Masuk"Hei," Kresna menyentuh lengan Cindy perlahan—sebuah kontak fisik pertama yang membuat Cindy tersentak kecil.
"Aku tidak peduli pada rahasia pribadimu. Aku hanya peduli pada siapa yang sudah berani mengotori kode buatanku dengan namamu. Kita selesaikan ini, lalu kamu bisa kembali jadi sekretaris kaku, dan aku kembali jadi orang asing. Deal?" Cindy menatap jemari Kresna di lengannya, lalu kembali menatap mata pria itu. Rasa kesal itu masih ada, namun terselip rasa percaya yang mulai tumbuh secara terpaksa. Ia menarik napas panjang, mencoba membuang sisa-sisa egonya. "Deal," jawab Cindy tegas. "Kata sandinya adalah PradanaIntegritas2025. Jangan tertawa." Kresna benar-benar tertawa, suara tawa rendah yang entah mengapa membuat jantung Cindy berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. "Sangat orisinal, Mbak Sekretaris. Sangat orisinal." Cindy merengut karena reaksi berlebihan pria itu, namun dia menahan diri untuk tidak mendebat. "Ayo duduk!" Kresna menarik sebuah kursi dan menunjukinya. "Mari kita mulai dengan membongkar semua jejak digitalmu mulai dari tiga bulan yang lalu." Kresna kembali menghadap ke layar monitor, masang mode serius. "Sekarang beri tahu aku semua orang yang pernah kamu beri akses ke perangkatmu atau tahu kata sandimu." Saat Cindy sudah hendak menjawab, matanya tiba-tiba terpaku pada salah satu layar yang menampilkan rekaman aktivitas yang dia yakin tidak pernah lakukan. Di sana tercatat transaksi transfer dana besar dari rekening perusahaan yang menggunakan otorisasi digital namanya. "Itu... Transaksi itu bukan aku yang melakukannya!" seru Cindy menunjuk layar. "Aku tahu. Itu sebabnya kita harus mencari siapa yang benar-benar melakukannya. Dan dari pola aktivitasnya, pelaku bukan hanya seorang hacker biasa. Dia tahu sistem Pradana Group seperti telapak tangannya sendiri." Cindy merasa tubuhnya menjadi dingin. 'Pelaku adalah orang dari dalam perusahaan?' Sambil terus mengetik cepat, Kresna menambahkan, "Ada satu lagi hal. Pelaku tidak hanya menggunakan identitasmu untuk mencuri uang. Dia juga menyebarkan data rahasia perusahaan ke beberapa situs yang tidak dikenal. Jika polisi menemukan bukti itu sebelum kita bisa melacak sumbernya, bahkan aku tidak bisa membantumu lagi." "Jadi apa yang kita lakukan sekarang?" tanya Cindy dengan suara yang lebih lembut. "Sekarang, kamu akan memberitahuku semua yang aku butuhkan untuk diketahui. Dan jangan pernah lagi berpikir bahwa aku yang menjebakmu dengan tuduhan palsu. Aku hanya melakukan perintah dan membayar utang pada Bos Ardi." Cindy mengangguk perlahan. Meskipun masih merasa tidak nyaman dengan Kresna, dia menyadari bahwa mereka sekarang berada di sisi yang sama. Dan nasibnya ada di tangan pria menyebalkan ini. "Baiklah," ucapnya perlahan. "Mari kita mulai dari awal." Cindy menatap setiap baris kode dan data yang muncul di layar Kresna. Dia mulai menceritakan semua orang yang pernah menyentuh laptop atau ponselnya—dari Bambang yang terkadang membantu mengurus dokumen, hingga beberapa rekan kerja di departemen keuangan yang pernah meminjam akses sementara. "Satu-satunya orang yang punya akses penuh ke akunku selain aku sendiri adalah Pak Ardi," ujar Cindy pelan. "Tapi itu tidak mungkin kan? Dia yang melindungiku sekarang." Kresna mengangguk tanpa melihatnya. "Aku tahu. Pak Ardi tidak akan melakukan hal itu. Dia punya lebih banyak yang akan hilang