Share

Bekerja Sama

Author: Die-din
last update Last Updated: 2025-12-29 12:31:50

"Hei," Kresna menyentuh lengan Cindy perlahan—sebuah kontak fisik pertama yang membuat Cindy tersentak kecil.

"Aku tidak peduli pada rahasia pribadimu. Aku hanya peduli pada siapa yang sudah berani mengotori kode buatanku dengan namamu. Kita selesaikan ini, lalu kamu bisa kembali jadi sekretaris kaku, dan aku kembali jadi orang asing. Deal?"

Cindy menatap jemari Kresna di lengannya, lalu kembali menatap mata pria itu. Rasa kesal itu masih ada, namun terselip rasa percaya yang mulai tumbuh secara terpaksa. Ia menarik napas panjang, mencoba membuang sisa-sisa egonya.

"Deal," jawab Cindy tegas. "Kata sandinya adalah PradanaIntegritas2025. Jangan tertawa."

Kresna benar-benar tertawa, suara tawa rendah yang entah mengapa membuat jantung Cindy berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. "Sangat orisinal, Mbak Sekretaris. Sangat orisinal."

Cindy merengut karena reaksi berlebihan pria itu, namun dia menahan diri untuk tidak mendebat.

"Ayo duduk!" Kresna menarik sebuah kursi dan menunjukinya. "Mari kita mulai dengan membongkar semua jejak digitalmu mulai dari tiga bulan yang lalu."

Kresna kembali menghadap ke layar monitor, masang mode serius. "Sekarang beri tahu aku semua orang yang pernah kamu beri akses ke perangkatmu atau tahu kata sandimu."

Saat Cindy sudah hendak menjawab, matanya tiba-tiba terpaku pada salah satu layar yang menampilkan rekaman aktivitas yang dia yakin tidak pernah lakukan. Di sana tercatat transaksi transfer dana besar dari rekening perusahaan yang menggunakan otorisasi digital namanya.

"Itu... Transaksi itu bukan aku yang melakukannya!" seru Cindy menunjuk layar.

"Aku tahu. Itu sebabnya kita harus mencari siapa yang benar-benar melakukannya. Dan dari pola aktivitasnya, pelaku bukan hanya seorang hacker biasa. Dia tahu sistem Pradana Group seperti telapak tangannya sendiri."

Cindy merasa tubuhnya menjadi dingin. 'Pelaku adalah orang dari dalam perusahaan?'

Sambil terus mengetik cepat, Kresna menambahkan, "Ada satu lagi hal. Pelaku tidak hanya menggunakan identitasmu untuk mencuri uang. Dia juga menyebarkan data rahasia perusahaan ke beberapa situs yang tidak dikenal. Jika polisi menemukan bukti itu sebelum kita bisa melacak sumbernya, bahkan aku tidak bisa membantumu lagi."

"Jadi apa yang kita lakukan sekarang?" tanya Cindy dengan suara yang lebih lembut.

"Sekarang, kamu akan memberitahuku semua yang aku butuhkan untuk diketahui. Dan jangan pernah lagi berpikir bahwa aku yang menjebakmu dengan tuduhan palsu. Aku hanya melakukan perintah dan membayar utang pada Bos Ardi."

Cindy mengangguk perlahan. Meskipun masih merasa tidak nyaman dengan Kresna, dia menyadari bahwa mereka sekarang berada di sisi yang sama. Dan nasibnya ada di tangan pria menyebalkan ini.

"Baiklah," ucapnya perlahan. "Mari kita mulai dari awal."

Cindy menatap setiap baris kode dan data yang muncul di layar Kresna. Dia mulai menceritakan semua orang yang pernah menyentuh laptop atau ponselnya—dari Bambang yang terkadang membantu mengurus dokumen, hingga beberapa rekan kerja di departemen keuangan yang pernah meminjam akses sementara.

