LOGINSensasi itu terasa seperti sengatan listrik bertegangan tinggi yang merambat cepat ke seluruh syaraf mereka. Jena tersentak karena terkejut oleh hangatnya suhu tubuh Elang. Sentakan itu membuat gelas di tangan mereka terguncang. Air dingin di dalamnya memercik keluar cukup keras, membasahi jemari keduanya dan menetes jatuh mengenai bagian atas dada Jena yang terekspos.
"Ah .... " Jena memekik pelan sambil refleks melangkah mundur, namun tumitnya membentur kaki meja di belakangnya. Keseimbangannya goyah. Melihat bahaya yang mengancam keselamatan orang yang dilindunginya, insting bodyguard Elang langsung bekerja. Tanpa berpikir panjang, Elang meletakkan gelas dengan cepat di meja, lalu mengulurkan tangannya yang besar untuk menahan lengan Jena agar tidak terjatuh. Telapak tangan Elang yang hangat mencengkeram lembut namun kokoh tepat di lengan atas Jena yang polos tanpa penutup. Jena menahan napasnya. Jarak mereka kini begitu dekat hingga Jena bisa merasakan hembusan napas Elang yang memburu di puncak kepalanya. Aroma tubuh Elang, kombinasi aroma maskulin yang pekat, tembakau, dan dinginnya air hujan di luar, menyerbu indra penciuman Jena, membuat kepalanya mendadak pening oleh luapan ga irah yang tak terduga. Elang tidak bergerak. Pria itu terpaku, menatap lurus pada manik mata Jena yang bergetar sebelum akhirnya sorot mata tajam itu perlahan turun, memperhatikan tetesan air dingin yang mengalir lambat di atas kulit putih selangka Jena. Situasi itu menumbuhkan hawa panas yang kini membakar dada Elang. Sebagai seorang suami, Elang tahu betul getaran apa ini. Ini adalah ga irah seorang pria dewasa yang sedang berhadapan dengan wanita yang sangat memikat. Pikirannya sempat melintas pada sosok Nadia, istrinya yang berada jauh di belahan bumi lain, yang membuat rasa bersalah bergolak di dadanya. Namun, sentuhan kulit Jena yang begitu lembut di telapak tangannya membuat fokusnya nyaris berantakan. Jantung Elang berpacu liar di balik dadanya yang bidang. Otot rahangnya mengeras, menahan dorongan liar yang memintanya untuk mengikis sisa jarak di antara mereka dan mencicipi bibir ranum di hadapannya. Jena sendiri merasa lumpuh. Cengkeraman tangan Elang di lengannya terasa begitu posesif dan melindungi, sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan dari Arkan selama bertahun-tahun. Perlahan, napas Jena memberat, dadanya naik turun dengan ritme yang sama dengan Elang. "Elang .... " bisik Jena lirih, suaranya terdengar seperti sebuah permohonan yang rapuh di tengah kesunyian malam. Suara bisikan Jena bagai alarm yang memutus debaran di antara mereka. Elang tersadar. Kedisiplinan dan wibawa yang ditempanya selama bertahun-tahun sebagai agen keamanan profesional mendadak menariknya kembali dari jurang kegilaan. Dengan gerakan yang tegas namun tetap halus, Elang melepaskan cengkeramannya dari lengan Jena. Ia melangkah mundur, memutus kontak fisik di antara mereka sepenuhnya. Elang menarik napas dalam-dalam untuk menstabilkan deru napasnya yang sempat memburu, lalu membungkuk hormat dengan sikap yang sangat formal. Mata elangnya kembali meredup, menyembunyikan rapat-rapat gairah yang sempat menyala tadi. "Maaf atas ketidaksopanan saya, Nyonya. Saya hanya ingin memastikan Anda tidak terjatuh," ucap Elang dengan nada suara yang kembali penuh wibawa seorang bodyguard. "Silakan kembali ke kamar Anda! Di sini terlalu dingin!" Jena tertegun di tempatnya berdiri. Hawa hangat dari tangan Elang yang baru saja hilang dari