Share

Bab 55

Author: El khiyori
last update publish date: 2026-09-17 23:36:18

Matahari baru saja bersembunyi di balik garis cakrawala, meninggalkan pendar jingga yang lembut di atas permukaan laut. Di dalam kamar kerja yang remang, Elang menatap layar monitornya yang menampilkan angka-angka dengan nominal fantastis.

Untuk mengambil alih kembali Pratama Group, perusahaan peninggalan orang tua Jena yang disita secara ilegal oleh kroni-kroni Arkan, Elang membutuhkan suntikan dana segar dalam jumlah yang sangat besar. Aset-aset tersebut saat ini sedang ditahan di pasar saham
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Selimut Hangat Bodyguard Suamiku    Bab 55

    Matahari baru saja bersembunyi di balik garis cakrawala, meninggalkan pendar jingga yang lembut di atas permukaan laut. Di dalam kamar kerja yang remang, Elang menatap layar monitornya yang menampilkan angka-angka dengan nominal fantastis.Untuk mengambil alih kembali Pratama Group, perusahaan peninggalan orang tua Jena yang disita secara ilegal oleh kroni-kroni Arkan, Elang membutuhkan suntikan dana segar dalam jumlah yang sangat besar. Aset-aset tersebut saat ini sedang ditahan di pasar saham internasional, dan proses hukum untuk merebutnya kembali memerlukan biaya jaminan yang tidak sedikit.Jemari Elang mengusap keningnya yang terasa berdenyut. Pria itu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu, menatap langit-langit ruangan dengan napas terhembus berat.Sebagai mantan agen kelas atas, Elang tentu memiliki simpanan dana dingin dalam jumlah yang cukup untuk jaminan tersebut. Namun, ia telah bersumpah pada dirinya sendiri untuk tidak menyentuh tabungan itu. Uang itu adalah per

  • Selimut Hangat Bodyguard Suamiku    Bab 54

    Dua bulan telah berlalu sejak hari kelabu di pemakaman itu. Garis pantai perbukitan kini menyajikan pemandangan yang sepenuhnya berbeda. Rumah berarsitektur hangat itu telah berdiri sempurna, dikelilingi oleh padang bunga matahari yang mulai bermekaran dengan indahnya. Pagi itu, sinar matahari menerobos masuk melalui jendela dapur yang terbuka lebar. Suara ombak yang tenang menyatu dengan gelak tawa kecil yang membumbung di dalam rumah. "El ... berhenti! Tepungnya semakin berantakan!" seru Jena seraya menahan tawa, mencoba menghindari lemparan halus adonan tepung di tangan Elang. Pria yang dulunya dikenal dingin, kaku, dan jarang tersenyum itu, kini berdiri di depan meja dapur dengan celemek kain berwarna cokelat muda yang tampak terlalu kecil untuk tubuh tegapnya. Wajahnya yang tegas terlihat berantakan oleh bercak tepung terigu, begitu pula dengan ujung hidung Jena. "Aku hanya berusaha mengikuti resep dari buku yang kau beli kemarin," bela Elang dengan raut wajah polos tanpa dos

  • Selimut Hangat Bodyguard Suamiku    Bab 53

    Langit di atas pemakaman umum tampak kelabu, dilapisi awan mendung yang berarak pelan tanpa membawa hujan. Tanah merah yang masih basah itu tertutup oleh taburan bunga mawar dan melati yang memancarkan aroma khas.Prosesi pemakaman Arkan berlangsung sangat tenang dan jauh dari kemewahan. Hanya ada beberapa kolega lama yang masih berbelas kasihan dan beberapa staf hukum yang hadir. Kerajaan bisnis yang dulu ia agungkan telah runtuh, meninggalkan pusara yang sunyi tanpa riuh tepuk tangan kekuasaan.Jena dan Elang berdiri sedikit agak jauh di bawah naungan pohon kamboja yang rindang. Jena mengenakan gaun hitam sederhana, menatap nisan batu pualam bertuliskan nama Arkan dengan tatapan yang sudah sepenuhnya damai. Tidak ada lagi penderitaan atau ketakutan.Setelah tabur bunga selesai dan para pelayat perlahan mulai meninggalkan area pemakaman, Elang menggandeng jemari Jena untuk kembali ke kendaraan mereka."Kita pulang sekarang?" tanya Elang lembut sambil mengusap punggung tangan Jena. Na

