LOGIN
“Ah…”
Ara mendesis, matanya mengerjap kecil. Sesuatu ada yang aneh dari minumannya. Semua yang ia lihat berbayang.
Udara dingin di koridor hotel menyambut Ara dengan gigitan dingin.
Kesadarannya menipis seperti asap yang ditiup angin, namun ia memaksa tubuhnya terus bergerak menjauh dari kamar hotel tempat ia baru saja melarikan diri.
Dadanya bergemuruh—bukan hanya karena obat bius yang merayap cepat dalam aliran darahnya, tetapi juga kemarahan yang mendidih dan membuat tengkuknya panas.
Ia tahu benar.
Minuman yang tadi dipesan Nadine, mama tirinya, telah dicampur sesuatu. Obat penenang atau entah apalah yang cukup membuat lengannya berat dan kakinya seperti tertanam semen. Tapi Ara tidak boleh jatuh. Tidak malam ini.
Suara pria tua tadi masih terngiang di kepalanya.
“Tenang aja, manis… kita akan bersenang-senang malam ini.”
Ucapan yang keluar dari mulut lelaki berperut buncit, bermata merah, dan beraroma alkohol menusuk. Ara hampir muntah.
“Kau gila kalau pikir aku akan menyentuhmu!”
Kata-katanya waktu itu terdengar lantang di pikirannya—padahal yang keluar hanya gumaman lemah.
“Ssshh… mamamu udah siapin kamu. Masih nolak?” Lelaki itu mencengkram lengannya terlalu erat. “Bawa dia ke kamar.”
Beberapa bodyguard bergerak. Dalam detik terakhir kesadarannya, Ara menjatuhkan tubuh—pura-pura pingsan. Satu-satunya cara agar mereka lengah. Dan berhasil. Ia dipindahkan ke kamar lain. Gelap, asing… namun jauh dari suara pria cabul itu.
Begitu keadaan cukup sepi, Ara memaksa tubuhnya bangkit, meraih mantel panjang yang tergantung di kursi. Mantel itu menutupi gaun tipisnya, namun membuat tubuhnya panas dan memperparah efek obat.
Kini, di lorong hotel, ia berjalan terpincang dengan napas tak beraturan. Langkah-langkah dari arah belakang membuatnya membeku.
“Cari dia! Kalau bocor, kita habis!” suara laki-laki, keras, gelisah.
Ara menekan tombol lift. Semua lantai. Jari-jarinya bergetar. Ia hanya butuh keluar dari gedung ini—atau mati mencoba.
Lift bergerak lambat. Terlalu lambat.
Saat pintu terbuka di lantai tujuh, Ara hampir jatuh tersungkur. Namun yang tersaji di hadapannya bukan lagi lorong gelap, melainkan restoran mewah dengan lampu kristal dan musik klasik yang terasa seperti dunia lain.
Dan di tengah ruangan itu—ia melihat wajah yang sangat ia kenal.
“Tolong….” desisnya hampir tak terdengar.
Ia seperti kenal pria di hadapannya.
Pria tinggi bersetelan rapi, dengan tatapan tajam dan rahang tegas.
Kakak sahabatnya.
Sosok yang seharusnya tidak mungkin ada di sini malam ini.
Zayn menoleh, wajahnya berubah drastis saat melihat gadis pucat dengan langkah gontai dan mantel setengah terbuka yang menyingkap gaun hitam robek di bagian dada.
“Ara?” suaranya turun tajam. Ia langsung berdiri, menghampiri, melepas jasnya, dan menyampirkannya ke tubuh Ara. “Kamu kenapa? Siapa yang—”
“Zayn… tolong…” Ara mencengkeram kerah jas itu. Suaranya pecah. “Bawa aku pergi dari sini.”
Zayn tidak bertanya lagi. Pandangannya menyapu cepat ke sekeliling—dan ia melihat dua pria bersetelan gelap keluar dari lift lain. Lalu, di belakang mereka, seorang lelaki gemuk dengan senyum menjijikkan yang membuat amarah Zayn mengeras.
CEO perusahaan investasi. Salah satu predator paling terkenal di lingkaran bisnis.
Ara bergumam lemah, “Tubuhku terasa aneh… sial… obat apa yang mereka campur…”
Zayn sudah tahu jawabannya bahkan sebelum Ara selesai bicara.
Ia memajukan tubuhnya, memeluk bahu Ara, menutupi wajahnya dengan jas.
Dan rasa punggung yang bertabrakan secara tidak sengaja itu membuat ara kembali teringat kenangannya. Rasa ia dipeluk oleh Zayn hari ini lebih melekat, lebih candu.
Sepertinya ia mulai dipengaruhi obat.
