Share

4. Sakit?

Author: pensaether
last update publish date: 2025-10-25 15:18:16

“Siapa yang mengantar Ara?” suara Nadine, ibu tirinya terdengar tajam, penuh kecurigaan, menahan panik saat dirinya turun dari mobil.

Pelayan menunduk gugup. “I–itu… mobil keluarga Alaric, Nyonya.”

Alis Nadine terangkat tinggi. “Keluarga Alaric?” nada meremehkannya menusuk.

Ara meletakkan tasnya, menatap wanita itu tanpa rasa takut. “Setidakpercaya itu, Bibi? Perlu kutelepon Nyonya Alaric untuk memastikan aku memang menginap di rumah mereka?”

Tatapan Nadine memburu bak binatang tersudut. “Siapa tahu kau bersengkongkol dengan temanmu itu—Tuan Alaric—untuk menutupi hal-hal yang mempermalukan keluarga ini.”

Ara mendengus, senyumnya dingin. “Hati-hati dengan ucapanmu, Bibi. Baru saja kau menuduh putra bungsu Tuan Alaric berbuat buruk. Apa jadinya kalau dia mendengarnya?”

“KAMU?!” Nadine hampir membentak.

“Apa? Bibi lupa siapa yang membuatku harus menginap di rumah Alaric?” Ara balik menyerang, nadanya sinis dan menusuk.

Endra tiba-tiba bersuara keras. “Cukup! Ara, masuk. Duduk di depan Papa.”

Ara melirik ayahnya tanpa gentar. “Kenapa aku harus nurut?”

Ia tahu pasti ada rencana kotor di balik ajakan makan malam manis-manis yang diberikan Nadine semalam. Ia memang sengaja ikut, ingin tahu sejauh mana wanita itu berani. 

Tapi ia tidak pernah menyangka bahwa Nadine benar-benar memberinya obat dan berniat—tanpa malu—menyerahkannya pada lelaki tua.

Kejahatan klise. Tapi justru karena klise… Ara tidak menyangka mereka cukup tega melakukannya di dunia nyata.

Kalau wanita itu ingin bicara soal kesalahan, Ara pun punya daftar yang lebih mengerikan.

“Papa tidak tahu, kan,” Ara berbicara lebih keras, “bahwa semalam Bibi mengajakku bertemu Paman Eric?”

Wajah Nadine mendadak berubah pucat seperti kain basah. Endra menoleh cepat, matanya menyipit tajam.

“Eric?”

 Nada ayahnya mengeras. “Paman Eric yang mana?”

Ara menatap Nadine dengan senyum menghina. “Paman Eric yang Bibi sembunyikan dari Papa. Yang selalu minta Bibi menuruti semua rencananya. Termasuk rencana menjualku pada pengusaha cabul demi investasi murahan itu.”

“ARA!” Nadine berteriak panik. “Dia bohong, Mas! Kami tidak bertemu siapa pun! Kami hanya makan—”

Ara memotong cepat. “Oh, Bibi lupa siapa saja yang hadir dalam jamuan rahasia itu? Eric yang memeriksa apakah aku ‘nyaman’ dengan Tuan itu. Eric yang memaksa Bibi untuk meyakinkan Papa agar berinvestasi di perusahaan sampahnya. Dan Bibi—” Ara menunjuk Nadine dengan dingin. “—menjadikan aku alat tukar.”

Wajah Endra memerah marah. “CUKUP! Nadine! Jawab aku! Apa yang Ara katakan benar?! Kau bertemu Eric? Kau mengatur ini untuk ANAKKU?!”

Nadine mundur beberapa langkah, gemetar. “Mas, dia bohong! Dia yang selalu membuat masalah! Aku hanya ingin dia sadar diri—dia sudah—dia di luar kendali—”

Ara tertawa pendek, pahit. “Di luar kendali? Atau Bibi yang dikendalikan Paman Eric? Apa Papa tahu kalau Paman Eric sudah mengambil setengah saham kafe Bibi? Dan dia melakukan itu supaya Bibi mau menyingkirkanku.”

Endra membeku. Itu pukulan besar.

“ERIC LAGI?” suaranya menggelegar. “Aku sudah bilang jangan pernah libatkan keluarga ini dengan dia! Kau melanggar janji dan berani mencelakai anakku demi dia?!”

“Aku tidak mencelakainya!!!” Nadine histeris. “Aku hanya ingin dia berhenti merusak semuanya! Kau tidak tahu betapa susahnya aku mengurus rumah ini—”

Ara menyilangkan tangan, dingin. “Aku hanya membantu Papa melihat batasmu, Bibi.”

Pertengkaran membesar. Suara Nadine pecah, Endra menuntut kebenaran, pelayan saling melirik ketakutan. Itu bukan lagi rumah—itu medan perang.

Hingga pintu utama terbuka. Kakak tirinya masuk.

“Meributkan apa?” suaranya datar, tapi matanya langsung menangkap ibunya yang menangis dan Ara yang berdiri tegak tanpa rasa bersalah.

Senyum puas Ara menghilang. Ia tidak pernah tahan melihat wajah laki-laki itu—lebih dari ibunya.

Tatapannya berubah dingin. Ia tidak ingin bicara lagi. Tidak dengan mereka.

