Share

Bab 4

Author: Susan
"Bilang apa?" Tanyaku balik.

Tiara adalah putri sulung Keluarga Susanto dan selalu mendapatkan apa pun yang diinginkannya. Namun entah kenapa, dia sangat menyukai balapan motor yang memacu adrenalin.

Aku ingat saat Tiara dulu mengalami kecelakaan motor. Setelah itu, setiap kali dia diam-diam pergi balapan, aku akan memarahinya dan kemudian mengingatkannya untuk berhati-hati.

Setiap kali pula, Tiara akan menatapku dengan kesal.

"Kau ini laki-laki, tapi kenapa lebih cerewet daripada aku? Apa yang kau tahu? Mengendarai motor itu soal sensasi! Kau juga bukan adikku, Ardi saja nggak pernah mengomeliku, jadi kau siapa sampai ikut campur?"

Meskipun aku tahu dia tidak senang, tetapi karena khawatir, aku akan tetap mengulanginya setiap kali dia hendak pergi.

Namun semua kekhawatiran di masa lalu itu telah lenyap bersama semua permintaan tolongku yang selama lima tahun ini tak pernah mendapat jawaban.

Wajah Tiara langsung berubah gelap.

"Apa kau nggak takut kalau aku mengebut dan kecelakaan?"

Aku menggeleng.

"Aku nggak mengerti hal-hal itu. Bukannya kalian yang balapan motor memang mencari sensasi?"

"Kalau nggak ada yang lain, aku mau kembali ke kamar."

Tiara menghalangi jalanku. Saat aku mencoba melewatinya, dia mengulurkan tangan untuk menghentikanku.

"Hanya karena mengirimmu ke rumah sakit jiwa selama lima tahun, apa perlu kau marah sampai seperti itu? Apa kau nggak berpikir, kalau bukan karena kau menindas Ardi dan melakukan begitu banyak perbuatan jahat, mana mungkin kami mengirimmu ke sana?"

Dia mencibir.

Setiap kali kami bertengkar, dia akan menggunakan tindakanku menindas Ardi sebagai alasan untuk menyalahkanku.

Lalu, dia akan menunggu dengan santai untuk menyaksikanku hancur dan mengamuk.

Namun kali ini, aku hanya menggelengkan kepala dengan tenang.

"Aku nggak marah, sungguh."

Tetapi dialah yang tampak sangat marah, hingga menendang meja dengan keras.

Saat bertemu kembali dengan Mona, kupikir aku akan menjadi emosional, akan sangat ingin menceritakan penderitaanku selama bertahun-tahun ini padanya, tetapi tidak ada satu pun yang terjadi. Bahkan tidak ada riak sama sekali yang muncul di hatiku.

Dia dan Ardi berdiri berdampingan sebagai pasangan yang serasi. Tampak kelembutan yang belum pernah kulihat sebelumnya terpancar di sorot matanya.

Dia melihatku dan refleks mengerutkan kening.

Sejak kecil, aku selalu menganggap diriku sebagai tunangan Mona. Di antara banyak mimpi masa kecil seperti menjadi ilmuwan atau dokter, aku pernah menuliskan bahwa aku ingin menjadi suami Mona Hermansyah.

Jika dipikirkan lagi sekarang, sepertinya selama ini aku yang terus-menerus mengejarnya.

Mona sendiri tidak pernah memberiku jawaban langsung.

Semua orang mengatakan bahwa Mona hanya bersikap baik padaku karena menghargai Keluarga Susanto.

Sekarang, Mona pasti telah mendapatkan keinginannya.

"Kak Rio, aku melihat bajumu kotor kemarin, jadi aku sengaja mencarikanmu beberapa pakaian. Tenang saja, aku hanya memakainya sekali. Kau nggak keberatan, kan?"

Ardi mengeluarkan beberapa pakaian bekasnya dengan ekspresi bangga.

Semua mata tertuju pada kami.

Tiba-tiba, aku teringat semua momen memalukan ketika aku kalah berselisih dengan Ardi dulu.

Namun setelah lima tahun seakan hidup dalam neraka, penghinaan itu terasa tidak berarti.

"Terima kasih!"

Aku menerima pakaian itu dengan patuh.

Lagipula, itu akan berguna saat aku meninggalkan Keluarga Susanto, aku masih bisa menukarnya dengan uang.

