LOGINJena sedikit berdebar namun tak ingin memperlihatkannya. "Karena mereka saling menginginkan, tapi tahu mereka tidak akan pernah bisa bersama," jawab Jena kemudian, matanya menatap langsung ke dalam manik mata Elang yang tajam. Suara Jena melunak, kehilangan keangkuhannya, menyisakan sisi kewanitaannya.
Elang membalas tatapan itu. Sebagai bodyguard, seharusnya ia mundur dan menjaga jarak aman. Namun, melihat bibir ranum Jena yang berada begitu dekat dengannya, dada Elang bergemuruh hebat. Napas Elang memberat. Detak jantungnya berpacu liar, namun ia tetap menanggapi jawaban Jena. "Terkadang dalam hidup, ada batasan yang sengaja dibuat untuk dipatuhi, Nyonya. Bukan untuk dilanggar. Itulah kenapa mereka tak bisa bersama," ucap Elang, suaranya terdengar serak dan penuh tekanan, sebuah kode bahwa ia sedang berjuang menahan sesuatu. Jena merasakan perutnya bergelenyar aneh saat mendengar suara serak pria itu. Jena lalu melangkah maju, membuat ujung sepatunya bersentuhan dengan sepatu kulit milik Elang. Dada mereka kini hampir menempel. "Bagaimana kalau aku yang ingin melanggarnya, Elang?" bisik Jena berani, matanya turun menatap bibir tegas Elang. Tangan Elang yang berada di samping tubuhnya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Sial, wanita ini kenapa benar-benar seperti racun yang mematikan. Kenapa dia terlihat sangat berbeda," bisik Elang dalam hati. Pikiran tentang istrinya, tentang Arkan, dan tentang profesionalitasnya mendadak mengabur, digantikan oleh sesuatu yang menuntut untuk dilepaskan. Elang perlahan mengangkat tangannya. Jemarinya tiba-tiba bergerak mendekati wajah Jena, berniat menyelipkan sehelai rambut Jena ke belakang telinganya. Namun, tepat sebelum kulit mereka bersentuhan, Elang memaksakan dirinya untuk berhenti di udara. Ia ingat siapa dirinya. Ia ingat cincin pernikahan yang melingkar di jari manis istrinya di London sana. Dan ia ingat, wanita di hadapannya adalah milik pria yang membayarnya. Elang menarik kembali tangannya dengan sentakan cepat, lalu mundur dua langkah. Ia menundukkan kepalanya, menyembunyikan mata elangnya yang kini sudah menggelap penuh gairah yang tertahan. "Maaf, Nyonya. Waktu kunjungan Anda sudah habis. Kita harus segera pulang sebelum Tuan Arkan kembali," ucap Elang dengan nada tegas, dingin, dan penuh wibawa, seolah percakapan intim tadi tidak pernah terjadi. Jena tertegun. Penolakan halus namun tegas dari Elang seperti siraman air es yang menyadarkannya dari kegilaan sesaat. Ia menelan ludah, berusaha menguasai kembali emosinya dan menegakkan kepalanya dengan angkuh, meski hatinya kecewa dan tubuhnya masih gemetar menahan debaran. "Kau benar," sahut Jena dingin, kembali menjadi nyonya muda yang tak tersentuh. "Ayo pulang." Jena berjalan mendahului Elang dengan langkah cepat. Namun di dalam hatinya, Jena tahu, benteng pertahanan mereka berdua baru saja retak, dan hanya butuh satu percikan kecil lagi untuk membuat seluruh batasan itu hancur berantakan. *** Malam harinya, kediaman Wijaya kembali diselimuti keheningan. Arkan tidak pulang. Sebuah pesan singkat dari sekretarisnya mengabarkan bahwa sang presdir harus menghadiri jamuan makan malam mendadak dengan pejabat kementerian dan kemungkinan besar menginap di hotel dekat lokasi pertemuan. Bagi Jena, ini adalah makanan sehari-hari. Namun malam ini, ketidakhadiran Arkan terasa berbeda. Ada rongga kosong di dadanya yang mendadak terasa lebih riuh, dipenuhi oleh bayangan sepasang mata elang yang menatapnya di galeri seni sore tadi. Jena tidak bisa memejamkan mata. Kamar tidurnya yang luas mendadak terasa begitu membosankan. Akhirnya, pada pukul dua dini hari, Jena memutuskan untuk turun ke lantai bawah demi mengambil segelas air dingin. Ia hanya mengenakan slip dress sutra berwarna merah marun yang longgar. Rambutnya dibiarkan tergerai berantakan, dan kakinya melangkah tanpa alas. Jena berpikir seluruh pelayan dan bodyguard sudah tidur