로그인Tawa Kaisar masih menggema pelan di kepala Leluhur Tian Zhenxu ketika jamuan resmi bubar dan aula mulai sepi. Lentera giok di pilar aula samping bergetar pelan ditiup angin malam.
Aroma arak dan sisa dupa jamuan masih tertinggal di udara, bercampur dengan kepuasan diam yang ia simpan sendiri sejak menyaksikan tiga ujian yang baru saja dilewati Xuyue tanpa cela. Para pejabat telah lama membubarkan diri, langkah mereka memudar di kejauhan. Para selir pun telah kembali ke kediaman masing-masing dengan gurat amarah yang tertahan di balik senyum tipis. Hanya para dayang yang masih sibuk mengangkat mangkuk porselen dan kendi perak yang tersisa di meja panjang. Di balik lipatan tirai sutra tebal di sudut aula, sesosok pria tua berdiri tak bergeming. Ia mengenakan jubah abu-abu polos, tubuhnya agak membungkuk, rambut putihnya terikat rapi. Seluruh penghuni istana mengenalnya sebagai kepala pelayan yang telah mengabdi lebih dari satu abad, sosok renta yang setia dan tak pernah mencampuri urusan istana. Namun malam ini, sepasang matanya tidak lagi memancarkan kepikunan. Pandangannya tertuju lurus pada punggung Nihara Xuyue yang melangkah anggun meninggalkan aula. Gaun sutra putih wanita itu melambai lembut, membiaskan kilau rembulan di lantai batu giok. Pria tua itu mengusap dagunya perlahan, dadanya berdebar oleh sesuatu yang jarang ia rasakan lagi setelah seratus tahun menyamar tenang. Ketahanan Xuyue menenggak arak api tanpa mengedipkan mata, petikan kecapi yang sanggup menggetarkan jiwa para menteri, hingga ketenangannya membalikkan setiap jebakan, adalah bukti nyata. Itu bukan pembawaan seorang wanita bangsawan biasa. "Riak energi Ketiadaan," bisiknya, suara nyaris menyatu dengan desau angin. "Samar, namun getarannya persis seperti badai purba berabad-abad silam. Jejak dari mereka yang melintasi batas alam fana." Seorang dayang yang melintas sempat menoleh heran melihat kepala pelayan mematung di sudut gelap, namun segera menunduk dan mempercepat langkah. Wibawa dingin yang tak kasat mata dari pria tua itu selalu membuat para pelayan enggan berlama-lama di dekatnya. Di koridor luar, langkah kaki Xuyue terdengar ritmis menapak lantai marmer. Di belakangnya, Dayang Lan Mei berjalan tergesa membawa lentera kecil yang apinya meliuk-liuk gelisah, seolah ikut merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan tuannya sendiri. "Selir," bisik Lan Mei seraya merapatkan mantelnya, "sejak kita melangkah keluar dari aula, bulu kuduk saya terus meremang. Rasanya seperti ada sepasang mata yang mengintai dari kegelapan." Xuyue menghentikan langkah di depan kisi-kisi jendela yang menghadap langsung ke taman bunga persik. Kelopak-kelopak bunga berguguran menyentuh tanah basah. Ia menyunggingkan senyum tipis yang tak terbaca. "Di tempat sebesar ini, Lan Mei, setiap jengkal dinding memiliki telinga dan setiap bayangan menyimpan mata," ucapnya lembut seraya membalikkan badan. "Jika kau membiarkan rasa takut menguasai pikiranmu, kau tidak akan pernah bisa bertahan di istana ini." Lan Mei menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Hamba hanya mencemaskan keselamatan Anda, Selir." "Kewaspadaan adalah perisaimu, namun jangan biarkan itu berubah menjadi beban langkahmu," tutur Xuyue pelan, sambil diam-diam menghitung jarak dan arah dari kehadiran yang sedari tadi ia rasakan tanpa perlu menoleh sedikit pun. Mereka kembali menyusuri koridor. Xuyue tahu betul keresahan dayangnya bukan tanpa alasan. Sejak ia keluar dari aula perjamuan, ada satu keberadaan yang terus membuntutinya tanpa menimbulkan suara. Bukan tatapan penuh dendam khas para selir, melainkan intaian berjarak yang dingin, dalam, dan penuh perhitungan, jenis tatapan yang hanya dimiliki seseorang yang sudah lama terbiasa menunggu tanpa perlu terburu-buru. Di balik bayang-bayang pilar besar beberapa puluh tombak di belakang mereka, kepala pelayan tua itu melangkah tanpa menjejakkan suara. Napasnya teratur, menyatu sempurna dengan hembusan angin malam. Xuyue mendadak memiringkan kepalanya sedikit ke arah lorong samping. "Malam ini istana terasa jauh lebih ramai dari biasanya," gumamnya, cukup jelas untuk memecah