Tanpa menjawab siapa pun, Ara memutar badan dan berjalan naik ke lantai atas.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Semalam Bersama Sahabat Kakakku   61. The Confrontation

    Ara duduk di ruang pemulihan dengan laptop terbuka di depannya. Catatan keuangan dari Ian masih terpampang di layar—bukti hitam putih bahwa Zayn menyabotase Mahendra Corp 10 tahun lalu.Transfer dana. Tanda tangan persetujuan. Korespondensi email.Semuanya ada.Kaia tidur di boks bayi di sebelahnya—sudah keluar dari NICU kemarin karena kondisinya stabil. Keajaiban kecil yang tidur dengan damai, tidak tahu drama yang sedang terjadi di sekelilingnya.Pintu terbuka. Zayn masuk dengan plastik berisi makanan."Aku bawa sup ayam dari—" Dia berhenti ketika melihat layar laptop. Wajahnya langsung pucat. "Ara...""Duduk." Suara Ara dingin seperti es.Zayn

  • Semalam Bersama Sahabat Kakakku   60. Broken

    Tiga hari kemudian.Ara duduk di kursi roda dengan perawat mendorongnya ke NICU. Pemulihan setelah melahirkan berjalan lambat—secara fisik dan emosional.Papa dimakamkan kemarin. Ara tidak datang. Dia masih terlalu lemah untuk bepergian. Zayn yang menghadiri—sendirian, atas nama Ara.Leo dan Lia datang menjenguk kemarin. Canggung sekali. Mereka bilang "turut berduka" dengan mata yang tidak tulus. Nadine tidak muncul—entah dia di mana.Tapi Ara tidak peduli tentang itu semua sekarang.Yang dia peduli adalah Kaia.NICU. Ruangan yang penuh dengan inkubator dan monitor yang berbunyi. Hati Ara mencengkeram setiap kali melihat bayi-bayi mungil di sana—berjuang untuk hidup merek

  • Semalam Bersama Sahabat Kakakku   59. Truth & Consequences

    Pukul 3 pagi. Ara terbangun karena perawat datang untuk mengecek tanda vitalnya. Pemantauan setelah melahirkan."Tekanan darah normal. Suhu normal." Perawat mencatat di catatan medis. "Anda bisa menjenguk bayi di NICU jam 6 pagi nanti, Nyonya Alaric.""Terima kasih." Ara tersenyum lemah.Begitu perawat pergi, Ara menatap ponselnya. Tidak ada kabar dari Zayn tentang Papa. Dia mengirim pesan:Ara: Bagaimana Papa?Tidak ada balasan.Ara merasakan kecemasan mulai merayap. Tapi dia berusaha tetap tenang. Zayn pasti sibuk dengan situasi di sana.Matanya jatuh ke tas di kursi—di mana flashdisk dari Ian masih tersimpan.

  • Semalam Bersama Sahabat Kakakku   58. Labor

    Rumah Sakit Bunda Jakarta, ruang emergency. Ara di-rush masuk dengan kursi roda, Zayn berlari di sampingnya sambil pegang tangannya erat."Nyonya Alaric, kondisi Anda sekarang?" Dr. Anita—obgyn Ara—muncul dengan cepat, langsung cek tanda vital."Kontraksi... lima menit sekali... air ketuban udah pecah..." Ara tersengal-sengal, pegang perutnya yang kram hebat. "Tapi ini terlalu cepat, Dok! Aku baru 34 minggu!"Dr. Anita menatapnya serius. "Persalinan prematur. Kita harus lihat kondisi bayi dulu. Segera ke ruang pemeriksaan."Ruang pemeriksaan. Ara berbaring di ranjang dengan mesin USG di sampingnya. Zayn berdiri di sebelahnya, tangannya gemetar saat menggenggam tangan Ara.Dr. Anita menggerakkan probe USG di perut Ara dengan

  • Semalam Bersama Sahabat Kakakku   57. Pertemuan

    Starbucks Plaza Indonesia jam 1:45 siang. Ara duduk di pojok dengan tangan memegang cup latte decaf—karena caffeine is a no-go untuk ibu hamil—dan mata scanning setiap orang yang masuk.Zayn duduk dua meja di belakangnya, pakai hoodie dan kacamata hitam seperti intel murahan. Ara hampir ketawa waktu lihat dia. Tapi sekarang bukan waktnya.Jam 2 tepat, seorang pria masuk.Tinggi, mungkin 185 cm. Berkulit tan, rambut dark blonde yang rapi, mata biru-grey yang dingin. Setelan jas Armani yang perfectly tailored. Wajahnya... tampan, dalam arti yang intimidating. Ada aura power di sekeliling dia.Matanya langsung menemukan Ara.Dia tersenyum—senyum yang tidak sampai ke matanya—dan berjalan mendekat."Nyonya Alaric." Dia mengulurkan tangan. "Ian Harrington."Ara menjabat tangannya dengan tegas. "Mr. Harrington. Atau... boleh aku panggil Ian?""Silakan." Ian duduk di depannya, memesan espresso dengan gaya santai

  • Semalam Bersama Sahabat Kakakku   56. Kembali ke Jakarta

    Tiga bulan setelah Bali, Ara berdiri di depan cermin kamar dengan tangan memegang perut yang sudah sangat besar—8 bulan. Hampir waktunya. Tapi kali ini, dia nggak takut lagi. Karena dia nggak sendirian."Kamu yakin mau keluar hari ini?" Zayn muncul di belakangnya lewat pantulan cermin, tangannya melingkar protektif di pinggang Ara. "Dokter bilang kamu harus istirahat."Ara tersenyum tipis. "Aku udah istirahat tiga bulan di Bali, Zayn. Aku bukan porselen yang akan pecah kalau kena angin.""Tapi—""Tuan Alaric udah di penjara. Marcus Huang juga. Ancaman udah hilang." Ara berbalik menghadap Zayn, matanya tajam. "Aku nggak akan bersembunyi lagi. Aku mau hidup."Zayn menghela napas panjang, tapi matanya melembut. "Baik. Tapi aku ikut kemana pun kamu pergi.""Deal."Mobil melaju pelan memasuki kawasan elite Jakarta Selatan. Ara menatap keluar jendela—pemandangan yang familiar tapi terasa asing setelah tiga bulan menghilang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status