Zayn membawanya keluar melalui pintu dapur. “Maaf, kami perlu lewat sini. Ada situasi darurat,” katanya singkat namun penuh wibawa.
Koki hanya mengangguk, terlalu bingung untuk membantah.
Di balik dapur, tangga darurat dengan dinding kaca membentang ke bawah, memantulkan bayangan Ara yang limbung. Mereka bergegas menyusuri lorong belakang dan tiba di tangga darurat yang memiliki dinding kaca membentang dari lantai ke langit-langit.
Dari sana, Ara bisa melihat parkiran depan hotel—dan jantungnya langsung tercekat.
Di lobi bawah, mobil keluarga Ara terparkir. Dan di depannya—seorang wanita dengan langkah tegas mondar-mandir.
Mama tirinya sedang berada di depan lobi hotel, mengenakan mantel mewah dan sepatu hak tinggi yang menimbulkan suara khas setiap kali menghantam lantai. Matanya menyisir area sekitar dengan gelisah.
Ara menghentikan langkah Zayn.
“Tung…guuh…” desisnya lemah, mencoba menarik lengan Zayn.
Tapi kekuatannya tak cukup. Tubuhnya kehilangan keseimbangan dan jatuh begitu saja di anak tangga. Seluruh tubuhnya bergetar hebat—efek obat belum sepenuhnya hilang.
"Ara!"
Zayn menangkapnya tepat sebelum kepalanya menghantam anak tangga. Tubuhnya panas, napasnya pendek, dan pikiran yang seharusnya waspada kini terdistorsi oleh racun yang mengalir dalam darahnya.
Dan Zayn… terlalu dekat.
Aroma tubuh Zayn menyapu indera Ara—parfum maskulin dengan aroma dasar cedar dan sedikit rempah hangat. Campuran yang membuat detak jantung Ara semakin menggila. Kepalanya bersandar ke dada Zayn tanpa sadar, dan untuk sesaat, tubuhnya menemukan sedikit ketenangan di sana.
“Kita nggak bisa turun lewat sana,” bisiknya. “Dia di situ. Nadine.”
Zayn melirik ke dinding kaca di sebelah mereka, membuat posisinya makin dekat dalam merangkul Ara. Ini menyebabkan gadis itu benar-benar berada di ambang kendalinya sendiri.
Sial.
"Zayn…" Bibirnya bergerak sendiri, suaranya serak. "Kau laki-laki, kan?"
Zayn mengerutkan kening. "Kenapa?"
"Kau… tidak tertarik padaku?" Gemetar. "Atau—kau tidak mampu?"
Kata-kata itu meluncur seperti pisau, tapi Ara bahkan tidak menyadari betapa berbahayanya itu. Obat itu menggerogoti kesadarannya, membuatnya menggapai kerah kemeja Zayn dengan jari-jari yang tidak stabil.
"Aku bisa membayarmu," bisiknya, nafasnya membakar kulit Zayn. "Tolong…"
Zayn mengepal. Bayar?
Gagasan itu menyayat seperti pisau—bayangkan jika yang menemukan Ara bukan dirinya. Jika lelaki lain mendengar rayuan tak sadar itu, melihatnya seperti ini lengannya gemetar, bibir tergigit, bahkan mata berair berhasil memperkuat kesan rapuhnya.
Apakah dia akan menawarkan diri pada mereka juga?
Pikiran itu membakar lebih ganas daripada amarah.
Sebelum Ara bisa menambahkan kata lain, Zayn menggenggam rahangnya, jari-jarinya menekan ke dalam kulit. "Kau benar-benar tidak tahu bahayanya bermain api," desisnya, nafasnya membakar.
Lalu—
Zayn mendorong bahunya pelan.
Bibirnya menghantam Ara dengan kekasaran yang disengaja, bukan ciuman, tapi hukuman. Sebuah klaim yang menggigit, mendesak, membuat Ara terhuyung ke belakang hingga punggungnya menempel di dinding kaca.
Dan tubuh Ara—terkutuk oleh racun dan ingatan lama—langsung merespons.
Tangannya mencakar bahu Zayn, menariknya lebih dekat, lebih dalam, seperti orang tenggelam yang bersedia dihancurkan asal bisa bernapas. Zayn menggeram, mendorong seluruh berat badannya ke depan hingga kaca bergetar di belakang Ara.
"Kau bahkan tidak tahu siapa yang kau ajak bermain," suaranya parau di antara ciuman yang hampir menyakitkan. Tangan besarnya merayap ke leher Ara, jempol menekan lembut di bawah dagu—ancaman dan janji sekaligus.
Ara mengerang, tapi Zayn menelan suara itu, mendesakkan lidahnya ke dalam mulut gadis itu yang membuat lututnya lunglai.
Dia tidak bisa lagi berpikir.
