Share

3. "Aku mau –

Penulis: pensaether
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-17 15:22:50

Ketika matahari pagi menyilaukan jendela, Ara terbangun dengan kepala berat dan tubuh yang pegal di setiap inci. Ia mengedip beberapa kali, mencoba memahami ruangan asing yang tidak familiar—dinding gelap elegan, wangi maskulin samar, dan ranjang king size yang terlalu nyaman untuk ukuran mimpi buruk semalam.

“Shit—”

Tanpa pikir panjang, ia menyingkap selimut. Napasnya tercekat.

Gaun hitam robek yang dipakainya semalam sudah hilang. Sebagai gantinya, ia mengenakan kemeja putih kebesaran—jatuh longgar di bahu dan paha—dan sangat jelas milik siapa.

Bukan mimpi. Sama sekali bukan mimpi.

Tubuhnya terasa seperti baru saja dilewati kereta. Sakit, ngilu, tapi panas. Dan memori samar semalam kembali menyerbu tangan Zayn, napasnya, tatapannya, tubuhnya yang menghantam kesadarannya yang melemah karena obat.

Ara menutup wajah dengan kedua tangan. “AKHH! Aku yang mulai duluan… kenapa aku sebodoh itu?!”

Menambah buruk keadaan, ia tidak melihat Zayn di kamar.

Dadanya mencubit sendiri.

Sial. Setelah semuanya, dia pergi begitu saja?

“Semua lelaki sama saja,” gumamnya getir.

“Apa yang sama?”

Zayn berdiri di ambang pintu.

Rapi dengan tuxedonya. Rambut basah sedikit. Dan aura yang terlalu dominan untuk pagi hari. Tepat sebaliknya dari dirinya yang tampak seperti korban kecelakaan emosional.

Ara refleks menarik selimut hingga dagu.

“Kamu pikir aku akan pergi?” Zayn hanya menaikkan satu alis, senyumnya tipis dan dingin. “Aku tidak sebajingan itu.”

“Di mana bajuku?” ia mendengus. “Yang baru. Kamu kan janji ganti.”

“Sedang aku beli.”

Namun sebelum ara sempat memprovokasi lebih jauh bagaimana ia membeli, ponselnya berdering keras.

Ia membeku. Nama yang muncul di layar membuat wajahnya langsung memucat.

Sial.

Ia bergegas meraih tas di lantai, tapi selimut tersingkap sedikit—cukup untuk membuat Zayn berhenti bernapas.

Lebam ungu di pergelangan tangan. Bekas merah di paha. Gigitan samar di leher.

Kilasan semalam menghantam Zayn. Perempuan yang menggigil, tubuh lemas karena obat, suara setengah menangis yang berdesah namanya.

Tatapannya menghitam.

Ara pura-pura tidak peduli, menelan napas dan mengangkat telepon. “Halo Pa?”

“DIMANA KAU?!”

 Suaranya seperti petir, membuat Zayn pun mendengarnya.

Ara mengerut, mengecil seperti anak lima tahun. “Aku—”

“Semalam kau TIDAK pulang! Tidak telepon! Mamamu bilang kau masuk mobil laki-laki—”

“Itu Zayn Alaric, Pa,” Ara memotong dengan nada getir.

Keheningan satu detik. Lalu—

“JADI SEMALAM KAU—”

“Aku bermalam di rumah keluarga Alaric. Bibi menuduh macam-macam lagi?!”

“Dia mamamu!”

“Bibi.” Ara mengetatkan rahang. “Dia bukan mamaku! Dia bibi!”

“Pulang. SEKARANG.”

“Ya.” Ara menutup telepon kasar, menahan napas cepat yang naik-turun di dadanya. Selimut kembali tergelincir, memperlihatkan lebam yang terlalu jelas.

Zayn menatapnya lama.

“Kau dibius.”

Bukan pertanyaan bahwa itu adalah sebuah fakta.

Ara tertawa pendek, pahit. “Aku bilang bukan—”

Zayn merebut ponsel dari tangannya—meletakkannya di ranjang dengan sedikit keras, tapi tidak membanting.

“Siapa yang memberi obat itu?”

Ara menelan ludah. “Aku tidak butuh penyelamat, Zayn. Ini urusanku—”

“Bullshit.”

Nada sinisnya memotong dingin. Ia mendekat, kedua lengannya menutup ruang hingga Ara terjepit di kepala ranjang. Ada badai yang jelas terbaca di matanya—bukan sekadar marah.

“Kau pikir aku tidak mengenali gejalanya?” bisiknya rendah. “Kau bahkan nyaris tidak sadar semalam.”