Tuan muda yang dulunya sombong kini menjadi begitu rendah diri, bahkan para pelayan yang biasanya bersikap profesional pun tak bisa menahan diri untuk saling berbisik.

Namun, anggota Keluarga Susanto justru merasa tidak senang.

"Rio, apa kau nggak punya harga diri?"

Tiara yang seolah diprovokasi, tiba-tiba menyambar baju-baju bekas di tanganku dan melemparkannya ke lantai.

"Bagaimana bisa kau memakai baju bekas orang lain? Apa kau nggak tahu kalau kau ini ... anggota Keluarga Susanto ...."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Selamat Tinggal Dunia Terkutuk!   Bab 10

    "Lagipula, semua orang di rumah sakit jiwa itu adalah rencananya. Sebentar lagi, Ibu juga akan mengirimnya ke rumah sakit jiwa! Dia akan membayar sepuluh kali lipat atas semua penderitaan yang kau alami dulu!""Mulai sekarang, Ibu hanya punya satu putra, yaitu kamu!""Tolong maafkan Ibu untuk terakhir kalinya, ya?" Ibu menatapku dengan sungguh-sungguh, air mata menggenang di pelupuk matanya.Aku tidak berbicara.Bohong kalau mengatakan hatiku sama sekali tidak tersentuh.Namun, aku sudah tidak membutuhkannya lagi sekarang.Kerusakan yang dia sebabkan padaku tidak bisa terhapus."Bu, ini terakhir kalinya aku memanggilmu Ibu. Setelah aku keluar dari rumah sakit, apa aku boleh pergi berkeliling dunia sendirian?"Meskipun dokter tidak mengatakan berapa lama lagi aku akan hidup, namun aku tahu mungkin tidak akan hidup lebih lama.Setelah orang tuaku bercerai, ayah memberiku sebagian besar saham perusahaan.Sebagian kecil diberikan kepada Tiara.Sedangkan untuk Ardi, ibu memaksanya masuk ke

  • Selamat Tinggal Dunia Terkutuk!   Bab 9

    Aku menggeleng."Nggak apa-apa. Aku baik-baik saja sekarang."Aku tidak mengatakan bahwa aku sudah memaafkannya.Tepat ketika Tiara hendak mengatakan sesuatu lagi, ponselnya tiba-tiba berdering."Rio, aku tiba-tiba ada urusan. Nanti malam aku akan membawakan makanan dari restoran favoritmu."Aku hanya mengangguk dan tidak menahannya.Aku juga tidak memberitahunya bahwa aku tahu pesan itu berasal dari Ardi.Tiara yang mengatakan akan datang malam itu, tidak muncul sama sekali.Sebaliknya, Mona yang biasanya paling menghindariku justru datang."Aku sudah membatalkan pertunanganku dengan Ardi!"Dia terlihat sangat lelah. Wanita yang biasanya selalu menjaga penampilan kini tampak kusut dan pucat.Mona menggenggam tanganku."Rio, sekarang aku baru sadar kalau aku mencintaimu. Dulu aku hanya tidak mau mengakuinya. Aku tidak ingin menikahimu hanya karena perjodohan keluarga, jadi aku selalu bersikap dingin padamu.""Aku salah. Maafkan aku sekali ini, ya? Kita bisa menikah kapan saja kalau kau

  • Selamat Tinggal Dunia Terkutuk!   Bab 8

    "Bagaimana kau bisa tega melakukan ini pada Rio?" Ibu menampar ayah, tetapi ayah tidak menunjukkan kemarahan sama sekali.Semua pertanyaan itu mengarah pada satu jawaban.Ardi adalah anak haram ayah."Cerai! Aku ingin bercerai!""Apa kau tahu bagaimana Rio hidup selama lima tahun ini? Pasti Ardi yang mencelakainya!""Ardi yang pembawa sial! Nggak, operasi ini nggak boleh dilanjutkan!" Ibu terus menggedor pintu ruang operasi."Hentikan! Kalian semua berhenti!""Kenapa anakku harus mendonorkan ginjalnya kepada orang yang sudah menghancurkan hidupnya?" Ibu menangis, akal sehatnya perlahan kehilangan kendali.Detik berikutnya, ayah memukul bagian belakang leher ibu hingga pingsan.Tiara menyaksikan semua itu dengan tatapan linglung."Ayah, apakah yang Ibu katakan itu benar? Kau berbohong pada kami semua?" Mona yang sejak awal tidak mengucapkan sepatah kata pun, mendadak juga pucat pasi.Dia teringat sorot mataku saat menatapnya ketika memungut laporan pemeriksaan kemarin.Tenang, tanpa

