Share

Mencari Bukti

Author: Die-din
last update Last Updated: 2025-12-29 12:51:01

Salah satu perangkat keras di meja tiba-tiba berbunyi bip keras. Layar menunjukkan bahwa mereka berhasil menyeberangi lapisan keamanan pelaku.

"Kita mendapatkan lokasi terakhir dari siapa yang menyebarkan data rahasia!" seru Kresna dengan mata yang bersinar. "Di sebuah ruang kosong di gedung perkantoran sebelah kantor Pradana Group. Dan mereka sedang aktif sekarang!"

Cindy langsung berdiri. "Kita harus pergi ke sana!"

"Tidak bisa. Kalau kamu keluar sekarang, kamu akan langsung terdeteksi oleh pihak keamanan gedung atau bahkan polisi yang mungkin sudah sedang diawasi."

"Jadi apa yang kita lakukan? Biarkan mereka terus menyebarkan data?"

Kresna mengeluarkan headset kecil dan sebuah modul GPS. "Aku akan mengakses sistem keamanan gedung itu dan menghentikan aktivitas mereka dari sini. Tapi aku butuh seseorang yang tahu tata letak gedung itu untuk memberitahuku jalur terbaik agar aku bisa mengganggu koneksi mereka tanpa terdeteksi."

Cindy mengambil headset dan melihat peta gedung yang muncul di layar. Dia tahu gedung itu seperti telapak tangannya—pernah beberapa kali melakukan kunjungan kerja ke sana sebelum kasus ini terjadi.

"Di lantai tiga ada ruang server yang biasanya tidak terpakai," jelas Cindy dengan cepat. "Jika mereka menggunakan jaringan lokal dari sana, kamu bisa mematikan pasokan daya sementara atau mengganggu sinyal Wi-Fi dari ruang kontrol di dekat lift."

Kresna mengangguk dan mulai mengetik dengan kecepatan luar biasa. Sambil bekerja, dia tidak sengaja menyentuh tangan Cindy yang sedang menunjuk layar. Kedua orang itu refleks menarik tangan mereka, bertukar pandangan dengan muka sedikit memerah.

"Fokus aja!" ujar Kresna dengan suara sedikit terengah-engah.

Cindy mengangguk dan kembali membantu memberikan informasi yang dibutuhkan. Saat sistem keamanan gedung mulai terkendali oleh Kresna, mereka melihat bagaimana perangkat pelaku mulai mati satu per satu.

"Dia tahu mereka sedang dilacak!" teriak Kresna. "Mereka mulai menghapus semua bukti!"

"Ada cara untuk menyimpan data mereka sebelum terhapus seluruhnya?" tanya Cindy dengan cemas.

Kresna menutup matanya sebentar, fokus sepenuhnya pada kode yang dia ketik. "Aku akan mencoba menyalinnya secara paralel sambil mereka menghapusnya. Tapi butuh waktu—dan kamu harus membantu aku menjaga agar tidak ada gangguan dari sistem keamanan gedung yang mulai bereaksi."

Saat itu, Cindy merasa tidak lagi melihat Kresna sebagai orang menyebalkan yang harus dia hindari. Pria di depannya itu kini adalah seorang ahli yang sedang berjuang untuk membuktikan kebenaran. Tanpa berpikir dua kali, dia mulai membantu memantau setiap pergerakan sistem dan memberikan informasi dengan cepat setiap kali ada masalah.

Setelah beberapa menit yang terasa seperti abad, layar menunjukkan bahwa salinan data berhasil disimpan. Kresna menghela napas lega dan jatuh bersandar di kursinya.

"Kita punya bukti," katanya dengan suara lelah. "Sekarang tinggal mencari tahu siapa yang berada di balik semua ini."

Cindy melihat data yang tersimpan di layar—ada beberapa dokumen rahasia dan juga jejak identitas yang belum terhapus sepenuhnya. Di sana terlihat sebuah nama yang membuatnya terkejut.

