menuju jalur bawah tanah. Mereka mendorong batu tersebut hingga terbuka, lalu turun tepat ketika asap ungu mulai memasuki gua.Jing Er kembali menarik batu hingga menutup lubang. Dari luar terdengar raungan marah yang mengguncang dinding gua, tetapi beberapa detik kemudian semuanya menjadi sunyi.Mereka terus turun sampai akhirnya tiba di lorong batu yang dipenuhi jamur biru kehijauan. Cahaya lembut dari tanaman itu menerangi jalan tanpa membutuhkan obor. Rong Er memandang ke sekeliling dengan napas masih berat.“Di mana kita?”“Pasar Bayangan,” jawab Jing Er. “Bahkan Paviliun

  • Segel Pembalik Takdir    Bab 5

    Jing Er berhenti melawan. Ia menancapkan tongkat naga ke tanah. Gelombang energi biru menyebar tanpa suara. Para pengejar mendadak membeku, wajah mereka kosong seperti kehilangan kesadaran. Satu demi satu senjata terlepas dari tangan mereka, lalu tubuh mereka berbalik dan berjalan menjauh tanpa mengetahui ke mana mereka pergi. Hanya Yin Ze yang masih berdiri. “Apa... yang kau lakukan?” tanyanya gemetar.“Warisan ini,” Jing Er membuka mata lalu mencabut tongkat dari tanah. “membuat mereka melihat sesuatu yang paling mereka takuti.”Sebelum Yin Ze sempat menjawab, sebuah panah hitam melesat dari kegelapan. Jing Er menarik tubuh Yin Ze ke samping dan panah itu menancap di batang pohon. Sosok-sosok baru keluar dari hutan. Mereka mengenakan jubah abu-abu dengan topeng kayu kosong tanpa ekspresi. Wajah Yin Ze langsung pucat. “Pengawas,” bisiknya. “Penjaga asli Segel.” Salah satu dari mereka mengangkat tangannya. Suaranya terdengar seperti batu yang bergesekan. “Kunci telah dibangunkan

  • Segel Pembalik Takdir    Bab 4

    Mata rubi itu perlahan meredup. Namun sebelum benar-benar padam, suara lain yang jauh lebih berat dan jauh lebih tua muncul dari dalam kegelapan. Suara itu membuat seluruh hutan seakan kehilangan suara.“Dan aku…” Jing Er membeku. “…sangat lapar.” Cahaya pada tongkat naga akhirnya menghilang. Hutan kembali sunyi, tetapi kali ini Jing Er tidak merasa tenang. Dari kejauhan terdengar suara pasukan yang masih mengejar mereka. Rong Er menatap Jing Er tanpa berkata-kata, sementara pria muda itu hanya menggenggam tongkat naga dengan erat. “Apa yang sebenarnya telah kita bangunkan?” tanya Rong Er. Jing Er tidak menjawab. Ia menatap hutan di arah timur, tempat peta tadi menunjuk. Untuk pertama kalinya, ancaman Paviliun Bayangan dan Klan Rong terasa jauh lebih kecil dibandingkan sesuatu yang kini menunggu di balik Segel. Di antara pepohonan, suara langkah para pengejar semakin dekat. Jing Er akhirnya berbalik. “Kita harus pergi dari sini.” Mereka kembali berlari menuju timur, tanpa meng

  • Segel Pembalik Takdir    Bab 3

    Tiba-tiba suara tangisan dari dalam gua berubah menjadi tawa rendah. Api unggun bergetar tertiup angin yang entah datang dari mana, sementara bisikan asing menggema dari lorong gelap. “Roh penasaran?” tanya Rong Er. “Mungkin sesuatu yang lebih buruk,” jawab Jing Er. Mereka berdiri dan mengikuti sumber suara. Di dinding lorong terlihat simbol spiral ganda yang bersinar redup. Rong Er berhenti ketika melihatnya. “Simbol Segel.” Bisikan kembali terdengar. “Penerus…” Rong Er menatap lorong di depan mereka. “Akhirnya datang…” Suara itu semakin jelas. “Darahnya cocok…” Rong Er berjalan seperti tersihir. Jing Er segera mengejarnya. Lorong tersebut berakhir di sebuah ruangan bundar. Di tengahnya terdapat kolam air hitam yang sama sekali tidak memantulkan cahaya, sementara tujuh kerangka duduk bersila mengelilinginya. Cahaya biru menyala di rongga mata mereka. Salah satu kerangka perlahan mengangkat kepala. “Putri…” Suara tulangnya berderak. “Darah Phoenix…” Rong Er mel

  • Segel Pembalik Takdir    Bab 2

    Saat Rong Er kembali sadar, matahari mulai tenggelam di balik pegunungan. Mereka beristirahat di sebuah tempat tersembunyi tidak jauh dari sisi gunung. Jing Er tetap berjaga sambil memperhatikan hutan, sementara Rong Er duduk bersandar pada batu dan akhirnya membuka suara. “Aku sudah mencari murid Si Tua Pemikul Arak selama enam bulan.” Jing Er menoleh. “Aku membutuhkan bantuanmu.” Rong Er menjelaskan bahwa Paviliun Bayangan akan terus memburunya selama Phoenix Revival Ring masih berada di tangannya. Ia mengetahui bahwa satu-satunya orang yang mungkin mampu membantunya adalah murid Si Tua Pemikul Arak yang sering berburu di Tebing Naga Terbang. “Aku mendapatkan informasi itu dari pengawal pribadi Klan Rong bernama Zen,” katanya. “Maafkan aku. Aku tidak punya pilihan lain.” Rong Er kembali membungkuk. Jing Er hanya menatapnya sampai gadis itu merasa kikuk dan perlahan meluruskan tubuh. “Kau suka sekali membungkuk.” Rong Er berdeham. “Setidaknya aku tahu cara berterima

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status