“Aku ingat cukup—”

“Cukup?” Zayn mendekat sampai hidungnya hampir menyentuh Ara. “Kau bahkan tidak bisa berdiri saat kubawa ke tempat tidur. Kau muntah dua kali sebelum pingsan. Ara, itu bukan mabuk.”

Bahunya bergetar kecil. Bibirnya turun naik seperti menahan sesuatu. Tapi dia tetap keras kepala.

“Lalu kenapa? Kau tetap memanfaatk—”

“Karena kau memintanya!”

Zayn menghantamkan tangan ke dinding tepat di samping telinga Ara—keras, tapi tidak menyentuhnya.

“Aku—”

Suaranya pecah sedikit. “Aku tidak bisa berhenti. Bahkan ketika aku tahu ada sesuatu yang salah.”

Keduanya terdiam. Napas Zayn berat, rahangnya keras, seolah ia juga muak pada dirinya sendiri.

Lalu—ponsel Ara berdering.

Zayn mengambilnya duluan.

“Pak Endra,” suaranya tiba-tiba berubah dingin, formal, berwibawa. “Ara bersama saya. Masalah keluarga? Biar saya yang urus.”

“Zayn!” Ara berusaha meraih ponselnya.

Namun pria itu menutup telepon dan melemparkannya ke sofa, seolah tidak peduli siapa yang memanggil.

“Kita bicara,” katanya tegas. “Sekarang.”

“T—tidak ada yang perlu—”

“Mama tirimu,” Zayn memotong tajam. “Dia yang memberimu obat. Kenapa?”

Ara mengeluarkan tawa pahit—pendek dan mati.

“Kau benar-benar tidak tahu? Dia ingin aku dinikahkan dengan rekan bisnis pamanku.”

Ara menatap lurus, tanpa kedip. “Pria 60 tahun yang sudah tiga kali cerai.”

Zayn membeku.

“Dan kau menolak.”

“Jadi dia memastikan aku tidak bisa menolak,” Ara melanjutkan lirih. “Dia mau menyerahkan aku dalam keadaan pingsan.”

Ia menunjuk bekas-bekas di tubuhnya. “Dan rencananya gagal karena kau menjemputku duluan.”

Hening turun seperti kabut gelap.

Zayn akhirnya menarik napas panjang, seolah mencoba mengendalikan dirinya sendiri.

“Pakaianmu tiba dalam dua puluh menit,” ujarnya datar, berbalik. “Angel akan mengantarmu pulang.”

“Apa? Kau—”

“Dan besok…” Zayn menoleh kembali, tatapannya tajam seperti pisau baja. “Kita akan menemui mama tirimu. Bersama.”

“Aku tidak butuh—”

“Ini bukan pilihan, Ara.”

Pintu tertutup keras, menggetarkan dinding.

Meninggalkan Ara sendirian dengan tubuh perih, kepala berdenyut, dan satu kebingungan yang tidak mau hilang. Sejak kapan Zayn Alaric… peduli?

Hubungan mereka tidak pernah sederhana. Tidak pernah sekadar “karena obat semalam”.

Ara dulu menyukai Zayn sungguhan. Zayn mengetahuinya, meski ia pura-pura tidak peduli. Dan kadang— samar—Zayn juga memperlakukannya sedikit berbeda dari yang lain.

Bukan cinta, tentu.

Ara dulu terlalu muda.

Zayn terlalu dewasa, terlalu rumit, terlalu kacau.

Akhirnya Ara yang memilih pergi duluan. Itu sebabnya peristiwa semalam terasa seperti kesalahan fatal. Seharusnya ini tidak terjadi. Zayn tidak perlu ikut campur. Dan ia… lebih baik menelepon polisi saja, bukan laki-laki ini.

Ara bangkit dari ranjang, membiarkan selimut terjatuh apa adanya. Hanya ada dirinya di ruangan itu sekarang.

Ketika ia melihat cermin kamar mandi, langkahnya terhenti.

“Astaga…” napasnya tercekat. Ia mendekat, memutar tubuh. “Apa dia anjing?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Semalam Bersama Sahabat Kakakku   36. Lia Muncul

    Ara bangun dengan keputusan yang sudah bulat.Dia harus ke bank. Dia harus tau apa isi safe deposit box itu.Zayn sudah berangkat ke kantor sejak subuh—ada meeting penting dengan investor. Ini kesempatan Ara.Dia berpakaian simple—jeans, kaus, hoodie, kacamata hitam. Mencoba tidak menarik perhatian.Tapi saat mau keluar kamar, dia bertemu dengan pelayan."Nyonya Ara, mau kemana?" tanya pelayan dengan sopan tapi... waspada."Aku... aku mau jalan-jalan sebentar. Beli cemilan.""Saya bisa pesankan untuk Nyonya. Atau driver bisa antarkan—""Nggak usah. Aku mau sendiri aja." Ar