"Kau tahu nama ini?" tanya Cindy dengan suara gemetar.

Kresna melihat layar dan mengerutkan kening. "Ini salah satu anggota dewan direksi. Kenapa?"

Cindy merasa pusing. Bagaimana bisa orang yang seharusnya melindungi perusahaan menjadi pelaku yang merusaknya?

"Kita harus memberitahu Pak Ardi," ujarnya.

"Belum bisa. Kita butuh bukti lebih banyak lagi agar tidak salah sasaran. Dan yang lebih penting—kita harus mencari tahu motifnya." Kresna berdiri dan meregangkan tubuhnya.

"Sekarang, kita butuh istirahat sebentar dan kopi yang banyak. Aku punya perasaan kita akan bekerja lembur hingga pagi hari."

Cindy mengamati wajah Kresna. Ada sisi manusiawi yang mulai muncul dari balik topeng peretas yang menyebalkan itu. "Aku akan menyeduh kopi. Bukan kopi instan cup yang kau suka, tapi kopi asli. Kau butuh fokus jika ingin membersihkan namaku."

Kresna menaikkan alis, sedikit terkejut dengan tawaran itu. "Tanpa gula, Mbak Sekretaris. Seperti hatimu yang kaku itu."

Cindy mendengus, namun kali ini ada sedikit senyum tipis di sudut bibirnya saat ia melangkah menuju ke dapur. Di bawah cahaya lampu apartemen yang temaram, ketegangan itu mulai mencair, berganti dengan aliansi aneh antara sang "Iron Lady" dan si peretas pemberontak.

Cindy melakukan inspeksi ke dapur. Dia mendapati sebuah mesin pembuat kopi dan biji-biji kopi berkualitas tinggi, serta kulkas yang sudah penuh dengan persediaan makanan.

Cindy mulai berkutat dengan mesin pembuat kopi. Berusaha mengabaikan keberadaan Kresna yang mulai menyalakan rokok elektrik, menciptakan kepulan uap beraroma green tea yang memenuhi ruangan.

"Bisa kau matikan itu? Ini ruangan ber-AC!" hardik Cindy dari dapur.

"Ini apartemen Bos Ardi, bukan kantormu. Selama aku bekerja, aku butuh stimulan," jawab Kresna tanpa menoleh. Mata pria itu kini terpaku pada layar yang menampilkan barisan kode hijau.

Cindy menghela napas panjang untuk memupuk kesabaran. Dia mulai membersihkan meja agar bisa menyajikan kopi yang sedang dibuatnya. Saat dia kembali dengan dua gelas kopi panas, dia melihat Kresna sedang mencoba menata sofa untuk dijadikan tempat istirahat.

"Ini kopimu." Cindy meletakkan kopi di meja.

"Terima kasih..."

"Jadi... kau benar-benar akan tidur di sofa?" tanya Cindy pelan.

Kresna melirik sofa beludru di ruang tamu yang kini sudah ia tumpuki dengan bantal dan sebuah selimut tipis. "Sofa itu cukup empuk. Lagipula, aku tidak berencana tidur lama. Setiap menit yang kita buang adalah menit bagi pelakunya untuk menghilangkan jejak."

Kresna menghampiri meja, meraih salah satu cangkir dan mulai menyeruputnya. Namun sedetik kemudian dia berteriak. "Au auu, panas... "

Tanpa sadar, Cindy tersenyum melihat Kresna yang mengibaskan telapak tangannya untuk mengipasi bibir yang kepanasan dengan kocak.