kulitnya menyisakan rasa dingin dan kosong yang seketika menyerang batinnya. Namun, sikap tegas dan batasan profesional yang kembali ditunjukkan Elang membuatnya sadar akan posisinya. Jena menarik napas, menegakkan bahunya kembali, mencoba memanggil kembali topeng keangkuhannya sebagai nyonya muda yang tak tersentuh, meski tangannya yang memegang gelas kini bergetar halus. "Terima kasih," sahut Jena dengan suara datar. Tanpa menatap Elang lagi, Jena berbalik dan melangkah cepat menaiki tangga menuju kamarnya. Di bawah, Elang tetap berdiri diam mematung di dalam kegelapan. Ia menatap telapak tangan kanannya yang tadi mencengkeram lengan Jena. Jarinya perlahan mengepal semakin erat. Debaran di dadanya masih enggan mereda. Malam ini, mereka berdua memang berhasil menahan diri dibalik status masing-masing. Namun, keduanya tahu pasti, sentuhan tak sengaja malam ini telah menorehkan luka manis yang akan terus membayangi pikiran mereka di hari-hari berikutnya.Bau mesiu dan amis darah menyengat pekat di lorong beton bawah tanah kastil Jenewa. Salju yang terbawa angin dari pecahan kaca di atas bercampur dengan genangan darah para penjaga yang baru saja dilumpuhkan. Elang melangkah cepat dengan senjata berperedam di tangannya, menjaga jarak tegas dari Vanya. Bagi Elang, Vanya bukan hanya rekan setim yang dipaksakan, melainkan simbol dari Black Falcon yang ingin ia tinggalkan selamanya. Pria itu menolak berinteraksi lebih dari instruksi yang krusial. "Ruang server ada sepuluh meter di depan," bisik Vanya dingin lewat earpiece. Jemarinya yang berbalut sarung tangan taktis mengetuk layar peretas portabel. "Sistemnya menggunakan biometric lock berlapis. Butuh waktu dua menit untuk meretasnya." "Kau punya sembilan puluh detik," potong Elang singkat tanpa menoleh, matanya tetap menyapu setiap sudut lorong yang gelap. Namun, tepat saat Vanya melangkah mendekati pintu baja tebal ruang server, suara desis halus terdengar dari langit-langit beton
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden, memantulkan pendar hangat di atas sprei putih yang kusut. Jena terbangun dengan senyuman tipis di bibirnya. Tangannya refleks meraba sisi tempat tidur di sampingnya. Namun, yang ia dapati hanyalah seprei yang sudah dingin dan kosong."Elang .... " panggil Jena parau, suara khas orang yang baru terbangun dari tidur lelap.Tak ada jawaban yang ia dengar. Hanya sepi. Tidak ada juga suara gemericik air dari kamar mandi, atau bahkan aroma teh hangat yang biasanya menyengat lembut dari arah dapur. Hanya ada deru ombak di luar sana yang mendadak terdengar begitu dingin dan asing.Dada Jena berdesir aneh. Dengan jantung yang mulai berdetak tak beraturan, ia duduk dan memiringkan tubuhnya. Saat itulah matanya menangkap amplop cokelat tebal dan selembar kertas yang tergeletak tepat di atas meja samping tempat tidur.Dengan jemari yang gemetar, Jena meraih kertas tersebut. Setiap guratan tinta dari tulisan tangan Elang yang tegas meremas
Cahaya lampu gantung di pelataran rumah perlahan padam sewaktu para tamu pamit menembus kegelapan malam. Leo sempat menepuk bahu Elang sekali lagi—sebuah gestur peringatan tanpa kata yang mengunci ancaman *Black Falcon* rapat-rapat di udara. Elang melangkah masuk ke dalam rumah. Langkah kakinya begitu tenang, menyembunyikan badai yang sedang meremukkan dadanya. Di dalam kamar utama yang beraroma wangi, Jena sedang berdiri di depan cermin, mencoba melepaskan gaun pengantinnya dengan jemari yang sedikit kesulitan. Pantulan dirinya di cermin menunjukkan rona bahagia yang tak pernah pudar sejak sore tadi. "Sayang, biar aku bantu," suara bariton Elang terdengar lembut di ambang pintu. Pria itu mendekat lalu berdiri tepat di belakang Jena. Jemari Elang yang biasanya begitu tangkas memegang senjata, kini bergerak sangat perlahan dan hati-hati melepaskan satu per satu kancing di bagian belakang gaun Jena. Sentuhan kulit mereka yang hangat membuat Jena menghembuskan napas pelan sebelum