  • Semalam Bersama Sahabat Kakakku   35. Rumah Alaric- Closure

    Ara terbangun dengan perasaan... aneh.Semalam, setelah Zayn konfrontasi ibunya, mereka tidur dalam pelukan. Tapi pagi ini, Zayn sudah tidak ada di samping—mungkin sudah berangkat ke kantor.Ara duduk di tepi ranjang, memegang perutnya yang masih rata.6 minggu hamil sekarang.Bayi di dalam perutnya sudah sebesar biji kacang. Kecil, tapi... ada.Ponselnya bergetar.Pesan dari... Nadine.Nadine: "Ara, gimana? Zayn sudah tau?"Ara menatap pesan itu dengan perasaan tidak enak.Kenapa Nadine begitu... eager?

  • Semalam Bersama Sahabat Kakakku   34. Zayn Publish Pernyataan

    Ara datang sendirian dengan taksi—sengaja tidak pakai driver keluarga Alaric agar tidak ketahuan. Dia mengenakan hoodie dan kacamata hitam, mencoba menyamarkan identitasnya.Kafe yang Nadine pilih kecil, sepi, jauh dari pusat kota—tempat yang tidak akan ada wartawan atau orang yang mengenal mereka.Ara masuk dan langsung melihat Nadine duduk di pojok, mengenakan blazer elegan dan kacamata—terlihat seperti profesional muda, bukan ibu tiri yang manipulatif.Nadine tersenyum saat melihat Ara. "Ara, terima kasih sudah datang."Ara duduk dengan waspada. "Langsung to the point aja. Siapa yang sebar rumor tentang Alaric Group?"Nadine menyeruput kopinya dulu, lalu berkata pelan:

  • Semalam Bersama Sahabat Kakakku   33. Konferensi Pers Darurat

    Jam 6 pagi, Ara terbangun dengan suara ketukan keras di pintu kamarnya."Ara! Bangun!" Suara Zayn—panik, mendesak.Ara langsung bangun, membuka pintu. Zayn berdiri di sana dengan ponsel di tangan, wajahnya pucat."Ada apa?"Zayn menyodorkan ponselnya—layar menampilkan artikel berita yang baru saja tayang 10 menit lalu."Endra MAHENDRA BERI PERNYATAAN: 'ANAK SAYA DIPAKSA MENIKAH OLEH KELUARGA Alaric!'"Ara membaca dengan napas tercekat.Dalam artikel itu, Endra dikutip mengatakan bahwa Ara "dimanipulasi" untuk menikah dengan Zayn, bahwa keluarga Alaric "mengambil keuntungan" dari kehamilannya, dan bahwa dia sebagai ayah "san

  • Semalam Bersama Sahabat Kakakku   32. Endra Marah

    Ara bangun dengan tubuh yang terasa berat. Tidurnya tidak nyenyak—mimpi tentang keluarganya, tentang Arga, tentang semua yang terjadi.Zayn sudah bangun lebih dulu, duduk di meja sarapan sambil membaca tablet. Begitu melihat Ara bangun, dia langsung berdiri."Pagi. Kamu tidur nyenyak?" tanyanya sambil membantu Ara duduk."Lumayan." Bohong. Tapi Ara tidak mau bikin Zayn khawatir.Pelayan menyajikan sarapan—roti panggang, telur, salad buah, dan segelas susu hangat. Semua terlihat sempurna seperti foto di majalah."Mama belum turun?" tanya Ara."Mama ada meeting pagi. Papa juga sudah berangkat ke kantor." Zayn menuangkan susu ke gelas Ara. "Jadi hari ini kita berdua aja."

  • Semalam Bersama Sahabat Kakakku   31. Pindah ke Rumah Alaric

    Pagi, Jam 9 Tepat ,di Apartemen AraDriver keluarga Alaric datang tepat waktu—seorang pria paruh baya dengan seragam hitam rapi dan sikap profesional yang kaku."Selamat pagi, Nyonya Alaric," sapanya sambil membungkuk sopan. "Saya sudah siap membawa Anda ke kediaman utama."Nyonya Alaric.Gelar itu terasa asing di telinga Ara."Selamat pagi," balas Ara kaku sambil menarik kopernya.Zayn langsung mengambil alih koper itu. "Aku yang bawa. Kamu jangan angkat yang berat-berat.""Zayn, itu cuma koper—""Ara." Zayn menatapnya dengan tatapan yang tidak memberi ruang debat. "Kamu hamil.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status