Dilema berkecamuk di dada Cindy. Dia membenci Kresna karena keterlibatannya, namun dia juga mulai menyadari bahwa pria ini bekerja dengan dedikasi yang sama kerasnya dengan dirinya. Mungkin hidup bersama Kresna tidak akan seburuk yang dia bayangkan. Bahkan mungkin... mereka bisa menjadi pasangan kerja yang baik.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sekretaris Cantik Vs Mr. Hacker   Mencari Bukti

    Salah satu perangkat keras di meja tiba-tiba berbunyi bip keras. Layar menunjukkan bahwa mereka berhasil menyeberangi lapisan keamanan pelaku. "Kita mendapatkan lokasi terakhir dari siapa yang menyebarkan data rahasia!" seru Kresna dengan mata yang bersinar. "Di sebuah ruang kosong di gedung perkantoran sebelah kantor Pradana Group. Dan mereka sedang aktif sekarang!" Cindy langsung berdiri. "Kita harus pergi ke sana!" "Tidak bisa. Kalau kamu keluar sekarang, kamu akan langsung terdeteksi oleh pihak keamanan gedung atau bahkan polisi yang mungkin sudah sedang diawasi." "Jadi apa yang kita lakukan? Biarkan mereka terus menyebarkan data?" Kresna mengeluarkan headset kecil dan sebuah modul GPS. "Aku akan mengakses sistem keamanan gedung itu dan menghentikan aktivitas mereka dari sini. Tapi aku butuh seseorang yang tahu tata letak gedung itu untuk memberitahuku jalur terbaik agar aku bisa mengganggu koneksi mereka tanpa terdeteksi." Cindy mengambil headset dan melihat peta gedu

  • Sekretaris Cantik Vs Mr. Hacker   Bekerja Sama

    "Hei," Kresna menyentuh lengan Cindy perlahan—sebuah kontak fisik pertama yang membuat Cindy tersentak kecil. "Aku tidak peduli pada rahasia pribadimu. Aku hanya peduli pada siapa yang sudah berani mengotori kode buatanku dengan namamu. Kita selesaikan ini, lalu kamu bisa kembali jadi sekretaris kaku, dan aku kembali jadi orang asing. Deal?" Cindy menatap jemari Kresna di lengannya, lalu kembali menatap mata pria itu. Rasa kesal itu masih ada, namun terselip rasa percaya yang mulai tumbuh secara terpaksa. Ia menarik napas panjang, mencoba membuang sisa-sisa egonya. "Deal," jawab Cindy tegas. "Kata sandinya adalah PradanaIntegritas2025. Jangan tertawa." Kresna benar-benar tertawa, suara tawa rendah yang entah mengapa membuat jantung Cindy berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. "Sangat orisinal, Mbak Sekretaris. Sangat orisinal." Cindy merengut karena reaksi berlebihan pria itu, namun dia menahan diri untuk tidak mendebat. "Ayo duduk!" Kresna menarik sebuah kursi dan me

  • Sekretaris Cantik Vs Mr. Hacker   Batas Waktu

    Setelah masuk kamar tidur, Cindy langsung mengunci pintunya dari dalam. Ruangan yang luas dengan dekorasi minimalis putih dan abu-abu seharusnya terasa mewah, tapi kini hanya membuatnya merasa terkurung. Dia menjelajahi lemari besar yang ternyata sudah diisi dengan beberapa set pakaian kasual—semua dalam ukuran yang pas padanya. Cindy tersenyum samar, ini pasti hadiah kecil dari Ardi untuknya. Ardi, atasannya itu memang orang yang selalu berpikir jauh ke depan. Tanpa mood untuk mengganti pakaian, Cindy kembali memutup pintu lemari. Dia beranjak ke kasur dan duduk di sana, bersandar di ranjang empuk, menatap langit-langit tinggi. Pikirannya berputar kencang, berbagai pertanyaan tanpa jawaban berkelebat di kepalamya. 'Bagaimana bisa identitas digitalku dipakai untuk melakukan hal yang bisa merusak Pradana Group?' 'Siapa yang punya motif untuk menjatuhkanku?' Dan yang pertanyaan terakhir yang paling membuatnya gelisah, 'Bisakah benar-benar mempercayakan diriku pada Kresna?'