"Satu-satunya orang yang punya akses penuh ke akunku selain aku sendiri adalah Pak Ardi," ujar Cindy pelan. "Tapi itu tidak mungkin kan? Dia yang melindungiku sekarang."

Kresna mengangguk tanpa melihatnya. "Aku tahu. Pak Ardi tidak akan melakukan hal itu. Dia punya lebih banyak yang akan hilang jika perusahaan ini ambruk. Tapi kita tidak bisa menghindari kemungkinan ada orang di sekitarnya yang tahu cara mendapatkan akses ke akunmu."

Saat Cindy menerangkan lebih lanjut tentang rutinitas kerjanya, Kresna tiba-tiba berhenti mengetik. Matanya terpaku pada sebuah pola di salah satu monitor.

"Ada sesuatu yang tidak beres di sini," gumam pria itu pelan. "Setiap kali pelaku melakukan aktivitas dengan identitasmu, mereka selalu menggunakan jaringan Wi-Fi yang sama—salah satu hotspot publik di kawasan pusat bisnis dekat kantor."

"Hotspot itu banyak digunakan oleh pegawai kantor-kantor di sekitar sana," tambah Cindy. "Aku sendiri juga pernah menggunakannya beberapa kali saat sedang makan siang di luar."

"Betul. Tapi yang anehnya, aktivitas itu selalu terjadi tepat satu jam sebelum kamu datang ke kantor. Seolah pelaku tahu jadwalmu datang dengan sangat akurat."

Cindy merenungi ucapan Kresna. Siapa yang bisa tahu jadwalnya dengan begitu tepat? Selain Bambang, mungkin saja beberapa rekan kerja... atau seseorang yang sering melihatnya dari jauh.

"Kamu sudah berani memberikan kata sandi untuk semua akses digitalmu. Sebagai gantinya aku akan memberitahumu rahasiaku juga."

Cindy mengalihkan pendangannya ke arah Kresna. Mencoba memahami maksud perkataan dari pria itu.

Sambil terus menganalisis data, Kresna mulai bercerita. Dengan jenari tetap di keyboard dan tatapan lurus ke layar monitor. Dia menceritakan hal yang tidak pernah diperkirakan oleh Cindy.

"Di Singapura tahun lalu, aku tidak sengaja masuk ke sistem bank salah satu perusahaan besar. Bukan untuk kegiatan ilegal, aku hanya mencoba membantu teman yang dipermalukan dalam kasus penipuan digital," katanya dengan suara rendah.

"Sistem itu terlalu lemah, jadi aku bisa masuk dalam hitungan menit. Tapi ternyata itu semua hanya jebakan, dan polisi menangkapku sebelum aku bisa membuktikan kebenaran."

"Pak Ardi Pradana datang tepat waktu sebelum aku harus masuk ke penjara," lanjutnya sambil menunjuk pada foto Ardi yang terpampang di salah satu layar. "Dia menyelesaikan semua masalah hukum dan menawarkan pekerjaan padaku di Indonesia. Dengan satu syarat—jangan pernah lagi menggunakan keahlianku itu untuk hal yang salah."

Cindy tidak bisa berkata apa-apa untuk menanggapi cerita itu. Meskipun masih merasa tidak nyaman karena cerita pribadi yang tiba-tiba, sedikit rasa iba mulai muncul di hatinya. Ternyata Kresna bukan hanya seorang peretas nakal seperti yang dia kira.

"Saat itu aku berpikir bahwa seorang pebisnis besar seperti Ardi Pradana hanya ingin mengontrolku, memanfaatkan keahlianku." sambung Kresna. "Tapi sekarang aku tahu, dia benar-benar peduli dengan orang-orang yang bekerja untuknya. Termasuk aku dan kamu."

Cindy terdiam karena tahu kebenaran kata-kata Kresna. Sebagai orang kepercayaan Ardi dan telah menemani atasannya itu lebih dari lima tahun, dia sudah hafal sifat Ardi Pradana. Dia memang pimpinan yang tegas dan disiplin, namun dia juga pria yang sangat baik hingga banyak orang loyal kepadanya.

