登入Gemerlap perjamuan makan malam pertama untuk merayakan penobatan Raja Ralph tidak mampu menghalau hawa dingin yang berembus dari luar dinding The Great Hall.
Di bawah langit malam musim dingin yang pekat, aula itu dipenuhi oleh gelak tawa palsu para bangsawan dan denting cawan perak yang saling beradu. Di atas panggung tinggi, Ralph duduk di takhta emasnya dengan mahkota rubi yang berkilau angkuh, didampingi Elanor yang anggun sebagai Permaisuri baru. Namun, diDunia seolah runtuh seketika di bawah kaki Meghan. Wajahnya mendadak pias, kehilangan seluruh rona darahnya. Ada rasa sedih yang teramat dalam, sebuah kehancuran yang tak kasat mata namun terasa begitu meremukkan dadanya hingga ia sulit bernapas.Jadi ... malam itu Ralph benar-benar pergi ke kamar Elanor? Pria itu benar-benar tidur dan menyentuh ratunya? Rasa muak, cemburu yang enggan ia akui, dan rasa terasing bercampur aduk menjadi satu, membuat Meghan merasa sekecil debu di istana ini. Tiga bulan diabaikan seperti orang asing, dan sekarang ia harus menyaksikan pria itu berbahagia atas anak dari wanita lain.Meghan membalikkan badannya dengan langkah lesu, berniat kembali mengurung diri di kamarnya yang dingin. Namun, baru dua langkah ia mengayunkan kaki, langkahnya mendadak terkunci.Di ujung koridor yang ramai oleh pelayan yang lalu lalang, sosok tegap itu berdiri. Ralph ada di sana, mengenakan jubah kebesaran beludru hitam dengan sulaman benang emas yang megah. Pria itu tamp
"Itu tidak mungkin!" cetus Meghan, suaranya naik satu oktav dengan napas yang memburu.Ralph menyeringai, tidak terpengaruh sama sekali oleh penolakan keras itu. Ia justru menikmati kilat perlawanan di mata Meghan yang tampak kontras dengan tubuh ringkihnya yang terluka. "Benarkah?" tanya pria itu retoris, nadanya rendah meremehkan.Meghan beringsut menjauh di atas ranjang hingga punggungnya membentur dinding kayu paviliun, berusaha menciptakan jarak sejauh mungkin dari tiran di hadapannya. Ketakutan dan amarah bergolak menjadi satu di dalam dadanya."Bahkan setelah apa yang Paduka lakukan kepada selir yang lain, aku ingin meminta kebebasanku!" tuntut Meghan nekat. Pikirannya masih dipenuhi bayangan mengerikan tentang Beatrice.Ralph menaikkan sebelah alisnya, seringai di bibirnya berubah menjadi senyuman dingin yang sarat akan teka-teki. "Oh ya? Selirku hanya kau, Meghan. Dan apa yang sudah kulakukan padamu?""Aku tidak peduli lagi!" jerit Meghan, menutup telinganya, enggan mende
Meghan berteriak, suaranya pecah di tengah dinginnya hutan selatan yang sunyi."Harusnya kau biarkan aku diterkam serigala! Apa bedanya kembali ke istana dengan mati di sini? Kau pun nantinya akan memenggal leherku sama seperti Beatrice!"Ralph menghela napas kasar, gumpalan uap tebal keluar dari sela bibirnya seiring dengan sepasang mata elangnya yang memicing tidak suka. Tuduhan Meghan mendarat telak, memicu kilat amarah yang tertahan di wajah tampannya."Tutup mulut lancangmu atau kau kutelanjangi di sini!" ancam Ralph dengan nada rendah yang teramat berbahaya. Pria itu melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka.Ketakutan kembali menyergap Meghan. Melihat monster itu mendekat, ia buru-buru memutar tubuh, mencoba kabur dengan sisa tenaga yang ia miliki. Namun, langkah kakinya yang gemetar di atas salju tebal bukanlah tandingan bagi kecepatan sang tiran. Hanya dalam dua langkah lebar, Ralph berhasil menggapai pinggang Meghan.Dengan satu sentakan bertenaga, pria itu memanggul
Hening untuk beberapa lama. Tidak ada lagi suara bot berat yang menggilas salju, tidak ada lagi teriakan bariton yang menggema marah. Meghan mengembuskan napas lega yang panjang, uap putih terakhir keluar dari bibirnya yang kaku. Di dalam rongga akar yang membekukan itu, ia berpikir bahwa mungkin Ralph sudah menyerah dan memilih pulang ke istananya yang nyaman dan hangat. Dengan sisa tenaga yang dipaksakan, Meghan merangkak keluar dari persembunyiannya. Tubuhnya menggigil hebat saat ia berhasil berdiri tegak di atas hamparan putih. Namun, kelegaan itu hanya bertahan satu detik. Seketika, darahnya terasa berhenti mengalir. Tepat di depannya, terpisah jarak kurang dari lima meter, ada tiga ekor serigala hutan berbulu abu-abu pekat yang langsung mengunci tatapan mereka padanya. Mata binatang-binatang itu berkilat lapar, lidah mereka menjulur meneteskan air liur yang langsung membeku jadi es di udara. Meghan menelan ludah dengan susah payah. Rasa takut yang baru bergejolak, melump
Sesuai dugaannya, Ralph tidak menemukan Meghan di kamarnya. Wanita itu tidak pernah sudi menjadi tontonan penurut, terutama setelah apa yang terjadi di panggung eksekusi fajar tadi. Seorang pelayan tua tertunduk sopan di belakang tubuh tegap sang Raja, jemarinya bertautan gemetar karena takut menjadi sasaran amarah baru. "Nona Meghan menolak bertemu Yang Mulia," lapor pelayan itu dengan suara yang nyaris berbisik. Ralph berdecih pelan, rahangnya mengetat. Pemberontakan kecil Meghan selalu berhasil menguji batas kesabarannya, namun di saat yang sama, ia tahu wanita itu sedang hancur. "Ke mana larinya dia?" "Hutan arah selatan, Yang Mulia. Beberapa penjaga melihat Nona berjalan ke sana sendirian." Hutan selatan adalah wilayah berburu yang liar, penuh dengan pepohonan pinus yang rapat dan jurang-jurang es tersembunyi, terlebih di tengah musim dingin yang pekat seperti sekarang. Berada di sana tanpa jubah tebal sama saja dengan menyerahkan diri pada kematian. Ralph menghela na
"Berhenti mendebatku, Meghan!" Bentakan Ralph menggelegar, menggetarkan dinding-dinding batu paviliun selir yang mendadak terasa begitu sempit. Napas pria itu memburu, rahangnya mengeras karena amarah yang hampir meledak. Namun, Meghan tidak berniat mundur selangkah pun. Rasa ngeri, muak, dan kemarahan yang telah lama ia pendam kini pecah menjadi keberanian yang nekat. "Kenapa kau mengambil selir jika untuk dipenggal?!" jerit Meghan, air matanya mendesak keluar bukan karena rapuh, melainkan karena rasa frustrasi yang teramat sangat. Meghan maju, memukul dada bidang Ralph berulang kali dengan kedua tangannya. Ia tidak peduli jika tindakan ini bisa membuat kepalanya sendiri melayang. Ia hanya ingin menghancurkan dinding batu tak berotak yang ada di dalam dada pria itu. BUGH! BUGH! Ralph mendengus kasar, lalu dengan satu sentakan dominan, ia mencengkeram pergelangan tangan Meghan dan mendorong wanita itu mundur hingga terjerembap di atas ranjang. "Kelak kau akan tahu alasannya