jika perusahaan ini ambruk. Tapi kita tidak bisa menghindari kemungkinan ada orang di sekitarnya yang tahu cara mendapatkan akses ke akunmu." Saat Cindy menerangkan lebih lanjut tentang rutinitas kerjanya, Kresna tiba-tiba berhenti mengetik. Matanya terpaku pada sebuah pola di salah satu monitor. "Ada sesuatu yang tidak beres di sini," gumam pria itu pelan. "Setiap kali pelaku melakukan aktivitas dengan identitasmu, mereka selalu menggunakan jaringan Wi-Fi yang sama—salah satu hotspot publik di kawasan pusat bisnis dekat kantor." "Hotspot itu banyak digunakan oleh pegawai kantor-kantor di sekitar sana," tambah Cindy. "Aku sendiri juga pernah menggunakannya beberapa kali saat sedang makan siang di luar." "Betul. Tapi yang anehnya, aktivitas itu selalu terjadi tepat satu jam sebelum kamu datang ke kantor. Seolah pelaku tahu jadwalmu datang dengan sangat akurat." Cindy merenungi ucapan Kresna. Siapa yang bisa tahu jadwalnya dengan begitu tepat? Selain Bambang, mungkin saja beberapa rekan kerja... atau seseorang yang sering melihatnya dari jauh. "Kamu sudah berani memberikan kata sandi untuk semua akses digitalmu. Sebagai gantinya aku akan memberitahumu rahasiaku juga." Cindy mengalihkan pendangannya ke arah Kresna. Mencoba memahami maksud perkataan dari pria itu. Sambil terus menganalisis data, Kresna mulai bercerita. Dengan jenari tetap di keyboard dan tatapan lurus ke layar monitor. Dia menceritakan hal yang tidak pernah diperkirakan oleh Cindy. "Di Singapura tahun lalu, aku tidak sengaja masuk ke sistem bank salah satu perusahaan besar. Bukan untuk kegiatan ilegal, aku hanya mencoba membantu teman yang dipermalukan dalam kasus penipuan digital," katanya dengan suara rendah. "Sistem itu terlalu lemah, jadi aku bisa masuk dalam hitungan menit. Tapi ternyata itu semua hanya jebakan, dan polisi menangkapku sebelum aku bisa membuktikan kebenaran." "Pak Ardi Pradana datang tepat waktu sebelum aku harus masuk ke penjara," lanjutnya sambil menunjuk pada foto Ardi yang terpampang di salah satu layar. "Dia menyelesaikan semua masalah hukum dan menawarkan pekerjaan padaku di Indonesia. Dengan satu syarat—jangan pernah lagi menggunakan keahlianku itu untuk hal yang salah." Cindy tidak bisa berkata apa-apa untuk menanggapi cerita itu. Meskipun masih merasa tidak nyaman karena cerita pribadi yang tiba-tiba, sedikit rasa iba mulai muncul di hatinya. Ternyata Kresna bukan hanya seorang peretas nakal seperti yang dia kira. "Saat itu aku berpikir bahwa seorang pebisnis besar seperti Ardi Pradana hanya ingin mengontrolku, memanfaatkan keahlianku." sambung Kresna. "Tapi sekarang aku tahu, dia benar-benar peduli dengan orang-orang yang bekerja untuknya. Termasuk aku dan kamu." Cindy terdiam karena tahu kebenaran kata-kata Kresna. Sebagai orang kepercayaan Ardi dan telah menemani atasannya itu lebih dari lima tahun, dia sudah hafal sifat Ardi Pradana. Dia memang pimpinan yang tegas dan disiplin, namun dia juga pria yang sangat baik hingga banyak orang loyal kepadanya. 