Share

Sentuhan Tanpa Rencana

Author: El khiyori
last update publish date: 2026-07-18 07:59:07

Suasana di ruang makan mewah itu mendadak mencekam. Arkan melirik jam tangan Rolexnya sekilas, lalu berdiri dari kursi tanpa menyentuh sarapannya lagi. Baginya, drama pagi ini hanyalah hal kecil yang membuang waktu.

"Urus dia Elang! Pastikan dia tidak bertindak ceroboh!" ucap Arkan dingin, bahkan tanpa memandang Jena untuk terakhir kalinya.

Pria itu lalu melangkah pergi, diikuti oleh asisten pribadinya yang sejak tadi menunggu di luar. Suara deru mobil Rolls Royce yang meninggalkan pelataran rumah menandakan bahwa Jena kembali ditinggalkan sendiri.

Di ruang makan yang luas itu, kini hanya tersisa Jena dan Elang. Para pelayan dengan cepat menyingkir, tahu diri untuk tidak ikut campur dalam ketegangan yang tertinggal.

Jena menarik napas dalam-dalam. Rasa sesak di dadanya akibat sikap dingin Arkan berganti menjadi kekesalan yang meluap-luap. Ia melirik pria tinggi di hadapannya yang masih berdiri tegak seperti patung.

"Kau mendengar apa yang kukatakan pada suamiku tadi?" Kini Jena melangkah mendekat. High heelsnya mengetuk lantai marmer dengan ritme yang menantang. Ia mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata Elang yang sekelam malam. "Aku bisa saja berselingkuh denganmu hanya untuk membuat pria itu kesal."

Elang tidak berkedip. Wajahnya yang rupawan tetap sedatar es, namun otot rahangnya mengeras samar.

"Maaf Nyonya, tugas saya adalah melindungi Anda, bukan menjadi alat balas dendam pernikahan Anda," jawab Elang. Suaranya yang berat dan serak mengirimkan getaran aneh yang tak kasatmata ke dada Jena.

Jena terkekeh sinis, menyembunyikan getaran aneh itu dengan keangkuhan yang dipaksakan. "Baguslah kalau kau sadar diri. Sekarang, menyingkirlah dari hadapanku. Aku mau ke kamar."

Namun, saat Jena hendak melangkah melewati Elang, kakinya tiba-tiba tersangkut pada karpet bulu yang sedikit terlipat. Keseimbangannya hilang. Jena memekik pelan saat tubuhnya limbung ke belakang.

Beruntung sebuah lengan yang kokoh dan sekeras baja dengan tanggap menangkap pinggang ramping Jena sebelum tubuhnya sempat menyentuh lantai.

Jena menahan napas. Jarak mereka begitu dekat hingga ia bisa mencium aroma maskulin bercampur wangi woodsy dan tembakau tipis dari tubuh Elang. Telapak tangan Elang yang kokoh dan hangat menembus kain tipis gaun rumahannya, membakar kulit Jena yang sudah lama tidak merasakan sentuhan hangat seorang pria.

Tatapan mata mereka bertabrakan. Untuk beberapa detik, waktu seolah berhenti. Jena bisa melihat ada kilatan ga irah yang tersembunyi jauh di dalam sorot mata tajam Elang. Seperti sesuatu yang berbahaya, namun sangat memabukkan bagi jiwa Jena yang kesepian.

"Lepaskan aku!" bisik Jena, suaranya tiba-tiba bergetar, kehilangan keangkuhan yang tadi ia tunjukkan.

Akan tetapi daripada langsung melepaskannya, Elang justru mempererat cengkeramannya selama satu detik, memastikan Jena benar-benar berpijak dengan aman sebelum perlahan menarik tangannya kembali.

"Hati-hati Nyonya," ucap Elang rendah, matanya turun sekilas ke bibir merah muda Jena yang sedikit terbuka sebelum kembali menatap matanya. "Langkah yang salah bisa membuat Anda terjatuh."

Jena memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan rona merah yang tiba-tiba menjalar di pipinya. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena hampir jatuh, melainkan karena sadar bahwa pria misterius di hadapannya ini memiliki kekuatan untuk mengobrak-abrik pertahanan hatinya yang rapuh.

Tanpa mengucap sepatah kata pun lagi, Jena berbalik dan berlari kecil menaiki tangga menuju kamarnya.

Sementara itu, Elang tetap berdiri di tempatnya. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang masih menyisakan kehangatan dari tubuh Jena. Sensasi lembut dan rapuh dari wanita milik atasannya itu masih tertinggal jelas.