Ara bangun dengan keputusan yang sudah bulat.Dia harus ke bank. Dia harus tau apa isi safe deposit box itu.Zayn sudah berangkat ke kantor sejak subuh—ada meeting penting dengan investor. Ini kesempatan Ara.Dia berpakaian simple—jeans, kaus, hoodie, kacamata hitam. Mencoba tidak menarik perhatian.Tapi saat mau keluar kamar, dia bertemu dengan pelayan."Nyonya Ara, mau kemana?" tanya pelayan dengan sopan tapi... waspada."Aku... aku mau jalan-jalan sebentar. Beli cemilan.""Saya bisa pesankan untuk Nyonya. Atau driver bisa antarkan—""Nggak usah. Aku mau sendiri aja." Ar
Ara terbangun dengan perasaan... aneh.Semalam, setelah Zayn konfrontasi ibunya, mereka tidur dalam pelukan. Tapi pagi ini, Zayn sudah tidak ada di samping—mungkin sudah berangkat ke kantor.Ara duduk di tepi ranjang, memegang perutnya yang masih rata.6 minggu hamil sekarang.Bayi di dalam perutnya sudah sebesar biji kacang. Kecil, tapi... ada.Ponselnya bergetar.Pesan dari... Nadine.Nadine: "Ara, gimana? Zayn sudah tau?"Ara menatap pesan itu dengan perasaan tidak enak.Kenapa Nadine begitu... eager?
Ara datang sendirian dengan taksi—sengaja tidak pakai driver keluarga Alaric agar tidak ketahuan. Dia mengenakan hoodie dan kacamata hitam, mencoba menyamarkan identitasnya.Kafe yang Nadine pilih kecil, sepi, jauh dari pusat kota—tempat yang tidak akan ada wartawan atau orang yang mengenal mereka.Ara masuk dan langsung melihat Nadine duduk di pojok, mengenakan blazer elegan dan kacamata—terlihat seperti profesional muda, bukan ibu tiri yang manipulatif.Nadine tersenyum saat melihat Ara. "Ara, terima kasih sudah datang."Ara duduk dengan waspada. "Langsung to the point aja. Siapa yang sebar rumor tentang Alaric Group?"Nadine menyeruput kopinya dulu, lalu berkata pelan:
Jam 6 pagi, Ara terbangun dengan suara ketukan keras di pintu kamarnya."Ara! Bangun!" Suara Zayn—panik, mendesak.Ara langsung bangun, membuka pintu. Zayn berdiri di sana dengan ponsel di tangan, wajahnya pucat."Ada apa?"Zayn menyodorkan ponselnya—layar menampilkan artikel berita yang baru saja tayang 10 menit lalu."Endra MAHENDRA BERI PERNYATAAN: 'ANAK SAYA DIPAKSA MENIKAH OLEH KELUARGA Alaric!'"Ara membaca dengan napas tercekat.Dalam artikel itu, Endra dikutip mengatakan bahwa Ara "dimanipulasi" untuk menikah dengan Zayn, bahwa keluarga Alaric "mengambil keuntungan" dari kehamilannya, dan bahwa dia sebagai ayah "san
Ara bangun dengan tubuh yang terasa berat. Tidurnya tidak nyenyak—mimpi tentang keluarganya, tentang Arga, tentang semua yang terjadi.Zayn sudah bangun lebih dulu, duduk di meja sarapan sambil membaca tablet. Begitu melihat Ara bangun, dia langsung berdiri."Pagi. Kamu tidur nyenyak?" tanyanya sambil membantu Ara duduk."Lumayan." Bohong. Tapi Ara tidak mau bikin Zayn khawatir.Pelayan menyajikan sarapan—roti panggang, telur, salad buah, dan segelas susu hangat. Semua terlihat sempurna seperti foto di majalah."Mama belum turun?" tanya Ara."Mama ada meeting pagi. Papa juga sudah berangkat ke kantor." Zayn menuangkan susu ke gelas Ara. "Jadi hari ini kita berdua aja."
Pagi, Jam 9 Tepat ,di Apartemen AraDriver keluarga Alaric datang tepat waktu—seorang pria paruh baya dengan seragam hitam rapi dan sikap profesional yang kaku."Selamat pagi, Nyonya Alaric," sapanya sambil membungkuk sopan. "Saya sudah siap membawa Anda ke kediaman utama."Nyonya Alaric.Gelar itu terasa asing di telinga Ara."Selamat pagi," balas Ara kaku sambil menarik kopernya.Zayn langsung mengambil alih koper itu. "Aku yang bawa. Kamu jangan angkat yang berat-berat.""Zayn, itu cuma koper—""Ara." Zayn menatapnya dengan tatapan yang tidak memberi ruang debat. "Kamu hamil.