di paviliun belakang. Namun, langkah kakinya terhenti tepat di batas ruang makan yang remang-remang. Di sana, di depan dispenser besar dekat dapur, seorang pria sedang berdiri tegak. Itu adalah Elang. Pria itu tampaknya baru saja selesai berpatroli keliling. Ia masih mengenakan kemeja hitam tak berjas dengan lengan yang digulung hingga siku, menampilkan guratan urat-urat kokoh di punggung tangannya yang basah oleh sisa air hujan dari luar. Jena tertegun. Ia bermaksud berbalik dan kembali ke kamarnya, namun gesekan halus kain sutranya pada sudut meja menciptakan desiran tipis. Bagi seorang pria dengan insting terlatih seperti Elang, suara sekecil apa pun adalah alarm. Elang berbalik dengan cepat. Gerakannya yang sigap mendadak terkunci saat manik matanya menangkap sosok Jena yang berdiri di batas cahaya temaram. Mata Elang menggelap dalam sekian detik sebelum ia dengan cepat menurunkan pandangannya ke lantai untuk menjaga kesopanan. "Nyonya," suara Elang terdengar rendah dan serak, memecah keheningan malam. "Maaf jika saya mengejutkan Anda." "Aku ... aku hanya ingin mengambil air," jawab Jena, berusaha sekuat tenaga menjaga suaranya agar tetap terdengar berwibawa selaku nyonya rumah. "Biar saya bantu," ucap Elang formal. Pria itu berbalik, mengambil sebuah gelas kaca dari rak, lalu mengisinya dengan air dingin. Sikapnya begitu profesional. Namun, ketegangan di antara mereka berdua di tengah malam buta itu justru membuat atmosfer ruangan terasa semakin menyempit. Elang berbalik dan melangkah mendekati Jena untuk menyerahkan gelas tersebut. Jarak mereka kini terpangkas. Jena mengulurkan tangannya. Dan di situlah segalanya seolah melambat. Karena pencahayaan yang minim, jemari halus Jena tidak sengaja menyentuh punggung tangan Elang yang terasa hangat. Bukan sekadar sentuhan lewat, tapi gesekan kulit yang intens. Deg ....Bau mesiu dan amis darah menyengat pekat di lorong beton bawah tanah kastil Jenewa. Salju yang terbawa angin dari pecahan kaca di atas bercampur dengan genangan darah para penjaga yang baru saja dilumpuhkan. Elang melangkah cepat dengan senjata berperedam di tangannya, menjaga jarak tegas dari Vanya. Bagi Elang, Vanya bukan hanya rekan setim yang dipaksakan, melainkan simbol dari Black Falcon yang ingin ia tinggalkan selamanya. Pria itu menolak berinteraksi lebih dari instruksi yang krusial. "Ruang server ada sepuluh meter di depan," bisik Vanya dingin lewat earpiece. Jemarinya yang berbalut sarung tangan taktis mengetuk layar peretas portabel. "Sistemnya menggunakan biometric lock berlapis. Butuh waktu dua menit untuk meretasnya." "Kau punya sembilan puluh detik," potong Elang singkat tanpa menoleh, matanya tetap menyapu setiap sudut lorong yang gelap. Namun, tepat saat Vanya melangkah mendekati pintu baja tebal ruang server, suara desis halus terdengar dari langit-langit beton
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden, memantulkan pendar hangat di atas sprei putih yang kusut. Jena terbangun dengan senyuman tipis di bibirnya. Tangannya refleks meraba sisi tempat tidur di sampingnya. Namun, yang ia dapati hanyalah seprei yang sudah dingin dan kosong."Elang .... " panggil Jena parau, suara khas orang yang baru terbangun dari tidur lelap.Tak ada jawaban yang ia dengar. Hanya sepi. Tidak ada juga suara gemericik air dari kamar mandi, atau bahkan aroma teh hangat yang biasanya menyengat lembut dari arah dapur. Hanya ada deru ombak di luar sana yang mendadak terdengar begitu dingin dan asing.Dada Jena berdesir aneh. Dengan jantung yang mulai berdetak tak beraturan, ia duduk dan memiringkan tubuhnya. Saat itulah matanya menangkap amplop cokelat tebal dan selembar kertas yang tergeletak tepat di atas meja samping tempat tidur.Dengan jemari yang gemetar, Jena meraih kertas tersebut. Setiap guratan tinta dari tulisan tangan Elang yang tegas meremas