Elang memejamkan mata, mengutuk dirinya sendiri dalam hati. Ia tahu, wanita itu adalah wilayah terlarang. Menyentuhnya berarti memicu sumbu ledak yang bisa menghancurkan hidupnya. Namun, melihat air mata yang tersisa di sudut mata Jena, Elang tahu, benteng pertahanannya sendiri sedang berada di ujung tanduk.

Sementara itu di dalam kamarnya yang luas, Jena bersandar di balik pintu yang tertutup rapat. Napasnya memburu. Ia menyentuh dadanya yang berdegup kencang, merasakan sisa kehangatan dari tangan Elang yang baru saja merengkuh pinggangnya.

"Ini gila," batin Jena. Ia masih tak mengerti, bagaimana bisa sentuhan orang asing berdampak sehebat ini pada tubuhnya.

Jena lalu melangkah menuju cermin besar di sudut kamar. Ia menatap pantulan dirinya. Seorang wanita yang memiliki segalanya, namun jiwanya mati. Sentuhan Arkan selama ini hanya seperti sebuah kewajiban yang dipaksakan, tapi Elang, pria itu bahkan tidak sengaja menyentuhnya, namun sanggup menyulut ga irah yang sudah bertahun-tahun ia kubur dalam-dalam.

Di lantai bawah, Elang juga masih berdiri diam di tempat yang sama. Bau harum tubuh Jena, kombinasi vanila yang lembut seolah tertinggal di udara, merayap masuk ke indra penciumannya dan memicu sesuatu yang liar di alam bawah sadarnya.

Disaat yang sama, ponsel di saku celana Elang bergetar. Ia merogohnya, melihat nama yang tertera di layar. Ternyata adalah Nadia istrinya.

Elang menggeser tombol hijau, menempelkan benda pipih itu ke telinganya. "Iya Nad?"

"Aku baru saja mendarat di London untuk pengawalan putri menteri," suara seorang wanita di seberang telepon terdengar tegas, namun ada nada kelelahan di sana. Nadia adalah seorang agen keamanan privat internasional. Pekerjaan mereka sama-sama berbahaya, menyita waktu, dan menuntut dedikasi penuh.

"Jaga dirimu baik-baik. Berapa lama kau di sana?" tanya Elang.

"Mungkin tiga Minggu, atau ... sebulan. Kau tahu sendiri bagaimana protokol di sini. Bagaimana dengan tugas barumu?"

Elang terdiam sesaat. Bayangan mata Jena yang basah dan rapuh tiba-tiba melintas di benaknya. "Hanya tugas lokal. Menjaga istri seorang presdir."

"Baguslah, setidaknya risikonya lebih kecil. Aku harus pergi, Love you, El."

"Love you too."

Telepon ditutup secara sepihak. Elang menatap layar ponselnya yang menggelap. Hubungan pernikahannya dengan Nadia sudah lama terasa seperti hubungan rekan kerja yang saling menghormati tanpa ada percikan gairah. Mereka terlalu sibuk melindungi nyawa orang lain hingga lupa menghidupkan nyawa pernikahan mereka sendiri.

Elang menarik napas dalam-dalam, menyimpan kembali ponselnya. Ia menegakkan bahu, memasang kembali topeng dinginnya sebagai bodyguard profesional yang berwibawa.

Sore harinya, Jena memutuskan untuk keluar rumah. Ia merasa tercekik jika terus berdiam diri di dalam kamar. Dengan mengenakan terusan hitam tanpa lengan yang melekat pas di lekuk tubuhnya, ia turun ke lantai bawah. Rambut indahnya dibiarkan tergerai, kontras dengan kulit putih susunya yang dipadukan dengan gaun berwarna gelap.

Di ruang tamu, Elang sudah menunggu dengan setelan jas hitam yang kancing atas kemejanya sengaja dibuka satu, menampilkan kesan maskulin yang sangat kuat.

"Saya dengar Anda ingin pergi ke galeri seni?" ucap Elang formal sambil membungkuk hormat tanpa berani menatap langsung ke arah dada Jena yang tercetak samar di balik kain yang membungkus tubuhnya.

"Ya. Siapkan mobilnya!" jawab Jena dengan nada sedingin es, berusaha memposisikan dirinya kembali sebagai nyonya rumah yang berkuasa.

"Mobil sudah siap di depan."