keheningan koridor. Pria tua di balik kegelapan menahan langkahnya seketika. Sudut bibirnya terangkat tipis di balik janggut putih. "Ia mampu merasakan keberadaanku," batinnya, matanya menyipit tajam. "Bahkan Kaisar sendiri tidak pernah menyadari saat aku berdiri tepat di belakang singgasananya. Wanita ini benar-benar menyimpan kekuatan luar biasa." Xuyue melanjutkan langkahnya menuju Paviliun Selatan tanpa menoleh ke belakang. Di dalam keheningan jiwanya, ia menakar risiko yang baru saja muncul. "Siapa pun yang bersembunyi di balik jubah pelayan itu, ia bukan orang sembarangan," batinnya. "Jika ia ingin menguji batas kekuatanku, aku akan meladeninya dengan tenang." Angin malam berhembus semakin kencang, menggiring pria tua itu berbelok menuju sebuah paviliun kecil yang terasing di sudut terpencil benteng belakang. Bangunan kayu tua itu jarang disentuh pelayan istana. Ia melangkah masuk ke ruangan yang temaram, lalu menutup pintu kayu di belakangnya. Di tengah ruangan, sebuah altar batu kuno berdiri kaku di bawah selubung debu. Di atasnya, sebuah pembakar dupa tembaga telah siap dengan dupa hitam yang belum tersulut. Ia merogoh saku jubahnya, mengeluarkan sebutir batu giok abu-abu yang telah retak di sudutnya. Permukaan batu kuno itu bergetar samar saat ia mengalirkan sedikit Qi murni dari telapak tangannya, tangannya sendiri terasa dingin oleh beban yang sudah ia pikul terlalu lama. "Sudah terlalu lama sejak segel semesta terakhir kali bergetar," gumamnya pelan, sorot matanya menatap tajam ke arah langit malam melalui celah ventilasi. "Jika wanita itu benar-benar keturunan murni dari Alam Ketiadaan, maka kedatangannya bukan hanya akan mengacaukan susunan harem Kaisar, melainkan menjadi kunci untuk membuka kembali pintu gerbang yang telah terkunci ribuan tahun." Jemarinya menyulut ujung dupa hitam. Asap kelabu membubung tipis, membentuk pusaran kecil di atas altar. Sepasang mata pria tua itu perlahan memancarkan pendaran cahaya ungu keemasan, menyingkap identitas sejati yang ia kubur selama berabad-abad di bawah samaran Kepala Pelayan Istana. "Mari kita saksikan bersama, Nihara Xuyue," gumamnya ke kegelapan yang mengelilinginya. "Sejauh mana peranmu akan mengguncang fondasi kekaisaran ini, dan sejauh mana pula rahasiaku sendiri masih bisa bertahan di hadapanmu."Jamuan itu dirancang sempurna, bukan sekadar pesta, melainkan perang yang dibungkus kain sutra. Permaisuri mengundang tokoh dari provinsi tetangga, pejabat tinggi yang menjadi mulut bagi kabar istana, dan juru tulis yang kata-katanya bisa jadi senjata. Kursi disusun agar aliran pandang mengarah ke singgasana, ke meja Kaisar, dan ke posisi yang ditentukan untuk Selir Ke-7.Xuyue memasuki aula dengan langkah yang sudah ia latih sejak malam-malam penuh waspada. Jubahnya anggun, bukan untuk mencolok, tapi menimbulkan rasa aman palsu pada lawan."Mereka menganggap malam ini bisa mematahkan aku dalam satu pementasan," batinnya. "Mereka lupa aku juga melihat panggung dari balik tirai."Permaisuri memimpin jamuan dengan sapaan hangat. Lian Qixue dan Mo Yanyu duduk dekat meja sumber bisik-bisik, Zhao Ruilan menempel di sisi lain, wajahnya manis tapi matanya seperti jarum. Bahkan hidangan disusun untuk mengarahkan pembicaraan ke topik yang diinginkan.Kaisar hadir tenang, menyambut tamu lalu me
Kabar itu menyebar seperti bisikan yang melintasi aula-aula istana, bukan suara resmi, melainkan desas-desus yang menyelinap dari sela-sela tirai.Para dayang berbisik lebih cepat, pejabat mengubah raut wajah mereka, dan di antara selubung sutra, kecemburuan yang lama dipendam kini merekah menjadi sesuatu yang lebih tajam.Xuyue merasakan perubahan itu seperti kutub magnet yang bergeser: tarikan halus yang mengubah keseimbangan segala hubungan."Permainan mereka tak lagi tentang harga diri," batinnya. "Ini sudah berubah menjadi upaya untuk menyingkirkan aku sebelum mereka kehilangan segalanya."Ia duduk di kamarnya, memandangi token perunggu dalam kotak kecil. Bagi mata awam token itu biasa saja, namun bagi yang pernah melihat formasi, simbol lingkar bercabang itu adalah kunci untuk membuka jalur yang lama tertidur.Kaisar tampak lebih sering menarik diri ke ruang studinya, menatap peta dan laporan pengintai.Namun ada sesuatu yang berbeda dalam caranya menatap Xuyue: campuran kebingu