  • Sekretaris Cantik Vs Mr. Hacker   Safe House

    Keheningan di ruangan CEO yang mewah itu dipecahkan oleh sang pemilik ruangan. Ardi Pradana berbalik, wajah tampannya yang selalu dingin kini mengeras saat berkata. "Itu sebabnya kalian berdua harus pergi dari sini. Sekarang juga." "Pergi?" tanya Cindy bingung menanggapi. "Publik dan dewan direksi sedang menuntut kepala seseorang sebagai pelaku. Jika kamu tetap berada di kantor, mereka akan memaksaku untuk menyerahkan kamu ke polisi demi menyelamatkan harga saham," jelas Ardi. "Jadi, saya akan dujadikan kambing hitam?""Tidak, aku tidak akan membiarkan hal itu tetjadi. Percayalah padaku, Cin." Ardi berhenti sejenak dan nada suaranya berubah lebih halus. "Aku sudah menyiapkan mobil. Kalian berdua akan diantar Bambang ke sebuah apartemen milikku yang tidak terdaftar atas nama Pradana Group. Di sana, Kresna akan membantu kamu melacak siapa yang sebenarnya telah meminjam identitas digitalmu." "Saya? Bekerja sama dengan dia?" Cindy menatap Kresna dengan pandangan jijik. "Dia penye

  • Sekretaris Cantik Vs Mr. Hacker   Seorang Hacker

    "Tidak. Semua itu fitnah! Saya tidak pernah melakukan kecurangan!" Cindy mencoba membela diri. "Bukan hanya itu, Cind." sela Gery dengan suara bernada serius, jauh berbeda dengan kesehariannya yang suka menggoda Cindy.GeryI mengangkat sebuah tablet dan menunjukkan sebuah situs berita finansial. "Tadi dini hari, dokumen rincian transaksi ini bocor ke publik melalui akun tanpa nama. Dan sekarang kamu, Cindy, sedang menjadi topik utama sebagai otak di balik penggelapan dana Pradana Group.""Akibatnya eputasi perusahaan sedang dipertaruhkan di bursa saham pagi ini. Nilai saham kita turun pada pembukaan bursa saham." Cindy terngaga mendengarnga, namun kesadarannya segera pulih karena getaran ponsel di saku roknya. Dia mendapati notifikasi pesan dari grup kantor, telepon dari nomor tidak dikenal, bahkan tag di media sosial masuk bertubi-tubi. 'Ya Tuhanku, apa-apaan ini?' batij Cindy sambil melirik layar televisi di sudut ruangan yang selalu menayangkan berita bisnis kilat. Dia me

  • Sekretaris Cantik Vs Mr. Hacker   Awal Kehancuran

    Cindy menggerakkan jemarinya yang lentik di atas meja kerja berbahan kayu mahoni mengilap, untuk memastikan tidak ada kotoran, bahkan sebutir debu pun yang berani hinggap di sana. Bagi Cindy, meja itu adalah dunia dan tempatnya menjujukkan eksistensi diri. Sebagai sekretaris andalan dari Ardi Pradana, sang pemimpin tertinggi Pradana Group, Cindy bukan sekadar pengolah data. Ia adalah gerbang, benteng, sekaligus otak di balik efisiensi sang CEO yang melegenda. Ardi Pradana memang dikenal sebagai seorang pengusaha muda yang sukses. Dan di balik segala kesuksesan Ardi, ada Cindy yang bertindak di balik layar untuk mengatur segalanya. Bagi Cindy kebanggaan adalah integritas dan kepercayaan diri adalah perisai. Jam di salah satu sisi dinding sudah menunjuk pukul 07.00 pagi. Cindy berdiri tegak dengan rok pensil abu-abu dan kemeja putih yang disetrika kaku hingga sudut kerah. Di tangannya, sebuah tablet menampilkan jadwal Ardi yang padat untuk hati ini hingga detik terakhir. Ia mencat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status