Perjalanan sore itu dipenuhi keheningan yang menyiksa. Elang fokus menyetir, sementara Jena duduk di kursi belakang. Namun melalui spion tengah, tatapan mata mereka beberapa kali tidak sengaja bertabrakan. Setiap kali pandangan mereka bertemu, ada arus tak kasatmata yang membuat atmosfer di dalam mobil mewah itu mendadak terasa panas dan menyesakkan.

Jena sengaja menyilangkan kakinya, membuat belahan gaunnya sedikit tersingkap, memperlihatkan paha mulusnya. Dari kaca spion, ia ingin melihat bagaimana reaksi Elang. Pria itu berusaha keras menatap jalanan di depan, namun urat-urat di punggung tangannya yang mencengkeram kemudi tampak menegang, dan entah kenapa itu membuat Jena tersenyum samar.

Sesampainya di galeri seni, suasana cukup sepi karena Jena telah menyewa seluruh tempat itu secara privat. Jena berjalan pelan, menikmati lukisan-lukisan abstrak yang terpajang, sementara Elang berjalan dua langkah di belakangnya dengan langkah tegap dan waspada.

Jena berhenti di depan sebuah lukisan sepasang manusia yang saling berpelukan erat dalam kegelapan. Cukup lama ia menatap lukisan itu hingga rasa kesepian kembali merayap di hatinya.

Tanpa sadar, Jena menghela napas panjang. "Indah sekali, tapi juga sangat menyedihkan," gumamnya lirih.

"Kenapa menyedihkan Nyonya?" Suara rendah Elang tiba-tiba terdengar begitu dekat.

Jena menoleh dan terkejut mendapati Elang sudah berdiri tepat di sampingnya. Jarak mereka cukup dekat. Jena bisa merasakan hawa hangat yang memancar dari tubuh kekar pria itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Selimut Hangat Bodyguard Suamiku    Bab 57

    Cahaya lampu gantung di pelataran rumah perlahan padam sewaktu para tamu pamit menembus kegelapan malam. Leo sempat menepuk bahu Elang sekali lagi—sebuah gestur peringatan tanpa kata yang mengunci ancaman *Black Falcon* rapat-rapat di udara. Elang melangkah masuk ke dalam rumah. Langkah kakinya begitu tenang, menyembunyikan badai yang sedang meremukkan dadanya. Di dalam kamar utama yang beraroma wangi, Jena sedang berdiri di depan cermin, mencoba melepaskan gaun pengantinnya dengan jemari yang sedikit kesulitan. Pantulan dirinya di cermin menunjukkan rona bahagia yang tak pernah pudar sejak sore tadi. "Sayang, biar aku bantu," suara bariton Elang terdengar lembut di ambang pintu. Pria itu mendekat lalu berdiri tepat di belakang Jena. Jemari Elang yang biasanya begitu tangkas memegang senjata, kini bergerak sangat perlahan dan hati-hati melepaskan satu per satu kancing di bagian belakang gaun Jena. Sentuhan kulit mereka yang hangat membuat Jena menghembuskan napas pelan sebelum

  • Selimut Hangat Bodyguard Suamiku    Bab 56

    Angin pagi bertiup lembut dari arah pantai, menerobos masuk melalui celah jendela ruang tengah. Elang berdiri di tepi teras, mengamati dua orang wanita paruh baya yang baru saja menurunkan sebuah kotak besar berbungkus pita sutra perak dari dalam mobil sedan. Di dalam kamar tidur, Jena baru saja terbangun dari lelapnya. Saat melangkah keluar dengan piyamanya yang longgar, matanya berkedip heran menemukan sebuah kotak kado berukuran setinggi dada manusia berdiri di tengah ruang keluarga. Elang yang sedang menyeduh teh hangat berbalik. Pria itu menyunggingkan senyuman paling hangat, senyuman yang berhasil menyembunyikan badai dilema yang sebenarnya sedang bergemuruh di dalam otaknya sejak semalam. "Selamat pagi Sayang," bisik Elang lembut. Ia melangkah mendekati Jena dan merengkuh pinggang wanita itu dengan mesra. "Elang... apa ini?" tanya Jena heran, matanya menatap kotak mewah yang terikat rapi tersebut. "Bukalah," sahut Elang seraya menyerahkan sebuah gunting kecil berhiaskan p