'Pak Ardi Pradana adalah atasan yang baik."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sekretaris Cantik Vs Mr. Hacker   Pertemuan Dua Arsitek

    Lantai 40 Menara Pradana seketika berubah menjadi medan magnet dengan kutub yang saling menolak. Di balik pintu kayu jati yang kedap suara, udara terasa statis, seolah-olah oksigen di ruangan itu telah diionisasi oleh ketegangan yang dibawa oleh dua tamu tak diundang dari Wismail Group. Kresna berjalan menyusuri lorong marmer dengan langkah yang tidak biasanya ragu. Pesan singkat dari Ardi bukan sekadar instruksi; itu adalah perintah siaga satu. Ia merapikan jaket hoodie hitamnya, mencoba menutupi noda kopi kecil di kaosnya—sisa dari kepanikan serangan dua hari lalu. Di sampingnya, Cindy berjalan dengan langkah tegap, tumit sepatu hak tingginya mengetuk lantai dengan irama yang menenangkan sekaligus mengancam. "Kresna," bisik Cindy pelan sebelum mereka mencapai pintu ganda ruang eksekutif. "Pasang firewall di wajahmu. Jangan biarkan mereka membaca emosimu." Kresna hanya mengangguk tipis. Ia tahu siapa yang ada di dalam. Ia telah menelusuri jejak digital "si penyerang" selama

  • Sekretaris Cantik Vs Mr. Hacker   Kedatangan Wismail

    Pagi itu, atmosfer di lobi Menara Pradana tidak lagi membawa sisa-sisa aroma laut Anyer yang santai. Udara seolah terkompresi, menjadi lebih padat, formal, dan dingin. Pendingin ruangan sentral terasa menusuk hingga ke tulang, sejalan dengan ketegangan yang merayap di antara pilar-pilar marmer setinggi sepuluh meter.Dua sosok pria melangkah masuk melalui pintu putar kaca dengan langkah yang membelah keheningan lobi. Kehadiran mereka segera memedot perhatian para resepsionis yang biasanya sibuk dengan gawai masing-masing. Pria pertama, yang berjalan di depan, adalah perwujudan dari otoritas yang dipoles dengan kemewahan: Irza Wismail, seorang priq yang tinggi, muda dan tampan. Ia mengenakan setelan jas custom-made seharga mobil kelas menengah, dengan senyum tipis yang tidak pernah mencapai matanya—sebuah senyum yang dikalkulasi secara matematis.Di belakangnya, mengikuti seperti bayangan yang lebih gelap, adalah seorang pria berusia awal tiga puluhan. Ia mengenakan kacamata berbingka

  • Sekretaris Cantik Vs Mr. Hacker   Keputusan Mutlak CEO

    Dua hari telah berlalu. Empat puluh delapan jam tanpa tidur penuh. CERBERUS akhirnya menunjukkan sesuatu yang selama ini bersembunyi di balik kabut kode yang berubah-ubah.Kresna menyadari adanya pola yang konsisten. Bukan di bentuk malware-nya. Bukan di struktur enkripsinya. Melainkan di gaya penulisan payload. indentasi, urutan fungsi, dan cara menyamarkan loop rekursif.“Itu tanda tangan,” gumam Kresna pelan.Ia membuka arsip lama. Beberapa bulan lalu, timnya pernah menganalisis percobaan penetrasi sistem dari kompetitor lama—perusahaan teknologi bernama Wismail Corporation.Saat itu hanya uji coba agresif. Tidak pernah terbukti. Namun struktur coding-nya… Sama.Kresna memperbesar layer terakhir hasil dekripsi parsial. Di salah satu modul tersembunyi, ada komentar kecil yang nyaris tak terlihat://wm:rev17Wismail. Revision 17.“I got you,” bisiknya dalam senyum kemenangan.Sore itu, Kresna kembali menggunakan ponsel terenkripsi untuk memberikan laporan kepada sang atasan. Pada der

