Share

Memohonlah, Meghan

Author: Ivorybeige
last update publish date: 2026-06-11 20:38:10

Ralph mengungkung tubuh Meghan dari belakang, menekan dada wanita itu ke atas seprai sutra ranjangnya yang dingin. Sisa cairan intim yang membasahi paha dalam Meghan bergesekan dengan celana katun tebal yang masih membungkus miliknya yang sudah menegang sempurna.

Pria itu menunduk, mengecup bahu polos Meghan yang gemetar, lalu berbisik dengan suara parau yang begitu rendah tepat di rungu wanita itu.

"Aku akan memberikannya, Meghan. Aku akan bergerak secepat dan sekasar yang kau minta sampai kau
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
aqillap621
apa sih maunya Ralph, cuma mau jadiin dia mainan. ga boleh punya anak. katanya selir kesayangan.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Memohonlah, Meghan

    Ralph mengungkung tubuh Meghan dari belakang, menekan dada wanita itu ke atas seprai sutra ranjangnya yang dingin. Sisa cairan intim yang membasahi paha dalam Meghan bergesekan dengan celana katun tebal yang masih membungkus miliknya yang sudah menegang sempurna.Pria itu menunduk, mengecup bahu polos Meghan yang gemetar, lalu berbisik dengan suara parau yang begitu rendah tepat di rungu wanita itu."Aku akan memberikannya, Meghan. Aku akan bergerak secepat dan sekasar yang kau minta sampai kau lupa bagaimana cara bernapas."Ralph menjeda kalimatnya, tangannya merayap ke depan, mencengkeram pinggul Meghan untuk memposisikan tubuh wanita itu agar siap menerima tikaman pertamanya. Sentuhan dingin dari ujung miliknya yang mulai menempel di celah basah Meghan membuat wanita itu menahan napas seketika."Namun sebelum aku masuk ... katakan sekali lagi, siapa pemilik mutlak atas tubuh dan jiwamu malam ini?"Napas Meghan tercekat. Sensasi dingin dan panas yang bergesekan di antara pangkal pa

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   21+ Kumohon ...

    Meghan ditinggalkan sendirian dalam kegelapan.Hanya ada cahaya bulan yang menerobos masuk dari jendela besar, menyinari ranjang megah berkelambu hitam di sudut ruangan. Meghan berjalan mendekati jendela, memeluk tubuhnya sendiri yang mulai kedinginan karena angin yang berembus konstan dari luar balkon istana. Ia tahu, ketundukannya malam ini hanyalah jeda sebelum badai yang sesungguhnya datang.Hampir satu jam berlalu dalam kesunyian, hingga akhirnya terdengar suara gerendel pintu besi yang bergeser.Pintu terbuka. Sosok tinggi tegap Ralph berdiri di sana, siluet tubuhnya yang kokoh membingkai cahaya obor dari koridor luar. Pria itu masuk, lalu menutup kembali pintunya. Ia melepaskan mahkota besarnya, melempar benda emas itu ke atas meja marmer dengan bunyi dentang yang acuh tak acuh.Ralph melangkah mendekat ke arah jendela, tempat Meghan berdiri mematung. Seringai tipis yang tadi ia perlihatkan di depan Elanor kini telah lenyap, digantikan oleh tatapan intens yang luar biasa pekat

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Ke Kamarku

    "Dan Ratu seberani itu membiarkan aturan itu berlaku?"Meghan tidak mundur. Alih-alih gemetar ketakutan mendengar ancaman tentang nampan perak dan kepala keluarganya, ia justru menunduk sedikit, merapatkan jarak wajahnya dengan Elanor yang masih menyiratkan keputusasaan yang getir. Seulas senyum sinis yang teramat tipis terukir di bibir pucat Meghan."Kau tahu artinya, bukan, Yang Mulia?" bisik Meghan begitu rendah namun tajam menembus rungu Elanor. "Pria yang akan mendatangi ranjang kau malam ini rela membuat aturan segila itu murni karena dia tidak sanggup membayangkan aku bebas dari jangkauannya. Jadi, siapa sebenarnya yang sedang dihukum di sini? Aku yang terkurung ... atau harga diri Anda yang perlahan mati?"Plak!Elanor bangkit dari kursi riasnya hingga perhiasan di atas meja berdenting keras. Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan amarah yang mendidih hingga ke ubun-ubun."DIAM KAU, MEGHAN! JAGA MULUTMU!" bentak Elanor, suaranya melengking tinggi meruntuhkan seluruh wib