'Pak Ardi Pradana adalah atasan yang baik."Lampu di ruang rapat eksekutif Menara Pradana masih menyala terang, meski jarum jam sudah melampaui angka dua belas malam. Di luar, Jakarta mulai meredup, namun di dalam ruangan ini, denyut nadi kreativitas baru saja dimulai. Ardi Pradana, sang CEO yang biasanya tak gentar menghadapi fluktuasi pasar saham, kini tampak tak berdaya di depan meja jatinya."Bagaimana? Ada ide?" Ardi menagih dengan nada mendesak kepada keempat staf andalannya. Wajahnya yang biasa kaku kini tampak memelas. Sebagai pria yang terbiasa berpikir logis dan strategis, urusan asmara ternyata menjadi titik buta yang membuatnya mentok total. Ia ingin melamar Ella, namun ia tak ingin acara itu terasa seperti sekadar transaksi bisnis yang kaku.Bambang, Kresna, dan Gery saling bertukar pandangan dalam keheningan yang canggung. Kresna lebih paham cara menjebol firewall daripada menyusun buket bunga. Gery lebih mahir menyusun pasal-pasal hukum daripada skenario romantis. Sementara Bambang? Ia hanya bisa memikirkan mak
Lampu neon di lobi Menara Pradana berpendar dingin saat Kresna dan Cindy melangkah masuk dengan napas yang masih memburu. Keduanya tampil kontras dengan lingkungan korporat yang steril itu. Kresna dengan jaket hoodie yang resletingnya belum tertutup sempurna, dan Cindy dengan riasan tipis sisa makan malam yang mulai memudar. Ponsel Kresna tadi bergetar tepat satu menit setelah Cindy menutup telepon dari Ardi. Suara Ardi di seberang sana terdengar sangat mendesak, memerintahkan Kresna untuk tidak membuang waktu satu detik pun. "Kresna, langsung ke lantai 40." Hanya itu yang dikatakan sang CEO sebelum memutus sambungan. Di depan lift eksekutif, mereka bertemu dengan Gery. Sang pengacara perusahaan itu biasanya tampil dengan setelan jas tiga lapis yang kaku, namun malam ini ia hanya mengenakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga siku, dasinya sudah dilonggarkan. Wajahnya tampak tegang. "Gery? Kamu juga dipanggil?" tanya Cindy sambil menekan tombol lift. Semakin penasar
Lampu neon di lobi Menara Pradana berpendar dingin saat Kresna dan Cindy melangkah masuk dengan napas yang masih memburu. Keduanya tampil kontras dengan lingkungan korporat yang steril itu; Kresna dengan jaket hoodie yang resletingnya belum tertutup sempurna, dan Cindy dengan riasan tipis sisa makan malam yang mulai memudar. Ponsel Kresna tadi bergetar tepat satu menit setelah Cindy menutup telepon dari Ardi. Suara Ardi di seberang sana terdengar sangat mendesak, memerintahkan Kresna untuk tidak membuang waktu satu detik pun. "Kresna, langsung ke lantai 40. Keamanan tertinggi," hanya itu yang dikatakan sang CEO sebelum memutus sambungan. Di depan lift eksekutif, mereka bertemu dengan Gery. Sang pengacara perusahaan itu biasanya tampil dengan setelan jas tiga lapis yang kaku, namun malam ini ia hanya mengenakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga siku, dasinya sudah dilonggarkan. Wajahnya tampak tegang. "Pak Gery? Anda juga dipanggil?" tanya Cindy sambil menekan tombo
Setelah berbulan-bulan terjebak dalam labirin kode, ancaman spionase industri, dan sandiwara profesional di koridor Menara Pradana, hari Sabtu ini terasa seperti sebuah anomali yang indah. Untuk pertama kalinya, ponsel Kresna tidak memuntahkan barisan log peringatan merah, dan agenda Cindy bersih dari jadwal rapat koordinasi Perusahaan Pradana. Apartemen Cindy terletak di lantai dua puluh delapan, sebuah ruang minimalis yang didominasi warna krem dan abu-abu lembut, sangat kontras dengan kepribadiannya yang tajam di kantor. Di sini, tidak ada sekretaris eksekutif yang kaku atau peretas yang waspada. Yang ada hanyalah dua manusia yang mencoba merebut kembali kemanusiaan mereka dari cengkeraman korporat. Siang itu Kresna sengaja berkunjung ke apartemen Cindy sebagai ganti kencan mereka. Mereka menghabiskan hari minggu dengan suasana kesederhanaan yang tenang. Mereka tidak pergi ke mal mewah atau restoran berbintang. Kresna, yang biasanya menghabiskan akhir pekan di depan ti
