LOGIN“Siapa yang mengantar Ara?” suara Nadine, ibu tirinya terdengar tajam, penuh kecurigaan, menahan panik saat dirinya turun dari mobil.
Pelayan menunduk gugup. “I–itu… mobil keluarga Alaric, Nyonya.”
Alis Nadine terangkat tinggi. “Keluarga Alaric?” nada meremehkannya menusuk.
Ara meletakkan tasnya, menatap wanita itu tanpa rasa takut. “Setidakpercaya itu, Bibi? Perlu kutelepon Nyonya Alaric untuk memastikan aku memang menginap di rumah mereka?”
Tatapan Nadine memburu bak binatang tersudut. “Siapa tahu kau bersengkongkol dengan temanmu itu—Tuan Alaric—untuk menutupi hal-hal yang mempermalukan keluarga ini.”
Ara mendengus, senyumnya dingin. “Hati-hati dengan ucapanmu, Bibi. Baru saja kau menuduh putra bungsu Tuan Alaric berbuat buruk. Apa jadinya kalau dia mendengarnya?”
“KAMU?!” Nadine hampir membentak.
“Apa? Bibi lupa siapa yang membuatku harus menginap di rumah Alaric?” Ara balik menyerang, nadanya sinis dan menusuk.
Endra tiba-tiba bersuara keras. “Cukup! Ara, masuk. Duduk di depan Papa.”
Ara melirik ayahnya tanpa gentar. “Kenapa aku harus nurut?”
Ia tahu pasti ada rencana kotor di balik ajakan makan malam manis-manis yang diberikan Nadine semalam. Ia memang sengaja ikut, ingin tahu sejauh mana wanita itu berani.
Tapi ia tidak pernah menyangka bahwa Nadine benar-benar memberinya obat dan berniat—tanpa malu—menyerahkannya pada lelaki tua.
Kejahatan klise. Tapi justru karena klise… Ara tidak menyangka mereka cukup tega melakukannya di dunia nyata.
Kalau wanita itu ingin bicara soal kesalahan, Ara pun punya daftar yang lebih mengerikan.
“Papa tidak tahu, kan,” Ara berbicara lebih keras, “bahwa semalam Bibi mengajakku bertemu Paman Eric?”
Wajah Nadine mendadak berubah pucat seperti kain basah. Endra menoleh cepat, matanya menyipit tajam.
“Eric?”
Nada ayahnya mengeras. “Paman Eric yang mana?”
Ara menatap Nadine dengan senyum menghina. “Paman Eric yang Bibi sembunyikan dari Papa. Yang selalu minta Bibi menuruti semua rencananya. Termasuk rencana menjualku pada pengusaha cabul demi investasi murahan itu.”
“ARA!” Nadine berteriak panik. “Dia bohong, Mas! Kami tidak bertemu siapa pun! Kami hanya makan—”
Ara memotong cepat. “Oh, Bibi lupa siapa saja yang hadir dalam jamuan rahasia itu? Eric yang memeriksa apakah aku ‘nyaman’ dengan Tuan itu. Eric yang memaksa Bibi untuk meyakinkan Papa agar berinvestasi di perusahaan sampahnya. Dan Bibi—” Ara menunjuk Nadine dengan dingin. “—menjadikan aku alat tukar.”
Wajah Endra memerah marah. “CUKUP! Nadine! Jawab aku! Apa yang Ara katakan benar?! Kau bertemu Eric? Kau mengatur ini untuk ANAKKU?!”
Nadine mundur beberapa langkah, gemetar. “Mas, dia bohong! Dia yang selalu membuat masalah! Aku hanya ingin dia sadar diri—dia sudah—dia di luar kendali—”
Ara tertawa pendek, pahit. “Di luar kendali? Atau Bibi yang dikendalikan Paman Eric? Apa Papa tahu kalau Paman Eric sudah mengambil setengah saham kafe Bibi? Dan dia melakukan itu supaya Bibi mau menyingkirkanku.”
Endra membeku. Itu pukulan besar.
“ERIC LAGI?” suaranya menggelegar. “Aku sudah bilang jangan pernah libatkan keluarga ini dengan dia! Kau melanggar janji dan berani mencelakai anakku demi dia?!”
“Aku tidak mencelakainya!!!” Nadine histeris. “Aku hanya ingin dia berhenti merusak semuanya! Kau tidak tahu betapa susahnya aku mengurus rumah ini—”
Ara menyilangkan tangan, dingin. “Aku hanya membantu Papa melihat batasmu, Bibi.”
Pertengkaran membesar. Suara Nadine pecah, Endra menuntut kebenaran, pelayan saling melirik ketakutan. Itu bukan lagi rumah—itu medan perang.
Hingga pintu utama terbuka. Kakak tirinya masuk.
“Meributkan apa?” suaranya datar, tapi matanya langsung menangkap ibunya yang menangis dan Ara yang berdiri tegak tanpa rasa bersalah.
Senyum puas Ara menghilang. Ia tidak pernah tahan melihat wajah laki-laki itu—lebih dari ibunya.