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Aku Tidak Bisa

    "PANGGIL MEGHAN! Mengapa dia telat?!" Suara bariton Ralph menggelegar memecah keheningan koridor istana pagi-pagi sekali. Kemarahan sang Raja yang meledak-ledak membuat para pelayan di paviliun utama gemetar ketakutan, buru-buru menundukkan kepala sedalam mungkin. Tak lama kemudian, Meghan datang dengan langkah yang sengaja diperlambat. Penampilannya tampak terburu-buru. Rambut emasnya hanya disanggul asal, dan ia bahkan belum sempat mengoleskan pewarna kelopak bunga di bibirnya yang kini tampak pucat alami. Ralph yang berdiri di ambang pintu kamar Elanor langsung menghujamkan tatapan elangnya yang tajam dan menusuk. "Kau terlambat, Meghan. Mulai hari ini kau adalah pelayan pribadi Ratu, dan kau sudah membuat kesalahan di hari pertama." Meghan berhenti tepat beberapa langkah di depan Ralph. Ia menatap balik mata pria itu dengan sisa-sisa keberanian yang ia miliki. Meghan tahu betul, kemarahan berapi-api Ralph pagi ini sama sekali bukan karena masalah waktu atau karena Elanor

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Menekuk Lutut

    "Aku tidak—" "Ya, kau tidak suka aku dengan wanita lain." "Itu tidak benar!" "Itu benar." Ralph memperhatikan Meghan yang hari ini tumben sekali menggelung rambutnya. Tengkuknya yang putih, yang kini terukir jelas nama Ralph di atas kulitnya, terlihat dengan begitu gamblang di bawah temaram cahaya lilin. "Bahkan sekarang kau mulai bangga dengan adanya namaku di tengkukmu." Meghan tersentak. Sadar akan arah pandangan pria itu, ia segera menarik tusuk konde kayunya dengan kasar hingga rambut emasnya tergerai lebat, menutupi kembali tanda kepemilikan yang tertulis di sana. "Aku hanya merasa panas!" sentak Meghan, dadanya naik turun menahan malu dan kesal. "Ya. Hatimu panas." "Udara! Udaranya panas." Ralph menyeringai, melangkah maju satu kali lagi untuk mengunci pergerakan Meghan di antara tubuh tegapnya dan pinggiran meja kerja. "Teruslah berkelit agar aku semakin yakin kau tidak ingin membagiku." "Dan kau tahu apa bagian terbaiknya, Meghan?" Ralph maju sela

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Keputusasaan

    ​"Mengapa diam saja, Meghan?" Ralph kembali memecah keheningan, nadanya terdengar begitu menuntut. "Ambil teko itu dan tuangkan teh untuk Ratuku. Tabib bilang ramuan herbalnya harus diminum selagi hangat."​Meghan menarik napas pendek yang terasa menyiksa dadanya. Dengan membuang jauh-jauh harga dirinya, ia melangkah mendekati meja perak, mengangkat teko keramik yang terasa berat di tangannya yang gemetar, lalu berjalan ke sisi ranjang Elanor.​Saat Meghan menuangkan cairan pekat itu ke dalam cangkir, ia bisa melihat dengan jelas bagaimana Ralph perlahan duduk di tepi ranjang, tepat di sisi Elanor. Gestur pria itu begitu protektif, sesuatu yang belum pernah Meghan lihat sebelumnya.​"Minumlah," ucap Ralph lembut pada Elanor, nadanya berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dengan nada dingin yang biasa ia gunakan pada Meghan. "Kau harus menjaga kesehatanmu dan calon penerusku."​Elanor menerima cangkir tersebut dari nampan yang disodorkan Meghan tanpa sedikit pun menatap m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status