Angin pagi bertiup lembut dari arah pantai, menerobos masuk melalui celah jendela ruang tengah. Elang berdiri di tepi teras, mengamati dua orang wanita paruh baya yang baru saja menurunkan sebuah kotak besar berbungkus pita sutra perak dari dalam mobil sedan. Di dalam kamar tidur, Jena baru saja terbangun dari lelapnya. Saat melangkah keluar dengan piyamanya yang longgar, matanya berkedip heran menemukan sebuah kotak kado berukuran setinggi dada manusia berdiri di tengah ruang keluarga. Elang yang sedang menyeduh teh hangat berbalik. Pria itu menyunggingkan senyuman paling hangat, senyuman yang berhasil menyembunyikan badai dilema yang sebenarnya sedang bergemuruh di dalam otaknya sejak semalam. "Selamat pagi Sayang," bisik Elang lembut. Ia melangkah mendekati Jena dan merengkuh pinggang wanita itu dengan mesra. "Elang... apa ini?" tanya Jena heran, matanya menatap kotak mewah yang terikat rapi tersebut. "Bukalah," sahut Elang seraya menyerahkan sebuah gunting kecil berhiaskan p
Matahari baru saja bersembunyi di balik garis cakrawala, meninggalkan pendar jingga yang lembut di atas permukaan laut. Di dalam kamar kerja yang remang, Elang menatap layar monitornya yang menampilkan angka-angka dengan nominal fantastis.Untuk mengambil alih kembali Pratama Group, perusahaan peninggalan orang tua Jena yang disita secara ilegal oleh kroni-kroni Arkan, Elang membutuhkan suntikan dana segar dalam jumlah yang sangat besar. Aset-aset tersebut saat ini sedang ditahan di pasar saham internasional, dan proses hukum untuk merebutnya kembali memerlukan biaya jaminan yang tidak sedikit.Jemari Elang mengusap keningnya yang terasa berdenyut. Pria itu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu, menatap langit-langit ruangan dengan napas terhembus berat.Sebagai mantan agen kelas atas, Elang tentu memiliki simpanan dana dingin dalam jumlah yang cukup untuk jaminan tersebut. Namun, ia telah bersumpah pada dirinya sendiri untuk tidak menyentuh tabungan itu. Uang itu adalah per
Dua bulan telah berlalu sejak hari kelabu di pemakaman itu. Garis pantai perbukitan kini menyajikan pemandangan yang sepenuhnya berbeda. Rumah berarsitektur hangat itu telah berdiri sempurna, dikelilingi oleh padang bunga matahari yang mulai bermekaran dengan indahnya. Pagi itu, sinar matahari menerobos masuk melalui jendela dapur yang terbuka lebar. Suara ombak yang tenang menyatu dengan gelak tawa kecil yang membumbung di dalam rumah. "El ... berhenti! Tepungnya semakin berantakan!" seru Jena seraya menahan tawa, mencoba menghindari lemparan halus adonan tepung di tangan Elang. Pria yang dulunya dikenal dingin, kaku, dan jarang tersenyum itu, kini berdiri di depan meja dapur dengan celemek kain berwarna cokelat muda yang tampak terlalu kecil untuk tubuh tegapnya. Wajahnya yang tegas terlihat berantakan oleh bercak tepung terigu, begitu pula dengan ujung hidung Jena. "Aku hanya berusaha mengikuti resep dari buku yang kau beli kemarin," bela Elang dengan raut wajah polos tanpa dos