  • Selamat Tinggal Dunia Terkutuk!   Bab 7

    Aku sama sekali tidak heran kalau tak seorang pun datang menjengukku.Bahkan ibu yang dulu selalu mengaku menyayangiku, tak terlihat sepanjang hari.Hingga sesaat sebelum aku dibawa ke ruang operasi, ibu tiba-tiba bergegas menghampiriku."Jangan, kita batalkan saja operasinya! Anakku tersayang!" Ibu menangis tersedu-sedu, dia mengusir semua staf medis yang mencoba mendekat."Tante Rani?" Aku memanggil dengan penuh kebingungan.Namun setelah mendengar panggilan itu, emosi ibu seperti bendungan yang jebol."Jangan panggil aku Tante! Aku ini ibumu, ibu kandungmu! Kau itu anak yang kukandung selama sepuluh bulan!" Aku menatap wajahnya yang begitu familiar. Di matanya, aku melihat bayanganku sendiri, wajah yang sangat mirip dengannya.Sebuah dugaan mulai terbentuk di benakku."Ardi sebenarnya anak adopsi, kau lah anak kandung kami. Ayahmu menyuruh kami memalsukan tes DNA karena katanya perundunganmu di kampus bisa memengaruhi bisnis keluarga!""Maafkan Ibu ... Ibu nggak melindungimu deng

  • Selamat Tinggal Dunia Terkutuk!   Bab 6

    Aku terkekeh pelan.Awalnya, aku benar-benar mengira Keluarga Susanto menerimaku kembali karena masih memedulikan hubungan kami di masa lalu.Jadi, ternyata yang mereka inginkan hanyalah ginjalku?Entah mengapa, ibu tampak sedikit merasa bersalah."Rio, kau tahu, Ibu selalu menganggapmu sebagai anak sendiri. Kalau kau menolak, tidak ada yang bisa memaksamu!"Tiara langsung berteriak setelah mendengar itu."Ibu, sadarlah! Siapa anak Ibu sekarang? Tanpa ginjal, Ardi akan mati!"Mata ibu memerah, seperti induk serigala yang melindungi anaknya."Aku tahu siapa anakku yang sebenarnya. Tidak perlu kau ingatkan!"Tiara langsung terdiam.Ayah juga menundukkan pandangannya, seolah tenggelam dalam pikirannya sendiri.Dia hendak mengatakan sesuatu, tetapi ibu langsung membungkamnya hanya dengan sebuah tatapan.Saat ini, ibu menatapku penuh harap, seolah-olah jika aku menolak, dia tetap akan melindungiku seperti dulu.Aku hanya mengangguk patuh."Tidak apa-apa, Tante Rani. Aku bersedia."Satu ginj

  • Selamat Tinggal Dunia Terkutuk!   Bab 5

    "Kak, tenang dulu!" Ardi segera menyela.Aku tidak tahu mengapa dia tiba-tiba begitu marah. Mengapa aku tidak boleh memakai pakaian bekas orang lain?Selama lima tahun di rumah sakit jiwa, jangankan pakaian bekas orang lain, bahkan pakaian orang mati pun pernah kupakai.Lagipula, bukankah semua hal yang terjadi padaku di rumah sakit jiwa sudah atas seizin mereka?Mengapa mereka justru bertindak seolah-olah bersimpati padaku sekarang?Ardi tampak seperti telah melakukan kesalahan, matanya memerah."Maaf, aku ... hanya bermaksud baik." Tiara yang berada di sampingnya akhirnya panik dan langsung menoleh ke arahku."Kenapa kau kembali ke sini? Ini semua salahmu! Setiap kali Ardi nggak bahagia, itu pasti karena kau!" Semua orang berusaha menenangkan Ardi, lalu berbalik menghujatku.Sama seperti yang berulang kali terjadi lima tahun lalu.Aku tidak pernah mengerti apa kesalahanku, mengapa aku harus menghadapi tuduhan semua orang.Sekarang aku sudah mengerti.Ini bukan soal benar atau salah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status