Cahaya lampu gantung di pelataran rumah perlahan padam sewaktu para tamu pamit menembus kegelapan malam. Leo sempat menepuk bahu Elang sekali lagi—sebuah gestur peringatan tanpa kata yang mengunci ancaman *Black Falcon* rapat-rapat di udara. Elang melangkah masuk ke dalam rumah. Langkah kakinya begitu tenang, menyembunyikan badai yang sedang meremukkan dadanya. Di dalam kamar utama yang beraroma wangi, Jena sedang berdiri di depan cermin, mencoba melepaskan gaun pengantinnya dengan jemari yang sedikit kesulitan. Pantulan dirinya di cermin menunjukkan rona bahagia yang tak pernah pudar sejak sore tadi. "Sayang, biar aku bantu," suara bariton Elang terdengar lembut di ambang pintu. Pria itu mendekat lalu berdiri tepat di belakang Jena. Jemari Elang yang biasanya begitu tangkas memegang senjata, kini bergerak sangat perlahan dan hati-hati melepaskan satu per satu kancing di bagian belakang gaun Jena. Sentuhan kulit mereka yang hangat membuat Jena menghembuskan napas pelan sebelum
Angin pagi bertiup lembut dari arah pantai, menerobos masuk melalui celah jendela ruang tengah. Elang berdiri di tepi teras, mengamati dua orang wanita paruh baya yang baru saja menurunkan sebuah kotak besar berbungkus pita sutra perak dari dalam mobil sedan. Di dalam kamar tidur, Jena baru saja terbangun dari lelapnya. Saat melangkah keluar dengan piyamanya yang longgar, matanya berkedip heran menemukan sebuah kotak kado berukuran setinggi dada manusia berdiri di tengah ruang keluarga. Elang yang sedang menyeduh teh hangat berbalik. Pria itu menyunggingkan senyuman paling hangat, senyuman yang berhasil menyembunyikan badai dilema yang sebenarnya sedang bergemuruh di dalam otaknya sejak semalam. "Selamat pagi Sayang," bisik Elang lembut. Ia melangkah mendekati Jena dan merengkuh pinggang wanita itu dengan mesra. "Elang... apa ini?" tanya Jena heran, matanya menatap kotak mewah yang terikat rapi tersebut. "Bukalah," sahut Elang seraya menyerahkan sebuah gunting kecil berhiaskan p
Matahari baru saja bersembunyi di balik garis cakrawala, meninggalkan pendar jingga yang lembut di atas permukaan laut. Di dalam kamar kerja yang remang, Elang menatap layar monitornya yang menampilkan angka-angka dengan nominal fantastis.Untuk mengambil alih kembali Pratama Group, perusahaan peninggalan orang tua Jena yang disita secara ilegal oleh kroni-kroni Arkan, Elang membutuhkan suntikan dana segar dalam jumlah yang sangat besar. Aset-aset tersebut saat ini sedang ditahan di pasar saham internasional, dan proses hukum untuk merebutnya kembali memerlukan biaya jaminan yang tidak sedikit.Jemari Elang mengusap keningnya yang terasa berdenyut. Pria itu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu, menatap langit-langit ruangan dengan napas terhembus berat.Sebagai mantan agen kelas atas, Elang tentu memiliki simpanan dana dingin dalam jumlah yang cukup untuk jaminan tersebut. Namun, ia telah bersumpah pada dirinya sendiri untuk tidak menyentuh tabungan itu. Uang itu adalah per
Dua bulan telah berlalu sejak hari kelabu di pemakaman itu. Garis pantai perbukitan kini menyajikan pemandangan yang sepenuhnya berbeda. Rumah berarsitektur hangat itu telah berdiri sempurna, dikelilingi oleh padang bunga matahari yang mulai bermekaran dengan indahnya. Pagi itu, sinar matahari menerobos masuk melalui jendela dapur yang terbuka lebar. Suara ombak yang tenang menyatu dengan gelak tawa kecil yang membumbung di dalam rumah. "El ... berhenti! Tepungnya semakin berantakan!" seru Jena seraya menahan tawa, mencoba menghindari lemparan halus adonan tepung di tangan Elang. Pria yang dulunya dikenal dingin, kaku, dan jarang tersenyum itu, kini berdiri di depan meja dapur dengan celemek kain berwarna cokelat muda yang tampak terlalu kecil untuk tubuh tegapnya. Wajahnya yang tegas terlihat berantakan oleh bercak tepung terigu, begitu pula dengan ujung hidung Jena. "Aku hanya berusaha mengikuti resep dari buku yang kau beli kemarin," bela Elang dengan raut wajah polos tanpa dos