Malam menjemput istana dengan selimut kabut tipis. Suara organ kecil di aula mereda, koridor yang kemarin penuh tawa kini sunyi. Xuyue menunggu hingga langkah terakhir meredup, lalu menyingkap tirai jendela paviliunnya."Ini malam yang tepat," batinnya, merasakan denyut energinya yang samar. Ia menuruni tangga rahasia yang hanya diketahui beberapa orang di istana, tempat yang pernah ditunjukkan Leluhur sekilas.Setelah menutup lubang rahasia dengan kain, ia menyelinap melintasi koridor servis menuju gerbang belakang.Ia berjalan melewati dapur kosong dan gudang terkunci, langkahnya senyap, napasnya tertahan. Ia tidak lagi berpura-pura menjadi Selir Ke-7 yang rapuh, malam memberinya kebebasan untuk menjadi dirinya sendiri.Di gerbang belakang, taman kecil yang jarang digunakan terbentang di hadapannya. Ia menutup mata, memperluas indera ruhnya. Ada residu energi yang berbeda dari bekas ritual biasa, jejak formasi yang tersisa, garis halus berputar seperti sarang laba-laba.Jejak itu me
Ruangan jamuan terang oleh lentera emas yang tergantung rapi, tetapi cahaya itu tidak mampu menghangatkan suasana.Di bawah permukaan keramahan terdapat arus yang tajam, seperti deretan pisau tipis yang menunggu satu gerakan salah untuk melesat.Xuyue melangkah masuk, setiap geraknya terkalkulasi, jubahnya sederhana namun potongan kainnya mengikuti lekuk yang membuat banyak mata menoleh terlalu lama.Ia berjalan seperti orang yang tahu bagaimana sebuah senyum bisa menjadi tombak, dan bagaimana diam bisa menjadi perisai.Lian Qixue menyambutnya terlebih dahulu, raut wajahnya manis namun matanya memeriksa seperti orang yang menimbang kualitas perhiasan."Selir Ke-7, kau datang tepat waktu," katanya, suaranya halus namun mengandung nada yang berlapis.Di sekeliling, Mo Yanyu memperlihatkan kepedulian yang dibuat-buat, Zhao Ruilan menampilkan keramahan yang terlalu cepat, Han Feixia memancarkan ketegangan yang siap meledak, Yu Shuangli menunjukkan dingin yang meremehkan, dan Jin Meiqin me
Ancaman Permaisuri malam itu masih terngiang di telinga Xuyue, namun malam berikutnya, bahaya yang datang tidak lagi berbentuk kata-kata, melainkan bayangan bersenjata yang bergerak di taman belakang istana.Malam di Istana Kaisar Langit terasa lebih pekat dari biasanya. Angin berhembus membawa aroma tanah basah, seolah langit sendiri menahan napas.Di balik dinding-dinding tinggi, kesunyian hanya dipecahkan oleh suara langkah para penjaga yang berpatroli.Xuyue berdiri di balkon paviliunnya, menatap bulan yang menggantung pucat di langit.Lan Mei sudah tertidur di ruang dalam, namun matanya sendiri enggan terpejam. Ada sesuatu yang mengusik, sebuah firasat yang tidak bisa ia abaikan."Terlalu tenang," batinnya. "Dan ketenangan seperti ini biasanya hanya mendahului badai."Tiba-tiba, suara samar terdengar dari arah taman belakang. Seperti desir kain yang menyentuh dedaunan, lalu disusul dentingan logam yang nyaris tak terdengar. Xuyue menajamkan pendengaran, tubuhnya menegang.Bayanga
Gulungan hitam bertuliskan "jika racun tidak cukup, maka api harus menyala" masih tersimpan rapi di laci rahasia Permaisuri ketika ia mengirim utusan untuk memanggil Xuyue malam itu.Namun api yang ia maksud, malam ini, belum berwujud kobaran nyata, melainkan kata-kata.Malam turun perlahan di atas Istana Kaisar Langit. Paviliun Timur diterangi cahaya lampu minyak yang berderak lembut, menebarkan bayangan panjang di dinding batu giok.Aroma dupa melayang tipis, menambah kesan damai, meski di balik ketenangan itu tersimpan ketegangan yang sulit disembunyikan.Permaisuri Luo Meiyan duduk di kursi utama, mengenakan jubah sutra ungu dengan bordiran naga betina.Senyumnya tampak lembut, seolah penuh kasih, namun sorot matanya menyimpan sesuatu yang lebih dalam. Ia menunggu dengan sabar, jemarinya mengetuk perlahan meja kayu cendana.Langkah kaki terdengar mendekat. Nihara Xuyue masuk dengan tenang, mengenakan jubah biru pucat sederhana.Rambutnya disanggul rapi, dihiasi giok kecil yang ber







