Share

Bab 3

Author: Susan
Hingga terungkap bahwa aku bukanlah putra kandung Keluarga Susanto.

Putra kandung mereka yang sebenarnya ... justru adalah Ardi.

Sedangkan di mana orang tua kandungku?

Tidak ada yang memberitahuku!

Dalam semalam, hidupku seakan jatuh dari surga ke neraka.

Akhirnya, keluarga yang telah bersamaku selama lebih dari dua puluh tahun bersekongkol untuk mengirimku ke rumah sakit jiwa, tempat yang bahkan lebih buruk daripada penjara.

"Aku nggak ingin membuat keluargaku khawatir. Nggak peduli bagaimana kau dulu memperlakukanku, aku nggak akan mempermasalahkannya."

"Selama kau nggak membuat Ibu dan Ayah marah lagi, aku bisa menganggapmu sebagai saudara!"

Ardi tersenyum, dia tampak patuh dan murah hati.

Siapa pun yang melihatnya pasti akan memuji, dia benar-benar pantas menyandang gelar sebagai putra Keluarga Susanto.

Semua orang di sekitar menatapnya dengan kagum.

Ayah juga mengangguk.

"Benar. Selama kau mau memperbaiki diri, kau tetap bisa menjadi putra Keluarga Susanto!"

Tiara berkata dengan wajah kesal.

"Aku memaafkanmu karena Ardi. Cepat ucapkan terima kasih ke Ardi! Kalau kau berani menindasnya lagi, aku nggak akan mengampunimu!"

Lima tahun yang lalu, aku pasti akan terus menjelaskan kepada semua orang.

Bahwa aku tidak pernah menindas Ardi, dan semua penindasan itu hanyalah sandiwara yang dia mainkan.

Namun sekarang, aku tidak akan lagi bertingkah seperti badut, menjelaskan kepada mereka yang tidak peduli padaku.

"Maaf. Tapi aku kembali karena ingin mengambil kembali kartu identitasku ...."

Wajah semua orang langsung menjadi gelap.

Mereka semua mengira aku tidak tahu berterima kasih.

"Kenapa kau selalu mempermasalahkan hal-hal sepele seperti itu? Kalau kau terus nggak patuh begini, apa kau mau kembali ke rumah sakit jiwa?"

"Kami sudah membesarkanmu selama bertahun-tahun, kenapa kau nggak bisa patuh seperti Ardi? Kenapa kau selalu melawan orang tuamu?"

Ibu tampak sedikit kehilangan kendali.

Aku tidak mengerti mengapa dia bereaksi begitu keras.

"Tapi, aku sudah bukan anak kandung kalian lagi!"

Bukankah mengambil kembali kartu identitasku dan pergi adalah hal yang normal?

Ibu tertegun.

Dia melepaskan tanganku, menatapku dengan tatapan kosong.

Mereka merasa aku yang sekarang terasa sangat asing.

Tiara mendengus pelan.

"Kau benar-benar nggak tahu diri, ya? Setelah menikmati kemewahan selama lebih dari dua puluh tahun di Keluarga Susanto, kau pikir bisa pergi begitu saja? Apa kau pikir bisa membalas semua kebaikan itu?"

Aku menundukkan kepala.

Aku sungguh tidak mengerti mereka.

Mereka jelas-jelas sangat membenciku, dan aku juga bukan lagi anggota Keluarga Susanto. Jadi, sekarang setelah aku pergi, bukankah itu justru sesuai dengan keinginan mereka?

Pada akhirnya, aku tetap tinggal di Keluarga Susanto untuk sementara waktu.

Kamar tidurku yang dulu telah menjadi kamar Ardi.

Sekarang, aku ditempatkan di kamar pelayan, tempat yang tidak akan pernah kumasuki sebelumnya.

Aku sama sekali tidak mengeluh dan langsung tidur lebih awal.

Meskipun berbaring di tempat tidur yang empuk, aku masih mengalami mimpi buruk.

Aku bermimpi tentang penghinaan yang kualami setiap hari di rumah sakit jiwa.

Orang-orang jahat itu merobek pakaianku tanpa mempedulikan teriakanku.

Aku terus memohon belas kasihan kepada mereka, mengatakan kepada mereka bahwa jika keluarga dan tunanganku tahu tentang semua itu, maka tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja!

Tetapi perlawananku itu hanya memprovokasi mereka untuk semakin brutal.

