Mag-log inYendra dan Chelsea berjalan berdampingan menuju ke ruang keluarga. Ternyata benar, semua telah berkumpul di sana.Chelsea tersenyum dan berjalan dengan menunduk menuju sofa yang kosong. Begitu juga dengan Yendra."Dari mana kamu? Sudah ibu bilang, jaga sikapmu. Jangan samakan dengan di desa. Maaf, Bu Ambarwati. Chelsea ini dibesarkan di desa sehingga kurang tau tata Krama," ucap Tante Erna."Bagiku justru Chelsea yang sopan. Kamu lihat putrimu yang satu lagi. Tadi datang tak salaman dan kenalan. Dan duduk dengan kaki di angkat ke paha di depan orang banyak. Ini bukan kedai kopi," ucap Nenek.Desy langsung menurunkan kakinya. Dia kembali cemberut mendengar ucapan nenek. Niat hati mau mempermalukan Chelsea, justru dia yang jadi malu sendiri."Chelsea, tadi nenek sudah bicara dengan ayahmu. Kami sepakat pertunangan kalian akan diadakan bulan depan, apakah kamu setuju?" tanya Nenek.Chelsea terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Pertunangan ini terasa begitu cepat. Tapi jika dia mengundurn
Nenek tersenyum melihat cucu kesayangannya datang. Dia lalu meminta Nathan bergabung dengan mereka. Tidak biasanya cucunya pulang di jam segini."Nathan, kebetulan kamu datang. Mari gabung sini," ajak Nenek.Nathan berjalan menuju meja makan tanpa suara. Dia langsung duduk di samping Chelsea yang kebetulan kursinya kosong. Dia masih menatap tajam ke arah gadis itu."Acara apa ini?" tanya Nathan dengan suara datar."Kamu ingat, nenek pernah mengatakan ingin menjodohkan kamu dengan salah satu cucu teman nenek. Karna kamu menolak, nenek bermaksud menjodohkannya dengan Yendra. Kami makan malam untuk menentukan tanggal pertunangan mereka," ucap Nenek berusaha menjelaskan."Siapa wanitanya?" tanya Nathan lagi dengan suara yang tetap datar. Dia lalu mengambil nasi yang ada dihadapannya."Chelsea, ini dia ...," ucap Nenek sambil menunjuk ke arah gadis itu. Chelsea berusaha tersenyum sewajar mungkin agar tak terlihat gugup dan canggung."Oh ...," jawab Nathan singkat."Papa sudah mengatakan ke
Tante Erna masuk ke kamar Chelsea. Dia mendekati gadis itu yang sedang melamun di dekat jendela.Chelsea teringat saat neneknya meninggal. Ayahnya datang menjemput dan membujuknya pulang. Selama dua hari di kampung, sang ayah bersikap baik. Sehingga dia pikir, ayahnya mungkin telah menyesal dan ingin memperbaiki hubungan mereka.Ternyata dugaannya salah. Ayahnya datang menjemput hanya untuk menjodohkan dirinya. Sebenarnya dia tak sepenuhnya menentang perjodohan ini. Cuma yang membuat dia marah dan kesal, karena ini semua atas ide ibunya agar bisa menyelamatkan perusahaan.Chelsea berpikir perjodohan ini memang karena ayahnya peduli, ternyata hanya untuk kesenangan mereka. Bukannya untuk kebahagiaan dirinya."Ini bajumu ...!" Tante Erna melempar baju ke arah Chelsea."Jika aku tak mau memakainya, kau mau apa? Apa kau akan membunuhku?" tanya Chelsea dengan suara penuh penekanan."Aku akan membuat kamu cacat. Jika kematian itu begitu ringan untukmu. Kau akan merasakan hidup segan mati ta
Chelsea keluar dari taksi setelah membayar uangnya. Dia berjalan memasuki halaman rumah dengan santainya. Saat sampai depan pintu rumah, dia mendengar perdebatan papa dan ibu tirinya. Mereka masih menginginkan dirinya bertunangan dengan anak orang kaya itu."Apa tidak sebaiknya aku menerima perjodohan ini saja? Siapa tau dia pria baik," gumam Chelsea.Chelsea lalu masuk ke rumah. Dia melihat ayah dan ibu tirinya langsung berhenti berdebat."Dari mana aja kamu? Semakin liar saja kelakuanmu!" seru sang ayah dengan nada yang tinggi."Aku menginap di rumah teman," jawab Chelsea dengan pelan."Apa kau tak bisa mengabari orang rumah?" tanya ayahnya lagi."Dengan apa aku mengabari? Apa Ayah lupa jika putrimu ini tak memiliki ponsel?" Chelsea balik bertanya."Bisanya menjawab saja. Kau kan bisa mengatakan pada ayah sebelum pergi atau dengan ibumu," balas ayahnya Chelsea.Chelsea tampak menarik napas, tak menjawab lagi ucapan ayahnya. Dia lalu berjalan menuju kamar. Belum sempat dia masuk, ibu
Setelah mengganti bajunya, Chelsea bermaksud keluar dari kamar. Dengan kaos crop top dan celana pendek jeans sepaha. Dia kembali bercermin untuk mematut pakaiannya."Ukurannya pas banget. Kenapa Nathan bisa tau, apakah dia mengukurnya saat aku pingsan?" tanya Chelsea dalam hatinya.Chelsea menggelengkan kepala untuk menepis pikirannya tentang Nathan. Dia tak mau peduli lagi, apakah pria itu telah melihat seluruh bagian tubuhnya atau bukan. Dia juga akan segera pergi dan tak akan kembali lagi. Mungkin tak akan bertemu lagi.Saat kakinya akan melangkah keluar kamar, mata Chelsea melihat ada dompet di bawah ranjang. Dia berjongkok untuk mengambilnya."Oh, dompet Nathan. Pasti jatuh saat dia tidur di sini tadi malam," ucap Chelsea.Chelsea meraih dompet dan melihat isinya. Ada foto dan beberapa kartu saja. Dia memeriksa bagian dalam. Ada beberapa lembar uang kertas seratus ribu."Aku ambil saja. Dia tak akan tau. Lain kali jika bertemu akan aku kembalikan. Saat ini aku butuh buat pegangan
Chelsea bangun dan berjalan menuju kamar mandi. Di dalam, dia membuka seluruh pakaiannya dan memperhatikan badannya. Tak ada jejak sedikitpun atas tindakan pelecehan. Dia juga tak merasakan apa pun."Seperti yang aku dengar dari teman di kampung, katanya saat pertama melakukan sakit. Tapi aku tak merasakan apa pun. Apakah benar kalau Nathan tak berbuat sesuatu denganku?" tanya Chelsea pada dirinya sendiri.Dia kembali berjalan mondar-mandir di dalam kamar mandi. Mencoba mencari sesuatu yang aneh pada tubuhnya. Namun, tak ada sedikit pun perbedaan yang dia rasakan."Aku tadi telah menuduhnya yang bukan-bukan. Sepertinya dia hanya membalurkan minyak angin ke tubuhku," ucap Chelsea bermonolog pada dirinya sendiri.Chelsea kembali mengancingkan kemeja yang dia pakai. Wajahnya kembali ceria dengan senyuman sumringah."Eh ... tunggu dulu. Kalau dia yang membalurkan minyak angin ke seluruh tubuh ini, berarti dia telah melihat badan ini dalam keadaan polos ... aahhhh ... tidakkk," ucap Chelse