Tatapannya berubah dingin. Ia tidak ingin bicara lagi. Tidak dengan mereka.
Tanpa menjawab siapa pun, Ara memutar badan dan berjalan naik ke lantai atas.
Ara bangun dengan keputusan yang sudah bulat.Dia harus ke bank. Dia harus tau apa isi safe deposit box itu.Zayn sudah berangkat ke kantor sejak subuh—ada meeting penting dengan investor. Ini kesempatan Ara.Dia berpakaian simple—jeans, kaus, hoodie, kacamata hitam. Mencoba tidak menarik perhatian.Tapi saat mau keluar kamar, dia bertemu dengan pelayan."Nyonya Ara, mau kemana?" tanya pelayan dengan sopan tapi... waspada."Aku... aku mau jalan-jalan sebentar. Beli cemilan.""Saya bisa pesankan untuk Nyonya. Atau driver bisa antarkan—""Nggak usah. Aku mau sendiri aja." Ar
Ara terbangun dengan perasaan... aneh.Semalam, setelah Zayn konfrontasi ibunya, mereka tidur dalam pelukan. Tapi pagi ini, Zayn sudah tidak ada di samping—mungkin sudah berangkat ke kantor.Ara duduk di tepi ranjang, memegang perutnya yang masih rata.6 minggu hamil sekarang.Bayi di dalam perutnya sudah sebesar biji kacang. Kecil, tapi... ada.Ponselnya bergetar.Pesan dari... Nadine.Nadine: "Ara, gimana? Zayn sudah tau?"Ara menatap pesan itu dengan perasaan tidak enak.Kenapa Nadine begitu... eager?
Ara datang sendirian dengan taksi—sengaja tidak pakai driver keluarga Alaric agar tidak ketahuan. Dia mengenakan hoodie dan kacamata hitam, mencoba menyamarkan identitasnya.Kafe yang Nadine pilih kecil, sepi, jauh dari pusat kota—tempat yang tidak akan ada wartawan atau orang yang mengenal mereka.Ara masuk dan langsung melihat Nadine duduk di pojok, mengenakan blazer elegan dan kacamata—terlihat seperti profesional muda, bukan ibu tiri yang manipulatif.Nadine tersenyum saat melihat Ara. "Ara, terima kasih sudah datang."Ara duduk dengan waspada. "Langsung to the point aja. Siapa yang sebar rumor tentang Alaric Group?"Nadine menyeruput kopinya dulu, lalu berkata pelan:
Jam 6 pagi, Ara terbangun dengan suara ketukan keras di pintu kamarnya."Ara! Bangun!" Suara Zayn—panik, mendesak.Ara langsung bangun, membuka pintu. Zayn berdiri di sana dengan ponsel di tangan, wajahnya pucat."Ada apa?"Zayn menyodorkan ponselnya—layar menampilkan artikel berita yang baru saja tayang 10 menit lalu."Endra MAHENDRA BERI PERNYATAAN: 'ANAK SAYA DIPAKSA MENIKAH OLEH KELUARGA Alaric!'"Ara membaca dengan napas tercekat.Dalam artikel itu, Endra dikutip mengatakan bahwa Ara "dimanipulasi" untuk menikah dengan Zayn, bahwa keluarga Alaric "mengambil keuntungan" dari kehamilannya, dan bahwa dia sebagai ayah "san
Ara bangun dengan tubuh yang terasa berat. Tidurnya tidak nyenyak—mimpi tentang keluarganya, tentang Arga, tentang semua yang terjadi.Zayn sudah bangun lebih dulu, duduk di meja sarapan sambil membaca tablet. Begitu melihat Ara bangun, dia langsung berdiri."Pagi. Kamu tidur nyenyak?" tanyanya sambil membantu Ara duduk."Lumayan." Bohong. Tapi Ara tidak mau bikin Zayn khawatir.Pelayan menyajikan sarapan—roti panggang, telur, salad buah, dan segelas susu hangat. Semua terlihat sempurna seperti foto di majalah."Mama belum turun?" tanya Ara."Mama ada meeting pagi. Papa juga sudah berangkat ke kantor." Zayn menuangkan susu ke gelas Ara. "Jadi hari ini kita berdua aja."
Pagi, Jam 9 Tepat ,di Apartemen AraDriver keluarga Alaric datang tepat waktu—seorang pria paruh baya dengan seragam hitam rapi dan sikap profesional yang kaku."Selamat pagi, Nyonya Alaric," sapanya sambil membungkuk sopan. "Saya sudah siap membawa Anda ke kediaman utama."Nyonya Alaric.Gelar itu terasa asing di telinga Ara."Selamat pagi," balas Ara kaku sambil menarik kopernya.Zayn langsung mengambil alih koper itu. "Aku yang bawa. Kamu jangan angkat yang berat-berat.""Zayn, itu cuma koper—""Ara." Zayn menatapnya dengan tatapan yang tidak memberi ruang debat. "Kamu hamil.