Mereka menertawakanku karena masih berhalusinasi.

Mereka menertawakanku karena masih mengira aku adalah tuan muda Keluarga Susanto.

Mereka menertawakan kebodohanku.

Karena semua yang terjadi padaku, sebenarnya sudah disetujui oleh Keluarga Susanto dan Mona!

Sekali lagi, aku terbangun dari mimpi buruk.

Aku merasakan hawa dingin menjalari tubuhku.

Saat aku pergi ke ruang tamu untuk mengambil segelas air, aku melihat Tiara diam-diam keluar dari kamarnya.

Dia memegang helm, tampak seperti hendak balapan.

Aku pura-pura tidak melihatnya dan terus menuangkan air.

Tiara berhenti sejenak, lalu mendekat.

"Apa kau nggak mau bilang sesuatu padaku?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Selamat Tinggal Dunia Terkutuk!   Bab 10

    "Lagipula, semua orang di rumah sakit jiwa itu adalah rencananya. Sebentar lagi, Ibu juga akan mengirimnya ke rumah sakit jiwa! Dia akan membayar sepuluh kali lipat atas semua penderitaan yang kau alami dulu!""Mulai sekarang, Ibu hanya punya satu putra, yaitu kamu!""Tolong maafkan Ibu untuk terakhir kalinya, ya?" Ibu menatapku dengan sungguh-sungguh, air mata menggenang di pelupuk matanya.Aku tidak berbicara.Bohong kalau mengatakan hatiku sama sekali tidak tersentuh.Namun, aku sudah tidak membutuhkannya lagi sekarang.Kerusakan yang dia sebabkan padaku tidak bisa terhapus."Bu, ini terakhir kalinya aku memanggilmu Ibu. Setelah aku keluar dari rumah sakit, apa aku boleh pergi berkeliling dunia sendirian?"Meskipun dokter tidak mengatakan berapa lama lagi aku akan hidup, namun aku tahu mungkin tidak akan hidup lebih lama.Setelah orang tuaku bercerai, ayah memberiku sebagian besar saham perusahaan.Sebagian kecil diberikan kepada Tiara.Sedangkan untuk Ardi, ibu memaksanya masuk ke

  • Selamat Tinggal Dunia Terkutuk!   Bab 9

    Aku menggeleng."Nggak apa-apa. Aku baik-baik saja sekarang."Aku tidak mengatakan bahwa aku sudah memaafkannya.Tepat ketika Tiara hendak mengatakan sesuatu lagi, ponselnya tiba-tiba berdering."Rio, aku tiba-tiba ada urusan. Nanti malam aku akan membawakan makanan dari restoran favoritmu."Aku hanya mengangguk dan tidak menahannya.Aku juga tidak memberitahunya bahwa aku tahu pesan itu berasal dari Ardi.Tiara yang mengatakan akan datang malam itu, tidak muncul sama sekali.Sebaliknya, Mona yang biasanya paling menghindariku justru datang."Aku sudah membatalkan pertunanganku dengan Ardi!"Dia terlihat sangat lelah. Wanita yang biasanya selalu menjaga penampilan kini tampak kusut dan pucat.Mona menggenggam tanganku."Rio, sekarang aku baru sadar kalau aku mencintaimu. Dulu aku hanya tidak mau mengakuinya. Aku tidak ingin menikahimu hanya karena perjodohan keluarga, jadi aku selalu bersikap dingin padamu.""Aku salah. Maafkan aku sekali ini, ya? Kita bisa menikah kapan saja kalau kau

  • Selamat Tinggal Dunia Terkutuk!   Bab 8

    "Bagaimana kau bisa tega melakukan ini pada Rio?" Ibu menampar ayah, tetapi ayah tidak menunjukkan kemarahan sama sekali.Semua pertanyaan itu mengarah pada satu jawaban.Ardi adalah anak haram ayah."Cerai! Aku ingin bercerai!""Apa kau tahu bagaimana Rio hidup selama lima tahun ini? Pasti Ardi yang mencelakainya!""Ardi yang pembawa sial! Nggak, operasi ini nggak boleh dilanjutkan!" Ibu terus menggedor pintu ruang operasi."Hentikan! Kalian semua berhenti!""Kenapa anakku harus mendonorkan ginjalnya kepada orang yang sudah menghancurkan hidupnya?" Ibu menangis, akal sehatnya perlahan kehilangan kendali.Detik berikutnya, ayah memukul bagian belakang leher ibu hingga pingsan.Tiara menyaksikan semua itu dengan tatapan linglung."Ayah, apakah yang Ibu katakan itu benar? Kau berbohong pada kami semua?" Mona yang sejak awal tidak mengucapkan sepatah kata pun, mendadak juga pucat pasi.Dia teringat sorot mataku saat menatapnya ketika memungut laporan pemeriksaan kemarin.Tenang, tanpa