  • Selimut Hangat Bodyguard Suamiku    Bab 55

    Matahari baru saja bersembunyi di balik garis cakrawala, meninggalkan pendar jingga yang lembut di atas permukaan laut. Di dalam kamar kerja yang remang, Elang menatap layar monitornya yang menampilkan angka-angka dengan nominal fantastis.Untuk mengambil alih kembali Pratama Group, perusahaan peninggalan orang tua Jena yang disita secara ilegal oleh kroni-kroni Arkan, Elang membutuhkan suntikan dana segar dalam jumlah yang sangat besar. Aset-aset tersebut saat ini sedang ditahan di pasar saham internasional, dan proses hukum untuk merebutnya kembali memerlukan biaya jaminan yang tidak sedikit.Jemari Elang mengusap keningnya yang terasa berdenyut. Pria itu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu, menatap langit-langit ruangan dengan napas terhembus berat.Sebagai mantan agen kelas atas, Elang tentu memiliki simpanan dana dingin dalam jumlah yang cukup untuk jaminan tersebut. Namun, ia telah bersumpah pada dirinya sendiri untuk tidak menyentuh tabungan itu. Uang itu adalah per

  • Selimut Hangat Bodyguard Suamiku    Bab 54

    Dua bulan telah berlalu sejak hari kelabu di pemakaman itu. Garis pantai perbukitan kini menyajikan pemandangan yang sepenuhnya berbeda. Rumah berarsitektur hangat itu telah berdiri sempurna, dikelilingi oleh padang bunga matahari yang mulai bermekaran dengan indahnya. Pagi itu, sinar matahari menerobos masuk melalui jendela dapur yang terbuka lebar. Suara ombak yang tenang menyatu dengan gelak tawa kecil yang membumbung di dalam rumah. "El ... berhenti! Tepungnya semakin berantakan!" seru Jena seraya menahan tawa, mencoba menghindari lemparan halus adonan tepung di tangan Elang. Pria yang dulunya dikenal dingin, kaku, dan jarang tersenyum itu, kini berdiri di depan meja dapur dengan celemek kain berwarna cokelat muda yang tampak terlalu kecil untuk tubuh tegapnya. Wajahnya yang tegas terlihat berantakan oleh bercak tepung terigu, begitu pula dengan ujung hidung Jena. "Aku hanya berusaha mengikuti resep dari buku yang kau beli kemarin," bela Elang dengan raut wajah polos tanpa dos

  • Selimut Hangat Bodyguard Suamiku    Bab 53

    Langit di atas pemakaman umum tampak kelabu, dilapisi awan mendung yang berarak pelan tanpa membawa hujan. Tanah merah yang masih basah itu tertutup oleh taburan bunga mawar dan melati yang memancarkan aroma khas.Prosesi pemakaman Arkan berlangsung sangat tenang dan jauh dari kemewahan. Hanya ada beberapa kolega lama yang masih berbelas kasihan dan beberapa staf hukum yang hadir. Kerajaan bisnis yang dulu ia agungkan telah runtuh, meninggalkan pusara yang sunyi tanpa riuh tepuk tangan kekuasaan.Jena dan Elang berdiri sedikit agak jauh di bawah naungan pohon kamboja yang rindang. Jena mengenakan gaun hitam sederhana, menatap nisan batu pualam bertuliskan nama Arkan dengan tatapan yang sudah sepenuhnya damai. Tidak ada lagi penderitaan atau ketakutan.Setelah tabur bunga selesai dan para pelayat perlahan mulai meninggalkan area pemakaman, Elang menggandeng jemari Jena untuk kembali ke kendaraan mereka."Kita pulang sekarang?" tanya Elang lembut sambil mengusap punggung tangan Jena. Na

  • Selimut Hangat Bodyguard Suamiku    Bab 52

    Koridor Rumah Sakit Bhayangkara terasa begitu dingin dan lengang. Aroma antiseptik yang tajam menyengat hidung, membiarkan derap langkah kaki Jena dan Elang bergema pelan di atas lantai yang dingin.Kehadiran Jena di tempat ini bukan atas dorongan egonya sendiri. Elang-lah yang dengan lembut meyakinkannya untuk datang. Elang tahu, sejauh mana pun mereka berlari dan sebahagia apa pun masa depan yang sedang mereka bangun, bayang-bayang Arkan akan tetap menyisakan celah kecil yang belum tuntas jika tidak ditutup secara langsung. Elang ingin Jena melangkah ke masa depan tanpa membawa sisa rasa bersalah, dendam, atau pertanyaan yang belum terjawab. Semua harus benar-benar berakhir.Di depan pintu ruang perawatan intensif, dokter yang bertanggung jawab atas perawatan Arkan, datang menghampiri mereka dengan raut wajah berat."Kondisi Tuan Arkan sudah berada di tahap kritis," ujar dokter itu pelan. Pria itu menatap Jena dan Elang bergantian. "Pembuluh darah utama di otak dan beberapa organ da

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status