  • Sekretaris Cantik Vs Mr. Hacker   Hacker sekaligus Stalker

    Kresna duduk ke meja kerjanya menghadap tiga layar monitor sekaligus, melancarkan jurus-jurus hacking tingkat tinggi untuk membobol beberapa sistem keamanan perusahaan Pradana. Beberapa jam berlalu dan baru separuhnya saja proses hacking selesai. Terlalu banyak nama dan instansi yang berhubungan dengan server. Terlalu banyak riwayat invasi yang harus dipilah dan disorting sesuai dengan kriteria yang ditetapkan Kresna sebagai kode hacking. Bagi Kresna tak ada satu sistem keamanan pun yang tidak mungkin dia masuki. Meskipun tentu tidak mudah dan memerlukan banyak waktu agar tidak tertangkap dan dianggap sebagai cyber crime. Ponsel di meja Kresna berdering dan nama 'Big boz' yang terpampang disana. Pak Ardi? Ada apa lagi? Buru-buru Kresna mengangkat dan menerima pangilan itu. "Halo Kresna..." sapa Ardi buru-buru. "Ya pak?" "Kres, kamu bisa tahu lokasi seseorang dari sinyal ponselnya kan?" "Bisa." "Aku pengen kamu lacak dan laporkan tentang keberadaan seseorang setiap jam s

  • Sekretaris Cantik Vs Mr. Hacker   Invasi Siber

    Euforia liburan Anyer masih menggantung di udara Menara Pradana seperti sisa wangi laut yang menempel pada pakaian. Namun, di balik tawa para karyawan yang masih sibuk memamerkan foto matahari terbenam di grup W******p kantor, sebuah predator sedang mengintai dalam kegelapan siber. Pukul 10.00 pagi. Kresna sedang duduk di ruang IT-nya, menyesap kopi hitam ketiga hari itu. Matanya yang sedikit merah menatap layar utama yang menampilkan grafik lalu lintas data perusahaan. Semuanya tampak hijau. Normal. Terlalu normal. Tiba-tiba, sebuah titik merah berkedip di pojok bawah monitor kirinya. Itu adalah honeypot—sebuah server jebakan yang sengaja dipasang Kresna untuk menarik perhatian penyusup amatir. Namun, titik itu tidak hanya berkedip; ia meledak menjadi ribuan baris perintah yang mencoba mereplikasi diri secara eksponensial. "Sial," umpat Kresna, kopinya nyaris tumpah. "Ini bukan serangan brute force biasa. Ini serangan Polymorphic Code." Kresna segera menekan tombol darurat di meja

  • Sekretaris Cantik Vs Mr. Hacker   The Key

    Senin pagi di Menara Pradana pasca-liburan Anyer terasa seperti mesin yang baru saja diminyaki; segalanya berjalan terlalu mulus hingga terasa mencurigakan. Di lobi, para karyawan masih sibuk bertukar cerita tentang serunya permainan Blind Navigation atau betapa cantiknya Dokter Ella malam itu. Namun, bagi Bambang, setiap langkah yang ia ambil di koridor lantai eksekutif terasa seperti berjalan di atas hamparan kulit telur.Bambang masuk ke dalam lift dengan napas yang tertahan. Di dalam, sudah ada Cindy yang tampil sempurna dengan setelan blazer hitam dan rok pensil, serta Kresna yang—seperti biasa—bersembunyi di balik jaket hoodie gelap dan aroma kopi hitam yang kuat."Pagi, Mbak Cindy... Pak Kresna," sapa Bambang dengan nada suara yang sedikit melengking karena gugup."Pagi, Bambang," sahut Cindy tanpa menoleh dari layar tabletnya.Kresna hanya mengangguk singkat. Suasana lift yang sempit itu mendadak terasa seperti ruang interogasi b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status