  • Selamat Tinggal Dunia Terkutuk!   Bab 7

    Aku sama sekali tidak heran kalau tak seorang pun datang menjengukku.Bahkan ibu yang dulu selalu mengaku menyayangiku, tak terlihat sepanjang hari.Hingga sesaat sebelum aku dibawa ke ruang operasi, ibu tiba-tiba bergegas menghampiriku."Jangan, kita batalkan saja operasinya! Anakku tersayang!" Ibu menangis tersedu-sedu, dia mengusir semua staf medis yang mencoba mendekat."Tante Rani?" Aku memanggil dengan penuh kebingungan.Namun setelah mendengar panggilan itu, emosi ibu seperti bendungan yang jebol."Jangan panggil aku Tante! Aku ini ibumu, ibu kandungmu! Kau itu anak yang kukandung selama sepuluh bulan!" Aku menatap wajahnya yang begitu familiar. Di matanya, aku melihat bayanganku sendiri, wajah yang sangat mirip dengannya.Sebuah dugaan mulai terbentuk di benakku."Ardi sebenarnya anak adopsi, kau lah anak kandung kami. Ayahmu menyuruh kami memalsukan tes DNA karena katanya perundunganmu di kampus bisa memengaruhi bisnis keluarga!""Maafkan Ibu ... Ibu nggak melindungimu deng

  • Selamat Tinggal Dunia Terkutuk!   Bab 6

    Aku terkekeh pelan.Awalnya, aku benar-benar mengira Keluarga Susanto menerimaku kembali karena masih memedulikan hubungan kami di masa lalu.Jadi, ternyata yang mereka inginkan hanyalah ginjalku?Entah mengapa, ibu tampak sedikit merasa bersalah."Rio, kau tahu, Ibu selalu menganggapmu sebagai anak sendiri. Kalau kau menolak, tidak ada yang bisa memaksamu!"Tiara langsung berteriak setelah mendengar itu."Ibu, sadarlah! Siapa anak Ibu sekarang? Tanpa ginjal, Ardi akan mati!"Mata ibu memerah, seperti induk serigala yang melindungi anaknya."Aku tahu siapa anakku yang sebenarnya. Tidak perlu kau ingatkan!"Tiara langsung terdiam.Ayah juga menundukkan pandangannya, seolah tenggelam dalam pikirannya sendiri.Dia hendak mengatakan sesuatu, tetapi ibu langsung membungkamnya hanya dengan sebuah tatapan.Saat ini, ibu menatapku penuh harap, seolah-olah jika aku menolak, dia tetap akan melindungiku seperti dulu.Aku hanya mengangguk patuh."Tidak apa-apa, Tante Rani. Aku bersedia."Satu ginj

  • Selamat Tinggal Dunia Terkutuk!   Bab 5

    "Kak, tenang dulu!" Ardi segera menyela.Aku tidak tahu mengapa dia tiba-tiba begitu marah. Mengapa aku tidak boleh memakai pakaian bekas orang lain?Selama lima tahun di rumah sakit jiwa, jangankan pakaian bekas orang lain, bahkan pakaian orang mati pun pernah kupakai.Lagipula, bukankah semua hal yang terjadi padaku di rumah sakit jiwa sudah atas seizin mereka?Mengapa mereka justru bertindak seolah-olah bersimpati padaku sekarang?Ardi tampak seperti telah melakukan kesalahan, matanya memerah."Maaf, aku ... hanya bermaksud baik." Tiara yang berada di sampingnya akhirnya panik dan langsung menoleh ke arahku."Kenapa kau kembali ke sini? Ini semua salahmu! Setiap kali Ardi nggak bahagia, itu pasti karena kau!" Semua orang berusaha menenangkan Ardi, lalu berbalik menghujatku.Sama seperti yang berulang kali terjadi lima tahun lalu.Aku tidak pernah mengerti apa kesalahanku, mengapa aku harus menghadapi tuduhan semua orang.Sekarang aku sudah mengerti.Ini bukan soal benar atau salah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status