  • Selimut Hangat Bodyguard Suamiku    Bab 52

    Koridor Rumah Sakit Bhayangkara terasa begitu dingin dan lengang. Aroma antiseptik yang tajam menyengat hidung, membiarkan derap langkah kaki Jena dan Elang bergema pelan di atas lantai yang dingin.Kehadiran Jena di tempat ini bukan atas dorongan egonya sendiri. Elang-lah yang dengan lembut meyakinkannya untuk datang. Elang tahu, sejauh mana pun mereka berlari dan sebahagia apa pun masa depan yang sedang mereka bangun, bayang-bayang Arkan akan tetap menyisakan celah kecil yang belum tuntas jika tidak ditutup secara langsung. Elang ingin Jena melangkah ke masa depan tanpa membawa sisa rasa bersalah, dendam, atau pertanyaan yang belum terjawab. Semua harus benar-benar berakhir.Di depan pintu ruang perawatan intensif, dokter yang bertanggung jawab atas perawatan Arkan, datang menghampiri mereka dengan raut wajah berat."Kondisi Tuan Arkan sudah berada di tahap kritis," ujar dokter itu pelan. Pria itu menatap Jena dan Elang bergantian. "Pembuluh darah utama di otak dan beberapa organ da

  • Selimut Hangat Bodyguard Suamiku    Bab 51

    Keesokan harinya, sinar matahari pagi yang cerah kembali menyapu kawasan pesisir. Namun di ibu kota, berita besar kembali mengguncang jagat media.Layar televisi di sudut ruang tamu rumah panggung itu menampilkan seorang reporter wanita yang berdiri di depan Rumah Sakit Bhayangkara."Berita terkini dari kasus runtuhnya Wijaya Group. Mantan Direktur Utama, Arkan Wijaya, dilaporkan mengalami penurunan kondisi kesehatan secara drastis di dalam sel tahanan tadi malam. Tekanan darahnya melonjak tinggi hingga memicu pendarahan internal yang serius. Saat ini, Arkan Wijaya tengah berada dalam kondisi kritis di ruang ICU ...."Sesaat setelahnya, kamera berganti menampilkan lorong rumah sakit yang sepi dan dingin."Yang memprihatinkan, tidak ada satu pun anggota keluarga, kerabat, maupun rekan bisnis yang datang menjenguknya. Pria yang dulunya dikenal sangat berkuasa dan dikelilingi ribuan orang itu kini tergolek sendirian tanpa siapapun di sampingnya. Menurut keterangan tim medis, di tengah ke

  • Selimut Hangat Bodyguard Suamiku    Bab 50

    Seminggu berlalu di rumah panggung dermaga. Waktu seolah berjalan lebih lambat, memberi ruang bagi Jena untuk menyembuhkan trauma panjang yang selama bertahun-tahun menggerogoti jiwanya.Pagi itu, Elang menggandeng tangan Jena menaiki jalan setapak berumput menuju puncak bukit kecil di belakang dermaga. Angin laut bertiup lembut, membawa aroma tanah basah dan padang rumput. Saat mereka tiba di puncak, pandangan Jena disambut oleh pemandangan yang membuat napasnya tertahan.Di sana, di atas tanah lapang yang menghadap langsung ke laut lepas, tampak pondasi awal sebuah bangunan besar berasitektur hangat yang sedang dikerjakan oleh beberapa tukang lokal terpercaya. Di sampingnya, sebuah area luas telah ditanami bibit bunga matahari dan mawar yang mulai bertunas hijau."Ini..." Jena menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya berkaca-kaca menatap lanskap impiannya yang kini terhampar nyata di depan mata.Elang berdiri di sampingnya, melingkarkan lengan tegapnya di pinggang Jena dari bel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status