Lobi Menara Pradana yang biasanya riuh oleh langkah kaki tergesa, pagi ini terasa seperti hamparan air tenang pasca badai. Kasus sabotase siber yang sempat mengguncang gedung itu berakhir dengan antiklimaks yang mengejutkan. Karna Nugroho, sang peretas yang sempat dianggap sebagai ancaman maut, kini duduk di lobi dengan kemeja kasual, menyesap kopi hitam tanpa beban. Tidak ada borgol, tidak ada pengawalan ketat. Di hadapannya, Cindy duduk dengan punggung tegak, sementara Kresna berdiri di sampingnya dengan tangan terlipat di dada, matanya masih memancarkan aura permusuhan yang tidak ditutupi. "Jadi," Kresna memecah keheningan, suaranya rendah dan tajam. "Semua drama pemerasan, foto Anyer, dan penyadapan itu hanya... audisi?" Karna terkekeh pelan, meletakkan cangkirnya. "Bisa dibilang begitu. Pak Irza punya obsesi kecil untuk menemukan 'tulang punggung' terbaik di industri ini. Dia tidak butuh orang pintar, karena orang pin
Pagi itu, suasana di lantai 40 Menara Pradana terasa mencekam, setidaknya bagi mereka yang peka terhadap getaran frekuensi rendah ketegangan siber. Kresna tidak tidur semalaman. Matanya yang merah tersembunyi di balik tudung hoodie, jemarinya masih bergetar kecil karena kelelahan kafein dan amarah yang dingin.Di meja sekretariat, Cindy duduk tegak, memaksakan senyum sopan kepada setiap staf yang lewat. Namun, di bawah meja, jemarinya meremas ponselnya kuat-kuat. Foto infra-merah dari nomor tak dikenal itu masih menghantui galerinya. Ancaman Karna bukan sekadar gertakan; itu adalah serangan presisi pada titik buta emosionalnya.Tepat pukul 09.00, Karna melangkah keluar dari lift. Ia tidak langsung menuju ruang rapat. Ia berhenti di depan meja Cindy, meletakkan sebuah cangkir kopi latte dengan seni latte art berbentuk kunci."Pagi, Mbak Cindy. Sudah siap untuk presentasi audit hari ini?" tanya Karna, suaranya halus seperti sutra yang menyembunyikan sembilu. "Saya harap 'modul' yang ki
Ketegangan pasca-pertemuan di Menara Pradana tidak mereda, justru bermutasi menjadi bentuk yang lebih halus dan berbahaya. Kerja sama strategis antara Pradana Group dan Wismail Group resmi ditandatangani, yang berarti Karna Wismail kini memiliki akses legal untuk berada di lantai eksekutif Pradana
Lantai 40 Menara Pradana seketika berubah menjadi medan magnet dengan kutub yang saling menolak. Di balik pintu kayu jati yang kedap suara, udara terasa statis, seolah-olah oksigen di ruangan itu telah diionisasi oleh ketegangan yang dibawa oleh dua tamu tak diundang dari Wismail Group. Kresna be
Dua hari telah berlalu. Empat puluh delapan jam tanpa tidur penuh. CERBERUS akhirnya menunjukkan sesuatu yang selama ini bersembunyi di balik kabut kode yang berubah-ubah.Kresna menyadari adanya pola yang konsisten. Bukan di bentuk malware-nya. Bukan di struktur enkripsinya. Melainkan di gaya penu
Euforia liburan Anyer masih menggantung di udara Menara Pradana seperti sisa wangi laut yang menempel pada pakaian. Namun, di balik tawa para karyawan yang masih sibuk memamerkan foto matahari terbenam di grup W******p kantor, sebuah predator sedang mengintai dalam kegelapan siber. Pukul 10.00 pagi







